.

Chapter 38 – Attack At The Night

.


"Ji Min!?", Yona tiba-tiba berlari ke arahnya dengan wajah memerah dan membisiki sesuatu pada Ji Min.

"kenapa tiba-tiba memukulku?" protes Haku yang menyusulnya sambil menggendong Sakuya, ia menutupi wajahnya yang barusan dipukul cukup keras oleh Yona tanpa ia tahu alasannya.

"oh, tenang saja, bukan salahmu", Ji Min menahan tawa sambil menutupi tubuh Yona dengan jubahnya sebelum meminta Tao meminjamkan kamar untuk mengganti baju dan beristirahat. Tao menyadari apa yang terjadi sehingga ia membawa Yona dan Ji Min ke kamar kosong, ia ikut membantu Ji Min bahkan memberikan beberapa baju ganti pada mereka berdua. Saat Yona dan Ji Min berterima kasih padanya dan merasa telah merepotkan Tao, Tao meminta mereka agar menganggapnya sebagai tanda terima kasih sekaligus permintaan maaf, rupanya ia masih merasa tak enak karena membicarakan soal Yona dan Haku yang terlalu muda untuk jadi orang tua Sakuya terlebih salah satu teman mereka sudah menolong dayangnya. Haku sempat datang ke kamar itu untuk mengantar Sakuya pada Yona. Setelah Haku pergi, mereka bertiga sempat berbincang sebentar. Sama halnya dengan Tao yang terkejut mengetahui Sakuya adalah anak adopsi mereka dan Ji Min yang masih terlihat sangat muda adalah ibu asuh mereka, Yona juga terkejut begitu mengetahui Tao seumuran dengan Haku.

Malamnya, sebelum Yona berniat mencari udara segar di luar, ia memastikan Sakuya tertidur di samping Ji Min. Yona tersenyum dan mengelus kepala Sakuya terlelap dengan tenang. Saat berada di luar, merasakan angin malam dan indahnya bulan di langit di kerajaan Xing, Yona kembali berpikir bahwa tempat yang indah dan terlihat damai ini mungkin akan menjadi medan peperangan. Pikirannya terhenti saat ia menyadari ada bayangan seseorang di dekatnya. Yona mulai waspada dan bertanya siapa yang ada disitu, lalu bayangan yang mengira ia sebagai Tao menghampirinya sambil mengayunkan pedangnya.

Haku merangkul Yona dari belakang, menahan pedang pria itu dan menjatuhkan pria itu dalam sekali serang. Tak hanya satu orang penyusup, saat Yona dan Haku berbicara sebentar, ada lagi penyusup yang mendekati mereka berdua namun penyusup itu dijatuhkan oleh Ji Min dan Jae Ha.

Ji Min yang membawa Sakuya mengambil kembali trisulanya yang menancap di tubuh musuh, menguap setelah ia menyerahkan Sakuya pada Yona "ah, padahal begadang itu tak baik untuk kulit... tapi mana bisa kita tidur dengan nyenyak jika masih ada penyusup begini?".

"perlu kuberi krim perawatan?" goda Jae Ha yang mengambil kunainya, terkekeh.

Ji Min melambaikan tangan "tidak, terima kasih".

"kalian berdua makin lama makin cocok saja" gumam Haku.

Setelah Shina, Kija dan Zeno menghampiri mereka dan Yona memberitahu mereka bahwa yang diincar adalah Tao, Shina memberitahu bahwa masih ada beberapa orang lagi di sekitar lembah ini. Saat Vold datang, Yona dan yang lain memberitahu situasinya. Ketika para penyusup dari sekitar lembah mulai bermunculan, Jae Ha meminta Vold pergi mencari Tao dan menyerahkan para keroco itu pada mereka.

"yah, biarpun spesialisasi utamaku bukan bertarung...", Ji Min mengikat rambutnya ala pony tail dan menghunuskan kedua belatinya "perlu kubantu?".

"kami bertiga saja sudah cukup untuk menangani ini, lebih baik kau tetap di sisi Sakuya-chan dan Yona-chan untuk menjaga mereka bersama Haku", Jae Ha mengecup kening Ji Min dan tersenyum simpul "hati-hati".

"itu kata-kataku", Ji Min mengecup pipi Jae Ha sebelum pergi bersama Vold, Haku dan Yona yang menggendong Sakuya.

"tolong ingat-ingat sebelum bermesraan kalau disini masih ada anak di bawah umur atau tidak" protes Haku, untungnya ia sempat menutupi mata Sakuya.

Ji Min mengangkat sebelah tangannya "maaf".

Begitu mereka sampai di kamar Tao, mereka bertemu Mizali yang bersiap membunuh Tao tapi saat Mizali mengangkat pedangnya, selimut itu terbang ke atas dan Algira yang tidur bersama para kucing muncul dari balik selimut. Sebelum mereka tiba, Algira lebih dulu mengamankan Tao bersembunyi ke suatu tempat. Setelah Haku dan Yona bertanya siapa Mizali dan apa itu 'Lima Bintang', Vold menjelaskan pada mereka.

Mizali yang mengetahui kalau Yona, Haku dan Ji Min bukan dari kerajaan Xing, mengayunkan pedangnya pada Algira yang bisa menghindarinya dengan mudah dan hanya perlu dua serangan dari Algira untuk menumbangkan Mizali. Haku menyadari adanya penyusup lain, ia melompat ke samping sambil merangkul Yona yang menggendong Sakuya saat pria bertubuh besar yang muncul ke ruangan ini mendaratkan kepalan tinjunya yang membuat keramik lantai hancur. Ji Min juga menyadari kalau penyusup yang dibawa Mizali bukan hanya pria bertubuh besar itu, menyiapkan jarum peraknya di sela jari tangannya yang memegang trisula.

Saat Haku berhasil merubuhkan pria bertubuh besar itu dengan sekali serang saat ia merangkul Yona, penyusup lainnya menghampirinya sehingga Haku mendorong Yona ke belakangnya "maaf, akan kuselesaikan ini dengan cepat... Ji Min, tetaplah di samping mereka berdua dan pastikan Sakuya tak melihat darah...".

"roger", Ji Min melemparkan jarum peraknya tepat ke dahi atau leher mereka yang mencoba mendekatinya, sesuai instruksi Haku, ia terus membentengi Yona yang menggendong Sakuya.

Melihat betapa kuatnya Haku, Mizali terkejut dan bergumam siapa sebenarnya Haku, Vold dan Algira merasa takjub melihat betapa kuatnya Haku. Saat Yona memberitahu Haku bahwa ia merasa ada bau minyak, Algira menyadari ini ulah Mizali yang membakar mansion ini. Haku dan Vold meminta Algira pergi mencari Tao secepatnya sementara mereka menahan penyusup dan Mizali di tempat ini. Api menyebar dengan cepat, sehingga mereka bergegas kabur keluar mansion setelah Mizali kabur. Berkat Zeno yang menahan pilar, Algira berhasil melarikan Tao dari mansion yang terbakar.


Tao baru saja membelikan baju untuk Zeno dan ia menyadari Yona tak ada di tempat "omong-omong, dimana Yona-san dan yang lain?".

"Yona dan Haku pergi membawa Sakuya jalan-jalan keliling kota".

"hanya bertiga? Bisa bahaya jika ketahuan bahwa mereka warga kerajaan Kouka, aku akan ikut pergi" ujar Tao yang lalu ditahan oleh Vold.

Jae Ha meyakinkan bahwa tak masalah karena Haku bersama mereka berdua lagipula Jae Ha bisa menjemput mereka nanti.

"tenang saja, mereka takkan dicurigai jika membawa Sakuya, normalnya orang takkan mengira pasangan yang membawa bayi sebagai penyusup" tambah Ji Min yang tiba-tiba menjulurkan kepalanya keluar jendela dan memuntahkan makanannya.

Jae Ha mengelus-elus punggung Ji Min "hei, masuk angin? sudah minum obat?".

Ji Min menutupi mulutnya dan mengangguk "sepertinya... dari kemarin rasanya panas dingin dan mual... tapi tak masalah...".

Begitu Yona dan Haku kembali, mereka memberitahu bahwa Kou Ren dan pasukannya tiba di Sansan. Hanya menunggu waktu sampai para pasukan Kou Ren selesai membuat perkemahan militer di tanah lapang yang ada di tepi kota Sansan. Yona melihat Kou Ren menyayangi warga kerajaan Xing dan itu membuatnya heran, kenapa Kou Ren memilih untuk memulai perang?

Tao memberitahu apa yang terjadi 17 tahun lalu, apa yang dilakukan Yu Hon menjadi pemicu kebencian Kou Ren karena apa yang disaksikan Kou Ren yang masih berusia 10 tahun saat itu merupakan hal yang tak bisa dimaafkan, baik sebagai warga negara maupun sebagai manusia.

"jika dia memerintah secara lalim atau bahkan menjadi seperti paman Yu Hon, tentu aku akan melawan, tapi yang kita butuhkan saat ini bukanlah balas dendam...".

Yona teringat ucapan Yohime saat itu setelah mendengar apa yang dilakukan Yu Hon "kakak, sebenarnya... sejauh apa yang kau ketahui?".

Malamnya, Jae Ha bersama Kija, Shina dan Zeno berniat mencaritahu kondisi kota dan kalau perlu, mencari persediaan untuk kabur kembali ke Kouka sementara Ji Min mengasuh Sakuya bersama Yona dan Haku menjaga mereka. Beberapa saat kemudian, Yun merasa Kija dan yang lain terlalu lama sehingga ia pergi keluar untuk membawa mereka kembali.

Ji Min yang baru saja kembali dari kamar mandi pasca memandikan Sakuya sekaligus pergi ke dapur, mencari susu pengganti untuk Sakuya meminta Yona dan Haku menenangkan Sakuya "Yona, Haku, Sakuya rewel lagi sejak tadi".

"pa..." isak Sakuya sehingga Haku menggendongnya karena mengira Sakuya memanggilnya "kenapa?".

"pa... man..." isak Sakuya.

Yona dan Haku saling bertatapan, ini pertama kalinya mereka mendengar Sakuya menyebutkan kata 'paman'. Saat seorang prajurit masuk dan memberi kabar atas apa yang terjadi pada teman-teman mereka, baru mereka mengerti apa maksud Sakuya, Sakuya pasti melihat apa yang telah terjadi pada Yun, Kija, Shina, Jae Ha dan Zeno yang kini dibawa Yotaka ke mansion tempat Kou Ren berada. Algira sempat ingin pergi menyelamatkan mereka namun Tao menahannya karena Tao sendiri yang akan pergi menemui Kou Ren.

"Yona-san, meski harus dibayar dengan nyawaku, aku pasti akan mengembalikan teman-teman kalian kembali ke Kouka, kalian bertiga harus secepatnya melarikan diri dari kerajaan Xing, ini demi Sakuya juga", Tao membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf karena merasa ini salahnya yang sejak awal membawa mereka ke kerajaan Xing.

"aku takkan mencegah apa yang kau lakukan, tapi kau tahu resikonya, kan? hanya satu yang akan kukatakan padamu sebagai nasihat terakhirku, jangan melakukan kebodohan yang sama denganku...".

"aku tahu apa yang harus kulakukan, kak... dan hanya ini yang bisa kulakukan..." pikir Yona membuka matanya dan menatap Tao "Tao Hime, sebelumnya aku memiliki permintaan".


Di mansion tempat Kou Ren berdiam, Kou Ren dan Neguro mendengar keributan dari luar. Tao masuk bersama Vold dan Algira. Melihat perdebatan antara Kou Ren dan Tao, Yona sadar ini takkan ada habisnya sehingga ia memotong pembicaraan dan maju ke depan Tao.

"aku datang kemari dari kerajaan Kouka, teman-temanku yang kau tahan bahkan tak melawan atau membalas serangan di kota, dan mereka benar-benar tak memiliki hubungan dengan Soo Won", Yona melepaskan tudung jubahnya "tapi akulah yang memiliki hubungan dengannya".

Kou Ren menatapnya curiga "...siapa kau sebenarnya?".

"aku putri kandung mendiang raja Il, Yona".

Kou Ren, Tao, Algira, Vold dan Neguro terkejut mengetahui siapa Yona sebenarnya. Setelah Yona meminta maaf pada Tao karena tak memberitahunya, Kou Ren teringat cerita ayahnya soal Hime-sama kerajaan Kouka, putri kandung mendiang raja Il yang terlahir kembar dimana si kakak bernama Yohime memiliki warna rambut pink keunguan seperti kelopak bunga Sakura sedangkan si adik bernama Yona memiliki warna rambut merah bagai api yang berkobar.

"jadi kau benar-benar datang kemari atas perintah Soo Won?".

Yona menyangkalnya dengan mengatakan fakta yang sebenarnya terjadi bahwa Soo Won telah membunuh ayahnya, ia dan Haku dikejar oleh para prajurit dari kastil dan yang menyelamatkan mereka berdua yang berkeliling kerajaan Kouka adalah teman-temannya yang ditahan Kou Ren "akan kutekankan satu hal, aku sama sekali tidak akan bertindak sesuai keinginan Soo Won. kumohon, kembalikan Yun dan ke-4 ksatria naga karena mereka keluargaku yang berharga dan aku tak ingin kehilangan mereka terlebih setelah aku dan Haku harus kehilangan kakak kami".

Kou Ren tentu mengetahui soal putri kandung raja Il yang terlahir kembar yang juga dilindungi oleh pengawal kembar "...apa yang terjadi pada kakak kembar kalian?".

Yona menatap Haku dan Ji Min yang berdiri di belakangnya, Haku menganggukkan kepalanya, ia dan Ji Min maju hingga mereka berdiri di samping Yona. Mereka semua sudah sepakat untuk memberitahu bahwa Hakuya meninggal saat menahan para prajurit kastil Hiryuu dan berusaha melarikan Yohime, Yona dan Haku sedangkan Yohime meninggal setelah ia terjatuh ke jurang di pegunungan Utara jika ada yang bertanya tentang apa yang terjadi pada Yohime dan Hakuya demi menjaga nama baik mereka berdua di hadapan orang-orang yang tak mengetahui bahwa Yohime berhasil bertahan hidup pasca jatuh dari jurang. Mereka sudah menyiapkan alasan lain bagi mereka yang sudah terlanjur mengetahui bahwa Yohime berhasil bertahan hidup pasca jatuh dari jurang di pegunungan Utara atau terlanjur melihat Sakuya.

Setelah Haku menyingkap kain jubahnya dan menyerahkan Sakuya yang ia gendong ke tangan Yona, Kou Ren terbelalak melihat bayi yang digendong Yona "...anak itu?".

Yona mengelus kepala Sakuya yang menatap Kou Ren "anak kakakku...".

"dengan kakakku... pada hari ulang tahun Yohime-sama yang ke-16 tahun, mendiang raja Il menikahkan kakak kami berdua, rencananya pernikahan mereka berdua akan diumumkan pada keesokan harinya tapi malam itu, Soo Won membunuh raja Il...", Haku menundukkan kepala "setelah Hakuya menyerahkan Yohime-sama dan Yona-sama padaku, demi melarikan kami bertiga, Hakuya menahan para prajurit Soo Won yang mengejar kami dan tertangkap. Saat berada di pegunungan Utara, salah satu bawahan Soo Won yang mengejar kami memberitahu kematian Hakuya".

"Yun, salah satu rekan kami yang kau tahan menemukan kami bertiga yang tergeletak di bawah jurang, Haku hampir mati karena berusaha melindungi kami berdua saat kami jatuh dari jurang sedangkan kakakku hampir keguguran... ajaib, mengingat kakak dan janinnya masih sanggup bertahan setelah jatuh dari jurang setinggi itu, tapi karena kakak hampir keguguran, kondisi tubuhnya melemah dan setelah melahirkan Sakuya, kakakku menyusul kepergian Hakuya...", Yona menggenggam erat tangan Haku, menghentikan ucapannya sebelum kembali menatap Kou Ren dengan sorot mata penuh kesedihan "dan kau pikir... setelah membuatku dan Haku harus kehilangan kedua kakak kami... setelah membuat Sakuya harus kehilangan kedua orang tuanya... kau pikir aku sudi bekerja sama dengan Soo Won?".

Kou Ren menunjuk Sakuya "tunggu, ini baru bulan November dan kau mau bilang kalau anak yang kau gendong adalah anak kakak kalian?".

"Yohime-sama melahirkan Sakuya-Hime secara prematur, aku yang membantu persalinannya sebelum aku gagal menyelamatkan beliau sebagai dokter. Kondisi tubuh Yohime-sama saat itu sudah sangat lemah dan yang membuat nyawanya bertahan hanya keinginannya untuk tetap bertahan hidup sampai ia berhasil melahirkan anak mereka" sahut Ji Min.

"aku turut berduka, sekarang... aku punya satu pertanyaan, apa kau membenci Soo Won?".

"jika iya, memangnya kenapa?".

Kou Ren memberi penawaran pada Yona agar Yona mau bekerja sama dengannya namun Yona menolaknya "kenapa? kau takut padanya? oi, pengawal, bagaimana denganmu? kau tak ingin membalas dendam kematian mendiang kakakmu dan mendiang raja?".

"saat ini, sama sekali tak ada yang lebih penting bagiku ketimbang menyelamatkan mereka..." sahut Haku.

"aku tak bisa ikut membantumu dalam perang karena warga kerajaanku dan warga kerajaanmu tak seharusnya jatuh ke dalam jurang keputusasaan... terlebih...", Yona menundukkan kepala sebelum kembali mendongak "jika kakakku masih hidup, aku yakin ini jugalah yang akan ia pilih".

Akhirnya Yona meminta waktu pada Kou Ren, selama Yona bernegosiasi dengan Soo Won, ia ingin Kou Ren menahan pasukannya sehingga Kou Ren menyetujuinya, Kou Ren akan tetap mempersiapkan prajuritnya tapi ia akan menahan diri untuk tak memulai perang sampai Yona kembali. Selama itu, teman-temannya yang ditahan Kou Ren menjadi tawanan. Jika Soo Won menyerang lebih dulu atau Yona mengkhianatinya, tawanan akan dibunuh dan immortal akan disiksa.

Setelah Yona berkata kalau ia akan segera kembali pada Tao, Tao menangis sambil memegang erat kedua tangan Yona; berjanji kalau ia akan melindungi Yun dan ke-4 ksatria naga. Setelah Tao meminta Algira dan Vold ikut pergi dengan Yona dan melindungi Yona, saat mereka akan pergi, entah kenapa Ji Min tetap diam di tempatnya.

"...aku akan tinggal bersama Tao Hime".

Yona terkejut dan berbalik "Ji Min?!".

Saat Algira mengajaknya pergi bersama mereka, Ji Min memegang kedua tangan Algira "aku akan menjaga Tao Hime, tapi sebagai gantinya, tolong jaga mereka bertiga".

Algira mengangguk "...baik".

Ji Min berbalik menatap Kou Ren "kudengar beberapa dari teman-teman kami yang anda tahan terluka parah... sebagai dokter, aku harus mengobati mereka yang terluka, silahkan jika anda ingin memasukkanku dalam kurungan juga tapi biarkan aku mengobati mereka... tak seperti Zeno yang immortal, ke-4 orang lainnya yang kau tahan masih manusia yang bisa mati".

Kou Ren mengangkat bahu "terserah, bertambah satu tawanan takkan mengubah situasi".

Haku memegang lengan Ji Min "Ji Min!? ini bukan saatnya bersikap egois?!".

"Haku, kumohon, kali ini saja, izinkan aku bersikap egois...", Ji Min memeluk Haku dan Yona sebelum tersenyum sendu sambil memegangi perutnya "berjanjilah padaku kalau kalian pasti akan kembali dengan selamat, demi kami bertiga, aku, ayahnya dan anak ini...".

Yona menutupi mulutnya "Ji Min, kau...".

"aku hanya bisa bilang, ini keajaiban... seharusnya aku tak bisa mengandung, tapi kini... aku mengandung anak dari pria yang kucintai, aku tak bisa membiarkan anak ini jauh dari ayahnya atau terjadi sesuatu pada anak ini dan ayahnya... maafkan keegoisanku kali ini... sebab jika aku pergi meninggalkannya disini dan terjadi sesuatu padanya saat aku ikut bersama kalian, maka aku pasti akan sangat menyesal...", Ji Min tersenyum sedih dan memegang wajah Haku dan Yona "karena itu, kembalilah, dan kali ini aku tak akan kehilangan satupun dari kalian anak-anakku, ayah anak ini, sahabat kita dan keluargaku...".

Andai saja situasinya tidak segenting ini, mungkin mereka akan dengan senang hati mendengar Ji Min akhirnya mengandung, Ji Min tengah mengandung anak Jae Ha meski mereka belum menikah.

Yona memeluk Ji Min dengan mata berkaca-kaca "bagiku kau ibuku juga... karena itu, apapun yang terjadi, pastikan kau tetap hidup!? jangan menyerah!?".

Setelah Yona melepaskan pelukannya, Haku menghela napas dan menggaruk kepala, memeluk Ji Min setelah menyerahkan Sakuya pada Yona dan berbisik "nanti izinkan aku memukulnya sekali karena membuatmu hamil sebelum kalian berdua menikah... urutannya terbalik, tahu?".

Ji Min tertawa mendengar ucapan Haku "sudahlah, kau juga, jaga mereka berdua baik-baik".

Setelah Yona dan Haku membawa Sakuya pergi bersama Vold dan Algira, Tao menggenggam tangan Ji Min "dia di bawah perlindunganku, kak, jadi jika terjadi sesuatu padanya...".

"aku tahu...", Kou Ren melirik Neguro "antarkan dokter ini ke sel tempat mereka ditahan, dan setelah dia selesai mengobati teman-temannya, bawa dia menemui dokter untuk memeriksa apa dia benar-benar hamil atau tidak dan kunci dia di kamar yang sama dengan Tao jika wanita ini memang sedang hamil, aku tak bisa membiarkan wanita yang sedang hamil tidur di dalam sel".

Ji Min terkekeh dan memegangi perutnya "baik hati sekali? meski aku tak keberatan jika harus tidur di dalam sel karena ayah dari anak ini ada disitu juga...".

"aku juga wanita, dan aku tak setega itu membiarkan wanita yang sedang hamil tidur di sel yang dingin", Kou Ren memalingkan wajahnya, teringat pada Yona dan penasaran, bagaimana dengan kakaknya, Yohime yang sudah meninggal? ia menyayangkan karena ia tak sempat bertemu dengan Yohime dan ia ingin melihat panah Yona sekali lagi.


Yun terus berteriak dari dalam sel dan meminta tasnya dikembalikan karena ia ingin mengobati Jae Ha dan Kija yang terluka semenetara peralatan medis miliknya ada di dalam tasnya, Mizali datang dan memintanya diam karena menganggap Yun berisik. Setelah memberitahu situasi yang terjadi di luar barusan, saat Zeno mengiyakan permintaan Mizali untuk memperlihatkan kemampuan regenerasi Zeno, terdengar suara langkah kaki di belakang Mizali.

Neguro menjitak Mizali sekuat tenaga "sudah kubilang, jangan bertindak seenaknya, kan?".

Mizali mengelus kepalanya "aduh... tapi senpai sedang apa disini?".

"aku kemari untuk mengantar wanita ini atas perintah Kou Ren Hime...", Neguro menunjuk ke belakangnya dan menarik Mizali menjauh.

Ji Min berlari melewati Neguro dan duduk di depan sel sambil mengeluarkan peralatan medis miliknya yang ia simpan di tas pinggangnya "astaga, luka kalian... kenapa bisa jadi begini?".

"kau ngapain disini!?" pekik Yun.

"mana Yona-chan dan Haku?" tanya Jae Ha.

"diamlah, biarkan aku mengobati kalian", Ji Min men-chop kepala Jae Ha sebelum meminta Kija dan Jae Ha mendekat.

Setelah ia selesai mengobati Kija, saat Ji Min membalutkan perban di kepala Jae Ha, Jae Ha kembali bicara "Ji Min, kenapa kau malah memilih untuk tetap tinggal disini? Masih ada Yun yang bisa mengobati kami".

"aku sengaja tinggal setelah mendengar kalian terluka parah dan ini jawabanmu? Setelah kau membuatku khawatir setengah mati... aku tak percaya ini, kau pikir bagaimana perasaanku... saat mendengar kalian diserang di tengah jalan dan terluka parah, hah!?", Ji Min mengerutkan kening dan memukul jeruji sel yang terbuat dari kayu "jika tak ingin aku mencemaskan kalian, jaga diri kalian baik-baik, anak-anak bodoh!?".

Mizali dan Neguro yang menunggu beberapa meter di depan sel melihat ke arah sel, meski tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tentu saja mereka berdua masih bisa mendengar keributan yang terjadi sehingga mereka berdua memperpendek jarak sampai mereka mampu mendengar percakapan mereka.

Melihat Ji Min menundukkan kepala dengan wajah siap menangis, Jae Ha memegangi jeruji kayu itu dengan tangan bergetar sebelum memegang wajah Ji Min, ia tak bermaksud membuat Ji Min berekspresi begitu dan ia tak mengira reaksi Ji Min akan sekeras ini "maafkan aku... aku takkan mati semudah itu, kau tahu, kan? tapi bagaimana dengan Sakuya-chan, Haku dan Yona-chan? kau ingat apa yang terjadi saat Haku bertemu Soo Won, kan? dia hampir membunuhnya jika bukan karena Yona-chan yang menghentikannya setelah kami menahannya, tapi sekarang berbeda... apalagi mereka membawa Sakuya-chan...".

"aku mengerti, ini hanya keegoisanku, tapi kau pikir seberapa takutnya aku...", Ji Min menyeka air matanya dan mengerutkan kening "sejak mendengar... bahwa sebagai ganti kekuatan kalian sebagai ksatria naga, kecuali Zeno, kalian akan memiliki masa hidup yang pendek... baru saja aku menyadari perasaanku dan berpikir... aku hanya ingin bersamamu, tapi kenapa... kenapa orang-orang yang kusayangi terus meninggalkanku? kenapa takdir begitu kejam?".

Jae Ha terbelalak dan menyeka air mata yang membasahi wajah Ji Min "...apa kau memberitahu Yona-chan dan Haku?".

Ji Min menggelengkan kepala dan menyeka air matanya "mana bisa aku memberitahu mereka berdua, kan?".

Jae Ha tersenyum sendu "baguslah, tapi izinkan aku mengetahui dua hal... kenapa kau memilih untuk tetap tinggal dan apa yang kau rasakan setelah mengetahui hal itu? kau membenciku karena mungkin aku akan pergi meninggalkanmu lebih dulu?".

"jika aku ikut dengan mereka dan terjadi sesuatu padamu saat aku tak ada disisimu, aku pasti merasakan hal yang sama dengan Yohime-sama... aku tak ingin merasakan kegelisahan karena jauh dari pria yang kucintai dan aku tak ingin... anak yang kukandung mengalami nasib yang sama dengan Sakuya-Hime...", Ji Min menyeka air matanya yang sulit berhenti "karena itulah, aku harus memastikan tak satupun dari kita berdua yang akan mati... kita tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, kan? bahkan setelah anak ini lahir... meski kau akan meninggalkanku lebih dulu... aku ingin tetap bersamamu...".

Yun melongo, menunjuk Ji Min dan Jae Ha bergantian "tunggu... apa yang... maksudmu kau... dan ayahnya...".

"aku belum pikun, malam itu kita memang sama-sama mabuk tapi seorang wanita pasti tahu... siapa ayah dari anak yang ia kandung", Ji Min memegangi perutnya dan sebelah tangannya memegang wajah Jae Ha "jika kau meninggalkanku seperti yang dilakukan Hakuya, aku takkan memaafkanmu...".

Jae Ha memegang telapak tangan Ji Min yang terasa panas "sejak kapan...".

Ji Min melirik ke arah lain "terhitung sejak malam terakhir kita bersama sebelum esok harinya kalian menitipkan Sakuya bersamaku dan meninggalkan kami di kuil tempat ayahku... kau lupa apa yang terjadi malam itu?".

"mana mungkin lupa... tapi kenapa tak bilang dari kemarin?!" protes Jae Ha.

"mana bisa kalau situasi kita sedang genting begini?! lagipula aku tak ingin kau terbebani oleh anak ini karena merasa kebebasanmu terenggut, jadi tak masalah kau tahu atau tidak, yang jelas aku akan tetap membesarkan anak ini meski harus seorang diri?!", Ji Min berdiri dan berbalik memunggungi Jae Ha, namun langkahnya terhenti karena Jae Ha menggenggam erat tangannya "kau tak perlu khawatir, aku pasti bisa mengasuh anak ini meski seorang diri... aku hanya ingin memberitahumu... tak perlu merasa bersalah dan tak perlu bertanggungjawab padaku...".

Entah karena shock atau karena emosi yang menguras tenaga, Ji Min tak sadarkan diri tepat di tangan Jae Ha yang mengulurkan kedua tangannya untuk menahan Ji Min "Ji Min!?".

Kou Ren yang menyusul mereka datang bersama dokter, memegangi bahu Ji Min dari belakang "sudah kuduga, untung aku membawa dokter bersamaku...".

Setelah dokter memeriksanya, dokter memberitahu bahwa kelelahan fisik yang dialami Ji Min dipengaruhi oleh shock dan stress, dan yang Ji Min perlukan untuk saat ini adalah istirahat.

"tunggu dulu, mau kau bawa kemana teman kami?" ujar Kija saat Kou Ren meminta Neguro membawa Ji Min.

"tenang saja, meski kalian berasal dari kerajaan Kouka, aku tak setega itu sampai membunuh wanita yang sedang hamil tanpa alasan, tapi... ternyata dugaanku benar, aku sudah curiga... dia memang hamil di luar nikah, rupanya?", Kou Ren menyeringai menatap Jae Ha setelah mendengar percakapan barusan "sebenarnya ini memang bukan urusanku, tapi apa mungkin... Yohime Oohime-sama dan pengawalnya Hakuya juga...".

"satu peringatan dari kami... jangan meremehkan atau menghina teman kami" ujar Kija bersiap mengeluarkan cakarnya.

"dan satu peringatanku... terhitung sejak malam itu, dia istriku dan dia mengandung anakku... jika terjadi sesuatu padanya atau anak kami, kalian akan rasakan kemarahan naga terbang", Jae Ha menatap mereka dengan sorot mata yang tajam "aku memang jarang marah, tapi jika sekali saja kalian membuatku marah karena terjadi sesuatu pada orang yang kucintai... akan kubuat kalian merasakan akibatnya...".

Kou Ren memalingkan wajahnya "akan kuingat itu".

Melihat Ji Min dibawa pergi, Jae Ha memukulkan kepalan tinjunya ke tanah "aku bahkan tak bisa melindungi wanita yang kucintai... tak sepantasnya aku bicara buruk tentang Hakuya...".