Reply Review~
Yulius: Halah, bos... getu tok ae ngamuk... =.=
Putri: Boleh... boleh... justru cerita itu dibuat untuk memainkan perasaannya pembaca... *dinuklir gara2 nyontek quote tanpa izin*
Mocca-Marocchi: Yups... tepat sekali... Hmmm... kalo tentang itu saya nggak bisa menjanjikan (tapi akan saya usahakan... ^^) berhubung Yangmei ama Huang itu satu juga... sama kayak Lu Xun ama Feng... hohoho~
Fansy Fan: Yeah, I realize that the last chap is quite confusing so I will explain about it in this chap... ^^
IXA Cross: Yups... saya nyadar, kok... (justru itu tujuan saya... *ketawa jahat dan langsung dinuklir seketika*). APA? Anda nggak tahu bocah itu? Tentu aja dia itu *BEWARE! SPOILER STARTS HERE!* T'an Mo yang menyamar *SPOILER ENDS HERE* Dan yang bersayapa hitam itu kan saya nggak bilang burung apalagi burung gagak... =.= bisa aja kupu2 yang sayapnya hitam, ato peri, ato apalah... *dinuklir gara2 nggak genah*
Wokey. Karena sepertinya banyak yang bingung dengan chap sebelumnya, akan saya jelaskan di chap ini...
Chap 36 terbagi jadi enam bagian:
1. Yang pertama itu tentang si Yangmei ngomong2 ama Huang. Nah, kejadian ini dialami dua orang itu PADA SAAT ITU JUGA (dengan kata lain, pas Lu Xun lagi di ambang hidup dan mati ngelawan Yaoguai raksasa plus berdiri nggak tahu berapa lamanya sambil dikerjai Yaoguai2 itu, si Yangmei ama Huang lagi enak2nya cing-cong sendiri...)
2. Yang kedua tentang Huang ama Jian Bing. Nah, kejadian ini cuma flashback masa lalunya si Huang pas dia masih di Tian Shang... INI beneran dialami sama Huang, cuma di masa lalu...
3. Yang ketiga tentang Huang yang seorang diri pengen nyari burung-burung dan pada akhirnya malah ketemu si bocah YANG SEBENARNYA T'AN MO YANG MENYAMAR dan pada akhirnya dia beneran kena darknessnya si T'an Mo (nah, sesudah kejadian ini dilanjutkan ama yang pas si Feng nyari2 Huang itu loh~)
4. Kejadian keempat adalah yang paling rame karena ada Huang (ya eyalah!), Yangmei (cewe yang lagi 'tidur'), Jian Bing, Feng, ama Lu Xun (cowo yang lagi 'tidur'). KEJADIAN ITU SAMA SEKALI NGGAK DIALAMI HUANG! Karena kalau dialami Huang, percaya, deh... pasti si Huang bakalan nangis mengharu biru dan pada akhirnya dia kembali ke Feng dan itu berarti si Yangmei juga kembali ke Lu Xun dan cerita kita THE END!
5. Kejadian kelima kali ini dari sudut pandang si Yangmei. Lah tentu saja anda semua tahu kan kalo cowo yang dateng nolong si Yangmei itu Lu Xun? Trus cewe yang seolah 'tertinggal' dari tubuh Yangmei pas Yangmei jatoh itu Huang. Sementara cowo satu lagi yang (dengan kejamnya) menusuk si Lu Xun itu nggak laen dan nggak bukan ya Feng lah... Sekali lagi, ini NGGAK DIALAMI YANGMEI BENERAN, juga bukan mimpinya si Yangmei dan sebagainya! Kalo Yangmei tahu ato mengalami ato melihat kejadian ini, percaya deh dia bakal balik ke Lu Xun dan sekali lagi cerita kita THE END! (tapi *BEWARE! SPOILER STARTS HERE!* Meski si Yangmei nggak AKAN PERNAH melihat kejadian ini, ntar kejadian ini muncul di 'mimpi' seseorang dan yang pasti bukan Yangmei... Hohoho~ Sementara masih dirahasiakan... *SPOILER ENDS HERE*)
6. Kejadian terakhir ya tentu saja lanjutan dari kejadian pertama... (jadi kalo suatu saat ada kata-kata 'Tai Yin' ato 'Zuan Mi', jangan tanya lagi, okeh?)
Wewww... penjelasan yang sangat panjang... =.=a
Trus, berkaitan dengan chap sebelumnya juga, kalo sodara perhatikan baik-baik, si Lu Xun nggak pake bajunya dia yang biasa (yang di DW), maupun yang selama dia jadi Gaibang ato jadi Pangeran Wei, dsb. Bajunya itu baju laen lagi... XDDDDDDD (WOGH! Bajunya Lu Xun banyak...) Dan juga, pada saat yang sama, berarti baju yang dipake Yangmei di chap sebelumnya (kecuali yang pas dia lagi ngomong2 sendiri ama Huang), itu juga pake baju laen... (KALO ADA WAKTU, saya coba desainkan... soalnya saya bisanya desain rumah... bukan desain baju... Ntar kan gawat kalo Lu Xun ama Yangmei modelnya nggak kayak orang malah kayak rumah... *dinuklir*)
WOKEY! Sekarang kita akan segera depart dari arc paling gila dan bikin mati diantara semua chap! Kita beranjak dari Flashback Arc ke... waduh, belum nentukan nama arc-nya... yang pasti tentang perjalanan Lu Xun, Zhou Ying, ama Huo Li ke... (yah, sodara semua pasti udah tahu karena udah diSPOILERkan ke sana sini... =.= padahal ini mestinya rahasia...) CHENG DU! Dan saya jamin arc ini nggak mboseni, renyah, dan nikmat *lah emang krupuk?*
So, let the story begin!
San Zang
"Permisi, Meng Zhang..."
Heh? Aneh... Ruangan ini kosong. Dimana Meng Zhang, ya? Hmmm... tapi kan memang biasanya Meng Zhang selalu suka bepergian? Tidak mungkin dia tidak merasa bosan berada di ruangan ini, meskipun ruangan ini adalah tempat miliknya dan ada banyak buku di dalamnya...
Meng Zhang memang suka sekali membaca buku, sih! Hehehe... Dan, apa kalian tahu? Meng Zhang selalu membawa-bawa satu buku khusus kemanapun dia pergi! Tidak ada seorangpun yang pernah membacanya! Bahkan Feng da-ge saja tidak pernah! Sebenarnya, aku sangat ingin sekali tahu apa itu. Tapi... kalau Feng da-ge saja tidak tahu, apalagi aku!
Ehhh... apa itu?
Pucuk dicinta, ulam pun tiba! Di lantai yang berdebu ini, aku melihat sebuah buku yang sangat tebal! Tidak salah lagi, ini pasti adalah buku yang selalu dibawa Meng Zhang kemana-mana!
Horeee! Apa isinya, ya?
Penasaran, aku langsung membukanya. Yahhh... semoga saja Meng Zhang tidak marah.
Hmmm... buku ini aneh sekali. Rasanya sudah seribu kali aku membalikkan halaman, tetapi seolah hanya satu halaman saja yang sudah aku baca. Benar-benar aneh...
Dan isinya? Isinya lebih aneh lagi...
Di halamn pertama terdapat sebuah gambar. Gambar ini rasanya pernah kulihat di suatu tempat. Di sebelah kiri ada sebuah lingkaran berwarna emas yang besaaaaarrrr... sekali! Pasti matahari! Lalu, ada lingkaran yang lebih kecil berwarna perak. Yang ini bulan. Dan diantaranya, ada lingkaran lain berwarna campuran biru dan hijau...
-o-o-o-o-o-o-
...
Tempat itu putih seluruhnya. Kosong. Tidak ada apapun di sana.
Tetapi tidak selamanya tempat itu kosong. Seseorang berjalan dalam kekosongan itu. Di matanya, tempat yang kosong itu bukan benar-benar tidak ada apa-apa. Tempat itu adalah sebuah kertas, sebuah kanvas yang luar biasa besarnya. Siap untuk menampung imajinasi pelukisnya. Entah bagaimana munculnya, beberapa batang kuas tahu-tahu berada di genggaman tangannya. Kuas-kuas itu tidak akan pernah perlu dicelupkan dalam bak berisi tinta. Dari kuas-kuas itu sendiri sudah tersimpan tinta yang tidak akan pernah habis.
Dia mengambil sebuah warna. Emas.
Perlahan tapi pasti, tangannya mulai bergerak. Kekosongan yang berwarna putih itu seolah menjadi sebuah layar yang bisa menyerap cat disapukannya. Sebuah lingkaran terbentuk. Lingkaran yang besar sekali. Dia memandangnya sejenak, memperbaikinya sehingga membentuk sebuah lingkaran yang sempurna. Sesudah itu, dia mengambil warna merah, jingga, kuning, putih, dan ditambah warna emas yang sebelumnya, dia mewarnai lingkaran itu.
Lingkaran itu akhirnya selesai. Dia tersenyum memandang lingkaran itu sambil membersihkan tangannya dari cat-cat yang mengotori.
Tidak berhenti sampai di situ, dia mengambil lagi sebuah warna. Biru tua.
Warna itu tepat berada di sebuah kuas lain yang sangat besar dan tebal. Dengan kuas yang besar itu, dia menyapukan warna biru tua ke seluruh bagian layar itu. Sampai ujung layar yang tidak ada batasannya itu, semuanya berubah menjadi warna biru tua. Di sekitar lingkaran emas yang dilukisnya pertama, warna biru itu perlahan menjadi semakin muda dan muda, hingga menjadi putih seluruhnya.
Dia menatap lukisannya itu dengan dahi berkerut. Terlalu kosong. Lukisan itu benar-benar masih terlalu kosong. Hanya ada sebuah lingkaran emas di atas latar belakang biru tua.
Sambil menjentikkan jari, dia mendapat sebuah ide. Diambilnya beberapa kuas-kuas yang kecil. Kuas berwarna biru laut, hijau, coklat, putih, merah, semua warna yang bisa dipikirkan. Kemudian dia menggambar lingkaran lain di sebelah kanan lingkaran besar yang pertama. Lingkaran itu lebih kecil, tetapi lebih kaya warna. Campuran warnanya dibuat dengan sangat teliti dan hati-hati. Satu goresan diperhitungkan, apakah itu akan menambahkan keindahan atau tidak.
Sesudah lingkaran yang kedua selesai, berjuta-juta insprasi muncul di kepalanya. Kali ini ia mengambil kuas kecil lain berwarna putih, kemudian menambahkan titik-titik kecil di latar belakang yang berwarna hitam itu. Bukan hanya itu, dia menambahkan lingkaran-lingkaran lain yang berwarna-warni. Bukan cuma lingkaran, bentuk lain yang seperti cincin besar, spiral, gumpalan seperti kapas, huruf U, dan banyak lagi. Warnanya pun berwarna-warni.
Senyumnya mengembang lebar saat melihatnya, tetapi barulah dia menyadari sesuatu. Di sebelah kanan lingkaran yang kedua sepertinya terlalu kosong. Jadi, kali ini dia mengambil sebuah kuas berwarna perak, kemudian menggambar lingkaran lain yang lenih kecil. Namun, lingkaran yang kecil itu dibuatnya sedemikian indah dan bagusnya, sehingga hampir sama bersinarnya dengan lingkaran emas yang pertama dilukisnya. Kemudian lingkaran itu dipenuhinya dengan warna putih, kuning pucat, dan warna perak yang sama.
"Selesai!" Serunya dengan gembira sambil menatap lukisannya. Seperti pelukis pada umunya, kedua tangannya berada di pinggang, dengan bangga melihat hasil karyanya.
Tetapi kegembiraannya itu tidak bertahan lama.
Sebatang kuas yang lain tiba-tiba muncul. Kuas itu tadinya tidak ada, dan memang tidak pernah dipakainya. Kuas berwarna hitam pekat. "Hei, kau!" Panggil si kuas hitam. Pelukis itu segera berbalik menatapnya. "Kenapa kau tidak memakaiku?"
Pelukis itu menjawab dengan tenang. "Gambar ini sudah selesai." Jawabnya. "Maaf, tetapi kalau ada warna hitam, gambar ini tidak akan sebagus sebelumnya."
"Tidak bisa!" Ujar kuas itu memaksa. "Lukisanmu bagus memang. Tapi aku tidak suka! Lukisan seperti ini, tidak ada warna hitam, lebih baik lukisan seperti ini dihancurkan saja!"
Senyumnya tadi perlahan pudar. Dia kelihatan marah, ingin sekali rasanya mematahkan kuas itu. Tetapi tidak bernah dilakukannya. Justru dengan entengnya dia membalas. "Baiklah, terserah kau saja." Katanya. "Lakukan apa yang kau mau."
Kuas itu pun tersenyum menang. Sambil tertawa, ia bergerak di atas lukisan itu. Lukisan yang tadinya bagus, tiba-tiba saja dirusak oleh kuas hitam itu. Cat dalam jumlah besar tumpah, membuat dua buah lingkaran, lingkaran berwarna-warni dan lingkaran berwarna perak itu langsung berubah hitam, begitu juga dengan titik-titik putih kecil yang lain. Sebagian lukisan itu menjadi bencana sekarang. Hanya bagian lingkaran besar berwarna emas itu saja yang tidak terkena lukisan itu, berikut beberapa titik-titik putih kecil yang lainnya.
Si pelukis tidak mengatakan apapun saat melihat hasil karyanya dihancurkan.
"Nah! Begini saja!" Ejek kuas hitam itu. "Kalau begini, aku yang paling menguasai lukisan ini!" Kemudian dia tertawa keras sambil meninggalkan pelukis itu sendirian, menatap lukisannya yang sebagian sudah dikotori warna hitam.
Sambil menghela nafas panjang, dia memegang kembali sebuah kuas. "Kurasa, aku harus memperbaikinya, ya..." Gumamnya. Kemudian, dengan kuas itu, ia mewarnainya sekali lagi.
Sayang, apapun yang dia lakukan, warna hitam itu tetap tidak bisa hilang. Justru semakin ia menyapukan warna lain, warna hitam yang sebelumnya semakin jembret tak karuan kemana-mana. Tentu saja, ini membuatnya kesal. Tetapi dia tetap tenang, seolah memang tahu kalau ini yang akan terjadi pada lukisannya.
Pada akhirnya, dia hanya bisa melemparkan kuas itu sambil mendesah kalah.
Sebuah pedang muncul di tangan kanannya, menggantikan batang-batang kuas itu. Dengan satu sabetan pedang, maka layar putih bergambar lukisannya yang sudah rusak itu akan robek. Dan dengan begitu, mungkin dia bisa mengulanginya dari awal lagi.
"Hai..."
Pelukis itu menoleh ke belakang. Ada seseorang di belakangnya. Sama sepertinya, dia pun membawa sebuah kuas. Tetapi kuas itu bukan yang memiliki warna seperti kuas yang dimilikinya. Kuas itu kosong.
"Kau akan merobek lukisan itu?" Tanya si pendatang baru. "Sayang... padahal lukisan ini indah sekali..."
Dia cuma menghela nafas. "Seandainya aku bisa melakukan sesuatu untuk memperbaikinya..." Kalimatnya itu terputus di tengah saat ia melihat tangan si pendatang baru itu. Di tangannya ada sebuah kuas kosong. "Hei, kau bisa memperbaiki lukisan ini, bukan?"
Si pendatang itu untuk waktu yang lama sekali hanya terdiam.
"Aku..." Dia mengigit bibirnya kuat-kuat. "Bisa saja... tapi..." Dia menjawab dengan ragu-ragu. "A-aku harus... kau tahu, kan?"
Si pelukis sepertinya tersadar. Dia pun kemudian mengangguk penuh pengertian. "Ya... aku tahu..."
Dan sesudah itu, untuk waktu yang sunyi senyap, mereka berdua tidak mengatakan apapun.
Sampai satu waktu, si pendatang itu akhirnya membuka mulutnya lagi. "Kau ingin aku melakukannya, kan?" Tanyanya. Tetapi pertanyaan itu tidak ditanyakan dengan nada menantang. Pertanyaan itu seperti sebuah permohonan. Aneh, dia memohon agar diizinkan memperbaiki lukisan itu, tetapi pada saat yang sama memohon agar tidak perlu melakukannya. "B-baiklah..."
Kemudian dia dengan patuh membuka telapak tangan kanannya. Si pelukis itu menatap tangan yang terulur itu lama sekali. Tangan yang bersih dan lembut. Namun, sekarang tangan itu tidak akan seperti itu lagi. Dia mengangkat pedangnya, kemudian mengiris kulit yang halus itu.
Suara rintihannya mengiris hati pelukis itu, sama seperti pedang itu mengiris tangannya.
Sesudah pedang itu meninggalkan tangannya, tanpa berpikir panjang lagi kuas kosong itu digenggamnya kuat-kuat. Dia sama sekali tidak peduli bagaimana sakitnya. Perlahan ia melangkah ke lukisan itu, kemudian kuasnya menyapu ke daerah yang terkena warna hitam.
Pelukis itu hanya bisa menatap dengan takjub. Ajaib! Cat berwarna hitam yang merusak lukisannya terserap masuk ke dalam kuasnya! Satu bagian demi satu bagian, lukisan itu kembali indah seperti semua. Cat hitam itu tidak tersisa pada lukisannya.
Tapi, kemana cat hitam itu pergi?
Dilihatnya kuas di tangan pendatang itu. Kuas yang tadinya putih bersih dan kosong sekarang berwarna hitam pekat. Begitulah dia memperbaiki lukisan itu sampai kembali seperti sedia kala.
Pada titik terakhir dia memperbaiki lukisan itu, akhirnya kuasnya terjatuh.
"Ahhh..." Dia merintih kesakitan sambil menggenggam pergelangan tangan kanannya kuat-kuat. Melihat ini, segera si pelukis menghampirinya, kemudian menarik tangannya dan memeriksanya.
...Kuas hitam yang tadinya kosong itu sekarang tergeletak di lantai begitu saja, tidak disentuh sedikitpun.
"Kenapa..." Pelukis itu menatap tangan itu lekat-lekat.
Darah yang keluar dari telapak tangannya tidak berhenti mengalir. Tetapi darah itu sudah bercampur dengan cat hitam yang berjumlah banyak itu. Tidak habis-habisnya darah berwarna gelap itu keluar dari luka sayatan di tangannya.
Anehnya, dia masih tetap tersenyum. "Sudahlah... asalkan lukisanmu kembali indah..."
Senyuman tulus yang dilihat pelukis itu membuatnya tertegun sekian lama. Tentu saja keberadaan orang di depannya ini jauh lebih berharga dari lukisan itu. Tapi, dia sudah memberinya perintah untuk memperbaikinya, dan orang itu tidak menolak melakukannya. Malah melakukannya dengan gembira ketika tahu bahwa yang dilakukannya itu tidak akan sia-sia. Bukan hanya membuat lukisan itu kembali indah, tetapi juga membuat si pelukis menjadi senang bukan main.
Pelukis itu langsung menariknya dalam pelukan. Tidak peduli lagi kalau darahnya mulai mengotori bajunya. "Kerjamu bagus..."
-o-o-o-o-o-o-
"SHIJIANG!"
WHOAAAAAA!
Dengan spontan, tanganku langsung bergerak menjitak Wukong. "Wukong! Kau ini bikin kaget saja!" Bagaimana bisa tidak kaget? Wukong memang selalu mengagetkan! "Dasar kera liar, nakal, brutal! Sukanya bertindak seenak perut saja! Kamu mau dihukum, ya?"
"WHOA! Ampun, Shijiang!" Ujarnya sambil berkowtow-kowtow dengan gaya yang lumayan berlebihan. Padahal, aku kan tidak sejahat itu? "Habis, Shijiang kelihatannya asyik sekali melamun! Aku kan jadi penasaran!"
Hmmm... iya juga, sih... memang sedari tadi aku terlalu banyak melamun.
"Memang Shijiang sedang memikirkan apa?"
"Hmmm..." Aku memandang ke atas sejenak, berusaha mencari jawaban yang tepat. "Cuma mengingat-ngingat sesuatu di masa lalu saja..."
"Wah?" Seperti biasa, Wukong yang selalu ingin ikut campur ini pasti banyak tanya! Tahu begini, tidak akan kuberitahu! "Tentang apa memangnya, Shijiang?"
"Aiya!" Seruku sambil menggaruk-garuk kepalaku dengan kedua tangan. "Jing shui bu fan he shui, a! Jangan ikut campur urusan orang saja!" Meski aku ngomong begitu, toh pada akhirnya aku menceritakan juga. Lagipula, tidak ada salahnya kan aku menceritakannya pada Wukong. "Bukan apa-apa, sih... cuma dulu sekali, sebelum kau ada, aku pernah membaca buku yang selalu dibawa-bawa Meng Zhang..."
"Meng Zhang? Naga Biru yang kita titipi pesan dulu itu?" Tanyanya.
"Yap!" Jawabku sambil mengangguk kuat-kuat. "Dan kau pasti tidak bisa menebak apa yang kubaca..."
"Apa itu...?" Tanya Wukong dengan wajah makin serius.
"Ini penting..." Balasku sambil memasang wajah yang sama bahkan lebih serius. Aku yakin, baru kali ini Wukong akan benar-benar melihatku serius. Bagaimana tidak? Memang yang kubaca adalah sesuatu yang sangat amat penting! "Kau ingin tahu, Wukong?"
Sambil menelan ludah, dia mengangguk, tetapi tidak mengatakan apapun.
Aku menoleh ke sekeliling. Yah, Yi Leng Jing-Prima Ingatan ini mana ada orang lain selain aku dan Wukong? Tapi, aku tetap menyuruhnya mendekatkan telinganya ke mulutku, hendak membisikinya supaya orang lain tidak mendengar.
"Untuk apa, Shijiang? Tidak ada orang di sini..." Tanyanya dengan suara pelan sambil mengamati sekeliling.
"Ssssttt... diam! Ge giang you er-tembok-tembok punya telinga!" Perintahku sambil meletakkan satu jari di depan bibirku. Dengan demikian, Wukong pun menurut. "Dengarkan baik-baik... aku tidak akan mengulangi..."
"Aku siap mendengarkan, Shijiang..."
"Yang kubaca itu tentag..."
"..."
"..."
"..."
"RAHASIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
WAHAHAHAHAHAHA! Rasanya menyenangkan sekali bisa menjahili orang! Dan pikir-pikir, baru kali ini aku bisa mengerjai kera jahil seperti Wukong! Biasanya kan aku yang selalu di jahili!
"SHI JIAAAAAAAANG!" Teriaknya marah sambil melemparkan tongkatnya ke arahku, atau apa saja yang ada di dekatnya. Aku cuma bisa lari darinya sambil tertawa sekeras-kerasnya! Kalau kulihat sekarang, mungkin telinganya sudah bengkak karena kuteriaki tepat di telinganya! Hahaha!
"Tangkap aku kalau bisa!" Kataku sambil menjulurkan lidah. Maka, terjadilah kejar-kejaran yang seru di tempat itu.
Sampai suatu ketika, aku tersandung sebuah pilar nakal yang berdiri tidak pada tempatnya! Walhasil, aku sukses jatuh! "Awwww!"
"Hahahaha! Akhirnya Shijiang tertangkap!" Wukong pun langsung menerjangku.
Tapi, dia pasti bingung ketika aku cuma diam dengan wajah terbengong-bengong menatap ke atas. Dia juga pada akhirnya dengan bingung bertanya padaku. Tentu saja dengan gaya bodohnya itu. "Lho? Ada apa, Shijiang?"
"Ah... ah... ah..." Sial, aku terlalu terkejut sampai tidak sempat menghindari dari tempat ini. Yang pasti, aku tahu kenapa bisa ada pilar di sini. Di bawahku adalah ukiran segitiga di atas batu giok, yang setiap sudutnya berdiri pilar-pilar kecil ini. Ini adalah tempat tadi da-ge pergi. Jadi kalau da-ge kembali, dia pasti kembali di tempat yang sama...
"AAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH!"
Suara da-ge...
Dan benarlah itu...
"ADA PHOENIX TERBAAAAAAAAAAAAAAAAANG!"
Sesudah itu, terjadi sesuatu yang pastinya lucu sekali kalau dilihat. Tapi yang mengalami pasti merasa malang sekali. Ahhh... aku ini benar-benar seperti fei e tou huo-ngengat terbang ke kobaran api. Memang aku ini sukanya cari mati sendiri, yah? Hmmm... bedanya mungkin aku lebih tepatnya bukan ngengat di kobaran api, tapi Pendeta di bawah seorang Phoenix!
Wahhh... aku bisa melihat jutaan bintang-bintang...
"Awww..." Dah tiba-tiba, bintang-bintang itu hilang entah kemana saat aku mendengar suara da-ge. "Sial... kenapa aku jatuh begini...? Untung saja jatuh di atas tempat yang empuk."
"DA-GEEEEEEEEEEEE!"
"FEEEEEEEEENG!"
Aku dan Wukong langsung berdiri. Sementara nasib da-ge jadi sangat mengenaskan. Sesudah aku dan Wukong berdiri, da-ge langsung jatuh ke lantai dari giok yang keras. Tapi, hei, bagaimanapun nasibku dan nasib Wukong lebih mengenaskan karena ketiban Phoenix yang jatuh dari langit...
"Aduh..." Rintih da-ge sambil mengurut kepalanya. "Sudah berpusing-pusing di alam sana, disuruh bertarung melawan raksasa, berdiri sambil dikerjai Yaoguai-yaoguai itu, sekarang aku dijatuhkan dari langit sana!" Keluhnya panjang lebar. Wah... kelihatannya yang dilalui da-ge luar biasa berat, ya?
"Hahaha! Itulah yang namanya langit runtuh menimpa kepala kita!" Tawa Wukong, tapi tetap saja kera aneh bin ajaib ini tidak membantu da-ge berdiri!
Jadi, aku yang membantunya. "Tapi tidak apa-apa, kan? Yang penting da-ge sudah tahu masa lalu da-ge!"
Sesudah aku mengatakan itu, da-ge sepertinya teringat sesuatu. "Oh iya, San Zang! Aku mau memberitahu sesuatu yang penting!" Katanya hampir berseru. Aku dan Wukong sampai mengangkat alis karena kaget.
"Apa itu?"
"Tadi itu bukan masa laluku!" Serunya. Tapi, sesudah melihat kami berdua mendelik lebar, da-ge langsung meralat. "Yahhh... maksudku, itu bukan sepenuhnya masa laluku, sih... Feng yang kau lihat di dalam itu memang aku, tapi juga bukan aku!" Nah, ini malah membuatku semakin bingung. Sambil berpandang-pandangan dengan Wukong, aku menggaruk kepala karena bingung. Pada akhirnya, da-ge sendiri juga ikut menggaruk kepala karena bingung menjelaskannya. "Begini, San Zang. Tai Yang dan aku itu satu, tapi aku bukan dia, dan dia juga bukan aku! Tai Yang itu diriku yang satu lagi!"
"Tai Yang itu siapa?" Tanyaku
Da-ge kelihatan bingung sekali menjelaskan. Wah, harusnya dia melihat wajahnya sendiri kalau sedang bingung begitu. Lucu sekali! "Tai Yang itu ya yang kau lihat itu!" Jawabnya. "Di dalam dirinya ada aku. Dan di dalam diriku sekarang pun, dia juga ada! Aiya... bagaimana menjelaskannya, ya?"
Nah, justru itu yang mau kutanyakan. Sejujurnya, aku juga bingung dengan da-ge! Dia ini sebenarnya ngomong apa, sih?
"Begini saja, deh!" Da-ge mendengus. "Sekarang kan aku di Ren Huan. Kalau seandainya aku dan Tai Yang adalah orang yang sama, berarti di Tian Shang sana tidak ada siapapun, kan? Padahal katanya kalau di suatu tempat tidak ada Phoenix, tempat itu akan sama saja seperti Di Yu!"
Oh, benar juga, ya?
Baru sekarang aku kepikiran...
"Ah! Aku mengerti sekarang!" Seruku sambil memukul telapak tanganku.
Baik da-ge maupun Wukong menoleh.
"Sebelum da-ge 'mendarat' di sini, aku tadi memikirkan sesuatu!" Ungkapku. "Ini tentang buku milik Meng Zhang yang dulu sekali pernah kubaca diam-diam! Di sana ada gambar-gambar yang aneh! Lalu ada cerita tentang seorang pelukis yang sesudah lukisannya selesai, lukisan itu dirusak oleh kuas hitam yang sedari tadi tidak dipakai!" Jelasku panjang lebar. Hanya dengan mengatakan 'buku milik Meng Zhang' saja, da-ge langsung bersemangat. Yah, tidak heran. Aku rasa, buku itu begitu rahasianya sampai tidak ada yang pernah membacanya. Waktu itu saja aku membacanya diam-diam. "Lalu, ada seorang lagi datang dan memperbaiki lukisan itu sampai lukisan itu!"
Hei, aku tidak berani menceritakan bagaimana cara orang itu memperbaiki lukisannya. Bukannya apa-apa, soalnya aku juga tidak mengerti tentang itu! Dan lagi, aku takut reaksi da-ge kalau aku menceritakannya...
"Nah, kemudian aku mulai bingung..." Lanjutku sementara da-ge tetap mendengarkan. "Siapa yang disebut pelukis itu? Juga orang yang memperbaikinya? Pertama kupikir da-ge adalah pelukis itu! Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kalau begitu siapa yang memperbaiki...?"
"Ada tulisan seperti itu di buku Meng Zhang?" Tanya da-ge memotong ucapanku. "Siapa yang menulisnya? Apa dia sendiri?"
Aku menggeleng. "Nah itu aku tidak tahu. Yang pasti, dulu aku bingung siapa kedua orang itu." Lanjutku. "Kalau sekarang da-ge bilang ada da-ge yang satu lagi... rasanya aku cukup mengerti..."
"Ah, tapi mana mungkin bisa begitu!" Sergah Wukong tiba-tiba. Huh! Lagi-lagi sebelum aku selesai bicara ada yang memotong ucapanku! "Ahhhh... bagaimana cara membayangkan seseorang yang berbeda, tapi sebenarnya satu?"
Yah, perkataan Wukong memang tidak salah. Jadi, kami kembali menoleh ke arah da-ge, menuntut penjelasan lebih. Kalau begini sih memang jelas siapa pelukis itu dan siapa yang memperbaikinya. Tapi kan susah sekali membayangkan kalau ada da-ge yang berbeda tapi sebenarnya tetap saja satu! Ahhh... benar-benar susah dimengerti!
Da-ge sendiri juga sepertinya kelihatan bingung sendiri. "Sejujurnya, aku juga bingung bagaimana menjelaskannya..." Jawabnya sambil menghela nafas panjang dengan nada kalah. Akhirnya, dia benar-benar menyerah dan cuma bergumam pada diri sendiri. "Ahhh... tidak heran kalian tidak bisa mengerti... T'an Mo saja yang bahkan sudah melihat tidak bisa menerima ini..."
Eh? T'an Mo?
T'an Mo sudah pernah melihatnya? Wah! Tidak adil! Aku belum pernah melihat ini dan selama ini aku sama sekali tidak mengerti! Curang! Kenapa T'an Mo yang jahat itu pernah melihat tentang da-ge yang beda tetapi sebenarnya satu itu sementara aku belum pernah? Ini tidak adil!
Hmmm... tapi...
Da-ge bilang, T'an Mo melihatnya tapi tidak mau mengerti dan menerima. Aku sih tidak pernah melihat, cuma mendengar saja dari mulut da-ge sendiri... Yah, apa aku akan tidak percaya juga?
Tidak mau! Aku kan bukan T'an Mo!
"Yahhh... aku memang sulit mengerti, da-ge!" Balasku sambil tersenyum lebar. "Tapi kalau da-ge bilang begitu, meskipun San Zang tidak mengerti, pokoknya San Zang percaya sama da-ge, deh!" Karena senyumku terlalu lebar, aku sampai pamer gigi. Ah, biarlah... yang penting aku cuma mau menunjukkan pada da-ge kalau aku ini, meskipun tidak mengerti apa-apa, tapi aku bukan seperti T'an Mo itu!
Wukong pun juga ikut-ikutan. "Kalau Shijiang tidak mengerti, apalagi aku yang cuma Pendekar Kera!" Imbuhnya. "Tapi, kalau Shijiang percaya, aku juga! Soalnya aku kan juga bukan T'an Mo!"
"Ah! Wukong, kau itu bisanya cuma meniruku saja!" Omelku sambil menjitak kepalanya.
"Lho, kan tanggung jawab murid untuk meneruskan pemikiran muridnya!" Balasnya sambil menghindar.
Ugh... Wukong ini sukanya mengelak saja! "Sudahlah! Kau itu bisanya cuma membela dari saja!"
Sementara aku dan Wukong lagi seru-serunya beradu mulut dan tangan, aku mendengar suara tawa kecil dari da-ge. Ah iya... da-ge jadi terlupakan. Aku dan Wukong langsung berhenti seketika dengan posisi yang masih sama seperti tengah kami bertarung, seolah tiba2 waktu berhenti.
"Ahahaha... Kalian ini..." Da-ge berujar sambil tersenyum. "Terima kasih banyak... aku kira kalian tidak akan percaya..."
Melihat da-ge seperti itu, aku tidak tahu bagaimana dengan Wukong. Tapi kalau aku, wajahku sampai memerah! Hei, jangan berpikiran macam-macam! Aku cuma senang sekali melihat da-ge seperti itu! Yah, pikir-pikir... memang tidak heran sih kalau dia sesenang itu. Maksudku, ini bermasalah bukan cuma pada siapa da-ge itu sebenarnya, tetapi juga dengan keberadaannya! Kalau T'an Mo tidak mengakui keberadaan da-ge yang satu lagi ini, wah, pasti rasanya da-ge sedih sekali. Dianggap tidak ada itu kan tidak menyenangkan sekali! Jadi sekarang, wajar dia senang...
Dan membuat da-ge senang juga membuatku senang sekali!
"Oh iya! Dan satu hal lagi..." Da-ge menambahkan. "Aku cuma penasaran saja... dulu di Luo Yang, aku pernah melihat sebuah tulisan dari leluhur di masa lalu tentang aku. Apa mungkin San Zang punya teks-teks itu di sini?"
Yahhh... sudah kuduga da-ge akan menanyakan itu. Bagaimanapun, yang namanya manusia itu pasti ingin tahu masa depannya. Dan bagaimanapun Phoenix-nya da-ge, dia sekarang kan juga manusia sepenuhnya...
"Sebagian besar sudah hilang, da-ge." Jawabku. "Yang San Zang punya cuma sedikit sekali dibandingkan yang hilang."
Tentu saja da-ge kaget, kecewa, kesal, semua itu bercampur jadi satu. Yah, tentu saja ini mengecewakan untuknya. "Hah? Hilang? Bagaimana bisa?" Tanyanya penasaran, dengan wajah memelaaaaaaaas... sekali!
"Begini, da-ge..." Aku mulai menjelaskan. "Tulisan itu sebagian besar ada di daerah Timur, ya, di Wu... Ada beberapa juga sih yang di daerah Barat. Sementara di daerah Utara jumlahnya sedikit sekali. Nah, apa da-ge tahu bagaimana akhirnya semua tulisan itu bisa terkumpul?"
Dia menggeleng.
"Suatu kali, keempat Si Xiang berkumpul dengan membawa seluruh teks itu dari setiap pelosok negeri, da-ge."
Mata emas da-ge langsung melebar sangking kagumnya. Ha, baru aku sadar kalau mata da-ge semakin jernih kalau dia terkagum-kagum pada sesuatu! "Benar kah? Wah! Hebat sekali!"
"Itu hebatnya masih belum apa-apa, da-ge! Da-ge tahu apa yang lebih hebat?" Tanyaku dengan nada yang sama bersemangatnya.
Lagi-lagi dia menggeleng.
"Yang lebih hebat adalah," Jawabku. "Aku berhasil membuat seorang Phoenix tertipu cerita bohong anak kecil!"
Seketika senyum da-ge langsung hilang, menjadi cemberutan. Sementara aku dan Wukong tertawa terpingkal-pinggal mendapati ternyata da-ge sangat-sangat polos dan bisa dibohongi dengan mudah, dia cuma mendengus. Hahaha! Bagaimana tidak lucu? Da-ge yang satu ini, yang juga manusia ini, perlu belajar lagi dari awal, kembali tidak tahu apa-apa seperti manusia pada umumnya! Bahkan bisa dikerjai dengan mudah!
Kalau da-ge seperti ini, wah, bisa-bisa dia bahkan bisa dikerjai binatang tunggangannya sendiri!
"Itu tidak lucu, tahu tidak?" Tanyanya dengan nada sengak yang tentu saja menunjukkan kalau dia kesal bukan buatan. "Aku ini benar-benar serius."
"Baiklah... baiklah... ahahaha..." Jawabku sambil berusaha menghentikan tawa. Dengan diiringi tawa Wukong sebagai musik latar, aku meralat penjelasanku. "Seberanya begini da-ge... ahahaha... Da-ge sudah tahu kan kalau Kaisar Sun Jian dari Wu sangat-sangat ingin tahu tentang ramalan para leluhur tentang Phoenix?" Dia mengangguk. Jadi aku meneruskan. "Sesudah pasukan Sorban Kuning dikalahkan, seorang tiran bernama Dong Zhuo bermaksud menggulingkan tahta Han. Kalau tidak salah itu setahun sesudah da-ge lahir, bukan?" Tanyaku sambil mencoba mengingat-ingat.
"Hmmm... mungkin juga." Balasnya. "Lalu?"
"Sebelumnya, Kaisar Sun Jian sudah mengumpulkan semua teks-teks yang terdapat di Kerajaan Timur. Tidak hanya itu, dia bahkan meminta tolong pada Kaisar dari Kerajaan Barat untuk meminjamkan salinan teks-teks itu kalau di Kerajaan Barat ditemukan." Jelasku. "Nah, berhubung Kaisar Kerajaan Barat sangat menghargai dan mengapresiasi keingintahuan Kaisar Kerajaan Timur, dia bukan cuma membawa salinannya tetapi yang asli juga."
"Tak lama, Kaisar Sun Jian dari Kerajaan Timur berhenti berpatisipasi pada perang itu karena menemukan Cap Kerajaan pada masa Dinasti Qin dulu. Dia pulang kembali dengan membawa seluruh teks itu. Namun di tengah jalan, pasukan lain dari Provinsi Jing menyerangnya. Keadaan kalut seperti itu, hanya sebagian yang dibawa. Yang lainnya hilang." Jelasku panjang lebar. "Yang sebagian itu pun banyak yang hilang ketika anak Kaisar Sun Jian, Kaisar kedua Wu Sun Ce, berpindah mengabdi pada Yuan Shu untuk sementara waktu."
Da-ge langsung lesu saat mendengarnya. "Yahhh... kalau begitu, aku benar-benar tidak bisa tahu apa-apa..." Hmmm... tidak heran sih. Mungkin memang benar manusia tidak boleh bisa mengetahui masa depannya sendiri. "Oh iya. Kalau begitu, apa yang terjadi pada Cap Kerajaan itu?"
Aku menggaruk kepala. "Ada yang bilang diserahkan kembali pada Panglima Yuan Shao yang saat itu memimpin perang pelawan Dong Zhuo. Ada juga yang bilang dibawa oleh Kaisar Sun Ce dan digunakan untuk ditukarkan dengan tiga ribu prajurit." (1)
Kelihatannya, da-ge tidak terlalu peduli dengan Cap Kerajaan itu. Jadi, dia pun menanyakan hal yang untuknya lebih penting. "Jadi, apa masih ada yang tersisa dari semua teks itu?"
Aku berlari ke sebuah peti di sudut Yi Leng Jing ini. Kemudian mengeluarkan sebuah buku dan menunjukkannya pada da-ge. "Ini, da-ge!"
"Cuma satu?" Tanyanya kaget.
"Sebenarnya lebih, meskipun tidak sebanyak yang da-ge harapkan." Jawabku, kemudian aku melanjutkan dengan alasan yang pasti membuat da-ge kesal bukan buatan. "Tapi, meskipun ada banyak, aku tidak akan menunjukkannya pada da-ge. Yang namanya manusia mana boleh tahu masa depan?"
Da-ge menggembungkan pipi. "Iya juga, sih..."
Jadi, dengan begitu dia mulai membuka halaman pertama buku itu. Yah, memang bukan buku yang istimewa, sih. Buku itu umurnya sudah cukup tua. Tapi, hei, buku itu ditulis pada Dinasti Qin! Jadi sebenarnya tidak setua itu, kok!
"Hei, aku belum pernah lihat buku itu!" Sergah Wukong. "Feng, bacakan untuk kami! Aku juga ingin tahu."
Da-ge mengangguk, kemudian membacakan untuk kami sebuah teks di sana.
Tahun baru tanpa festival musim semi!
Rasanya musim dingin seperti akan berlanjut.
Tapi, oh!
Kau, matahari pagi, menghantam wajahku dengan cahaya!
Seperti ombak pertama di laut menghantam karang!
Kemarin malam hujan air mata,
aku melihatmu basah kuyup olehnya.
Mawar hitam disematkan di telingamu
Hari pertama musim semi,
Kau tidak ada di tempatmu!
Pohon besar berderet rapi
daun hijau dan kupu-kupu biru seperti kaca hias
Penasaran, angin Utara pun mencarimu!
Mahkota bunga shao yao, lan hua, dan ju hua terbuka (2)
Seperti anak-anak perempuan yang tersenyum
Dan burung-burung dari Selatan
Adalah anak-anak lelaki yang berlari menyambutmu
Langit tidak lagi menangis
Matahari tersenyum melihatmu
Alam mengganti mawar hitam di telingamu dengan mawar putih
Oh, kau pilih itu menjadi mahkotamu, pangeranku yang sahaja?
Tanah lembab yang ditumbuhi tanaman,
Air tenang yang mengalir ke Sungai Kuning,(3)
Api lembut yang masih menari di atas suluh
Angin ramah yang bermain-main di lembah
menyendengkan telinga mendengar musik yang merdu
Kau benar-benar mencintai tempat ini...
Ya, Sang Phoenix mencintai semua ini, kan?
Sesudah membaca itu, aku bisa melihat dengan jelas da-ge makin kebingungan saja membacanya. Yah, siapa yang tidak bingung? Lama sekali da-ge membacanya berulang-ulang, sebelum akhirnya menyerah dan bertanya padaku. "San Zang, ini artinya apa?"
"Seandainya aku tahu pun, tidak akan kuberitahukan pada da-ge." Jawabku sambil tersenyum nakal.
Sambil mendecakkan lidah karena jengkel, da-ge membalik asal halaman buku itu, mencari yang mana yang sepertinya menarik untuk dia baca. Kemudian, ia berhenti saat menemukan sesuatu yang menarik hatinya.
Aku tidak bersama dia yang lemah!
Oh, tak mungkin mengikuti dia yang sia-sia!
Aku meletakkan diriku dibawah sumpah,
Kepada orang yang tidak takut pedang dan tombak!
Tidak mengemis demi bantal untuk kepalanya! Tidak!
Untuk apa mencari jubah sutra dan payung emas? (4)
Ombak yang menerpa bukan sembarang ombak,
Tapi hatinya tegar seperti Tebing Merah! (5)
Seorang pahlawan muda membawa obor
Obor dengan api yang tidak bisa padam
Jendral-jendral keluar dari bilik mereka,
menjawab tantangannya di gerbang kota
Itulah dia, prajurit berpedangkan semangat!
Tangan yang kugenggam bukan tangan pengecut!
Jadi jangan memperingatiku lagi, mulut madu!
Aku tahu benar yang kulakukan!
Sudah kuduga. Seperti tadi, da-ge tidak akan mengerti. Pada akhirnya, dia cuma bisa bergumam. "Rasanya membaca pun percuma saja... aku tidak dapat apa-apa." Katanya sambil menghela nafas panjang sekali.
"Yah, setidaknya da-ge tahu lain kali tidak perlu mencari tahu masa depan da-ge." Jawabku asal.
Tanpa mempedulikan sindiranku, da-ge bertanya hal lain. "Hei, tapi ini aneh sekali, ya?" Tanyanya. "Kalau kubaca teks yang pertama, orang yang dituliskan sepertinya lembut dan baik sekali. Tapi yang kedua sepertinya sangat berbeda. Yang pertama memang benar, sepertinya tentang Phoenix. Tapi yang kedua..."
Aku juga sebenarnya menyadari hal itu, sih.
"Ngomong-ngomong, siapa yang menulis ini, San Zang?" Tanyanya.
Yang menulis... yang menulis buku ini, ya? Yahhh... sebenarnya sih aku agak malas menceritakannya pada da-ge. Bukannya apa-apa, soalnya meskipun belum pernah bertemu dengan orang yang menulis ini, aku tidak suka padanya. "Yah, dulu di zaman Dinasti Qin, ada seorang bawahan dari Kaisar Qin Shi Huang. Dialah yang menulis ini." Lalu aku mendengus kesal. "Aneh, padahal dia itu benci sekali pada orang-orang sepertiku, seperti da-ge, seperti Si Xiang yang lain! Tapi, kenapa harus dia sih yang menulis?" Mulai, deh... masuk ke masalah perasaan pribadi...
"Wah, apa aku termasuk salah satunya?" Tanya Wukong sambil menunjuk pada diri sendiri dengan gaya bodoh luar biasa.
"Ya, tentu saja." Jawabku asal.
"APAAAA?" Seru Wukong nyaris berteriak. "Menjengkelkan sekali! Memangnya apa salah kita?"
"Makanya itu! Aku juga bingung!" Balasku sambil mengangguk setuju. "Kau tahu, kita tidak pernah bertemu dengannya, tapi dia tidak senang dengan kita!"
"Aneh! Orang yang tidak jelas sekali!" Wukong menambahkan. "Ah! Orang seperti itu harusnya dimusnahkan saja!"
"Yang benar, seharusnya dia dibuat selamanya diganggu oleh siluman yang usil sepertimu, Wukong!"
"Salah! seharusnya dia disuruh menulis tidak cuma satu buku ini! Seharusnya dia disuruh menulis sampai semua pohon di China habis berubah jadi kertas! Oh, dan aku bukan siluman usil, Shijiang!"
"Sudah! Sudah!" Seru da-ge tiba-tiba. Aku dan Wukong sampai tutup mulut seketika. "Kalian ini mau menjelaskan tentang si penulis teks ini atau mau menggosipkan orang sih? Omongan kalian semakin lama semakin tidak jelas juntrungannya, tahu!"
Da-ge mengomel. Wah, baru kali ini aku melihatnya! Hahaha! Bagaimanapun, da-ge yang manusia ini tingkahnya lucu sekali, ya?
"Yahhh..." Da-ge menatap lantai sambil melanjutkan. "Apa mungkin kita pernah salah padanya, ya...?"
Aku dan Wukong langsung tidak bergerak seperti patung.
Yah, mungkin di depan da-ge, aku dan Wukong kelihatan sangat aneh dan bodoh sekali! Tapi untuk kami berdua, yang lebih aneh itu justru da-ge sendiri! Hei, bukannya berlebihan, meski agak berlebihan juga, sih... Tapi cara da-ge mengatakan itu, sekaligus wajahnya itu... Wahhh... Meski da-ge sudah berumur delapan belas tahun, matanya yang seperti mata anjing kecil memelas itu, pipi yang menggembung, satu jari di depan bibirnya, satu tangan di balik punggung, tampang merasa bersalah seperti anak kecil ketahuan mencuri permen...
Da-ge benar-benar polos sekali, ya? Masih seperti anak kecil...
"WAAAAHHH! Da-ge lucu sekali!" Langsung aku menerjang dan memeluknya erat-erat! Seperti anak kecil memeluk boneka bulu yang besar begitu! Sekarang aku benar-benar tidak heran kenapa Jian Bing selalu gemas melihat da-ge!
"SAN ZAAAANNNGGG!" Da-ge meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Padahal, dengan dia berusaha melakukan itu, gayanya semakin kelihatan imut! "San Zang! Lepaskan aku!"
Yahhh... pada akhirnya aku melepaskan da-ge juga. Hei, bukan salahku, kan? Habis, da-ge memasang wajah imut seperti itu! Aku kan jadi tidak tahan!
"Semakin lama, Shijiang semakin tidak tahu sopan santun..." Gumam Wukong sambil melipat tangan dengan gayanya yang sok bijak itu. Huh!
"Hei, Wukong! Kau tidak perlu ikut campur! Ini urusanku dengan da-ge!" Omelku sambil berkacak pinggang. "Kau itu cukup kupukul sekali langsung pingsan tahu?"
"Oh ya? Shijiang sekali kutiup langsung terbang ke langit ke tujuh!"
"Kau sekali kugunakan mantraku bisa jadi tulang!"
"Shijiang sekali kutatap langsung punah seketika!"
Aku sama sekali tidak sadar sementara aku seru-serunya bertengkar dengan Wukong, da-ge sudah asyik sekali dengan buku itu lagi. Langsung aku merebut dengan cepat buku itu dari tangannya. "Eits! Tidak boleh baca lagi!"
"Hei, San Zang!" Da-ge berusaha mengambilnya. Tapi sudah kulemparkan dulu ke Wukong. Wukong pun langsung menyimpannya ke dalam peti dan menguncinya kembali. "San Zang! Aku kan masih ingin baca!"
"Seberapa banyak pun yang da-ge baca, da-ge tidak akan mengerti, kok!" Kataku sambil menjulurkan lidah. "Lagipula, da-ge kan sekarang manusia! Tidak boleh tahu masa depan!"
Sekali lagi da-ge menghela nafas panjang. Kesal. "Ya sudahlah..." Katanya akhirnya. "Ngomong-ngomong, apa San Zang tahu sebenarnya tulisan-tulisan itu menceritakan tentang apa?" Tanyanya.
Hmmm... aku mulai berpikir-pikir. Rasanya aku memang pernah tahu tentang teks ini. Penulisnya adalah seseorang dari Dinasti Qin. Kalau begitu, tulisan itu menceritakan tentang...
"Mungkin saja tulisan itu bukan tentang aku, kan?" Tanya da-ge. "Maksudku, apalagi tulisan yang kedua itu. Rasanya dia bukan berbicara tentang aku tetapi tentang... katakanlah... jendral atasannya atau tentang Kaisar Qin Shi Huang (6)?"
Aku menggeleng kuat-kuat. "Kalau tentang jendral lain aku tidak tahu! Tapi kalau tentang Kaisar Qin Shi Huang pasti bukan! Da-ge tahu kan kalau Kaisar Qin Shi Huang itu kaisar yang sangat kejam, yang memaksa rakyatnya sendiri bekerja paksa membangun Zhang Cheng? Juga orang yang begitu inginnya mencari Dan (7), obat yang kalau diminum bisa membuat hidup selamanya?" Jelasku panjang lebar dengan berapi-api. "Mana mungkin orang bijaksana seperti penulis buku ini menceritakan tentang seorang kaisar yang demikian kejam dengan tulisan seindah ini? Tidak mungkin, kan?"
Da-ge mangut-mangut setuju.
"Seperti leluhur penulis ramalan lain, da-ge..." Aku melanjutkan penjelasan. "Mereka tidak menjelaskan tentang mereka sendiri, tetapi tentang Phoenix itu, atau tentang orang lain yang berada dengan Phoenix itu."
Da-ge ber'oh' ria sesudah mendengar penjelasanku. "Berarti..."
"... Teks itu menceritakan tentang orang yang nantinya akan dekat dengan da-ge!" Jawabku mantap sambil mengangkat satu jari. "Kalau menurut San Zang sih, si penulis itu menuliskan perasaan orang itu tentang apa yang dirasakannya pada da-ge!"
Seketika itu juga ekspresi da-ge jadi aneh. Dia sepertinya akan tersenyum lebar sekali sampai mungkin bibirnya robek. Tapi pada saat yang sama berusaha menyembunyikan senyum itu sama sekali. Aku sampai bingung melihat tingkah da-ge.
"Kau jangan bercanda, San Zang!" Da-ge tertawa. "Mana mungkin aku bisa sehebat itu! Yang benar saja!"
Sebelum aku menjawab, tiba-tiba Kera ajaib satu ini sudah memotong dahulu! "Kau tidak perlu khawatir begitu, Feng!" Katanya. "Lihat Shijiang yang manja dan kekanak-kanakan ini. Dulunya dia cuma gadis kecil yang nakal, yah, sampai sekarang sih masih nakal! Tapi, eh, siapa sangka dia pada akhirnya menjadi Pendeta San Zang yang mencari tiga kitab? Malah pandangan orang padanya sampai setinggi langit!"
Tentu saja aku naik darah mendengar kata-kata Wukong! "Dan da-ge juga boleh lihat Wukong ini! Contoh yang lebih jelas!" Balasku dengan suara yang tak kalah sengit menandakan perang mulut lain dimulai. "Dulunya dia ini cuma siluman kera tidak jelas yang lahir dari batu! Sudah nakal, liar, brutal pula! Eh, siapa sangka sekarang dia jadi Pendekar Kera yang dikatai Qitian Dasheng (8)?"
"Hei! Aku kan jadi liar, nakal, dan brutal gara-gara Shijiang!"
"Kau ini bisanya cuma menyalahkan orang yang tidak bersalah! Dasar e ren xian gao shuang-orang yang salah justru menyalahkan korbannya!"
"Mulai lagi..." Kulihat da-ge memutar bola matanya. Tahu perasaan hatinya sudah jengkel setengah mati melihat kami ribut terus, akhirnya aku langsung diam. Wukong juga.
Da-ge meletakkan satu tangan dibawah dagunya, seolah sedang memikirkan sesuatu dengan sangat-serius-setengah-mati. "Oh iya, San Zang, tadi kau mengatakan sesuatu..." Kata da-ge. "Tadi, kau bilang ada obat bernama Dan yang membuat seseorang bisa hidup abadi, ya?" Tanyanya.
Aku mengangkat alis. "Iya. Memangnya kenapa?"
Wajah da-ge langsung berubah pucat seperti mayat. Kalau boleh kubayangkan, kedua bola mata emas da-ge sudah keluar sangking kagetnya dia. Wah, memangnya kenapa, ya? Untung saja da-ge langsung memberitahukannya padaku. "Taigong Wang memberiku obat itu..."
"Dan da-ge meminumnya?" Tanyaku dengan bodohnya. Sekarang aku sama terkejutnya seperti da-ge.
"Ya iya lah! Masa cuma kupelototi saja?" Balas da-ge.
Hening...
Sebelum da-ge panik sendiri, lalu akhirnya jadi stress, aku langsung menenangnya. Yah, kasihan da-ge. Dia kan manusia juga? Pasti mudah merasa tertekan. Kalau sudah stress kemudin dibuat stress lagi, bisa-bisa dia cepat mati. "Tapi tenang saja, da-ge! Aku yakin da-ge tidak akan terpengaruh obat itu dan pasti suatu saat da-ge akan mati juga!"
Da-ge menggela nafas lega. "Syukurlah kalau begitu... Ngomong-ngomong, kau tahu darimana?"
"Yah, karena kematian da-ge sudah ditentu..."
Langsung aku cepat-cepat menutup mulutku sebelum da-ge mendengarnya! Wukong juga sampai ikut mendelik lebar melihatku yang hampir keceplosan! Ahhhh! Bagaimana ini? Aku mengatakannya! Aku mengatakannya! Sial! Sial! Bagaimana aku bisa ceroboh begini?
"Hah?" Syukurlah. Sepertinya da-ge tidak mendengarnya. "Kau bilang apa tadi?"
"Ahahaha..." Jawabku sambil tertawa garing. "Tidak... San Zang tidak bilang apa-apa! San Zang bilang, da-ge tidak perlu khawatir!" Meski da-ge terlihat tidak yakin, aku pura-pura cuek. "Oh iya! Apa da-ge masih ada sesuatu yang ingin ditanyakan?"
"Nggg..." Da-ge berpikir. "Mungkin hanya itu saja."
Kalau da-ge mengatakan itu. Berarti tugasku sudah selesai. Dan itu berarti, sekarang saatnya berpisah dengan da-ge. "Ohhh... baiklah kalau begitu." Aku mengangguk, kemudian menoleh ke arah Wukong. "Wukong, kau antar da-ge kembali kaki gunung, ya?"
Dengan begitu, sekarang da-ge berjalan keluar dari Yi Leng Jing ini. Aku dan Wukong mengikuti dari belakangnya. Tidak disangka-sangka, ternyata hari sudah menjelang malam. Dan lagi, berapa hari sudah berlalu, sebenarnya aku juga tidak tahu.
Da-ge menatap satu kali ke atas. Ada sebuah bintang yang terang tepat di atasnya. Tetapi, matanya masih beralih mencari-cari sesuatu yang pada akhirnya tidak dia temukan. Yah, aku tahu apa itu. Pasti da-ge sedang mencari dimana bulan. Sama seperti hari-hari sebelumnya, bulan masih gelap. Gerhana bulan yang panjang ini belum berakhir. Dan selama ini belum berakhir, aku tahu da-ge pasti tetap sedih. Kedua mata emasnya yang bening itu tertutup separuh, sebelum pandangan matanya jatuh ke tanah yang dipijaknya.
Kasihan da-ge...
"Da-ge! Bersemangatlah!" Seruku sambil menepuk punggungnya. "Tenang saja! Aku yakin da-ge pasti menemukan da-jie!"
Dia menoleh, kemudian perlahan senyum itu mulai mengembang, meski agak terlihat sedih. "Iya, San Zang. Terima kasih. Rukun-rukun dengan Wukong, ya?" Kemudian, dengan diantar Wukong, da-ge berjalan menjauhi tempat ini, semakin jauh. Tetapi dari sini aku masih bisa melihat lambaian tangannya, dan kemudian membalasnya.
"Aku tidak akan bilang selamat tinggal!" Seruku kuat-kuat pada da-ge, berharap dia masih mendengarnya. "Nanti kita akan bertemu lagi, da-ge!"
Kini, aku sama sekali tidak bisa melihat da-ge. Jadi, dia pasti sudah diantar turun oleh Wukong. Aku pun kembali masuk ke dalam Yi Leng Jing.
Yah, sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini.
Kalau Wukong sudah kembali, berarti aku sudah bebas melakukan apapun. Tidak ada tugas lagi! Yah, sebenarnya aku ingin sekali sih mengikuti da-ge. Tapi, kurasa dia akan lebih senang kalau bepergian bersama dengan kawan seperjalanan yang sama-sama manusianya. Bukannya apa-apa. Aku sendiri sih juga merasakan kalau pergi bersama makhluk-makhluk siluman kelas atas, pasti rasanya agak canggung saat bertemu orang lain. Selain itu, dilihat dari pakaiannya, da-ge pasti bukan menempuh perjalanan dengan gaya pendeta sepertiku. Da-ge sedang berkelana sebagai Gaibang. Kan tidak mungkin ada Gaibang yang berpetualang dengan seorang pendeta?
Hmmm... kalau begitu, apa yang akan kulakukan sesudah ini, ya?
Coba kulihat... apa yang bisa kulakukan untuk membantu da-ge, ya? Hmmm...
-o-o-o-o-o-o-
Pelukan itu akhirnya terlepas. Si pelukis itu menatap wajah laki-laki di depannya. Satu tangannya di bawah dagu orang di depannya, mengangkat wajahnya untuk bertemu dengan matanya. "Zuan Jin..." Katanya. "Yang kau lakukan itu... jauh lebih dari cukup..."
Sebagai balasa, si 'Zuan Jin' cuma menggeleng. Dia bangkit berdiri, kemudian berjalan ke arah kuas yang tadinya kosong itu dan sekarang sudah menjadi hitam. Dengan tangan yang masih berdarah itu, dia mematahkannya, kemudian membuangnya. "Aku tidak keberatan, Tai Yang..." Jawabnya sebelum menoleh ke pelukis yang dipanggilnya 'Tai Yang' itu. "Kau tahu kenapa?"
Si pelukis kelihatannya bisa menebak, tetapi dia cuma diam.
"Karena yang merasa lukisan itu indah bukan cuma kau saja." Jawabnya. Dia menatap sekali telapak tangannya yang berdarah. Dilihatnya baik-baik luka itu. Sesudah dia mematahkan kuas itu... aneh... darahnya kembali menjadi merah, warna darah segar, bukan hitam lagi karena tercampur cat hitam itu.
Keduanya tersenyum sebelum dia melanjutkan jawabannya.
"Aku juga menganggap lukisan itu sangat-sangat indah..."
FOOTNOTE (guuuuaaaaayaaaa e rek... kayak nulis makalah ae...):
(1) Ada informasi yang bilang Cap Kerajaan itu (Imperial Seal), jatuh ke tangan Yuan Shu. Tapi ada yang bilang Sun Jian akhirnya ngasih Cap Kerajaan itu ke Yuan Shao. Trus pas kematian Yuan Shao, Cao Cao yang ngerebut Cap itu pada akhirnya...
(2) Peony, Orchid, Chrysantemum
(3) Huang He (masa nggak tau?)
(4) Payung Emas / Imperial Parasol adalah payung kerajaan yang biasa digunakan buat menudungi Kaisar.
(5) Chibi (AKA Red Cliff)
(6) Kaisar terkejam di Dinasti Qin yang memaksa rakyatnya membangun Zhang Cheng atau Tembok Besar China
(7) Nggak akan saya jelaskan lagi... udah muncul di chap2 sebelumnya, kok...
(8) Salah satu gelar untuk Sun Wukong (lupa artinya... ==a)
Maaf, BTW... saya terlalu males buat nulis hanzinya proverb-proverb yang diucapkan San Zang di chap ini... Ntar kalo tertarik sodara cari sendiri, ya? ^o^
Dan, seperti yang sodara liat, POVnya udah bukan dari Lu Xun lagi. Yups! Mulai sekarang, POV yang dari Lu Xun bakal diminimalkan sampe ke Cheng Du Arc supaya sodara nggak bosan dan kita bisa melihat POV dari orang-orang laen... XDDDDDD
Trus, tentang bukunya si Meng Zhang... apakah sodara tertarik dengan buku itu? XDDDD yang dibaca ama San Zang itu cuma bagian awal doank... Nah, sebenarnya apaan sih isi buku itu? Yahhh... yang pasti saya nggak mau ngasih tau... XDDDD Tenang aja, pasti bakal dituliskan di chap-chap berikutnya, kok...
Terakhir, tentang si penulis buku yang isinya tentang ramalan leluhur itu... saya mau mengucapkan terima kasih pada IXA Cross yang telah bersedia meminjamkan OCnya pada saya! Terima kasih sebesar-besarnya. Oh, dan sekedar info, OC ini bakal kita temukan nggak cuma di chap ini... akan muncul pada waktunya... XDDDDD *dinuklir*
(Wewww... author ini sukanya minjem-minjem OCnya orang... =.=a Parah banget...)
OH! SATU HAL LAGE SAYA LUPA!
Inget kan saya pernah bilang cerita ini akan dijadikan Universenya DW:StrikeForce? Dan ternyata, setelah dilihat kemajuannya, saya dulu pernah bilang diputuskan yang bisa fury mode cuma Lu Xun doank... Nah, sekarang saya ganti... *BEWARE! SPOILER STARTS HERE!* Yang bisa ngefury mode di sini sampai sekarang yang terpikir di otak saya cuma 4 orang (dan baik Lu Xun maupun Yangmei bukan salah satunya) yaitu: Zhao Yun, Zhou Ying (no. 2 pair... XDDD) dan Jiang Wei, Yan Lu (no. 3 pair... XDDD). *SPOILER ENDS HERE* Lah kalo Zhao Yun ama Jiang Wei kan enak udah ada designnya... kalo Zhou Ying ama Yan Lu... kayaknya terpaksa harus saya desain, ya? Wewww... =.=a Yah moga-moga aja Zhou Ying ama Yan Lu modelnya ntar nggak kayak rumah... *dinuklir*
Baru saya nyadar sekarang... kok saya jadi suka menggumbar spoiler, ya? Wewww...
Wokey! Next updatenya Selasa~ jangan lupa, ya...
