I F**KED YOUR BOYFRIEND (INDONESIAN)
by Becklypark
DISCLAIMER
Story Belongs to Chanyeoboo and the original story is here
www wattpad com/167017442
(spasi diganti titik)
.
WARNING
Smut, MPREG! = Male Pregnancy, Cheating, abuse/dubcon, slight noncon
Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, and Others
.
WE WENT SO WRONG
.
[Warning: Chapter panjang! Artinya temukan posisi yang nyaman untuk membaca keseluruhan chapter ini, INI CHAPTER PANJANG YANG KEDUA KALINYA DARI CHAPTERKU PADA UMUMNYA, NO JOKE. It's Hunhan Slight!Xiuhan 's chap. Dont like? Close the tab! Bad comments are not allowed.]
.
Note: Tulisan italic (miring) adalah flashback.
.
Dan Luhan dengan bergemetar meletakannya, menyerahkan dirinya pada lelaki lebih tua yang berada di belakangnya setelah dia memutuskan panggilannya.
Dengan buru-buru menyeka air mata segar yang keluar membasahi pipinya, Luhan berharap kekasihnya tidak menemukan dirinya yang baru saja menangis karena seorang 'mantan'.
Membiarkan dirinya ditindih pada kasur lembut itu, kepala belakangnya terkulai di bantal yang besar. Dia balas menatap mata Minseok, dan bersyukur kamar itu gelap.
Minseok kelihatannya tidak menyadari air mata apapun pada Luhan. Malahan dia mulai terhenyak pada leher yang lebih muda sebelum menikmatinya terlebih dahulu. Luhan terkejut seolah-olah dengan perintah, mencoba untuk tetap tak terganggu, mencoba untuk tidak melompat kabur.
Tangan bergetarnya memegang leher dan kepala Minseok, dengan perlahan menyembunyikan tangan-tangan itu pada rambut si brunet sesaat Ia mulai terengah-engah, tetapi dia merasa dirinya menegang, dia merasa sangat salah.
Minseok mungkin berhasil untuk diterima sejak awal bahkan untuk menghiasi sepanjang leher pucat Luhan kemudian, menuju sebuah titik dibelakang telinga yang lebih muda yang Minseok baru saja tahu bahwa itu adalah titik lemahnya.
Luhan bergemetar hebat, dan apa yang dia lakukan selanjutnya benar-benar diluar dari keterpaksaannya: dia menangkup rahang yang lebih tua, mempertemukan bibir mereka dengan kasar bersamaan sesaat dirinya mencoba untuk membiarkan lelaki itu akhirnya keluar dari kepalanya.
Sebuah erangan rendah keluar dari dirinya sesaat tubuhnya bergerak menggesek tubuhnya dan Luhan hanya dapat menyerah terhadap hasrat Minseok, menuntut respon.
Diliputi dalam rasa panas, tangan Minseok mencuri masuk ke dalam kaos Luhan sekali lagi dan menemukan arahnya menuju puting menegang kekasihnya.
Luhan mengalihkan wajahnya, menghentikan ciumannya dengan tiba-tiba, terkesiap dan Minseok menjejaki ciuman-ciuman disepanjang rahangnya.
Dan kemudian dia tiba-tiba menjauh, berada di atas Luhan dengan tangan yang tak lupa saling menyangga disamping kepalanya untuk mendapatkan sebuah pemandangan jelas dari si rusa yang berada di bawahnya.
Karena sedikit yang Luhan tahu bahwa dia tidak pernah berhenti menangis dengan perlahan.
Sedikit yang dia tahu dia dengan terpaksa mencoba untuk mengesampingkan perasaan bersalah yang mulai Ia rasakan setelah menutup panggilan dari mantan kekasihnya.
Tetapi akhirnya tidak bisa.
"Kenapa kau menangis?"
Rambut yang seluruhnya benar-benar acak-acakan dan bibir bengkak yang merekah dan terkesiap, mata Luhan terbelalak lebar saat dimana perkataan kekasihnya itu menusuk tepat pada topengnya.
Dia menatap balik, penuh kehancuran, ketakutan, pipinya sudah dibanjiri air mata, mulutnya terasa sulit untuk merespon. Terlalu takut akan perkataan yang mengancam untuk keluar.
"Kau benar-benar bergemetar dan terisak ketika berbicara dengan lelaki yang berada di telepon itu," kesedihan didalam suara lembutnya tak dapat dielakkan. "Aku mencoba untuk tidak memikirkannya. Dengan egoisnya aku mencoba untuk mengabaikan tiap rintangan dalam hubungan yang-terlihat-sempurna selama ini, Luhan."
Bahkan di dalam kegelapan mata Minseok tetap terlihat tulus dan jujur.
Dan kemudian dia membungkuk lebih dalam, menyandarkan keningnya pada kening si lelaki rentan itu, hanya membuat Luhan bahkan semakin banyak mengeluarkan air mata dari matanya yang berkaca-kaca. Dia menggigit bibir bawahnya yang bergemetar, tidak menginginkan dirinya dan Minseok terjebak dalam sebuah rintangan yang-mereka-sebutkan.
"Kau mencintainya."
"Aku mencintaimu—" berhenti mengasihaniku.
"Tak apa, Luhan."
"Minseok dengar—" bukan seperti itu.
"Tidak dengan semua kesedihan ini?"
Itu.
Luhan telak.
Dan pada saat moment itu dia membiarkan semuanya keluar; kelelahan dan tersiksa tertulis jelas di wajahnya.
Luhan tidak pernah baik-baik saja.
.
.
.
Minggu-minggu berlalu, dan setelah ribuan petualangan cerah dengan Minseok, Luhan akhirnya berusaha untuk kembali bersekolah seperti biasanya.
Minseok putus dengannya malam itu; terlepas dengan hati yang sangat berat. Karena Minseok sesungguhnya benar-benar jatuh cinta pada Luhan pada akhirnya.
.
.
"Kau tidak mencintaiku, kan? Kau tidak pernah melakukannya." Tukas Minseok. "Aku seharusnya tahu apa yang akan aku dapatkan di kemudian hari pada saat pertama kali aku terpesona padamu."
Suara monoton akan perkataannya itu mengintimidasi dan menyakiti Luhan. Perasaannya terasa seperti hancur lagi dan lagi dan terus lagi.
Dia tidak pernah berharga. Dia melakukan yang terbaik yang Ia bisa, dan itu masih tidak cukup.
Tidaklah pernah cukup.
"Kau menyesal apa yang telah kita lalui?" Luhan dengan hati-hati menanyakan hal itu dengan suara yang pelan sebagai balasan.
"Bukankah seharusnya aku yang mempertanyakan hal itu?" sebuah cengiran kecil menjalar di wajah Minseok. "Menanyakan itu padamu?" Luhan mengerjap bingung. Minseok kemudian terkekeh sedih, mengarahkan jemarinya pada rambut kastanyenya itu.
"Kenyataannya adalah, aku tidak pernah sekalipun berhenti mencoba untuk menemukan pintu masuk menuju hatimu. Tetapi aku menebak kita pada akhirnya hanya akan memiliki sebuah hasil ketidakbahagiaan belaka," lanjutnya, tangan kanannya terangkat, berkeinginan mengusap pipi basah yang lainnya.
Sebelum dia dapat melakukannya, tangannya mulai bergemetar dan melemah sesaat matanya mendapati mata berkaca-kaca si pirang tersebut.
"Sudah sangat putus asa selama ini. Aku sangat mencintaimu, kau tahu?"
Mata berair Luhan tidak sanggup membendung emosi lagi.
"Mari hentikan saja. Kau menginginkanku untuk melakukannya, kan? Aku tahu kau menginginkanku untuk berhenti."
.
.
.
Dan Luhan berpikir, tak apa, Luhan memakluminya – tidak ada satupun yang menginginkan seseorang seperti dirinya pada akhirnya, kan? Luhan sudah tahu.
Seseorang sepertinya; seorang yang memalsukan hubungan – seseorang yang berpura-pura bahkan pada sebuah senyuman paling berharga dan perasaan paling hangat – seseorang yang tidak belajar, bahkan melupakan arti dari cinta sejati.
Seseorang yang bahkan tidak bisa sekalipun move on dan suka berpura-pura melakukannya – seseorang yang berbahaya.
Mengoleskan lip balm pada bibir ranumnya, Luhan memperhatikan refleksi akan dirinya sendiri di kaca. Rambut cokelat terang menyegarkannya melingkupi wajah cantiknya, nyaris tidak menutupi eyelinernya yang membingkai mata. Penampilannya yang tidak biasa, jeans robek yang menyatu dengan kulit membungkus pahanya ketat dan aroma manis yang menguar dari Pink Sugar oleh Aqualina.
Dia tentunya dapat mengingatkan dirinya pada seseorang teman terdekatnya yang sangat akrab yang Ia miliki beberapa waktu yang lalu.
Mungkin sekarang dia sempurna.
.
.
.
"Guys, dengar! Tetaplah tenang, ok? Hal selanjutnya lebih hot lagi," lelaki bernama Jongdae yang berada di atas panggung itu, yang tengah memandu acara spesial sekolah, memberitahukan.
Seperti sekolah menengah pada umumnya, acara sekolah merupakan sebuah acara tahunan – gosip umum, merebak berita yang menghebohkan, dan penghargaan dalam kategori sebagai Hottest Babe, Vokalis Terbaik, Penggoda Ulung, Kemungkinan Besar Terlambat Menuju Pernikahan Mereka, Atau Bibir Terbaik sangat dinantikan. Bahkan para pasangan tidak akan meninggalkan event itu dengan tangan kosong; Pasangan Terawet, Pasangan Terlucu, dan bahkan Pasangan Teraneh juga dilombakan.
Beberapa murid berpikir bahwa hal itu bodoh dan bahkan berlebihan. Walau sebagian besar berpikir bahwa hal itu menghibur dan bersemangat, membuat pendapat yang lain tidak relevan.
Semuanya menjadi satu, hal itu yang biasanya merupakan tipikalmu, hal klise dari sekolah menengah.
Bitch face yang bersemayam tenang pada wajahnya seperti biasa, Sehun menyingkirkan tangan yang terus menempel pada bahunya. Lelaki penanggung jawab yang berada di sampingnya, seseorang teman yang bernama Kim Junmyeon (yang kelihatannya sedikit terbuang selama event ini) terus menggoda yang lebih muda, mendapati sebuah geraman kesal darinya.
"Berhenti menjalang... kau JALANG!" geram Junmyeon pada seorang lelaki yang kini berambut hitam legam. "Belakangan ini kau... kau bersikap seperti seorang jalang yang dingin! Menyebaaaalkaaaann!"
Seperti sudah terbiasa dengan tuduhan semacam itu, Sehun memutar matanya kesal sesaat dia ingin menyerangnya balik—
"Sekarang! Si malaikat kecil nan cantik Luhan kita akan mempersembahkan pada kalian 'Most likely To Succeed And Appear On The Cover of Vogue'! naiklah ke panggung, hottie!"
Seluruh fokus jatuh pada lelaki rusa yang tengah berjalan sepanjang lorong, mata mereka melebar akan pemandangan menganggumkan itu, beberapa orang bahkan tidak ragu untuk bersiul padanya.
Ekspresi sengit Sehun melembut kemudian; terpesona, mulutnya sedikit terbuka, matanya terpaku pada pemandangan yang tak biasa.
Luhan, dengan murah senyum dan tebar pesona, berjalan menuju panggung layaknya seorang dewi.
Sebuah kaus putih, kelewat tipis membalut tubuhnya (yang mana hampir mengecewakan), pinggulnya dengan ringan bergoyang dalam balutan jeans ketat yang membungkus kakinya seperti sebuah kulit kedua, make up smokey eye memperbesar matanya. Rambut bewarna cokelat terang—
Orang yang berada di seberang sana bukanlah Luhan.
Jika bukan karena jantungnya yang berdetak cepat akibat mendapati sosok dari seseorang yang paling Ia inginkan, dia tidak akan mengenali lelaki itu.
"Oh hentikan itu, guys. Aku tidak mau menggoyangkan apapun untuk kalian." Luhan dengan enteng tertawa. "Kalian semua bisa memberikanku sebuah kunjungan nanti, kok~ tidak ada salahnya kan, bukan begitu?"
Walau orang ini masih tetaplah cantik.
"Hey! Ini bahkan bukan result card, ini nomer ponselmu!"
Mungkin dia hanya ditakdirkan untuk selamanya jatuh cinta dengan seseorang yang tidak bisa Ia miliki.
"Tidak, tidak ada siapapun. Yeah, yeah, aku single. Sama singlenya seperti sepotong American cheese."
Satu hal yang masih teramat menyakitkan adalah ketika orang yang membuatmu merasa spesial di hari kemarin namun membuatmu merasa sangat tidak diinginkan hari ini.
Single? Kau pasti sedang bercanda sekarang.
"Baiklah, baiklah. Sekarang pemenangnya!"
Namun entah bagaimana, ngomong-ngomong, baik dengan satu atau lain cara, dia merasa sebuah perasaan lega. Dan mungkin berharap. Mungkin sedikit.
"So, Most Likely To Succeed And Appear On The Cover Of Vogue adalah,"
Kembali ke dalam apa yang Ia rasakan adalah kekuatannya, kecerobohan, Luhan merasa seperti memimpin penontonnya dalam sekali memijakkan kakinya di panggung.
Bercanda dan tebar pesona dengan kerumunan itu, tidak pernah luput untuk memberikan beberapa kedipan mata untuk beberapa lelaki, tak pernah luput untuk membuat orang-orang jatuh hati hanya karena sebuah senyuman. Luhan akhirnya merasa seperti salah satu dari mereka; seorang remaja tanpa beban. Tanpa rasa sakit. Tanpa apapun.
Setelah pertanyaan-pertanyaan konstan dan ucapannya yang membuat dirinya menjadi sorotan, dia akhirnya diberikan result card yang harus diumumkan.
"So, Most Likely To Succeed And Appear On The Cover Of Vogue adalah,"
Membasahi bibirnya, dia berhenti sejenak,
Mengucapkan kata-kata berikutnya seperti orang yang tak peduli pada akhirnya,
Begitu sederhana,
Begitu lembut,
"Oh Sehun!"
Seperti seseorang yang mengajarkan dirinya sendiri menjadi dirinya saat ini.
.
.
.
Bersenandung akan sebuah suara dari lagu favoritnya 'Like a Cat' oleh AOA, Luhan dengan yakin memilih produk make-up yang Ia rencanakan untuk dipakai selanjutnya. Dia membuka palet smokey eye shadow.
"Biarkan aku menerapkan benda hot ini padamu dan kita selesai!" dengan semangat si pirang itu bersorak.
Sehun bahkan tidak tertarik dengan make-up, namun disinilah Ia menawarkan dirinya sendiri untuk menjadi objek eksperimen kekasihnya. "Aku menjanjikan padamu satu kecupan untuk setiap pengaplikasian ini pada matamu!" Luhan kemudian mengerucutkan bibirnya.
Menyeringai pada air liur yang merembes dari sudut bibir Luhan yang mengerucut, Sehun mendekat untuk mencium bagian itu.
Bibir Sehun memulai eksplorasi pelan mereka pada bibir lembut yang lainnya, dan dia menciumnya dengan rakus. Yang lebih tua tertawa kecil akan ciuman tersebut, dan menghamburkan lengannya disekitar leher yang lebih muda. Menjatuhkan dirinya kebelakang menuju sebuah matras lembut yang mereka duduki, bersamaan dengan Sehun yang menarik Luhan.
"Oh Sehun~"
.
.
.
Sehun dapat melihat bibir Luhan membentuk sebuah kata, namanya, tetapi dia tidak dapat mendengarnya. "Apa yang kau tunggu, bodoh? Naik ke panggung!" seru Junmyeon.
Beberapa mata memandangnya, riuh tepuk tangan dan sorakan mendominasi aula itu, Sehun berpikir bahwa dirinya belum dapat mendengarnya dengan benar.
Semua yang dapat Ia dengar adalah kata maaf yang memukul-pukul hatinya yang lemah, aliran darah yang tak habis-habisnya mengalir sekalipun dapat berhenti begitu jantungnya menyuruhnya demikian. Semua yang dapat Ia dengar adalah suara dari rasa sakit yang berlarian disepanjang tubuhnya. Dan di dalam kasus ini, rasa sakit itu adalah detak jantungnya.
Mengumpulkan kesadaran dirinya, dia tahu Tuhan memutuskan sekali lagi bahwa dirinya tidak bisa terus menghindari Luhan selamanya. Dia harus bangkit, dan dia harus menghadapi ketakutannya.
Sehun bangkit dari tempat duduknya, mondar-mandir di lorong sementara matanya mengamati tujuannya, langkahnya panjang dan perlahan.
Luhan masih menyunggingkan senyuman di wajahnya, dan Sehun berpikir bahwa dia seharusnya mungkin kabur saja dan melupakan semuanya, menghapus senyuman bodoh itu dari pikirannya.
Ketika dia telah sampai di panggung,
Ketika jarak menjadi semakin dekat dan mendekat, Sehun ingin berhenti karena dia merasa bahwa jantungnya akan meledak.
Ketika Luhan menyerahkannya piala, ketika jemari mereka sedikit bersentuhan untuk beberapa mili-detik, hati Sehun memekik.
Bahkan bukannya melihat piala yang ia terima, Sehun dengan dalam menatap lelaki yang berada tepat di depannya.
Luhan tidak pernah mengenakan eyeliner, Luhan bukanlah brunet, Luhan tidak pernah mengenakan pakaian seperti itu, Luhan tidak pernah sepopuler ini dan bergaul. Dia bukanlah pengintimidasi, for Pete's sake.
Terdapat lahirnya sebuah jeda – Luhan ini bukanlah lelaki yang sama yang dapat Sehun lukai hatinya.
"Most Likely To Succeed And Appear On The Cover Of Vogue, huh?" Luhan terkekeh, dan Sehun ingin lebih baik mati dibandingkan mendapati mantannya bersikap seolah mereka bukanlah apa-apa melainkan sebuah lelucon, cerita dongeng yang bodoh.
Luhan kemudian menampik pandangannya, dan mengarahkan wajahnya menuju penonton. "Guys, tunggu aku muncul di ELLE dan Cosmopolitan!" dia tertawa dengan kerumunan itu, auranya penuh akan kehangatan.
Dan rahang Sehun mengeras, dan organ-organ dalamnya mulai tidak berfungsi dengan benar, dan sebelum dia dapat memaksa dirinya untuk pergi begitu saja, untuk melupakannya begitu saja, untuk sekali saja tidak peduli, dia tidak mampu.
"Apa yang terjadi padamu?"
.
"Kembalilah padanya,"
"Aku tidak bisa, Minseok."
.
Raut Luhan yang semula memunculkan senyum lebar perlahan memudar, bersamaan dengan mic yang berada ditangannya terjatuh ke bawah. Membuat para penonton saling berbisik.
Dia mengangkat kepalanya untuk menemukan pandangan mereka yang akhirnya terkunci, dan Sehun merasa dia dengan tiba-tiba terlihat sangat berbeda sekarang, dan Sehun bersumpah dia dapat merasakan hatinya menjadi berkeping-keping.
"Bukankah ini..." Luhan terkekeh dengan tidak wajar, "Yang kau sukai?" Betapa ironinya.
Pikiran Sehun menjadi kosong sesaat rahangnya dengan perlahan jatuh terbuka, tidak dapat menghasilkan suara apapun. Tidak dapat berpikir.
Tangan Luhan bergerak menuju rambutnya, menyisir rambut cokelat terang itu dengan jemarinya, dan Sehun menyadari tangannya itu sebenarnya sedikit bergemetar.
"Apa yang kau... sukai..." dia bergumam, tanpa hambatan menekankan kata sukai. "Benar kan? Kau menyukainya, kan?" dia kemudian memberi isyarat tangan menuju bajunya, mengelus bahan jeans skinny robeknya itu.
Sehun berkedip, cukup tercengang kebingungan. Mata penuh penasarannya mengikuti adegan itu, namun, telinga itu belum menyadari maksud dari kata-kata tersebut.
Dan apa yang terlihat seperti sebuah puzzle tersulit yang berada di toko barang bekas dengan potongan-potongan yang perlu disatukan sebanyak dua buah box penuh, Sehun menyatukan apa yang lebih tua sebenarnya sampaikan.
Dan dia dengan mengancam mengambil langkah selanjutnya ke arah Luhan. Dan dia mendekatkan jarak itu dengan bahayanya.
Mata yang lebih pendek berkaca-kaca, menambah penampilannya yang kini terlihat lemah. Luhan menjadi kaku, dan dia tidak tahu kenapa. Dia tidak ingin tahu sebabnya.
Sehun menggapai tangan bergemetar Luhan, menggenggamnya dengan erat, sesaat para penonton kebingungan. Suara-suara itu menjadi semakin riuh ketika dia mulai menarik-tarik tangannya, ketika dia menuntun Luhan yang tengah marah keluar dari acara tersebut.
"What the fuck, l-lepaskan aku!" dengan panik, histeris mencoba untuk melepaskan dirinya. "Kau pikir kau siapa, dickhea—"
"Diamlah Luhan, diamlah!" Sehun kemudian menarik mereka menuju sebuah ruang penyimpanan kosong detik berikutnya, dengan terburu-buru menutup pintu yang berada di belakang mereka sesaat dia memutar dengan cepat dan memojokkan si brunet pada pintu itu.
Mengukungnya, dia meletakkan tangan-tangannya di sisi-sisi samping kepala yang lebih pendek; kemudian mencondongkan kedepan dengan jarak yang begitu-berbahaya. Dan peringatan-peringatan di dalam kepala Luhan bergemuruh dengan marah, dan dia ingin menamparnya pergi, dan dia ingin kabur untuk kebaikannya, hanya karena yang lebih muda merendahkan kepalanya menuju perpotongan yang lainnya. Menyeruak pada kulit Luhan, bernapas pada aroma manis yang menguar dari yang lainnya.
Bahkan Luhan tidak bergerak sedikitpun.
"God," Sehun mengernyitkan alisnya, tangannya bergemetar kesakitan, "Tolong, diamlah." Luhan merasa seperti tidak dapat bernapas. "Kau sudah benar-benar menghancurkanku."
Luhan ingin untuk menjawab, Move on. Tetapi dia tidak melakukannya.
"Aku bersumpah aku akan kehilangan akal. Kau telah menghilang begitu lamanya, Luhan."
Dan Luhan ingin mengatakan, seharusnya memang begitu. Tetapi dia tidak melakukannya.
Ketika dia selanjutnya mengangkat kedua tangannya untuk menggunakan sisa-sisa kewarasan terakhirnya, untuk mendorong dadanya dengan semua kekuatan yang dapat Ia kumpulkan, dengan harapan untuk mengakhiri semua ini, lengan itu malah bergerak menuju sekitar leher yang lainnya.
Dan untuk beberapa alasan, mereka bergeming dengan keheningan membeku yang mereka ciptakan.
Untuk beberapa alasan, hati Luhan meleleh di dalam dadanya. Dia masih merasa candu bagaimanapun.
Sehun beringsut menaikan kepalanya. Wajah mereka cukup dekat sekarang, matanya mengarah pada mata yang lainnya.
"Berhenti melihatku seperti itu... berhenti melihatku seperti aku adalah seorang monster," napas panasnya menerpa wajah yang lebih tua.
"Aku...aku tidak pernah melakukannya..." Luhan menggerutu. Bibir mereka sangat dekat dan begitu pula kesempatan mendapatankan sebuah serangan jantung karena God, dia begitu gugup dan berdebar-debar.
Mungkin menyerah adalah hal yang lebih mudah.
"Aku jatuh cinta padamu. Untuk keindahanmu. Untuk ke-apa adaan-mu." Pita suara Luhan terasa menghilang. Hanya Tuhan yang tahu betapa dia membenci kaki-kakinya yang melemah dan goyah saat ini.
Kening mereka akhirnya bertemu, menyisakan jarak antara bibir mereka hanya beberapa inchi saja, dan duka kerinduan mereka tergantikan oleh sesuatu yang mekar merekah dan sesuatu... yang mungkin terasa seperti cinta.
"Dan untuk matamu. Untuk senyumanmu. Untuk bibirmu, dan hidung, dan luka, dan tawa, dan kekurangan, dan suara." Rona merah padam pada pipinya semakin merambat keluar dan semakin nampak ketika dia terus mendengarkan candunya. Suara itu menampilkan begitu banyak emosi dalam satu waktu, ekspresi serius Sehun yang terus terlihat hampir terlalu menggemaskan.
Luhan menatapnya dengan intens, dan mengamati tiap titik pada wajahnya.
Menghentikan si tukang bicara, lelaki China itu membawa tangan halusnya menuju wajah Sehun, "A-aku... sangat takut untuk menginginkanmu. Tetapi disinilah aku sekarang,", menangkupnya dengan lembut. "Menginginkanmu bagaimanapun juga." Bukankah aneh?
Kebingungan, Sehun perlahan mundur. Mabuk akan harapan dan kebahagiaan, rahangnya perlahan terjatuh sesaat batinnya menyadarkan dirinya karena Tuhan melarangnya untuk bangun sekarang dan semua ini akan berubah menjadi murni delusi.
Luhan menghela napas dengan lembut sesaat dia menggapai dan menyusuri jemarinya pada rambut lembut yang lebih tinggi, berpikir betapa mudahnya semua ini dapat terjadi, dan dengan mengejutkan menariknya kebawah untuk sebuah ciuman lembut, menutup jarak diantara tubuh mereka sekali lagi.
Sehun mulai merasakan sebuah sensasi gelembung di dalam rongga perutnya, dan dirinya merasa terbakar, namun sangat terasa hidup, sangat menggebu-gebu. Dan itulah sebuah perasaan yang sama-sama mereka rasakan.
Realisasi dari semua ini, kesadaran akan hal itu merupakan bibir Luhan yang menyatu dengan miliknya, bahwa satu-satunya sumber pemikirannya sejak pagi buta pada bulan yang lalu itu tengah menyentuhnya sekarang, tengah berhimpitan dengannya – hal ini terasa sangat tidak nyata.
Sehun tersenyum dengan lembut dalam ciumannya seraya melingkupi lengannya perlahan disekitar pinggang yang lebih tua, membawa tubuh mereka bahkan semakin mendekat.
Ketika yang lebih pendek menariknya kebelakang, Sehun mendapati rona merah muda dari pipinya. Luhan menarik napas dalam-dalam sebelum dengan malu menurunkan pandangannya sambil menekan keningnya pada dada yang lebih tinggi.
"Kau bisa menertawakanku sekarang, a-aku tahu semua ini bodoh, semua ini," Luhan terbata-bata dan bibir Sehun menorehkan sebuah senyuman lebar pada lelaki yang lebih pendek itu.
"Lalu aku suka menjadi bodoh denganmu," Sehun menghela napas dan Luhan mengintip ke atas melalui bulu matanya.
Dan dia menyatukan bibir mereka dengan bersemangat bersama-sama sekali lagi, menarik Luhan mendekat secara tidak manusiawi. Sebuah lenguhan lembut, kemudian diikuti oleh sebuah kekehan, keluar dari bibir Luhan sesaat membawa tubuh mereka jatuh ke lantai, membawa Sehun dengan dirinya tanpa menghentikan ciumannya.
Walau punggungnya bersentuhan dengan lantai yang dingin, Luhan tidak peduli sedikitpun sesaat Sehun mengukungnya diatasnya, bibir tebal itu masih menekan dengan kuat dengan miliknya. Mengulurkan tangan dan dengan lembut melingkupi lengannya dengan malas disekitar leher yang lebih muda, Sehun mulai meninggalkan kecupan kupu-kupu pada bibirnya.
Dan tiap ciuman itu mengirimkan sengatan, sebuah sentakan, meski Luhan akhirnya merasa hangat, dibanjiri perasaan lega di dalam dirinya.
.
201x/11/08 2:27 PM
From: Kris
To: Luhan
BITCH, BAEKHYUN DAN CHANYEOL SEDANG MENUNGGU, SETAN! BERGEGASLAH, PERGI KE KLINIK HAMCHOON!
.
.
.
***[end of flashback]
"Aku tahu mungkin ada sebuah alam semesta diluar sana dimana aku membuat pilihan lain dan mereka menuntunku menuju tempat lain, membawaku ke orang lain. Dan hatiku hancur berkeping-keping bahwa tidak berakhir dengannya."
Pandangan Baekhyun melembut akan perkataan Sehun. Dia dengan tercengang balas menatapnya, dan terlalu banyak pertanyaan yang menyelubungi pikirannya.
Terlalu banyak pertanyaan yang masih menyelubungi pikirannya,
Terlalu memenuhi kepalanya bahkan lebih buruk lagi,
Ketika lelaki yang sangat familiar lainnya muncul disamping mantan kekasihnya.
Luhan.
.
TBC
.
(a/n:) Jadi si Sehun sama si Luhan kan lagi making out gitu di lantai (wew...) pas si Luhan dapat pesan dari Kris. Nah mereka berdua mutusin untuk pergi kesana bareng-bareng (itulah kenapa si Sehun bilang "Kamu gak perlu khawatir lagi" sebelumnya sama si baek. Paham kan? Paham kan? Dia udah gak tertarik sama Baekhyun lagi. Soal Luhan yang ganti rambutnya jadi brunet dan dandan bitchy gitu paham kan? Pas dia bilang ke sehun itu yang dia suka, paham kan? Iya itu gayanya baekhyun! Si luhan masih ngira si sehun masih suka sama baek makanya begitu dah.
(t/n:) Ok, ini chapter erelelelele terpanjang yang pernah di trans dari ff ifyb ini (elap keringet pakai baju kai) Maaf dan maaf sebanget bangetnya karena baru bisa kembali trans dan post ff ini, karena serius sibuk banget bolak-balik negeri orang dan masih banyak kepentingan organisasi kampus lainnya:( OH IYA, YANG NUNGGU MOMENT CHANBAEKNYA, CHAP SELANJUTNYA IYA KOK CHANBAEK KOK! Btw makasih bangettt buat yang pada pm semangatin aku (nangis di pundak sehun) makasih banget padahal aku translator abalabal dan author tak bertanggung jawab (emang lu kly). Btw ff TIME kayaknya mau diunpublish dulu soalnya mau fokus ke ff MMA, jadi ga terlihat terbengkalai banget ffnya:( nanti kalau MMA udah rampung di re-publish kok ff TIME-nya (ini buat penikmat ff time aja sih infonya, buat yang ga ngikutin /asah piso/ baca ya :) tapi nanti wakakaka) udah segitu aja sih bye- eh see you~
.
Translated by
©becklypark
www fanfiction net/~becklypark
(ganti spasi dengan titik)
Original Story
I F**ked Your Boyfriend by Chanyeoboo
www wattpad com/user/chanyeoboo
(ganti spasi dengan titik)
Copyright © 2015 chanyeoboo
All Rights Reserved
.
p.s. Thanks for read and reviews.
