Disclaimer : I do not own Naruto
ooOoo
Matahari terlihat begitu cerah di penghujung hari. Sinarnya seolah menghidupkan apa saja yang ia hujani, kecuali sesosok pria berambut keperakan yang hanya bisa menatap kosong sesuatu di atas sana, sebuah pulau yang menggantung di udara. Kondisi sang pria tidak begitu baik. Ia hanya mengenakan pakaian hitam lusuh tanpa adanya jaket pelindung seperti biasa. Masker hitam yang menutupi wajah tampak sedikit robek meski masih terpasang rapi. Tiap langkah yang diambil terlihat dipaksakan dan mengambang. Tak jarang ia kelihatan hampir tumbang.
Ide penyelamatan diri secara spontan itu membawanya kemari, sebuah tempat yang jelas tidak ramah lingkungan untuk seorang shinobi sepertinya.
Kakashi menyenderkan diri di sebuah batang pohon tinggi. Jenis tumbuhan di sini--entah di mana--amatlah berbeda. Udara yang dihirup menyesakkan dada dan melemahkan daya hidupnya. Mereka seolah mengisap keluar seluruh energi yang dihasilkan Kakashi, membuatnya merasa lumpuh setiap waktu. Tiga halyang mampu disyukuri hanyalah variasi tanaman obat yang cukup banyak serta beberapa pohon buah dan aliran air sungai. Hal-hal itu membantu Kakashi untuk bertahan hidup meski di saat yang sama juga menghambatnya untuk benar-benar pulih.
Dimensi ini berbahaya.
Itulah yang dipikirkan Kakashi hingga ia membuka mata di hari kesekian.
Sudah berapa lama ia di sini?
Tubuh yang terasa begitu payah dipaksa untuk bangkit. Ia beranjak menghampiri dinding goa terdekat, mengamati goresan vertikal yang sudah berjumlah dua puluh lima.
Sudah hampir sebulan ia berkeliaran di sini tanpa hasil. Cadangan chakranya teramat rendah sampai ia tak bisa memanggil Pakkun untuk menyampaikan pesan pada dua murid kesayangan.
Sasuke dan Naruto, Kakashi percaya pada mereka. Semoga saja Kage Bunshin pengecoh yang ia tinggalkan bisa cukup membantu. Ia juga berharap jika kepergiannya bisa menyatukan mereka. Tidak lucu jika mereka masih saling menarik diri ketika desa berada di masa kritis. Selain itu, Sasuke juga harus menanggung apa yang ia tuai. Ia harus merasakan repotnya hidup bersama Naruto yang hamil.
Ya, Naruto.
Hidup bersama seorang wanita hamil tidaklah masalah. Tapi, dengan Naruto yang hamil?
Terdampar di dimensi asing ini pun terasa lebih baik.
Bibir yang tertutup oleh masker mengulum senyuman lemah. Ia mengesampingkan pikiran kacaunya untuk memulai hari. Goa di dekat sungai segera ditinggalkan. Ia kembali berkeliling di area yang seolah tak memiliki kehidupan selain tumbuhan-tumbuhan dan bentang alam. Menyusuri seluruh wilayah di dimensi ini akan sangat mustahil tanpa keberadaan transportasi udara. Kakashi langsung mengerti di minggu pertama ketika ia sampai di tempat yang mirip dengan tebing, sisi paling tepi dari dataran yang ditapakinya.
Netra kelabu belum sempat menatap ke bawah. Kakashi hanya memindai sekitarnya, pada cakrawala dan ruang yang disebut udara. Bukan dataran lain yang dipisahkan oleh tebing curam. Bukan pula sebuah gunung yang menjulang. Yang dilihat adalah ruang kosong dengan gumpalan tanah di tengah-tengahnya. Pulau-pulau yang menggantung di udara, tertahan oleh gravitasi entah apa ...
Di bawah sana, Kakashi tak mampu melihat apa pun selain kabut pekat. Ia hanya merasakan aroma familier sebuah laut yang luas, samudera. Jangkauannya tak terkira. Kakashi menduga bahwa dimensi ini dikelilingi oleh air. Di bawah sana hanya terdapat lautan dengan kedalaman yang tak diketahui. Jika Kaguya mampu membawa mereka ke dimensi yang dominasi lava, maka tempat ini didominasi oleh air. Tidak salah lagi.
Kakashi sudah mulai mengerti gambaran umum tempat ini ketika sebuah anomali--yang segera menghancurkan seluruh hipotesa di dalam kepalanya--terjadi.
Ini adalah yang pertama sejak sebulan lalu.
Tanah di bawah kakinya bergetar, ruang kosong tampak pecah, segala hal terlihat hancur dan retak. Rasa pening yang teramat sangat segera menyerang kepala Kakashi. Ia jatuh terduduk di tanah selagi merasakan gemuruh hebat di sekitarnya, seolah beberapa buah gunung berapi memutuskan untuk meledak di saat bersamaan.
Asap pekat semakin membutakan mata. Kakashi disorientasi cukup lama. Ia tidak menyadari keadaan sekitar hingga merasakan bagaimana tubuhnya seolah diremukkan. Seluruh tulang dan persendian terasa linu. Napasnya pun menderu. Selama beberapa saat, ia hanya mampu melihat kegelapan.
Matanya terbuka ketika gemuruh tanah tak lagi terasa, retaknya udara bagaikan kaca yang pecah tak lagi terdengar, asap pekat yang menyesakkan dada tak lagi mengganggu aliran napasnya, ataupun ketika ia tak lagi merasakan ... energi familier yang selama sebulan ini terus menerus menggerogoti tenaga.
Kakashi terpaku. Ia membuka kedua netra kelabu.
Yang dilihat adalah pemandangan familier; sebuah hutan normal, bukan hutan yang didominasi pohon-pohon penyangga langit. Semerbak aroma laut tak lagi dirasakan. Ia justru merasakan adanya kehidupan;keberadaan binatang liar, bukan lagi sekedar tumbuhan.
Kakashi menyusuri wilayah yang menumbuhkan harapan dan tingkat kecurigaannya. Ia terus mengeksplorasi, tak peduli dengan perut yang mulai meraung lapar. Sinar matahari semakin terang seiring bergulirnya waktu. Kakashi menjelajah dan mengamati segala hal dengan lebih jelas. Ia juga merasakan cadangan chakra yang mulai membuat tubuhnya terjaga, tak lagi lesu seperti beberapa waktu lalu.
Setelah berkeliling hingga sore hari, Kakashi menjadi semakin yakin akan keberadaannya. Dimensi penyerap chakra itu telah tiada. Ia kini berada di ... dunianya.
Permukaan tanah kasar ini menyerukan kata Iwagakure. Tidak salah lagi. Kakashi hanya perlu melewati Takigakure di perbatasan tenggara Iwa untuk bisa sampai ke Konoha. Luapan rasa lega memenuhi rongga dadanya. Selagi berjalan, Kakashi menurunkan masker dan memakan buah yang tadi sempat ia kumpulkan. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara khas pertarungan.
Buah berry dibuang, masker kembali dipasang. Kakashi memelankan langkah kaki dan berjalan ke sumber suara, begitu hati-hati seolah ia sedang dalam misi penyusupan. Percikan chakra yang terasa hangat di tubuhnya segera dialirkan ke kedua kaki dan tangan. Kakashi menaiki batang pohon dan bersembunyi di antara dahan. Ia menyipitkan mata, menatap dua kelompok yang tengah terlibat perkelahian.
Netra kelabu mengerjap. Ia mencoba menatap dengan lebih jelas.
Seragam shinobi dari dua desa yang berbeda itu terlihat cukup kuno. Sejak Sasuke mengambil alih kepemimpinan, Konoha mengalami banyak perubahan, termasuk dalam bentuk seragam. Mereka membuat desain flak jacket lebih ringan dari sebelumnya. Alih-alih warna biru dongker, Sasuke juga menetapkan hitam sebagai warna resmi seragam--sebuah faktor yang disyukuri Kakashi karena selera mereka ternyata sama.
Pertarungan yang sedang diamati Kakashi ternyata melibatkan ninja Iwagakure dan Konohagakure. Tidak mengherankan memang, sejak Yondaime Hokage mengambil alih kepemimpinan, Konoha telah ditetapkan sebagai musuh utama Iwa akibat insiden pembantaian ninja Iwa yang dilakukan Yondaime seorang diri.Kakashi takkan heran melihat pertarungan keduanya. Namun, itu berlaku untuk dua dekade lalu atau bahkan lebih, bukan sekarang. Sejak era baru tiba, tidak ada lagi perkelahian antar ninja dari desa yang berbeda, kecuali jika ninja tersebut termasuk nukenin.
Mendapati konflik lama semacam ini tentunya menyerukan kata awas untuk Kakashi. Ia gatal ikut campur dan menanyakan kejanggalan ini. Namun, a menahan diri semata-mata karena kondisinya yang belum benar-benar pulih.
"Bedebah Konoha! Enyahlah dari daerah kami! Bantuan akan segera datang. Kalian sebaiknya mati saja, Sialan!"
Salah seorang ninja Iwagakure berseru selagi menarik diri dari pertarungan. Ia mendarat cukup jauh dari tiga ninja Konoha yang masih meladeni sepuluh rekannya yang lain. Gerakan dari tiga ninja Konoha teramat tangkas dan cepat. Jumlah mereka mungkin jauh lebih sedikit daripada para lawan, tapi mereka jelas-jelas mengungguli pertarungan. Keadaan ini membuat Kakashi berkesimpulan bahwa para ninja yang dikirim Konoha bukanlah ninja biasa. Cengkeraman tangan Kakashi di dahan pohon mengerat, kecepatan detak jantungnya bertambah dua kali lipat akibat rasa antisipasi akan identitas tiga shinobi ini.
Salah seorang dari mereka terlihat masih sangat muda atau bahkan bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Meski begitu, gerakannya jauh lebih cepat dan efektif dibandingkan dua rekannya yang lain. Ia menggunakan benang kawat dan sebuah tantō alih-alih kunai. Pola penyerangan orang ini tidak terprediksi. Ia mengenai bagian-bagian yang tidak fatal selagi bermanuver ke sana kemari. Semua gerakannya tampak tidak terlalu berguna, seolah ia hanya mengecoh. Namun, Kakashi tahu tujuan orang ini. Ia mengenal pola penyerangan semacam itu.
Satu hasil serangan lagi sebelum Kakashi mampu memastikan dugaannya. Ia tidak melihat wajah sosok tersebut karena jarak yang cukup membentang jauh. Yang mampu diamati hanyalah kondisi pertarungan.
"Serang!"
Suara teriakan muncul dari arah barat. Pasukan bantuan yang digadang-gadang salah seorang ninja Iwagakure ternyata telah datang. Jumlah mereka sekitar empat buah tim, yang artinya dua belas orang sekaligus. Rasa dingin segera merayapi tulang belakang Kakashi. Ia mengenali salah seorang ninja Iwagakure yang baru saja datang. Sosok itu berpostur bongsor, batang hidungnya tebal dan lebar, khas keluarga Tsuchikage. Ia segera menghantamkan dua telapak tangannya ke atas tanah guna menciptakan dinding penghalang dari tanah.
"Jeratan kawatnya! Perhatikan sekeliling kalian!"
"Kitsuchi-san, di depanmu!"
Lima ninja Iwagakure terkena jebakan yang dibuat oleh ninja Konoha. Tubuh mereka terjerat benang-benang kawat yang sejak tadi telah dipersiapkan oleh shinobi yang diamati Kakashi. Menahan sekuat tenaga rasa terkejutnya, Kakashi menyaksikan bagaimana sosok itu menolakkan kedua kaki di dinding tanah dan bersalto bebas di udara. Ketika masih menggantung di atas sana, semburan api yang sangat besar menjalar melalui benang-benang kawat. Lima ninja Iwagakure yang terperangkap pun hangus dalam sekejap.
Dua rekan ninja muda itu membereskan sisa musuh mereka. Apa yang dilihat Kakashi selanjutnya semakin mengonfirmasi dugaan di dalam kepala.
Si shinobi muda memegang tantō dengan posisi melintang. Bayangan diri yang mirip Kage Bunshin segera tercipta di sekitarnya. Jumlah mereka kurang lebih dua puluh. Kakashi akan mengira bahwa bayangan tersebut benar-benar bunshin jika mereka menghilang menjadi asap ketika dikenai serangan.
Mereka tidak menghilang.
Bayangan itu semata-mata hanyalah after effect dari gerakan yang teramat cepat, sebuah teknik yang hampir menyerupai teleportasi.
Ninja Iwagakure yang dikenali Kakashi adalah Kitsuchi, putra Tsuchikage yang berposisi sebagai Komandan Divisi Kedua Aliansi Shinobi. Parasnya terlihat lebih muda dari terakhir kali Kakashi melihatnya. Ia berkemampuan tinggi, tentu saja. Kontribusinya di pertarungan ini juga cukup besar dilihat dari tiga shinobi Konoha yang tampak cukup kewalahan.
"Bisa kaualihkan mereka sebentar? Kita harus mundur dan melapor pada Hokage. Dia akan mengerti."
Campur tangan Hokage menunjukan bahwa pertarungan ini berdasarkan pada misi, padahal sejak memasuki era baru tidak pernah ada lagi misi pembunuhan ataupun penyusupan ke desa-desa lain.
Semua kejanggalan ini mengantarkan Kakashi pada satu dugaan. Tempat ini bukanlah masa sekarang. Kening Kakashi mengerut samar. Ia masih mencoba memperhatikan percakapan para ninja Konoha. Di depan sana, si ninja muda mengangguk.
"Kekuatan mataku sudah pulih."
Kalimat tersebut tak lagi membuat Kakashi terkejut. Ia malah menajamkan pandangan, memperhatikan bagaimana lima ninja Iwagakure yang lain jatuh berdebuk ke tanah setelah si shinobi muda berlari melewati mereka. Tak ada sabetan tantō di sana. Tikaman kunai dan jebakan benang kawat pun sama sekali tidak terlihat. Rekan-rekan Kitsuchi tumbang satu per satu dalam jangka waktu singkat. Ia terpaksa mundur ketika bola api lain menerpanya, diikuti oleh embusan angin kencang yang memperbesar nyala api.
Serangan besar dibalas dengan semburan air dari tiga orang yang masih tersisa, termasuk Kitsuchi sendiri. Asap pekat menggantung di udara akibat benturan dua elemen alam yang saling berlawanan. Ketika udara mulai jernih, ketiga ninja Konoha telah tiada.
Kitsuchi menggeram kesal sebelum mulai membantu menyadarkan rekan-rekanya yang tumbang tanpa luka. Mereka tampaknya masih hidup.
"Konoha sangat beruntung karena memiliki bibit-bibit muda yang sangat unggul. Mulai dari Sharingan no Kakashi, hingga anak ini ... Shunshin no Shihui. Belum lagi dengan anggota klan Uchiha yang lain. Ayah akan marah besar ketika tahu bahwa Hokage Pembantai itu kembali unggul."
"Si Kilat Kuning sudah dinobatkan sebagai pengganti Sarutobi?"
"Ke mana saja kau? Dia sudah menjabat hampir setahun."
"Merepotkan saja. Genjatan senjata ini tidak akan bertahan lama. Kita mendapat kerugian besar di perang terakhir. Dipermalukan oleh orang-orang congkak itu, bah!"
"Setidaknya sekarang kita seri. Tiga orang itu tidak berhasil mengambil gulungan curian kita."
Kakashi terlampau memperhatikan percakapan di bawah sana hingga ia lupa akan kerentanan dahan pohon yang menopang tubuhnya. Suara retak khas kekayuan tak sempat ia dengar ketika tubuhnya meluncur bebas ke bawah sana. Keberadaannya takkan diketahui jika ia benar-benar jatuh tepat di bawah pohon yang tadi digunakan untuk bersembunyi.
Berita buruknya, Kakashi tidak jatuh tepat di bawah. Refleks tubuh membuat ia bermanuver sedemikian rupa di udara. Kedua kakinya menginjak dahan yang lain, sebuah dahan yang justru memantulkan tubuhnya lebih jauh lagi.
Ia bersalto di udara dan mendaratkan kedua kaki tepat beberapa meter saja dari tempat di mana tiga ninja Iwagakure berdiri.
Tubuh Kakashi mematung sempurna. Ia berhadapan langsung dengan Kitsuchi. Sepasang netra bertabrakan. Otak Kakashi segera menyiagakan diri. Semua bujukan diplomasi dipikirkan demi menghindari baku hantam. Sebagai mantan hokage, Kakashi cukup mengerti kiat-kiat meluluhkan hati pemimpin desa yang lain. Salah satunya Sandaime Tsuchikage, Ōnoki, pria sepuh yang dikenal sekeras batu.
Sebelah kaki dilangkahkan. Postur siaga Kitsuchi memancing suara yang sempat beku di tenggorokan Kakashi. Mulut sang Rokudaime sedikit terbuka di balik maskernya. Ia sudah hampir berbicara ketika ... Kitsuchi mengerling pada lengan pakaian yang cukup kotor, menyekanya.
"Masing-masing orang buatlah tiga Kage Bunshin untuk memapah mereka semua."
Kakashi diabaikan.
Para ninja Iwagakure sibuk menciptakan imitasi diri mereka dan membantu rekan-rekan yang tumbang. Ketika salah satu dari mereka menghadap tepat ke arah Kakashi dan tetap mengabaikannya, Kakashi tahu terdapat sesuatu yang salah di sini. Orang-orang itu tidak ia biarkan pergi begitu saja. Ia berseru memanggil Kitsuchi, mencoba menarik perhatiannya.
"Kitsuchi-san, apakah Kurotsuchi sudah lahir?"
Tidak ada jawaban.
"Atau mungkin kau malah belum menikah?"
Masih diabaikan.
Para ninja Iwagakure mulai berjalan menjauh. Kakashi mengerjap. Keningnya mengerut dalam. Ia pada akhirnya memutuskan untuk berlari menyusul. Langkah mereka semua berhasil diimbangi. Ia kini berjalan tepat di samping Kitsuchi.
Pria bertubuh tambun itu sama sekali tidak menggubrisnya. Rasa terkejut hampir melumpuhkan Kakashi ketika tangan yang hendak menepuk pundak Kitsuchi ... menembus pundak begitu saja.
"Jangan-jangan ..."
Kakashi kembali mencoba. Kali ini ia tak tanggung-tanggung. Sebuah
tendangan berkekuatan tinggi dilayangkan ke arah para ninja Iwagakure.
Ia hanya menyabet udara kosong.
Kedua kakinya kembali mendarat di permukaan tanah.
Bukti lain seolah tak lagi diperlukan setelah salah seorang ninja Iwa dengan mudah berjalan melaluinya. Melalui dalam arti melewati; menembus tubuhnya.
Keberadaan Kakashi bagaikan hantu. Ia mematri informasi ini dalam ingatan. Kedua kakinya melangkah menghampiri mayat para ninja yang hangus terbakar. Ia berlutut dan mengulurkan tangan guna menyentuh wajah sehitam arang.
Jemarinya kini ternoda oleh abu tersebut.
Ia mampu menyentuh mereka yang telah tiada.
Kedua mata memejam. Embusan napas ditarik dalam-dalam melalui indra pencium. Ia masih merasakan jejak tubuh Shisui dari jarak ini. Anak itu masih belum jauh. Kakashi masih bisa mengejar.
Kekuatan dimensi dan pengendali waktu.
Kejadian tidak nomal itu membawaku ke dimensi shinobi di periode waktu yang lain, masa pasca Perang Shinobi Ketiga, kepemimpinan Minato-sensei ....
Jika sekarang sudah setahun sejak Sensei memimpin, artinya masa-masa ini juga ... hari menjelang kematiannya.
Kakashi membuka mata. Detak jantungnya bertalu-talu lebih cepat, bersamaan dengan ingatan akan rencana alternatif yang pernah dibicarakan Sasuke dan Orochimaru bersamanya. Hambatan dari rencana itu akan segera hilang jika Kakashi memanfaatkan kondisi ini dengan baik.
Siapa saja yang masih mereka punya di garis waktu ini?
Banyak sekali.
Bahkan, para Uchiha ...
Tapi, haruskah ia menunggu bertahun-tahun sampai bisa berkomunikasi dengan mereka menggunakan cara itu?
Bagaimana pula caranya kembali ke dimensi shinobi di mana Sasuke memimpin? Ia memang berada di dunia shinobi sekarang. Tapi, dunia itu terbagi menjadi tiga. Terdapat tiga dimensi paralel yang memiliki kehidupan sama persis. Yang diperlukan adalah kembali ke dimensi yang benar dan di garis waktu yang tepat. Ōtsutsuki Urashiki kemungkinan besar dalang di balik teknik gila ini. Kakashi perlu menemukannya untuk bisa kembali--
Tubuh segera ditegakkan. Kakashi melesat lebih cepat dari kedipan mata. Ia sudah berada di belakang batang pohon besar yang tertutup sesemakan ketika merasakan aliran chakra yang ia kenal dari laboratorium Orochimaru. Tak selang beberapa lama, ia mendengar percakapan dua orang berjubah merah marun. Tubuh mereka berdua sepucat kapur. Salah satu di antaranya berambut kelabu sedangkan yang satu lagi ... tidak berambut. Alih-alih surai normal, di sana malah terimplan beberapa mata merah menyala.
Kakashi mengenal keduanya; orang dalam yang dikendalikan langsung oleh Momoshiki, para peneliti, Uchiha Shin dan Tosaka sang ahli ilmu burung.
Dari balik batang pohon, Kakashi mampu melihat mereka yang tengah mengecek keadaan mayat-mayat ninja Iwa dengan kakinya, terlalu jijik untuk menyentuh secara normal.
"Kita tidak menembusnya."
"Tentu saja, Bodoh. Kau tidak dengar pertengkaran Momoshiki-sama dan Urashiki-sama? Dia marah karena Urashiki masih belum stabil dalam mengendalikan kekuatan Toneri. Mereka tidak berencana berada di demensi waktu ini. Markas asli kita berada di Dimensi Udara."
Pulau mengapung, pikir Kakashi.
"Terdampar di sini takkan memberi kita manfaat dan hanya membuang-buang waktu. Hokage Sialan itu sepertinya menguatkan segel portal sehingga teknik dimensi waktu kolaps. Bedebah Uchiha," geram Shin. Ia memandang ke arah hutan. Mata merah menyalanya terlihat menerawang. "Di Konoha ada banyak mata yang bisa kupanen. Tapi, kejadian di masa lalu tidak bisa dicampuri. Obito mengambil mata mayat-mayat Uchiha untuk menambah cadangan matanya. Tidak ada yang bisa kita lakukan di sini, setidaknya sampai Urashiki-sama bisa mengantarkan kita ke garis waktu yang benar."
"Sampai kapan kita harus menunggu, Senpai?"
"Kita terlempar ke garis waktu dua dekade lalu," tutur Shin pada rekannya. Kakashi berhenti mencoba untuk melihat mereka. Telinganya ditajamkan untuk tetap menangkap pembicaraan. Aliran chakra yang mulai pulih pun ditekan dalam-dalam. "Dengan kita yang masih mencoba memulihkan kekuatan para juubi, penggunaan teknik dimensi waktu hanya bisa dilakukan sekitar empat kali. Loncatan waktunya sekitar lima sampai delapan tahun,tidak bisa langsung dua dekade sekaligus. Kita untungnya tak perlu berpindah ke dimensi paralel karena memang sudah berada di dimensi yang tepat."
Keheningan sesaat tak membuat Kakashi langsung berpindah tempat. Ia tetap diam di sana, menganalisis. Tindakannya sangat tepat karena beberapa menit kemudian, suara mereka kembali terdengar. Kali ini, Tosaka yang berbicara.
"Kenapa Momoshiki-sama marah?"
"Kudengar Urashiki-sama gagal mengambil calon wadah dalam penyerangan terakhir. Padahal dia sudah merencanakan ini sejak dua tahun lalu! Jauh lebih awal sebelum tahu kekuatan si jalang keparat!" Suara decihan terdengar. Rasa marah seolah merayapi suara Shin. "Tch, penjilat tidak tahu diri. Apa spesialnya dia? Hanya segel sialan yang bisa menimbun chakra, tidak lebih! Tapi, Momoshiki-sama tetap memilihnya!"
Dehaman terdengar.
"Dia menangani laboratorium lebih baik darimu, Senpai. Kau sendiri tidak kuat ketika hendak dijadikan kandidat wadah--"
Kali ini suara ledakan. Kakashi semakin merekatkan punggung pada batang pohon. Letupan chakra di dalam dirinya ditekan dalam-dalam. Hela napas pun diatur sedemikian rupa agar tak menimbulkan banyak kecurigaan. Keadaan baru dirasa aman setelah dua puluh menit. Ia keluar dari tempat persembunyian. Pohon-pohon di sekitar jasad tampak seperti terbakar. Kakashi mampu melihat bagaimana nyala api menghilang perlahan, diikuti oleh kerusakan lainnya. Selang beberapa saat, area itu sudah kembali seperti sedia kala tanpa adanya bekas ledakan.
Masa lalu benar-benar tak bisa dicampuri. Mereka hanya bisa melihat dan mengambil apa yang telah tiada di sana, seperti mayat dan ...
Netra kelabu menangkap onggokan surai kecoklatan--kemungkinan besar milik salah satu ninja Iwa yang kepalanya sempat tersabet tantō milik Shisui. Kakashi mampu menyentuhnya, seperti halnya ia menyentuh benda-benda lain yang tidak terlalu mempengaruhi perubahan urutan peristiwa di masa lalu.
Sebuah kesimpulan tercipta di dalam kepala.
Ia segera merogoh kantung ninja--yang untungnya tidak hilang--dan mengeluarkan tiga buah gulungan penyimpanan. Mayat-mayat yang berserakan di sana segera ia masukan ke dalam gulungan setelah dipasangi segel pengawet. Kakashi melangkah menjauh dari tempat tersebut, isi percakapan Shin dan Tosaka masih terngiang dalam kepala. Terdapat kejanggalan pada percakapan mereka, mengenai ketidaksukaan Shin akan sesuatu.
Apakah kubu lawan sedang dilanda konflik internal? Siapa wanita yang dimusuhi si Ketua Sora?
Dahi Kakashi mengerut dalam. Ia mencoba mengenyahkan pikiran yang mengganggunya. Yang sekarang perlu difokuskan adalah rencana mereka. Dunia shinobi benar-benar akan terbantu jika kalkulasi Kakashi benar adanya.
oOo
"Perempuan. Dia sangat sehat dan akan tumbuh jadi perempuan cantik sepertimu."
Matanya mengerjap, memandang ruangan putih di sekitarnya. Ia mematrikan sorot mata pada seorang wanita berambut hitam kecoklatan pendek yang tengah menggendong seorang bayi merah.
Rekahan senyum segera terlukis di bibir pucatnya. Posisi duduk diperbaiki meski rasa sakit masih menerpa. Ketika sepasang tangan tegap ikut membantu, mulutnya pun menggumamkan kata terima kasih.
"Putri kita ..."
Kalimatnya mengalun penuh syukur. Kedua tangan menerima uluran dari si wanita berambut hitam kecoklatan. Ia membopong sosok ringkih yang tengah terlelap. Mata itu tertutup rapat, seolah belum ingin melihat dunia baru yang akan menjadi tempat tinggalnya.
Kecil dan teramat polos. Kehadirannya secara ajaib membuat orang-orang yang melihat langsung menyayanginya ... apakah--
Sorot mata bergulir mendongak, menatap sesosok pria dengan manik oniks terpatri pada sosok ringkih itu. Dingin yang biasa menyelimuti mata kini tiada. Di sana hanya terpancar ketulusan dan kehangatan yang sudah lama sirna.
--dia merasakannya.
Bibir pucat melengkungkan senyuman."Dia pasti akan terlihat sepertimu. Lihat saja rambutnya, astaga."
Tawa rendah terdengar. Tapi, tak ada balasan. Hanya kedipan mata dan sedikit dehaman. Sang pria duduk di tepi tempat tidur, maniknya mengerling pada sang wanita yang terlihat amat pucat, tapi juga bahagia. Pancaran kasih di matanya sangat kentara. Suara batin meraungkan perintah agar ia berbuat sesuatu yang mungkin bisa mengenyahkan garis lelah di wajah sang istri. Sebelah lengan sudah sedikit terangkat, hendak merangkul.
Tindakannya berkata lain.
Ia tak jadi mengalungkan lengannya dan memberi dorongan moral. Yang dilakukan hanya sedikit mendekat dan membelai individu baru yang teramat mungil. Sorot tak menyangka dari sang istri mengikuti.
Suaranya cukup pelan ketika berujar, "Sarada. Uchiha Sarada."
Bibir pucat sang istri tertarik ke atas. Ia mengistirahatkan kepala di pundak sang lelaki, bersandar di sana selagi merasakan hangat yang menelusup ke dalam dada setelah sekian lama. Rasa kasihnya pada sosok ini ternyata masih tetap ada.
"Uchiha Sarada, putri kita."
oOo
Terima kasih, Sakura.
Sepasang mata mengerjap terbuka, mencoba menyesuaikan diri dengan penerangan minim di tempatnya berada. Tenggorokan dibasahi. Netranya mengerling ke sekitar, mendapati ruangan familier yang telah ia tempati sejak dua bulan lalu. Helaan napas lega tak bisa ditahan ketika tersadar bahwa semua yang ia alami hanya bagian dari serpihan memori yang terbawa dalam mimpi.
Meski begitu, ia tak bisa untuk tak bertanya-tanya. Kenapa ia harus mengingatnya sekarang?
Kenapa ia harus melihat ingatan Sakura dengan lebih jelas?
Kecamuk di dalam kepala tak bisa dipadamkan begitu saja. Sasuke memberi tahunya agar tidak terlalu memaksakan diri untuk berpikir.
Kepalamu mulai berasap, begitu kata Sasuke.
Menjengkelkan sekali memang. Namun, Naruto tahu bahwa niat Sasuke baik. Naruto sendiri tidak ingin lagi tenggelam dalam masa lalu. Memikirkan ingatan Sakura membuat dadanya sakit. Rasa sesal akan mulai menggerogotinya jika ia termenung terlalu lama. Di akhir nanti, ia akan kembali segan pada Sasuke--yang akan mendapatkan decakan tajam. Jangan lupa dengan Sasuke yang akan kembali membuat Naruto 'terbiasa' pada kedekatan mereka. Entah apa jadinya kalau Sarada tidak di sekitar mereka.
Sepasang netra biru mengerjap.
Naruto hampir mengumpat ketika ia menoleh dan tidak mendapati keberadaan sosok kecil itu.
Kakinya sudah beranjak ke ruang tengah sebelum ia sempat berpikir panjang. Hela napas lega terselip dari bibir begitu melihat Sarada tengah meringkuk di atas sofa. Ia ketiduran dengan beberapa buku di tangannya. Kondisi ini jauh lebih baik dibanding terakhir kali Naruto terlambat bangun dan mendapati Sarada sudah tak lagi di dalam rumah. Hubungan mereka masih belum terlalu baik meski sudah dua bulan tinggal bersama.
Naruto memulai rutinitas paginya ketika ia kembali memikirkan ingatan Sakura. Sudah sekitar lima kali serpihan ingatan sang ninja medis menelusup melalui mimpi Naruto. Pertama kali melihatnya, Naruto menghabiskan seharian penuh untuk melamun. Ia tidak bisa fokus dan cukup menjaga jarak dari Sasuke karena kembali merasakan hantaman rasa bersalah. Kali kedua, ia masih melamun, tapi tak lagi bersikap aneh pada Sasuke karena kembali diingatkan akan janjinya dulu. Sedangkan untuk ketiga dan selanjutnya, ia sudah mulai menguasai diri. Pikirannya menjernih sehingga ia mampu menangkap kejanggalan alih-alih dikuasai kesedihan.
Banyak pertanyaan yang bermunculan di dalam kepala, seperti alasan mengapa ia harus melihat semua ingatan itu sekarang, bukan enam bulan lalu ketika ia masih menjadi 'Sakura'.
Apakah karena Naruto yang sudah bersama dengan Sasuke sehingga Sakura--
Kepala digelengkan. Naruto bergegas ke dapur dan mulai menyiapkan makanan setelah membersihkan diri. Langkah kaki pendek dari belakang membuatnya menoleh.
Sarada langsung membuang muka ketika melihat Naruto. Ia tak ingin menatapnya langsung, seperti biasa.
Kepentingan memasak sedikit dialihkan. Naruto mengambil persediaan susu segar dari lemari pendingin, menuangkannya ke dalam gelas, dan menghampiri Sarada yang masih berdiri di dekat pantry. Melihatnya dari dekat membuat Naruto kembali teringat momori Sakura.
Hatinya serasa diremas. Ia sebenarnya sedikit terganggu dengan kedekatan Sasuke dan Sakura di ingatan itu, tapi rasa pedih ketika tahu betapa terlukanya Sarada atas ketiadaan sang bunda berhasil mengubur rasa terganggu yang amat irasional. Naruto masih sulit bersikap biasa saja tanpa merasa bersalah.
"Agar tidak diledek Takuma, minumlah."
Gelas panjang berisi susu putih diulurkan pada Sarada. Kegiatan ini sudah dilakukan Naruto sejak dua bulan lalu. Awalnya, Sarada menolak habis-habisan. Ia bahkan hampir memecahkan gelas kalau refleks Naruto terlambat. Untungnya, menangkap gelas yang hampir terjatuh begitu mudah dilakukan Naruto. Ia bisa melakukannya dengan mata tertutup. Sasuke tidak diberi tahu sedikit pun tentang kejadian ini. Naruto tak ingin masalah semakin pelik jika nantinya Sasuke malah semakin menyinggung Sarada.
Kegigihan Naruto cukup berbuah ketika Sarada mau menerima minuman berkalsium yang disiapkan olehnya. Ia juga bersedia berbagi kamar dengan Naruto setelah mendengar Sasuke menawari Naruto tidur di kamar utama sementara ia di sofa ruang tengah.
Sarada tidak ingin ayahnya tersiksa dengan tidur di sofa sehingga ia mengalah begitu saja, tidak sempat melihat sang ayah disikut keras oleh Naruto ataupun sempat mendengar gumaman semacam, 'Omong kosong. Palingan juga kau akan mengendap-endap ke kamar kalau Sarada sudah tidur.'
Sarada mulai membuka diri meski masih sulit untuk diajak mengobrol. Meski begitu, ucapan Naruto didengarkan. Gelas berisi susu diterima meski Sarada masih enggan menatapnya. Ia tidak selesai minum dan meletakkan gelas begitu saja di atas pantry setelah mendengar suara pecahan kaca. Naruto mengekori Sarada ke ruang depan setelah mematikan kompor. Ia tidak begitu terburu-buru karena sudah tahu si pemilik identitas chakra. Percikan rasa terkejut baru menimpanya ketika melihat langsung sosok itu.
Sasuke menopang sebagian beratnya pada kosen pintu. Ia sedikit membungkuk guna membalas pelukan Sarada di pinggangnya. Suara gadis kecil tersebut sedikit bergetar ketika melihat keadaan sang ayah yang ...
Naruto menahan geram. Sangat geram.
"Kau terluka," ungkap Sarada. Pelukan membuat sebagian tubuhnya kotor oleh tetesan darah sang ayah. "Ku--kukira kau tidak kembali."
Kernyitan sakit tercetak jelas di wajah lesu Sasuke. Ia masih sempat menepuk pelan bahu Sarada guna menenangkannya.
"Belum berangkat?" tanya Sasuke, sama sekali tidak menggubris kekhawatiran sang putri.
Sarada menggeleng kuat.
"Tidak mau. Kau sakit."
"Sarada--"
Darahnya kini merembes sampai ke piyama gadis kecil itu. Naruto segera menarik Sarada menjauh. Ia memotong protes sang Uchiha Muda dengan berkata, "Ayahmu harus ke rumah sakit."
Bantahan Sasuke membuat Naruto mendelik.
"Kau mau mati kehabisan darah?" serunya tak habis pikir. Ia berdecak. "Dengar, Bereng--uh, Sasuke, dengar, wajahmu sudah sangat pucat. Jangan membantah."
"Tidak. Ini hanya luka kecil."
"Lepaskan aku, Naru-san!"
Kepala Naruto berdenyut pusing.
Damn Uchihas. Kepala mereka sekeras batu karang.
Naruto beradu pandangan dengan Sasuke selama beberapa detik. Tangannya pun sibuk menahan Sarada. Ketika oniks lesu yang menatapnya tetap tak mau kalah serta tarikan di tangannya semakin kuat, ia mengembuskan napas kuat-kuat, dengan sekuat tenaga menahan umpatan. Sarada dilepaskan. Tatapan diputuskan. Naruto mengerling pada kaca jendela di dekat pintu yang sudah pecah. Kemungkinan besar akibat tekanan Sasuke ketika ia mencoba berpegangan di sana.
Jika di sini hanya ada Sasuke, ia bakal langsung memanggul pria itu ke rumah sakit. Lain lagi jika ada Sarada. Ia tidak terlalu ingin dikenal barbar.
Setelah menimbang-nimbang sesaat, Naruto pun memutuskan untuk memapah Sasuke ke sofa ruang tamu. Ia menutup pintu sebelum bergabung ke sana, di antara sepasang ayah dan anak.
Tatapan tajam dari netra biru kristal membuat Sasuke membuka mulut. Ia tampaknya tahu alasan kemarahan Naruto. Bukan hanya karena ia yang kembali dengan babak belur.
"Salurkan chakra Kurama."
Dalam kondisi ini pun Sasuke masih menyuruh-nyuruhnya. Naruto geram sekali. Ingin rasanya melayangkan tonjokan.
"Kau takkan begini kalau tidak melenyapkan bunshin-ku dengan pedang sia--susano'o." Sulit sekali berbicara dengan Sasuke tanpa mengumpat. "Jika kau kehabisan chakra di sana bagaimana?"
"Tolong bantu papa, Naru-san. Dia kesakitan," timpal Sarada di sampingnya. Ia mencoba meraih lengan Sasuke, seolah hendak memberi dukungan.
Mendekati Sasuke yang basah kuyup oleh darah akan menambah kotor Sarada. Kenapa pula anak ini tidak takut sama sekali?
Naruto tidak mengerti.
"Tidak," balas Naruto sadis. Kejengkelannya sudah memuncak sekarang.
Sarada mengerjap sekali ketika melihat kilat marah yang tak pernah disaksikannya. Selama ini Naruto selalu ... sabar. Melihatnya begini mengingatkan Sarada pada ... sang bunda yang selalu mengomel kalau Sarada benar-benar nakal.
"Bersihkan dirimu dan aku akan mengobati Sasuke," tawar Naruto, tidak terbantah.
Sarada mengerling pada ayahnya. Anggukan kecil sang ayah membuatnya menurut. Sarada beranjak dengan ragu-ragu. Ketika ia melihat Naruto yang mengangkat sebelah alis, ia segera melesat ke kamar untuk mengambil baju ganti dan handuk.
Kepergian Sarada diikuti hela napas Naruto. Ia akhirnya bisa mengumpat sekarang.
"Kau itu, Unggas Tua Tak Tau Diri."
Sasuke diam saja. Ia sedikit meringis ketika Naruto membantunya melepas jubah berpergian. Punggungnya menyender sofa selagi ia menatap dinding lamat-lamat, membiarkan Naruto membuka kemejanya untuk memeriksa luka sayat yang cukup dalam di tubuhnya, melintang panjang secara diagonal dari dada hingga perut. Rasa sakit hanya menimbulkan kernyitan samar, tidak lebih. Ia menyipitkan sebelah mata ketika kejengkelan Naruto memuncak begitu menyadari ... lengan kiri kemejanya yang kosong.
Kemeja berlumuran darah segera dilepas Naruto.
Ia mendapati lengan artifisial Sasuke yang telah hilang entah ke mana.
"Berengsek, kaukira aku ninja medis? Kita ke rumah sakit!"
"Aku akan mati jika kau terus mengoceh."
Pucat di wajah Sasuke mengindikasikan ia yang kehabisan banyak sekali chakra. Jumlahnya tak terkira karena ia yang memang sudah berpergian sekitar seminggu penuh. Siapa yang tahu apa saja yang dilakukan Sasuke?
Naruto mengatupkan mulut. Chakra Kurama dirasakan dari dalam tubuhnya. Begitu jubah chakra kejinggan menyelimuti tubuh, ia segera meraih telapak tangan Sasuke, menggenggamnya.
Selagi jubah chakra memudar, Sasuke menyipitkan sebelah mata. Ia berkonsentrasi untuk menyebarkan chakra tersebut ke tiap titik lukanya. Bantuan Naruto memang sekadar memberi tambahan chakra, bukan mengobati. Sasuke sendirilah yang mengubah tambahan chakra tersebut untuk menutup luka. Meski tak sehebat Naruto, Sasuke tetap punya kemampuan regenerasi tinggi dibanding kebanyakan shinobi.
Naruto pergi sesaat dan kembali dengan air bersih serta kotak obat. Ia tampaknya paham jika Sasuke takkan sembuh dengan cepat tanpa bantuan medis. Rasa jengkelnya dialihkan sesaat. Ia duduk menghadap Sasuke selagi mulai membersihkan darah di sekitar luka sayat itu. Fokusnya tertuju di sana meski mulutnya berkata-kata.
"Kau bertemu dengan mereka berdua sekaligus?"
Meski masih berkonsentrasi pada teknik regenarasi, Sasuke tetap bisa menimpali Naruto. Rambut keemasan panjang yang menerpa perutnya terasa cukup geli. Ia menggenggam rambut tersebut selagi membiarkan Naruto membersihkan lukanya.
"Hanya ajudannya. Aku sedikit lengah karena kehabisan chakra. Gerakanku melambat. Rinnegan tidak bisa diaktifkan sementara."
Pendarahan Sasuke sudah mulai berhenti berkat usahanya sendiri. Naruto mengerutkan kening selagi berkonsentrasi penuh. Mengobati memang selalu merepotkan. Ketika menekan terlalu keras, ia mengerjap. Netra safir mengerling pada Sasuke, menangkap tak ada perubahan ekspresi yang signifikan.
"Sakit?"
Gumaman Sasuke berkebalikan dengan ekspresi wajahnya. Naruto menggerutu pelan, "Gaya sekali."
Inilah yang membuat Sasuke berhasil meyakinkan diri untuk selamat dari pria tambun pembawa kapak merah itu. Tingkah laku Naruto meringankan bebannya.
"Markas mereka masih belum kutemukan," ungkap Sasuke selagi memperhatikan tangan berkulit karamel cerah yang tengah mengusap luka pelan-pelan menggunakan waslap. Rasa sakit tak membuatnya luput akan kefamilieran sentuhan Naruto. Surai halus di tangannya ia sampirkan di bahu sang pemilik. Tangan Sasuke tetap bernaung di sana. "Aku sempat merasakan pergerakan energi aneh yang mengganggu jalur antar portal."
Naruto berhenti mengelap, ia mendongak dan berujar, "Energi seperti apa?"
Membenarkan posisi duduk, Sasuke mengerutkan dahi samar. Ia terlihat sedang mengingat-ingat seruak energi aneh yang secara tidak langsung mengganggu kestabilan chakranya. Menjelaskan secara verbal akan cukup sulit. Sasuke pun mengaktifkan sharingan dan menatap Naruto. Ia membayangkan sensasi aneh dari energi itu, luapan kekuatan yang mengganggu gravitasi sehingga permukaan 'tanah' berjatuhan dan udara yang seolah retak bagaikan pecahan kaca.
Ilusi tersebut berlangsung kurang dari sepuluh detik. Naruto mengerjap sesaat. Ia kemudian berkata, "Teknik dimensi waktu. Urashiki pernah menggunakanmya untuk mengganggu koneksi yang dibuat Toneri untuk menghubungiku." Semua darah di sekitar luka Sasuke sudah dibersihkan Naruto. Ia kini tengah mengoleskan salep di sekitarnya. "Kurasa dia menggunakan teknik itu lagi. Mungkin posisinya cukup dekat denganmu."
"Kau tahu di mana lokasi Toneri?"
"Ingin menanyakan langsung padanya?" timpal Naruto. Ia masih sibuk mengoleskan salep secara menyeluruh.
Tidak ada ringisan sakit kali ini. Sasuke sepertinya berhasil memusatkan chakra pada proses penyembuhan meski luka tersebut belum sepenuhnya tertutup.
"Jika dia benar-benar seperti yang diceritakanmu, dia bisa membantu kita."
Naruto menegakkan diri. Manik safirnya menampakkan percikan rasa sesal.
"Aku tak tahu lokasinya. Selain itu, dia sedang dihukum karena ketahuan membantuku. Sesama Ōtsutsuki tidak bisa saling bunuh, tapi mereka bisa menghukum mereka dengan mengasingkan ataupun memenjarakannya. Untuk Toneri, dia didinginkan dalam dimensi waktu selama sepuluh ribu tahun." Kemurungan Naruto terlihat sangat kentara sekarang. Ia mengembuskan napas pendek. "Tak ada yang bisa kulakukan untuk mencegahnya."
'Aku tak bisa menolongnya' adalah kalimat tersirat di ucapan Naruto. Sasuke tidak mengulik topik itu lebih jauh lagi. Dengan keadaan yang sekarang, Naruto sensitif sekali jika sudah membahas kegagalan. Pada akhirnya, ia akan kembali ragu untuk tetap membiarkan orang lain bertindak tanpa bantuannya, termasuk Sasuke.
Pikiran ini datang bersamaan dengan Naruto yang sudah selesai membalutkan perban di tubuh Sasuke. Ia tampak mempunyai pemikiran yang sama seperti yang sedang diantisipasi sang Uchiha.
"Kenapa kau dengan sengaja melenyapkan bunshin-ku? Dia bisa membantumu. Aku pun jadi bisa tahu apa yang terjadi."
"Tenagamu akan terkuras banyak jika kau menciptakan bunshin dalam mode Kurama. Jika terlibat pertarungan, kau juga akan merasakan sakitnya meski tidak sampai terluka. Menurutmu aku akan membiarkannya?"
Wajah Naruto mengeruh. Ia masih tidak senang.
"Aku sudah terbiasa."
"Bagaimana dengan dia?"
Sasuke telah beringsut mendekat. Ia menyentuh dan mengusap pelan perut Naruto yang sudah membentuk lekukan yang cukup kentara jika tidak ditutupi dengan pakaian longgar. Berbeda dengan bunshin-nya yang berpenampilan biasa tanpa tanda-tanda kehamilan, perubahan fisik Naruto asli sudah mulai terlihat meski tak terlalu signifikan.
Sarada dan orang-orang masih belum tahu. Tidak ikutnya Naruto pada aktivitas ninja di luar desa diasumsikan sebagai upaya Naruto menjaga desa selama Sasuke tidak ada.
Dugaan memang mereka tidak sepenuhnya salah, hanya kurang tepat.
Pertanyaan Sasuke belum dijawab Naruto, bahkan ketika mereka berjalan ke kamar utama untuk mengambil pakaian ganti. Suara rendahnya baru terdengar ketika membantu Sasuke yang terlihat kerepotan mengenakan pakaian karena tangan artifisialnya hilang.
"Mereka, bukan dia," gumam Naruto selagi mengancingkan kemeja Sasuke.
Sasuke mengerjap, mencoba mencerna perkataan Naruto. Ia bingung sekali.
"Mereka?"
Kemeja pakaian Sasuke sudah terkencing seluruhnya. Naruto melangkah mundur dan mengangguk. Ia menepuk perutnya pelan.
"Mereka," ulangnya.
Untuk seperkian detik, Naruto sempat melihat bagaimana wajah Sasuke memucat. Ia mungkin hanya berimajinasi, sebab selanjutnya Sasuke sudah tersenyum hangat sekali. Pelukannya diusahakan agar tidak menekan perut Naruto yang sudah mulai mengembang. Punggung Naruto diusap ringan selagi ia mengistirahatkan dagu di pundak Naruto.
"Kita akan memiliki dua putra," bisik Sasuke setelah melepas pelukan. Senyum miring yang teramat khas tercipta di wajah rupawannya. Binar bahagia di mata oniks membuat Naruto ketularan senyuman.
"Dua miniaturmu. Awas saja kalau mereka sama sekali tidak terlihat sepertiku."
"Hn. Rambutnya pasti hitam."
"Yang satu lebih baik rambut pirang saja biar bisa dibedakan," komentar Naruto, sedikit mencebik. Ia tiba-tiba menghela napas pendek, terlihat terganggu oleh sesuatu. "Bagaimana caraku memberi tahu Sarada? Ini gila."
"Kau sudah sedikit menggerakkan hatinya. Jangan khawatir," gumam Sasuke selagi memainkan rambut yang jatuh menutupi dahi Naruto. Jemari menyelipkan rambut ke belakang telinga. Kaki melangkah maju. Sasuke sedikit menunduk ketika ia mencium kening sang kekasih dengan cukup lama. Kedua matanya terpejam sesaat sebelum kembali membuat jarak yang sempat terkikis. Mata safir ditatap lamat-lamat. "Tunggu sampai kau siap. Jangan dipaksakan."
Kalimat dan gestur yang diperlihatkan Sasuke cukup menenangkan Naruto. Ia mengangguk kecil dan kembali membenarkan pakaian Sasuke. Matanya mendelik ketika melihat lengan panjang sebelah kiri Sasuke terlihat kosong. Dengan jubah dan pakaian kotor di lengan kiri, Naruto berujar, "Segera ke rumah sakit setelah ini. Aku akan membawamu ke sana dengan kedua tanganku kalau kau tetap menolak."
Gumaman tidak peduli Sasuke membuat Naruto menekuk wajah semakin dalam. Ia memutar bola mata ketika mendengar ledekan Sasuke mengenai ia yang seolah mengkhawatirkan suami. Mereka berjalan beriringan ke arah dapur dan berhenti mendadak ketika sesuatu terjatuh dari jubah Sasuke. Naruto belum sempat meraih plastik bening itu karena sudah lebih dulu diambil Sasuke. Gerakan membungkuk seolah kembali membuka luka yang mulai menutup. Sentakan rasa nyeri membuat Sasuke meringis pelan.
"Kau serius?" tanya Naruto tidak habis pikir. Ia segera menyingkap kemeja Sasuke ke atas, memperlihatkan perut kecang atletis dengan balutan perban telah kembali dihiasi bercak merah. Manik safir berbinar jengkel. Ia menatap Sasuke dan plastik kecil di tangannya. "Apa itu?"
Sasuke langsung memasukannya ke dalam saku. Naruto sempat melihat helaian rambut di sana. Hanya sedikit, tidak lebih. Sasuke menjawabnya selagi berjalan mendahului. Ia tampak tidak terganggu dengan luka yang kembali terbuka. Asal cadangan chakranya terisi, ia takkan masalah dengan luka-luka di tubuhnya, bekas tusukan tajam sekalipun.
"Sampel diri musuh. Orochimaru menginginkannya."
Kening Naruto merengut tidak yakin. Ia merasakan kejanggalan, tapi tak punya sedikit pun dugaan. Oleh karenanya, diabaikan saja firasat tidak enak itu. Kaki melangkah menuju ruang belakang. Ia meletakkan pakaian kotor ke dalam keranjang cucian, meninggalkan Sasuke yang masih berada di dapur, terdiam oleh kemelut pikiran.
Tarikan ringan di celana membuatnya menoleh. Sasuke melihat Sarada yang sudah berpakaian bersih dengan rambut tersisir rapi. Binar di mata gelapnya masih menunjukan kekhawatiran.
Sasuke membungkuk rendah, membiarkan Sarada memeluknya. Ia mengerti kekhawatiran putrinya ini--dengan kesibukan dan kondisi desa yang tak bisa disebut baik ...
Dibiarkannya Sarada meluapkan kekhawatiran. Racauan sang putri didengarkan saja sementara ia membalas pelukan. Ketika sudah selesai, Sasuke menjentik pelan dahi sang putri. Mata hitam Sarada sedikit menyipit selagi merengut.
"Papa!" protesnya karena sengatan sakit di dahi.
Kemudian, sebelum Sasuke sempat berkomentar, suara renyah seseorang terdengar dari depan Sasuke. Naruto dengan lugasnya berkata, "Balas saja, Sarada. Dia menjengkelkan, bukan? Lakukan sekali untukku."
Sarada menoleh, melihat Naruto yang menyeringai jahil. Ia kembali menatap ayahnya yang ... menyipitkan mata awas pada Naruto. Mata oniks berkacamata mengerjap. Tawa Naruto terdengar ketika Sasuke menatap Sarada tidak percaya. Sengatan nyeri masih terasa di dahinya. Sarada menjentiknya keras sekali. Sasuke takkan heran kalau ternyata dahinya berdarah.
"Bagus, Sarada! Kau menjadi Uchiha favoritku sekarang."
Sasuke mengerutkan kening samar, memperhatikan seringaian puas di bibir kekasihnya. Kalau tidak ada Sarada, sudah habis Naruto dibalas olehnya. Percampuran antara gemas, rindu, dan kesal sudah cukup untuk membuat Sasuke melakukan sesuatu untuk memudarkan seringaian kemenangan itu. Pilihannya ada banyak. Salah satunya dengan menggigit bibir yang tengah menyeringai itu.
Iya ... 'kan?
Jelas tidak bisa dilakukan sekarang.
Jadi, daripada terbawa khilaf, Sasuke mengabaikan Naruto dan balik menatap Sarada.
"Kau disogok apa olehnya?"
"Hei! Pikiranmu tidak pernah positif, ya!" protes Naruto dari belakang.
Sarada tiba-tiba melengkungkan senyum. Senyuman pertama setelah sekian lama. Ia tertawa pelan.
"Naru-san tidak meninggalkanku di rumah sendirian. Tidak sepertimu."
Bagi Sasuke, rasanya seperti dipukul godam. Naruto sudah menahan tawa lain dengan mulutnya. Dehaman itu hanya kamuflase saja.
"Dengarkan itu, Papa," ledek Naruto dari belakang sana. Ia kemudian mendekati Sarada dan berbisik pelan. Sarada mengerjap sekali sebelum menatap Sasuke. Detik selanjutnya, kecupan ringan mendarat di pipi pucat Uchiha Sasuke. Sarada langsung berbalik dan menarik Naruto menjauh guna menyiapkan makanan di ruang tengah. Selagi berjalan, Naruto masih menyeringai puas selagi menatap Sasuke yang mematung dengan wajah memerah.
Gerakan bibir itu cukup mudah dibaca.
Seri.
Percakapan wanita pirang dan anak perempuan berambut hitam mengalun di telinga Sasuke. Naruto sedang menasihati Sarada untuk tidak terlalu kaku pada Sasuke dan lain-lain. Ia juga sempat mendengar Naruto berkata sesuatu semacam, 'Inuzuka Miyo sering bermain anjing dengan ayahnya, 'kan? Kau bisa mencobanya juga, Sarada. Sasuke punya banyak peliharaan. Pilih saja antara ular atau elang. Seleranya rendah sekali memang. Padahal lebih bagus Gamabunta,' dan lain-lain. Sarada masih membalas pendek-pendek, tapi Naruto seolah mengabaikannya. Ia tetap mengajak Sarada bicara seperti biasa.
Ketika berdiri, Sasuke mengulas senyum tipis, mensyukuri keadaan Sarada yang sudah mulai mau menerima Naruto. Hanya saja ...
Sebelah tangan Sasuke merogoh saku, meraba plastik kecil yang sempat terjatuh.
Ia masih ingat pertarungan yang dilaluinya. Bukan hanya Kinshiki yang dihadapi, tapi juga seseorang yang dulu pernah mencabut nyawanya sekali.
Mengajak Uchiha Madara bekerja sama nyatanya tidak semudah yang ia kira.
Ia hampir saja mati.
Kemarahan Madara terhadap Ōtsutsukilah yang meringankannya. Pria kuno itu tetap melawan Sasuke untuk membuktikan 'kelayakan' seorang Uchiha. Ia menyeringai lebar ketika tahu Sasuke yang mampu menandinginya jauh lebih mudah dibandingkan dua dekade lalu. Seringaiannya semakin lebar ketika tahu posisi Sasuke sebagai Hokage Ketujuh. Pundak Sasuke ditepuk keras sekali ketika ia menanyakan apakah Hashirama juga akan dibangkitkan. Ia butuh teman mengobrol katanya.
Sasuke jengkel sekali. Ia meninggalkan Madara di dimensi entah apa setelah memberi tahu penggunaan teknik portal antar dimensi. Sesuatu membuat Sasuke percaya saja padanya. Ia merasa mengenal Madara sebagai ... dirinya sendiri, minus kelakuan gilanya. Sementara ia kembali ke Konoha dengan kondisi kepayahan karena kehabisan chakra untuk menguatkan segel antar dimensi, Madara masih menjelajahi cabang-cabang portal yang jumlahnya tidak terkira.
Rencana Sasuke berjalan seperti yang diharapkan. Malam ini, sang ninja legendaris akan menemuinya di hutan. Ia begitu mengantisipasi informasi baru itu sampai-sampai merasakan waktu berjalan begitu cepat. Matahari pagi berganti sore dan telah terbenam di ufuk barat. Petang telah lewat. Ketiadaan bulan membuatnya tenang.
Di tengah kerusakan Konoha, Sasuke berjalan ke arah hutan. Naruto dan Sarada masih aman di rumah. Lengan artifisialnya pun telah terpasang kembali, dibalut perban putih seperti biasa.
Sesampainya di hutan, Sasuke segera menajamkan sensor chakra. Ia menaiki sebuah pohon tertinggi yang ada di hutan. Kedua kakinya mendarat di dahan paling atas. Ia segera mendekati sosok berambut hitam panjang--dengan baju zirah merah--yang tengah berjegang. Sebelah tangan yang bertumpu di atas lutut sedang memegang segenggam nasi kepal.
Apakah mayat hidup masih bisa makan?
Sasuke tidak mau tahu.
"Kau tahu, aku ingin bertemu Naruto." Adalah kalimat pertama yang diucapkan sang pria kuno ketika merasakan keberadaan Sasuke. "Dia membuat nasi kepal yang enak."
Dua jam lalu, Naruto mendatangi Hokage Tower dan membawakan makanan itu pada Sasuke.
Sasuke mengumpat dalam hati.
"Kau menemuinya."
Dengkusan mengejek Madara diabaikan Sasuke.
"Dia mengingatkanku pada Hashirama. Tetap naif seperti dulu, sama sekali tidak mencurigaiku." Mata dengan keseluruhan warna hitam memandang gelapnya cakrawala. Bibir yang terlihat retak akibat efek teknik pembangkit tampak melengkung menjadi senyum ironi. "Kau beruntung, Bocah. Aku melihat putrimu juga. Bermata cerdik meski rusak. Bagaimana bisa keturunan klan dengan dōjutsu terbaik memiliki mata yang cacat? Memalukan. Dia takkan diakui jika hidup di zamanku."
Rahang Sasuke sudah mengeras begitu mendengar cemoohan terhadap putrinya. Suara yang terdengar dari pita suaranya teramat dingin ketika membalas ucapan sang leluhur.
"Dia tidak hidup di zaman yang dipenuhi tetua bodoh sepertimu. Kalianlah akar kehancuran klan Uchiha."
Komentar tajam dibalas dengan gelak tawa meremehkan. Madara mendengkus.
"Anak muda memang tak pernah tahu sopan santun."
Sasuke mendudukkan diri di dahan pohon, tidak peduli peduli dengan ucapan Madara. Ia tahu bahwa Madara menyetujui ucapannya. Sorot bersalah di mata tanpa sinar kehidupan itu cukup kentara. Dua dekade lalu, sosok ini gagal mewujudkan idealismenya. Ia gagal setelah mengubah dirinya menjadi monster dengan menghabisi banyak nyawa. Dosa yang ditanggung Sasuke belum ada apa-apanya dibanding pria ini, meski keduanya sama-sama korban manipulasi.
Hampir semua Uchiha merupakan korban manipulasi, kecuali Uchiha Itachi dan sahabat baiknya, Uchiha Shisui.
Kalimat Sasuke memang benar. Klan Uchiha hancur karena kesalahan para tetua yang begitu mendambakaan kekuatan ataupun kekuasaan. Madara adalah salah satunya.
"Apa yang kaudapat?"
Angin malam berembus ringan. Raut terhibur di wajah sang tetua kini tiada. Mata hitam tak bernyawanya mematri pemandangan desa yang telah porak poranda, dengan sengaja masih belum dibangun pasca penyerangan dua bulan lalu.
"Dia akan menjadi tiga, masing-masing akan ditempatkan di tiap dimensi paralel. Sedangkan sekarang, sudah tercipta satu, tinggal menciptakan satu lagi sebelum dia membumihanguskan dunia ini."
Kepala Sasuke sontak menoleh. Raut wajah masih kaku, hanya kerutan samar yang cukup terlihat.
"Lokasinya?" tanya Sasuke.
Madara tersenyum malas.
"Entah."
Keruh di wajah sang penerus membuat binar terhibur kembali menari-nari di mata gelapnya. Madara tersenyum miring.
"Kekuatannya jauh lebih besar dari yang kausiapkan, Nak. Dia memiliki banyak jūbi, makhluk yang sama sekali tidak bisa ditaklukkan oleh kalian dulu. Jumlahnya sekitar ... sepuluh?" Netra tak bernyawa kembali menatap cakrawala. Embusan napas--jika mayat hidup bisa bernapas--dibuang keras-keras. "Katakanlah, kekuatan orang gila ini melebihi Rikudō Sennin. Dulu, senjata Rikudō Sennin mampu melumpuhkan Edo Tensei. Jutsu yang katanya bisa tetap mempertahan hidup orang mati ini takkan berguna untuk melawan mereka. Aku tetap harus berhati-hati."
Sasuke masih bungkam. Ia mendengar Madara mendengkuskan tawa ironi.
"Hashirama memang benar, sialan sekali," komentarnya dengan nada jengkel. "Selalu ada masalah di tiap masanya. Masalah yang sekarang kauhadapi--setidaknya kau tahu siapa musuh sebenarnya."
Bukan para shinobi yang saling diadudomba. Tapi, benar-benar pihak di luar kelompok kita.
"Apa yang akan kaulakukan, Hokage?" tanya Madara kemudian, meledek Sasuke dengan gelarnya. "Duniamu akan hancur lagi, sayang sekali."
Kerlingan oniks terlihat waspada. Kini, giliran Sasuke yang mencibir.
"Kau mengaku kalah darinya sebelum bertarung sungguhan?"
Gengsi Uchiha selalu tinggi. Madara tentu saja cukup terpancing akan ucapan Sasuke. Ia mendengkus meremehkan.
"Mereka akan mati di tanganku. Tapi, sebelum itu terjadi, kau sudah kehilangan ribuan nyawa wargamu. Kemenanganku takkan membantu."
Dalam tiap kemenangan, selalu ada pengorbanan. Salah satu bentuknya adalah kehilangan sejumlah besar pasukan. Saat ini, para shinobi yang bersedia untuk bertarung sudah mulai diberi doping obat dengan dosis rendah guna menghindari komplikasi. Hasil yang diperlihatkan cukup untuk menumbuhkan harapan. Meski demikian, jumlah mereka yang bersedia tetap saja kalah dengan mereka yang enggan.
Sasuke mengedarkan pandangan pada desa kelahirannya, sebuah tempat pembawa tragedi untuk keluarga dan dirinya, dan terbayang kondisi damai yang biasa ia lihat ketika berjalan-jalan sore bersama Sarada. Gelak tawa anak-anak yang berlarian, keramaian kedai-kedai makanan, lalu-lalang orang yang pulang dari tempat kerja mereka ...
Di antara ribuan warga yang sempat berpapasan dengan Sasuke di masa lalu pasti banyak yang sudah tewas akibat serangan itu.
Tapi, di bawah sana mereka masih memiliki harapan, bukan? Berapa pun bayarannya, mereka harus kembali mendapatkan kehidupan tentram mereka. Selagi masih ada anak-anak yang akan menjadi generasi penerus ...
"Kita akan mencari kordinat lokasi markas mereka lagi," ungkap Sasuke setelah terdiam beberapa saat. Manik obsidian menatap tangan berbalut perban, mengepalkannya, dan menoleh pada Madara. "Harus ditemukan. Segel portal yang kubuat akan bertahan kurang lebih dua hingga sebulan lagi. Selama itu, aku akan mencari lokasinya denganmu. Kakashi akan segera mengontak kita. Flak jacket yang kautemukan adalah miliknya, tidak salah lagi."
"Tetap akan memakai rencana itu pada para shinobi?"
Anggukkan Sasuke cukup untuk kembali memunculkan senyuman miring di bibir sang tetua Uchiha. Ia kemudian berdiri dan beranjak pergi selagi berkata, "Kau memang lebih brilian dari Obito, bahkan tanpa arahanku sekalipun. Kutunggu kau di perbatasan, Nak."
Bersama semilir angin, sosoknya menghilang dari pandangan. Sasuke termenung sesaat, menatap cakrawala yang tak bertabur bintang selagi mulai mengkhawatirkan keadaan dua calon putranya. Ia mungkin tak perlu takut Momoshiki akan menargetkan dua calon individu tersebut sekaligus, mengingat ia yang sudah mendapatkan sebuah wadah lain.
Hanya saja ...
Berdiri dan beranjak dari hutan, Sasuke segera pulang ke rumah. Ia akan memanfaatkan kesempatan untuk tinggal selagi masih bisa. ]
TBC
A/N
terima kasih yang sudah kasih feedback! bahasa yang ringan trus enak dibaca itu gimana? x')
di sini belum ada aksi seriusnya ya, masih perjalanan ke sana(?) baku hantamnya masih kusimpan~
semoga chapter ini tidak mengecewakan!
