THE LEGENDIARY OF KORRA
Discalimer: based on Twilight Saga by Stephenie Meyer
.
Kierra POV
.
.
36. Bayangan
Tuesday, 23 July 2013
7:29 PM
.
.
Collin mengarahkan sepedanya melintasi jalanan di kawasan pemukiman yang hampir tak dapat kukenali lagi, lantas memasuki sebuah rumah yang pekarangannya sedikit lebih besar dari rumah-rumah lain. Rumah dua lantai itu, sama seperti rata-rata rumah yang kami lewati, berdinding kayu. Dibandingkan dengan rumah Black yang tampak bak kandang, rumah ini berukuran lebih besar. Arsitektur pedesaan Prancis berpadu dengan sentuhan ukir-ukiran Quileute, memberikan kesan ekletik yang unik. Dindingnya berwarna coklat alami tanpa cat apapun, serat-serat kayu yang melingkar bersusun-susun bak skema bima sakti tampak jelas di balik lapisan pernis transparan.
Ingatan Korra menolak bekerjasama begitu insiden dengan putra Uley itu. Bukti bahwa aku mendadak tak bisa mengakses memorinya hanya membuktikan satu hal: ia ada. Kesadarannya begitu tipis hingga tak bisa kurasakan, tapi ia bisa mengetahui yang kulakukan, bisa menggerakkan perasaan dan memiliki penilaian sendiri, bahkan mempengaruhi koneksi jaringan memori di otaknya dengan kesadaranku berarti ia tidak sepudar yang kukira. Ia hanya berada di sisi minor, sebisa mungkin tak muncul ke permukaan.
Jika ada satu yang kukagumi dari Korra, selain kemampuan manipulasinya, itu adalah kemampuannya untuk mencari kesempatan. Ia telah mengalahkan banyak Alfa dengan kombinasi dua cara itu. Menunggu, mengulur waktu, mencari kelemahan dan melakukan pukulan final. Tak pernah melintas di kepalaku ia akan melakukannya padaku. Tapi kini aku jadi mulai mempertimbangkan kata-kata Kuroi: Korra bak pemburu yang mengintai dari balik kerimbunan pepohonan di jantung hutan yang gelap, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang dan menaklukkanku.
Meski begitu aku tidak takut ia akan kembali dominan, meminggirkan kesadaranku. Ia akan membiarkanku mengendalikan tubuhnya atau aku pergi. Semudah itu. Ia sudah tahu konsekuensi dari kedua pilihan.
Bahkan setelah aku mengeluarkan ultimatum itu, ia masih memblokade ingatannya. Entah ia berusaha bersikap sulit dengan sengaja atau itu reaksi alam bawah sadarnya, aku tak tahu. Bukan masalah untukku.
Dengan riang Collin mengajakku melewati halaman samping, terus menuju pekarangan belakang. Dari sikapnya, seolah Korra memang sudah pernah datang ke rumah ini. Bahkan berjanji akan latihan pada jam 11 hari ini. Latihan apa, aku tak tahu. Collin pun belum menjelaskan secara detail, hanya menyebut kata 'penampilan' dan 'api unggun'. Tapi jika mengingat ini adalah bagian dari upaya penetrasi Korra terhadap suku ini, ditambah tiket yang memastikan aku menghadiri 'acara tertutup', aku tak mungkin menolak.
Di halaman belakang, kulihat sudah ada tiga pemuda lain. Seorang sedang memukul-mukul perkusi, mencoba beberapa variasi nada ritmis sementara satu temannya berusaha menyamakan nada dengan gitar akustik. Satu orang lagi berada di belakang pemanggang barbeque, sibuk membolak-balik daging. Collin mengajakku mendekati yang terakhir, langsung mencomot setusuk daging tanpa permisi.
"Hai Korra," seru si pemain gitar riang, segera saja meninggalkan alat musiknya dan menghampiriku, diikuti si pemain perkusi. "Ke mana saja kau? Kukira kau tak jadi datang..."
"Sam mencari masalah dengannya," justru Collin yang menjawabkan untukku.
"Masalah?" pemuda yang tadi sibuk memukul perkusi mengernyit.
"Tidak kok," kataku. "Aku yang membuat masalah. Aku yang tanpa sengaja membuat anaknya menangis."
"Ya tapi reaksi Sam kelewat berlebihan!" Collin masih menggerutu. "Seolah Korra akan mungkin menyakiti anaknya atau apa..."
Ketiga temannya saling berpandangan.
"Yeah, tapi kau tahulah Sam... Dia kan memang selalu overprotektif..." ujar pemuda yang masih sibuk dengan pemanggang barbeque. Kalau tak salah namanya Brady.
"Tapi tidak usah berlebihan begitu juga..." Collin masih menggerutu.
"Omong-omong soal protektif, kelihatannya bukan cuma Sam yang kelewatan di sini...," tawa usil muncul di wajah pemuda yang tadi memegang gitar, ketika ia menyikut temannya, si pemain perkusi.
"Benar," sambut si pemain perkusi, melirik penuh makna pada Collin. "Kau sendiri overprotektif..."
"Katakan, eh, Korra," si pemain gitar itu mencondongkan tubuh padaku, "apa kalian berdua jadian?"
Kontan wajah Collin berubah bak udang rebus. Sedetik kemudian ia sudah berseru, "Beeeeeen!" seraya mengejar temannya, yang dengan sigap berlari menghindari tendangan Collin. Dua pemuda lain hanya tertawa sambil mengawasi dua bocah itu berkejaran mengelilingi halaman. Collin berseru-seru marah dan mengutuk serampangan, sementara pemuda yang dipanggil Ben tak henti melontarkan ejekan seraya menarik kantong matanya.
"Dasar bocah," gumam Brady sambil menjerang sate barbeque baru di atas bara api. "Cowok selamanya takkan dewasa..."
"Oh, memangnya kau bukan cowok ya, Brad?" goda pemuda satunya yang langsung dibalas timpukan lap dapur.
"Tapi aku kan tidak sekekanak-kanakan kalian!" tukas Brady. "Aku calon pria dewasa yang bertanggung jawab, tidak seperti kalian bocah berisik yang tidak tahu kapan harus diam."
"Oh, aku kira definisi cowok itu adalah calon pria dewasa..." cengir temannya bandel.
"Sudah, Pete!" omel Brady, yang hanya dibalas tawa Pete. "Daripada begitu, sini ambilkan aku marinadenya!"
"Marinade? Oh, itu ada di dekatmu! Tolong ambilkan, Korra!" Pete menunjuk meja tak jauh dariku.
Meja itu penuh beragam botol dan mangkuk berisi cairan saus yang tak kutahu jenisnya. Entah mana yang disebut marinade. Asal saja, kuambil sebotol saus dan kusorongkan pada pemuda itu, yang segera menolaknya.
"Itu kan saus tomat! Masa kau tak tahu marinade, Korra? Katanya kau chef?" protes Pete. "Yang di mangkuk!"
Aku hanya menyeringai sementara mengoper salah satu mangkuk padanya. Brady menerimanya, tapi begitu melihat isinya, ia hanya menaruhnya di meja kecil di dekatnya dan kembali meminta mangkuk lain, "Ini saus barbeque, Korra. Aku menambahkan marinade lada hitam untuk menguatkan citarasa. Tolong mangkuk hitam di pojok, dekat teko."
Kuambilkan mangkuk berisi cairan encer yang ia bilang marinade, kuberikan pada Pete, yang lantas mengopernya pada Brady. Brady menatapku sekilas dengan kernyitan bingung, sebelum menunduk berkonsentrasi mengoleskan cairan itu ke permukaan daging di panggangan.
Aku tahu apa yang membingungkannya. Korra ahli masak yang handal, tak mungkin ia tak tahu yang mana marinade dan yang mana saus. Tapi aku memiliki pembelaan sendiri. Walau aku tak pernah memasak dalam dua abad lebih ini, aku menonton acara masak-memasak di televisi. Tak pernah ada ceritanya cairan encer yang sepertinya digunakan untuk merendam daging itu dioleskan ketika daging sedang dipanggang. Atau bisa jadi aku yang kurang memperhatikan.
Beberapa menit kemudian, Brady mengasongkan piring berisi steak barbeque yang sudah matang padaku. "Ehm, kau mau coba, Korra?"
Aku langsung menolak tanpa berpikir.
"Terima kasih. Aku tidak makan daging merah."
Sejujurnya, sebagai roh, aku tidak butuh makan. Konsekuensi hadir begitu aku merasuk raga. Menghisap jiwa inangku secara perlahan memberiku kekekalan dan energi untuk menggerakkannya, tapi untuk menambah kekuatan, aku memerlukan jiwa lain untuk kuhisap. Seharusnya aku tercukupi hanya dengan itu, tapi nyatanya tidak. Inangku adalah jasad kasar, sehingga aku tetap harus makan demi kebutuhannya.
Seabad lebih bersama Kuroi, tak mungkin aku tak terpengaruh konsepnya. Cintai alam, jangan berburu hewan lemah, lindungi kehidupan liar, demi Ibu Bumi dan Dewa Gunung... Walau kadang aku tertawa, mengingat seperti apa aku dulu, upaya toleransi pada gaya hidup Kuroi lama-lama memiliki dampak padaku. Bahkan Korra dan Phat pun ikut terseret. Kini aku hanya makan ikan, sayur, dan buah. Dan jiwa vampir, tentu. Dan jiwa manusia yang kurasuki. Ditambah kadang ikut menenggak darah manusia dari leher vampir juga kalau inangku membutuhkannya.
Sejauh ini hanya Sira dan Korra yang memerlukan darah. Sira tercukupi dariku, tapi Korra tidak. Ia menolak makan darah manusia langsung, meributkan soal kandungan kolesterol, zat karsinogen, merkuri, racun kimia dalam darah, serta beragam hal remeh lain yang berhubungan dengan pola hidup tidak sehat manusia modern, sedangkan darah hewan jelas dihindarinya karena Kuroi menentang habis-habisan. Jadilah ia menenggak darah manusia yang sudah 'tercemar', atau lebih tepatnya lagi 'tersucikan' oleh racun vampir. Bahkan ia sudah kecanduan racun sekarang. Itu simbiosis mutualisme bagiku. Ia bisa menenggak habis darah dari tenggorokan vampir sementara aku menghisap jiwa sang mangsa. Aku juga tak perlu mendengarkan kekisruhan hati Kuroi atau argumen konyol Korra.
Patut kuakui gaya hidupku sangat sehat. Makan para predator terbesar perusak bumi dan lindungi alam.
"Kau tidak makan daging?" Pete mengernyit.
Aku menggeleng.
"Tapi kata Cole waktu itu kau yang memberi ide acara barbeque ini... Plus kaubilang ingin sekalian mencoba resep steak."
Aku masih sanggup menahan diriku yang hampir terhentak. Korra melanggar peraturan diet kawanan dan berani makan daging selagi aku tak ada? Tapi lebih dari itu, bagaimana kesanku di mata mereka sekarang?
"Aku baru saja baca artikel soal daging merah, Pete," aku berusaha tak menampakkan emosi apapun dan bicara kasual. "Sedang dalam proses untuk hidup sehat, jauh dari potensi kanker, ingat?"
Pete tertawa. "Ya ya, kami sudah sering dengar konsep green-life-mu, Korra. Tapi kau tak bisa anti-daging begitu. Nanti kalau kau terpaksa hidup di hutan dan makan daging rusa mentah... Aduh!" ia mendadak melompat-lompat memegangi ujung kakinya. "Apa-apaan sih, Brad?!"
Brady mendelik padanya dengan tatapan mencela. "Maaf, tidak sengaja," katanya nyaris tak peduli, kembali mengurusi daging panggang. Pete masih mengeluh panjang-lebar, membesar-besarkan urusan Brady menginjak kakinya, yang pastinya sudah tidak sakit sekarang.
Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana: mempertanyakan kejadian mencurigakan itu atau diam saja. Jadi aku pura-pura saja tidak peduli.
"Jadi, kita hanya pesta barbeque berlima?" aku memandang sekeliling dengan kecewa. Dari sikap Collin waktu menarikku tadi, kupikir setidaknya ada sesuatu yang benar-benar penting. Setidaknya kuharap kawanan mereka berkumpul semua.
"Tidak. Aku mengundang Seth," kata Brady.
"Seth?"
"Ia mau merekam instrumen musik dan menyiapkan musik latar, supaya nanti cukup Pete yang mengiringi dengan perkusi tunggal. Jadi aku dan Ben bisa ikut menari."
"Menari?" aku tidak mengerti.
Kedua pemuda itu berpandangan.
"Lho, Brad," tegur Pete. "Bukannya Korra sudah diberi tahu?"
"Memang sudah..."
Jujur saja aku merasa sambungan simpul otak Korra yang agak lambat ini merepotkanku. Rupanya mereka sudah punya rencana dengan Korra, dan aku tak tahu-menahu. Kuputar ulang adegan sewaktu di rumah Black tadi. Collin datang dan bicara soal penampilan di acara api unggun tertutup… Lantas bilang ia pasangan tari Korra di kelas Budaya… Apa mereka meniatkan membuat pertunjukan tari kelompok?
Bingo! entah mengapa aku mendengar suara-khayalan Korra dalam kepalaku. Bagus, Tup. Kau sudah menjelma menjadi troll dengan kemampuan IQ-mu itu sekarang.
"Maksudku detailnya," aku buru-buru mengoreksi kebodohanku. "Kalian mau menarikan apa?"
Brady menyebutkan nama satu tarian ritual dan beberapa nama tarian pergaulan yang seketika membuatku membelalak.
"Dari mana kalian belajar itu?"
"Di kelas Budaya, tentu saja," jawab Pete sambil nyengir. "Itu pelajaran tingkat dua. Kau sih langsung melompat ke tingkat tiga, jadi tidak tahu, deh... Aku dan Ben masih di tingkat dua," entah mengapa ia terdengar bangga tidak pada tempatnya.
Brady kelihatannya menganggap urusan ini agak penting. "Memang kau tak tahu tarian itu, Korra?"
"Bukan begitu...," ujarku menerawang. Faktanya, bukan fakta bahwa mereka memilih tarian itu yang membuatku heran. Itu memang tarian yang sejak dulu dipakai dalam upacara resmi suku. Setelah tarian ritual, di puncak acara kami akan berkelompok atau berpasangan melakukan tarian pergaulan sebagai hiburan. Aku hanya agak terkejut, takjub bahkan, tarian itu masih lestari.
"Yah, kalau kau tak bisa pun, tak apa. Kami akan mengajari," janji Pete.
Aku tersenyum. Sebaliknya bahkan, aku sangat akrab dengan tarian itu.
"Kau tahu," Pete bicara dengan lagak konspiratif, "tarian ini diciptakan oleh nenek moyang Collin, lho..."
"Oh ya?"
Ia mengangguk keras.
"Dan nenek moyangmu juga, sih… Kau tahu, Kepala Suku Shi'pa, pria besar yang kemudian menurunkan keluarga Black? Di masanya, kebudayaan Quileute berkembang pesat... Masa kau tak tahu? Itu ada di pelajaran Budaya Quileute waktu kita kelas satu."
"Wajar jika Korra tidak tahu. Ia kan tidak mengambil pelajaran itu," timpal Brady tenang.
"Oh iya ya... Tapi kupikir kau tahu..."
Tentu saja aku tahu. Shi'pa. Kepala Suku Quileute paling beradab. Tidak hanya menjadi pelindung kebudayaan dengan menunjang lahirnya seni-seni ukir, tenun, dan anyam, juga menggubah sendiri beberapa sajak dan tarian. Paling beradab, paling welas asih, dan tentu saja: paling malang.
Tapi daripada fakta yang sudah jelas itu, sejujurnya, ada dua hal yang ingin kutanyakan.
"Tadi apa katamu? Shi'pa menurunkan keluarga Black? Memangnya ia memiliki keturunan?"
Mereka tidak langsung menjawab, saling berpandangan bingung.
"Shi'pa tidak mungkin punya keturunan," tukasku. "Wanita itu dieksekusi, sukunya membencinya. Jadi pasti anaknya juga."
Pete makin mengernyit. "Kau bicara apa sih, Korra? Shi'pa kan laki-laki... Dan lagi, ia tak dieksekusi. Ia pemimpin yang dikatakan membawa Quileute ke era keemasan kebudayaan. Nama lainnya How-yak I. Ia juga yang mengikat perjanjian dengan bangsa kulit putih. Putranya, How-yak II, berganti nama menjadi Jacob Black I ketika mulai memerintah."
"Tidak," gelengku. "Shi'pa perempuan. Ia juga hanya punya anak perempuan. Anak itu dibawa pergi ketika ia dieksekusi. Jika anaknya tak ikut dibunuh, tak mungkin ia bisa tinggal di suku, apalagi sampai menjadi Kepala Suku segala," tapi lantas aku menekur. "Apa kita bicara tentang Shi'pa yang sama?"
"Jika maksudmu kepala suku yang memerintah mulai sekitar tahun 1852…"
1852…
"Kapan peristiwa penaklukan kapal Rusia?" tanyaku mendadak.
"Apa?"
"Jawab saja."
"1808," Brady yang menjawab.
Aku menghitung dalam hati. Shi'pa memerintah selama 30 tahun kalender matahari. Peristiwa penaklukan kapal Rusia terjadi 3 tahun setelah ia memerintah. Itu artinya... eksekusinya terjadi pada ... 1835...
Mereka membicarakan Shi'pa yang lain. Penggantinya. Siapa yang menggantikan Shi'pa yang asli? Apa Kaliso? Kaliso memakai namanya untuk mendapatkan legalitas?
Kalau begitu, keluarga Black adalah ... keturunan Kaliso…
Belum tentu begitu. Shi'pa yang ia katakan memerintah mulai 1950-an, dia bilang? Apakah seseorang menjatuhkan Kaliso? Memakai nama Shi'pa... Apakah ia termasuk keluarga Shi'pa yang asli?
"Hei," kataku. "Apa kalian tahu apa yang terjadi dengan putri Shi'pa yang asli, maksudku yang sebelumnya? Kau tahu, putri dari kepala suku yang dibakar tahun 1835..."
Pete kelihatan ragu. "Tidak ada kepala suku yang dibakar..."
"Mana mungkin tak ada!" tukasku. "Ia orang yang sama dengan yang memimpin penyerangan atas kapal Rusia. Setelah ia melahirkan, kelompok pemberontak di bawah pimpinan Kaliso..."
"Tunggu, Korra. Tak ada kepala suku perempuan dalam sejarah Quileute. Suku ini menganut paham patriarki."
"Kata siapa? Ada enam kepala suku perempuan berturut-turut…"
"Tidak ada, Korra," ucap Brady. "Sebenarnya memang ada masa yang tidak jelas, antara tahun 1753 hingga 1852, ketika suku ini dikuasai dinasti penjajah. Kepala Suku Kaliso adalah kepala suku terakhir mereka."
"Ya," sambung Pete. "Dan kepala suku yang menaklukkan kapal Rusia itu Kaliso."
"Kaliso?!" seruku. "Dia baru 2 tahun ketika itu terjadi! Mana mungkin ia jadi kepala suku!"
"Ehm, kalau begitu mungkin yang lain..."
Selagi kami ribut bertiga, tahu-tahu Collin dan Ben kembali. Mereka tampak sudah baikan, bahkan tertawa-tawa sambil membawa sekerat penuh cola. Collin menawariku sekaleng, tapi aku menolak. Pencernaan Korra tak terlalu bagus dengan minuman bersoda dan aku tak hendak menambah masalah pada tubuhnya, ehm, tubuhku.
"Kalian bicara apa, sih? Serius benar..."
"Tidak," geleng Brady. "Hanya sedikit soal sejarah suku."
"Oh?" Collin kelihatan tertarik. "Soal apa, nih? Aku tak begitu jago soal sejarah, sih… Itu spesialisasi Brad…"
"Kalau kau, spesialisasi gosip…," sambung Ben di belakangnya, yang kontan dibalas pitingan Collin. Mereka masih saling serang sampai Brady menyuruh mereka diam.
"Kenapa sih, Korra, kau begitu tertarik dengan hal ini? Shi'pa dan Kaliso?" tanya Brady ingin tahu.
"Tidak… Hanya saja, aku merasa sejarah yang kalian kenal simpang siur…"
"Sejarah kan memang selalu simpang siur," komentar Collin.
Aku tak mempermasalahkan ketidaktahuan anak-anak ini mengenai sejarah suku mereka sendiri. Mungkin memang ada sebagian detail yang sengaja dihilangkan. Bagaimanapun sejarah dibentuk, atau tepatnya direka ulang, oleh mereka yang menang dan berkuasa… Tapi, mereka bilang Kaliso kepala suku terakhir dari dinasti penjajah? Apakah itu berarti Kaliso digulingkan?
Tapi ... 'penjajah' katanya?
"Kau tahu apa yang aneh? Tidak ada suku atau bangsa apapun yang menjajah Quileute," tekanku. "Suku ini terlalu kuat untuk dapat dikalahkan. Oh, kita bahkan berhasil mengalahkan suku Salishan dan para kulit pucat! Kita bahkan menyerbu sampai Saskatchewan."
"Ya, aku tahu sikap patriotismemu tapi itu tak sepenuhnya benar, Korra," jelas Brady. "Bangsa Quileute pecinta damai, kita tidak berusaha mengalahkan apalagi menjajah suku lain. Kita melindungi mereka, menjalin hubungan baik. Masa seabad ketika Quileute menjadi suku barbar itu terjadi ketika suku ini dikuasai orang asing. Pemerintahan rezim itu tidak mendapat tempat di hati rakyat, walau bagaimanapun. Banyak kudeta terjadi..."
Mau tak mau aku tertawa. Suku asing, katanya? Siapa yang melontarkan teori itu? Konyol benar!
Tapi ya, patut kuakui dalam banyak segi ia benar. Meski aku mengklaim para putri Quileute sebagai inangku, dan menganggap tanah ini sebagai sukuku, aku sendiri adalah orang asing. Orang yang tidak ketahuan asal-usulnya.
"Oh ya, tadi kau menyebut soal pembakaran ya, Korra?" Brady kembali mengingat-ingat. "Kalau soal pembakaran sih, memang ada yang dibakar sekitar tahun 1830-an…,"
"Oh, aku tahu yang itu!" seru Collin. Kemudian ia mencondongkan tubuh padaku seolah membicarakan sesuatu yang konspiratif. "Dia istri kepala suku. Masyarakat menyebutnya tukang teluh dan menjual rahasia suku pada orang asing, belum lagi ia dikatakan melacurkan diri pada orang kulit pucat. Mereka membunuhnya begitu ia melahirkan. Anaknya juga dibakar."
Aku ternganga.
"Istri … kepala suku? Me, melacurkan diri?"
"Itu yang kudengar… Entah betul atau tidak. Kau tahu, pandangan masyarakat pada zaman itu sering dilandasi kepentingan politik atau prasangka negatif…"
Aku tahu itu, tapi mau tak mau rasa marah menggumpal di dalam hatiku. Beraninya mereka melakukan itu… Tak hanya menghapus jejakku, tapi bahkan mendegradasi harga diriku hingga serendah itu…
Ya, akulah Shi'pa. Atau tepatnya, Shi'pa adalah salah satu inangku. Sosok terakhirku di suku ini… Sosok yang mereka bakar di tebing…
Dan lebih lagi…
"Anaknya … dibakar?"
Aku tidak seharusnya merasa terkejut. Itu sudah pasti. Tapi mendengar kata itu langsung…
Dan selama ini aku selalu berharap, seandainya memang keajaiban terjadi. Makhluk itu membawanya pergi… Jika ia tidak membunuhnya… Jika saja ia masih hidup...
"Omong-omong, kita mau jadi klub pecinta sejarah atau mau latihan, sih?" Ben memprotes. "Nanti keburu sore…"
Meski masih gatal untuk memperdalam perkara ini, mau tak mau aku setuju. Kutahan rasa penasaranku sementara mengawasi anak-anak menyerbu hasil karya Brady. Dengan agak malas-malasan, aku duduk tenang di ayunan di pojok halaman, menggigit apel yang dibawakan Collin. Ia agak heran begitu Brady bilang aku mendadak diet menjadi anti daging. Padahal, ia bilang, aku begitu bernafsu menyerbu steak dan pizza waktu kami makan malam di Port Angeles. Rasanya aku bahkan tak perlu lagi mengomentari soal itu.
Selesai makan, setelah Collin ribut mau menurunkan makanan dulu, barulah mereka mulai latihan. Pete tetap di posisinya, sementara Ben ikut menari bersama Collin dan Brady. Collin kulihat mengambil peran pemimpin. Aku mundur dahulu, mengawasi mereka berlatih tarian ritual. Baru sekitar lima menit mereka menari ketika aku mendapati banyak kesalahan.
"Stop!" seruku. "Gerakan apa itu? Kau kurang penghayatan, Cole! Sebagai penari utama kau harus menunjukkan lebih banyak kelenturan. Tarian ritual yang kalian lakukan ini memang diturunkan dari tarian perburuan, tapi ini tarian persembahan. Kau tak bisa hanya mengeksploitasi kekuatanmu di hadapan Roh Semesta Alam, kau harus tampak mengalir dan pasrah agar para leluhur menerima persembahanmu dan memberkatimu. Kau kurang merunduk, Ben! Kau, Brady, saat kau berputar, seharusnya kau juga menggerakkan tanganmu seperti ini," aku mencontohkan. "Dan kau juga Pete," aku menoleh pada si pemegang kunci irama. "Kau memulai dengan ketukan yang tepat, tapi seharusnya temponya meningkat perlahan. Pada puncak tarian, kau harus menabuh sangat cepat yang membawa para penari memasuki kondisi trans. Baru saat itulah roh para leluhur bersedia berkomunikasi dengan mereka. Oke, mulai dari awal!"
Mereka langsung memprotes.
"Apa-apaan itu? Tidak ada gerakan seperti itu!"
"Seharusnya pada gerakan setelah melompat, tangan kirimu menyentuh tanah."
"Kau membuat gerakan sendiri ya, Korra? Aneh betul mendadak ada gerakan begitu! Sulit betul, pula!"
"Kenapa aku harus meningkatkan kecepatan tempo supaya mereka bisa trans segala?"
Aku menahan gerutuanku dalam hati. Bagaimana mungkin mereka bisa bicara seakan mereka lebih tahu tarian itu ketimbang aku? Aku yang menciptakan tarian itu!
"Kalian diam dan perhatikan aku!" seruku yang membuat mereka semua diam. Menarik napas panjang, aku pun mulai menari mengikuti irama ritmis tetabuhan. Pada akhir tarianku, mereka semua memandangku dengan mata membelalak dan mulut terbuka.
"Dari mana kau belajar itu?"
Aku jelas tak bisa mengatakan 'aku yang menciptakannya'.
"Ibuku, tentu saja," jawabku cepat. "Jangan banyak omong dan ayo mulai menari!"
"Ehm, Korra," Collin kelihatan jengah. "Kau saja deh yang ambil peran utama…"
"Tarian ritual persembahan hanya ditarikan oleh kelompok yang jenis kelaminnya sama, dan harus ganjil," tekanku. "Kecuali kalian ingin menarikan yang lain…"
"Misalnya?"
Aku melakukan beberapa contoh tarian dan mereka langsung mengerang.
"Apa itu? Aku malah belum pernah lihat yang begitu!"
"Ini tarian kematian," jelasku. "Ini tarian pernikahan… Kalau yang ini tarian penyambutan calon mempelai baru jika berasal dari suku lain… Ini tarian pengangkatan Kepala Suku… "
Aku terus melakukan beberapa contoh tarian hingga akhirnya mereka berteriak-teriak bilang ada tarian yang mudah dilakukan.
"Ya, tapi seperti juga tarian ritual lain, tarian ini tak boleh ditarikan sembarang orang pada sembarang kesempatan," jelasku sabar. "Ini tarian ketika kawanan serigala memilih pemimpin baru… Dan yang ini tarian inisiasi yang dilakukan jika ada serigala yang mengalahkan pemimpin lama dan mengambil alih kedudukan…"
Mereka membeku sejenak sebelum akhirnya Collin memberanikan diri bicara, hati-hati.
"Korra, kau … eh … tahu soal … kawanan…?" ia juga tidak bisa membentuk kalimat yang tepat.
"Tentu saja," kataku tenang yang membuat mereka membelalak. Aku ingin tersenyum, tapi aku menahan diri dan melanjutkan, "Aku tahu legenda itu dari ibuku… Dan kau tahu seperti apa legenda dan takhyul…," aku sedikit mendengus untuk memperlihatkan aku tak percaya.
Tapi Cole kelihatannya peduli pada hal lain.
"Auntie Ars … yang … cerita padamu?"
"Ia kan memang mendalami legenda…," jawabku langsung.
"Tentu," angguk Pete. Kelihatannya ia sedikit lega. "Bagaimanapun ia putri Black…"
"Dan tumbuh bersama Billy…," sambung Ben.
Aku tak bereaksi apapun sementara ingatanku melayang pada sosok perempuan itu. Sosok yang melepas Korra sewaktu ia bergabung dengan kawanan kami. Ia tak banyak bicara, juga tidak menangis. Begitu anggun dan penuh wibawa yang bahkan membuatku sedetik merinding. Begitu tegar ketika ia berusaha menabahkan Korra yang waktu itu belum lagi berusia 14 tahun, menghapus air matanya. Ia memintaku berjanji untuk melindungi Korra, menjaganya. Ia juga memintaku mengizinkan mereka terus menjalin hubungan, bahkan walau mereka terpisah jauh.
Janji itu, bagaimanapun, hancur berkeping-keping. Ketika Korra dibunuh Marcus, aku sempat mengirimkan kabar lewat salah satu anak buah Phat di Bangkok, bahwa Korra telah tewas. Akhirnya memang Korra kembali bangkit dari kematian. Kami merevisi kabar itu, tapi ibu Korra kelihatannya telah memandang anaknya dalam perspektif yang sama sekali berbeda. Korra mengatakan bahwa ibunya tak lagi membalas e-mail dan teleponnya. Untungnya, ia kian dekat dengan ayahnya, sehingga mendapatkan ketenangan dari sms dan telepon dari sang ayah. Tapi, bagaimanapun, sang ayah berbeda dengan sang ibu. Sang ayah tidak ada ketika ia melewati masa-masa sulit. Sang ayah tak pernah berusaha menjaganya, melindunginya, menjadi mentor baginya. Dan dengan ibu yang membuangnya, sungguh, Korra benar-benar mengutuk dirinya sendiri.
Sebulan lebih yang lalu, mungkin dua bulan kini, kami mendapat berita mengejutkan itu. Salah satu anak buah Phat mengabarkan bahwa telah terjadi serangan vampir di kampung tempat ibu Korra tinggal. Pondok yang ditinggali ibu Korra menjadi salah satu titik serangan. Para A Maawn langsung bereaksi, tapi korban telah banyak berjatuhan. Ibu Korra tidak ada di antara penduduk yang selamat. Dan juga jenazahnya tidak ada di antara para korban. Hal itu hanya berarti satu: ibu Korra telah menjadi bagian dari mereka.
Korra tidak tahu ini, tentu. Kami menyembunyikan darinya. Aku tak tahu jika ia bisa menangkap satu atau dua kebocoran, tapi ia selalu bersikap seolah menelan apa yang kami sodorkan padanya: ibunya telah mati. Tentu saja, jika ibunya menjadi salah satu dari mereka, ada satu kemungkinan, bahwa suatu hari kami atau salah satu shifter dalam aliansi akan bersinggungan dengannya. Entah siapa yang akan menang, tapi tak bisa kubiarkan perasaan Korra hancur karenanya.
Ya, benar, aku pasti terlalu memanjakan gadis itu.
Collin kelihatannya menangkap aku yang mendadak agak diam sebagai semacam bentuk kesedihan karena teringat sang ibu. Mendadak ia mendekat, merangkulku. Tubuh Korra bereaksi begitu cepat tanpa kusadari, langsung saja memasuki pelukan Collin. Ketika kurasakan kehangatan Collin membasuhku, seketika aku terhentak.
Apa … itu…?
Korra? panggilku. Apa ia yang menggerakkan tubuhnya?
Bagaimana mungkin ... dia ... bisa?
Tidak ada jawaban.
Aku tak sempat mencari tahu lebih jauh karena Pete mulai berdehem-dehem.
"Jadi," kata Ben dengan sorot mata usil, "mau ganti jadi tari ritual pernikahan?"
Collin segera saja melepaskan pelukannya dan menendang Ben. Bisa kulihat wajahnya bak ceret kepanasan.
"Oke, cukup," Brady menengahi sebelum Cole kembali bermain terlalu jauh. "Sebaiknya kembali latihan. Hari makin sore."
Mengerang, ketiga kawannya menyetujui dengan berat hati.
Mereka bertiga kembali ke posisi, melatih kembali tarian yang tadi. Hanya bedanya, kini setelah mereka mengetahui aku cukup kompeten untuk melatih mereka, mereka mulai mendengarkan apa kataku. Aku juga memberi petunjuk teknis pada Pete soal ketukan dan irama pukulan. Setelah sekitar dua jam berlatih, kulihat mereka sudah mengalami banyak kemajuan.
Kami beristirahat dan mulai membicarakan tarian kedua yang akan dimainkan. Tarian pergaulan, rupanya. Mereka memutuskan aku saja yang menari bersama Cole selama lima menit pertama, lantas kami akan berpisah dan mulai mengajak yang lain menari satu per satu.
"Kalau begitu urutannya harus dimulai dari yang kedudukannya paling tinggi di lingkaran," kataku, mengingat masa-masa lampau. "Biasanya dimulai dari Kepala Suku dan pasangannya, lantas para Tetua dan pasangan mereka, baru setelah itu mengikuti hierarki jabatan dalam kawanan, mengikuti galur darah kebangsawanan…," mereka menatapku curiga dan aku kembali menambahkan, "Itu aturan kuno. Kita bisa mengubahnya menjadi sesuai urutan usia, tentu saja."
Collin tampak agak kesulitan menemukan kata-kata.
"Jadi," katanya, jelas sedikit tegang. "Pertama kita tarik Jac … maksudku Uncle Bill, lantas … ummm, seharusnya kutarik Sam atau Jacob, ya? Sebentar. Bahkan yang pertama juga, seharusnya kutarik Uncle Bill atau Jacob, ya?"
Aku tidak tahu apa yang harus kurasakan. Mereka bahkan tidak tahu apa kedudukan masing-masing orang dalam suku?
"Pertama kita harus tentukan siapa yang lebih tinggi kedudukannya antara kita, Collin," kataku. "Lantas kita membagi pasangan berdasarkan itu. Misalnya, jika kau menarik Kepala Suku, aku menarik pasangannya atau wakilnya, tergantung siapa yang ada, dan selanjutnya."
Collin tampak mengedarkan pandangan pada teman-temannya, meminta dukungan. Lantas ia mendesah, agak berat, dan berujar, "Kau yang kedudukannya lebih tinggi, Korra…"
Tentu saja.
"Apa benar?" tanyaku. "Kau laki-laki dan kaubilang suku ini menganut paham patriarki…"
"100%. Masalah itu memang sudah jelas," katanya.
Aku menarik napas. "Oke. Jadi aku akan menarik Kepala Suku, yang karena tidak ada, kedudukannya diisi oleh Ketua Dewan, yakni Ayah. Karena Ayah tak punya istri, kau menarik Wakil Dewan, yakni Sam…"
"Kurasa Uncle Bill takkan menari," potong Collin. "Dia kan di kursi roda…"
"Bukan berarti dia tak bisa menari… Dia bisa menggelinding…"
"Tidak. Dia memang takkan melakukannya. Kami pernah mengadakan acara tarian sebelumnya dan ia bilang lebih senang hanya memperhatikan," ujar Collin pasti.
"Oke. Jadi aku menarik Sam dan kau menarik Emily…"
"Apa bukan kau seharusnya menarik Jacob dan aku menarik Sam?"
"Oke," kataku, melipat tangan di depan dada. "Apa sebenarnya kedudukan Jacob? Apa dia salah satu Tetua? Atau dia Wakil Kepala Suku?"
Collin kelihatan tak bisa menjawab.
Aku menghela napas. "Kita mulai dari Dewan Suku. Jacob masih harus menunggu giliran," putusku.
Mereka tampak agak keberatan, tapi tak bicara apa-apa.
Aku meminta Brady mengambilkan kertas dan pensil, lantas mulai mencoret-coret skema siapa-siapa saja yang akan ditarik ke tengah lingkaran. Collin memperhatikanku, perhatiannya tidak fokus pada isi pembicaraan.
"Hei, kau, Colin," aku meminta perhatiannya. "Bagannya di kertas ini, bukan di tanganku."
"Uhm, maaf," ia menelan ludah. "Uhm, ini memang di luar konteks, Korra, tapi aku jadi bertanya-tanya… Eh… sejak kapan kau kidal?"
Aku berhenti menulis, menyembunyikan getar kekalutan yang hanya sepermilidetik terasa jauh di balik topeng tenangku. Kutatap matanya, mencoba menilai reaksinya. Apa ia menilai aku bukan Korra saat ini?
"Uhm, aku bisa memakai kedua tangan," aku melembutkan suaraku dengan nada yang sepertinya biasa Korra pakai dengan ayahnya. Kutahu aku tak bisa memakai alasan 'tangan kananku sakit' atau semacamnya, karena memang tidak. Tangan Korra yang kemarin luka sudah sembuh, dan itu pun tangan kiri. Aku bahkan yakin Collin tidak tahu-menahu soal itu.
"Oh, begitukah?" Collin tampak tak begitu saja menerima penjelasanku.
"Mungkin kau bisa lebih fokus pada pembahasan ini ketimbang mengurusi tanganku?" saranku yang membuatnya tergagap.
"Eh, oh… Y, ya, tentu…"
Kami tak lagi mengangkat satu pun suara mengenai kondisi tanganku sesudahnya. Collin kelihatannya puas sekali waktu tahu pada salah satu sesi, aku akan menari dengan Jacob dan ia akan menari dengan Seth. Yang kemudian berubah menjadi muram begitu Brady mendadak menambahkan nama Charlie Swan sebagai pasangan Sue Uley-Clearwater di urutan sebelumnya, yang otomatis menggeser kedudukan Jacob, sehingga Jacob akan menari dengan Collin ketika Old Quil menari denganku. Sedangkan Seth muncul di urutan selanjutnya, menari denganku ketika ia menari dengan seseorang bernama Embry. Tarian formal berakhir begitu orang dengan kedudukan terendah ditarik ke tengah lingkaran, di sini ia mencantumkan nama Caleb Lahote. Setelah itu, barulah semua orang bisa turun bebas dan menari dengan siapa saja yang mereka mau.
"Kita harus mencari tahu siapa-siapa saja pasangan yang akan hadir. Merepotkan nanti kalau daftar ini berubah di menit terakhir…," kata Collin, menatap daftar nama dengan wajah muram. "Ooooh, kuharap Old Quil tidak ikut menari…"
Aku menahan tawa melihat betapa inginnya ia menari dengan Seth Clearwater. Dan sedikit banyak bersyukur bahwa Korra sedang tidak ada di sini. Jika ia tahu bahwa sepupunya mungkin menginginkan lelaki yang … sangat mungkin disukainya, entah bagaimana reaksinya.
.
Pertama aku melihat Seth adalah sewaktu pemuda itu menjemput Korra dari airport dan mengantarkannya ke rumah. Saat itu, terus terang saja, aku tidak terlalu memperhatikannya. Pikiranku terfokus pada dua hal: kegugupanku dan kegugupan Korra. Tentu saja kami gugup. Tak lain ia akan bertemu keluarganya, dan aku akan kembali ke tempat yang telah membuangku. Lebih dari apapun, aku hanya memperhatikan Jacob, berusaha mengendalikan Korra agar Jacob mau menerimanya.
Kali kedua adalah sewaktu di kebun binatang. Lagi-lagi aku tak terlalu fokus padanya. Ada terlalu banyak hal yang lebih kuperhatikan. Vampir itu. Kemarahan dan kebimbangan Korra. Bahkan sewaktu Seth mengajak Korra bicara, perhatian Korra tidak padanya. Aku seakan bicara pada sosok tanpa wajah.
Hanya saat itu, sebelum berpisah, Korra meminta izin untuk mengambil alih tubuhnya untuk yang terakhir kali. Nadanya begitu pasrah, sehingga tanpa banyak pikir aku mengabulkannya. Di situ, di dalam mobil Seth yang terparkir di halaman rumah Black, tahu-tahu saja, Korra mencondongkan tubuh, dan mengecup pipi Seth.
"Selamat tinggal," adalah bisikan terakhirnya waktu itu, sebelum ia turun dari mobil dan melambai, menghampiri sang ayah yang sudah menunggunya di beranda.
Tidak hanya Seth yang kaget, tapi juga aku. Dengan sikapnya selama ini yang selalu menjaga jarak dari orang lain dalam level afeksi, tak pernah kuduga Korra akan melakukan hal seperti itu. Itu memang hanya ciuman pipi, ia menerima yang seperti itu dari banyak orang, kadang juga ia melakukannya pada orang-orang tertentu seperti teman-temannya, keluarganya, dan aku. Tapi kutahu dari getar perasaan Korra saat itu, ada yang berbeda. Bahkan dengan Kemangi, ia tak pernah melakukan apapun lebih dari sedikit pelukan, yang ketimbang berlandaskan gairah, lebih kulihat berdasarkan kasih sayang. Ciuman ini juga bukan ciuman penuh gairah, hanya kecupan singkat. Tapi kutahu ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbeda.
Sejauh ini dari sekian mantan-mantannya, yang langsung ia hantam pada kesempatan pertama mereka berkencan, hanya ada dua yang sanggup menembus hati Korra. Satu, tentu saja Marius, cinta monyetnya. Kendati akhirnya dia bantai habis-habisan, aku tahu Korra sempat mabuk kepayang selama sekitar sebulan kami tinggal di Prancis. Dan yang kedua adalah istrinya sendiri, Kemangi.
Hubungan Korra dan Kemangi sama sekali tidak bersifat seksual dalam taraf apapun. Seperti apapun Kemangi ingin hubungan mereka meningkat, dan selalu merayunya kapanpun ada kesempatan, Korra selalu bersikap tak tahu, atau pura-pura tak tahu. Hingga akhirnya Kemangi menyerah dan hanya memberi yang Korra inginkan: ketenteraman, perhatian, cinta. Kadang aku kasihan padanya, ia jelas mengembangkan perasaan lebih pada Korra, tidak hanya melihatnya sebagai penakluk, namun sayangnya bertepuk sebelah tangan. Entah urusannya Korra yang memang straight, ia tidak tertarik pada Kemangi, atau ia masih terlalu muda untuk menapaki tahap serius, tapi Kemangi lebih suka berpikir alasannya adalah yang ketiga. Ia serta-merta menolak alasan pertama karena menurutnya, hubungan mereka sama sekali tak ada hubungannya dengan orientasi seksual. Hubungan mereka sah dipandang dari hukum shifter, sama saja seperti imprint atau pernikahan. Dia benar: Korra memang harus mengambil alih kepemilikan atasnya sebagai bentuk tanggung jawab karena membunuh pasangannya yang terdahulu. Tentu saja karena status Kemangi adalah harta rampasan perang, mereka tak harus saling mencinta. Nyatanya, jika tak menginginkannya sama sekali, Korra bisa mengusir Kemangi atau memberikannya pada shifter lain. Fakta bahwa ia tak melakukan satu pun membuatku makin bingung mengenai perasaan Korra.
Aku pernah berjanji pada Kemangi. Jika kelak perasaan Korra tidak juga berubah, dan ia cukup dewasa untuk menjadi inangku, aku akan memberi Kemangi yang ia inginkan. Kemangi serta-merta menolaknya. Ia bilang yang ia inginkan adalah cinta Korra, bukan hanya tubuhnya. Meski demikian, kesetiaannya pada Korra, atau padaku, takkan luntur bahkan seandainya Korra melebur. Prinsip yang akhirnya ia pertahankan ketika ia tewas melindungi Korra, empat bulan silam.
Kini satu yang kutahu dari Korra, mengenai alasan ia selalu menghindari Kemangi. Ia takut.
Di balik sikapnya yang lepas dan ceria, Korra, aku tahu, adalah orang yang selalu menekan perasaannya sendiri. Ia hampir selalu menyalahkan diri untuk apapun takdir buruk yang menimpa orang-orang yang ia sayang. Ibunya, teman-temannya… Dan langkah spontan overdefensif yang ia lakukan pada orang-orang yang mendekatinya, makin memperkokoh ketakutan itu. Ia takut untuk mencintai, untuk membalas cinta seseorang. Takut akan menyakiti orang itu, dan menjadi sakit pula karenanya.
Namun di sisi lain ia menginginkannya. Perhatian, pelukan, cinta, kasih sayang…
Ia takut dan di sisi lain ia haus kasih sayang. Benar-benar pengecut dan plin-plan, menurutku. Tapi itu wajar. Mungkin ia masih berada dalam taraf perkembangan psikologis yang menginginkan cinta yang bersifat aseksual.
Dan sikapnya pada Seth… Ia tak ingin mengakuinya, oh bahkan mungkin ia tak menyadari dan berusaha menghalau perasaan itu. Tapi mungkinkah … ia memang memendam perasaan tertentu padanya?
.
Mujur Seth, ketika kami sedang membicarakannya, tahu-tahu kepalanya menyembul dari balik pintu belakang rumah Brady. Collin langsung mengerang, sementara anak-anak yang lain menahan cekikikan mereka.
"Hei Cole," ia menyapa yang dibalas salam tidak bersemangat Collin. Seth tidak mempedulikannya, menyapa yang lain satu per satu. Ketika sampai padaku, aku mendengar suaranya agak sedikit lirih, dan ia memalingkan wajah, sedikit menggaruk-garuk kepalanya. Kudengar Collin menggeram marah.
Aku tak hendak memancing pertempuran di sini, jadi aku hanya membalas kasual lantas kembali fokus membahas daftar urut orang-orang yang harus kami ajak menari. Kulihat Seth menarik Ben dan Pete, sibuk membahas musik latar, sound system, dan masalah teknis lain di sisi sana.
Rapat kecil itu berakhir dan kami kembali berlatih tarian kedua. Collin menari berpasangan denganku, tapi ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Matanya terus mengintai Seth, dan Seth sendiri terus menunjukkan gestur tidak nyaman. Akhirnya, aku merasa sudah tak ada gunanya lagi berlatih. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Besok kita mulai lagi sepulang sekolah," putusku. Sebagian bersorak, dan sebagian mengeluh. Aku mengabaikan keluhan itu dan melanjutkan, "Aku akan membuat menu latihan, agar kita bisa mengukur kemajuan. Lalu kita juga harus memikirkan soal kostum…"
"Aku akan mengurus kostum," Brady mengangkat tangan. "Aku toh tidak bermain di tarian kedua, dan juga tidak mengurus musik, jadi beban kerja semua orang seimbang."
Kulontarkan persetujuanku.
"Kalau begitu aku minta rancangan kostumnya besok, Brady. Jadi kita bisa membicarakan apa yang harus ditambahkan atau diperbaiki."
Brady mengangguk patuh. Rapat singkat itu selesai dan aku membubarkan mereka. Ben dan Pete segera saja meluncur, namun segera ditahan Seth. Mereka tampak kesal, namun tak punya pilihan lain. Aku hanya menahan tawa dalam hati, lantas ikut membantu Collin dan Brady yang sedang membereskan bekas-bekas pesta barbeque tadi siang.
"Jadi mulai besok, kami harus ingat untuk membeli ikan untukmu," cengir Brady selagi mencuci piring di dapurnya. "Oh, aku merasa seperti harus memberi makan lumba-lumba…"
Aku tersenyum, membantunya mengeringkan piring.
"Jadi besok giliranmu masak, ya, Korra…" Collin terdengar begitu antusias dari tempatnya di sisiku, menata piring-piring yang sudah kukeringkan ke lemari dapur. "Pesta ikan bakar! Menyenangkan!"
Aku menelan ludah.
"Ummm… Mungkin nanti kita beli saja makanan di luar sepulang sekolah?" saranku. "Besok kita pulang jam 3 dan mungkin tidak cukup waktu kalau kita mau masak-masak segala…"
"Benar juga, sih…," Brady menekur.
"Ah, apa benarnya?" cibir Collin. "Kau kan bisa membakar ikan sementara mengawasi kami latihan. Lagipula masakan ikan di luar tidak ada yang seenak masakanmu. Waktu itu kau membawa bekal ikan bakar ke sekolah… Oooo… Padahal sudah tidak fresh dari panggangan, tapi tetap saja tidak ada bandingannya!"
Kali itu kukutuk Korra dan hobinya memasak. Serta betapa senangnya ia pamer di hadapan orang lain…
"Kau mau semua ikanmu gosong kalau begitu?" pelototku. "Tidak mungkin kan kausuruh aku mengawasi latihan kalian sementara aku juga yang harus masak?"
Collin tampak memberengut. Akhirnya Brady juga yang turun tangan.
"Bagaimana kalau acara bakar ikannya kita geser ke jam makan malam? Biar aku yang bertanggung jawab. Aku toh cuma menari di awal saja."
Segera saja aku setuju. Collin tampak kecewa, tapi ia merasa tak punya pilihan lain.
Kulihat Seth baru saja selesai bicara dengan Pete dan Ben ketika kami selesai mencuci piring. Takut ditahan lagi, kedua anak itu segera kabur begitu ada kesempatan. Melihatku sudah beres dan bersiap-siap pulang, Seth mendekatiku.
Baru kali itu aku benar-benar memperhatikan Seth. Sosoknya, postur tubuhnya, gerakannya ketika mendekat, caranya berjalan… Dan begitu ia benar-benar ada di hadapanku, bisa kulihat struktur wajahnya, garis rahangnya, pola keningnya, bentuk hidungnya, lekuk bibirnya, bentuk matanya, bola matanya yang coklat…
Dan aku terkesiap.
.
Segala sesuatu runtuh di sekitarku. Kenyataan tak lagi punya makna. Ketika aku tak lagi berdiri di La Push, 2012, tapi terbang melayang dalam semesta yang tidak mengenal kata ruang dan waktu. Perlahan keping-keping itu kembali menyusun dirinya. Aku menemukan diriku berada di hutan yang sangat kukenal, di dekat pondok tempat aku dahulu tinggal.
Seorang pemuda menghampiriku. Perawakannya tidak terlalu tegap, terlihat agak lemah dibandingkan yang lain-lain. Tinggi badannya tak jauh berbeda dariku. Rambutnya hitam, panjang dan lurus, menjuntai hingga punggung. Wajahnya datar dan agak muram, tapi itu sudah biasa padanya. Di tangannya ada selembar kain putih.
*Anda harus segera masuk,* ujarnya sopan, menyampirkan kain tenunan itu di bahuku. *Malam makin dingin…*
Aku menyandarkan tubuhku padanya. Kutolehkan leherku, menatap bola mata coklat yang seperti biasa begitu kelam dan dingin. Kubimbing tangannya melingkari pinggangku. Kureguk sensasi itu, ketika aku merasakan kehangatan melingkupiku, berada dalam pelukan seseorang…
*Aku tidak akan kedinginan…,* kataku. *Takkan kedinginan jika bersamamu…*
*Ya, tapi besok Anda harus mengurus banyak tugas di perbatasan,* kurasakan napasnya menggelitik leherku. *Anda harus beristirahat...*
Aku berputar, meletakkan kepalaku di bahunya, menghirup dalam-dalam aromanya.
*Mengapa aku tak pernah melihatnya sebelumnya?* bisikku lirih. *Kau sosok malaikat yang begitu sempurna…*
Ia tertawa, alangkah indahnya tawa itu, suara itu… Mengapa tidak sejak dulu kubuat ia tertawa? Mengapa bahkan tidak sejak dulu kubuat ia bicara?
*Saya rasa makhluk dingin itu terlalu banyak mempengaruhi Anda… 'Malaikat'?*
Aku mengangkat kepala, meletakkan tanganku di pipinya. *Jika kau memang malaikat, dan kau dikirim untukku, pasti jiwaku telah tersucikan…*
.
"Hei, Korra," tangan Seth melambai di depanku.
Aku mengerjap, menatap sekitarku. Collin tampak berasap, seakan siap mengamuk, tapi ditahan Brady. Seth kelihatan khawatir, sekaligus salah tingkah. Ia berulang kali menatap Collin dengan pandangan minta maaf, jika yang kutangkap itu benar. Ia seakan sudah gatal ingin cepat-cepat cabut dari situ.
"Mmm, kau mau…," ia menyatakannya dengan tidak nyaman, "kau mau aku mengantar pulang?"
Sebelum aku menjawab, Collin sudah lepas dari Brady dan mendekati kami, menarikku dan mengusir Seth.
"Tidak!" serunya. "Aku yang mengantar Korra! Pergi kau, Seth! Besok jangan kembali kemari!"
"Collin, aku…"
"Pergi!"
Dengan satu perintah itu Seth mundur. Masih sempat ia memberi kode akan meneleponku, yang segera saja terhenti melihat mata Collin yang berapi-api. Segera saja ia menuju mobil putihnya yang terparkir di depan rumah. Tak lama mobil itu meluncur pergi. Ia bahkan tidak melambai.
Collin tampak berusaha meredakan amarahnya, lantas menghadangku.
"Apa itu tadi?" tuntutnya.
"Apa?"
"Kau mendadak membeku begitu menatap mata Seth…"
"Ummm, tidak…"
"Jangan katakan kau mengim…," ia mendadak berhenti dan memaki-maki, tampak ribut dengan dirinya sendiri. "Itu tidak mungkin kan? Itu tidak terjadi! Kau belum… Oh Tuhan, kalau iya pun, seharusnya itu terjadi waktu kalian pertama bertemu! Astaga! Kenapa harus diaaaa~?!"
"Collin!" Brady menariknya, berusaha menenangkannya. "Maaf, Korra," ia menoleh padaku. "Aku ingin bicara dengan Cole. Maaf jika aku tidak sopan, hari sudah menjelang malam dan Billy pasti menunggu-nunggu. Mungkin kau ingin pulang?"
"Tidak!" teriak Collin. "Aku akan mengantar Korra!"
"Kau tidak stabil sekarang! Dengarkan aku dan tenanglah!" seru Brady. Ia melirikku dari sudut matanya, tampak sengsara dan memohon maaf. Aku mengerti dan mengangguk. Collin pastinya butuh waktu sendiri.
"Sampai ketemu besok," kataku lirih, berjalan mengambil sepedaku di garasi.
Segera kukayuh sepeda itu keluar dari rumah Brady. Masih kulihat Collin yang berusaha mengejar, tapi Brady menangkapnya dan menggereknya ke halaman belakang. Bisa kudengar juga teriakan Collin, serta suara seperti sesuatu meledak dan kain tercabik, sebelum sempat kutangkap kelebatan sosok berbulu merah kecoklatan dan coklat keabuan gelap berlari ke arah hutan. Aku pura-pura tak menangkap apapun, tak melihat apapun, sementara menyusuri jalan menuju rumah.
Setidaknya aku tahu satu hal kini. Alasan mengapa Collin ingin menari dengan Seth. Bukan karena ia menginginkan Seth. Ia juga marah begitu tahu Seth memperhatikanku, bukan karena ia cemburu padaku. Ia cemburu pada Seth. Ia menginginkan Korra.
.
.
Ayah Korra tak ada di rumah begitu aku tiba. Rumah sepi. Kakaknya juga tidak ada. Mungkin ini bagus. Setidaknya aku tak perlu menghadapi salah satu dari mereka. Aku memasukkan sepeda ke garasi, lantas pergi lagi. Aku merasa pikiranku kacau belakangan. Mungkin itu karena aku belum makan.
Agak sulit menemukan vampir, tapi akhirnya aku mendapatkan satu juga dekat sebuah gua. Ia rupanya belum makan, tapi itu tidak penting. Selama Korra mendapatkan substitusi dari makanan manusia, ditambah kehadiranku di tubuhnya, ia tak benar-benar butuh darah. Kurasakan sensasi listrik statis dari jiwa vampir yang kuhisap mengisi simpul-simpul syaraf di tubuh Korra, mengisi jiwaku. Kurasakan kekuatan yang baru. Energi baru.
Aku tak membuang waktu di hutan dan segera pulang. Kurasakan beberapa serigala berseliweran. Aku bergerak cepat sekaligus hati-hati, berusaha agar angin tak membawa bauku sampai pada mereka.
Rumah, untungnya, masih sepi begitu aku tiba. Aku segera masuk ke toilet, mengunci pintunya. Kutatap bayanganku di cermin, dan seketika aku mendesah berat.
Kunyalakan air panas mengisi bath-tub, lantas melucuti pakaian dan membersihkan kotoran yang menempel di tubuhku. Kubelalakkan mataku, melepas lensa kontak sekali-pakai dan membuangnya ke tong sampah. Kuambil satu paket pewarna rambut dari rak yang sudah dibuka sisa tadi pagi, lantas kucampur isinya di sebuah cawan kecil. Sementara aku menunggu air memenuhi bak, kusapukan pewarna rambut itu dengan kuas ke permukaan rambutku. Rambut Korra tidak banyak, sehingga tidak butuh waktu lama untuk menutupi seluruhnya.
Menunggu pewarna rambut itu meresap, aku memasuki bak mandi. Airnya baru setengah, tetapi bisa kurasakan kehangatan itu menyentuh permukaan kulitku. Kuisi bak mandi dengan bubble-soap banyak-banyak, membayangkan aku berendam dalam jacuzzi. Tentu saja tak bisa kutemukan kemewahan seperti itu di La Push, dan entah kapan aku bisa memanjakan diriku lagi, tapi tak ada salahnya aku membayangkan.
Aku baru berendam sekitar 15 menit ketika kudengar suara seseorang memanggilku. Aku lekas mematikan kran, menjawab, "Ya, sebentar… Masih di kamar mandi…"
Terdengar langkah-langkah menaiki tangga, dan lantas suara seseorang mengetuk pintu. Pasti ini kakak Korra.
"Kau tidak masak? Kok tidak ada makanan?"
"Ummm, maaf Jake, aku tadi seharian berlatih di rumah Brady, jadi tidak sempat memasak. Tapi tadi pagi Emily datang, mungkin masih ada sisa kalkun. Entah di oven atau microwave…"
"Tidak ada, kok."
"Mungkin sudah habis. Maaf Jake, tapi kalau tak salah masih ada telur di kulkas."
Kudengar gerutuannya, dan langkah-langkah kesalnya saat menuruni tangga. Aku memutar bola mata. Ini semua salah Korra terlalu memanjakan keluarganya selama ini. Padahal belum lagi dia sebulan di sini, tapi sang kakak sudah malas membuat makanannya sendiri?
Aku tak hendak memikirkan masalah Korra dan Jacob sekarang ini. Kuarahkan shower membasuh rambutku. Sisa-sisa cat rambut mengalir di lantai kamar mandi, membentuk motif sulur yang indah. Kunikmati sensasi itu: air panas menyentuh kulit kepalaku, motif yang terbentuk dari garis-garis hitam melengkung mistis, seakan hidup, yang hanya sesaat terwujud sebelum berubah menjadi bentuk lain, lantas menghilang terguyur air. Seperti kehidupan…
Seperti seharusnya kehidupan. Muncul, berubah, dan menghilang. Pergi. Menuju tingkat selanjutnya.
Tidak sepertiku…
Aku masih meneruskan berendam selama sekitar 30 menit lagi, ketika kurasakan air mandi sudah tidak lagi panas. Aku melangkah keluar bak, membilas busa sabun yang masih tersisa, lantas mengambil handuk dan menyeka tubuh. Kuambil hair-dryer untuk mengeringkan rambutku. Aku tak suka tidur dalam keadaan rambut yang basah. Begitu selesai, kupandang bayanganku di cermin. Aku sudah tampak bak Korra lagi sekarang, minus mata coklatnya yang indah, tentu… Tersenyum, aku membalut diriku dengan jubah mandi dan bergegas keluar dari kamar mandi.
"Korra," panggil kakaknya begitu ia mendengar suara pintu dibuka.
Aku buru-buru bersiap kembali masuk, berjaga-jaga seandainya ia naik. Tak bisa kuresikokan menatapnya dalam wujud ini. Tapi rupanya aku tak perlu khawatir.
"Kau sudah selesai mandi?" teriaknya dari lantai bawah. "Aku mau pergi lagi. Aku tadi memesan pizza, masih ada sisanya di kulkas. Kalau kau mau, panaskan saja."
"Ya, Kak… Terima kasih…," sahutku. Kudengar suara langkahnya menjauh, dan lantas suara pintu dibuka dan ditutup. Aku buru-buru menyelinap keluar, masuk ke kamarku. Berganti pakaian dan menyelusup ke bawah selimut. Waktu belum lagi menunjukkan pukul 9 malam, tapi aku ingin cepat tidur.
Entah seperti apa kesan Korra pada kakaknya, tapi menurutku ia tidak seburuk itu. Terpengaruh oleh pandangan negatif Korra, aku sudah mengira ia akan meneriakiku karena tidak melakukan tugasku dan menjambak rambutku, lantas menyeretku sepanjang tangga ke dapur, menyuruhku memasak. Jika aku tidak melakukannya, ia akan menghajarku habis-habisan dan mencampakkanku di luar, membiarkanku mati di bawah udara malam yang dingin. Tapi itu semua tidak terjadi. Ia kelihatan cukup perhatian tadi, memesan pizza begitu tahu adiknya tidak memasak, dan bahkan menyisakan sebagian… Mungkinkah bibit buruk yang ada di antara Korra dan kakaknya masing-masing didasari oleh prasangka negatif, berkaitan dengan masa lalu orangtua mereka?
Aku merenggangkan tubuh di tempat tidur, meraih penutup mata. Aku sudah bersiap mematikan lampu tidur ketika kudengar dering sms dari ponsel Korra.
S3th Cl3arWat3R
Maaf soal tadi sore. Besok kau latihan ya? Jika kau libur, mau main ke kota?
Entah mengapa aku tersenyum. Aku tak tahu apa hubungan Seth dan Korra sekarang, tapi kurasa memang benar Korra memiliki perasaan tertentu terhadapnya. Dan ia juga … tak perlu dipertanyakan lagi.
Aku menutup mata. Kubayangkan sosok itu dengan sinar mata yang tak pernah ada di sana. Dengan ekspresi riang yang tak pernah kulihat sekalipun. Kubayangkan hatiku menggeletar bak selembar daun, ketika tangannya menggenggam tanganku, atau ketika ia dengan lembut menyentuh pipiku. Selalu kubayangkan getar bibirnya seandainya ia membisikkan satu saja kata yang tak pernah kudengar. Selalu dan selalu aku berharap bisa menukar hidupku untuk merasakan sensasi itu…
Dan jika itu berarti memanfaatkan hubungan mereka berdua…
Kubuka mataku dan segera membalas.
Avat4rKorRa
Aku akan meliburkan latihan hari Rabu sore. Jemput saja di depan sekolah.
Balasannya datang tak sampai setengah menit kemudian.
S3th Cl3arWat3R
Oke. Nnti kuhubungi lg.
Miss u…
Kubalas singkat kata terakhir lantas menyelusup ke balik selimut quilt hangat Korra. Ketika mataku terpejam, di dalam mimpiku bermain kilasan-kilasan wajah sosok itu. Dalam ekspresi yang sama sekali berbeda. Tersenyum dan tertawa seperti tidak pernah kulihat seumur hidupku. Sosok yang hanya ada dalam imajinasiku.
Mungkin takdir berbaik hati padaku. Mungkin aku memang diberi kesempatan kedua…
.
.
Catatan:
Perasaan kok Kierra di chap ini Korra banget ya?
Chapter ini ga seru? Hehehe… Ada sedikit cerita soal masa lalu, sih…
Rhie: Ya, Billy bisa mengenali… Bagaimana akan dijelaskan chapter depan. Thx 4 review…
Di chapter depan, bakal lebih dijelasin lagi hubungan Kierra dan Kaliso. Aku masih belum tau udah bakal masuk adegan api unggun atau belum di chap depan, tapi paling ga chapter selanjutnya. Tetep stay tune ya…
Next: Minor
