FINAL FANTASY VERSUS


038

NYX


02.09.756 M.E. | 05.11 PM

Kepolisian mulai bertindak untuk mengusut kasus pembunuhan Crowe. Berita tentang kematian Glaive itu telah terdengar sampai ke telinga polisi bagian investigasi pembunuhan. Anjing-anjing pelacak telah dikerahkan di selokan tempat jasad Crowe ditemukan sampai beberapa meter di sekitarnya untuk mencari barang bukti untuk membongkar identitas pembunuh keji itu.

Setelah ahli-ahli forensik menyisir tempat kejadian perkara, Petugas Dustin mengunjungi Nyx di markas Kingsglaive seusai jam kerja untuk melakukan wawancara jika ada sesuatu yang janggal dari yang diingatnya. Petugas itu seorang pria yang biasa-biasa saja, usianya menjelang lima puluh tahunan dan mengenakan kemeja putih garis-garis lengan panjang berlapiskan rompi hitam, kulitnya putih, sedikit gemuk dengan kepala mulai botak, yang menggambarkan kebanyakan laki-laki di belahan dunia ini.

Di depan pria berkacamata oval itu, Nyx sungguh merasa tidak nyaman, seolah dia adalah tersangka ketika mereka saling bertanya jawab. Petugas Dustin mengajak Nyx ke gerbang barat kota untuk melihat jika ada sesuatu yang janggal atau berbeda dari yang diingatnya. Meskipun sudah sangat letih karena emosi hari ini, Nyx bertekad melakukan apapun untuk membantu dan memaksakan pikirannya untuk mencoba mengingat sedapat mungkin tentang siang terakhir dia melihat Crowe masih bergerak. Dengan cermat, supaya tidak menyentuh apapun, dia mereka ulang semua kejadian siang itu dalam ingatannya. Apapun akan dilakukannya untuk mengulangi dari awal; satu kesempatan untuk mengulangi hari ini dari permulaan. Sekalipun dia menceritakan kekonyolan ketika Crowe membuka acara salon dadakan untuk memilin jumput-jumput rambutnya dengan pita rambut di dalam van Kingsglaive.

Mempertimbangkan bahwa tidak ada gunanya berkeliling di sana, Nyx bersama kelompok polisi itu pergi lebih jauh lagi keluar Tembok, tepatnya ke pertigaan antara Tembok Insomnia dan Hammerhead di Leide. Salah satu teritori Lucis itu berupa padang gurun yang luas dan panas dengan stasiun pengisian bensin, tempat makanan cepat saji Crow's Nest dan toko reparasi tersebar di mana-mana. Mereka mengunjungi selokan yang penuh oleh air kotor dan sampah, di dekat sebuah waduk yang tidak lagi terpakai dan sebuah gubuk tua tak berpenghuni yang dinding dan atapnya jebol di sana-sini.

Sekali lagi dia berkonsentrasi pada tugasnya, tetapi tampaknya tidak ada yang berbeda dari apa yang diingatnya. Tidak ada yang berubah. Dia menghampiri van Speedy Chocobo: Cleaning Service yang digunakan Crowe siang itu untuk keluar Tembok. Motor Crowe tersimpan di dalam ruang belakang van, lengkap dengan helm full-face berwarna hitam dan sporty. Dia mulai melihat-lihat ke tanah untuk mencari barang yang bisa dijadikan bukti.

"Jika Anda berniat mencari suatu barang yang mencurigakan, kami menyarankan mulai mencarinya di tumpukan sampah," kata Dustin, menunjuk ke seonggok sampah kering dan basah di tepi selokan yang menyebarkan aroma memualkan. "Dia mungkin menjatuhkan barang bukti ketika meronta-ronta…" Dia tidak menyelesaikan perkataannya.

"Bagaimana Anda tahu bahwa dia meronta-ronta?" desak Nyx.

Petugas itu ragu-ragu, tetapi kemudian bicara, dengan enggan, "Kami menemukan bekas luka memar di kepala, pergelangan tangan, dan punggung jasad korban. Siang itu Anda, Libertus, dan sopir Speedy Chocobo adalah orang terakhir yang bertemu dengan korban. Kami telah memeriksa alibi setiap orang yang layak dijadikan tersangka, jadi kami meminta Anda untuk membantu kami."

Mendengar kata "tersangka" membuat Nyx merinding. Memang dalam setiap kasus pembunuhan, orang terakhir yang ditemui korban adalah pihak yang paling berpotensi menjadi tersangka. Libertus tidak ada di sana karena dia diinterogasi di dalam kos, mengingat kondisinya yang tidak prima untuk diajak pergi keluar Tembok. Lalu bayangan Crowe berusaha melawan seorang manusia keji terasa seperti tonjokan di perutnya. Hampir tak berdaya melawan kegelapan yang datang tiba-tiba dan hendak mencekiknya, Nyx bersandar pada dinding gubuk supaya tidak pingsan atau muntah. Saat itulah dia melihat sebuah emblem hitam terbuang di lantai bangunan tak utuh itu. Sontak dia sadar kembali, seakan-akan seseorang telah meletakkan garam amonia di bawah hidungnya.

"Punya siapa itu?" tanyanya kepada Dustin seraya menuding emblem tersebut.

"Apa yang punya siapa?"

"Emblem Kingsglaive itu! Siapa yang membuang emblem itu di sana?"

"Kami mengira itu milik Crowe. Apakah Anda hendak mengatakan bahwa emblem itu bukan milik teman Anda?"

"Aku sangat yakin," sahut Nyx tanpa ragu. "Glaive perempuan menggunakan emblem yang berbeda dari laki-laki. Karena Crowe satu-satunya Glaive perempuan, aku yakin betul bahwa emblem ini bukan miliknya, tapi seorang lelaki Glaive. Kau lihat sosok tentara berarmor ini? Dia adalah Raja Lucis Caelum I. Seharusnya kalau ini milik Crowe, yang tercantum di sana adalah Ratu Lucis Caelum VII untuk membedakan gender Glaive."

Petugas Dustin segera bicara melalui radionya. Tidak lama kemudian ahli forensik sudah kembali untuk mengamankan emblem. Dia menarik Nyx ke dekat mobil polisi dan menjelaskan, "Jika yang Anda katakan benar, kita harus mengasumsikan bahwa penyerang Crowe tidak sengaja meninggalkan emblem itu. Tuan Nyx, ini bisa menjadi berita baik maupun buruk."

"Aku tidak mengerti," kata Nyx.

Petugas itu sekali lagi ragu-ragu, mencoba memutuskan apakah dia sebaiknya memberitahukan apa yang dipikirkannya kepada Nyx. "Begini, kabar baiknya kita mungkin dapat memperoleh bukti-bukti dari emblem itu. Hanya emblem itu yang kita miliki sejauh ini, yang menghubungkan pelaku dengan tempat kejadian perkara."

"Dan kabar buruknya?" Nyx menahan napasnya.

"Ehmm, kabar buruknya. Aku tidak mengatakan bahwa ini yang terjadi dalam kasus ini, tetapi kemungkinan besar korban dibunuh oleh salah satu rekan pria dalam Kingsglaive. Kutekankan lagi, ini masih asumsi mentah. Ada pula kemungkinan bahwa emblem itu tidak sengaja terjatuh dari para Glaive yang melakukan patroli rutin di sini di masa lalu yang tak bisa kutentukan lamanya."

Seorang Glaive membunuh Crowe. Kalimat itu terngiang di dalam benaknya. Nyx mulai marah dan raut muka Dustin mengatakan dengan jelas bahwa dia menyesal telah memberitahu Nyx. Dustin menerima panggilan radio yang menghubungkannya dengan kantor lapangan IBI (Insomnia Bureau of Investigation) di Insomnia, Distrik E. Nyx menolak untuk pergi dan ikut mendengarkan ketika seorang pria memperkenalkan diri sebagai agen khusus. Dia meminta Dustin mendeskripsikan emblem itu secara terperinci. Nyx mengikuti Dustin menuju tempat yang telah disiapkan oleh tim forensik sebagai area kerja. Emblem itu telah diamankan dalam kantong plastik dan tergeletak di belakang orang-orang yang sibuk bekerja. Dia menguping saat Dustin mendeskripsikan emblem itu sedapat mungkin.

"Ini emblem Glaive berbentuk tengkorak dengan seorang Raja Lucis Caelum di bagian tengah sedang menggenggam pedang sebagai senjata."

"Tolong deskripsikan warna pada emblem itu," perintah suara di radio.

"Baiklah," kata Dustin, dengan mata menyipit. "Warna dasarnya adalah hitam, tapi keperakan untuk sosok Raja dan ukiran huruf-huruf Kingsglaive. Pada bagian armor Raja itu ada goresan seperti terkena cakar dari kuku yang panjang. Apakah bisa dimengerti?"

Ada jeda sejenak. "Apakah Anda yakin ada bekas cakar di sana?"

"Ya, Pak, ada bekas cakar." Dia mengangkat kepala dan melihat Nyx, yang telah bergeser ke hadapannya supaya dapat melihat emblem itu dengan lebih jelas, menatap matanya, dan mengangkat bahunya seolah-olah hendak berkata bahwa siapa peduli ada bekas cakar karena setiap hari Glaive berurusan dengan Behemoth yang memiliki kuku-kuku tajam. Bisa jadi goresan itu berasal dari satu dari ribuan pertempuran di Tembok.

"Baiklah jika demikian, petugas Duster…"

"Dustin, Pak, Dustin Ackers." Dia memandang Nyx dan memutar-mutar matanya.

"Maaf, petugas Dustin. Tolong Anda balik emblem itu dan katakan kepadaku apa yang terdapat di sana."

Dustin membalik kantong berisi emblem itu dan memeriksanya dengan cermat. "Ada lem perekat dan dua-tiga helai rambut kusut tertempel di sana, Agen Khusus… uh, aku belum mengetahui nama Anda."

"Pruvia Colpus, panggil saya Pruvia saja. Rambut di sana, apa warnanya?"

"Coba kulihat. Kurasa ini coklat, sulit melihatnya dengan jelas dari balik kantong plastik."

Ada kesunyian di ujung lain. Nyx berbisik kepada Dustin, "Tanyakan kepadanya mengapa atau apa artinya." Dustin ragu-ragu, tetapi kemudian menurut. Sekali lagi ada kesunyian yang panjang di ujung lain.

"Pruvia, apakah Anda masih di sana?"

"Yeah, aku masih di sini." Tiba-tiba suaranya terdengar lelah dan tanpa semangat. "Hei, Dustin, apakah kau berada di tempat yang aman di mana kita bisa bicara tanpa ada yang mendengarkan?"

Nyx mengangguk dengan tegas dan Dustin menangkap maksudnya. "Tunggu sebentar." Dia meletakkan kantong berisi plastik itu dan berjalan keluar area kerja, membiarkan Nyx mengikutinya. Lagipula Dustin sudah kepalang tanggung melanggar peraturan dengan Nyx. "Ya, sekarang sudah aman. Jadi katakan kepadaku mengapa detail cakar dan rambut ini sedemikian penting," desaknya.

"Kami sedang berusaha mengungkap pengkhianat dalam Kingsglaive, menginterogasi setiap Glaive yang pernah keluar Tembok untuk berpatroli. Dari hasil otopsi almarhum korban, kami menemukan noda keperakan pada tiga kuku jari tangan kanannya."

"Bagaimana dengan sopir van Speedy Chocobo? Kami mendapatkan deskripsi yang jelas tentang van kuning yang digunakannya."

"Oh, iya, Anda pasti akan menemukan van itu. Van itu pasti telah dicuri sehari atau dua hari yang lalu, dicat ulang agar menyerupai jasa Speedy Chocobo, penuh perlengkapan bersih-bersih, dan sudah dibersihkan dari segala jejak dan bukti. Kami mencurigai sopir itu bekerja sama dengan tersangka utama kami, tapi sayangnya sopir itu pun ditemukan tidak bernyawa, tertembak di bagian dadanya."

Saat mendengarkan percakapan Dustin dengan Agen Khusus Pruvia, Nyx duduk terkulai di tanah dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Apakah ada orang yang pernah seletih dirinya saat ini? Dia membiarkan dirinya mempertimbangkan kemungkinan yang terburuk ketika mendengar kabar Crowe yang mengejutkan dari Kapten dan sekali dimulai dia tidak dapat berhenti. Bayangan-bayangan baik dan buruk campur aduk di benaknya dalam arak-arakan sunyi nan mengerikan. Sekalipun mencoba untuk membebaskan diri dari bayangan-bayangan tersebut, dia tidak sanggup. Beberapa di antaranya berupa kilasan gambaran penyiksaan dan rasa sakit yang sangat mengerikan; monster dari kegelapan terpekat dengan jari-jari penuh duri dan sentuhan setajam silet; Crowe yang menjerit-jerit untuk melawan sang pembunuh saat menyiksanya. Dalam kengerian tersebut terlintas ingatan yang lain: Crowe yang menyambut kedatangan Nyx sebagai anggota keluarga baru saat mengangkat gelas kosong bekas jus jeruk, Crowe yang menjadi kartu As saat pertempuran di Tembok, Crowe yang mengajaknya berdansa untuk membuat Libertus cemburu, Crowe yang menumpahkan isi hati yang sejujurnya akan Libertus kepadanya, dan foto pertama dan terakhir mereka bertiga di momen-momen terakhir sang mage itu memberikan sorot mata yang memikat. Bayangan-bayangan yang sulit diabaikan. Apa yang akan diucapkannya saat upacara pemakaman? Apa yang bisa dikatakannya kepada Libertus? Apa yang sebaiknya dia lakukan kepada sang pembunuh jika sudah terekspos identitasnya? Mengapa ini bisa terjadi? Demi para dewa, mengapa ini bisa terjadi?

Beberapa jam kemudian Nyx naik mobil menuju kosnya yang telah berubah menjadi lokasi penginterogasian yang semakin berkembang. Hujan deras turun di langit malam yang terasa sendu itu. Pemilik kos−seorang nenek berusia 65 tahun dan bungkuk−telah berbaik hati mengizinkan polisi melakukan wawancara dengan seluruh Glaive pria berambut coklat yang tersebar ke tiga puluh kamar.

Nyx bersama Dustin masuk ke kamar kos Nyx. Para wartawan, dibuntuti oleh fotografer mereka, mulai bermunculan di malam itu. Nyx tidak ingin berhadapan dengan mereka atau kamera mereka. Setelah melalui banyak tragedi di Tembok, Nyx telah terlatih untuk membungkam mulut setiap kali ada Glaive yang gugur. Hanya saja berita Crowe ini membuat gempar karena tersebar keluar pihak Kerajaan hingga kepolisian. Kepolisian yang bertugas menjaga Insomnian, tentu saja menjadi pihak yang membocorkan kasus pembunuhan ini, apalagi jika IBI sudah mulai campur tangan.

Dia tidak menyebut-nyebut pelanggaran peraturan yang dilakukan oleh Petugas Dustin, dan Dustin mengawal Nyx masuk ke dalam kamar kosnya. Sebelum masuk ke kamarnya, dia menyempatkan diri mengetuk kamar Libertus yang berada tepat di sampingnya. Tak ada jawaban setelah dia menunggu dua menit, lampu kamar itu padam, jadi dia memutuskan untuk membiarkannya karena dia menganggap sahabatnya sedang tidur pulas. Lagipula tidak baik membuat Petugas Dustin berdiri di lorong kos yang dingin terlalu lama.

Setibanya di dalam kamar, Dustin meminta Nyx untuk mengeluarkan barang-barang peninggalan Crowe dalam kotak karton yang diterimanya tadi sore dari Kapten. Hanya ada tiga barang di sana: smartphone merah tua yang telah kehabisan daya baterai dengan gantungan mini Ultros, jam tangan wanita yang menunjukkan angka 35:42:49/-13:19:39 dan sebuah jempit rambut elegan yang berhiaskan berlian mengilat.

Melihat barang mewah yang dicermati Nyx, Dustin bertanya, "Untuk apa almarhum Crowe membawa jepit rambut dalam misi rahasianya?"

"Tadinya ini hadiah untuk pernikahan sang Putri dari Raja Regis. Crowe sempat berkata padaku untuk tidak mengatakan ini pada siapapun," jawab Nyx. Dia juga mengingat Crowe sempat mengutak-atik jepit rambut dan jam tangannya sekilas. Tapi dia tidak mengerti mengapa Crowe waktu itu melakukan itu. Barangkali hanya untuk memastikan jam tangannya berfungsi normal.

Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon. Dustin mengangkat telepon dan berkata, "Petugas Dustin di sini… Ya, aku sudah sampai di kamar Tuan Nyx… Benar, dia masih berada denganku… Kau mau ke sini sekarang? Berapa lama lagi? Baiklah, kutunggu kehadiranmu segera." Menutup telepon, Dustin berkata kepada Nyx bahwa Agen Khusus IBI Pruvia yang berbicara dengannya tadi di radio sedang dalam perjalanan menuju kemari untuk berbincang-bincang dengan Nyx dalam kurun waktu 45 menit ke depan. Nyx mengiyakan, walaupun dia sudah lelah bukan kepalang.

Sekarang saat yang paling berat tiba, menunggu. Nyx merasa seperti sedang bergerak dalam gerak lambat dalam mata badai aktivitas yang terjadi di luar kamarnya. Bahkan ibu kos sibuk melayani para polisi dengan menawarkan kopi, berjalan tertatih-tatih ke satu kamar ke kamar lainnya.

Rombongan IBI datang empat puluh menit kemudian dari kantor pusat di Distrik E. Dari awal sudah jelas terlihat bahwa pemimpin mereka adalah Agen Khusus Pruvia Colpus, seorang lelaki berusia empat puluh tahunan, kecil dan kurus, berambut hitam, berkulit agak gelap, penuh semangat dan aktif, yang dengan segera disukai Nyx. Dia membalas kepercayaan Nyx di hadapan rekan-rekannya. Sejak saat itu tidak seorang pun mempertanyakan kehadiran Nyx dalam percakapan atau pengarahan yang paling tertutup sekalipun.

Setelah menyiapkan pusat komando mereka di ruang tamu kos itu, IBI meminta Dustin membawa Nyx untuk wawancara resmi, sesuatu yang menurut mereka merupakan hal yang rutin dalam situasi seperti ini. Agen Pruvia berdiri dari balik mejanya dan mengulurkan tangannya. Saat Nyx menyambutnya untuk berjabat tangan, Pruvia menangkupkan kedua tangannya ke tangan Nyx seraya tersenyum muram.

"Tuan Ulric, aku minta maaf karena menyita waktu Anda selarut ini. Kami terburu-buru menjalin komunikasi dengan pihak Kerajaan, Kingsglaive, dan dokter otopsi. Aku sangat menyesal karena kita harus bertemu dalam kondisi seperti ini."

Nyx percaya kepadanya. "Nyx," katanya.

"Maaf?"

"Nyx. Panggil saja Nyx."

"Baiklah, Nyx, kalau begitu panggil saya Pruvia."

Nyx hanya dapat tersenyum, duduk lebih santai di kursinya sambil melihat Pruvia dengan cepat memeriksa beberapa map yang penuh berisi kertas. "Nyx, apakah Anda siap untuk menjawab beberapa pertanyaan?" tanyanya tanpa mengangkat wajahnya.

"Aku coba sebaik mungkin," jawabnya, bersyukur atas kesempatan untuk melakukan sesuatu.

"Bagus! Aku tidak akan meminta Anda mengulangi kembali semua detail. Aku telah memiliki laporan tentang segala sesuatu yang Anda katakan kepada petugas yang lain, tetapi ada beberapa hal penting yang harus kutanyakan kepada Anda." Dia mengangkat kepala dan menatap mata Nyx.

"Apapun yang bisa kulakukan untuk membantu," kata Nyx. "Aku merasa sedikit tidak berguna saat ini."

"Nyx, aku mengerti apa yang Anda rasakan, tetapi kehadiran Anda di sini sangat penting. Dan percayalah kepadaku, tidak seorang pun di sini yang tidak peduli kepada Crowe. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mengusut tuntas pembunuh dia secepatnya."

"Terima kasih," adalah satu-satunya yang dapat dikatakan Nyx, dan dia tertunduk menatap lantai. Bermacam emosi terlihat sudah sangat dekat dengan permukaan, dan kebaikan sekecil apapun tampaknya dapat melubangi bendungannya.

"Baiklah, sekarang… Aku telah bicara off-the-record dengan teman-teman Anda, Pelna dan Luche, dan mereka memberitahukan segala sesuati yang telah kalian bicarakan, jadi jangan merasa Anda harus melindungi mereka. Mereka baik-baik saja dalam catatanku." Nyx memandangnya dan mengangguk, lalu tersenyum lagi kepadanya. "Jadi," dia melanjutkan, "apakah Crowe terlibat pertengkaran dengan Glaive berambut coklat beberapa hari terakhir ini?"

Nyx pura-pura terkejut dan terenyak di kursinya, meski dia sudah mencuri dengar pertanyaan ini ketika membuntuti Dustin tadi. "Maksud Anda, pembunuh Crowe adalah seorang Glaive berambut coklat?"

"Menurut pengakuan Kapten Drautos, ada seorang Glaive lelaki berambut coklat yang sering terlibat konflik dengan Saudari Crowe. Namanya adalah Tredd Furia. Dengan bukti-bukti cakar dan rambut coklat yang tertempel di emblem Kingsglaive, kami cukup yakin bahwa Tredd terlibat aktif dalam pembunuhan Crowe. Hanya saja kami tidak ingin menyebarluaskan berita ini, terutama di dalam Kingsglaive sendiri karena bisa menimbulkan konflik krisis kepercayaan yang dihindari pihak Kerajaan."

Mendengar asumsi Pruvia, amarah mendidih dalam hati Nyx. Sebenci-bencinya dia dengan Tredd, dia tidak menyangka penindas itu bertindak sejauh ini dengan sahabatnya. Pria itu memang gila, kejam, dan psikopat. Untuk kali pertama sejak Raja mengumumkan menyetujui penawaran Kekaisaran dan dia bersama Crowe, Pelna dan Luche terlibat pertengkaran dengan Tredd di ruang komando, dia mendapat firasat pengkhianatan dari mata lelaki itu.

Hanya saja ada kejanggalan. Rambut coklat adalah genetik umum bagi Galahdian. Delapan puluh persen Glaive pria berambut coklat, dan imbasnya sekitar 24 Glaive yang tinggal di kos itu menjadi tersangka yang ditetapkan IBI. Tapi kenapa kesannya Kapten Drautos memojokkan Tredd untuk dijadikan IBI sebagai tersangka utama? Probabilitasnya terlalu rendah. Dengan total 200 Glaive dikurangi Crowe sebagai korban, Nyx dan Pelna yang berambut hitam, dan Luche yang dinyatakan bersih oleh Pruvia, ada 196 orang yang tersisa. Dikalikan delapan puluh persen, maka ada sekitar 157 Glaive berambut coklat yang patut dicurigai. Sedangkan sekarang satu dari 157 pria, yakni Tredd Furia, langsung ditetapkan Kapten dan IBI sebagai tersangka yang paling berpotensi menjadi pembunuh yang asli.

"Aku tahu informasi ini sungguh mengejutkan Anda. Tapi aku masih membutuhkan jawaban dari Anda. Apakah Anda pernah melihat Saudara Tredd berusaha menyakiti Crowe?" tanya Pruvia.

"Maaf. Sepanjang ingatanku, tidak pernah," jawab Nyx. Ketika dia mengakui itu, mendadak dia teringat akan pertengkaran dirinya dengan gerombolan Tredd di ruang-luar latihan beberapa tahun lalu. "Tapi dia pernah mencoba membunuhku sekali. Dia menindasku, memukul perutku keras sekali, dan menodongkan kukri kepadaku."

"Itu informasi yang patut diperhitungkan bagi kami. Kembali lagi ke pertanyaan pertama, topik macam apa yang pernah Crowe ributkan bersama Tredd?"

"Crowe membela Libertus yang marah pada Tredd karena keputusan Kerajaan untuk melepas Galahd pada Kekaisaran. Pada waktu itu, Tredd mencoba memancing emosi Libertus dan Crowe menamparnya keras sekali."

Agen Khusus Pruvia terus menanyai Nyx selama lima belas menit berikutnya. Dia akhirnya menutup buku catatannya, dan berdiri, mengulurkan tangannya. "Nyx, sekali lagi, aku turut prihatin atas peristiwa yang menimpa Crowe. Sekarang aku akan mewawancarai teman Anda, Libertus Ostium, untuk memperkuat validitas informasi Anda. Anda boleh beristirahat, Nyx."

Mereka berjabat tangan dan Nyx keluar dari ruang interogasi, mendaki lantai menuju lantai dua dan masuk ke kamar tanpa menghiraukan kamar Libertus. Berbaring di ranjang, dia memikirkan apa yang harus dia lakukan terhadap Tredd jika memang benar dia pembunuh Crowe. Apakah dia akan membalaskan dendam Crowe, atau mungkin Libertus yang membalaskan dendamnya? Dia mencoba untuk tidur karena sudah pukul sebelas malam, tapi pikirannya yang terus berjalan seperti kereta yang melaju kencang tidak memungkinkan dirinya untuk beristirahat dengan tenang. Posisi tubuhnya terus berubah setiap lima menit, dan akhirnya dia menyerah tidur, mengambil sebotol bir, dan meneguknya dengan cepat.

Pada saat itulah, dia mendengar dobrakan pintu dari kamar sebelah diiringi teriakan ibu kos. Cepat-cepat Nyx bangkit dari sofa dan berlari keluar kamar. Di koridor, Agen Khusus Pruvia sedang menutup mulut, dua pria staf IBI membopong ibu kos yang pingsan mendadak, dan seorang pria IBI lain berdiri sambil memasang raut terkejut. Mata Pruvia melebar, dan dia menoleh ragu-ragu kepada Nyx dan berkata, "Kurasa Anda tidak perlu melihat ini. Bagaimana kalau Anda sebaiknya kembali ke kamar?"

Merespon pertanyaan itu, dia tidak ingin kembali ke kamar. Dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kecemasannya. Merasakan adanya masalah, dia berdiri dan menunggu Pruvia melanjutkan kata-katanya.

"Kami menemukan sesuatu, tapi ini bukan kabar baik."

"Apa yang terjadi pada Libertus? Katakan padaku!" desaknya.

"Oh, Nyx, aku sangat menyesal," Pruvia meminta maaf dan bergerak menuju Nyx. "Begini, kita dapat melakukannya nanti jika Anda menginginkannya. Aku hanya berpikir…"

Dia tidak sanggup menatap Pruvia dan mendapati dirinya kesulitan mencari kata-kata yang dapat diucapkannya tanpa kehilangan kendali emosi. Dia dapat merasakan bendungan dalam hatinya siap meluap lagi. "Izinkan aku melihatnya," gumamnya lirih. "Libertus adalah sahabatku dan aku wajib mengetahui kondisi dia sekarang."

Agen Khusus Pruvia memberi isyarat pada pria yang sedang menganggur di dekatnya. Pria itu bergeser dari ambang pintu yang sudah dijeboli untuk membiarkan Nyx masuk. Lampu kamar dinyalakan dan sebuah kursi terjatuh miring di lantai. Nyx dengan segera melihat sahabatnya, terkejut dan berteriak histeris. Di atas kursi di tengah ruangan tergantung Libertus dengan tali tambang melingkari lehernya.


03.09.756 M.E. | 09.42 AM

Nyx telah berada di sebuah rumah duka di Distrik B sejak tadi subuh. Rumah duka ini terdiri dari dua gedung yang terpisah, satu gedungnya terletak di sebelah timur dan satunya lagi di sebelah barat. Pada setiap sisinya terdapat sekitar lima ruang yang dipisah oleh sekat. Sekat pemisah dua ruang satu dan dua digabung menjadi satu karena pelayat Crowe dan Libertus terbilang cukup banyak. Mau bagaimanapun, kasus kematian kedua Glaive dalam waktu dekat itu terlalu menggemparkan hingga menarik perhatian pers dan rekan sejawat. Ruang duka itu beraroma dupa yang cukup menyengat. Di ujung ruangan dia melihat Kapten Drautos dan Luche tampak merenung di tepi dua peti jenazah Crowe dan Libertus yang telah ditutup dengan rapat. Sedangkan Pelna menemani Nyx membantu mengurus para pelayat yang datang di meja tamu di ambang pintu.

Nyx memerhatikan para pengunjung keluar masuk ke dalam ruangan ini dalam gerakan yang tampak melambat seperti sebuah adegan yang sengaja diperlambat di film-film yang dia tonton di televisi. Semua pelayat menggunakan pakaian hitam untuk menghormati dua almarhum sahabatnya. Ada sebuah rombongan berisi sepuluh orang yang datang bersamaan, yang dia lihat dari buku tamu sebagai perwakilan Crownsguard. Mereka terkesan kaku saat berjabat tangan dengan Kapten Drautos. Ada juga kumpulan pria dan wanita tua dari Royal Council datang kemari.

Luche berdiri dan menyambut kumpulan Crownsguard di kursi-kursi yang dijejerkan menjadi sepuluh baris di dalam ruangan itu. Nyx bisa mendengar seorang pria perwakilan Crownsguard berbicara kepada Luche, "Aku turut berduka cita atas temanmu. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa mereka meninggal dengan..." Lelaki itu memutus perkataannya. Dari ekspresi wajahnya, sepertinya dia sadar kalau dia salah ucap dan segera mengalihkan pembicaraan untuk menutupi kecerobohannya.

Mengenaskan, lanjut Nyx dalam hati. Crowe yang mati dibunuh dan Libertus yang mati bunuh diri. Memikirkan Libertus yang memilih mati untuk menyusul Crowe membuat Nyx menjadi depresi. Perlukah Libertus mengakhiri nyawanya dengan menggantung diri? Sang pembunuh Crowe, walaupun tidak terlibat aktif dalam kasus Libertus, tampaknya telah berhasil mendapatkan korbannya yang kedua. Kematian Crowe menjadi penyebab hilangnya harapan dalam diri Libertus. Pembunuh Crowe pantas disalahkan atas keputusan akhir yang diambil Libertus.

Pada titik terendah ini, Nyx berusaha bangkit dari kepedihan dan dukanya, setidaknya dengan dua teman yang tersisa, yaitu Luche dan Pelna. Mereka telah kehilangan dua sosok sahabat baik. Meskipun semua orang yang terlibat terluka oleh tragedi ini, hanya Nyx yang paling terpengaruh, bersembunyi dalam cangkang, seperti kura-kura melindungi perutnya yang lunak dari segala sesuatu yang mungkin berbahaya. Dia hanya mau menjulurkan kepalanya ketika merasa benar-benar aman, yang kian lama kian jarang terjadi. Pelna semakin mengkhawatirkannya, tetapi tampaknya tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menembus tembok yang dibangunnya di sekeliling hatinya. Upaya untuk membicarakannya akan berubah menjadi monolog satu arah, dengan kata-kata yang memantul dari wajah batunya. Seolah-olah sesuatu telah mati dalam dirinya, dan sekarang berangsur-angsur menginfeksi dirinya dari dalam, tertumpah sesekali dalam wujud kata-kata pahit atau kesunyian tanpa emosi.

Pagi berganti siang dan siang berganti sore. Tidak terasa seorang pendeta telah datang dan semua pelayat memulai ibadah penghiburan. Para Glaive menempati posisi di kedua sisi peti jenazah, dan para tamu memenuhi kursi-kursi di belakang. Pendeta menuturkan khotbah untuk membangkitkan harapan. Dia berkata selayaknya mereka yang ditinggalkan oleh Crowe dan Libertus tidak perlu lagi bersedih karena kedua Glaive itu telah terbebas sepenuhnya dari berbagai penderitaan duniawi.

Seusai ibadah, dua peti diangkut ke dalam mobil jenazah untuk dikuburkan di salah satu pemakaman di Distrik B. Kingsglaive memiliki lahan khusus beratus petak di komplek pemakaman itu sejak berdiri dua belas tahun silam, jadi bisa dipastikan Crowe dan Libertus akan dimakamkan di sana untuk berkumpul dengan para rekan Glaive yang telah tiada. Saat peti mulai diturunkan ke dalam lubang sedalam dua setengah hingga tiga meter, isak tangis para kerabat mulai meledak kembali. Nyx menoleh kepada Pelna yang berdiri di samping kanannya, dan dia juga tidak dapat membendung air matanya. Dia memutar kepala ke kiri untuk melihat Luche yang membisu, tatapan matanya seperti orang yang tidak bernyawa. Nyx sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Perutnya seolah bergejolak, dan dia ingin muntah. Anehnya dia tidak dapat menangis. Mungkin karena dia telah banyak menangis ketika mengetahui Crowe dan Libertus meninggal dalam waktu kurang dari satu hari. Peristiwa ini mirip sekali dengan kematian ibu dan Selena yang terjadi kurang dari satu jam.

Setelah lubang peti ditimbun kembali dengan tanah, langit malam menjadi mendung. Tidak lama kemudian, hujan pun turun dengan deras. Rombongan pelayat mulai bubar secara perlahan setelah mereka berpamitan pulang Kapten Drautos dan Luche. Bersama Pelna, Nyx berlari menuju sebuah van hitam Kingsglaive, yang sengaja disediakan bagi para Glaive yang terlibat dalam proses pemakaman, untuk mengantarkan mereka ke kos.

Di dalam perjalanan, mereka berdua duduk di ruang belakang van, saling diam dalam kebisuan untuk beberapa puluh menit sampai Pelna memecah keheningan. "Sobat, aku akan selalu siap menemanimu kalau kau butuh teman untuk berbicara atau minum-minum."

Nyx mengangkat wajah yang dari tadi menatap lantai hitam van. "Yeah, terima kasih, kawan. Tapi aku sedang ingin menyendiri. Aku harus menenangkan diri, tapi tidak di dalam keramaian."

"Aku mengerti. Jangan pernah berpikir kalau kau benar-benar sendirian menghadapi semua ini. Aku juga merasakan kepedihan yang sama denganmu. Crowe dan Libertus adalah sahabatku, sama seperti kau menganggap mereka seperti itu," kata Pelna sambil tersenyum. "Berusahalah untuk tidak berbuat sembrono dengan berpikir untuk mengakhiri hidupmu."

"Tidak pernah terlintas pemikiran berbahaya semacam itu dalam benakku. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Apa kau sanggup bekerja besok untuk mengawal Putri Lunafreya? Aku bisa menawarkan diri kepada Kapten untuk menggantikan dirimu. Kupikir sebaiknya kau beristirahat penuh beberapa hari. Aku tahu kamu sangat kelelahan mengurusi wawancara dengan IBI dan pemakaman sahabat kita."

"Terima kasih, Pelna. Tapi aku masih kuat bekerja kalau sekedar mengawal Putri. Mau bagaimanapun, aku tidak ingin merepotkanmu, Kapten atau Raja Regis."

Pelna menepuk bahu Nyx dengan lembut, lalu memberi sorot mata simpatik. "Aku menyayangimu, sobat. Kuharap kau bisa segera bangkit dari keterpurukan ini. Aku akan selalu mendoakanmu."

Van berhenti di ujung jembatan, tepat di bawah kos Nyx berada. Nyx melambaikan tangan sementara Pelna membukakan pintu. Kos Pelna masih beberapa kilometer di depan, jadi dia tetap tinggal di dalam van sendirian. "Aku pulang dulu. Kau berhati-hatilah di jalan," kata Nyx. Pelna mengangguk, dan Nyx melihat sampai van berbelok dan hilang dari pandangan. Setelahnya, dia berjalan menuruni tangga jembatan menuju kos.

Dia menyusuri gang yang sepi, berusaha untuk tidak mengingat kebersamaan dirinya dengan Crowe dan Libertus saat melewati jalanan itu ratusan kali. Dia telah menjauhkan segala kenangan tentang tempat itu semenjak tadi pagi, mengurung emosinya dengan aman di ruang bawah tanah yang tergembok rapat dalam hatinya.

Selama perjalanan menyusuri gang, Nyx merasakan kepanikan yang merayap mulai menembus kesadarannya. Dia telah mencoba untuk tidak memikirkan apa yang sedang dia kerjakan dan terus melangkah. Namun ibarat rumput yang mendesak menembus beton yang padat, entah bagaimana perasaan dan ketakutan yang ditekannya mulai muncul. Tatapan matanya tegang dan tangannya terkepal semakin erat. Dia tahu dia sedang berjalan tepat ke dalam pusat kepedihannya, pusaran kesedihan besar yang telah membuatnya nyaris tidak merasa hidup. Kilas-kilas kenangan dan amarah bertubi-tubi yang menusuk sekarang datang bergelombang, disertai rasa empedu dan darah di mulutnya.

Dia akhirnya sampai di kos, di mana kamar bekas Libertus telah dikosongkan seluruhnya. Tak ada sisa-sisa keberadaan sahabatnya di sana selain pintu dan jendela yang terkunci rapat. Tinggal di kamar yang tepat bersebelahan dengan lokasi kematian temannya membuat dia merasakan ketakutan yang mendalam. Ingatan di mana Libertus sering mengetuk pintunya di kala dia ingin tidur datang kembali disertai kejernihan adrenalin. Pikirannya mengatakan dengan pasti bahwa dia ingin pergi dari kos itu, pindah sejauh-jauhnya untuk membuang trauma yang membekas di hati.

Udara cukup dingin sehingga napasnya tergantung di udara di sekitarnya dan rasanya hujan akan awet hingga besok pagi. Kepedihan yang telah menumpuk dalam perutnya akhirnya mendorongnya dalam kepanikan. Baru berjalan lima langkah menuju kamarnya, dia berhenti dan keinginan untuk muntah sedemikian kuatnya sampai dia jatuh berlutut.

Tolong bantu aku! erangnya dalam hati. Dia berdiri di atas kakinya yang gemetar dan maju selangkah lagi. Kemudian dia berhenti dan berbelok ke kiri, akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Ditariknya napas dalam-dalam dan dikeluarkannya perlahan-lahan untuk menenangkan diri ketika dia duduk di kursi kayu dekat meja. Setelah membulatkan tekad untuk tidak akan takut lagi, dia mencoba untuk terlihat lebih percaya diri daripada yang dirasakannya. Di meja itu tersimpan barang-barang peninggalan Crowe. Dia sengaja menjaganya sendiri sebagai kenang-kenangan akan sang mage yang dikasihinya.

Hasrat dalam dirinya mendorong dia untuk menyalakan smartphone itu. Ketika layar menyala, dia melihat lock screen berupa lanskap gunung dan langit biru standar sebagai latar belakang. Layar itu meminta kata sandi berupa kombinasi enam angka. Sekejap kekacauan dan kebingungan campur aduk di perutnya. Apakah dia benar-benar ingin membongkar kembali memori suram mengenai kebersamaan dia dan dua sahabatnya yang ingin dia hapus? Mengapa dia malah mencoba untuk melakukan sebaliknya?

Biasanya wanita suka menggunakan tanggal lahir untuk dijadikan kata sandi telepon genggam. Nyx mencoba memasukkan tanggal lahir Crowe: 25 November 732 M.E. (251132). Ditolak. Lalu dia mencoba lagi, kali ini dengan tanggal lahir Libertus: 24 Juli 731 M.E. (240731). Ditolak juga. Pada kesempatan ketiga, dia memasukkan tanggal lahir dirinya: 03 Mei 731 M.E. (030531). Hasilnya tetap nihil. Ide lain terlintas dalam otaknya. Dia mengombinasikan tanggal lahir mereka bertiga: 252403. Dan layar itu terbuka dengan ajaib, menampilkan foto dirinya, Crowe dan Libertus sebagai latar belakang. Itu adalah foto yang diambil saat dia mengantar kepergian Crowe di dalam van Kingsglaive. Dirinya melipat tangan sambil berpose tenang, Libertus tertawa bahagia, dan Crowe tersenyum manis.

Air mata mulai mengembang di matanya. Akhirnya hatinya meluap seperti banjir bandang, melepaskan timbunan amarahnya dan membiarkannya menyapu tebing emosinya yang berbatu-batu. Mengelus-elus wajah kedua sahabatnya di layar smartphone, dia mulai meneriakkan pertanyaan getirnya. Mengapa? Mengapa ini bisa terjadi? Apa salahku sampai kehilangan dua sahabat yang kusayangi? Aku telah kehilangan keluargaku dan sekarang sahabatku meninggalkanku. Aku tidak kuat lagi menghadapi kepedihan ini.

Dalam kemarahan yang membabi buta, Nyx mengangkat kursi yang tadi didudukinya dan mulai melemparnya ke dinding, lalu mengambil botol bir yang berada dalam jangkauannya dan menghancurkannya berkeping-keping hingga cairan di dalamnya membasahi lantai. Erangan serta rintihan keputusasaan dan kemarahan tersembur dari bibirnya sementara dia melontarkan kemurkaannya pada dirinya sendiri. Dengan membabi buta dia melampiaskan amarahnya sampai kelelahan dan lemas.

Putus asa dan merasa kalah, Nyx terkulai di lantai. Sementara dia berbaring, diambilnya lagi smartphone Crowe dari meja, jari-jarinya dengan lembut menyusuri wajah teman-temannya yang bahagia dan dia berbisik lirih, "Crowe, Libertus, aku sungguh menyesal. Aku menyesal tidak dapat melindungi kalian. Aku minta maaf aku tidak dapat menyelamatkan kalian."

Bahkan dalam kelelahan, amarahnya tetap bergejolak. Dia menyalahkan para dewa yang tidak acuh yang dibayangkannya berada entah di mana di atas langit Eos. Nyx duduk di sana dalam kesunyian, kekosongan menyusupi jiwanya, kemudian perlahan-lahan mengalir dalam jurang kebinasaan. Kesedihan besar menjeratnya, dan dia hampir menyambut sensasinya yang mencekik. Kepedihan ini dikenalnya saat dia menyaksikan keluarganya mati di depan matanya. Dia sangat akrab dengannya, hampir seperti seorang sahabat.

Nyx menenggelamkan diri ke ranjang dan menimbang-nimbang pilihan mengenai apa yang sebaiknya dia lakukan dengan foto itu. Angin dingin berembus menyapu wajahnya. Sebagian dirinya ingin berbaring saja dan tidak beranjak sampai mati. Dia sangat lelah. Setelah berpikir cukup lama, dia memutuskan untuk menghapus satu-satunya foto itu, tak membiarkan diri terjerumus dalam depresi terlalu lama.