Unexceptionable
Disclaimer: It's sad, but I just own the plot
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi.
A/N: Inspired from"Dangerous Twin" written by aninkyuelf
.
.
Enjoy!
.
.
"Siapa cinta pertamamu, Dobe?"
"Huh?"
Naruto menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk sup menu makan malam mereka dan membalikkan tubuh, melemparkan tatapan heran pada pertanyaan tak terduga yang ditujukan padanya.
Sasuke menempelkan punggung ke sandaran kursi dan membalas tatapan sepasang mata beriris biru yang terarah padanya. Ia membalas tatapan sang Uzumaki tanpa ragu, memberikan isyarat kalau ia benar-benar menanyakan hal tadi pada sang kekasih.
Sang Uzumaki kembali membalikkan tubuh, menatap masakannya dan mengecilkan api ketika menyadari bahwa supnya sudah hampir matang.
"Aku tidak ingat siapa namanya, tapi yang jelas aku menyukainya ketika kami duduk di bangku sekolah dasar," jawabnya setelah beberapa menit mengingat-ingat.
"Seperti apa dia?"
Si pemilik rambut pirang mengulurkan tangan, mengeluarkan sebuah mangkuk dari rak yang terletak setara dengan kepalanya, kemudian mengisinya dengan masakan yang tidak pernah bosan ia buat.
"Dia sangat cantik," Naruto mematikan kompor dan melangkahkan kaki ke arah sang penanya dan meletakan hasil kerja kerasnya di atas meja makan. "Dia memiliki sepasang mata yang indah dan dia sangat cantik."
Sasuke menerima mangkuk kecil berisi sup yang disodorkan padanya. Tanpa ragu ia mulai menikmati makan malamnya setelah mengikuti ucapan 'Itadakimasu' yang dilontarkan sang kekasih. Naruto memang bukan koki handal, tapi di antara kebanyakan lelaki dia memiliki kemampuan memasak yang di atas rata-rata—dan Sasuke bersyukur karena ia sendiri tidak bisa membuat makanan selain sushi dan sashimi.
"Kau tahu, dulu orang-orang mengira kalau aku jatuh cinta pada Itachi."
Ucapan tiba-tiba itu berhasil membuat si pemilik kulit tan menghentikan gerakan sumpitnya. Sorot terkejut dari sepasang mata yang tengah membulat itu benar-benar menggambarkan emosi yang tengah dialami pemiliknya. Sasuke menyadari kalau apa yang baru saja ia lontarkan sudah membuat keadaan menjadi sedikit canggung, tapi ia tidak berniat untuk berhenti bicara.
"Seperti yang kau tahu, sejak dulu aku selalu berkompetisi melawan Itachi dan orang-orang menilaiku terobsesi padanya. Aku mengelak dari tuduhan itu, tapi aku tidak pernah benar-benar mengelak dari tuduhan kalau aku menyukainya lebih dari seorang kakak."
Walaupun ia tidak mengalihkan pandangan dari mangkuk nasi di tangannya, Sasuke tahu kalau saat ini Naruto sudah meletakkan sumpitnya kembali ke tempat semula sebelum makan malam dimulai.
"Itachi tentu mengetahui perasaanku—dia memiliki kepekaan berlebih terhadap apa yang terjadi di sekitarnya—dan dia berusaha menghentikan semua itu dengan cara memberitahukan perasaan yang dia miliki padamu. Walaupun semula aku tidak percaya, apa yang terjadi selanjutnya dan apa yang dia tunjukkan pada akhirnya membuatku sadar kalau dia benar-benar menyukaimu."
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Sasuke?"
Sang pemilik nama ikut meletakkan sumpit di atas mangkuk nasinya sebelum mengangkat kepala, membalas pandangan yang ia yakin sejak tadi sudah tertuju padanya.
Setelah konfrontasi yang dilakukan Gaara, Sasuke sadar kalau suasana di antara mereka tidak pernah lepas dari kecanggungan. Naruto tentu saja selalu berusaha mencairkan suasana seperti biasa dan walaupun pemuda itu tidak bicara, Sasuke tahu kalau pemuda itu menyadari kekakuannya ketika mereka menghabiskan waktu bersama.
Sasuke bukan orang yang bisa menyembunyikan kemarahan dan kekecewaan dengan baik, itulah kenapa ia tidak bisa bersikap wajar setelah percakapannya dengan sang Namikaze. Walaupun apa yang dikatakan pemilik rambut berwarna merah itu belum tentu benar, tapi mendengar bagaimana Neji menceritakan hubungan dekat yang dimiliki Gaara dan Naruto di ruang kesehatan tempo hari membuatnya sulit berpikir jernih.
"Aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini karena aku bukan orang yang selalu mengutarakan perasaanku padamu, tapi aku tidak yakin kalau kau benar-benar mencintaiku—walaupun aku tidak akan pernah ragu untuk mengakui bahwa perasaan yang kumiliki untukmu lebih besar dari semua perasaan yang pernah kumiliki untuk Itachi."
"Apa yang kau bicarakan?"
"Aku tidak yakin dengan semua yang terjadi diantara kita, Naruto. Aku tidak tahu siapa yang bicara jujur, aku tidak tahu siapa yang harus kupercayai, aku tidak percaya apa yang kita miliki selama ini nyata."
Sasuke memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, berusaha sebaik mungkin untuk menahan emosinya yang makin sulit dikendalikan.
"I want to take a break."
.
..
-0-0-0-
..
.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, anak muda?"
Sasuke menolehkan kepala, menatap lelaki yang melangkah mendekatinya dari belakang. Ia membungkukkan tubuh, mengucapkan salam pada sosok yang jelas-jelas lebih tua darinya itu.
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya di sini. Apa kau datang untuk menjemput adikmu? Aku yakin kau terlalu muda untuk memiliki anak," ucap sang lelaki dengan nada ramah.
Sasuke mengulaskan senyum mendengar penuturan lelaki yang sama sekali tidak ia kenal itu. Ia mengalihkan tatapan dari sosok yang sudah berdiri di sampingnya ke arah pintu masuk gedung asing di depannya.
"Aku hanya datang berkunjung, paman," ungkapnya sembari menyapukan pandangan ke tiap sisi gedung.
"Oh? Apa kau salah satu alumni?"
Sasuke menggelengkan kepala dan kembali mengulaskan senyum ketika melihat beberapa anak yang berebut untuk keluar dari sekolah mereka untuk pulang beberapa detik setelah bel berbunyi.
"Aku bukan alumni sekolah ini, tapi temanku salah satu di antara mereka."
"Temanmu?"
"Hn. Uzumaki Naruto. Aku tidak yakin apakah kau akan mengenalnya, paman, karena murid di sini sangat banyak."
"Uzumaki Naruto?"
"Ah," Sasuke menyadari kesalahan yang baru saja ia buat, "maksudku Namikaze Naruto."
Helaan napas yang meluncur dari sosok di sebelahnya membuat sang Uchiha menolehkan kepala. Napasnya terhenti saat ia menangkap sorot mata yang ditujukan padanya.
"Bagaimana kabar bocah itu?"
Sasuke menarik napas perlahan dan menganggukkan kepala sebelum membuka mulut untuk menjawab.
"Dia baik-baik saja. Apa paman mengenalnya?"
Kini giliran lelaki paruh baya itu yang mengalihkan pandangan ke gedung sekolah, sementara Sasuke memperhatikan tiap raut yang terintas di wajahnya dengan seksama.
"Setelah apa yang menimpanya, kurasa tidak ada satu pun dari kami, para guru, yang bisa melupakan bocah pirang itu."
"Maksud paman... Namikaze Gaara?"
Lelaki berambut perak itu menghembuskan napas berat mendengar nama salah satu mantan muridnya itu. Ia memejamkan mata beberapa detik sebelum memfokuskan pandangan pada salah satu jendela ruang kelas.
"Dia kakak yang baik. Aku tidak pernah satu kali pun melihatnya marah pada Naruto, senakal dan semenyebalkan apapun pemuda pirang itu padanya. Mereka saudara yang menggemaskan dan tidak ada yang mengira hal buruk akan menimpa keduanya hari itu."
"Aku mengenal Naruto, tapi aku tidak sempat bertemu Gaara jadi aku tidak begitu paham apa yang paman bicarakan," ungkap Sasuke dengan hati-hati.
"Gaara adalah kakak Naruto dan mereka berdua sempat menjadi murid di sekolah dasar ini. Aku masih ingat bagaiamana dua pemuda itu selalu menghabiskan waktu bersama walaupun mereka ada di kelas yang berbeda. Mereka adalah tipikal kakak beradik ideal yang mungkin diinginkan banyak orang tua."
Sasuke mengikuti arah pandangan lelaki di sebelahnya. Ia tidak tahu, tapi dari cara paman itu memandang sepertinya apa yang sekarang menjadi pusat perhatian mereka mungkin adalah kelas dari 'bocah' yang sedang mereka bicarakan.
"Naruto bukan anak yang nakal. Sebaliknya, dia termasuk anak yang ceria walaupun terkadang pemalu. Satu hal negatif yang dimiliki bocah pirang itu adalah dia tidak bisa menjaga emosinya dengan baik. Dan itu sangat wajar terjadi di usianya yang masih sangat kecil."
Sasuke sudah mendengar beberapa cerita terkait kedua putra keluarga Namikaze-Uzumaki itu dari Neji dan Tsunade, tapi mendengar hal lain dari sudut pandang berbeda seperti ini membuatnya merasa makin mengenal mereka.
"Berbeda dengan Naruto yang tidak pernah ragu menunjukkan emosinya, Gaara cenderung lebih pendiam dan dingin. Sifatnya itu membuat beberapa siswa tidak menyukainya dan kurasa kau bisa membayangkan apa yang terjadi kepada Gaara yang tidak disukai dan Naruto yang tidak bisa menjaga emosi."
Naruto memang bukan orang yang ragu untuk menunjukkan emosi, tapi Sasuke yakin Naruto tidak mungkin memulai pertengkaran ataupun perkelahian.
"Dia tidak mungkin melakukan itu," ucapnya dengan nada tidak suka, membuat sang lawan bicara mengulaskan senyum tipis sembari menggelengkan kepala.
"Dia tidak pernah memulainya, tapi dia tidak pernah membiarkan sang kakak menjadi korban bully dan lebih memilih untuk berkelahi walaupun pada akhirnya Gaara memilih untuk melindungi Naruto dengan cara menjadi orang yang bertanggung jawab atas perkelahian yang tidak pernah mereka mulai. Tidak sekali atau dua kali si sulung mendapatkan protes keras dari orang tua murid, tapi tidak sekali atau dua kali juga Naruto membela sang kakak. Para guru selalu berusaha mencari jalan tengah untuk setiap perkelahian yang terjadi."
Tanpa sadar Sasuke mengeraskan kepalan tangannya. Mendengar bagaimana Gaara selalu berdiri di depan Naruto dan melindunginya membuat Sasuke paham kenapa pemilik iris mata berwarna biru itu bisa jatuh cinta kepada sang Namikaze dan kenapa pemuda itu kesulitan melepaskan Gaara dari hidupnya.
"Semua masalah yang didapatkan Gaara mungkin membuat Naruto merasa bersalah dan aku tahu bocah itu merasa tenang ketika perkelahian makin berkurang hingga pada akhirnya benar-benar berhenti."
Sasuke menarik napas panjang mendengar penuturan sosok di sebelahnya. Saat ini gedung sekolah sudah benar-benar sepi, walaupun beberapa siswa dan guru sesekali masih terlihat melintas di koridor gedung.
"Tapi belum sempat kami merasa benar-benar lega, kecelakaan itu terjadi."
Sang mahasiswa tentu tahu kecelakaan apa yang dimaksudkan, tapi itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Walaupun ia tidak mengenal guru di sebelahnya ini, Sasuke tahu bagaimana perhatian yang diberikan lelaki ini dari caranya menceritakan Gaara dan Naruto.
"Kalau sebelumnya Naruto merasa bersalah dengan semua hal yang menimpa Gaara, aku tidak tahu apa yang ia rasakan ketika tahu kalau Gaara lebih memilih mengorbankan dirinya demi keselamatan sang adik."
.
.
TBC
.
.
Review Reply:
.
.
LITTLEMooMoCholatE: dilanjut kok, tapi kemungkinan besar ga akan serutin sebelumnya ^^
Kicchan: hapenya udah sembuh? Berarti mulai sekarang bakal rajin review dong ya? #maksa #dor Lain kali saya malah bakal sengaja telat buat update kalo ada yang minta saya buat update kilat ^^v
