"Masuk" ucap Chanyeol saat pintunya diketuk dari luar.
Wajahnya yang kesal berubah ramah saat melihat Seokjin melongokkan kepalanya. Chanyeol hampir berdiri, menyambut Seokjin saat Namjoon ikut muncul dibelakang Seokjin dengan menggandengan tangan Seokjin. Chanyeol hanya berdiri di depan meja dan tersenyum kaku melihat Namjoon.
"Maaf mengganggu, Chanyeol-ssi. Ada apa?" Tanya Seokjin khawatir. "Yoongi?" Seokjin melepas genggaman tangan Namjoon dan berjalan cepat kea rah Yoongi yang menunduk.
Jimin yang juga ada disana hanya ikut menunduk untuk menyembunyikan bekas tangisnya yang membuat matanya sedikit bengkak.
"Mereka bertengkar" ucap Chanyeol tanpa basa-basi. "Namjoon, silahkan duduk" ucap Chanyeol sambil menunjuk sofa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Bertengkar? Jiminie, ada apa?" Seokjin beralih pada Jimin yang duduk disamping Yoongi.
Saat Seokjin mengelus bahunya, Jimin mulai bergetar dan kembali menangis sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Yoon!" Seokjin menatap tajam pada Yoongi yang sejak tadi hanya memilih diam menatap lantai dibawahnya.
"Duduk dulu, Seokjin-ssi. Kita butuh penjelasan dari mereka" ucap Chanyeol sambil menarik satu kursi di dekat lemari buku untuk Seokjin duduki.
"Terimakasih" ucap Seokjin.
"Jadi, kalian berdua, kenapa bertengkar?" mulai Chanyeol. Matanya menatap tajam pada Yoongi dan Jimin yang sejak tadi memilih diam.
Harusnya Jimin sudah bisa pulang dengan damai ke rumahnya, tapi Jimin salah, Chanyeol yang saat itu baru saja kembali ke kantor menemukan Jimin yang berjalan cepat sambil menunduk. Tidak lama kemudian, Chanyeol melihat Yoongi yang berlari kencang melewati tangga. Merasa ada yang tidak beres, Chanyeol menarik baju Jimin, membuat Jimin tersentak dan ingin memberontak, tapi saat dia melihat wajah Chanyeol ada didepannya, Jimin memeluk erat Chanyeol dan mulai menangis.
"Mana cincinmu, Jiminie?" tegus Chanyeol saat melihat tidak ada cincin di jari Jimin.
"Ini sajangnim" Yoongi meletakkan cincin tunangan milik Jimin diatas meja.
"sebenarnya kalian berdua ini kenapa?" Chanyeol mengusap wajahnya kasar.
"Yoon, ada apa?" Tanya Seokjin tak sabar.
"Aku rasa, pernikahan ini dihentikan saja" guman Jimin pelan, membuat Seokjin membolakan matanya dan Chanyeol benar-benar siap meledak sekali lagi.
Sejak tadi dia sudah lelah bertanya ada apa dengan mereka, tapi jawaban Jimin selalu ingin mengakhiri hubugan dengan Yoongi. Sementara Yoongi sama saja, pria pucat itu tidak juga buka suara.
Dengan kasar Chanyeol menyambar telepon diatas meja, meminta sekertarisnya untuk memanggil Taehyung yang sejak tadi masih berada di ruang tunggu, sedang makan.
Tidak sampai satu menit, Taehyung sudah muncul diruangan Chanyeol. Melihat atmosfir yang kelam, membuat Taehyung enggan menyapa siapapun yang ada didalam ruangan itu.
"Ne, Chanyeol hyung?" Tanya Taehyung kikuk.
"Kau ada disana sejak awal. Katakan, mereka ini kenapa." Paksa Chanyeol.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Jimin melihat Yoongi hyung berpelukan dengan Kihyun-ssi" ucap Taehyung takut.
Chanyeol mendengus kesal, sekali lagi dia menyambar telepon dengan kasar untuk menelepon. "PANGGIL SI KIHYUN-KIHYUN ITU KERUANGANKU, SEKARANG!" geram Chanyeol.
"Jadi, kenapa kau memeluknya, Min Yoongi?" geram Chanyeol.
"Itu Cuma…"
"Cuma apa!" geram Chanyeol.
"Jiminie, maafkan aku" sesal Yoongi.
Mendengar permintaan maaf Yoongi, Jimin menutup matanya erat dan kembali terisak. Dia tidak mengerti tujuan minta maaf Yoongi yang sebenarnya. Dikepala Jimin sudah berputar hal-hal buruk yang paling dia takutkan, seperti, kalau selama ini Yoongi dan Kihyun selingkuh dibelakangnya.
"Maafmu tidak menjelaskan apapun, Yoon" Seokjin menatap Yoongi tajam.
Yoongi menunduk lagi. Dia juga bingung menjelaskan hal ini pada mereka, yang Yoongi sadari, dia memang salah.
"Masuk!" teriak Chanyeol lagi saat suara pintu diketuk dari luar. Terlihat wajah asing yang tidak pernah Chanyeol lihat sebelumnya.
"Sajangnim, saya Kihyun" ucap Kihyun memperkenalkan diri pada Chanyeol.
"Oh, kau. Masuk" perintah Chanyeol.
Kihyun berdiri disamping Taehyung yang langsung jaga jarak dengannya. Kihyun tau hal ini jadi besar karena sikapnya tadi di studio.
"Ada hubungan apa kau dengan Yoongi?" Chanyeol menatap lurus pada Kihyun.
"Kami…"
"Dia mantan pacar Yoongi hyung" jawab Jimin dingin.
Chanyeol menatap Jimin sekilas dan kembali melirik Kihyun yang sudah menunduk segan.
"Kau asisten produser yang baru ya?" Tanya Chanyeol memastikan.
"Ne, sajangnim" Kihyun mengangguk kaku.
"Jadi, kau dan Yoongi selingkuh dibelakang Jimin?" tembak Chanyeol.
"Aku tidak pernah begitu, sajangnim" jawab Yoongi cepat.
Jimin mendegus dan tertawa remeh. Dari tadi dia menunggu Yoongi untuk menjelaskan, tapi pria pucat itu tidak juga buka suara.
"Lalu? Ada alasan apa kau memeluk mantan pacarmu, Min Yoongi?" Chanyeol menatap tajam pada Yoongi.
"Sajangnim, yang terjadi di studio, tidak seperti yang kalian pikirkan." Bela Kihyun.
"Lalu apa?! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa hyung memeluk Yoongi hyung?!" Jimin merasa kesabarannya sudah sangat menipis. Dia sudah tidak tahan lagi dengan kebingungan yang dirasakannya sekarang. Dia hanya butuh penjelasan, tapi keduanya sepertinya sangat sulit untuk bicara.
"Bagaimana bisa aku mengerti dan percaya kalau kalian tidak ada apa-apa kalau kalian tidak juga menjelaskannya padaku!" Jimin meledak.
Taehyung buru-buru berlari kedekat Jimin, mengelus bahu Jimin yang naik turun karena menangis dan kesal. "Jim, tidak boleh begitu" guman Taehyung menenangkan.
"Jiminie, kita perlu bicara hanya berdua" pinta Yoongi.
Mendengar ucapan Yoongi membuat Jimin semakin kesal. Matanya hanya menatap tajam pada Yoongi dan tersenyum sinis. "Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu, hyung. Kita sudahi saja"
Jimin sudah beranjak berdiri dari kursinya, menepis pelan tangan Taehyung dan Seokjin yang ada dibahunya.
"Duduk!" bentak Chanyeol. "JIMIN, DUDUK!" bentak Chanyeol makin keras membuat Jimin takut dan kembali mendudukan diri.
"Aku rasa Jimin perlu waktu untuk menenangkan diri" Namjoon yang sejak tadi hanya memperhatikan akhirnya angkat bicara. "Percuma Yoongi menjelaskannya sekarang, Jimin tidak akan percaya. Masalah ini perlu diselesaikan dengan kepala dingin" Namjoon mengusap kepala Jimin yang masih menangis di kursinya.
"Jim, jangan mengambil keputusan gegabah. Kau perlu menenangkan diri. Yang perlu kau tau, Tunangan itu bukan hal main-main. Kau tidak bisa sembarangan memutuskan begitu saja" Namjoon tersenyum kecil saat Jimin tidak melawan ucapannya.
"Aku rasa mereka perlu waktu sendiri-sendiri. Saat nanti Jimin sudah tenang dan bisa mendengarkan penjelasan Yoongi tanpa emosi, mereka bisa bertemu" usul Namjoon.
"AKu setuju" Chanyeol mengangguk. "Mulai hari ini kalian tidak ku izinkan bertemu sebelum keadaan kalian mendingin. Dan kau Jiminie, jangan bertindak ke kanakan. Tenangkan dirimu, setelah itu baru selesaikan masalah kalian"
"Tapi sajangnim.."
"Dua minggu, Min Yoongi. Kalau pada akhirnya tunangan kalian dibatalkan karena Jimin tidak bisa menerima mu lagi, kami akan ikut keputusan Jimin" putus Chanyeol.
.
.
.
"Jadi bagaimana hyung?" Tanya Jungkook khawatir. Mau bagaimanapun Jungkook mengatakan dia tidak menyukai Jimin, jauh didalam hatinya, dia sangat khawatir dengan hubungan Jimin dan Yoongi. Saat ini saja dia baru selesai menangis setelah mendengarkan cerita Taehyung soal Jimin yang memutuskan hubungan dengan Yoongi.
"Mereka disuruh introspeksi diri, semoga saja mereka tidak sampai putus" Taehyung menghela nafasnya lelah.
"Lalu, alasan Yoongi hyung memeluk Kihyun hyung, apa? Itu tidak adil untuk Jimin. Kenapa mereka jahat sekali"
"Tidak tau. Aku rasa ada hal yang tidak ingin diberitahukan Yoongi hyung pada orang-orang soal hal itu. mungkin Yoongi hyung hanya ingin memberitahukannya pada Jimin saja, makanya tidak diberitahu alasannya apa" Taehyung menaikkan bahunya.
"Kasihan Jimin, pasti dia sedang menangis sekarang. Aku sudah meneleponnya berkali-kali tapi tidak diangkat" Jungkook menundukkan kepalanya sedih.
"Jangan sedih, Jimin itu tukang drama, nanti juga baik sendiri" hibur Taehyung. Tangannya menarik tubuh Jungkook, memeluk pacar kesayangannya itu erat dan mengecup kepala Jungkook yang masih menunduk.
"Tapi kasihan Jimin. Ini sudah empat hari kan? Aku pikir dia marah padaku makanya tidak mau mengangkat teleponku" adu Jungkook.
Taehyung terkekeh kecil mendengar suara Jungkook yang merajuk. "Nanti kalau Jimin sudah merasa lebih baik, dia pasti datang ke rumahmu. Seperti biasa, dia akan merengek padamu nantinya"
Jungkook mengangguk setuju.
"Bagaimana Yoongi hyung?" Tanya Taehyung penasaran.
"Baik. Dia jadi gila kerja sekarang, kata Seokjin ahjussi. Dia sudah empat hari tidak pulang ke rumah ataupun ke apartemennya dan mengurung diri di studionya. Aku pikir Yoongi hyung begitu karena ada proyek yang harus diselesaikan secepatnya, ternyata…" Jungkook menegakkan tubuhnya lagi.
"Mau ke rumah Jimin?" tawar Taehyung. Setelah di pikir-pikir, sudah lama juga dia tidak mendengar kabar dari Jimin.
"Boleh, hyung?" Tanya Jungkook antusias.
"Kita coba saja, siapa tau dia sudah mau ditemui"
.
.
.
"Yah, Min Yoongi, sampai kapan kau mau berkurung di studio terus? Nanti kau semakin putih" Joohyun mengetuk pintu studio Yoongi berkali-kali sejak tadi. Mereka dengan jelas bisa melihat siluet badan Yoongi yang sedang duduk didepan computer miliknya dari kaca pintu studio milik Yoongi ini.
"Aku membawakan asisten kesayanganmu kembali, Ong Seungwoo" teriak Joohyun lagi.
"Apa dia tidak ada keluar dari studio sama sekali?" Tanya Ong penasaran.
"Tidak. Makanya aku khawatir. Dia tidak makan sejak empat hari yang lalu. Sudah gila apa" omel Joohyun.
"Tipu saja biar keluar" usul Ong.
"Caranya?" Joohyun mengerut.
"Serahkan padaku." Ong berdehem berkali-kali sebelum mulai mengetuk pintu studio Yoongi pelan-pelan. "PD-NIM ADA JIMIN DILUAR SINI" teriak Ong membuat Joohyun terkejut.
"Kau mau membuatku sakit jantung?" omel Joohyun sambil mengelus dadanya karena terkejut.
"Ini demi…."
"Yoongi?" Joohyun kembali terkejut saat Yoongi membuka pintu. Yoongi menatap berkeliling dengan mata yang penuh antusias untuk mencari Jimin.
"Kalian menipuku?" Yoongi menatap tajam pada Ong dan Joohyun yang tersenyum menyebalkan.
"Yah, yah, Min Yoongi…" Joohyun buru-buru menahan pintu yang sudah siap untuk Yoongi tutup kembali. Beruntunglah karena Ong memiliki badan yang kurus hingga dia berhasil menyelinap kedalam studio Yoongi.
Hal pertama yang Ong rasakan adalah suhu ruangan studio Yoongi yang sangat dingin.
"Kau bisa mati beku, PD-nim" komentar Ong.
"Makan dulu" Joohyun yang sudah berhasil masuk ke dalam studio Yoongi meletakkan makanan diatas meja computer milik Yoongi.
"Tidak lapar" jawab Yoongi malas.
"Yah, Min Yoongi, aku tau kau banyak pikiran, tapi kau perlu makan juga supaya pikiranmu waras!" omel Joohyun.
"Kau hanya minum kopi sejak kemarin, PD-nim?" Ong memperhatikan deretan gelas kopi yang tergeletak dilantai studio.
Yoongi hanya mendengus, enggan menjawab pertanyaan Ong.
"Kenapa jadi seperti ini? Kau sudah gila memperlakukan Jimin seperti ini?" Joohyun menatap serius pada Yoongi.
"Itu hanya…"
"Kihyun mengajakmu kembali bersama?" potong Joohyun.
Yoongi mengangguk lemah.
"Sudah ku tebak. Belakangan ini sikapnya berubah. Dia benar-benar memperlakukanmu seperti kau itu pacarnya" Joohyun menyenderkan punggungnya disofa dengan nyaman.
"Lalu kau ragu memilih antara Jimin dan Kihyun? Begitu?" lanjut Joohyun.
"Tidak. Kihyun itu masa lalu. Selamanya akan begitu" Yoongi menunduk.
"Jadi, kenapa kau tidak menjelaskan pada Jimin?"
"Aku tidak bisa mengatakan hal itu didepan keluargaku dan didepan keluarga Jimin. Aku juga harus menjaga perasaan Kihyun. Dia pasti malu kalau orang-orang tau apa yang terjadi" Yoongi mendengus lagi.
"Dan kau mengabaikan perasaan Jimin?" Ong ikut bersuara.
"Bukan maksudku untuk begitu. Aku hanya ingin bicara berdua dengan Jimin, tapi sepertinya Jimin tidak bisa mengerti maksudku. Aku sudah meminta untuk bicara berdua, tapi dia…"
"Dia cemburu" potong Joohyun. "Kau juga akan begitu kalau ada di posisi Jimin. Kau juga harusnya yang lebih tau kalau Jimin itu masih kekanakan. Dia selalu mengikuti emosi sesaatnya tanpa memikirkan efek kedepannya"
"Jimin menghapus semua fotomu di social media-nya" ucap Ong tiba-tiba.
Yoongi terkejut bukan main, Yoongi menyambar ponsel Ong dan menatap social media Jimin yang sudah tidak ada lagi fotonya disana. Yoongi mengusap wajahnya kasar.
"Lihat betapa kekanakannya Jimin-mu itu" Joohyun terkekeh.
"Lalu, alasanmu memeluk Kihyun, apa PD-nim?" jangan heran kalau Ong tau masalahnya.
"Aku hanya minta maaf karena tidak bisa menerima perasaannya lagi, lalu dia minta peluk untuk terakhir kali" sesal Yoongi. Beratus kali Yoongi memikirkan hal ini, selama mengurung diri Yoongi selalu berandai-andai kalau saja dia tidak melakukan itu, mungkin sekarang dia dan Jimin masih baik-baik saja.
"Kalau aku jadi Jimin, aku pasti sudah meninju wajahmu, Pd-nim" Ong berucap polos.
"Itu lebih baik daripada digantung seperti ini" Yoongi menghempaskan diri dikursi kerjanya. "Aku merindukannya" ucap Yoongi tanpa sadar saat matanya menatap fotonya dan Jimin yang terbingkai kecil diaas tumpukan kertas miliknya. Foto saat Yoongi wisuda.
Joohyun hanya bisa menatap iba pada Yoongi. Terlihat jelas namja pucat ini banyak pikiran, belum lagi beban pekerjaan yang harus dia pikul. "Aku mendoakan yang terbaik untuk hubunganmu dan Jimin." Joohyun menepuk bahu Yoongi sebelum menarik Ong keluar dari studio kerja Yoongi.
"Habiskan makananmu. Aku membelinya dengan sepenuh hati, kau tau" ucap Joohyun sebelum menutup pintu studio Yoongi.
"Kau berencana membantunya, hyung?" Ong berjalan mengimbangi Joohyun.
"Aku tidak tega melihatnya seperti mayat hidup begitu, jadi.. tentu saja" Joohyun tersenyum kecil.
.
.
.
"Kenapa dihapus?" Jungkook mengernyit kesal melihat tindakan Jimin yang menghapus semua foto Yoongi dari social media miliknya sampai yang ada diponselnya. Tidak tanggung-tanggung, Jimin juga menghapus nomor ponsel Yoongi.
"Itu membuatku merasa lebih baik" ucap Jimin pelan.
"Bisa saja kau salah paham, kan? Kau membuat orang-orang penasaran dengan statusmu dan Yoongi hyung kalau begitu" omel Jungkook.
"Aku sudah capek menangis setiap melihat fotonya. Setidaknya aku ingin menenangkan diri lebih dulu. Seperti ini rasanya lebih baik" guman Jimin.
"Taetae hyung, katakan sesuatu!" Jungkook menatap Taehyung kesal, karena sejak tadi pacarnya itu hanya tiduran di tempat tidur Jimin.
"Kalau Jimin merasa lebih baik setelah menghapus foto Yoongi hyung, biarkan saja" ucap Taehyung cuek. Dia malas ikut masuk lagi kedalam drama yang diciptakan Jimin.
"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri" Jungkook memulai. Matanya menyorot kesal pada Jimin yang duduk di kursi belajarnya. "Kau bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan Yoongi hyung dan.."
"AKu sudah memberi dia kesempatan untuk menjelaskan, tapi dia hanya diam! Apa ini salahku lagi?" balas Jimin.
Taehyung menghela napas, menutup wajahnya dengan bantal, enggan ikut dalam pertengkaran Jimin dan Jungkook yang sepertinya baru saja akan di mulai.
"Setidaknya kau harus mendengarkan penjelasan dulu sebelum bertindak seperti ini! Pikirkan perasaan Yoongi hyung kalau dia melihat social mediamu!"
"Dia bahkan tidak pernah membuka akun miliknya" balas Jimin.
"Kau kekanakan" cibir Jungkook.
"Aku lebih tua darimu!"
"Ya, tapi kau kekanakan!" balas Jungkook.
"Kau.."
"Yah! Bisa tidak kalian diam?" omel Taehyung. "Jimin, kalau kau memang ingin berpisah, temui Yoongi hyung sekarang dan katakan itu dengan jelas didepan mukanya" Taehyung menatap Jimin dengan tajam. "Dan Jungkook, kalau Jimin memang tidak mau lagi dengan Yoongi hyung, biarkan saja. Kau bisa mencarikan Yoongi hyung pacar baru nantinya!"
"Enak saja!" potong Jimin.
"Lalu kau mau apa? Kau mau hubunganmu menggantung terus seperti ini?" Taehyung makin kesal. "Kalau mau katakan mau. Kalau tidak mau, akhiri saja. Susah sekali!"
"Dan Jungkook benar. Kau kekanakan. Kau bahkan belum mendengar penjelasan dari Yoongi hyung tentang apa yang terjadi,"
"Aku sudah memberi…"
"Jangan potong ucapanku" geram Taehyung. "Kau malah bertingkah seperti ini. Pikirkan, Park Jimin, kalau Yoongi hyung tidak mencintaimu, tidak mungkin dia kerja mati-matian untuk membuatmu senang. Membeli apartemen mewah untuk kalian tinggali bersama, membelikanmu barang yang kau inginkan, menuruti keinginanmu tanpa mengeluh, mempersiapkan uang untuk pernikahan impianmu, dan juga tetap bersabar dengan tingkah kekanakanmu. Kau pikir ada laki-laki yang bisa tahan dengan semua itu kalau bukan karena dia sangat mencintaimu?" omel Taehyung.
Jimin terdiam. Cemburu sudah membuat Jimin lupa semua perjuangan Yoongi untuk membahagiakannya.
"Kalau kau tetap ingin berpisah. Aku akan menyampaikan hal ini pada Yoongi hyung. Sebagai sahabatmu, aku akan tetap ada di pihakmu. Tapi tolong pikirkan ucapanku tadi" ucap Taehyung.
Jungkook tersenyum menang karena dibela.
"Jungkook, ayo pulang" Taehyung menarik Jungkook dengan paksa.
"Lho, tapi hyung…" Jungkook menahan tangan Taehyung yang menariknya keluar dari kamar Jimin.
"Ayo kencan" ajak Taehyung.
Jungkook tersenyum lebar, menyeringai pada Jimin dan memeluk tangan Taehyung erat-erat. "Aku pergi kencan dulu ya, Jiminie" ejek Jungkook.
.
.
.
Jimin merebahkan tubuhnya lagi diatas tempat tidur. Kepalanya terus memutar ucapan Taehyung berkali-kali dan membuat Jimin merasa bersalah. Jimin meremas kemeja kotak-kotak merah hitam milik Yoongi yang sedang dia pakai. Jauh dibalik rasa marahnya, Jimin merindukan Yoongi-nya.
Sudah empat hari Yoongi tidak menghubunginya sama sekali. Sudah empat hari juga Jimin sering menangis sampai tertidur karena memikirkan Yoongi dan hubungan mereka. Jimin menyesal sekarang karena mengembalikan cincin pemberian Yoongi.
Saat sedang merenung, ponsel Jimin bergetar dibawah bantal yang ditidurinya. Dada Jimin berdebar halus,ada harapan kecil yang Jimin bangun, dia berharap itu dari Yoongi. Jimin merogoh bantatnya, mengambil ponselnya dan mengernyit saat ada nomor baru masuk kedalam ponselnya.
'Jiminie, ini Joohyun hyung. Kalau tidak sibuk, mau bertemu tidak?'
Jimin membaca pesan itu berkali-kali, meskipun sedikit kecewa karena pesan itu bukan dari Yoongi.
Jimin: Halo, Hyung-nim. Maaf, aku tidak bisa. Mungkin lain kali.
Jimin meletakkan lagi ponselnya diatas tempat tidur. Jimin yakin Joohyun ingin bertemu untuk membahas Yoongi. Tapi Jimin ingin Yoongi sendiri yang datang padanya. Bukan melalui temannya.
Joohyun: Kau baik-baik saja, kan?
Jimin: Kalau Yoongi hyung yang bertanya, katakan padanya kau baik-baik saja.
Jimin meletakkan lagi ponselnya diatas tempat tidur. Dia masih marah, tentu saja.
Joohyun: hehehe, kau berpikir aku diminta Yoongi untuk menghubungimu? Tidak kok. Yoongi sedang tidur sekarang. Dia tidak tau aku menghubungimu.
Joohyun mengirim foto Yoongi yang tertidur disofa studionya. Yoongi memakai baju pemberian Jimin, membuat Jimin berkaca-kaca. Mereka saling merindukan satu sama lain.
"Papa anak-anak" guman Jimin sedih.
Jimin: ada apa hyung?"
Joohyun: Kihyun ingin bertemu, tapi dia takut. Makanya dia meminta tolong padaku. Kalau kau tidak sibuk dan siap bertemu, kabari, ya :).
Jimin mendiamkan pesan itu. dia masih tidak ingin bertemu Kihyun. Tidak saat hatinya masih sakit setiap mengingat Yoongi dan Kihyun berpelukan hari itu.
Saat malam, Jimin menatap kembali ponselnya. Dia jatuh tertidur setelah menangis menatap foto Yoongi yang tertidur yang dikirim oleh Joohyun tadi, perlahan tangan Jimin mengetikkan sesuatu diponselnya.
Jimin: Jungkook, temani aku bertemu Kihyun hyung
.
.
.
TBC
Biar cepat kelar ni FF.
Jadi updatenya dipercepat kakak yorobun
XD
