Maafkan hamba yang sangat cacad ini... sudah jarang OL, lupa update pula! Weww... XD Maklum... pengacara... pengangguran banyak acara... XD SELAIN ITU... saya juga merasa banyak sodara yang lagi UAS... makanya saya merasa bersalah kalo update cerita ini pas sodara lagi sibuk2nya belajar... ntar malah jadi godaan...
Makanya... bagi yang belum belajar, belajar dulu sono... baru baca...
DANGER! Ehm, maksud saya, ada masalah besar...
Begini, selama saya search di internet, nggak pernah sekalipun saya ketemu nama istrinya Lu Xun (alias anaknya Sun Ce) tuh apa. Makanya saya ngawur aja bikin Yangmei (soalnya menurut paduan Mary Sue yang say baca, cara bikin nama supaya seorang OC nggak sampe Mary Sue adalah dengan ngasih nama ngawur aja...) dan jadilah OC yang bernama Yangmei. Tapi ternyata sodara, nama asli anaknya Sun Ce yang jadi istrinya Lu Xun tuh baru aja aku ketemu (meski belum bisa 100% dipercaya). Jadi ceritanya aku masuk ke salah satu forum game (kalo mau tahu namanya Neoseeker), dan pada intinya membicarakan seorang tokoh cewe yang bagus dijadikan playable character yaitu anaknya Sun Ce ini! Dan disitu ditulis kalo namanya Sun Lunyu (mengingatkan sama nama adeknya Ma Chao yang namanya Ma Lunyu...)
Yah... sudah kadung sampe sepanjang ini masa namanya harus diubah lagi... ==a Biar aja, ya...
BTW, WARNING! Chapter ini akan SANGAT mengejutkan dan bahkan membawa kecenderungan untuk menjadikan cerita ini CRACK buuuaaanget... (saya sudah mengingatkan). Yah... silahkan membaca! ^^
Sinar matahari mulai menyeruak masuk ke matanya.
Lu Xun berusaha untuk membuka matanya perlahan, silau tertimpa cahaya yang membutakan itu. Entah sudah berapa lama ia tertidur, yang pasti tempatnya sekarang terbangun benar-benar berbeda dari tempat yang dilihatnya terakhir. Tidak ada satupun prajurit Wei yang dilihatnya. Ia benar-benar sendiri. Tubuhnya ia gerakkan perlahan, rasanya ia seperti lumpuh. Sedikit saja bergerak tubuhnya sudah sakit semua. Dalam kepalanya seperti terputar ulang ingatan akan apa yang telah terjadi padanya.
Jadi... aku masih hidup rupanya... pikirnya dalam hati. Entah ia harus senang atau sedih atas kenyataan itu.
Kepalanya ia dongkakkan perlahan, memperhatikan sekelilingnya. Rupanya ia masih di He Fei. Dataran yang gersang dan hanya ditumbuhi sedikit rumput liar itu mengingatkannya akan medan pertempuran dimana ia telah bertarung dengan Sima Yi, kemudian kedatangan Yangmei yang menyebabkannya terkena panah beracun itu. Dan akhirnya semua rantai kejadian itu sampai pada detik ini.
Setelah mendapatkan kembali seluruh kekuatannya, ia mencoba untuk bergerak. Mulailah ia menenggakkan kakinya. Tetapi tengah berusaha, tubuhnya jatuh lagi ke tanah. Kakinya tidak dapat menyangga tubuhnya.
Barulah dia sadar, ia tidak dapat berdiri! Kedua kakinya menyentuh tanah, tetapi begitu juga tangannya!
Astaga... kenapa ini...? Saat ia sepenuhnya awas akan keadaan sekitarnya. Dilihatnya rumput-rumput yang berukuran lebih besar daripada saat terakhir kali ia melihatnya, begitu juga pohon-pohon. Pendeknya, keseluruhan lingkungannya bertambah besar... atau mungkin diakah yang semakin menyusut?
Di kejauhan dilihatnya sebuah aliran sungai yang airnya mulai mengering. Barulah ia sadar lagi, selama menjalani siksaan di benteng Wei, seteter air pun belum masuk ke kerongkongannya kecuali racun itu. Karena kehausan, ia cepat-cepat beranjak ke sungai itu, sama sekali tidak menyadari bahwa ia tidak berjalan di atas dua kaki tetapi empat kaki!
Lu Xun menunduk menatap air sungai itu, kemudian meminumnya sedikit untuk membasahi mulut dan tenggorokannya yang kering. Saat ia menatap permukaan air itu, ia melihat sesuatu yang aneh di sana.
Kucing? Pikir Lu Xun dalam hati. Ini benar-benar aneh. Tidak biasanya kucing ditemukan di medan perang seperti ini. Kucing itu berbulu cukup tebal. Tubuhnya tidak terlalu besar, bahkan boleh dibilang masih seperti anak kucing. Bulu yang menutupi tubuhnya berwarna kuning keemasan, begitu juga warna matanya yang keemasan...
Tunggu. Mata emas?
Lu Xun menatap dengan tidak percaya. Satu-satunya manusia yang ia tahu memiliki mata emas adalah dirinya sendiri! Dan belum ada satu kucing pun yang matanya berwarna emas! Lu Xun mengangkat lengannya kemudian memperhatikannya. Sekarang lengannya berbulu dengan warna yang sama seperti bayangan kucing yang ia lihat di permukaan sungai tadi. Dan telapak tangannya... dari pada disebut telapak tangan lebih tepat disebut cakar. Tangannya itu sekarang tidak lagi berfungsi sebagai tangan tetapi sebagai kaki depan!
Sangking tidak dapat menutupi rasa terkejutnya, Lu Xun berteriak. "Meow!"
Meow... Tidak mungkin...
Ini semua terlalu mustahil untuk menjadi kenyataan. Ia sekarang menjadi kucing? Bagaimana bisa? Mungkinkah... mungkinkah ini efek dari racun yang telah diberikan Sima Yi padanya? Jadi inikah yang dimaksud dengan lebih buruk dari kematian? Kejadian ini terlalu mendadak. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Aku tahu... Tiba-tiba Lu Xun terhenyak. Aku harus bertemu Meimei...
-o-o-o-o-o-o-
Beberapa hari telah berlalu sejak kembalinya Yangmei di perkemahan Wu. Tidak ada yang mau berbicara padanya. Ada yang enggan karena merasa kekalahan ini semua adalah ulah Yangmei sendiri. Ada pula yang tidak mau bicara karena merasa Yangmei butuh waktu untuk sendirian setelah ditinggal pergi oleh ayahnya, ibunya, dan terutama Lu Xun. Beberapa sudah mencoba bicara padanya, tetapi bukannya menanggapi baik-baik, putri itu malah marah-marah.
Selama beberapa waktu ini, tidak ada penyerangan oleh pihak Wei, padahal tentu jika mereka menyerang sekarang Wu akan hancur. Dengan demikian Yangmei merasa aman untuk keluar dari perkemahannya. Biasanya ia akan memandang ke benteng Wei lama sekali, tempat ia meninggalkan hatinya. Bagaimanapun, ia masih berusaha percaya pada Lu Xun. Lu Xun sudah berjanji akan kembali, jadi ia akan kembali.
Tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang oleh seseorang. Yangmei menoleh ke belakang.
Ternyata Sun Quan. Sun Quan adalah adik kandung Sun Ce. Jadi Sun Quan adalah paman kandung Yangmei sendiri. Semenjak Sun Ce dikabarkan gugur di medan perang, diputuskan Sun Quan yang akan menggantikan posisi Sun Ce sebagai kaisar. Namun putusan itu masih belum dirundingkan lebih jauh. Sun Quan orangnya lebih terkesan serius daripada Sun Ce, sekaligus lebih berwibawa daripada Sun Ce. Orangnya baik, tetapi tidak pandai memeriahkan suasana atau melucu seperti Sun Ce.
"Meimei," Panggil Sun Quan. "Aku tahu kau masih sedih... ayah ibumu..."
Yangmei langsung memotong perkataan pamannya. "Paman, aku memang sangat sedih karena kedua orangtuaku gugur." Jawabnya dengan suara setengah berbisik. "Tapi aku berusaha kuat, karena aku tahu Lu Xun masih hidup. Asal Lu Xun masih hidup, tidak apa-apa."
"Tapi kau tahu sendiri, Meimei..." Lanjut Sun Quan. "... Bahwa Lu Xun juga sudah..." Sun Quan membiarkan kata-kata tidak terselesaikan.
Mendadak tatapan mata Yangmei dipenuhi amarah. Inilah alasan mengapa ia lebih suka menyendiri daripada orang lain berusaha menghiburnya. Sebab ia tahu mereka akan mengatakan hal seperti itu! Kenapa? Kenapa mereka berusaha mematahkan harapan terakhirnya? Kenapa mereka tidak menyemangatinya untuk tetap setia menunggu Lu Xun kembali? Kenapa? Setiap kali ia bertanya, mereka justru akan menjawab hal yang lebih menyakitkan lagi. "Kenyataan memang pahit, tetapi kebohongan manis rasanya..." Begitulah yang selalu mereka katakan hingga tak ayal lagi Yangmei menjadi marah besar.
Kali ini pun sama sekali tidak berbeda. "Tidak! Itu tidak benar! Lu Xun masih ada di sini! Sekarang dia pasti sudah capek karena kelelahan bertarung melawan Wei! Sekarang dia ada di perjalanan kembali ke sini!" Teriak Yangmei.
Sun Quan menggeleng. "Meimei, sampai sekarang dia belum kembali kemari. Kau tahu benar dia pasti terbunuh kalau dia ada di Wei..."
"TIDAK!" Jerit Yangmei sekuat-kuatnya. Tanpa sadar airmata mulai mengalir deras membasahi pipinya. "Lu Xun cuma berlatih di Wei supaya dia bisa menjadi petarung yang hebat! Dia mungkin sekarang tersesat! Aku akan menunggunya!"
"Tidak bisa, Meimei." Balas Sun Quan. "Kita akan kembali ke Jian Ye secepatnya."
"APA?"
"Kita akan kembali ke Jian Ye." Sun Quan mengulangi. "Tidak ada gunanya tetap di tempat ini. Hanya mengurangi ransum saja. Apalagi sewaktu-waktu Wei bisa menyerang lagi." Sun Quan terdiam sesaat, melihat keponakannya yang hanya diam dengan tatapan kosong, berusaha mencerna kata-katanya. "Kau tidak mungkin memaksa kami untuk tetap di tempat ini hanya demi menunggu Lu Xun, kan?"
Yangmei tidak dapat berkata-kata.
"Dia tidak mungkin pulang."
"Bohong..." Yangmei mulai terisak lagi. "Paman, tolong katakan itu bohong! Lu Xun akan kembali! Aku yakin dia akan kembali!" Kemudian suaranya melemah, pandangan dan nada suaranya seperti memohon. "Paman, kumohon, tunggulah sebentar lagi... Lu Xun akan pulang sebentar lagi."
Sun Quan sudah mulai tidak sabar menghadapi keponakannya ini. Ia akhirnya hanya mendesah sambil berusaha bersabar. "Meimei, kalau kita berada di sini terus, bisa membahayakan seluruh angkatan perang juga. Sekarang pikirkan, kalau sampai tiba-tiba pasukan Wei dikerahkan untuk menyerang angkatan perang kita yang masih belum siap ini, bencana sudah tidak bisa dihindari lagi. Lu Xun sudah berkorban banyak untukmu. Kalau Wei sampai menyerang dan kau tertangkap lagi, bukankah pengorbanan Lu Xun itu sia-sia? Coba pikirkan!"
Yangmei sudah tidak bisa berpikir lagi, sama sekali tidak. Otaknya seperti buntu. Telinganya tidak mendengar. Kata-kata Sun Quan sepertinya tidak sampai masuk dalam pikirannya. Yang ia hanya pikirkan hanya satu. Lu Xun. "Bagaimana kalau nanti Lu Xun kembali dan aku tidak ada di sini? Dia pasti kesepian, dia pasti mencariku kemana-mana, dia pasti sedih karena ditinggalkan sendirian di tempat yang yang cuma musuh saja yang ada di depan mata..."
Akhirnya Sun Quan menyerah. Ia menepuk punggung Yangmei sebelum kembali ke perkemahan, meninggalkan Yangmei seorang diri di tengah hamparan dataran yang luas itu. Yangmei masih terdiam, tidak tahu harus berbuat apa.
Setelah beberapa lama waktu berlalu, dengan langkah gontai Yangmei masuk ke perkemahan Wu. Orang-orang mulai sibuk mengemasi barang-barang, sama sekali tidak memperhatikan putri yang sedang berlalu melintasi mereka itu. Yangmei masuk ke tempat dimana ia bermalam di hari pertama. Tempat itu tak lain dan tak bukan adalah kemah Lu Xun. Sejak ia berpisah dari Lu Xun hari itu, ia sama sekali tidak berani menginjakkan kakinya di tempat itu, takut kalau sampai ia teringat pada Lu Xun lagi.
Airmatanya tumpah saat itu juga. Ia menangis sejadi-jadinya di tempat itu. Akhirnya segala kesedihannya, frustasinya, kemarahannya bisa ia tumpahkan bersamaan dengan airmatanya. Isak tangisnya tidak lagi ia sembunyikan seperti biasanya.
"Lu Xun..." Yangmei mendesah diiringi sedu-sedannya. "Kenapa kamu tidak kembali? Pulanglah... Pulanglah... aku capek menunggumu... kamu tidak mati, kan? Kamu masih hidup, kan? Kamu tidak berbohong lagi, kan?" Kali ini, dia sendiri yang harus menghapus airmatanya. Kalau seandainya Lu Xun ada di sisinya, dia tidak perlu melakukannya. "Sebentar lagi aku harus pergi, jadi kumohon cepatlah pulang... Aku tidak mau kamu kembali kemudian tidak menemukan siapapun. Aku tidak mau kamu sendirian mencariku di tempat seperti ini."
Sampai saat itu, ia melihat sebuah pedang yang terbujur di ranjang Lu Xun, begitu juga secarik kertas yang terlipat dengan seuntai tali. Diambilnya kertas itu, kemudian dilihatnya isinya. Rupanya kertas itu... Yangmei menggengam kertas itu kuat-kuat dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain melepaskan tali yang sama, dengan lipatan kertas yang sama juga yang dikalungkan di lehernya. Di sana tertulis puisi yang di tulis Lu Xun beberapa tahun yang lalu, pada saat semuanya masih damai, tidak ada kejadian seperti sekarang ini.
Kalimat itu dibacanya berulang-ulang, begitu juga gambar itu ia pandangi lama-lama. Airmatanya jatuh menetes di atas kertas sehingga tintanya mulai membelobor tak karuan. Semua kenangannya akan Lu Xun seolah bangkit lagi. Sekarang, mana bisa ia meninggalkan Lu Xun begitu saja? Bisakah segampang itu melupakannya?
Tiba-tiba ia mendengar suara pintu kemah dibuka perlahan. Ia berbalik karena kaget, dan saat itulah...
Matanya bertemu dengan mata Lu Xun.
Tetapi itu bukan Lu Xun, hanya pandangan matanya saja. Tatapan mata yang teduh dan lembut. Bola mata berwarna emas yang seolah mengeluarkan cahaya. Tatapan mata yang membuat jiwanya tergetar walau hanya sesaat saja.
Sudah jelas itu bukan Lu Xun. Yang ia lihat adalah seekor kucing kecil. Bulunya tebal berwarna kuning keemasan. Kucing itu benar-benar lucu, apalagi dengan telinganya yang berbentuk segitiga terus-menerus bergerak, begitu juga dengan ekornya yang panjang. Matanya... matanya yang bulat besar itu benar-benar mirip dengan mata manusia, atau tepatnya mata Lu Xun yang sangat dikenalnya itu.
Untuk sesaat, baik Yangmei maupun kucing itu hanya bisa diam mematung saja. Sampai beberapa saat lamanya, barulah kucing itu menghampiri Yangmei, kemudian mengeliat di kakinya. Yangmei mulai kebingungan. Bagaimana mungkin kucing liar seperti ini tidak takut pada manusia, dan justru malah berani memasuki perkemahan yang banyak orang, dan sekarang malah mendekat padanya?
"Meow..." Kucing itu menengadah menatap Yangmei. Yangmei akhirnya meletakkan semua kertasnya kembali dan mulai mengangkat kucing itu dengan hati-hati di atas kedua tangannya. Kucing itu tetap tidak menghindar, dan pada akhirnya menurut saat Yangmei mulai memeluknya, mengelus bulunya yang lebat.
"Hmmm... kamu lucu sekali." Gumam Yangmei. "Benar-benar kucing manis!" Sejak hari ia kehilangan Lu Xun, baru kali ini seulas senyum tersungging di wajahnya. Kucing itu kemudian mendekatkan kepalanya ke wajah Yangmei yang masih basah oleh air mata. Apa yang dilakukan kucing itu membuat Yangmei terkejut setengah mati! Kucing itu menjilati wajah Yangmei seolah ingin menghapus airmatanya!
"Kamu..." Yangmei menatap kucing itu dengan takjub. "Benar-benar mirip Lu Xun, ya?" Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sebagai jawaban, kucing itu hanya... apakah ia mengangguk? Yangmei sendiri masih belum yakin benar.
Akhirnya, Yangmei memutuskan untuk membawa kucing ajaib itu dengannya, kemudian ia memulai pekerjaannya merapikan barang-barang Lu Xun untuk persiapan sebelum pergi. Entah kenapa, sejak bertemu dengan kucing itu, Yangmei merasa perasaannya sedikit lebih ringan. Benar-benar kucing ajaib.
-o-o-o-o-o-o-
Segera sesudah persiapan untuk kembali ke Jian Ye selesai, angkatan perang Wu segera meninggalkan kota He Fei. Untunglah dalam perjalanan rupanya Wei sama sekali tidak mengejar. Malah menurut kabar, sesudah angkatan perang Wu angkat kaki dari tempat itu, tidak lama kemudian angkatan perang Wei juga bersiap-siap untuk meninggalkan He Fei. Perjalanan kembali ke ibukota Jian Ye bisa dikatakan sangat tenang dan tidak ada hambatan apapun. Namun tetap saja tidak ada yang bisa dilakukan untuk menceriakan suasana lagi.
Malam itu, mereka bermalam di sembarang hutan. Sebentar lagi mereka akan sampai ke ibukota. Yangmei yang kelelahan tidur beralaskan selembar selimut. Kelihatannya ia tidur nyenyak sekali meskipun hanya berbantalkan tangannya yang ditekuk. Sangat berbeda sekali dengan kucing di sebelahnya yang sama sekali tidak bisa tidur. Matanya tetap terbuka. Sebenarnya, selama beberapa malam ini kucing itu sama sekali tidak pernah tertidur.
Kucing itu tidak lain dan tidak bukan adalah Lu Xun sendiri.
Lu Xun berjalan tanpa arah, sudah terlalu lelah untuk menangisi nasibnya sendiri. Bukankah ia sendiri yang bilang akan siap menanggung apapun yang terjadi demi Yangmei? Bahkan jika itu adalah kematian sekalipun? Tetapi kali ini beda, ia seekor kucing sekarang! Apa yang bisa dilakukannya sebagai kucing? Dan bagaimana caranya ia kembali menjadi manusia? Segala cara telah dilakukannya untuk memberitahu Yangmei, tetapi gadis itu tetap saja tidak mengerti.
Selain itu, kalau dipikir lagi, memang sebaiknya Yangmei, atau siapapun itu, jangan sampai tahu-menahu soal ini.
Di pohon yang tidak jauh dari sana, tali kekang seekor kuda berwarna coklat kekuningan diikatkan. Siapa lagi kuda itu kalau bukan Huo Li, kuda kepunyaan Lu Xun yang akhirnya dibawa oleh Yangmei? Lu Xun mendekatinya, dilihatnya Huo Li juga tidak bisa tidur dan sepertinya ia sedang gelisah, mungkin karena beberapa hari tidak melihat majikannya. Lu Xun tersenyum melihat kesetiaan kudanya itu.
Saat Huo Li menyadari kehadiran Lu Xun, binatang itu seperti tersentak kaget, hampir meringkih. "Tuan?"
Lu Xun sendiri tidak kalah kaget. Selama ini ia sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan Huo Li, tapi kenapa kali ini bisa? Apa karena mereka sama-sama binatang sekarang? Dan kenapa Huo Li bisa mengenalinya meskipun ia sekarang adalah seekor kucing? Lu Xun sampai tidak tahu harus menjawab atau tidak, dan kalau menjawab pun, apa yang harus ia katakan?
Huo Li mengulang lagi pertanyaannya. "Kau... Tuan Lu Xun, kan?"
"I-iya..." Jawab Lu Xun masih dengan nada tidak percaya. Kepalanya ia pukul berulang-ulang dan terasa sakit. Ternyata ia sama sekali tidak bermimpi! "Huo Li! Ini kau?"
"Benar, tuan! Aku Huo Li!" Balas Huo Li lagi. "Setelah lama kuperhatikan, ternyata memang tuan berubah menjadi kucing! Bagaimana tuan bisa seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya? Ulah siapa ini?" Tanya Huo Li bertubi-tubi tanpa bisa memendam rasa penasarannya.
"Bagaimana kau bisa tahu aku? Padahal aku kan sekarang kucing?" Tanya Lu Xun balik.
"Aku sudah menjadi kuda tunggangan tuan selama beberapa tahun, mana mungkin aku tidak bisa mengenal tuan?" Lagi-lagi Huo Li bertanya balik. "Ini namanya insting binatang! Sekarang, tuan, tolong ceritakan, bagaimana tuan bisa menjadi seperti ini?"
Lu Xun menggeleng lemah. "Kau tidak tahu, Huo Li..." Huo Li mendengarkan majikannya itu dengan penuh rasa ingin tahu. "Kau tidak tahu apa yang aku alami setelah kau dan Yangmei pergi..."
"Apa yang mereka lakukan?"
"Mereka..." Lu Xun terdiam sejenak, bingung harus mengatakan apa. "... mereka meminumkan racun padaku."
"Tunggu sebentar!" Huo Li memotong. "Ini sama sekali tidak jelas! Tuan, bisakah tolong anda ceritakan dari awal? Aku bingung! Apakah mereka akhirnya menangkapmu? Kau gagal menembus kepungan Wei?"
Lu Xun tersenyum kecut mendengar pertanyaan Huo Li. "Jika aku berhasil lepas dari kepungan Wei, sekarang aku masih berwujud manusia." Jawabnya. "Aku ditangkap oleh mereka akhirnya." Mulailah Lu Xun bercerita, mulai dari dihadapkan dengan Cao Pi yang berusaha mencari kesalahannya dan mempermalukannya dengan menanyainya, kemudian disiksa habis-habisan oleh prajurit Wei dan sampai akhirnya ia bertemu dengan Kaisar Sun Ce sendiri dan menyaksikannya terbunuh. Pada akhirnya ia sendiri diberi ramuan beracun itu.
Entah bagaimana Huo Li harus merespon sekarang. Ia marah sekali mendengar majikannya diperlakukan seperti itu oleh Wei. Tak terasa sepanjang mendengarkan cerita Lu Xun, kuda itu terus-menerus mendengus marah.
"Kurang ajar! Kurang ajar sekali orang-orang Wei itu! Mereka harus menerima pelajaran!" Kata Huo Li sesudah Lu Xun menyelesaikan ceritanya.
"Sudahlah, Huo Li..." Lu Xun menghela nafas panjang, seperti orang yang sudah tidak berdaya lagi menanggung nasibnya. "Sekarang tidak ada lagi yang bisa kita lakukan... Kecuali..."
"Kecuali?"
"Kekuatan Meimei." Lu Xun menjawab dengan yakin. "Bukankah Meimei memiliki kekuatan untuk menyembuhkan? Mungkin kekuatan itu bisa digunakan untuk menyembuhkanku." Tetapi kemudian Lu Xun terdiam sejenak sebelum mendesah lagi. "Tapi dengan keadaanku yang seperti ini, bagaimana aku bisa memberitahu Meimei?"
Huo Li bingung harus menjawab apa. Ia sama sekali tidak tahu-menahu masalah manusia ini. Saat pertama kali ia bertemu Lu Xun, ia sedang dalam kepungan api. Ketika dilihatnya Lu Xun tidak terbakar, dia mengira semua manusia tahan pada benda panas yang disebut api. Namun, pada saat mereka berdua selamat, orang-orang merasa heran melihat Lu Xun yang tidak apa-apa setelah masuk dalam api. Akhirnya, tahulah Huo Li bahwa majikannya ini memiliki sesuatu yang khusus dibandingkan manusia-manusia yang lain. Tapi apa itu, ia sama sekali tidak tahu. Baginya manusia ini sesuatu yang sangat rumit.
Untuk sesaat keheningan menguasai udara malam yang sejuk itu. Sampai pada akhirnya Huo Li memberanikan diri untuk memecah kesunyian. "Tuan, bolehkan aku bertanya sesuatu?"
Lu Xun menoleh ke kudanya yang sekarang berukuran jauh lebih besar darinya itu. "Tentu saja."
"Aku ingin bertanya..." Kelihatan jelas Huo Li sedang ragu menanyakannya. "Sepertinya tuan terlihat beda dari manusia-manusia yang lain. Waktu pertama kali kita bertemu, sepertinya tahan dari api adalah suatu kemampuan luar biasa yang hanya kau saja yang punya. Kemudian kau juga berkata Nona Yangmei bisa menyembuhkan sementara yang lainnya tidak. Memangnya apa yang membedakanmu dan Nona Yangmei dari manusia lain?"
Mendengar pertanyaan itu, Lu Xun tersenyum. Ia tahu seekor kuda seperti Huo Li sama sekali tidak pernah diajari atau mendengar tentang Phoenix dan lain sebagainya. "Ceritanya panjang, Huo Li." Katanya sambil memandang bintang-bintang di langit yang gelap. Malam itu panjang, jadi sepertinya menceritakan segala sesuatu mulai dari awal sampai akhir pada Huo Li tidak akan membuang waktu. Akhirnya, Lu Xun menceritakan segala kejadian tentang Phoenix, mulai dari legenda Feng dan Huang, dataran China yang tidak pernah aman, dan sampai pada masa mereka ini.
Huo Li mendengarkan dengan seksama setiap perkataan Lu Xun. Sepertinya mempelajari dunia manusia sangat susah untuknya yang seekor hewan. Ia sebenarnya bingung, mengapa manusia bisa mendambakan kedamaian, tetapi mereka terus berperang untuk kedamaian itu? Mengapa manusia menggembar-gemborkan kebaikan, tetapi pada kenyataannya ada di antara mereka yang tega berlaku buruk terhadap manusia lainnya seperti yang dilakukan para orang Wei pada majikannya itu? Mengapa ada orang yang berjuang mati-matian untuk kepentingan orang lain sampai mengorbankan nyawanya sendiri, padahal ada juga yang mencari kepuasan diri sendiri sampai mengorbankan orang lain?
Dan terutama, Huo Li melihat sendiri dari kehidupan Lu Xun yang nyata. Mengapa ada orang yang bisa mencintai orang lain sedalam itu, sampai mau memaafkan orang tersebut berulang-ulang kali, dan menanggung kesalahannya?
Selesai Lu Xun menceritakan, Huo Li hanya bisa terus-menerus menatap majikannya yang sekarang berwujud kucing itu. Bayangkan saja, dari seorang manusia yang memilikinya, yang dengan leluasa dapat menungganginya untuk berperang atau berburu, sekarang telah berubah menjadi seekor kucing kecil, yang sekali injak saja mungkin sudah mati. Semua ini bermula dari seorang Yangmei. Tetapi anehnya, Huo Li sama sekali tidak mendengar keluhan tentang Yangmei keluar dari mulut Lu Xun barang sekalipun.
"Begitulah ceritanya..." Lu Xun mengakhiri ceritanya yang panjang itu.
"Tuan?"
Lu Xun menoleh ke arah Huo Li. "Ya?"
"Kau tidak marah?"
"Marah pada siapa?"
"Nona Yangmei." Jawab Huo Li pendek.
Lu Xun terhenyak sesaat. "Mengapa aku harus marah padanya?"
"Dia..." Huo Li berkata dengan suara yang lebih rendah. "Bukankah dia yang menyebabkan keadaanmu seperti ini sekarang? Kulihat Nona Yangmei itu sangat ceroboh dan banyak melakukan kesalahan meski kau telah memperingatkannya. Anehnya, dia sama sekali tidak pernah menerima akibat dari perbuatannya. Ini yang namanya tidak adil! Di dunia ini, yang namanya perbuatan jahat pasti ada akibatnya, dan tidak mungkin akibat itu bisa hilang dengan sendirinya! Kalau manusia, atau bahkan makhluk hidup lain sekalipun, termasuk kuda sekalipun melakukan kesalahan, pasti ada ganjarannya. Bagaimana mungkin sampai sekarang Nona Yangmei tidak mendapat ganjaran apapun atas perbuatannya?" Tanya Huo Li penasaran. "Contohnya, kalau manusia malas belajar, pasti ia akan menjadi bodoh. Kalau seorang manusia tidak menaati peraturan, dia akan dibawa ke pengadilan dan diberikan hukuman yang pantas. Kalau seekor kuda tidak mau berjalan, dia akan dipecut! Segala sesuatu di dunia ini berjalan dengan keadilan seperti itu, kenapa Nona Yangmei tidak? Ini kan tidak adil namanya?"
"Adil, kok." Jawab Lu Xun ringan dan pendek menanggapi pertanyaan Huo Li yang panjang.
Kontan Huo Li kaget dengan jawaban itu. "Hah? Bagaimana bisa?"
"Meimei menerima ganjarannya..." Balas Lu Xun. Kali ini, Huo Li melihat Lu Xun hanya menatap ke bawah saja. Meskipun ia sekarang seekor kucing, tatapan matanya yang terlihat sedih dan melankolis seperti saat wujudnya masih manusia dulu itu masih jelas terlihat. "... Tapi aku yang mengambil semuanya. Anggap saja begitu."
"Jadi, semua kesalahan Nona Yangmei, tuan yang menerima ganjarannya?" Tanya Huo Li, nyaris berteriak karena kaget. "Ini semakin tidak adil! Aku sama sekali tidak mengerti! Tuan, kalau begitu, ini justru akan semakin tidak adil untuk tuan sendiri! Sekarang, kenapa kau berkata ini semua adil?"
"Karena aku bersedia melakukannya dengan rela." Sekali lagi Lu Xun menjawab dengan pendek, tetapi langsung mengena. Huo Li bingung harus berkata apa lagi. Akhirnya, Lu Xun yang melanjutkan. "Kau tidak lihat, Huo Li? Malam saat aku pertama kali aku datang ke He Fei, aku harus mati-matian menyusun strategi untuk melawan Wei, bukan? Kemudian aku terkena serangan senar beracun Sima Yi. Berikutnya aku dibawa ke benteng Wei untuk disiksa, dan pada akhirnya aku di sini, diracun menjadi kucing. Apa ini masih kurang sebagai ganjaran dari kesalahan Meimei?"
"Bukan itu maksudku!" Jawab Huo Li cepat. "Aku sudah tahu benar yang kau alami itu akibat kesalahan Nona Yangmei. Yang mau kutanyakan adalah, apa kau sama sekali tidak marah atau menyesal atau mengeluh karena ini? Kulihat kau sangat hati-hati mengambil keputusan. Tindakanmu baik, tetapi kalau kau sampai mengalami semua ini karena Nona Yangmei, ini yang namanya tidak adil! Yang baik tidak perlu dihukum, tetapi yang salah-lah yang harus dihukum! Kau sama sekali tidak merasa begitu, tuan?"
Sampai di sana Lu Xun hanya diam, menatap Huo Li dengan suatu tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Apa Lu Xun sedang menerawang? Huo Li sendiri tidak tahu.
"Tuan?" Panggil Huo Li. "Apa tuan baik-baik saja?"
Akhirnya, Lu Xun buyar dari lamunannya. Ia berbalik menatap ke tanah, kemudian menengadah memandang langit berbintang. "Kau benar, Huo Li." Katanya sambil menghela nafas panjang. "Tapi ini pilihanku sendiri! Jadi sebenarnya ini adil. Aku yang memilih untuk menerima ini semua, tidak ada yang memaksaku." Huo Li tertegun, rasanya kata-kata itu seperti membuka suatu pikiran baru di kepalanya yang hanya terisi oleh otak binatang yang hanya tahu prinsip hukuman saja. Lu Xun pun melanjutkan. "Ingatkah kau malam saat aku membawamu keluar untuk menolong Meimei. Kita bertemu dengan T'an Mo, bukan?"
Huo Li mengangguk tanpa mengerluarkan suara.
"Dia memberi tiga pilihan padaku, bukan? Pertama, membiarkan Meimei di tangan orang-orang Wei. Kedua, menyerah dan mengaku kalah demi Meimei. Dan terakhir, mati-matian menyelamatkan Meimei, bahkan kalau perlu harus meresikokan nyawaku sendiri." Lanjut Lu Xun. "Dari ketiga itu, mana yang aku pilih?"
"Ketiga." Jawab Huo Li sambil mengingat-ingat kejadian itu.
"Benar." Lu Xun mengangguk. "Kau pikir ada yang memaksakanku untuk memilihnya? Tidak ada! Itu pilihanku sendiri! Lalu saat aku memutus jembatan itu, itu pun pilihanku."
Jawaban yang diberikan Lu Xun memang mengena, tetapi tidak cukup memuaskan Huo Li, terutama dengan perasaannya sebagai binatang yang tidak mengerti bagaimana ada cinta yang seperti itu di dalam hati seorang manusia. "Tapi ini benar-benar gila! Tidak masuk akal!" Kelihatan sekali Huo Li sudah berusaha memikirkannya dalam-dalam tetapi tetap saja gagal. "Kenapa tuan melakukan semua ini demi Nona Yangmei? Kalau Nona Yangmei bisanya hanya menyusahkan tuan saja, kenapa tuan masih mau membela Nona Yangmei, mencintai Nona Yangmei, melindungi Nona Yangmei? Ini aneh!"
Lu Xun tertawa kecil. "Pertanyaanmu entah kenapa mirip sekali dengan pertanyaan Cao Pi dan Kaisar Sun Ce, Huo Li." Jawab Lu Xun. Huo Li sudah bersiap-siap untuk protes tetapi Lu Xun sudah melanjutkan lebih dahulu. "Baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Hanya karena satu hal saja, tidak ada penjelasan lain. Karena aku menyayangi Yangmei lebih dari diriku sendiri."
"Iya! Iya! Aku mengerti!" Balas Huo Li dengan gaya tidak sabar. "Tapi kenapa kau mencintainya padahal dia tidak punya sesuatu untuk dicintai?"
"Sudah kubilang, karena aku mencintainya. Itu saja alasannya."
"Tapi kenapa?"
Lu Xun mau tidak mau jadi kesal juga. "Apakah mencintai seseorang harus ada alasannya?" Tanya Lu Xun balik akhirnya.
"Eh?" Huo Li kelihatan bingung. "Tentu saja. Yang namanya cinta itu harus ada alasannya. Misalnya karena dia pintar, dia baik hati, dia cantik, dia kaya, dia berpendidikan, atau apalah!"
"Pantaslah kau tidak mengerti..." Lu Xun akhirnya menyimpulkan. "Cinta itu kadang kala bisa aneh, sama sekali tidak ada alasan. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku sayang pada Yangmei. Tapi yang pasti, aku benar-benar menyayanginya, tidak peduli dia berubah seperti apapun."
Huo Li menatap majikannya itu lama sekali. Sampai detik ini ia masih belum tahu mengapa majikannya itu bisa sayang pada seorang Yangmei sampai seperti itu. Pastilah bukan karena Yangmei seorang putri, bukan juga karena Yangmei punya kekuatan Phoenix seperti Lu Xun sendiri.
Mungkin memang benar Tuan Lu Xun tidak pernah menuntut apa-apa dari Nona Yangmei...
Yahhh... itu alasannya kenapa ada salah satu fanart yang saya gambar sendiri yang gambarnya Lu Xun punya telinga kucing...
Wewww... kok lama2 jadi cerita fabel, ya? ==a
Nggak, deh... bagi yang nggak seneng, Lu Xun jadi kucing ini nggak lama, kok... kan kasihan kalo selamanya Lu Xun jadi kucing... XD
BTW, kalo mau tahu, ini inspirasinya muncul dari kucing saya... XD Tapi... Hixxx... kucing saya tuh sudah mati gara2 dibunuh sama kucing garong tetangga yang badannya lebih besar... Hixxx... padahal itu kucing sangat-sangat-sangat lucu... T-T
Yahhhh... saya minta izin harus Sabtu nggak update, ya? Sekalian hari Senin... Eh, tapi emang hari Senin udah selesai UAS belum?
NOTE: KALO SAMPE TERJADI KEJATUHAN NILAI GARA2 NGGAK BELAJAR BUAT BACA CERITA INI, AUTHOR TIDAK BERTANGGUNG JAWAB!
Thnx for reading... Would you like to review, please? ^^
