Today seemed so far away / Still, we know we've got a long way to go
And that's thanks to our teammates
Hyuuga & Izuki – Challenger Spirit
Sebelum jam menunjukkan pukul 08.40, aku dan Kagami-kun sudah berada di atap sekolah. Sesuai dengan permintaan Pelatih jika calon anggota bersungguh-sungguh ingin menjadi anggota resmi klub basket putera Seirin, maka mereka harus memberikan formulir ke atap sekarang. Selembar kertas formulir yang sempat dibagikan lagi oleh Pelatih sudah kupegang sedari tadi. Aku sempat berpapasan dengan tiga anggota lain, yaitu Furihata-kun, Kawahara-kun dan Fukuda-kun. Kemungkinan... hanya lima (termasuk aku) yang ingin jadi anggota.
Sejujurnya, pagi ini aku baru ingat. Hari ini mestinya ada upacara pagi di hari Senin sekaligus memperkenalkan murid kelas 1 dan 2. Lalu kenapa Pelatih...
"Hihihi. Sudah kutunggu!" ujar Pelatih sambil bersidekap.
"Yang benar saja?" gumam Kagami-kun yang berdiri di depanku.
Kedua mataku mengerjap. Menatap formulir dan Pelatih secara bergantian. Maksudnya apa? "Ini duel, ya?" tanyaku pada akhirnya.
"Dan lagi, aku lupa... hari ini adalah hari Senin." Kagami-kun nampak menggaruk kepala bagian belakang. "Upacara pagi dimulai lima menit lagi, kan!?" teriaknya histeris. Aku sempat terkesiap mendengar aumannya(?) yang hampir menulikan indera pendengaranku. "Ayo mulai ujiannya!" teriak Kagami-kun lagi tidak sabaran.
Pelatih tersenyum. "Sebelumnya, ada satu hal yang harus kukatakan. Aku janji saat diminta jadi pelatih tahun lalu. Klub ini harus berjuang menembus skala nasional! Kalau kalian tidak siap, silakan pindah ke klub lain saja!"
...ini sih, pengusiran secara tidak langsung, ya?
"Hah? Apa maksudmu?" Dari nadanya, jelas Kagami-kun tidak terima. Furihata-kun dan yang lainnya juga ikut protes.
"Aku tahu kalian tangguh. Tapi aku harus pastikan hal yang penting," balas Pelatih dengan nada tenang. Ia berjalan di depan calon anggota klub sambil berucap kembali. "Setekun apapun kalian berlatih, kalian tetap lemah kalau berpikir 'nanti aku pasti bisa'. Kalian harus punya target tinggi... dan tekad kuat untuk meraihnya."
Senior perempuan itu melangkah mendekati pagar. Pelatih menarik napas sedalam-dalamnya, seolah ia akan berteriak. "Sekarang! Di tempat ini! Teriakkan nama, kelas, dan nomor siswa kalian! Serta tujuan kalian tahun ini!"
"..."
"..."
Kedua tangan Pelatih terlipat di depan dada. "Anggota yang lain, para senior kalian, juga melakukannya tahun lalu," ungkapnya seraya tersenyum lebar.
Firasatku jadi tidak enak setelah ekspresi Pelatih berubah.
"Kalau gagal, kalian harus 'nembak' gadis yang disukai TANPA berpakaian."
Hah? Aku speechless di tempat. Bahkan sampai detik ini, aku tidak punya gadis yang kusukai. Lagipula, gadis yang kukenal hanya Momoi-san.
"Sudah kubilang, target kalian harus tinggi! Jangan hanya bilang 'aku akan berjuang'. Itu tidak cukup!" Senyum menantang dari Pelatih tertuju pada kami, anak kelas 1.
Kalau sudah begini, ya harus kulakukan, bukan? Lagipula hanya berteriak. ...aa, apa aku pernah berteriak sebelumnya? Aku butuh sesuatu yang bisa membantuku mengeraskan suara. Microphone? Jelas-jelas aku tidak punya, pun tidak ada kontak listrik di atap.
"Haaah... Yang benar saja? Itu sih, bukan ujian namanya."
Aku menengok pada sumber suara yang berasal dari Kagami-kun. Ia berjalan mendekati pagar yang tingginya sekitar satu meter. Kedua bola mataku melebar melihat sosok itu melompat lalu berdiri di atas pagar. Kagami-kun benar-benar tidak sayang nyawa...
"AKU KAGAMI TAIGA! KELAS 1-B, NOMOR ABSEN LIMA! TUJUANKU INGIN MENGALAHKAN KISEKI NO SEDAI DAN MENJADI NOMOR SATU DI JEPANG!"
...uwah. Suaranya keras. Terdengar suara bising dari bawah sana setelah kaki Kagami-kun kembali berpijak di atas lantai atap.
"Selanjutnya? Kalau tidak cepat, guru-guru akan datang, loh," ucap Pelatih.
Aku sempat panik 'sedikit'. Tapi sepanik apapun yang kurasakan, itu takkan mengubah apapun. Aku harus tenang lalu mencari jalan keluar. Ini bukan masalah besar mestinya. Yang kubutuhkan alat pengeras suara atau semacamnya. Dan benar saja. Kami-sama mengabulkan permintaanku barusan.
Ada sebuah pengeras suara sedang bersembunyi di balik tembok pintu masuk ke atap. Aku tidak mau tahu alasan kenapa benda itu bisa ada di sana. Yang terpenting, dia menyelamatkanku. Terima kasih.
Bletak! Aku melihat Kawahara-kun tersungkur. Kurasa, pidatonya terlalu panjang.
"Selanjutnya!" kesal Pelatih.
Kini kulihat Furihata-kun mengangkat tangan. "Ano, aku ingin seorang pacar."
"Aku sudah bilang, TIDAK!"
Furihata-kun lesu seketika. Terlihat jelas dari merosotnya kedua bahu pemuda itu. Motivasinya memang...
Lalu Fukuda-kun mengajukan diri untuk berpidato (atau bersumpah, ya?). "Fukuda Hiroshi, kelas 1-D! Aku suka membantu orang lain! Jadi, saat aku mendengar suara senpai meminta bantuan, aku segera menawarkan bantuanku!" Ia mundur dua langkah sebelum berbalik menghadap kami. "Bagaimana, Pelatih?" tanya Fukuda-kun.
Pelatih mengangguk beberapa kali. "Selanjutnya?"
"Aku!" Furihata-kun mengangkat tangan kanan lagi. Kali ini mungkin ia punya tujuan yang lebih bagus dari sebelumnya supaya bisa diterima.
Sambil mendengar pidatonya, aku mengutak-atik alat pengeras suara yang kutemukan tadi. Lampu hijau menyala ketika aku menekan tombol 'on'. Kalau diingat-ingat lagi, aku pernah menyiarkan informasi tentang klub basket sewaktu aku masih di SMP Teikou. Pelatih sendiri yang memintaku sebagai hukuman karena aku selalu muntah setelah latihan. Err, tapi aku tidak pernah sampai mengotori lantai, kok. ...mungkin sedikit.
"Furihata Kouki, kelas 1-D! Perempuan yang kusuka bilang kalau dia mau pacaran denganku jika aku menjadi yang terbaik dalam suatu hal! Itulah kenapa aku bergabung dengan tim basket Seirin untuk menjadi pemain nomor satu di Jepang!"
Menjadi pemain nomor satu... sama seperti Kagami-kun.
Pemuda itu menengok pada Pelatih. "Kalau itu belum cukup bagus, aku tidak keberatan kalau aku tidak bisa bergabung dengan tim," ucapnya.
"Aku pikir, aku merasa tersentuh." Pelatih tersenyum. "Selanjutnya?"
Aa, giliranku. Aku maju selangkah mendekati Pelatih. "Sumimasen." Pelatih jelas sekali terkejut kemudian berbalik menghadapku. "Aku tidak terlalu bisa bicara dengan keras. Jadi, boleh aku menggunakan ini?" tanyaku meminta izin seraya mengangkat alat pengeras suara.
"Dari mana... kau mendapatkannya?"
"Tidak sengaja melihatnya di dekat pintu masuk."
"O-oh. oke."
Setelah mendapat izin, aku berjalan mendekati pagar. Tombol 'on' sudah kutekan. Aku menarik napas—BRAAAK! Suara pintu dibuka dengan paksa terdengar jelas di telingaku.
"HEI! LAGI-LAGI KLUB BASKET!?" Seorang guru berwajah garang memasuki area atap.
"Sial, padahal sedikit lagi," gerutu Pelatih.
...bagianku belum selesai. Bahkan belum dimulai. Sial.
.
Mood-ku hari ini rasanya tidak bagus. Benar-benar buruk. Tadi pagi kena ceramah guru-guru karena berulah ketika upacara pagi akan dilaksanakan. Ugh, padahal aku belum sempat berikrar... Pelatih tidak bilang apa-apa lagi soal itu saat latihan.
Kalau aku tidak jadi anggota resmi, bagaimana?
Kejadian seperti di Teikou... haruskah terulang lagi padaku...?
Srupuuuuut...
Bahkan vanilla shake masih tak bisa menghilangkan bad mood-ku. Saat aku sibuk merenung, lagi-lagi ia datang tanpa menyadari keberadaanku. Iya, maksudku Kagami-kun.
Oh, dia beli vanilla shake juga, ya?
Terdengar suara dirinya sedang menyeruput isi gelas plastik itu. Ekspresi Kagami-kun juga terlihat kesal karena sesuatu. "Hanya teriak sebentar saja kena omelan, huh..." gerutunya sambil menyangga dagu dengan tangan kiri, sementara tangan kanan masih memegang minuman.
"Aku malah tidak sempat bilang apa-apa," kataku lesu.
BRUUUUUSH!
Hampir kena semprotan dari mulut Kagami-kun kalau aku tidak bergeser ke kiri.
Aku mengisap vanilla shake sambil memandangi Kagami-kun. Ia menepuk kening dengan tangan kanan lalu mengusap ke belakang sampai rambut. Sok seksi sekali...
"Tapi susah juga, ya," kataku lagi.
"Hah!? Maksudmu susah apanya!?"
"Sepertinya aku... tak bisa menepati janji..." Pahit sekali aku mengatakan hal ini. Tapi kalau benar-benar terjadi... Tamatlah aku.
"Hah?"
"Atap sekolah dijaga ketat. Apa jadinya kalau aku tidak jadi anggota resmi."
Kagami-kun memandangku malas. "Kau pasti bisa."
Ugh, tapi Pelatih tidak berpikir ada ujian penerimaan kedua...
"Tapi ada satu hal yang membuatku penasaran." Ucapan Kagami-kun membuatku terfokus padanya. "Kau cukup tangguh hingga disebut sebagai phantom sixth man. Tapi kenapa kau tidak mendaftar ke SMA favorit seperti teman-temanmu? Apa kau punya alasan untuk bermain basket?" Ia menanyakan dua pertanyaan padaku yang cukup sulit untuk kujawab.
Kalau soal alasan... karena aku suka basket, kan? Lalu janjiku dengan Ogiwara-kun juga yang membuatku bertahan hingga sekarang. Ya... Dua itu sih alasan utamaku.
"Waktu SMP, aku cukup hebat main basket," jawabku agak melenceng dari pikiranku.
Srupuuuuut.
"Aku sudah tahu!"
"...tapi hanya ada satu aturan di sana, yaitu... 'Menang adalah segalanya'. Yang diperlukan untuk menang bukanlah kerja sama kelompok, tapi teknik perseorangan. Itulah yang terhebat."
Aku menghirup napas, perasaan sesak muncul lagi. "Tapi kami tak bisa disebut sebagai 'tim'. Aku bermain dengan mereka berlima... Tapi aku juga merasa kehilangan sesuatu yang penting." Vanilla shake kembali kuminum.
"Lalu kenapa?"
"..."
"Kau ingin mengalahkan Kisedai dengan basket, kan?"
"...aku baru kepikiran soal itu." Ucapan Kagami-kun menjelaskan semua tindakanku sekarang. Mengalahkan Kisedai... huh?
"Kau serius?"
Aku tersenyum tipis sambil meminum vanilla shake.
"Akan kukalahkan Kisedai dan jadi nomor satu di Jepang!"
"Target kita adalah skala nasional!"
"Sampai sekarang... aku sangat terkesan dengan ucapanmu dan ucapan Pelatih tadi pagi." Mataku menatap lurus pada mata merah menyala milik Kagami-kun. "Saat ini alasan utamaku bermain basket, ingin membuatmu dan tim ini menjadi nomor satu di Jepang," putusku dengan tekad bulat.
Wajah Kagami-kun terpaku. Tiba-tiba ia berdiri. "Lagi-lagi ucapanmu bikin malu saja," gerutunya.
...eh? Aku hanya bicara jujur, kan...
"Pokoknya akan kuhancurkan semua anggota Kisedai. Dan bukannya 'ingin', tapi HARUS jadi nomor satu di Jepang!" Pemuda itu berlagak sok keren di hadapanku... lagi.
Tapi aku senang mendengar ucapan penuh ambisinya itu.
"Ya. Tapi bisakah kau berhenti berpose sok keren di depanku, Kagami-kun?"
"Hah? Aku bukannya sok keren, ya! Aku hanya ingin lihat..."
"Hmm?"
Bola matanya bergerak seolah mencari sesuatu yang cocok untuk dijadikan alasan. Aku pun menengok ke samping kiri, melihat keadaan di luar Majiba. Tak ada apapun yang menarik perhatianku di sana.
Ia kembali duduk lalu membuka bungkus burger yang entah ke berapa. "Oh iya, si Matsunaga itu, sepertinya dekat sekali denganmu," katanya mengalihkan pembicaraan.
"Tidak juga," jawabku cepat. Tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran dari gadis itu.
"Kau tidak risih diajak bicara terus olehnya?" tanya Kagami-kun heran.
"Aku justru penasaran," akuku. Srupuuuut. "Lagipula, aku lebih risih diajak ribut oleh Kagami-kun karena aku suka ketenangan," tambahku dan sukses membuatnya mengomel tidak jelas.
Sesuai permintaan Pelatih, calon anggota yang ingin menjadi anggota resmi harus ke atap sekolah. Termasuk aku. Ternyata kami disuruh berpidato soal tujuan kami masuk klub. Tapi... aku tidak kebagian karena guru sudah datang.
~ Tetsuya's 38th Paper End ~
Ganba desu. Terima kasih sudah mengikuti, mereview dan meluangkan waktu untuk membaca fanfic ZPS sampai sekarang! Terima kasih untuk review-nya di chap kemarin, Aoi Haruka-Hime-san, Shinju Hatsune-san, deagitap-san, dan Guest077-san! #bow :)
Soal Matsunaga punya rasa ke Tecchan itu... kita lihat perkembangannya aja gimana. Saya gak mau spoiler-ssu. XD
Chapter 39 akan di-update dua minggu kemudian. Saya mau pulang kampung karena satu dan lain hal. Berhubung saya juga lagi masa liburan. :) Di kampung juga susah sinyal dan saya gak mau baca neppie, bahaya-ssu. Jadi, mohon pengertiannya. #bow
Oke, bye, bye! ^^)v
CHAU!
