Chapter 37

Harry mengerang, tak bisa mengangkat tubuhnya.

"Uugghh... Badanku sakit dimana-mana..."

Draco di sebelahnya, setengah tidur, hanya menarik Harry ke dekapannya lagi. "Tidur lagi."

Harry berjengit, merasakan apa yang rasanya akhir-akhir ini selalu dia rasakan saat Draco memeluknya. Gundukan keras tubuh bawah Draco. "Merlin Malfoy! Apa kau tak akan pernah puas?!"

Draco terkekeh, menggosokkan bagian depannya ke punggung Harry. "Tidak denganmu. Salahmu sendiri terlalu seksi..."

Harry memutar bola matanya. "Malfoy, aku ada latihan Quidditch 3 jam lagi, Dan badanku sakit semua!"

"Kau tahu itu akibatnya kalau melakukannya di atas meja..."

Wajah Harry merona. "Well..."

Draco terkekeh, menciumi leher Harry. "Smell so good..."

Harry mendengus. "Bauku pasti sudah bercampur denganmu, setelah empat ronde..."

Draco menggigit leher Harry, membuat cewek itu berjengit. "Au! Au!" Cowok itu duduk sedikit, menatap leher Harry, meringis. "Sori, sori," tawanya. "Agak kelewat bersemangat tadi malam. Lehermu sudah penuh bekas ciuman."

Harry memelototinya, lalu bangkit perlahan. Dia hanya sempat memakai celana dalam semalam sebelum Draco menariknya untuk akhirnya benar-benar tidur. Dia mengambil tanktop dari karpet, memakainya, lalu berjalan ke depan cermin. Membuatnya kembali berjengit melihat hampir seluruh tubuhnya berwarna biru sekarang.

"Merlin, apa kau vampir?" Kata Harry, meringis saat menyentuh bekas di payudaranya. Draco nyengir lebar, berjalan ke arah Harry, memeluknya dari belakang, menatap bayangan mereka di cermin besar itu.

"Vampir kelaparan yang makanan satu-satunya adalah kau..." Gumamnya, menenggelamkan wajahnya ke pundak Harry.

"Pantas saja sakit semua. Apa yang harus Kita lakukan dengan ini?" Desah Harry, menatap pasrah bekas ungu di dagu nya. Draco memasukan tangannya ke balik tanktop Harry mengusap perutnya.

"Bagaimana kalau Mandi bareng?"bisiknya menggoda di telinga harry, yang mau tak mau terbahak, memukul tangan nakal Draco.

"Dasar cowok gila."

"Oh ayolah, aku Akan menggosok seluruh tubuhmu, sebagai ganti rasa sakit ini..." Dia menjilat leher Harry, membuat Harry bergidik bergairah.

"Astaga Draco, sekali lagi, dan aku tak Akan bisa Naik sapu!"

"Hmm, efek samping yang Makin menguntungkanku. Ayo Mandi bareng..." Cowok itu tampak Makin bersemangat meraba perut Harry, Naik ke dadanya, membuat lingkaran lembut di putingnya. Harry merasakan dirinya sendiri mulai terangsang, perutnya mulai tegang, dan mengeluarkan erangan tak terelakkan saat tangan Draco yang bebas memainkan celana dalamnya, mengetuk-ketuk pusatnya dengan pelan, malas, tak terburu-buru...

Jblak!

"Draco, kau lihat dimana sapu... OH MY GOD!"

Harry dan Draco melompat melepaskan diri, menatap Blaise yang matanya melebar menatap Harry. Tubuh Harry lebih tepatnya. Harry berjengit, bersembunyi di belakang Draco cepat.

"ZABINI!" Raung Draco murka. "OUT!"

Blaise melongok Harry di belakang Draco. "Merlin Potter..." Katanya serak, tapi tak bisa melanjutkan karena Draco mendorongnya keluar kamar, membanting pintunya, mengambil tongkatnya dan mulai memantrai pintu kamarnya.

"Sialan memang Blaise, aku tahu persis ini yang dia incar! Kesempatan melihatmu setengah telanjang!" Tukas Draco, melemparkan tongkatnya ke kasur, wajahnya super marah. "Lihat saja nanti," Desisnya. Harry hanya tertawa.

"Sudahlah, mungkin dia ngga sengaja..."

"Ngga sengaja?" Dengus Draco, memelototi Harry. "Dia terobsesi dengan tubuhmu sejak kelas 4! Aku tahu kesempatan ini yang dia incar, si musuh dalam selimut!"

Harry menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. "Oke, jadi apa tawaran Mandi bareng masih berlaku?" Tanyanya dengan nada menggoda, mengalihkan perhatian Draco dengan efektif sekali, karena cowok itu langsung melesat menarik Harry ke kamar Mandi. Harry hanya bisa tertawa dan menggeleng.

Dasar cowok.

-dhdhdhdh-

Lisa Turpin menatap pancakenya. Tidak nafsu makan. Sudah hampir seminggu dia hanya meratapi nasib, tak ingin makan, Tak ingin melakukan apapun selain merutuki Potter...

Dia mendongak saat mendengar suara tawa cewek itu, masuk ke aula besar dengan geng Gryffindor yang selalu ramai. Otomatis matanya melirik drarco di meja di sebelah mejanya, Dan terntu saja, seperti yang terjadi selama seminggu terakhir sejak Lisa tahu tentang mereka, Mata cowok itu mengikuti Potter. Draco sedang bertopang dagu sambil memakan roti panggangnya, tapi matanya fokus pada Potter, sampai cewek itu duduk di meja Gryffindor. Potter akhirnya balas menatapnya, lalu menunduk dengan senyum di wajahnya. Draco sendiri juga menunduk dan tersenyum pada roti di tangannya. Blaise Zabini menyikutnya sebal, yang tidak di acuhkan Draco sama sekali.

Lisa merasakan matanya mulai panas lagi.

Bagaimana bisa dia tak sadar?

Potter..Potter. tentu saja. Semua tahu Potter benci publisitas, jadi pastinya satu-satunya cewek yang tak punya keinginan memamerkan Draco ke seluruh negri hanya dia kan? Bagaimana bisa Lisa tak menyadarinya? Tapi apa yang di punya Potter? Selain bahwa cewek itu sangat tomboi, bodoh, suka tertawa keras, Dan makan seperti babi? Cantik saja tidak kan? Tak Ada kelebihan sama sekali menurut Lisa, jadi kenapa Draco bisa-bisanya pacaran dengannya selama 5 tahun? Draco berhak mendapat yang lebih baik...

Cowok seperti Draco Malfoy berhak mendapat cewek yang cantik, pintar, Dan berkelas seperti Lisa. Mereka akan sangat memesona jika berjalan bersama. Seluruh sekolah mengakui itu. Dan lagi, ayahnya pelahap maut, jadi kenapa dia nekat pacaran dengan cewek yang Paling dibenci oleh Kau Tahu Siapa? Kenapa Potter begitu egois, harusnya dia melepaskan Draco demi keselamatan cowok itu kan?!

Lisa menatap Draco lagi, Kali ini cowok itu sedang bicara dengan Theo Nott. Ketampanan Nott jelas jauh di atas Draco, tapi tetap saja, hampir semua cewek lebih mengincar Draco Malfoy, yang pucat, populer, cerdas... Dengan lidahnya yang tangkas dan tajam... Mata kelabunya yang indah...

Lisa merasakan perutnya bergejolak. Dia ingin sekali memiliki cowok itu.

Dia ingin memiliki Draco Malfoy, Dan bahkan persaingan dengan Harria Potter yang terkenal Tak membuat keinginannya luntur. Draco hanya belum memberinya kesempatan. Entah guna-guna apa yang Potter pakai sampai Draco bisa lebih memilihnya daripada Lisa, tapi Lisa Akan mengalahkannya.

Ya, Lisa akan mengalahkan Harria Potter, Dan dia Akan menjadi istri Draco Malfoy. Dia HARUS menjadi istri Draco Malfoy, apapun yang terjadi.

Lisa bangkit dari kursinya, membawa tas nya, menghampiri Potter di meja Gryffindor. Cewek itu sedang makan dengan cepatnya bersama Ron Weasley, membuat Lisa berjengit. Bagaimana bisa cewek menjijikan in berharap dirinya pantas menjadi Mrs Malfoy?

"Potter," panggil Lisa, mengetuk pundaknya. Potter menoleh, mengangkat sebelah alisnya saat menatap Lisa. "Bisa Kita bicara?" Hampir seluruh Gryffindor menatap mereka penasaran, jelas mereka ingin tahu apa yang Lisa Turpin, cewekk cantik Dan berkelas dari Ravenclaw, inginkan dari seorang slebor tomboi macam Harry Potter.

Potter mendesah panjang, seolah Lisa adalah nyamuk yang berkeras mengganggunya. Lisa menahan tangannya untuk tidak menampar cewek itu.

"Well, aku sedang sarapan di sini," jawab Potter, memasukan potongan brokoli di piringnya ke mulutnya.

Lisa meremas tongkatnya. "Hanya sebentar," tandasnya habis sabar. "Kau tak ingin melakukan pembicaraan ini di sini," tambahnya, nadanya sedikit mengancam.

Potter kembali menatapnya geli. "Apa kau mengancamku?"

Lisa mengangkat dagu nya. "Aku hanya ingin bicara sebentar. Atau apakah Sang Terpilih merasa dirinya terlalu tinggi untuk bicara dengan manusia biasa?" Ketusnya, habis sabar.

Potter memutar bola matanya. Weasley dan Granger bertukar pandang keheranan. Jelas mereka tak tahu bahwa Potter dan Lisa saling benci. Yang membuat Lisa sadar, bahkan Potter tak menceritakan soal dirinya dan Draco pada teman-teman terdekatnya. Apa yang cewek itu pikirkan? Apa dia malu pacaran dengan Draco?

Potter mendesah lagi, meneguk jus labu nya sampai habis, lalu berdiri dan mengambil tas nya. "Sampai ketemu di kelas," katanya pada Weasley dan Granger, lalu mengikuti Lisa keluar aula besar, lisa bisa melihat Draco menatap mereka heran saat melewati meja Slytherin. Tenang saja Draco, Lisa sedang menyelamatkanmu dari cewek tak berkelas ini. Dia dan Potter berjalan ke koridor kosong di aula depan.

Potter bersandar pada tembok, bersedekap. "Well?" Tanyanya Kaku.

Lisa berdiri di depannya, balas menatap dingin. "Well, kau tahu persis apa yang ingin kubicarakan."

Potter tidak menjawab, hanya menatapnya. Lisa menahan diri untuk tidak mengutuk mati cewek itu di tempat.

"Soal Draco," kata Lisa lagi, ingin ini segera selesai. "Aku tak percaya kau balikan dengan dia. Maksudku..." Lisa menggeleng. "Bagaimana bisa kau begitu egois?"

Potter mengangkat sebelah alisnya. "Apa sih maksudmu?"

Lisa memutar bola matanya. "Oh ayolah Potter. Kau tahu persis bahwa dengan pacaran denganmu, Draco mempertaruhkan nyawanya. Bagaimana kalau Kau Tahu Siapa sampai tahu soal ini? Aku tak percaya betapa egois nya dirimu!"

Potter menatapnya lama. Lalu bertanya, "Aku tak tahu kenapa kau harus ikut campur urusanku Dan Draco," tandasnya. "Kami sudah menjalani selama enam tahun, kami tahu apa yang kami lakukan."

Lisa mendengus. "Oh sungguh? Pelet apa yang kau pakai sampai Draco bisa Bertahan selama itu denganmu? Lihat dirimu!"

Potter mengangkat bahu. "Kau yang harusnya melihat dirimu kan? Menunjukkan payudaramu pada PACARKU, Dan dia masih tak tertarik padamu," dia mendengus geli. "Dasar murahan."

Lisa merasakan wajahnya terbakar. Apakah Draco menceritakan soal itu pada Potter?! Dia tak percaya. Itu harusnya menjadi momen privat mereka!

"What? Bertanya-tanya apalagi yang Draco ceritakan padaku soal betapa jalangnya dirimu?" Tanya Potter, nadanya geli.

"Jangan panggil aku jalang!" Bentak Lisa, marah sekali.

Potter mengangkat bahu. "Whatever."

Lisa merasakan darahnya mendidih. "Dengar Potter, aku tahu kau dan Draco sudah enam tahun pacaran, tapi kalau kau memang mencintainya, kau harus melepaskannya. Kau membunuhnya dengan mengekangnya seperti ini! Biarkan dia jalan dengan cewek yang sepadan dengannya, yang cantik, pintar, Dan bermartabat. Sedangkan kau... Lihat dirimu Potter. Kau dekil, dan... Gryffindor... Dan, astaga, kau bahkan tak tahu bagaimana caranya Tata krama darah murni. APA kau berharap orangtua Draco akan setuju? Mereka akan menangis melihat anak mereka jalan dengan cewek yang bahkan Tak bisa makan dengan mulut tertutup! Dan semua orang tahu Draco sangat menjunjung tinggi nama Dan keluarganya." Lisa menarik napas, menatap benci Potter. "Kalau kau memang peduli padanya, kalau kau memang ingin yang terbaik untuknya, kau harus memutuskannya. Demi keselamatannya, dan demi kebahagiaannya!"

Hening.

Potter melongo menatap Lisa, jelas dia tak menyangka Lisa akan seberani ini menunjukan fakta padanya..fakta yang jelas terpampang, yang berusaha Potter singkirkan demi keegosiannya sendiri.

Potter menarik napas, tampak berusaha mengendalikan dirinya. Dia menatap Lisa tajam, lalu berkata, "Thanks atas analisismu terhadap hubunganku dan Draco. Kalau kau begitu penasaran, aku Akan memberitahumu. Draco yang pertama Kali menyapaku saat kami pertama bertemu. Draco yang pertama mengajak berteman. Draco yang duluan mendekatiku, selalu dia duluan yang mengajakku ngobrol saat kelas Satu dulu. Dia yang pertama bilang suka padaku. Dia yang menembakku. Dan, dia yang mengajak balikan tiga minggu yang lalu, setelah 9 bulan putus," katanya dingin. "Kalau kau ingin kami putus, kau harus membujuknya untuk memutuskanku, karena aku tak pernah membuat langkah duluan. Semua selalu Draco."

Lisa merasakan wajahnya bagai ditampar. Bagaimana mungkin...

Potter tersenyum tanpa humor. "Aku tak pernah perlu menunjukan payudaraku untuk membuatnya tertarik padaku. Aku, yang tidak cantik, tidak pintar, bukan darah murni, Dan bahkan Tak bisa makan dengan mulut tertutup. Sedangkan kau... Lihat dirimu. Kau merasa dirimu begitu sempurna hanya Karena apa? Karena kau cantik menurut polling anak sesekolah? Draco juga menganggapmu cantik, tapi dia tak pernah mendatangimu duluan kan? Karena kau Ravenclaw? Bahkan kepintaranmu tak membuat Draco mencari-cari alasan untuk ngobrol denganmu kan? Atau Karena kau makan dengan mulut tertutup? Bayangkan Draco, masih tergila-gila padaku, padahal aku tak pernah berpura-pura bermartabat di depannya. Sedangkan kau, darah murni yang disetujui orangtuanya... Kau tahu apa yang Draco katakan? Dia pilih melajang daripada harus menikah denganmu."

Kini Lisa yang melongo syok, seolah sebuah rumah rubuh di atas kepalanya. Dia merasakan matanya panas, darahnya mendidih murka dengan tiap kata-kata Potter...beraninya... Beraninya Potter bicara begitu padanya...

Potter menyipitkan matanya. "Dan aku tak tahu kenapa kau begitu terobsesi. Kau bahkan tak benar-benar menyukai Draco..."

"Aku jatuh cinta pada Draco sejak kelas tiga!" Bentak Lisa, tubuhnya gemetar marah. " Kau tak berhak menghakimi perasaanku!"

Potter mendengus. "Yang benar saja. Kalau kau memang mencintainya, kau Tak Akan membicarakan soal 'betapa besarnya' dia di depan teman-temanmu. Kau tak Akan menertawainya di belakang seperti itu..."

Lisa tergagap. "Aku membicarakan apa di belakang? Aku tak mengatainya Hal yang jelek! Aku memujinya!"

"Dan kalau misalnya, seorang cowok bicara soal betapa besar payudaramu di depan teman-temannya, apa kau akan masih menganggap cowok itu mencintaimu?" Tandas Potter, mengangkat sebelah alisnya. Lisa langsung terdiam.

Potter mendengus. "Dengar Turpin, aku tahu kau menyukai Draco, Dan kau benci padaku karena Draco lebih memilihku yang rendah daripada dirimu yang sempurna. Tapi... let's get real yeah? Kau hanya menyukainya karena dia... Apa? Pintar? Kaya? Darah murni? Nyaris ningrat? Populer? Pemain Quidditch? Tapi dia tak menyukaimu. Dan kau tahu betapa temperamennya dia, kalau kau membuat kami putus, aku tak bertanggung jawab terhadap apa yang Akan terjadi padamu dan keluargamu. Kutekankan padamu, aku mungkin lebih jago duel, tapi Draco... Bisa menyimpan dendam lebih lama dibanding umur Dumbledore."

Lisa merasakan tenggorokan nya kering. Dia Tak tahu harus berkata apa...

Tapi dia tak perlu berkata apa-apa lagi, karena mereka mendengar langkah kaki mendekat. Draco dan Zabini. Lisa memeluk tubuhnya.

"Hei," Sapa Draco tak yakin, menatap Potter dan Lisa bergantian. Jelas dia bisa mencium suasana tegang ini. "Semua baik-baik saja?"

Potter mendengus, memutar bola matanya. "Tanya dia," katanya, mengedik Lisa, lalu berjalan pergi ke arah koridor yang menuju kelas Transfigurasi.

Draco mengernyit bingung. Dia menatap Lisa sekilas, lalu menoleh ke Zabini. "Aku duluan," katanya. Zabini mengangguk. Draco berjalan ke arah Potter pergi, memanggil, "hei, pelankan langkahmu." Lisa berpikir Potter pasti tak Akan mau memelankan langkahnya, berharap Draco mengejarnya. Tapi tidak. Potter berhenti berjalan, menoleh, menunggu sampai Draco berjalan di sebelahnya. Mereka tidak bergandengan, berjalan bersama sambil berbicara pelan.

Lisa mengepalkan tangganya, menatap benci Dua punggung itu. Harusnya dia... Harusnya dia yang berdiri di sebelah Draco, berjalan bersama ke kelas...

"Well," desah Zabini, membuat Lisa sadar bahwa cowok itu masih berdiri di sebelahnya. "Hanya sedikit Saran dariku, sebaiknya kau menyerah. Draco tergila-gila pada Potter sejak kelas Satu. Dia tak akan pernah berpaling dari Potter, karena alasan apapun. Tidak karena Pangeran Kegelapan. Apalagi hanya karena kau." Dia tersenyum bersimpati, lalu berjalan pergi ke arah dimana Potter Dan Draco menghilang.

Lisa menyenderkan tubuhnya ke dinding, menutup wajahnya dengan tangannya. Kembali menangis...

-dhdhdhdh-

Minerva sedang membereskan perkamen hasip pr kelas 6 minggu lalu di kantornya, saat mendengar suara dari kelasnya. Ruang kelas Dan kantor pribadi Minerva tembus oleh 1 pintu, yang saat ini sedang tertutup, tapi Minerva sudah memasang mantra untuk membuat suara apapun yang terdengar di kelasnya bisa dia dengar dari kantornya. Mencegah vandalism, dan entah apa lagi, hasil pemikiran para remaja yang tak punya kerjaan.

"Aku sudah bilang dengan jelas padanya, aku bersumpah," tukas suara yang Minerva hapal betul sebagai Draco Malfoy. Draco Malfoy yang kalem Dan dingin, yang suaranya meninggi hanya karena Satu alasan. Guru itu mendesah panjang. Apakah pagi harinya harus di mulai dengan pertengkaran Malfoy-Potter? "Aku bilang, misalnya pun Kita tidak balikan, aku tetap Akan memilih tidak bersamanya!"

Benar saja, suara Potter hanya menjawab. "Aku hanya penasaran, apa yang membuat dia sampai sebegitu nekat melabrakku begitu. Parkinson saja tak pernah melakukannya!"

"Mana aku tahu kan," kata Malfoy, nadanya putus asa. Minerva membayangkan bahwa percakapan ini sering terjadi, Dan Potter yang keras kepala pasti membuatnya frustrasi. Oh jangan salah sangka, Minerva sangat sayang pada Potter, mungkin sedikit lebih dari murid lainnya, simpati lebih karena dia kenal Lily dan James, tapi muridnya itu sungguh kepala Batu. Dipikir lagi, mungkin memang harusnya Minerva memberi kredit lebih pada Malfoy karena bisa bersabar menghadapi setiap kekeraskepalaan Potter.

"Dia tergila-gila padamu. Dia bilang sejak kelas 3. Dan mumpung membicarakan ini, aku bahkan tak pernah mendengar cerita soal kau dan dia di kelas Aritmancy..."

"Karena memang tak Ada apa-apa!"

"Aku tak tahu kalian saling kenal!"

"Aku mungkin saja dari Slytherin Potter, tapi bukan berarti aku kuper kan? Mana mungkin aku tidak tahu siapa Lisa Turpin."

Ah. Pikir McGonagall. Cemburu lagi Potter. Lagi Dan lagi.

"Maksudku, kenal secara pribadi. Kau pasti sering ngobrol dengannya, sampai seluruh sekolah tahu kalau dia naksir kamu."

Malfoy mendesah. "Well..."

"Well?"

"Yah, dia memang sering mengajakku ngobrol di kelas. Bertanya soal ini Dan itu, mungkin semua berasumsi dari Sana..."

"Oke," kata Harry, suaranya penuh kontrol, tapi Minerva tahu bahwa badai akan segera datang lagi. Dan sepuluh menit lagi kelas di mulai. Minerva memijat kepalanya, apakah sepagi ini dia sudah harus berhadapan dengan ini? "Oke, aku cuma akan bertanya, kenapa kau tidak cerita padaku. Dulu."

Malfoy mendengus. "Karena aku tidak menganggap itu penting, Potter. Aku tidak tertarik padanya sama sekali, dan untuk apa aku bercerita, kalau aku tahu bagaimana kau akan bereaksi?"

"Bagaimana memangnya?"

"Mencurigaiku setiap kata Aritmancy keluar dari mulutku pastinya. Apa lagi?"

Hening sejenak. Lalu Malfoy bicara lagi, "Dengar, aku tak mau Kita bertengkar karena ini lagi oke..."

"Kau selalu marah jika tahu aku tidak menceritakan sesuatu, dan sekarang kau berkata bahwa kau menyembunyikan cewek yang suka padamu sejak kelas 3, dan tak ingin aku membahasnya?" Suara Harry dingin.

"Apa lagi yang mau dibahas? Astaga Potter, aku..."

"Aku hanya ingin mengerti dimana posisi cewek itu. Kau biasanya bercerita kan? Kau cerita padaku kalau kau pikir Parkinson menyukaimu saat kelas 2. Kau cerita padaku saat kelas 4, bahwa Susan bones memberimu sinyal yang jelas kalau dia naksir kamu. Kau bilang kalau Greengrass memberimu cokelat valentine saat kelas 5. Kau selalu menceritakan nya, walaupun kau tahu Kita akan bertengkar karenanya. Jadi kenapa Lisa turpin berbeda?"

Ouw, pikir Minerva. Badai...

Malfoy tampaknya tak punya jawaban untuk ini, karena mereka terdiam. Potter bicara lagi.

"Apa karena dia sangat cantik? Cewek Tercantik di sekolah menurutmu kan? Kau senang kan? Kau puas bahwa cewek tercantik se-Hogwarts naksir mati-matian padamu. Kau suka segala perhatian ini kan?"

"Merlin Potter, kalau aku memang suka padanya, aku tak Akan menolaknya kan? Saat Kita putus selama sembilan bulan kemarin, aku punya hak penuh untuk jalan dengan cewek lain, tapi aku tidak melakukannya kan? Tidak dengan Pansy, Daphne, Susan bones, Lisa Turpin... Tidak dengan siapapun. Sementara lihat dirimu, langsung pacaran dengan cowok lain. Tapi aku tidak membahasnya kan? Aku tidak mempertanyakan posisi Thomas sekarang, karena aku tahu kau mencintaiku, Dan aku berharap kau sadar bahwa aku hanya naksir dirimu. Cuma kamu. Sejak awal. Sejak Kita pertama bertemu. Sampai sekarang." Malfoy menarik napas. "I love you so much."

Minerva meringis. Anak muda. Tahu APA soal cinta...

Potter terdengar mulai luluh. "Yeah. Sorry. Hanya saja..." Dia menarik napas. "Aku tak tahu kenapa aku harus selalu begini. Cemburu demi cemburu..."

Malfoy terkekeh. "Seperti kataku, cemburuan membuatmu sempurna..." Lalu mereka terdiam. Well, badai sepertinya sudah berlalu. Minerva mengecek jam. Hanya 5 menit bertengkar? Jauh sekali dibanding standar bertengkar mereka yang biasanya. Rupanya putus lama membuat mereka jadi lebih dewasa.

Mereka masih terdiam. Minerva jadi cemas, kedua orang itu tidak saling bunuh kan? Tapi lalu dia mendengar mereka tertawa cekikikan... Tawa khas remaja... Minerva menutup matanya, berusaha menyingkirkan segala bayangan soal Potter dan Malfoy berciuman. Sialan Dua orang itu. Harusnya Minerva mengusir mereka dari awal!

Tapi tampaknya hukuman untuknya di pagi Hari ini belum selesai.

"I love you," bisik Potter.

"Hmm..." Jawaban Malfoy tak jelas. Minerva berusaha tidak membayangkan apa yang dia lakukan...

"Jangan terlalu bersemangat. Lima menit lagi anak-anak lain akan datang," kekeh Potter.

"Nanti malam?"

"Tak bisa. Besok pagi latihan Quidditch."

"Really? Jadi Quidditch lebih penting dari pacarmu?"

Harry mendengus. "Kata seseorang yang mendepakku karena firebolt..."

"Hei, aku tidak mendepakmu!"

"Lagian, no way aku mau melakukannya lagi sebelum jadwal Quidditch. Kau tak tahu aku menahan sakit selama 2 jam sabtu lalu!"

"Aku tak mendengarmu protes saat itu. Lima orgasme..."

Minerva bangkit cepat. "Cukup sudah" tandasnya, berjalan ke arah kelasnya.

"Lima orgasme dalam semalam. Seharian aku merasa seperti di langit ke tujuh..."

Minerva berjengit.

"Aku lupa kalau paginya Ada latihan Quidditch. Aku harus minta penghilang rasa sakit dari Madam pomfrey..."

"Nah, sakitnya sudah hilang kan? Ayolah Potter, dimana staminamu?"

"Kau kuras habis," tawa Harry. "Tidak malam ini Malfoy. Titik."

"Hmm, aku yakin bisa mengubah statement itu..." Gumam Malfoy. Minerva mempercepat langkahnya, membuka keras pintu penghubung kantor dan kelasnya, membuat pasangan itu, yang rupanya bersandar di depan pintu, terlonjak kaget.

"Oh hei professor," Sapa Potter, nadanya penuh rasa bersalah. "Kami murid pertama yang datang." Dia membuka pintu kelas yang tadinya dia tutup. Malfoy tidak berkata apapun pada Minerva, hanyacemberut dan berjalan ke kursinya, bangku Paling belakang. Potter meringis pada Minerva, lalu duduk di bangku Paling depan.

Dasar anak muda. Dia mengernyit menatap Potter, berharap gadis itu tahu persis segala konsekuensi perbuatannya dengan Malfoy. Minerva duduk di kursinya, melihat Malfoy menatap keluar jendela dengan kaki bergerak-gerak gelisah. Potter menunduk, berpura-pura membaca buku catatannya. Untungnya setelah itu Zabini Dan Nott masuk ke dalam kelas, langsung menghampiri Malfoy. Zabini mengatakan sesuatu yang membuat Nott terkekeh, tapi Malfoy hanya bertumpu pada tangannya, menatap mereka bosan, kakinya masih bergerak gelisah.

Setelah itu kelas terisi penuh perlahan, Dan saat bel berbunyi, bisa langsung mulai. Potter dan Malfoy adalah pro soal merahasiakan hubungan mereka. Mereka biasanya bisa tahan tidak saling tatap sama sekali selama di kelas, tetap berkonsentrasi pada tugas mereka. Tapi rupanya prospek mendapat 'lima orgasme' lagi membuat Malfoy sama sekali tak bisa memikirkan Hal lain. Minerva berusaha tidak melihat muridnya itu, tahu persis dimana pikirannya berada, dengan kaki terus bergerak gelisah.

"Merlin Draco, bisakah kau berhenti?" Desis Zabini. "Aku berusaha konsen di sini."

Malfoy mengusap rambutnya, mengerling Potter untuk entah yang keberapa kalinya, berhenti bergerak. Minerva berusaha meminta kesabaran.

"Malfoy, Ayo lihat kerjamu," tandasnya, membuat Malfoy terlonjak. Dia mengerling Potter, lagi!, lalu mendesah panjang. Dia mengernyit berkonsentrasi pada air di depannya, yang harus dia ubah menjadi wine. Dia menggumamkan mantranya, lalu air di depannya berubah perlahan, tapi tidak menjadi merah ataupun putih, melainkan...

"Biru Malfoy? Minuman apa ini?" Tandas Minerva. Wajah malfoy merona, sementara Zabini menyemburkan tawa keras. Nott tampak berusaha menahan tawa juga. Minerva mengernyit, mengendus gelas itu. Mint. Sedikit cherry. Bibir Minerva menipis menahan marah. Zabini menenggelamkan kepalanya ke lengannya, tertawa terbahak-bahak tanpa kendali. Seluruh kelas menjadi penasaran, menatap mereka. Minerva segera melambaikan tongkatnya, mengubah Ramuan di gelas itu menjadi air lagi sebelum seluruh kelas melihatnya.

"Tinggal di sini selesai kelas Malfoy," katanya pendek. Malfoy berjengit, tapi mengangguk. Zabini masih tak bisa mengendalikan tawanya. "Kendalikan dirimu Zabini, atau kau juga akan mendapat detensi bersama Malfoy."

Zabini hanya bisa mengangguk dan kembali tertawa di lengannya. Nott tampak berusaha bersimpati pada Malfoy, yang wajahnya masih merah padam.

"Ramuan kontrasepsi Draco, bagaimana bisa kau memikirkan itu di dalam kelas ini?" Minerva bisa mendengar nada herannya. Guru itu melanjutkan berkeliling.

Selesai kelas, Malfoy tinggal. Potter menatapnya bertanya, tapi Malfoy hanya meringis mengangkat bahu.

"Potter kau harus segera ke kelas Ramuan kan?" Tandas Minerva. Potter mengangguk lalu keluar kelas. Malfoy mendesah, duduk di depan Minerva, untungnya kakinya sudah tak bergerak gelisah, atau Minerva akan mengutuknya dengan Petrificus totalus.

Minerva menatap muridnya itu tajam. Malfoy berusaha menghindari tatapan itu. Minerva tersenyum puas dalam hati.

"Malfoy," kata Minerva memulai. "Kau tahu persis kenapa kau berada di sini?"

Malfoy mengangkat bahu. "Karena kau penasaran dengan hubunganku Dan Harry?" Tanyanya sarkastis.

Minerva mengangkat sebelah alisnya.

Malfoy mendesah panjang. "Yeah, karena aku menyihir air menjadi Ramuan kontrasepsi alih-alih wine, yang menunjukan bahwa pikiranku jelas berada di sekitar seks dan sama sekali tak berkonsentrasi sepanjang pelajaran, memikirkan pacarku. Anda puas?"

Minerva merasakan darahnya mulai mendidih. Inilah sebabnya dia benci Slytherin.

"Kau tahu seks antar pelajar di larang di Hogwarts," tukasnya.

Malfoy mengangkat bahu. "Sepanjang pacarku masih rutin minum Ramuan kontrasepsi, kurasa tak Ada yang dirugikan," katanya simpel. "Toh nantinya aku juga akan menikah dengannya."

Minerva tergagap.

"Lagian, kau tahu kan kalau puluhan anak lain melakukannya juga? Bagaimana dengan Cho Chang dan Roger Davies? Atau Hannah Abbot dan Cormac McLaggen?"

"Mereka tidak menyihir Ramuan kontrasepsi di kelasku!" Desis Minerva.

"Kau hanya mencari alasan untuk merusak hubunganku dan Harry. Semua orang tahu kau benci padaku," tandas Malfoy dingin.

Minerva menatapnya tertegun. "Aku tidak membencimu, Malfoy..."

"Oke. Sangat tidak menyukaiku, kalau begitu. Tapi aku tak peduli, selama kau masih memberiku nilai yang Adil." Katanya kalem.

Minerva menggertakkan giginya. Dia dan malfoy saling pelotot, lalu Minerva berkata, "detensi Malfoy, dan kalau di pertemuan selanjutnya kau masih gagal menyihir wine, Kita Akan lanjut detensi selama seminggu."

Malfoy bangkit, tampak tak peduli, walaupun alisnya berkerut marah. "Oke. Akan kuingat," tandasnya, memakai tas nya. "Sudah selesai?"

Minerva mengangguk, dan Malfoy langsung berjalan keluar kelas dengan bahu tegak dan kepala di angkat setinggi mungkin.

Oh, Minerva sungguh membenci Slytherin.

-dhdhdhdh-

Bersambuuung

Review?