Disclaimer : Touken Ranbu milik DMM and Nitroplus

AN : mencoba menulis anmitsu/yasukiyo. Maaf kalau ada karakter yang out of character.


Nakigitsune melemparkan naginatanya. Begitu pula Kogitsunemaru.

Keduanya mulai bertarung dengan tangan kosong, kuku dan taring.

Seolah sifat manusia keduanya menghilang digantikan insting hewan yang hendak bertarung sampai mati.

Ichigo merasa nafasnya sesak. Dia tak ingin melihat Kogitsunemaru kembali melakukan hal menyakitkan. Pedang Sanjo satu itu sudah kehilangan Mikazuki dan Nakigitsune. Haruskah dia kembali kehilangan Naki? Kali ini, membunuh Naki dengan tangannya sendiri. Kanesada mengalihkan perhatiannya. Dia tak ingin kembali melihat adegan berdarah yang semakin mengerikan.

Namazuo menatap pertarungan itu lekat-lekat seolah mempelajari gerakan mereka. Monoyoshi sendiri juga membuang muka, tak ingin melihat rekannya saling membunuh. Kurikara dan Mitsutada kembali melirik pintu api yang menghalangi mereka dengan sedikit kesal.

Musuh yang merepotkan, batin mereka berdua.

"Hanya sisa tiga..." bisik Yasusada.

Kogitsunemaru berhasil memojokkan Nakigitsune, menyisakan dua ekor setelah bertarung dengan liar dan ganas. Naki terlihat sudah lelah. Namun dua ekornya berhasil menusuk jantung Kogi, melemparkan tubuhnya dan kemudian, menebas leher Kogi yang sudah beregenerasi. Ekor Kogi langsung tersisa satu. Naki tersenyum mengerikan. Pertarungan ini seolah akan habis dalam satu kali serangan lagi.

Kogitsunemaru kembali berdiri. Tubuhnya kembali sembuh. Dia menatap Naki yang tersenyum.

"Satu serangan." Kogi tertawa.

Apakah dia akan melakukan hal ini?

Senyum Naki lepas. Naki jatuh terduduk memegangi kepalanya.

"...jangan...sekarang..." bisik Naki.

Kogi menghabisi satu nyawa Naki, menghilangkan satu ekor Naki. Para toudan lain tak bisa melihat pertarungan mereka dari dekat namun Naki tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali bangun dan bertarung. Kogitsunemaru mendekati tubuh Naki dengan hati-hati. Begitu debu-debu itu tersingkap mata Kogi membesar. Mata emas itu menatap Kogitsunemaru dengan lembut.

"Maaf..." bisik Naki.

Nakigitsune-nya sudah kembali. Kembali setelah tertidur lama dalam kegelapan. Kogi berhenti. Dia ingin memeluk kembali pemuda di depannya. Pemuda yang dipaksa untuk mengetahui kejelekan manusia sejak awal dan mati melindungi rekan setim-nya. Naki tersenyum lemah. Dia tidak melawan sama sekali dan Kogitsunemaru tahu apa arti senyuman Nakigitsune.

Kogitsunemaru mendekati Naki perlahan. Tubuh Naki bergetar beberapa kali sebelum akhirnya berhenti bergerak dan...ekornya menghilang.

Kogitsunemaru melihat hasil karyanya yang bersimbah darah. Mata emasnya melirik ke arah rekan timnya. Dia berjalan ke arah rekan setimnya setelah menang. Mata rekan setimnya membelalak. Mulut Kogi penuh dengan darah—yang bukan darah miliknya. Mereka tak perlu menebak bagaimana cara Kogi megalahkan Nakigitsune. Ichigo bahkan terlihat mual.

"Kalian sudah bisa pergi. Aku...sudah tak bisa...Dengar...pedang yang memaksa toku..." hukuman mereka adalah mati, Kogi ingin memberi tahu mereka namun Kogitsunemaru tahu kalau waktunya habis.

Nyawa pedang Sanjo itu berakhir layaknya api rubah yang padam.

"...dia memaksa toku?" tanya Ichigo.

Tak ada yang menjawab.

"Jawab aku!" Ichigo berteriak.

"Ya. Dia mati karena memaksa toku." Monoyoshi berkata.

"Kondisi tubuh manusia normalnya memiliki sejumlah energi kehidupan sejak lahir yang terbagi dua, yin dan yang. Pemaksaan toku sama saja seperti memaksa energi lain masuk ke dalam tubuhmu. Karena itu, begitu energi toku habis di lepaskan, energi kehidupan pun berkurang drastis karena energi toku yang masuk juga memaksa tubuhmu membakar energi kehidupanmu demi menyelaraskan tubuhmu agar bisa menerima dan memakai energi toku." demikian penjelasan Monoyoshi.

"...Kamu..." Yasusada menahan mulutnya.

Yasusada dan seluruh rekannya mencapai lantai puncak dimana tiga orang menunggu mereka. Oodachi Nagasone dan Tachi Horikawa menunggu mereka dan orang ketiga adalah...Kashuu Kiyomitsu.

"Tak usah berpura-pura, Monoyoshi. Kamu sudah didepan pangeran." kata tachi Horikawa.

Yasusada dan seluruh toudan menatap curiga akan Monoyoshi.

"Haha! Apa maksud kalian?" Monoyoshi tertawa.

"Maksud Hori, kamu sudah tak perlu berpura-pura berteman dengan mereka, Monoyoshi Sadamune." kata Nagasone.

Tangan Yasusada sudah siap di atas pegangan pedangnya.

"Nakigitsune kalah ya?" tanya Horikawa.

"Padahal dia kuat. Shame~" komentar Horikawa.

"Nakigitsune-san kuat ya. Tapi bagaimanapun juga, Nakigitsune-san sudah mewanti-wanti akan pengkhianat." Monoyoshi tersenyum manis.

"...Sudah kuduga." Namazuo melepas genggamannya dari Monoyoshi yang terus memegang tangannya.

"Honebami benar. Aku seharusnya tidak mempercayaimu." Namazuo menatap Monoyoshi dengan wajah terluka.

Tangan kiri Namazuo sudah siap menarik pedang wakizashinya.

"...Aku mungkin memang membenci Hitofuri dan si anmesiac kembaranmu tapi kamu berbeda, Namazuo." Monoyoshi berkata dengan wajah terluka.

"Katakan itu setelah aku membunuhmu, Monoyoshi Sadamune."

"Namazuo. Bukan hanya kamu yang punya masalah dengan Monoyoshi Sadamune." Ichigo Hitofuri tersenyum sadis.

Kedua pedang Awataguchi itu mengeluarkan pedangnya, bersiap menyerang kapan saja.

"Aku kehilangan hampir seluruh ingatanku akibat Kebakaran Osaka. Akibatnya, Mikazuki kehilangan Tenka Hitofuri. Aku kehilangan ingatanku, memoriku, seluruh momen pentingku bersama adik-adikku. Bukan hanya itu, Kebakaran Osaka juga melukai kedua adikku, meenghilangkan ingatan mereka...Aku, sejujur-jujurnya, tak pernah memaafkanmu, Monoyoshi Sadamune."

"Teehee, aku takut. Sudah kuingatkan, Hitofuri, pemaksaan toku hanya menghancurkan tubuhmu."

Monoyoshi mengeluarkan pedang dari sarungnya.

Horikawa melompat turun. Dia mendarat di depan Kanesada. Wajah Kanesada berubah drastis. Pucat seolah melihat hantu.

"Kane-san, kamu tidak lupa makan saat aku tidak ada, hm?" Horikawa bertanya dengan senyum.

"Ho—Horikawa..."

"Kane-san...Kane-san mencintaiku bukan?" tanya Horikawa yang mendekat.

"Bagaimana kalau mati demiku?" tanyanya.

Kanesada langsung menjaga jarak dari Horikawa. Horikawa selalu menjadikan keselamatannya sebagai nomor satu. Satu hal penting disadari oleh Kanesada.

Monster di depannya tak mungkin Horikawa.

Karena tachi itu nyaris saja menikamnya.

Mitsutada dan Ookurikara saling melirik. Oodachi Nagasone terlihat tak bersemangat.

"Siapa yang akan semangat menghadapi dua pedang era sengoku? Lagipula Hori seenaknya menyuruhku agar tak mencampuri pertarungan Hijikatagumi. Awataguchi masih dendam soal Osaka. Jadi aku hanya dapat sisa karena pangeran menginginkan spotlight melawan leader kalian." Nagasone terlihat tak bersemangat.

"...Kuri-chan, kita libas saja om-om ini?" tanya Mitsutada yang tersenyum menyembunyikan kekesalannya.

"Aku setuju, Mitsutada." Ookurikara langsung setuju dengan partnernya.

Keduanya langsung bersiap dengan pedangnya.

"Yo, Yasusada!"

Sosok itu adalah sosok yang dikenal Yasusada.

Pedang senior yang mengajarinya kebiasaan Okita dalam bertarung.

Kashuu Kiyomitsu tersenyum.

Namun Yasusada tahu kalau senyum itu bukanlah senyuman Kashuu Kiyomitsu yang asli.

"Kamu ini...apa? Kamu...memakai tubuh Kashuu Kiyomitsu. Apa maumu?" tanya Yasusada.

Lidahnya kelu.

Dia ingin berteriak dan memohon agar Kashuu kembali padanya, menghentikan pertarungan ini.

"Aku? Benar sekali kata-katamu. Aku bukan Kashuu Kiyomitsu. Tubuhku adalah Kashuu Kiyomitsu. Tapi siapa aku? Bahkan aku juga tak memiliki jawabannya." jawab 'Kashuu' dengan jawaban tak pasti.

"...'aku' hanya memiliki misi. Membuka pintu ke dunia 'sana', ke dunia jiwa dan...yah, tak penting." kata Kashuu.

"Kamu barusan hampir mengeluarkan jawaban pentingnya!" komentar Yasusada.

Seolah 'Kashuu' masih saja, Kashuu yang dia kenal.

"Yang penting, kita bertarung, neh? Seperti yang biasa di komik shonen, berpose-lah dulu sebelum bertarung." kata Kashuu yang tersenyum.

Yasusada tak bisa berkomentar. Setidaknya kata-kata Kashuu menghilangkan rasa ketakutannya.

"Baiklah...ayo mulai."

Dentingan besi.

Darah.

Monoyoshi Sadamune hanya bisa menatap marah. Kedua Toushirou bersaudara dengan mudah mengalahkannya. Monoyoshi tertawa perih.

'Hey, Zuo...sampai matipun, kita tak bisa kembali ke masa itu...'

Masa dimana mereka pertama kali bertemu, melakukan hal menyenangkan bersama sampai akhirnya, kebakaran Osaka terjadi dan semuanya hilang termakan waktu dan api.

Horikawa mendecih. Kanesada yang uchigatana mudah menghidari serangannya. Inilah beberapa saat dimana Horikawa bersyukur kalau seandainya dia adalah wakizashi. Horikawa dan Kanesada masih saling mengamati satu sama lain, menanti musuh menyerang duluan. Tangan bersiap di gagang pedang.

Pertarungan ini tidak seimbang,

Monoyoshi langsung dikalahkan Toushirou bersaudara.

Kanesada mulai kehabisan nafas menyeimbangi serangan Kunihiro.

Nagasone sendiri masih bisa bertarung dengan santai meskipun melawan dua tsukumogami pedang Date Masamune.

Yasusada masih menyerang Kashuu dengan serangan yang mudah dibaca Kashuu.

Mitsutada melirik ke arah Ookurikara. Telepati antara tsukumogami adalah salah satu kekuatan khusus yang hanya dimiliki oleh tsukumogami miliki saniwa Reijin. Tentu saja, itu memudahkan mereka menyelaraskan serangan dalam bertarung.

'Kuri-chan, kurasa kita memang harus toku.'

'Tidak. Kekuatanmu belum bisa dikontrol.'

"Kenapa? Takut?" tanya Nagasone yang daritadi hanya nyengir.

'Mitsutada, sementara aku memakai toku, jangan masuk ke pertarungan ini atau aku bakal menyerangmu juga!' Ookurikara memperingatkan.

"Siapa yang takut, hah?!" Ookurikara melepas energi toku.

"Hoo...pemakaian toku yang menarik." komentar Nagasone.

"Kuri-chan!" Mitsutada terlihat shock sekaligus tak bisa sembarangan mendekati Ookurikara.

Kenapa? Karena aura merah menyelimuti Ookurikara.

"Pemakaian toku yang efektif. Sepertinya, rekanmu tidak bisa diandalkan jadi kamu harus menggunakan metode 'uap' ya?" Nagasone terlihat menikmati pertarungan ini.

"Metode 'uap'?" Mitsutada terlihat bingung.

"Perlu aku jelaskan?" tanya Namazuo yang terlihat berantakan.

Ichigo berjalan dibelakangnya, terlihat lelah dan sedikit terluka.

"Metode uap adalah salah satu metode toku dengan cara melepas energi toku dalam bentuk uap yang akan meningatkan mobilitas dan tenaga dalam bertarung. Hanya beberapa yang bisa efektif memakai toku dalam metode uap karena metode uap juga meningkatkan semua panca indera agar lebih sensitif dan lebih was-was. Namun metode ini perlu kontrol kuat akan energi toku." Namazuo menjelaskan.

Ookurikara dan Nagasone bertarung sengit. Keduanya terlihat mulai lelah, apalagi Ookurikara. Nagasone hanya terlihat sedikit berkeringat.

"Boleh juga..." Nagasone mendecih pelan.

"Waktunya aku serius..." bisiknya.

Kashuu menahan serangan Yasusada dengan mudah.

"Hey, ayolah, tuan tokoh utama. Kenapa tidak bisa serius?" tanya Kashuu.

Yasusada tak memberi respons selain menyerang lebih kasar. Lagipula Yasusada tahu kok kalau tokunya tidak berguna terlalu banyak dalam melawan toku Kashuu. Yasusada kembali berusaha menyerang. Pedangnya meleset namun pipi Kashuu terserempet, tergores. Kashuu mendecih namun lukanya langsung menutup seolah beregenerasi.

'Asap hitam itu...menyembuhkan luka Kiyo?' Yasusada hanya terpikir satu kelemahan beregenerasi.

Tanpa banyak bicara, Kashuu kembali menyerang. Yasusada tersentak. Serangan Kashuu seharusnya tidak mungkin mencapai jarak yang dibuat Yasusada sewaktu dia menghindari serangan Kiyo. Mata merahnya hanya menyimpan rahasia tanpa mengatakannya.

"Kaget?" tanya Kashuu.

"Aku tidak punya waktu meladenimu..." tambahnya.

Kashuu berbalik badan, menunjukkan punggungnya. Yasusada langsung memanfaatkan kesempatan, memakai gerakan khas Okita, mengincar leher Kashuu. Serangan itu tertahan oleh pedang Kashuu.

"Mumyouken? Sandan-zuki? Itu juga seranganku." kata Kashuu yang terdengar bosan.

Kashuu menggunakan tenaganya, mengayunkan senjatanya dan menjatuhkan Yasusada. Energi hitam berkumpul di dekat Kashuu. Yasusada berkeringat dingin. seluruh insting di tubuhnya berteriak untuk mencegah Kashuu.

"Waktunya, membuka, pintu!" Kashuu mengayunkan senjatanya, merobek udara.

Bagian yang dirobek Kashuu seolah retak layaknya kaca dan robekan itu meluas sedikit demi sedikit.

"...Apa...itu?" Yasusada bisa merasakan kalau nafasnya terasa berat.

Sesuatu yang dingin dan mengerikan bisa terasa. Udara mulai terasa berat. Kashuu melirik ke arah Horikawa dan Nagasone yang masih bertarung. Tubuh Kashuu dikelilingi oleh asap hitam. Ookurikara dan Kanesada terhenyak ketika seekor asap hitam menusuk jantung kedua 'tsukumogami' yang tengah bertarung.

"Oy, oy, pangeran...?" Nagasone terbatuk.

"Kane-san..." bisik Horikawa.

Tubuh mereka seolah menguap menjadi asap hitam yang diserap ekor asap hitam yang berasal dari Kashuu—yang notabene ada sembilan. Wajah cantik Kashuu menatap mereka dengan senyum indah seolah dia hanya menyampaikan sampai ketemu besok dengan temannya.

"Kalian berdua, sudah, tidak aku perlukan." kata Kashuu.

Senyum hilang dari wajahnya. Mata merahnya dingin dan tak menampakkan emosi apapun.

Tak ada rasa bersalah.

Tak ada rasa sedih.

Hanya wajah tanpa ekspresi.

Yasusada kembali menyerang Kashuu. Ookurikara mengganti targetnya. Mitsutada, Ichigo, Namazuo dan Kanesada memutuskan untuk menyerang Kashuu sekarang. Namun Kashuu tak bergerak. Ekor asap hitamnya menangkis serangan tiap tsukumogami.

"LEMAH! LEMAH! LEMAH!" Kashuu tertawa tiap kali dia menangkis dan menjatuhkan serangan dari para touken danshi.

Yasusada melirik ke arah robekan di belakang Kashuu yang terus membesar.

'Kashuu sama sekali tak beranjak...' batin Yasusada.

'Tiap kali 'ekor' itu dipotong, ekor itu kembali tumbuh karena itu hanya asap hitam.' Mitsutada mencuri lirik ke arah rekan-rekannya.

Mereka mengangguk.

Serangan selanjutnya penuh perhitungan. Ichigo menyerang bersama Kanesada. Namazuo menghindari serangan salah satu ekor. Ookurikara dan Mitsutada menyerang setelah serangan Ichigo dan Kanesada dipatahkan. Kashuu dengan mudah menangkis serangan dategumi dan melukai kaki Kurikara dan tangan Mitsutada. Kashuu tanpa sadar terjatuh dalam jebakan mereka.

Nafas Kashuu seolah tercekik. Dia melepas nafas dan sadar kalau dia merasa tercekik karena sebuah perasaan tenggelam.

'Ilusi?'

Dia melirik ke belakangnya dan melihat seekor ikan lele sebesar kucing—yang biasanya hanya merupakan ilusi—membawa wakizashi di mulutnya dan melompat, melukai leher Kashuu.

"...!"

Tak sempat berteriak, darah mengalir keluar dari leher jenjang itu. Kashuu tak sempat merespon begitu seluruh pedang mereka menghujani tubuh Kashuu, menusuk kedua lengan dan kakinya, membuatnya tak bisa bergerak layaknya serangga yang akan di keringkan dan dikoleksi.

Yasusada menatap partnernya dengan emosi tak terbaca. Tanpa ampun, Yasusada menusuk dada Kashuu.

"...meleset." bisik Yasusada.

Sebuah cahaya kecil bersinar—simbol pedangnya—dan tubuh Kashuu bergerak tak karuan seolah sesuatu yang merasukinya telah pergi.

"...Ya...su..."

Yasusada menarik nafas berat.

"...Kiyo..." bisik Yasusada.

Yasusada dengan hati-hati mengusap pipi Kashuu. Mata merahnya sudah menyampaikan apa yang perlu mereka tukar. Entah itu kata cinta, selamat tinggal atau permintaan maaf, hanya mereka berdua yang tahu. Yasusada berdiri dan memenggal kepala partnernya.


AN : Maaf karena baru update setelah agak lama tapi malah cliffhanger. Author tak ingin beralasan macam-macam.