Hnnnn! Nahan pengen buang air besar kalau lagi di bis tapi, perjalanan masih jauh dan parahnya wc umum gak ada dan berada di sebuah jalan hutan yang sepi dari keramaian orang ataupun rumah yah kalau kata orang itu sih DL derita loe wkwkwkwk

Hmm yang baca manga FT kemarin mungkin di panel terakhir ada sebuah retakan hitam di langit kalau menurut Author sih itu mungkin ulah Aizen yang masuk lewat Garganta (njirr gak kebayang deh ada dia pasti, kena mantra Kyouka Suigetsu) atau mungkin Zoro dengan segala hobby nyasarnya bisa masuk anime lain wkwkwk just Kiding.

Atau mungkin acnologia sudah jadi Hollow atau terHollowfikasi atau bisa saja dia jadi Arrancar gak kebayang deh, kalau Acno dalam mode Ressurection nya bisa ancur kecuali jika pakai Quincy atau mode Vollstanding, oke abaikan saja yah.

Ahhh iya kayaknya nih Fic masih lama oke aku kasih Spoiler dikit tunggu jangan lah nanti gak seru karena sudah tau justru yang rahasia begitu biar bikin semua orang penasaran

.

...

.

Sekarang Natsu dan yang lainnya kini mereka sudah kembali lagi ke Fiore berkat, tunggangan Gorila yang ganas yang di panggil oleh Seilah dan di kini berada di sebuah ruangan yang di sebut 'Inti Neraka' sekilas ruangan itu jika di lihat mirip Laboratorium jika, melihat benda di dalamnya dirinya berada di sini pun karena di beri tau oleh Seilah.

[Flashback]

Natsu dan yang lainnya yang telah berhasil menghindari serangan maut dari Jackal kini menuju kembali ke kota untuk membantu yang lain dan menaiki sejenis Gorilla jika di lihat bentuknya.

"Inti Neraka?"

"Yah, sebenarnya di Kastil itu ada sebuah tempat bernama Inti Neraka namun, jika mereka pergi ke tempatmu saat ini kemungkinan ada tempat itu juga" jawab Seilah.

"Berarti Jika, berada dikotaku berarti ini hanya versi mininya? Kalau versi aslinya lebih besar dan akan sangat mustahil jika membawanya?" tanya Natsu Seilah mengangguk.

"Jadi, apa gunanya inti Neraka? Kenapa Seilah-san memberitaunya?" tanya Juvia.

"Baiklah" Seilah menghela nafas "sebenarnya jika kau bertarung dengan Espada itu meskipun jika, kau berhasil mengalahkannya jika tempat itu tidak di hancurkan maka tak ada gunanya karena tempat itu bisa membuat regenerasi Espada yang sudah kalah"

"Jadi, jika kita tak menghancurkan tempat itu maka mereka takkan bisa regenerasi lagi?" tanya Natsu Seilah mengangguk.

"Bisa kau beritau kenapa Seilah-san memberi Informasi pada mereka?" tanya Juvia.

"Yah, meskipun aku juga sama bagian mereka tapi, sifatku tak sama dengan mereka aku memilih hidup tenang tak ada niat bertarung" Seilah tersenyum.

"Aku tau kau orang baik jika tidak, mana mungkin kau membantu kita" puji Natsu Seilah menghadap arah lain untuk menghilangkan blushing.

[END]

"Tempat ini cukup menyeramkan" Juvia terlihat bergetar.

"Hmm yang aku pikirkan saat ini adalah mustahil tempat ini tak ada penjaganya" Natsu mengelus dagunya.

"Mungkin mereka tengah sibuk melakukan sesuatu" balas Juvia.

"Aku tak begitu yakin" Natsu geleng-geleng.

*Tap *Tap *Tap

"Kukukuku! Ada penyusup rupanya"

Terdengar suara langkah kaki di dekat pintu sana.

"Sudah kuduga pasti bakal ada" Natsu di posisi depan melindungi Juvia.

"Rasanya suara ini Familiar?" guman Seilah.

Muncul bayangan di balik dalam pintu wujud aneh, pendek dan gendut, berwarna kuning, dengan mata satu di tengahnya, dan mengenakan Helm besinya.

"Franmalt?" Seilah menatap orang itu.

"Yo, Seilah lama tak ketemu kukukuku!" Sapanya melambaikan tangannya "hmm wujudmu kembali kupikir kau akan seperti anak kecil saja"

"Tak perlu basa-basi lagi aku tak tujuanmu bukan hanya untuk menyapa bukan?" Seilah menatapnya tajam.

"Kukukuku benar, dan tampaknya kau membawa dua penyusup kemari" Franmalt dengan tawa sarkatis "dan juga tujuanmu kemari bukan untuk berkunjung?"

"Juvia mundurlah biar aku hadapi ini" perintah Natsu.

"Kukukuku kau berfikir dirimu dengan mudah mengalahkanku" Franmalt tertawa.

"Natsu kau butuh Istirahat orang ini biar aku yang urus karena akau tau kekuatan sepenuhnya dia" Seilah melangkah maju.

.

.

.xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Jduarrr!

"Kau sebaiknya diam di tempatmu kau kemari hanya untuk mengacau saja!" Laxus melayangkan tinjunya.

"Kau manusia rendah tak ada hak untuk mengaturku" Tempesta menahan tinjuan Laxus.

Keduanya saling mundur Laxus menyemburkan Laser petir Merah dari mulutnya Tempesta mementalkan serangan itu dia membalasnya dengan menembakan meriam angin Laxus mudah menghancurkannya.

Tempesta membuat tubuhnya terbagi dua mereka melompat ke udara dan membuat tubuh mereka berputar dan Berpencar Laxus bersiap dan muncul Tempesta dari atas dan yang satunya muncul dari bawah Laxus yang tak bisa menghindar terkena serangan itu.

"Bedebah! Aku harus mengalahkannya" umpat Laxus kesal.

"Kesalahanmu adalah melawanku" Tempesta dan bayangannya menembakan beam jingga dari jarinya

Booommmm!

Laxus masih bisa menahannya walau tubuhnya sudah tak kuasa Tempesta menghajar wajah Laxus dia kembali menyemburkan bola angin dari mulutnya.

Laxus kembali berdiri tubuhnya di balut petir merah dia menghilang cepat.

"LIGHTNING JAW!"

Booommm!

Jduarrr!

Dia sudah berdiri di belakang Tempesta kedua tangannya di satukan dan langsung menghempaskan kepala espada itu mencium tanah secara kasar.

"Hah! Rasakan itu!" Laxus berteriak senang.

"Kau hebat untuk seorang manusia" Tempesta bangkit dari tidurnya.

"MASHOU RYOUSHI!"

Buzzzzz!

Tempesta terbang ke atas tubuhnya mendadak berubah hitam dan meledak menciptakan serbuk hitam yang mengepul di udara.

"Gh, kenapa ini!?" Laxus panik dia memegang dadanya yang sesak.

"Tehknik itu di mana Serbuk itu tak boleh di hirup karena, mengandung Ethernaol yang terdiri bahan zat adiktif yang tak boleh tersentuh oleh manusia langsung" jawab Tempesta yang entah berada di mana.

"Tch, menyebalkan" umpat Laxus dia sudah kenyang melawan orang yang bertipe racun.

Tempesta muncul di depan Laxus kedua tangannya di putar ke belakang dan dia meninju perut lelaki berambut pirang dengan kedua tangannya dan Tempesta langsung menembakan Cero dari mulutnya.

Booommm!

Laxus berhasil cepat menghindari cero itu walau keadaan fisiknya sudah sangat tak memungkinkan namun, dia memaksakan diri dengan bertujuan mengalahkan orang itu.

"Jika Racun itu terhirup sekali saja maka, resikonya adalah jangka hidupmu itupun, jika kau menemukan penawar racunnya" ucap Tempesta.

"Memangnya aku peduli" Laxus memegang dadanya.

Pemuda berambut pirang itu menembakan petir dari mulutnya dan Tempesta menembakan cero dari mulutnya saling bertabrakan dan membuat ledakan besar.

"Menyerahlah! Selain itu Serbuk racun itu cepat menyebar ke tempat yang lain dan akan terhirup orang-orang" ucap Tempesta.

"Hah, takkan pernah kau pikir, aku peduli" Laxus pura-pura tak peduli 'sial!, aku harus mengalahkannya tapi, serbuk itu mustahil akan menghilang jika, aku tak mengalahkannya'

Laxus menghirup udara tapi, tujuan dia menghirup dan menyerap semua serbuk yang ada di udara masuk ke dalam tubuhnya dan sampai menghilang tak berbekas.

"Di-dia gila menghirupnya" Tempesta terlihat ketakutan "jika kau menghirupnya maka kau akan kehilangan nyawamu apa, kau tak memikirkan itu"

"Yah, memang benar aku akan mati tapi, aku tak peduli yang jelas" Laxus seluruh tubuhnya kini di lapisi petir merah gelap "tapi, aku tak peduli yang jelas tujuanku di sini mengalahkanmu"

Duagghhh!

Laxua cepat menghajar Tempesta membuat Espada itu terbang jauh ke atas, Laxus dengan cepat berada di belakangnya dan melingkarkan tangannya di perut dan mengangkatnya ke belakang

"LIGHTNING DYNAMIC SUPLEX!"

Wusshhh!

Jduarrr!

Kondisi mereka berdua berada di udara dan bergerak cepat ke bawah dengan Kepala di bawah dan kaki di atas, Laxus mengangkatnya seperti seorang pegulat dan langsung hempas ke bawah hingga, membuat tapak lubang besar.

"Akhirnya, selesai juga dan jangan pernah hidup lagi" Laxus bangkit dia menoleh ke arah Tempesta yang sudah tak bergerak dengan kepala menancap ke bawah.

Pandangan mata Laxus samar-samar dia sudah tak mampu bergerak lagi jangankan, bergerak saat ini berdiripun sulit.

Bukkkk!

Pada saat dia sudah hampir ambruk tubuhnya di tahan oleh seseorang yang dia kenal.

"Freed? Bagaimana yang lain kau menemukannya?" tanya Laxus berusaha membuka matanya.

"Yang lain berhasil di temukan, mereka semua saat ini tengah bersembunyi" Freed menurunkan Laxus dia berjalan ke arah Tempesta dan menyuntiknya.

"Apa, yang kau lakukan dengan itu?" tanya Laxus.

"Yah, siapa tau saja nanti berguna" jawab Freed kini membawa Laxus ke persembunyian.

"Yah"

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

"Jadi, kau masih punya kekuatan ikan Koi?"

Ketusan Gajeel yang rasis seperti biasanya yah, pastinya siapa yang tak kesal di kira sudah kalah ternyata dia bangkit lagi dengan kekuatan baru.

Penampilan Torafusa hanya sedikit berubah tubuh yang membesar dan Tinggi, dan tubuhnya di lapisi sisik yang keras, dan benar kata Gajeel tubuhnya menyerupai ikan entah jenis apa itu.

"Seperti biasanya bicara kau kasar selalu" Torafusa menyeringai.

"Heh, rupanya apa kau akan, berubah lagi setelah kukalahkan? Kalau benar maka aku tak harus menyerangmu penuh" balas Gajeel

"Heh, ini kekuatan penuhku tapi, aku tak yakin kau bisa mengalahkanku" Torafusa mengangkat sebelah alisnya

Booooommmm!

Torafusa menembakan Cero putih dari mulutnya Gajeel melihat itu dia segera menjauh karena, dia yakin serangan itu jangkauannya cukup luas.

"TENCHI KAIME!"

Wussshh!

Torafusa mendatangkan air dari bawah dia memperbanyak debit air itu hingga keduanya berada dalam air itu dan sekarang mereka bertarung di dalam air.

"I-ini, beracun" Gajeel sudah menduga hal ini bakal terjadi.

"Biar kuberitau saat ini kita bertarung di dalam air yang beracun, dan mematikan jika menghirupnya" jawab Torafusa "tapi, sayangnya air ini tak berlaku untukku karena, ini adalah tempatku"

Duagghh!

Torafusa menghajar wajah Gajeel, dia kembali berenang dan menghajar kepalanya dia berada di depan kedua tangannya ia lingkarkan dan menembakan cero putih yang mustahil untuk di hindari.

Gajeel berenang ke arah Torafusa dia menembakan kumpulan besi berbalut bayangan hitam dan espada itu dengan mudah menghancurkannya Gajeel menghajarnya, Torafusa menunduk dia langsung meninju perut Gajeel.

"Ini adalah wilayahku, dan mustahil kau bisa menang melawanku" ejek Torafusa.

"Heh, kau hanya beruntung" Gajeel tampak tak peduli 'bedebah! Jika, aku hirup ini air maka tamatlah aku tapi, sekarang batas nafasku tinggal sedikit lagi,'

Gajeel menembakan raungan hitamnya, Torafusa membalasnya dengan menembakan Cero putih dari mulutnya dan beradu membuat ledakan besar.

Sang DragonSlayer besi itu tak bisa melihat tapi, Torafusa mencengkram kepalanya dan langsung melemparkannya ke bawah.

"TEGAI GOUCHI!"

Torafusa menembakan sesuatu dari punggunggnya tampak seperti butiran batu kecil, Gajeel yang tak bisa menghindar terkena serangan itu.

"Apa kau sudah sadar arti kata menyerah?" ucap Torafusa Gajeel hanya mengacungkan jempolnya ke bawah.

Gajeel memanjang kakinya menjadi besi, Torafusa menangkapnya dia menarik Gajeel dan mereka berdua saling adu pukul tapi, pukulan Torafusa yang lebih kuat hingga Gajeel kesakitan dan segera mundur.

"Asal kau tau tubuhku ini sekeras batu karang yang sukar untuk di hancurkan" Torafusa mengepalkan tangannya.

"GOHGOMI KENCHU!"

Kretek! Kretek!

Torafusa mengeraskan tubuhnya menjadi sisik batu karang dia bergerak ke arah Gajeel dan menghantamkan tubuhnya sendiri membuat DragonSlayer besi itu keluar darah dari mulutnya.

'Sialan, waktu sudah habis aku sudah tak kuat lagi' umpat Gajeel kesal batas nafasnya dia sudah habis jika, lebih dari ini dia habis

Selagi Gajeel berfikir dan Torafusa bergerak cepat kearahnya dan menghantamkan tubuhnya lagi dia segera mencengkram kepala Gajeel dan melemparkannya.

Kesadaran Gajeel sudah habis dia tak bisa bertarung lagi dan pandangannya sudah samar-samar tapi, tak lama dia merasakan sesuatu yang hangat dari mulutnya.

Cup!

Dan ternyata itu ulah Levy dia datang entah dari mana dan langsung memberi nafas buatan.

"Levy!" Gajeel shock melihat orang di depannya dan kini dia bisa bernafas "jadi, dari mana saja kau?"

"Itu lain kali saja tapi, jika kau ingin tidur kalahkan dia dulu uhukk! Uhukk!" Levy terbatuk tampaknya dia juga terkena efek jurus Torafusa.

"Bisa-bisanya kau menganggu dasar gadis sialan!" Torafusa berniat menyerang Levy dengan tubuhnya namun, dia bertemu dengan pukulan Gajeel.

"Pertarungan kita belum selesai sialan jangan, libatkan orang lain!" Gajeel terlihat kesal dan menoleh ke Levy "kau pergilah biar aku yang urus dan terima kasih bantuannya"

Dan Levy pun pergi Gajeel kini tubuhnya di selimuti besi pekat dan kuat dan Torafusa mengeraskan tangannya dengan bermaksud saling beradu pukulan namun, itu salah karena Gajeel menghajar wajahnya.

Torafusa berdiri lagi dia berenang cepat ke arah Gajeel dan meninjunya tapi, si DragonSlayer besi itu berhasil menangkapnya dia membenturkan kepalanya dan membuat si Espada jenis ikan itu terlempar ke tanah.

Gajeel berdiri di atas tanah dia tau bahwa waktu bernafas yang di berikan Levy tak banyak makanya dia segera menyelesaikan ini, kedua tangan Gajeel di letakan menyentuh tanah

"SHADOW IRON SWORD BIRTH!"

Dangggg!

Duarrr!

Clashh!

Muncul beribu-ribu besi seperti pedang yang tajam dari bawah dan menjulang ke atas Torafusa yang telat menghintar tubuhnya tertusuk besi tadi dan tak lama airnya perlahan surut pertanda, pertarungan telah usai.

"Dan akhirnya, yang terakhir menyerang dialah menang" Gajeel menoleh di mana Levy bersembunyi "oi! Udang kecil kemana saja kau dan di mana yang lain?"

"Dasar baka! Gajeel! Uhukk!" teriak Levy memegang dadanya "mereka semua selamat saat ini mereka semua berada di tempat sembunyi"

"Bawa aku kesana aku ingin istirahat" Gajeel menghela nafas "kuharap ini segera berakhir"

"Ikut aku"

"Hn!"

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Trang!

Mereka saling beradu Pedang Ezel dengan empat pedang tajam buatannya dan Brandish dengan pedang biru apinya walau masih tak sempurna itu masih bisa cukup menahan serangannya.

"Oi! Oi! Katanya kau ingin tau ibumu harusnya, kau melawanku dengan serius " Ezel mengejeknya "jika hanya ini saja kau takkan bisa menang melawanku"

"Kau terlalu meremehkan buktinya kau berubah dalan wujud aslimu?" Brandish menjulurkan lidahnya.

Ezel masuk dalam wujud Ressurection tak ada yang berubah dari ukuran tubuhnya, hanya saja mengenakan Helm hitam, dan Armor besi hitam, dengan empat pedang.

Ezel mengayunkan empat pedangnya Langsung dia membuat empat tebasan udara, Brandish terbang kesana-kemari menghindari namun ada yang di pentalkan balik.

"Grrr! Menyebalkan kau!" Ezel terlihat kesal Brandish menjulurkan lidahnya.

Brandish terbang ke arah Ezel namun si tangan empat itu langsung mengibaskan ekor besarnya hingga Brandish terjun kebawah, Ezel melayangkan pedangnya Brandish cepat mundur.

"DANCING BLADE!"

Trang! Trang! Trang! Trang!

Ezel tubuhnya berputar dia menggunakan tehknik berpedangnya Brandish menangkis dan menghindari sabetan pedang yang bertubi-tubi walau, ada juga tubuhnya yang terkena juga.

Brandish menembakan busur panah dalam jumlah yang banyak, Ezel mengayunkan pedangnya dengan ahli dia menangkis semua busur panah yang Brandish arahkan kepadanya.

Ezel menembakan Cero biru dari mulutnya dengan ukuran besar dan langsung menembakannya, Brandish mengangkat tangannya dia mengkompres cero itu dan menjadi miliknya dan melemparkannya balik.

Booommmm!

"Sangat di sayangkan jika serangan terbaikmu harus mengenai dirimu sendiri" Brandish kali ini mengejeknya.

"Hah, kaupikir itu serangan terbaikku? Kau salah" Ezel mendesah kesal.

"Kuharap itu benar" Brandish tersenyum.

"CHAOTING WIND BLADE!"

Ezel memutarkan tubuhnya sendiri hingga membentuk sebuah angin topan raksasa dan dia menggabungkannya dengan tebasan pedangnya.

"Cobalah kau kompres itu!" teriak Ezel.

Wuushhh!

Cratttt!

Kyahh!

Serangan sebesar itu tak mampu Brandish tangkis balik dia akhirnya menerima serangan tersebut menggunakan tubuhnya.

Namun tak sampai di situ ketika Brandish melayang di udara dengan posisi kepala di bawah, Ezel menancapkan keempat pedangnya dia menebasnya melalui tanah.

Crattt!

Guh!

"Tangguh juga kau rupanya" Ezel menatap Brandish kesal.

"Heh, serangan seperti itu mustahil, untuk menghancurkanku" balas Brandish.

Ezel kesal dengan ucapan Brandish dia langsung mengarahkan empat pedangnya, Brandish menahan dengan pedangnya Ezel mengayunkan ekornya, gadis berambut hijau membalikan badan ke belakang dan menendang Dagu espada berwarna biru itu.

Slashhh!

Di saat dia berhasil menendang, Brandish membuat pedang biru dan menebaskannya ke kedua kaki Ezel dan membuatnya tersungkur.

"Gahh! Gadis Quincy sialan!" teriak Ezel memegang kakinya yang sakit.

"Maaf!" Brandish melemparkan lima busur panah dan terkena tubuh Ezel

"XSERCONTRUCTION LAZZER!"

Ezel mengayunkan pedangnya dan membentuk sebuah tebasan berbentuk Huruf X dia langsung mengarahkannya kepada, Brandish yang tak bisa berkutik dan berputara dan meledak dahsyat.

Duarrr!

Namun tampaknya Ezel membuat satu lagi dan dia melakukan cara yang sama dan tak memberi kesempatan Brandish berdiri dan meledak.

"Itulah akibatnya jika kau tetap bersihkeras pada pendirianmu" Ezel bersiap pergi "hmmm! Tampaknya mereka juga tengah sibuk saat ini"

'Lepaskan sarung tangan Sanreimu dan pusatkan semua Reisi di sana'

Clingg! Cling! Cling!

"!"

Ezel terlihat terkejut karena Brandish masih hidup dia melihat butiran-butiran api biru bergerak ke arah Brandish dan rupanya asal butiran itu berasal dari pohon-pohon dan rumah yang terpecah.

"Grrrr! Bajingan kau!" umpat Ezel

"Sayang sekali keberuntunganmu habis"

Tubuh Brandish di sekelilingi aura api biru dan gadis berambut hijau itu bangkit, perlahan butiran-butiran itu mengepul dan berkumpul di tubuh Brandish dan membentuk sayap biru hanya saja, sayapnya satu dan alat penembaknya juga berubah.

"Di sini aku bisa mengumpulkan Reisi dengan cepat karena, hawa superanatural di sini sangat pekat jadi, dengan mudah aku mengumpulkannya" Brandish kali ini bersikap tenang, dan lukanya menghilang.

"Sial! Luka kau menghilang" umpat Ezel kesal.

"Ini berkat Vena Blut jika, aku dari awal tak menggunakan itu serangan yang kau berikan mungkin aku sudah tewas sejak tadi" jawab Brandish.

Slashh!

Cratt!

Brandish cepat menghilang dia mengayunkan tombaknya dan memutuskan salah satu lengan Ezel, si Espada tadi mengayunkan ekornya Namun, Brandish memutuskannya dengan mudah membuat Ezel mengerang kesakitan.

Brandish mundur dia menembakan busur panahnya dengan cepat dan tujuannya menghancurkan pedang yang Ezel pakai.

"Gahhh! Bajingan kau!, akan kuakhiri ini" Ezel mengeluarkan Cero besar sekali dari mulutnya.

"Akan kuakhiri ini juga" Brandish membuat busur panah tapi, kali ini ukurannya terlihat Massive seperti raksasa.

Wusshh!

Blarrrr!

Kedua orang itu saling menembakan serangan terakhir mereka dan berbenturan saling mengadu satu sama lain tapi,

Slashhh!

Cratt!

Serangan Brandish yang lebih unggul dan bola cero yang Ezel keluarkan hancur berbarengan dengan serangan Brandish yang langsung menembus tubuh Ezel.

"Maaf tapi, ini akhirmu" Brandish membuat pedang api biru.

"Uhujk! Sial! Bagaimana bisa aku kalah dari bocah ini arghhh!" Ezel benar terluka badannya berlubang berkat serangan tadi.

Ezel mengamuk dia di selimuti aura ungu dia berlari ke arah Brandish dengan maksud menghantam tubuhnya namun, Brandish berdiri di depannya dan mengayunkan pedangnya dan membelah tubuh Ezel menjadi dua.

Slashhh!

"Maafkan aku jika kasar tadi seranganku" Brandish melihat tubuh Ezel yang perlahan mulai menghilang.

"Quincy huh? Kuharap Ras itu akan hidup terus dan itu terlihat keren hahaha!"

*cling!

"Tehknik tadi, menghabiskan banyak tenagaku" Brandish mulai ambruk tapi, ada seseorang yang menahannya "ibu? Syukurlah jika ibu selamat"

"Kerja bagus! Ibu kemari karena, merasakan Reaitsumu meledak pesat" Grammy tersenyum "dan selamat kau berhasil membukanya"

"Yah, meski jarak waktu menggunakannya sedikit" Brandish menghela nafas.

"Tak apa itu sudah kemajuan bahkan tak ada yang seberuntung dirimu yang bisa melepaskan tehknik Quincy : Lecht Still" Grammy mengusap rambut anaknya "bahkan tehknik itu tak bisa di pelajari hanya sebulan tapi, kau berhasil mematahkannya dengan seminggu saja"

"Iyah aku ingin tidur sebentar ibu" Brandish memejamkan matanya.

"Tentu!".

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

*boom *duarrr *booom *duarrr!

Terdengar suara ledakan dalam jumlah besar dan laser berwarna hijau berterbangan di udara seperti seekor pasukan burung yang sedang migrasi.

'Semakin kesini perubahan orang ini berbeda, di tambah kekuatan dia juga' batin Irene ia sedari tadi menghindar serangan dari Kyouka.

" di mana senyum khasmu? Tadi apakah tenggorokanmu kering?" Kyouka terus mengejar wanita itu dan melemparkan sejenis Shuriken cahaya.

Kyouka melemparkan banyak Shuriken dari kukunya Irene menghindar sembari menangkisnya, tangan Kyouka bercahaya Hijau dan Irene berwarna merah dan saling beradu tinju.

Booommm!

Kyouka melebarkan tangannya dan muncul cahaya putih yang menyilaukan dan Irene tau sesuatu yang buruk terjadi makanya dia membuat perisai dan benar saja cahaya putih tadi meledak.

"Aku terkejut kau masih bertahan" Kyouka menatapnya ekspresi suaranya hanya tenang.

"Hmm! Itu bukan gayaku jika, sudah lebih dulu tumbang" Irene tampaknya menikmati suasana ini.

"WINGS ATSMOSFERE!"

Kyouka melemparkan bulu emas yang muncul dari kedua tangannya, Irene bersiap membuat perlindungan jika sesuatu terjadi namun, tak ada apapun dan dia membatalkannya tapi,

Duarrrrr!

Bulu-bulu yang berterbangan itu kini bercahaya dan mulai meledak secara bersamaan.

"Biar kuperjelas bulu itu akan aktif meledak jika merasakan hawa panas di sekitarnya bahkan, setitik keringat panaspun akan meledak juga" balas Kyouka

"Menyebalkan sekali" Irene mendesah kesal tubuhnya terluka.

Langit tampak mulai Gelap dan tak lama muncul air hujan yang begitu banyak dari atas langit

"Hujan? Tak pernah berfikir bahwa hujan muncul cepat begitu saja" Kyouka menadahkan tangannya

Byurrr!

Blasttt!

Tapi, tampaknya ada sebuah air deras yang muncul dari atas dan langsung menimpa wanita berambut burung itu, Kyouka segera menyingkir dari tempatnya berdiri tapi, air deras terus bermunculan dari langit dan akhirnya dia membuat pelindung.

"Kita lihat siapa yang saat ini bertahan" Irene mengejeknya.

"Apa ini semua ulahmu!" Kyouka memberinya DeathGlare

"Hah, mana ku tau mungkin, gejala alam saja" Irene menghela nafas tak peduli.

Kyouka langsung melemparkan bulunya dan bertebaran di udara tapi, anehnya bulu itu tak meledak malahan bulu itu terbawa angin dan tak ada efek apapun.

Kyouka terlihat kesal dia langsung maju mengayunkan cakarnya bertubi-tubi Irene terlihat santai bahkan tak peduli kondisi tubuhnya dengan tampak tenang menghindarinya.

Irene mengangkat jarinya ke atas tampak Halilintar menyambar jarinya dan tampak tangannya di aliri petir biru Irene menggerakan kedua tangannya Kyouka terkejut melihatnya.

"Tahanlah ini!"

"RAIKUNI AMANAKUMO!".

Clangg!

Jdarrr!

Kedua jari Irene menunjuk ke depan dan petir yang berkumpul tadi langsung menyambar Kyouka secara telak dan menghancurkan pelindung yang di buat olehnya.

Irene bergerak dari posisinya jarinya kembali di gerakan dan tampaknya dia ingin mengeluarkan tehknik tapi, Kyouka segera menembakan Beam hijau dari jarinya Irene dengan mudah mementalkannya.

Tapi, muncul air deras lagi dari langit dan juga Kilatan petir dari tanah mereka hanya menyerang Kyouka seolah wanita burung itu adalah musuh mereka.

" biar kujelaskan tehknik bisa mengendalikan segala cuaca yang kumau seenaknya dengan di lebihkan dan di kurangkan" jawab Irene.

"Kekuatan yang menakutkan tak pernah berfikir bahwa lawan yang pernah kalah olehku, memiliki tehknik yang mengerikan" Kyouka berkeringat dia berlari kesana kemari menghindari hempasan air dan petir.

"Ara! Sudah kubilang bukan jangan pernah meremehkanku" Irene tersenyum menakutkan dengan mode S.

Wung! Wung! Wung! Wung!

Irene mulai bersiul, Kyouka mengangkat sebelah alisnya dan melihat ada sesuatu yang aneh di wanita berambut Scarlet itu dan hembusan angi perlahan mulai kencang setiap kali Irene bersiul.

Betapa mengerikannya Kyouka melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya Tiga angin topan raksasa yang berdiri sejajar di belakang Irene bahkan wanita itu tak terkena efek jurusnya.

"Akan kutunjukan padamu arti keputusasaan aku di kenal sebagai Scarlet Despair" mata Irene berubah menjadi.

"ROIKUMO FUUKANAGI!"

Wushhh!

Duarr!

Ketiga angin topan yang di belakang Irene tadi langsung bergeraka dan berubah menjadi hembusan angin dahsyat berbalut petir dan menghempaskan Kyouka daya rusaknya cukup signifikan membuat tempat itu rata dengan tanah.

"Ini berakhir, dan terlalu berlebihan" Irene menghela nafas dan cuacanya kembali normal "sebenarnya aku tak mau menggunakannya tapi, apa boleh buat dia yang memaksaku"

Jduarrrr!

Irene menghela nafas dia tau ini belum berakhir dan terdengar suara ledakan di tempat di mana Kyouka berada.

"Kau hebat bisa memaksaku dalam wujud ini"

"RESSURECTION : DEL DIANTE ROSABELO!"

"Ara! Wujudnya yang sangat cantik sekali" puji Irene "kupikir kau orangnya tak buruk"

"Tak masalah akan ku buat cantik kematianmu"

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Duagh!

Jduarr!

Sebuah pukulan menghempaskan salah satu pasir padatnya di udara banyak sekali pasir yang berbentuk kotak dan kerucut dan itu bukan pasir biasa melainkan pasir hitam yang katanya dari orang mati yang di bakar.

Sebuah balok pasir mendekati Ur dan wanita berambut pendek itu berlari menghampirinya dan meninjunya tapi, pasir bentuk kubus kini yang menghampiri namun, Ur melompat menghindarinya.

"Tch! Orang ini tak bisa di lukai" keluh Ur mendesah "tak bisa menyerang begitu saja karena, pasti itu buruk"

"Jika tak bisa di serang harus menyerang secara kejutan" Ultear menatap ibunya dengan raut wajah khawatir "ibu berjuanglah!".

" kehidupan adalah sesuatu yang berharga kau harusnya memikirkan ini jika melawanku" Keith dengan suara montone "jika, kau tewas maka kau akan meninggalkan sesuatu yang kau pedulikan"

Keith mengangkat tangannya dan pasir hitam bergerumul di depannya tak lama itu memanjang dan menjadi duri panjang, Ur melakukan gaya berputar menghindar walaupun, tubuhnya ada juga yang terkena yaitu perut.

Ur menembakan semburan es dari mulutnya, Keith membuat bola pasir hitam serangan keduanya beradu dan membuat udara sana di penuhi kabut hitam.

Muncul kubus pasir dari atas Ur dengan refleks menghindar namun pasir balok mendekatinya dan menubrukannya dan menghempaskan wanita itu.

"Ibu!" teriak Ultear cemas.

"Tenang nak, ibu tak apa-apa ini hanya luka biasa saja" Ur terbangun dari jatuhnya.

Keith mengeluarkan pasir hitam lagi dari dalam tubuhnya, Ur bersiap melindungi dirinya dan di dalam pasir hitam itu di lapisi sebuah kepala tengkorak.

"KOZUI SHI NO ZUGAIKOTSU!"

Wusshhh!

Pasir-pasir tadi langsung bergerak cepat dan menerjang Ur dan Ultear pun yang di belakang terkena dampak serangan itu mereka terbawa arus pasir hitam itu.

Tapi, Ur segera cepat lolos dari serangan tadi dia segera ke arah Ultear dan menyelamatkan anaknya ke tempat yang agak sedikit aman.

"Berhati-hatilah oke, ibu tau kamu kuat tapi, biar ini menjadi urusan ibu" Ur menatap anaknya.

"Tapi, dia kuat ibu Ultear tak bisa diam melihat saja Ultear takut ibu kenapa-kenapa!" protes Ultear.

"Tak usah khawatir ibu takkan semudah itu" Ur mengusap kepala anaknya dan menoleh ke arah Keith.

"Orang yang menarik dia berhasil lolos dari serangan kematian" guman Keith.

Keith mengangkat tangannya Kubus pasir bergerak berputar ke arah Ur wanita berambut pendek memukulnya, dan muncul lagi Trapesium pasir hitam berputar ke arahnya Ur menendangnya dan Kerucut pasir muncul di atas dan berniat menindihnya Ur langsung menghindar cepat dan berlari ke arah Keith.

Keith mengarahkan tangannya dan sebuah pasir mengikat kedua kaki Ur wanita berambut hitam ini membekukannya secara total dan dia berhasil memukul wajah Keith hanya saja, itu hanya melewatinya dan si tengkorak itu tak bergerak dari posisinya.

"Mahluk apa kau ini" Ur langsung menjauh dari posisinya tadi.

"Aku ini adalah pendeta yang di juluki pengendali Jiwa" jawab Keith.

"Aku baru tau ada seorang pendeta yang kelakuannya seperti iblis" Ur geleng-geleng.

Keith mengangkat tangannya dan ombak pasir hitam menjulang tinggi ke atas dan langsung menghempaskan Ur dan wanita itu terbawa pasir itu dan tenggelam ke dalam pasir hitam itu Keith menempelkan tangannya.

"TEN' NEN SUNA SHI!"

Duarrrr!

Pasir tadi yang mengepung wanita itu menjadi tertekan dan menggecet Ur Ultear yang melihatnya hanya shock dan menjatuhkan air matanya tapi,

Kretekk!

Pasir hitam tadi kini membek terbalut Es dan tak lama Ur keluar dari sana dia membawa hawa dingin yang tak terkontrol tapi, dinginnya itu hanya berlaku untuk manusia buktinya Ultear menggigil sedang Keith tidak sama sekali.

"Jika aku tak bergerak cepat dan membekukannya, serangan tadi memang mengerikan" Ur terlihat tenang tapi, dilihat seluruh kedua tangannya di lapisi Es.

"Hasyu! Grrr! Dingin" Ultear mengigil dia memeluk tubuhnya sendiri.

"Sekarang Gilranku"

"AISUPURIN SESUDANSU!"

Kretekk!

Cuacanya di sekitarnya benar-benar dingin seperti dinginnya di bawah nol derajat dan pasir-pasir yang semua Keith ciptakan membeku total dan tak bisa bergerak.

"Apa- apaan dia" Keith wajah terlihat shock.

Slashhh!

Krakk!

Bsshh!

Selagi Keith belum menghilang rasa terkejutnya sementara, Ur tangan kanannya berbentuk tombak Es dia langsung menyerang tubuh Keith walaupun tau dia tak kesakitan tapi, setidaknya itu memberinya Efek karena tubuh Keith langsung membeku dan di selimuti Es.

"Perlahan dan tenang" Ur menghela nafas temperatur di tempat itu perlahan mulai kembali normal.

"Ibu tadi itu tehknik apa?" Ultear menghampiri ibunya.

"Tehknik rahasia milik ibu di mana kau bisa mengubah temperatur suhu di sekitarnya turun melebihi nol derajat dan membekukannya total" jawab Ur.

"Jadi, itu kenapa serangan orang itu berikan bisa ibu bekukan sama sekali?" tanya Ultear ibunya hanya mengangguk.

Clingg!

Saat keduanya ingin segera pergi tampak cahaya di mana Keith membeku dan tak lama Esnya perlahan mencair dan menjadi cairan hitam.

"Dia hidup lagi?!" Ultear hanya shock.

"Mundurlah dia tampaknya mengeluarkan seluruh tenaganya setelah ini" Ur bersiap pada posisi bertarungnya.

"Tak kusangka aku akan menggunakan ini"

"RESSURECTION : SCHADEL TOD!"

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Sementara itu tak jauh dari kota fiore lebih tepatnya di sebuah gubuk kecil di dalamnya ada tampak Figure berjubah, berambut biru, dan Tatto di mata kanannya.

"Tampaknya ini berjalan sesuai rencana"

"Aku hanya perlu menunggu waktu dan membuat semuanya lancar"

"Ini hanya masalah waktu"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Ahhh yeah ternyata si tengkorak dan wanita burung baru ngeluarin RESSURECTION mereka yah jelas Espada nomor 2 dan 3 hal yang mustahil kalah begitu saja pasti ada sesuatu yang wow.

Hmmmm Natsu selama ini tak mengalami masalah jika melawan Franmalt tapi, itu tak masalah besar bagi Natsu ok.

Pm

.

RnR.