Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Author teringat akan princess hours setelah membaca salah satu review reader, author akan mencoba membuat fic dengan tema film korea yang keren itu.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
Don't like Don't Read
.
.
~ To Be A Princess ~
[ Chapter 37 ]
.
.
Hari pengarahan pun berakhir, kini hanya acara untuk penutupan, hari ini aku pulang sedikit malam, Sasuke sampai mengirim pesan padaku, aku jadi harus menghubunginya dan mengatakan akan pulang lebih malam.
"Ah, putri mahkota, selamat atas resminya menjadi mahasiswa di fakultas kami." Ucap senior yang pernah menegurku, jika di perhatikan, dia jauh lebih terlihat seperti seorang preman dari pada seorang mahasiswa kedokteran, lihat saja rambut merah terangnya dan aku baru saja sadar akan wajahnya itu, dia terlihat cukup muda dan kami beda 2 tahun.
"Terima kasih senpai, tapi bisa kah tidak memanggilku seperti itu lagi?" Ucapku, aku ingin berhenti mendengar panggilan 'putri mahkota' itu, jika Sasuke tahu, mungkin dia akan memarahi semua seniorku, ini hanya pemikiranku saja.
"Hahaha, maaf jika itu membuatku terganggu." Ucapnya dan tersenyum, akhirnya muka galaknya menghilang, kemarin-kemarin, dia terus menegurku dan memarahiku, sekarang wajahnya bak malaikat, senior yang aneh.
"Woi Sasori, cepat pidato penutupnya." Teriak seorang senior lainnya.
"Iya-iya, aku akan ke sana." Ucapnya, dia pamit padaku dan bergegas pergi.
Aku dengar dia senior yang sangat berbakat, dia sudah hampir menyelesaikan masa kuliahnya, orang jenius seperti itu pasti akan sangat di butuhkan.
"Mereka masih memanggilmu putri mahkota?" Ucap Rin, dia baru kembali dari toilet, aku hanya berdiri dan menunggunya.
"Aku sudah meminta senior itu untuk berhenti memanggilku seperti itu." Ucapku, menatap ke sekeliling area tempat kami berkumpul ini, mataku terfokus pada Seon yang menjadi pusat perhatian para mahasiswa lain, tentu saja, dia memang putri perfect. "Kita sebaiknya ke sana." Ucapku pada Rin, setidaknya aku tidak ingin bertemu dengan putri Seon.
"Ada apa? Aku melihat tingkahmu sedikit aneh." Tanya Rin.
"Aku hanya tidak senang pada putri Seon." Ucapku.
"Putri Seon? Aku pikir dia tipe orang yang baik, dia bahkan berbicara sangat sopan padaku, padahal dia adalah seorang putri." Ucapan Rin membuatku tidak senang.
"Baiklah, aku yang akan pergi sendirian ke arah sana." Ucapku.
Aku tahu Seon memang sangat pandai berbicara pada siapapun. Belum sempat pergi, lenganku sudah di tahan Rin.
"Kau tidak senang padanya?" Ucap Rin, dia begitu pandai membaca keadaanku.
"Anggap saja seperti itu, bukannya kami sedang bermusuhan, hanya saja aku agak sungkan padanya, dia, haa..~ lain kali saja akan aku ceritakan, di sini terlalu banyak orang." Ucapku.
"Jika ada apa-apa katakan saja padaku, setidaknya kau bisa sedikit mengandalkanku sebagai teman."
Aku jadi tersentuh akan ucapan Rin, sempat terpikirkan untuk menjauh dari Rin yang lebih senang pada Seon, pemikiranku memang masih tidak begitu stabil, aku selalu saja bersikap kekanak-kanakan.
"Uhm, terima kasih, Rin." Ucapku, aku menghargainya, sangat menghargai Rin sebagai teman berhargaku.
.
.
.
.
Kuliah semester awal, satu kelas dengan Seon dan aku tetap akan memasang tameng, setiap dia akan menegurku, aku akan pura-pura tidak dengar dan tidak peduli, apa dia masih tidak mengerti juga? Atau masih tidak memahami keadaan? Aku tidak suka padanya.
"Apa menjadi mahasiswa itu membuatmu kesusahan?" Ucap Izuna.
Dia mengajakku untuk sekedar minum teh bersama di sebuah kafe dekat universitasku, Sasuke sudah mengatakan aku bebas bertemu dengannya, Izuna pun menghubungiku dan ingin memberi selamat atas resmiku menjadi seorang mahasiswa kedokteran.
"Tidak, ini bukan karena fakultasnya atau apapun, putri Seon satu fakultas denganku." Ucapku dan memasang wajah cemberutku.
"Oh, jadi sedang cemburu yaa."
"A-a-apa! Aku tidak seperti itu!" Panikku, pangeran Izuna sangat pandai menebak.
"Hahaha, sikapmu tidak bisa menutupinya, putri."
"Aku tidak cemburu, hanya saja masih tidak bisa akrab dengannya." Ucapku.
"Apa Sasuke akan bersikap sama saat melihat kita bertemu?" Tanyanya.
"Mungkin saja, tapi itu dulu, sekarang tidak, aku pikir Sasuke jauh lebih berpikiran dewasa, dia bahkan memberiku kebebasan." Ucapku.
"Sasuke itu hanya menahan diri, aku jauh lebih tahu dia dari pada kakaknya sendiri."
"Menurut pangeran, apa dia masih menyimpan perasaan pada putri Seon? Aku selalu saja khawatir berlebihan." Ucapku, siapa lagi yang bisa menjadi tempatku untuk berbicara.
"Kau percaya padanya?" Ucap pangeran Izuna,
Menatap serius ke arahnya. "Mungkin." Ucapku, ragu. Sasuke tipe pria yang sulit untuk membaca apa yang tengah di pikirkannya, meskipun aku tahu, dia kadang akan terlalu khawatir jika aku bersama pangeran Izuna, tapi tetap saja, aku lah yang jauh lebih tidak tenang.
"Jika kau percaya padanya, seharusnya kau bisa tenang."
"Uhm, pangeran benar."
"Sudahlah, jangan sampai stress karena masalah ini, kau masih mahasiswa baru." Ucap Izuna, dia memberiku sedikit semangat, setidaknya berbicara padanya membuatku sedikit lega, pangeran Izuna jauh lebih tepat jika aku ingin berbicara. "Lain kali aku akan mengajakmu minum teh bersama lagi." tambahnya.
"Eh? A-aku rasa tidak perlu, aku hanya akan mengganggu pangeran." Tolakku, halus.
"Aku tidak masalah jika hanya memberi sedikit waktu untukmu, putri Sakura." Ucapnya dan kini tersenyum padaku.
Haa..~ Aku pun tidak tahu akan jalan pikiran pangeran Izuna, setelah aku di beri kebebasan dari Sasuke, Izuna jauh lebih sering ingin menemuiku, sedangkan Sasuke, dia terus sibuk bekerja, aku memakluminya, dia punya perusahaan sendiri yang harus di kelolahnya.
.
.
.
.
Tok tok tok.
Seseorang mengetuk pintu kamarku, siapa? Jika seorang dayang atau pengawal mereka akan berbicara meminta ijin masuk padaku, tapi suasana di luar begitu tenang. Berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Bibi Sakura!" Teriak cempreng seorang gadis kecil.
"Putri Azu, kenapa datang ke sini?" Ucapku, terkejut, sekarang putri Azu sudah jauh lebih besar, dia tumbuh menjadi gadis cantik seperti ibunya, melirik ke sana dan kemari, putri Azu sendirian dan tidak ada dayang yang menemaninya, gadis kecil itu tiba-tiba berlari masuk ke dalam kamarku dan bersembunyi di atas ranjang. "Ada apa putri?" Tanyaku bingung.
Dia hanya tersenyum dan bersembunyi di balik selimut, setelah itu aku mendengar teriakan para dayang.
"Putri Azu...! Yang mulia putri Azu...!"
Begitu rupanya, dia sedang bermain dan malah memilih area kediamanku sebagai tempat persembunyiannya.
"Sedang bermain yaa?" Ucapku, menutup pintu dan berjalan ke arah ranjang.
"Hehehehe, mereka tidak akan menemukanku." Ucapnya, dia sungguh menggemaskan, begini ya keturunan Uchiha, mereka begitu cerdas, aku jadi ingin memiliki putri seperti dia, menatap perutku, aku lupa, kami sudah melakukannya tanpa pengaman, tapi sepertinya aku belum dapat tanda-tanda apapun.
"Bibi Sakura, kenapa? Sakit perut?" Tanyanya, dia cukup manis jika sedang berbicara.
"Bibi tidak apa-apa, sekarang kau sudah harus keluar, para dayang akan khawatir jika tidak menemukanmu putri." Ucapku, dan mencubit pelan pipinya yang berisi itu.
"Aku ingin menemani bibi Sakura." Ucapnya.
Aduuh..~ anak ini sampai membuat hatiku luluh.
"Baiklah, tapi jangan mengganggu bibi yaa." Ucapku, aku sedang mengerjakan tugasku saat gadis kecil ini mengetuk pintu kamarku.
Dia mengangguk dan tersenyum.
Beberapa jam kemudian, menatap ke arah ranjang dan putri Azu tertidur, dia pasti membuat para dayangnya semakin khawatir, menghentikan kegiatanku, berjalan ke arah ranjang, menggendong gadis kecil itu, dia tertidur dengan pulas, berjalan keluar dan pintu terbuka sebelum aku membukanya.
"Suamiku?" Ucapku, Sasuke pulang lebih awal kali ini.
"Ada apa dengan putri Azu?" Tanyanya.
"Dia bermain di sini hingga tertidur, aku ingin membawanya kembali ke kediamannya, para dayang sejak tadi mencarinya, aku yakin mereka sudah sangat khawatir dan panik." Ucapku, ini cukup lucu, putri Azu membuat seluruh dayang panik.
"Biar aku saja." Ucap Sasuke, mengambil anak kecil itu dariku dan menggendongnya.
Menatap Sasuke, dia jadi terkesan begitu manis saat menggendong putri Azu, aku jadi penasaran bagaimana nanti jika dia menjadi seorang ayah?
Cup..~
"Aku pikir kau sedang banyak tugas, kerjakan saja lagi." Ucap Sasuke.
Terkejut, Sasuke tiba-tiba menciumku, untung saja putri Azu masih tertidur dalam gendongannya, dia hanya akan memperlihatkan hal yang tidak senonoh pada anak kecil yang masih polos itu.
"I-iya." Gugupku, dan wajahku merona.
Sasuke sudah pergi dan membawa putri Azu.
Apa kesehatanku baik-baik saja? Seharusnya aku sudah bisa mendapat tanda-tandanya, tapi jadwal datang bulanku begitu normal dan teratur, menghela napas, mungkin harus melakukannya lagi, me-me-melakukannya lagi, aaahkkk..! Memikirkannya saja membuatku sangat-sangat malu.
.
.
TBC
.
.
update...~
author balas beberapa review saja, secara random dan acak.
maaf jika semakin ke sini, makin chapter, penulisan author semakin kacau XD, sebenarnya author kalau udah up, di baca ulang lagi, emang banyak penulisan yang salah, typo, dan penempatan kata yang salah posisi, setelah itu author edit kembali, mungkin yang jadi pembaca di awal sebelum di edit kembali akan merasakan banyak penulisan kacau dan typo kek ranjau XD, tapi yang baca belakangan, merasa penulisan udah pada beres, iya author baca kembali soalnya, sampai 5 kali setiap jamnya, pffff... *serius* author istirahat kok, tiap malam tidur cepat, begadang cuma pada malam minggu, jadi nggk kerasa capeknya XD
pekerjaan Izuna? Izuna mengelolah sebuah perusahaan juga, sama kayak Sasuke tapi tak sebesar milik Sasuke dan juga tak sesibuk Sasuke, kalau Izuna perusahaan itu milik ayahnya, karena sekarang semua apapun yang di miliki pangeran Ren ada di tangan pangeran Izuna, raja terdahulu sudah sepakat, ini sebagai bentuk permintaan dari raja Fugaku, emang nggak di jelasin, tapi author hanya jelasin jika Fugaku ingin hak apapun di berikan pada Izuna, sempat di singgung keknya deh XD.
comblangin Izuna dan Seon, hehehehehe *ketawa dulu* kalian akan tahu bagaimana Izuna dan Seon kalau dekat hanya berdua saja. pfffff... mau spoiler tapi nggak jadi, pfff
perasaan Sasuke dan perasaan Sakura? ini yang namanya ujian Cinta...~ *tshaaa...~*
okey. udah dulu.
See you next chapter lagi... :)
