A/N
Chapter V berakhir!
Ngomong-ngomong, masih ingat soal "Davy Back Fight" jauuuuuh di chapter I? Di chapter VI akan kuceritakan.
One Piece © Eiichiro Oda
Two Schools, Two Worlds
Chapter V
Left for Dance – Epilogue
The Last of Us
SMU Seifu seolah "meledak".
Secara literal.
Suasana kembali ramai setelah permainan "Left for Dance" dinyatakan berakhir, dengan kemenangan tim penyusup Sanji dan Bonney yang benar-benar di luar dugaan.
Tapi, para peserta "Left for Dance" yang lain tidak terlibat dalam keramaian itu, walaupun sebenarnya bagi mereka keputusan ini sangat tidak adil. Bagaimana tidak? Sanji dan Bonney yang terlibat dalam permainan untuk berperan sebagai komandan pasukan zombi, malah keluar sebagai pemenang! Pasangan itu bahkan mengalahkan orang-orang tangguh macam Luffy, Hancock, Ace, Sabo, dan Zoro.
Waktu ditanya, Kid beralasan, "Mereka tetap ada di dalam aula setelah bel akhir berbunyi. Jadi sesuai aturannya, mereka menang."
Itu... sesuai dengan aturannya, walaupun aneh. Sebenarnya sih, anak berambut tulip itu tidak terima permainan hasil idenya berakhir tanpa pemenang. Bagaimana tidak? Semua peserta permainannya berkomplot untuk mengalah. Sepertinya, ini karena mereka keder mendengar hadiah utamanya, bermalam bersama pasangan di hotel.
Anak-anak itu, di luar dugaan, polos soal hal-hal "begituan". Padahal mereka sering mengumpat dan berkomentar mesum!
Terlepas dari itu, protes memang tidak berasal dari para peserta "Left for Dance"... tapi dari mereka yang gagal jadi peserta.
Teriakan, umpatan, dan kemarahan para undangan prom yang tak bisa mengikuti permainan survival itu mendominasi keramaian. Sebenarnya ini salah mereka sendiri karena tertipu Kid. Mereka mengira permainan ini melibatkan kecepatan keluar dari aula, padahal maksud Kid adalah bertahan di dalam aula.
Meskipun salah, karena mereka berjumlah banyak, mereka berani protes besar-besaran kepada OSIS. Inikah yang dinamakan mentalitas massa?
Tapi, bukan Kid namanya kalau tidak memprediksi kekacauan ini.
Dia sudah siap dengan rencana untuk menenangkan massa... yang melibatkan Law dan serum anti-zombi (alias suntikan insulin).
Tak lama, Kid mengutarakan permainan "Left for Dance 2". Kali ini, permainannya adalah menangkap para mutan dan menenangkan mereka dengan serum anti-zombi.
Dengan kata lain, dia mengalihkan pekerjaan merepotkan itu pada para undangan pesta!
Rencananya berhasil. Semua calon peserta "Left for Dance" yang gagal, menerima permainan kompensasi ini dengan antusias... sehingga, hanya dalam 10 menit para mutan sudah dikalahkan (karena pasukan anti-zombi terlalu banyak). OSIS pun mendapat 7 pasang pemenang, yang kemudian dihadiahi voucher kantin sekolah selama 3 bulan.
Masalah selesai? Belum.
Masih ada pergumulan di antara para peserta "Left for Dance" pertama. Tampaknya, ada zombi berambut pirang yang lolos dan kini jadi bulan-bulanan.
Atau, bukan. Dia cuma seorang cowok SMU yang berurusan dengan cewek yang salah.
"... aku menyerah," Sanji bergumam di tengah bengkak wajahnya. Tapi, dia tetap menatap genit kedua cewek yang menghajarnya. Apa dia tidak pernah belajar?
Bukannya bisa menikmati hadiahnya, Sanji malah dihajar habis.
"Hah... hah... walaupun dia nggak melawan, tetap saja membuatku capek," Bonney menyeka keringat di dahinya. Di sampingnya, Nami membersihkan tangannya yang berlumuran darah.
Ini karena Sanji ngotot membujuk Bonney menginap bersamanya, sehingga mengundang amukannya... sedang Nami ikut-ikutan karena ingin merebut voucher Hotel Poseidon itu untuk dia lelang di internet.
Adegan penganiayaan ini rupanya tidak menarik perhatian para peserta lain... yang kini sedang menikmati after-party.
Sebagai bentuk apresiasi kepada para undangan yang penuh semangat, OSIS mengadakan after-party segila-gilanya di halaman sekolah. Meskipun cake dari toko Big Mom yang seharusnya jadi hidangan utamanya tidak ada, OSIS dengan sangat murah hati menyediakan katering lagi... yang tentunya jadi korban dua orang tertentu yang kelaparan setelah kejar-kejaran dengan zombi.
After-party berlangsung sampai tengah malam, kemudian para undangan pesta berangsur pulang.
-o0o0o0o0o-
Hari sudah memasuki tanggal 1 November, lepas tengah malam di kota Raftel. Angin musim gugur sudah terasa sangat dingin di kulit, apalagi untuk mereka yang mengikuti prom dengan kostum tipis.
"Kuh..."
Seperti Hancock misalnya. Dia menggigil kedinginan karena suhu yang semakin turun... tapi itu sepertinya tidak berpengaruh ke Luffy yang berjalan di depannya. Anak itu cengar-cengir, penuh semangat.
"Shishishishi. Tadi itu seruuuu banget!" komentarnya untuk yang kesekian kali.
"I-iya, Luffy. Aku senang sekali..." jawab Hancock yang berjalan 3 langkah di belakang Luffy layaknya seorang istri yang loyal pada suaminya.
Luffy memang menemani Hancock pulang. Ini adalah bagian dari latihan dari Ace dan Sabo tempo hari. Latihan itu tidak hanya dipraktekkan waktu pesta... Luffy juga harus menjalankannya sampai pasangan prom-nya itu pulang dengan selamat.
Dengan kata lain, sekarang Luffy berduaan dengan Hancock di tengah malam yang dingin dan sepi.
"Jasmu oi. Berikan pada Hancock-chan."
"Anak sialan itu nggak sensitif..."
Terdengar samar-samar gerutu Ace dan Sabo. Meskipun Luffy sudah bilang akan menjaga Hancock sampai di rumahnya, kedua kakaknya yang baik hati itu tetap mengikutinya dari belakang. Bersama mereka, OSIS, Sanji, dan bahkan tim Zoro waktu permainan tadi juga ada. Mereka masing-masing memiliki agenda menguntit tersendiri. Ace, Sabo, dan Sanji ingin memastikan Hancock sampai di rumah dengan selamat (sambil menahan kecemburuan). Kid dan kawan-kawan ingin bahan gosip baru. Nami beralasan dia takut pulang sendirian (padahal sangat penasaran pada Luffy). Sedangkan tim Zoro ikut untuk meramaikan saja.
"Tapi besok kita harus mati-matian membersihkan aula, hahaha!" kata Luffy lagi. Besok hari Minggu, tapi OSIS harus datang ke sekolah untuk membantu Franky Family menata kembali aula (juga memperbaiki kerusakan akibat perang zombi).
Hancock tersenyum manis menanggapi itu, senyuman yang seolah menaikkan suhu di sekitar mereka beberapa derajat. Tentunya Luffy tidak menyadari itu dan terus berjalan dengan riang.
Bagi pria lain, apa yang dilakukan Luffy (mengabaikan cewek cantik yang tersenyum padanya) itu sangat durhaka, tapi Hancock tidak mempedulikannya. Karena sebelumnya dia sudah mengundang Luffy ke prom, mengikuti permainan bersama, dan diakhiri dengan diantar pulang.
Ini adalah malam yang sempurna untuknya.
"Psyuu!" Suara bersin yang imut (dan sangat di luar karakter) keluar dari mulut Hancock. Dia pun menggosokkan telapak tangan di lengannya. Kostumnya yang mini tidak cocok dipakai di malam yang amat dingin ini...
"Ah? Kau kenapa, Hancock?" Luffy memperlambat langkahnya untuk menanyakan keadaan gadis itu. Ini juga bagian "Latihan Memperlakukan Cewek" dari Ace dan Sabo.
"A-aku cuma sedikit kedinginan," jawab Hancock dengan suara bergetar.
"Dingin...?" tanya Luffy. Dia terdiam sebentar, lalu menggigil. "BRRRR! Iya! Dingin bangeeet!"
Hancock tertawa kecil melihat reaksi terlambat anak itu. Aaah... dingin seperti apapun akan dia tahan asal bisa bersama Luffy!
Kemudian, dia merasakan sesuatu yang hangat di bahunya.
Ternyata... Luffy memakaikan jas hitamnya! Otak Hancock langsung hang sejenak, berusaha memproses apa yang terjadi. Gadis itu pun hanya bisa menatap wajah Luffy keheranan.
Luffy... benar-benar memperhatikannya?!
"Yosh!" Luffy menjawab tatapan itu dengan ceria. "Ace dan Sabo bilang, kalau ada cewek yang kedinginan, kau harus memberinya pakaian hangat."
Ah... begitu toh, pikir Hancock. Jadi ini juga perintah kedua kakaknya? Hancock pun merasa sedikit kecewa. Luffy memperhatikannya karena perintah orang lain, bukan inisiatifnya sendiri...
"Fum..." Hancock merapatkan jasnya sambil memandang Luffy yang berusaha menyeimbangkan diri di pagar pembatas jalan. Dia tertawa lagi saat anak itu terjatuh dengan suara keras akibat wajahnya mencium trotoar.
Serius, kenapa cowok seperti ini membuatnya tergila-gila? Sepertinya bahkan Ratu Es pun terkorupsi suasana ketidakwarasan di Seifu...
"Hm... jadi inikah yang dinamakan cinta?" pikir Hancock, telat. "Aku akhirnya tahu."
Dia sering berpikir bahwa bisa menyukai dan diperhatikan seorang cowok, kendati masa lalunya kelam dan memalukan, sudah lebih dari cukup. Meskipun cowok itu adalah Luffy, cowok berwajah pas-pasan, koplak, polos, dan clueless.
Tapi, meskipun berpikir begitu, dia masih merasa ada yang kurang.
Tentu saja. Masa SMU Hancock tinggal kurang lebih 2 bulan lagi. Sudah tidak ada waktu untuk mengejar suatu hubungan...
"J-jadi... akan kulakukan."
Meskipun begitu, paling tidak dia ingin memiliki kenangan yang indah. Jadi, Hancock menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri.
"Luffy."
"Eing?" Luffy menolehkan kepala mendengar namanya dipanggil.
"Aku... ingin mengatakan sesuatu."
Seiring kata-kata itu terucap, Luffy bisa merasakan beberapa aura pembunuh dari belakang Hancock, tapi dia mengabaikannya.
"Shishishi, kamu kenapa, Hancock? Jangan terlalu serius begitu!"
Hancock menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak apa-apa. Y-yang penting, Luffy!"
Melihat keseriusan di tatapan Hancock, bahkan anak polos seperti Luffy pun menutup mulutnya untuk mendengarkan baik-baik.
"Aku... dan teman-teman anak kelas XII lain, sangat puas dengan pestanya, Luffy," kata Hancock dengan senyuman brilian. Seringai Luffy semakin lebar menanggapinya, dan wajah gadis itu semakin memerah. Tapi, dia terus berbicara. "Jadi, aku mewakili para senior, mengucapkan terimakasih atas kerja keras kalian."
"Shishishishi. Nggak masalah! Kita OSIS juga bersenang-senang selama pesta ini kok! Tanyakan saja Kid!" kata Luffy dengan kedua tangan di belakang kepalanya.
Hancock mulai gugup. Kenapa lawan bicaranya ini tidak menyadari suasana yang dia bangun? Tapi, dia tidak bisa mundur. Dia sudah memutuskan akan mengatakan ini sekarang.
"Kemudian... ini hadiah dariku selaku mantan ketua OSIS, karena kalian sukses dalam acara pertama," Hancock mendekatkan diri ke Luffy.
Dan...
Cup.
Menciumnya. Di bibir.
Berbagai rasa muncul dari sentuhan itu. Terutama dari Luffy yang makan sangat banyak... rasa bumbu masakan dan lipgloss pun bercampur jadi satu. Tapi, yang paling dominan adalah perasaan Hancock.
"?" Luffy membelalakkan matanya.
Sedangkan di tempat lain...
"!"
"G-guohhh!"
"Oi! Kalian kenapa sampai muntah darah begitu?!"
"K-kamera... kamera!"
"Ara ara."
"Heh."
"Anak itu beruntung banget, sial."
"Eiii! Anak kecil tidak boleh lihat!"
"Eeeeh? Aku sudah SMP!"
"... hangat."
Berbagai komentar meramaikan tim penguntit. Suhu di sekitar mereka naik beberapa derajat akibat api kecemburuan, yang segera dimanfaatkan mereka yang tak terlalu peduli pada situasi di depan untuk menghangatkan diri.
Ciuman itu tak berlangsung lama, tapi bagi Hancock ini adalah momen yang abadi. Tentunya Hancock sendiri yang mengakhiri itu.
"Pah..."
"... !" Sebelum Luffy sempat berkomentar, Hancock berlari meninggalkannya. Dan, wow, dia sangat cepat... sampai-sampai tercipta dentuman sonik ala pesawat jet di belakangnya.
"A-aku menciumnya! Apa yang tadi kupikirkan?!" itulah yang ada dalam pikiran Hancock selama pelariannya. Dia menutupi bibirnya dengan tangan dan wajahnya mengeluarkan uap saking panasnya. Tapi kenapa dia merasa sangat malu? Padahal dia melakukan hal yang biasa dilakukan di film dan novel teenlit yang sering dipinjamkan kawan-kawannya di geng Kuja!
...
Hancock tidak masuk sekolah selama 3 hari di minggu berikutnya.
- Chapter V End -
Next in Two Schools, Two Worlds
Chapter VI
Premier League
"Sebenarnya ini lebih mirip La Liga."
