BECAUSE YOU ARE MINE
—BETH CERY—
Remake Dari Novel Dengan Judul Yang Sama.
KIM JONGIN—OH SEHUN
It's HUNKAI.
Previous
"Hebat Jongin," Sehun berteriak, emosinya meninggi, membingungkannya, ketika ia menyadari Jongin akan orgasme lagi.
Sehun meledak ke tenggorokannya, meraung saat kenikmatan yang hebat merobek tubuhnya. Meski begitu, Sehun masih sadar untuk menarik mundur, klimaks sambil terus mendorong di lidah Jongin. Wajahnya terlihat tegang saat ia mengamati Jongin, tak mampu berpaling dari gambaran memukau dari pipi Jongin yang berwarna merah muda, ekspresi tak berdaya di mata gelapnya yang berkilau saat Jongin menyerah pada kenikmatan karena memberikan kepuasan luar biasa kepada Sehun.
BAB 37
Tenggorokannya yang ramping mengejang saat Jongin menelan.
Sehun terus gemetar dan ejakulasi, tak mampu menghentikan gelombang kenikmatan meskipun Jongin nampak kewalahan menerima ejakulasi Sehun. Kecurigaannya terbukti ketika Jongin mengerang, jepitan pada kejantanannya melonggarkan sejenak, dan beberapa dari spermanya tumpah dari sudut bibir Jongin.
Sehun tersentak tak terkendali dan menutup rapat matanya, sentakan tajam dari klimaks berikutnya mengguncang tubuhnya, memori tentang Jongin terbakar ke dalam otaknya. Bagaimana mungkin gadis sepolos ini membuatnya begitu tak berdaya, mengulitinya hingga ke tulang, membalikkan dirinya dari dalam ke luar sampai ia merasa begitu liar, begitu telanjang, begitu terekspos saat Sehun menuntut Jongin menjadi miliknya?
Pikiran liar itu membuat Sehun membuka kelopak matanya. Tangan Sehun meraih—melepaskan rambut merah keemasan dari jepit rambut di belakang kepala Jongin. Menggerai sulur lembut jatuh ke sekitar pundak Jongin yang putih dan menyapu pipinya. Matanya seperti suar yang gelap. Sehun menunduk menatap kecantikan erotis Jongin seolah Jongin adalah hal pertama yang orang buta lihat ketika baru saja sembuh dari penyakitnya.
Sehun perlahan menarik ereksinya dari mulut Jongin. Hisapan Jongin yang terus menerus menyebabkannya suara letupan basah terdengar saat Sehun menarik kejantanan dari mulutnya. Sehun menutup matanya sebentar karena terpisah dari kehangatan bibir Jongin.
Tak satu pun dari mereka yang bicara saat Sehun membantu Jongin berdiri dan membuka borgolnya. Jongin merintih pelan saat Sehun mematikan vibrator.
"Aku menyetelnya terlalu tinggi untukmu," kata Sehun, suaranya datar bahkan untuk pendengarannya sendiri, mungkin karena ia tahu kalau ia berbohong. Vibrator itu diatur tidak terlalu lemah atau kuat.
Jongin orgasme berulang kali saat ia menggunakan mulut Jongin untuk kenikmatannya, karena ia begitu manis dan begitu responsif dan—lebih dari yang Sehun perkirakan atau rencanakan.
Sehun berhenti saat melonggarkan tali pada vibrator tanpa kendali tangan.
"Sehun?" Tanya Jongin. Sehun mengerjap saat ia mendengar suara serak Jongin.
"Ya?" Tanya Sehun, menghindari tatapan Jongin sambil terus menaruh kembali alat-alat yang ia bawa ke kamar ke dalam tas.
"Apakah… semuanya baik-baik saja?"
"Semuanya luar biasa. Sekali lagi kau melampaui harapanku."
"Oh... karena... kau terlihat seolah… tidak senang."
"Yang benar saja," kata Sehun pelan, mengatur kembali pakaian dan menutup resliting celananya. Sehun menatapnya, memutuskan untuk mengabaikan kecantikan Jongin yang mencolok dan ekspresi kebingungan di mata gelapnya. "Kenapa kau tidak mandi di sini, dan aku akan menggunakan kamar mandi lain? Setelah itu, aku akan memesan makan malam untuk kita."
"Oke," kata Jongin, ketidakpastian dalam suaranya memtong kata-kata Sehun. Meski begitu, tak peduli seberapa tajam ucapan itu menyengat, Sehun berjalan keluar ruangan. Sehun tiba-tiba berhenti dan berbalik, kendali dirinya terputus. Jongin tidak bergerak. Sehun mengulurkan lengannya.
"Kemarilah," kata Sehun.
Jongin bergegas melintasi ruangan. Sehun memeluk Jongin dengan erat, menghirup wangi rambutnya. Payudara Jongin yang penuh dan erotis menekan tulang rusuknya. Sehyn ingin mengatakan padanya betapa indah kejadian yang baru saja terlewat—betapa hebatnya Jongin—tapi karena suatu alasan, jantungnya berdetak keras dengan tidak nyaman. Sehun tidak senang bagaimana ia merasa terekspos di saat-saat akhir—menjadi lemah oleh kebutuhan akan Jongin.
Meski begitu, bibir Jongin sangat menggodanya. Sehun mencium Jongin dengan hati-hati, tahu bahwa Jongin mungkin masih merasa nyeri. Napas manisnya pada mulut Sehun membuatnya ingin membawa Jongin ke ranjang dan menghabiskan malam dengan bibir dan hidungnya terkubur pada kulit lembut dan kulit wangi Jongin.
Khayalan untuk melakukan hal itu mengganggu Sehun.
Sebagai gantinya, Sehun memberikan ciuman terakhir dan melepaskan pelukannya, perlu membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih punya kemampuan untuk pergi menjauh.
Keesokan paginya, Jongin meletakkan pil di lidahnya dan meneguk air diantara bibirnya, kemudian menelannya. Jongin menatap dirinya sendiri di kaca kamar mandi, berpaling dengan cepat saat ia melihat bayangannya sendiri. Melihat dirinya meminum pil kontrasepsi yang ia bawa, memori kemarin malam datang kembali padanya dalam gambaran yang jelas: Sehun membawanya makan malam pribadi untuk dua orang dengan pemandangan romantis yang memukau, Jongin bingung oleh sikap acuh tak acuh Sehun, respon tajam Jongin pada penarikan diri Sehun bahkan ketika Sehun nampaknya begitu khawatir—Mereka bertengkar dan Sehun pergi.
Kenapa dia mesti repot-repot untuk meminum pil kontrasepsi setelah mengetahui bagaimana Sehun berperilaku tadi malam? Jongin benar-benar gila karena menyetujui petualangan beresiko ini bersama Sehun—keduanya sungguh gila dan marah. Kebodohan Jongin nampak begitu jelas sejak pertama kali Sehun pergi setelah pengalaman erotis yang mengagumkan dan intim kemarin.
Bagaimanapun juga itu adalah pengalaman luar biasa erotis dan intim bagi Jongin. Sehun pasti mempertimbangkannya untuk menjadi bagian dari pembelajaran.
Atau contoh lain dari pelayanan bagus yang ia terima.
Kemarahan Jongin berkobar karena memikirkannya.
Memang benar, Sehun menghabiskan waktu dengannya setelah mereka—melakukan apa yang mereka lakukan—Jongin tak tahu istilah tepatnya. Jongin ingin mengatakan bercinta, tapi Sehun jelas tidak setuju. Setelah Sehun mengajari Jongin bagaimana memberinya kepuasan dengan mulutnya? Setelah membuat satu sama lain orgasme? Setelah Sehun membuat Jongin kehilangan akalnya oleh gairahnya sendiri hingga sekarang sulit untuk menatap bayangan sendiri di cermin?
Sehun tidak hanya menghabiskan waktu bersamanya, menurut pengamatan orang awam, Sehun memperlakukannya dengan memberi pengalaman-sekali-seumur-hidup.
Setelah mereka berdua mandi di kamar mandi terpisah semalam, Sehun muncul lagi, terlihat sangat tampan dengan memakai celana abu-abu yang menonjolkan kakinya yang panjang dan pinggangnya yang ramping, kemeja biru muda berkancing dan jaket sport.
"Apa kau siap? Kita akan makan malam di Le Cinq," Kata Sehun, berdiri di pintu masuk kamar tidur suitenya.
Jongin terkesiap dan menatap dirinya sendiri dengan khawatir.
"Kupikir kita memesan makanan di suite ini. Aku tidak bisa pergi ke Le Cinq berpakaian seperti ini." Jongin berseru, mengingat semua yang pernah ia baca dan dengar tentang restoran eksklusif di hotel itu. Kenapa Sehub merubah rencana mereka? Dia bilang mereka hanya akan memesan makanan. Mungkin Sehun pikir suasana di suite pribadi ini terlalu intim?
"Tentu saja kau bisa," Kata Sehun, gaya bicaranya seperti kaum ningrat Inggris. Sehun mengulurkan lengannya penuh harap sebelum ia mengetahui ketidaksetujuan Jongin. "Aku sudah memesan tempat pribadi di luar teras untuk kita."
"Sehun, aku tidak bisa. Tidak seperti ini," protes Jongin, menyapukan tangannya menunjuk pakaian yang ia kenakan.
"Tentu kau bisa," Kata Sehun, memberinya pandangan geli. "Kita tidak akan dilihat oleh pelanggan restoran yang lain. Dan jika ada seseorang yang mengamati kaos baseball Chicago Cubs-mu, aku akan berurusan dengannya secara pribadi."
Apa yang Sehun katakan sangat melegakan bahkan manis, namun dengan kepedulian Sehun yang mulai tumbuh, Jongin merasa bahkan Sehun masih menjaga jarak setelah pengalaman erotis yang mereka lakukan sebelumnya.
Jongin sangat ragu, namun ia buru-buru memakai sepatu atas pemintaan Sehun, dan meraih tangannya. Jongin mengikuti Sehun masuk lift dan menyusuri koridor, sepanjang waktu Jongin mendesis protes karena khawatir kalau mereka akan mengusirnya keluar dari restoran mewah itu karena memakai celana jeans dan kaos. Sehun tidak pernah menjawab, hanya membimbing Jongin tanpa bicara.
Pelayan restoran mewah itu tersenyum menyambut Sehun layaknya teman lama. Jongin berdiri canggung sementara dua pria itu berbicara bahasa Prancis dengan cepat. Berharap lantai pualam yang licin akan terbuka dan menelannya. Pelayan hanya tersenyum lebar kepadanya, bagaimanapun juga, saat Sehun memperkenalkannya, membuat Jongin tersipu saat Sehun meraih tangannya dan menyapukan bibirnya pada buku jari Jongin seolah ia adalah Cinderella di pesta dansa bukannya Kim Jongin si kikuk yang memakai t-shirt.
Beberapa saat kemudian Jongin menatap dengan mulut ternganga penuh kekaguman saat pelayan membawa mereka ke atas teras pribadi berpenerangan lilin dengan pemandangan mengagumkan dari karya seni baja dari Menara Eiffel. Dua lampu pemanas dinyalakan untuk menghangatkan malam musim gugur yang sejuk dan nyaman. Mejanya gemerlap oleh perpaduan dari nyala api, Kristal, peralatan makan dari emas dan karangan bunga hydrangea putih yang rimbun.
Jongin memandang Sehun dengan terkejut dan melihat bahwa pelayan telah pergi. Mereka berdua sendirian di teras dan Sehun menarik kursi untuknya.
TBC
annyeong, readernimㅋㅋㅋ
maaf baru bisa update sekarang, hampir satu bulan ya aku hiatusㅋㅋㅋ
untuk selanjutnya akan diusahakan fast update. tapi aku ga janjiㅠㅠ
untuk menambah semangat, review juseyo~
btw, terimakasih untuk semua yang udah review, 사랑해.
