Disclaimer: All related things to Persona belong to ATLUS. Shadow the Hedgehog belongs to Sonic Team and SEGA. All things that have similiarities with character or name from other game, movie, anime, etc belong to their respectives; And also, my friends belong to themselves.


Chapter 36
In No Sense

Rabu, 16 September 2009
Dark Hour
Tartarus BS Ruang ke-66

Setelah menyentuh transporter, aku bersama Hadi dan Shadow segera tiba di ruang tempat Feby dan yang lainnya menunggu. "Selamat datang kembali. Kalian baik-baik saja 'kan?" sapa Feby sedikit kuatir. "Yeah, thanks to you guys." kataku berterima kasih kepada teman-temanku.

"Jujur aja, tadinya aku sempet ragu kalo kita nggak akan lolos dari kepungan mereka hidup-hidup. Bahkan aku hampir ditiban piramid!" kata Hadi merasa lega. "Iya, tapi jangan lupa bilang terima kasih ke orang udah nolong kamu tadi." kataku sambil melirik ke Helda yang berdiri di samping Nana. Raut wajah dan gelagat Hadi pun segera berubah menjadi serius.

Perlahan, Hadi berjalan ke arah Helda. Helda yang menyadari kalau Hadi bermaksud menghampirinya segera menoleh ke arahnya dengan wajah yang terlihat cemas. "Hey Da..." kata Hadi setelah mereka berhadapan. "Soal yang tadi... thanks ya." kata Hadi masih dengan wajah serius. "Soal yang tadi apaan?" tanya Helda entah pura-pura tidak mengerti atau memang dia telah lupa.

"Huh... harus aku jelasin ya...?" keluh Hadi pada dirinya sendiri. "Terima kasih... udah selamatin aku dari serangan shadows tadi. Kalo nggak... aku pasti udah tamat di sana." jelas Hadi agak bimbang mengucapkannya. "Dan?" kataku merasa ada yang kurang. "... ngajak ribut ya Gir?" tanya Hadi kesal karena aku ikut berbicara. "Fine, terserah kalo nggak mau bilang. Cukup tau aja..." kataku dengan santai sambil berlalu.

"Ugh, ok, ok! Aku minta maaf karena telah menuduhmu dan berbicara kasar kepadamu!" kata Hadi kepada Helda dengan suara yang keras dan cepat. "Puas?" tanya Hadi menoleh ke arahku yang mengabaikan amarahnya. "Oh... iya, nggak apa-apa kok. Aku tau kalo kamu tadi masih belum bisa percaya sama aku. Tapi aku senang karena sekarang kalian semua mau menerimaku." jelas Helda sambil tersenyum.

Hadi pun ikut tersenyum kecil. "Tapi ada satu hal penting yang harus kamu ingat." kata Hadi kembali berbicara. "Kalo ternyata kamu bohong dan mengkhianati kepercayaan kami semua lalu kembali ke Strega. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Dan saat itu tidak akan ada seorang pun, bahkan seorang anak sok baik hati yang bisa menghentikanku!" jelas Hadi dengan niat membunuh.

*glek* semua orang yang berada di ruangan tersebut segera terdiam ketakutan merasakan aura membunuh dari Hadi. "Yah... tapi itu kalo kamu bohong. Tapi aku yakin kalo kamu nggak akan melakukan hal itu, ya 'kan?" kata Hadi kembali tersenyum kepada Helda. "I-iya... tenang aja Di..." jawab Helda ketakutan.

"Um... dengan ini semuanya udah beres 'kan?" tanya Adipta menarik perhatian kami semua. "Berhubung Dark Hour tinggal semenit lagi, lebih baik kita pulang sekarang." jelas Adipta yang ditanggapi oleh anggukan dari semua anggota SEES. Kami pun segera keluar dari Tartarus.


Kamis, 17 September 2009
Tengah malam, 00.01
IPB Kampus Gunung Gede

Tepat saat kami keluar dari gerbang Tartarus Dark Hour berakhir. Waktu pun kembali berjalan dengan normal. Lampu-lampu menyala, kendaraan dan peralatan elektronik kembali berfungsi. Dan orang-orang biasa pun kembali muncul dan beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari apa yang telah mereka lewatkan.

"Fyuh, untung kita nggak kejebak di dalam sana." kataku lega saat melihat semuanya menjadi normal. "Abis kalian kelamaan di dalam sih!" komentar Nana. "Namanya juga penasaran, masa liat dikit aja nggak boleh?" kataku membela diri.

*ngguuiingg* suara sirene mobil Ambulans menghentikan perdebatan kami. "Huh? Malam-malam begini bisa ada kecelakaan ya?" kataku melihat mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. "Justru karena tengah malam begini yang rawan kecelakaan." kata Helda. "Kok gitu?" tanyaku tidak mengerti.

"Sepinya jalanan membuat pengemudi ingin berkendara dengan cepat agar segera sampai tujuan. Atau bisa juga karena bosan pengemudi menjadi mengantuk dan ketiduran sambil menyetir." jelas Adipta memberikan contoh kepadaku. "Ah, bener juga... ku baru sadar soal itu." kataku akhirnya mengerti.

"Tapi belum tentu juga karena kecelakaan sih. Bisa aja ada orang yang tiba-tiba sakit keras atau malah ada yang meninggal." tambah Aziz. "Yang jelas, kalo itu emang kejadian besar, besok pasti kita denger beritanya. Mendingan sekarang kita pulang aja yuk, aku ngantuk banget nih!" kata Goman sambil menguap.

"Bener juga kata Goman, lagian besok kita ada kuliah pagi. Urusan Ambulans sih bisa belakangan." kata Adipta sependapat. "Kalo gitu gue balik duluan ya!" kata Harry berjalan menuju motornya yang diparkir di belakang gedung kampus.

"Oke Geh, hati-hati di jalan! Nanti malah lu lagi yang besok masuk rumah sakit." kata Hadi bercanda. "Sialan lu Gae! Kalo beneran sampe kejadian, gue bawa lu ke kuburan buat temenin gue!" ancam Harry membalas ejekan. "Ogah ah, mana mau gue masuk neraka bareng lu! Lu 'kan udah pasti ke sana, langsung dapet tiket VIP di basement neraka." ejek Hadi. Kami semua segera tertawa mendengarnya. Sementara Harry terus berjalan mengabaikan ejekannya.

"Nah, kita juga balik duluan ya!" pamit Goman yang diikuti Aziz. "Oh, bentar Man! Ada yang mau aku omongin!" teriak Hadi sambil berlari ke arah mereka. "Helda, kamu mau ke mana?" perhatianku tertuju pada pertanyaan Feby kepada Helda. "Oh, aku mau pulang ke rumah tanteku di daerah Yasmin." jawab Helda. "Wah, jauh amat! Kamu nginep di kost kita aja!" ajak Nana. "Eh? Um... gimana ya..." kata Helda ragu.

"Udah ikut aja, daripada kamu ke sana sendirian. Bahaya lho kalo cewek sendirian tengah malam begini! Lagian ada yang pengen aku tanyain sama kamu. Kita 'kan jarang ngobrol di kampus." jelas Nana memaksa Helda.

"Oh, aku juga ikut dong! Ada beberapa hal yang mau aku tanyain ke Helda soal Strega." kata Adipta tiba-tiba muncul di antara ketiga wanita tersebut. *dhuak* Belum sempat aku berkomentar, tiba-tiba wajah Adipta sudah babak belur akibat "Double Punch" dari Nana dan Feby. Tubuhnya pun langsung rubuh tanpa pertahanan.

"Tau diri dikit kenapa sih? Mau bikin masalah sama orang-orang sekampung ya?" komentar Nana kesal. "Ayo kita pulang." kata Feby juga kesal sambil berjalan meninggalkan kami. "Helda, ayo kamu juga ikut!" perintah Nana yang telah berjalan mengikuti Feby. Meskipun sempat ragu, tetapi akhirnya Helda pun mengikuti mereka berdua.

"Ckckck... kamu sendiri sih yang cari gara-gara..." kataku menghampiri Adipta yang tersungkur di jalanan. "Abisnya aku penasaran banget soal Strega." jelas Adipta dengan wajah yang menempel aspal. "Penasaran sih penasaran, tapi liat-liat waktu dan situasi dong!" kataku menasehatinya.

"Lho Gir, si Weton kenapa?" tanya Hadi yang baru selesai berbicara dengan Goman. "Tau tuh, kayaknya dia udah ngantuk banget deh, sampe-sampe tiduran di jalan." jawabku asal bicara sambil berjalan meninggalkan Adipta. Hadi pun hanya bengong melihat Adipta. "Udah nggak usah dipikirin, mendingan kamu bantuin dia berdiri. Aku capek banget nih!" kataku menyadarkan Hadi yang masih bengong.

"Ton, kamu bikin masalah ya?" tanya Hadi kepada Adipta. Yang ditanya hanya menjawab "Aauu...".


Pagi hari, 07.50
Kampus IPB Cilibende

Pagi ini aku berjalan ke kampus bersama Hadi dan Adipta, yang wajahnya sudah sembuh dari bekas pukulan. Begitu kami tiba di kelas, Hadi dan Adipta segera duduk di kursi terdepan, sementara aku terus berjalan ke belakang.

"Heh, mau ke mana Gir?" tanya Hadi menghentikanku. Aku pun menoleh dan akan menjawab pertanyaannya, tetapi Hadi kembali berbicara. "Duduk di sini aja kenapa sih?" kata Hadi memaksaku. "Iya Gir, sekali-sekali duduk bareng kita dong di depan." kata Adipta ikut menahanku.

Untuk sesaat aku melihat ke arah belakang, yang diramaikan dengan obrolan para mahasiswa. Lalu aku kembali menoleh ke samping yang suasananya lebih tenang. "Oh, fine." kataku mengalah dan duduk di sebelah kiri Hadi. 'Setidaknya ku masih bisa sandaran ke tembok.' pikirku sambil menyandarkan kepalaku ke tembok.

"Masih ngantuk Gir?" tanya Hadi yang melihatku menguap. "Salah siapa yang bikin ku jadi mendadak bangun dengan cara yang paling nggak ku harapkan?" tanyaku sambil menatap tajam kepada Hadi. "Hm? Emangnya kenapa Gir?" tanya Hadi merasa tidak bersalah.

"Hehehe... aku baru tau kalo pas kalian tidur bareng bisa ada kejadian kayak gitu." kata Adipta berusaha menahan tawanya. "Cukup! Jangan diterusin lagi. Ku nggak mau sampe yang lainnya tau soal itu!" tegasku sambil menahan amarah. Aku pun segera beranjak dari kursiku.

"Mau ke mana Gir?" tanya Hadi melihatku berjalan menuju pintu keluar. "Mau ke toilet. Ku mau cuci muka biar nggak ngantuk pas kuliah." *brak* jawabku sambil menutup pintu dengan agak kencang. "Mau ke sana juga nggak?" tanya Adipta masih menahan tawa. "Nggak ah, urusan toilet udah beres pas aku mandi tadi." tolak Hadi.

Saat aku sibuk mencuci muka dan mengelap kacamataku, dari cermin aku dapat melihat Stevy dan Angger masuk ke dalam toilet. "Eh, ada kamu Gir!" sapa Angger begitu melihatku. "Hey, Anggir! how's your morning?" sapa Stevy. "Tsk, I don't want to talk about it." jawabku sambil menggerutu. Angger dan Stevy kebingungan melihat kelakuanku.

"Heh Gir, kamu udah denger berita pagi ini?" tanya Angger dengan nada suara seperti penggosip. "Apaan? Ada cewek yang nembak Stevy lagi? Atau ada yang baru jadian di kelas kita? Atau... jangan-jangan kamu punya selingkuhan lagi?" tebakku asal bicara. "Bukan! Eh, psst... kecuali yang bagian terakhir. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya Gir! Terutama cewekku!" kata Angger memelankan suaranya.

"Iya, terserah..." kataku tidak peduli. 'Terkadang ku pengen ancurin dunia ini. Kenapa ku nggak pernah punya pacar sementara orang kayak dia bisa sampe selingkuh? Wait... kenapa juga ku mikirin beginian... toh nggak terlalu penting buatku sekarang.' pikirku. "Because, this is the reality. A place where unexpected things could happen.' jelas Shadow. 'It's just unacceptable!' protesku. aku terus terlarut dalam pikiranku hingga mengabaikan cerita Angger.

"Hei Gir, kamu denger nggak sih?" tanya Angger menyadarkanku. "Huh? Oh, maaf. Tadi ku agak ngantuk. Bisa ulang ceritanya lagi nggak?" kataku sambil berpura-pura mengusap kedua mataku. "Yah... jadi intinya, orang-orang yang dateng ke hotel itu banyak yang jadi korban Apathy Syndrome." jelas Angger. Rasa kantukku hilang begitu aku mendengar dua kata terakhir yang diucapkannya.

"APA? Coba kamu ceritain lagi detailnya!" kataku penasaran sambil memegangi kedua pundak Angger. "Hey, teacher-nya udah datang lho!" kata Stevy melihat ke arah kelas. "Duh Gir, ceritanya nanti aja deh. Mendingan kita ke kelas dulu sekarang!" kata Angger berjalan dengan terburu-buru menuju kelas. "Tsk, padahal ku baru aja dapet informasi penting sekaligus penghilang kantuk." gerutuku segera mengenakan kacamataku dan berjalan kembali ke kelas.


Siang hari, 11.00
Kantin IPB Kampus Cilibende

"Nah... Ger, coba kamu ceritain lagi soal yang tadi pagi." kataku mengambil sebuah kursi plastik dari bawah meja. "Cerita apaan?" tanya Adi penasaran. "Itu loh, soal orang-orang yang pingsan di hotel." jelas Angger. "Oh! Yang soal itu ya! Ceritain dong, aku juga pengen tau!" kata Ervan tidak sabar. "Hold on, kita wait yang lainnya dulu dong. It's not fun kalo nggak dengerin together." kata Stevy menahan Angger bercerita.

"Kalo gitu mendingan kita pesen makanan dulu aja deh. Aku udah laper berat nih!" kata Angger sambil membaca kertas menu. Kami semua pun memesan makanan sambil menunggu Goman, Aziz dan Harry tiba. Saat selesai kuliah tadi Goman mengajak kami semua, the Bronkz+ (Plus Stevy sebagai anggota terbaru) berkumpul untuk makan siang bersama. Tetapi Hadi dan Adipta tidak bisa ikut karena ada urusan penting.

"Mereka bertiga ke mana sih? Bukannya tadi mereka yang ngajakin ya?" tanyaku sedikit kesal karena harus menunggu. "Tadi Goman bilang dia mau ke toilet. Terus Aziz sama Harry juga ikutan. Paling bentar lagi juga ke sini." jawab Adi menenangkanku. Benar saja, begitu Adi selesai berbicara, ketiga orang tersebut pun muncul.

"Hey, udah pada mesen ya?" tanya Goman sambil duduk. Merasa tidak perlu menjawab pertanyaannya, aku segera menengok ke tempat Angger duduk. "Ger, ayo mulai cerita sekar-ang?" aku terkejut melihat dia menghilang dari tempat duduknya. "Lho, Angger ke mana?" tanyaku panik.

"Eh, emangnya tadi kamu nggak denger ya? Tadi 'kan dia bilang mau ke toilet dulu. Mendadak perutnya sakit." jawab Ervan. *dhuakk* Tanpa berpikir aku pun segera melakukan 'Head Bang' di meja makan berkali-kali. "Kenapa si Anggir?" tanya Harry kebingungan. "Biasa... nggak sabaran nungguin berita penting." jawab Adi dengan tenang. "Oh..." reaksi Harry singkat.

"Cuma 'Oh'? Cuma itu reaksi yang bisa kamu bilang pas ku lagi menderita kayak gini?" protesku saat mendengar reaksi Harry. "Maunya apa?" tanya Harry. "Forget it!" kataku menghentikan pembicaraan tidak penting ini. "Lho, lu sendiri yang mulai." komentar Harry. "Urusai!" teriakku makin kesal.

"Ada apa nih ribut-ribut?" tanya Angger yang baru kembali. "Akhirnya balik juga! Sini!" aku segera menarik Angger ke tempat duduknya. "Whoa! Slow aja Gir... emang kenapa sih?" tanya Angger terkejut. "Udah jangan banyak tanya. Cepat ceritain soal kejadian yang kamu bilang tadi pagi." kataku tidak sabar.

"Lho, bukannya kamu udah tau?" tanya Angger bingung. "Tadi pagi ku lagi bengong, makanya ku masih penasaran!" jelasku singkat. "Huh, kamu sih Gir... makanya kalo orang lagi ngomong tuh didengerin." keluh Angger. "Iya, iya... udah cepat ceritain!" kataku makin tidak sabar. "Emang kenapa kamu sampe tertarik banget sih sama cerita begini?" tanya Angger keheranan. "CEPAT MULAI!" "Oke, oke! Jadi begini... tadi pagi pas aku lagi di gerbang kampus aku dengerin—".

Saat Angger mulai bercerita, tiba-tiba seorang pelayan datang membawa pesanan kami. "Ini pesanannya. Selamat menikmati." kata pelayan tersebut dengan ramah. "Wah, makanannya udah dateng. Kita makan dulu aja deh! Laper berat nih!" kata Angger berhenti bercerita dan segera melahap makanannya. Yang lainnya pun juga ikut menikmati makanan masing-masing.

'Hoo... jadi begini ya... sepertinya dunia berkonspirasi untuk menahanku dari memperoleh informasi penting ini. Fine...' pikirku menahan amarah yang sudah siap meledak. Aku berusaha mengendalikan diriku dan mulai ikut makan.

Setelah kami menghabiskan semua pesanan kami. Aku mengambil sebuah tissue dan mengelap mulutku dengan tenang layaknya seorang bangsawan. "Baiklah... sekarang mari kita lanjutkan pembicaraan kita yang sempat tertunda (berkali-kali) tadi." kataku memulai pembicaraan.

"Oh, bentar ya Gir. Aku mau cuci tangan dulu." kata Ervan mengintrupsiku. Aku langsung menancapkan garpu ke meja, mengejutkan teman-temanku. "Oh, silahkan. Tapi ku nggak jamin kalo kamu bisa bersihin semua darah yang ada di tangan kamu kalo kamu berani meninggalkan meja ini." ancamku dengan nada datar. *glek* Merasa gentar, Ervan mengurungkan niatnya dan kembali duduk.

"O-ow... Anggir lagi marah banget nih." bisik Adi kepada Aziz yang duduk di sampingnya. "Kayaknya dia kesel gara-gara digangguin melulu pas mau dengerin ceritanya Angger." bisik Aziz agak ketakutan. *Ehem* Aku melancarkan tenggorokanku untuk menarik perhatian mereka. "Nah, berhubung udah nggak ada gangguan lagi. Silakan dilanjutkan, Angger." Kataku mempersilahkan Angger untuk berbicara.

"Ah, iya Gir!" kata Angger terkejut. "Jadi begini... pas aku lewatin pos satpam di gerbang kampus. Aku dengerin satpam yang lagi ngobrolin soal Ambulans yang lewat semalam. Pas aku tanyain, mereka bilang ada orang-orang yang kena penyakit Apathy Syndrome di Hotel P'Rank." jelas Angger.

"Hotel P'Rank...?" aku berusaha mengingat lokasi hotel tersebut. "Itu 'kan hotel yang biasa lu lewatin kalo balik dari kampus Gir, masa lupa?" kata Harry mengingatkanku. "Oh! Hotel yang sebelum Pasar Parung itu ya?" tebakku baru ingat. "Kok lu tau sih Har?" tanya Aziz. "Soalnya gue sering liat tuh hotel pas nganterin Feby balik ke rumahnya." jawab Harry.

"Oh, jadi sebelum lu anterin Feby ke rumahnya, kalian berdua ke situ dulu ya?" tanya Angger sambil tersenyum sinis. "Enak aja! Gini-gini gue juga masih punya moral tau!" protes Harry. "Apa hubungannya moral sama hotel?" tanyaku bingung. Semuanya langsung melihatku dengan wajah heran.

"Masa kamu nggak ngerti sih Gir?" tanya Angger kepadaku. "Jangan bilang lu nggak pernah curiga sama tempat itu." kata Harry menaikkan salah satu alisnya. "Curiga kenapa?" tanyaku polos. Teman-temanku langsung facepalm begitu mendengarku. "Nih anak... pura-pura nggak tau atau emang nggak ngerti sih?" kata Goman dengan pertanyaan retoris.

"Gir, lu nggak pernah mikir kenapa ada hotel di daerah kayak gitu?" tanya Angger. "Ya... pernah sih, tapi itu bukan urusanku 'kan? Siapa pun berhak membuat hotel kalo dia emang punya banyak uang." jawabku. "Yang namanya hotel, pasti selalu deket tempat wisata atau urusan bisnis di kota 'kan?" jelas Aziz. Aku hanya mengangguk. "Terus buat apa bikin hotel kalo nggak ada tempat-tempat kayak gitu?" tambah Goman.

"Um... tapi kota Bogor 'kan lumayan deket. Dan seingetku ada tempat wisata deh di deket Parung. Apa ya..." bantahku sambil berpikir. "Kalo mau ke kota sih masih kejauhan! Tempat wisata deket Parung palingan cuma Setu (danau) atau tempat makan Duren. Itu sih nggak masuk itungan!" jelas Angger. "Jadi apa dong alasannya?" tanyaku menyerah.

"Huh... payah deh, masa harus kita jelasin sih?" keluh Goman. Akhrinya Ervan pun berbicara. "Hotel itu fungsinya buat 'itu' lho. Tempat para pasangan buat check in kalo lagi mau-.". "AH! Oke, cukup! ku udah ngerti!" teriakku menyadari maksud Ervan.

"Akhirnya ngerti juga..." kata Angger sedikit kesal sebelum melanjutkan ceritanya. "Nah... ternyata, kejadian semalam bukan yang pertama kalinya. Katanya udah pernah ada kejadian yang sama sebelumnya, malah akhir-akhir ini makin sering." jelasnya. 'Makin sering...? Hm... I see, berarti misi kita yang berikutnya ada di sana.' pikirku.

"Hei, pada tau nggak? Menurutku akhir-akhir ini wabah Apathy Syndrome mulai rame deh." kata Adi mengutarakan isi pikirannya. "Emang selalu begitu 'kan? Apalagi tiap menjelang akhir bulan." kata Ervan. "Tapi justru karena itu. Kok jadi berpola gitu ya?" tanya Adi penasaran. "Udah gitu tiap bulan jumlah korban yang kena selalu meningkat. Kira-kira apa penyebabnya ya?" tambah Angger juga penasaran.

"Entahlah... yang jelas kita nggak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut." kataku serius. "Emangnya apa yang bisa kita lakukan? Kita 'kan cuma orang biasa." tanya Adi bingung. "Hmph." aku memperbaiki posisi kacamataku sebelum menjawab. "Ku nggak pernah merasa kalo ku itu orang biasa. Yang jelas, ku akan menghabisi sha—Umph!" tiba-tiba Harry menutup mulutku dengan tangannya.

"Dasar bego! Lu lupa ya kalo di sini ada orang lain yang bukan Persona User!" bisik Harry terus mendekapku hingga aku menyadari kesalahanku. "Oh iya... sorry." kataku baru sadar. Harry pun akhirnya melepaskanku.

"Kenapa Gir?" tanya Adi curiga. "Nope, nothing! Maksudku... kita sebagai generasi pemuda harus bisa mengatasi masalah-masalah kayak gini. Kalo nggak negara kita bisa ancur." jelasku mengalihkan kecurigaan Adi. "Ah, lebay amat kamu Gir. Meskipun bener tapi 'kan kita sekarang nggak bisa ngapa-ngapain." kata Adi. "Nggak juga, sekecil apapun, pasti ada hal yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa maupun sebagai individu." kataku mempertahankan pendapatku. "*sigh* Iya deh, terserah..." keluh Adi mengalah.

"Jadi, menurutmu apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah ini Gir?" tanya Ervan kepadaku. "Ah, soal itu... sebenernya ku belum mikirin sejauh itu sih. Hehe..." jawabku sambil menggaruk kepalaku. Teman-temanku langsung sweatdropped mendengar jawabanku. "Yah... ternyata kamu sama aja. Kirain udah punya rencana." keluh Ervan.

"Hm, gimana ya... bukannya nggak punya, ku cuma masih belum ngerti sepenuhnya tentang permasalahan ini. Awal kejadiannya aja ku nggak tau dari kapan." jelasku membela diri. "Hm... iya juga sih. Yang jelas, Apathy Syndrome ini mulai ramai pas kita baru kuliah di sini. Jangan-jangan yang nyebarin virusnya dari mahasiswa sini!" tebak Angger.

"Nggak mungkin, pas masuk sini 'kan kita harus ikut tes kesehatan dulu. Kalo ada yang kena pasti 'kan nggak bisa masuk." bantahku. "Tapi Gir, bisa aja 'kan pas tes dia sehat terus pas masuk ke sini baru mulai sakit." kata Angger. "Kalo pun iya, seharusnya kampus kita jadi berita utama pas Apathy Snydrome mulai menyebar. Tapi seingatku pertama kalinya ku denger di berita tempat pertama yang banyak korbannya ada di Kebun Raya." jelasku bersikukuh pada pendirianku.

"Oh iya ya... awalnya mereka kira penyebabnya virus dari tanaman yang ada di sana. Sampe Kebun Raya sempet ditutup sampe hampir sebulan. Tapi katanya para peneliti nggak nemuin virus baru, kecuali virus-virus penyakit yang udah ada." kata Goman menambahkan.

"Itulah yang membuatku bingung soal sindrom ini... Pasti ada penyebab lain yang membuatnya menyebar dari Bogor hingga ke berbagai daerah lainnya." kataku sambil berpikir. Kami semua pun terdiam memikirkan masalah ini.

"Hey, hey... why pusing-pusing mikirin this problem? Emang sih we harus care sama hal seperti ini. But, it doesn't mean kita harus terus-terusan serius like this. We still young guys! Kita juga harus bisa melepas pikiran dari life problem biar nggak stress." kata Stevy berusaha mencairkan suasana.

"Heh, bener juga lu. Mikirin soal beginian terus nggak bakal ngubah kenyataan kalo masalah-masalah gini bisa selesai dengan gampang. Korupsi aja yang dari zaman gue belum ngerokok nggak beres-beres, tapi gue masih bisa fun-fun aja tuh." kata Harry yang pertama kali menyadari maksud baik Stevy.

"Zaman sebelum lu ngerokok? Itu zaman batu ya?" ejek Goman bercanda. "Setan! Rambut lu tuh yang mirip Pitercanthropus Erectus." balas Harry tidak mau kalah. "Hahaha..." kami semua pun tertawa mendengar ejekan Harry yang selalu nyerocos dan di luar perkiraan.


Sore Hari, 16.30
Parkir Motor IPB Cilibende

Awan mendung meliputi sebagian besar wilayah Bogor, bahkan kampusku menjadi gelap akibat cuaca yang mulai memburuk ini. 'Wah, kayaknya bakal ujan gede nih!' pikirku melihat gelapnya langit. Aku pun mempercepat langkahku menuju tempat parkir motor sebelum hujan turun.

'Hm…. kayaknya ku harus siapin jas hujan deh, daripada nanti ku kerepotan kalo kena hujan pas lagi nyetir.' pikirku mengeluarkan jas hujan dari dalam bagasi motorku. 'Tapi kalo langsung pake nggak enak juga…. belum tentu ujannya langsung deres. Oh well, mendingan ku dudukin aja dulu jas hujannya.'.

Aku pun segera melipat jas hujanku dan memaparkannya di atas jok motor. "Nah beres!" kataku setelah selesai melakukan semua persiapan untuk berkendara. Aku segera menyalakan motorku dan berjalan menuju pintu keluar parkir motor.

Ketika aku melewati lampu lalu lintas pertama yang berada di dekat kampusku, perhatianku tertuju ke trotoar dekat perempatan jalan. Terdapat beberapa angkot yang berhenti untuk mencari penumpang yang baru pulang kerja maupun pulang kuliah.

Ya, hal yang mereka lakukan termasuk salah satu penyebab kemacetan. Untungnya jalan raya Pajajaran Bogor cukup lebar sehingga tidak jadi masalah besar. Tetapi bukan itu yang menarik perhatianku. Satu-satunya alasan aku menepi dan menghentikan laju motorku karena ada sosok yang aku kenal di situ.

"Yo, belum dapet bus Da?" sapaku mengejutkan Helda yang sedang memperhatikan bus-bus yang lewat. "Eh, kamu Gir... ngagetin aku aja deh! Iya nih, daritadi bus yang ke arah Parung penuh melulu! Mana mendung lagi, bisa-bisa aku kehujanan nih!" keluh Helda.

"Ya... namanya juga jam pulang kerja, pasti kendaraan umum penuh semua. Daripada kamu kelamaan nunggu, mendingan bareng ku aja! Mau nggak?" ajakku sambil menepuk jok motorku. "Nggak deh Gir, makasih. Lagian bentar lagi kayaknya ujan deh. Nanti kita malah kehujanan lagi di jalan." kata Helda menolak tawaranku.

"Kalo soal itu sih beres. Ku bawa jas ujan kok, nih!" kataku mengambil jas hujan yang aku duduki. "Kenapa kamu taro situ Gir...? Emangnya cukup buat kita berdua?" tanya Helda heran. "Biar gampang dipake kalo nanti hujan deres. Ini jas hujan model 'Batman' kok, jadi bisa dilebarin buat dipake berdua." jawabku santai.

"Ah, nggak deh, nanti aku malah repot megangin jas hujannya biar nggak keleweran ke mana-mana." kata Helda tetap tidak mau. "Oh... ya udah kalo git-*Ctaarrr*" tiba-tiba suara gemuruh petir memotong perkataanku. Secara reflex aku menoleh ke langit, mencari posisi petir tersebut menyambar.

"WoW, suaranya keras banget! Kayaknya petir barusan nyamber sesuatu di deket sini deh." kataku masih melihat ke langit. Merasa tidak mendapatkan respon dari Helda, aku pun mengembalikan pandanganku ke trotoar. "Lho, Da...?" kataku memanggil Helda yang tiba-tiba menghilang.

Merasa ada sesuatu yang janggal, aku pun memfokuskan penglihatanku ke bawah, dan menemukan apa yang aku cari. Helda sedang berjongkok sambil menyembunyikan dirinya dibalik jas hujanku. 'Sejak kapan dia ambil jas hujanku?'.

"Hey... petirnya udah lewat kok." kataku berusaha menenangkannya. "Yang bener Gir?" tanya Helda dari balik jas hujanku. "Yang namanya petir tuh cuma bentar tau. Efeknya yang lama... kesetrum misalnya." jelasku meyakinkannya. "Nggak usah bilang contohnya aku juga udah tau kok!" komentar Helda masih ketakutan.

Aku segera menarik jas hujanku darinya, memperlihatkan wajah Helda yang terkejut dan penuh rasa takut. Sekilas aku tersenyum, melihat ekspresi yang sarang jarang Helda tunjukkan kepada orang lain. Tapi kalau aku terus tersenyum pasti dia akan merasa tersinggung, jadi aku kembali berbicara dengan nada datar.

"Udah puas pake jas hujanku? Terbukti 'kan kalo bisa dipake buat melindungi diri, dari hujan tentunya... dan petir mungkin." kataku sedikit bercanda. Helda yang baru sadar dari rasa kagetnya segera berdiri menahan amarah, rona mukanya sedikit memerah.

"A-aku ambil jas hujan kamu buat melindungi kupingku dari suara berisik barusan. Bukan karena ketakutan!" kata Helda dengan nada tinggi. "Suara berisik itu namanya petir. Dan sepengetahuanku kalo kita keberisikan tuh kita tutup kuping pake tangan, bukan pake jas hujan." jelasku sambil tersenyum sinis.

"Yah, namanya juga refleks Gir... apapun bisa terjadi... yang jelas aku mau nungguin bus aja deh. Kamu balik duluan aja, kayaknya ujannya belum mau turun de—h..." kata Helda yang dijawab dengan tetesan air hujan.

Aku pun segera membuka helm dan mengenakan jas hujanku. Tanpa aku sadari, Helda sudah duduk di belakangku sambil menarik jas hujanku untuk menutupi tubuhnya dari air hujan. "Lho, katanya tadi nggak mau pulang bareng..." tanyaku menengok ke belakang. "Udah cepet jalan!" bentak Helda tidak ingin menjawab perkataanku. "Oh well...".


Hujan terus mengguyur sepanjang perjalanan. Aku berusaha mengendarai motorku agar tetap stabil meskipun agak sulit akibat derasnya hujan disertai angin yang cukup kencang. Helda pun berusaha memegangi jas hujanku agar tidak terkena tetesan hujan. Tetapi lama-kelamaan aku merasa kelelahan menghadapi serangan hujan badai ini. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menepi dan beristirahat di sebuah warung makan.

"Kok berhenti Gir? Udah sampe di depan gang rumahku ya?" tanya Helda penasaran. "Belum, ku mau istirahat dulu sambil makan. Soalnya badanku capek banget nih. Buka aja jas hujannya, ku parkir motornya di teras warung kok, jadi nggak kena hujan." jelasku sambil melepaskan helmku. Helda pun segera membuka bagian belakang jas hujanku yang menutupi dirinya.

"Huff…. Akhirnya bisa ngerasain udara segar lagi!" kata Helda lega sambil menyisir rambutnya dengan tangannya. "Eh, di luar dingin begini kok kamu malah keringetan sih?" tanyaku melihat butiran keringat keluar disekitar leher dan dahinya. "Ya gimana nggak keringetan? Di dalam jas hujan kamu tuh pengap tau! Udara luar 'kan nggak bisa masuk sampe bagian kepalaku." jawab Helda sambil mengelap leher dan kepalanya dengan tissue.

"Hoo…. Kalo emang kepanasan kenapa nggak dibuka aja dari tadi?" tanyaku asal. "Makasih sarannya, tapi aku lebih milih kepanasan dikit daripada badanku basah semua gara-gara kehujanan. Kenapa, emang aku nggak boleh kepanasan?" jawab Helda dengan nada sarkasme. "Ku 'kan cuma kasih saran…. kamu mau kena hujan atau nggak sih itu hak kamu. Ku sih nggak ada masalah sama sekali. Either way is fine with me." jelasku sambil merapikan jas hujanku.

Setelah turun dari motor dan melihat keadaan sekeliling, raut wajah Helda tiba-tiba berubah. "Something wrong?" tanyaku menyadari perubahan suasana hatinya. "Kok kita berhenti di sini sih?" tanya Helda menoleh kepadaku. "Emang kenapa? Badanku udah nggak kuat kena angin sih, apalagi perutku udah laper berat. "Iya, tapi kenapa harus berhenti di sini?" kali ini Helda menatapku dengan kesal.

"Emang ada yang salah sama tempat ini? Menurutku tempat makannya nyaman kok." jawabku datar tidak mengetahui alasan Helda menjadi kesal. Aku pun menghiraukan Helda dan masuk duluan ke dalam warung makan tersebut untuk memesan makanan. "Bang, Bubur Kacang Ijo satu ya! Nggak usah pake Ketan. Kamu mau pesen apa Da?" tanyaku menoleh ke Helda yang masih berdiri di luar.

"Anggir, kamu denger nggak apa yang aku bilang barusan?" tanya Helda masih kesal.

"Iya, ku denger kok." jawabku singkat.

"Kalo gitu kenapa kita masih ada di sini?"

"Emang apa yang salah sih sama tempat ini? Udah, sekarang kamu duduk aja dulu. Tenangin diri dulu sambil makan atau minum gitu. Nanti ku ladeni deh semua pertanyaanmu."

Akhirnya Helda pun menyerah dan ikut masuk ke dalam warung. "Nah, gini 'kan enak... mau pesan apa Da?" tanyaku merasa lega. "Es teh manis aja." jawab Helda dengan wajah menahan amarah. "Yakin? Udara dingin begini masih mau minum es juga?" tanyaku memastikan. "Suka-suka aku dong mau minum apa!" kata Helda dengan nada tinggi.

"Oke, fine... terserah kamu deh..." kataku menuruti perkataannya. Selagi menunggu pesanan, aku memperhatikan beberapa orang yang berada di dalam warung yang kebanyakan wanita. Mereka mengobrol sambil menikmati pesanan mereka. Terkadang mereka melirik ke arahku sambil tersenyum seakan-akan ada yang aneh pada diriku. Tapi aku tidak terlalu memikirkan hal tersebut, karena hal aneh bagi orang lain sudah menjadi hal biasa bagiku.

"Ini pesanannya!" kata sang pemilik warung kepada kami. "Oh, makasih Bang!" kataku mengambil pesananku dan mulai memakannya, sementara Helda hanya terdiam dan melihat ke arah luar, mengabaikanku dan semua yang berada di dalam warung.

"Pak, nggak kepagian ya dateng ke sini?" tanya si Abang kepadaku. "Kepagian? Orang udah sore begini kok. Lagian saya laper makanya berhenti dulu di sini. apalagi di luar masih hujan deres." jawabku meski agak bingung dengan pertanyaannya. "Kok malah mampir ke sini dulu sih? Nggak langsung pesen kamar aja? Di sana 'kan lebih anget, enak lagi!" usul si Abang pemilik warung sambil menunjuk ke seberang jalan.

"Di sana...?" kataku sambil menoleh ke arah yang dituju. Aku melihat sebuah hotel yang cukup bagus, tapi tidak terlalu mewah. Hotel yang selalu aku lewati setiap ke Bogor atau pulang ke Pamulang. 'Hotel P'Rank... rasanya ada sesuatu yang aneh deh dengan nama itu. Apa terlalu alay ya?' pikirku merasa janggal. 'Inget cerita Angger tadi siang? Ku tau kamu ingat, you can't fool me.' kata Shadow mengingatkanku

'Oh, shoot!' batinku terkejut hingga aku berhenti makan. 'Sigh... sepertinya ku membuat kesalahan amat sangat besar ya Dow?' keluhku akhirnya menyadari perubahan suasana hati Helda. "Kenapa Gir? Ada yang kelupaan? Atau ada yang baru 'sadar'?" tanya Helda menyadari keterkejutanku. 'Gila, padahal ku udah berusaha setenang mungkin! Tapi cuma gara-gara liat ku berhenti makan aja dia bisa tau!' pikirku panik.

'Ready to die?' tanya Shadow mengejekku. 'Ku harus segera pikirin sesuatu sebelum kepalaku jatuh ke bawah kursi gara-gara Helda marah.'. Aku pun berpikir keras hingga akhirnya menemukan sebuah ide cemerlang.

"Boleh tanya nggak Bang? Jam buka hotelnya dari jam berapa ya?" tanyaku kepada si Abang. "Kalo bukanya sih dari jam 9 pagi juga udah buka. Tapi... kalo urusan 'buka' yang itu, dari jam 9 malam juga udah ada kok, Pak." jawabnya dengan agak berbisik pada bagian akhir.

"Hoo... begitu ya. Oh iya, tolong jangan panggil ku Pak. Umurku masih 19 tahun." kataku agak tersinggung. "Oh, iya Pak—eh, Mas!" kata sang pemilik warung hampir salah memanggilku. "Biasanya ramenya pas kapan aja Bang?" tanyaku dengan wajah tenang sambil menikmati Bubur Kacang Hijau.

"Ya... pas malam mingguan atau kalo lagi liburan aja. Tapi di sana sering ada acara sih. Jadinya ya rame terus tiap hari. Kebetulan malam ini katanya mau ada artis yang dateng ke sana. Mas mau nonton? Acaranya lumayan lho! Pasti dapet banyak plus deh!" jelas si Abang bersemangat.

"Yaa... kita liat aja nanti. Soalnya saya masih mau jalan-jalan dulu nih." kataku sambil melirik ke Helda yang terlihat makin kesal. "Nah, untung ujannya udah reda. Jadi berapa semua Bang?" tanyaku sambil bersiap-siap untuk keluar dari tempat tersebut. "Enam ribu aja Mas." jawabnya. Aku pun memberikan uang sepuluh ribu rupiah kepadanya.

"Ambil aja kembaliannya, anggap aja uang tip karena udah kasih info soal yang tadi." kataku berbaik hati. "Wah, makasih banyak Mas! Oh iya! Ada satu hal lagi yang mau saya kasih tau ke Mas." kata sang penjual teringat sesuatu. "Oh iya, apaan tuh?" tanyaku kembali mendekatinya sementara Helda keluar duluan.

"Hotel itu tempat sama servisnya emang enak banget Mas! Tapi... belakangan ini banyak kejadian aneh. Hampir tiap hari ada orang yang sakit abis 'booking' di situ. Orang-orang bilang sih gara-gara 'make obat' jadi mereka masih maklumin aja. Cuma saran dari saya sih hati-hati aja di sana, terutama kalo lagi sepi pas acaranya udah kelar." jelas si Abang menginformasikanku.

'Akhirnya ada info penting yang bisa ku dapat dari sini!' pikirku lega. 'High luck, eh?' singgung Shadow kepadaku. "Oke, makasih banyak Bang! Saya pergi dulu ya!" kataku segera keluar dari warung tersebut. "Iya Mas! Selamat bersenang-senang ya sama pacar Mas!" teriak si Abang dari dalam. Aku agak terkejut saat mendengar kalimatnya yang terakhir. Tapi aku segera melupakannya, apalagi orang yang dimaksud sudah siap menghabisiku.

"Udah puas makannya?" tanya Helda menatapku tajam. "Oke, ku emang salah bawa kamu ke sini. Tapi—". "Jelas dong kamu salah! Bisa-bisanya kamu bawa aku ke tempat nggak bener kayak gini! Emangnya kamu pikir aku cewek apaan?" teriak Helda penuh emosi. "Iya, tapi—". "Nggak ada tapi-tapian! Tega banget sih kamu Gir sama temen sendiri! Mikir dong gimana perasaanku pas di dalam tadi?" kata Helda kembali memotong perkataanku.

"Iya, ku tau—". "Tau apa sih KAMU?"

-_- (Pokerface mode: on)

...

...

..

.

Setelah tujuh kali teriakan disertai enam kali omelan dari Helda menghujaniku. Akhirnya aku bisa kembali berbicara saat Helda kehabisan nafas.

"Operation Full Moon." kataku singkat. "Huh?" Helda terlihat kebingungan setelah mengambil nafasnya. "Ku sengaja ke sini untuk ngumpulin informasi soal korban Apathy Syndrome terbaru. Kamu tau 'kan kalo semalam ada berita tersebut di TV." jelasku dengan tenang. "Um…. emang bener sih…." gumam Helda mengingat berita tersebut.

"Nah, tempat kejadian yang ada di berita itu di hotel itu." jelasku menunjuk hotel yang dimaksud. Helda terlihat terkejut dengan penjelasanku. "Eh… masa sih?" kata Helda tidak yakin.

"Percaya deh, ku dapet info tersebut dari sumber yang terpercaya (infonya ya…. orangnya sih nggak). Dan ku udah konfirmasi ulang dari pernyataan si abang pemilik warung tadi. Karena tadi dia bilang belakangan ini ada kejadian aneh di sana." jelasku meyakinkan Helda.

Aku dapat melihat raut wajah Helda yang masih ragu-ragu dengan ucapanku, tetapi akhirnya dia pun menghela nafasnya sebagai tanda bahwa dia mulai bisa menerima penjelasanku. "*Huuhh…. harusnya kamu bilang dari tadi dong Gir…. Tiba-tiba berhenti di daerah kayak begini bikin aku waswas tau!" protes Helda mengutarakan hal yang membuatnya tidak nyaman sejak tadi.

"Hehe…. maaf deh, namanya juga mendadak laper. Ya, mau gimana lagi?" kataku meminta maaf. "Saking lapernya, ku aja sampe nggak sadar kalo kita berhenti di depan hotel mesum i-tu…ups!". Sadar akan kesalahanku, aku langsung menghentikan ucapanku, berharap Helda tidak menyadarinya. Sayangnya, harapan hanyalah sebuah harapan.

"Um Gir, bisa ulangin lagi nggak omongan kamu barusan?" tanya Helda penasaran. "Ups…?" responku berpura-pura. "Ah, maksudku bukan yang itu, tapi yang sebelumnya lagi." jelas Helda sambil tersenyum kecil. "Eerr…. uumm….." aku hanya bisa menggumam karena kehabisan ide. 'I guess it's a checkmate for you.' ejek Shadow memperburuk suasana hatiku. 'Thank you, Captain Obvious.' jawabku bernada sarkasme.

Aku masih terus terdiam, antara mencari ide dan memikirkan kejadian terburuk yang akan menimpaku sebentar lagi. Waktu empat detik yang kugunakan untuk berpikir serasa empat jam lamanya. Tetapi tidak ada satu pemikiran yang bisa menyelamatkanku dari situasi ini.

"Oh iya, Gir…." suara Helda membuatku makin panik. "AH! I-iya!" responku mendadak. "Berhubung kamu kayaknya lagi kebingungan. Aku boleh minta kunci motor kamu nggak?" tanya Helda mendekatiku. "Um, i-iya…. boleh kok…." kataku segera mengeluarkan kunci motor dari kantong celanaku.

"Emangnya mau buat apaan?" tanyaku polos. "Yah…. karena kamu lagi bingung, aku mau nyetir motornya sampe ke rumahku, boleh 'kan?" jelas Helda masih tersenyum. "Oh…. wah, makasih ya Da! Kamu baik banget mau gantiin ku yang lagi stress berat begini!" kataku sambil berjalan mendekat, mengira kalau Helda sudah tidak marah.

*Dhuuaakk* Tiba-tiba aku merasakan sebuah benda padat menampar pipi kiriku. Saat aku sadar, aku sudah mendarat di tanah yang becek akibat hujan tadi.

"Apa-apaan itu barusan?" teriakku kesakitan. "Ini? Cuma tas tanganku kok." jawab Helda memperlihatkan tas miliknya. "Dipukul pake tas kayak gitu sih nggak bakal sesakit ini? Emang kamu bawa apa aja sih?" protesku memegangi pipiku yang terasa bengkak. "Oh... aku baru inget! Kebetulan hari ini aku abis beli parfum dari temen di kampus. Dan aku belinya lumayan banyak, soalnya temen-temenku pada nitip sih." jelas Helda pura-pura lupa.

"Heck, nggak mungkin kamu bisa lupa bawa botol sebanyak itu di dalam tasmu!" komentarku tidak mau menerima penjelasannya barusan. "Oh, ya? Lalu gimana dengan seseorang yang dengan santainya berhenti di deket hotel murahan cuma buat berteduh dari hujan sambil makan kacang hijau dan ngobrol hal-hal nggak penting dengan penjualnya?" balas Helda akhirnya mengungkapkan kekesalannya.

"Nggak penting dari mana? Aku tuh udah ngumpulin informasi soal Apath-*Dhuakk* iss! Aarrgghh!" belum selesai aku berbicara, Helda kembali menimpa kepalaku dengan tasnya. "Jangan coba-coba cari alasan!" kata Helda sebelum menyalakan motorku dan langsung tancap gas meninggalkanku sendirian.

"Hoiii, waaiitt!" teriakku sia-sia berusaha memanggilnya. Kini diriku berada dalam posisi terburuk sepanjang hari ini. Yeah, ini cuma salah satu dari sekian banyak momen burukku yang pernah ku alami. Setidaknya momen ini masuk ke dalam 19 besar momen terburuk dalam hidupku.

'So, what are you gonna do? Chase after her?' tanya Shadow. 'Nah, ku bukan orang berpikiran dangkal yang mengejar motor cuma dengan berlari. Semoga aja motorku belum dibuang atau dijual pas kita sampe di deket rumahnya.' pikirku sambil menengok ke belakang, menyadari bahwa ada beberapa orang yang memperhatikanku sejak tadi. Aku pun menghiraukan mereka dan menghentikan sebuah Angkot yang melintas.

Saat aku akan menaiki Angkot tersebut, para penumpang yang berada di dalam terheran-heran melihat keadaanku yang kotor dan basah. "Kenapa Pak? Kok bajunya kotor kayak gitu? Abis berantem sama 'pacar satu malam'nya ya?" tanya supir Angkot tersebut. Aku hanya diam dan berdiri di pinggir pintu samping Angkot itu, lalu berkata: "Jangan panggil ku pake 'Pak'! Yang penting sekarang, KEJAR MOTOR ITU!" jelasku naik darah.

"Tapi Pak, ini Angkot, bukan kuda balap. Bapak duduk aja di deket pintu kalau mau cepet-cepet keluar." jelas sang supir. "Oh, ya, maaf…." kataku baru sadar sambil duduk di kursi dekat pintu. "Nah, sekarang cepat jalan dan jangan panggil ku 'Pak' lagi!" kataku mengingatkannya.


Setibanya Angkot yang kutumpangi di depan gang yang menuju rumah Helda, aku langsung melompat turun saat melihat motorku dalam keadaan baik-baik saja di pinggir jalan. "Ahh, motorku! Untung kamu nggak dimalingin orang!" kataku lega sambil memeluk motorku.

"Hoi! Cuma gara-gara diputusin sama pacar semalam aja sampe stress gitu pake meluk motor segala! Seneng sih boleh-boleh aja, tapi bayar dulu dong!" teriak supir Angkot menyadarkanku. "Ah, iya…. saya kesenengan sih…. sampe lupa bayar deh." kataku sambil membayarnya.

"Apa-apaan ini? Masa cuma seribu? Emangnya anak SD, bayar angkot cuma seribu! Sadar diri dong Pak!" protes si supir. "Iya, iya…. rewel amat sih jadi supir. Nih, ku tambahin dua ribu!" kataku member uang lagi kepadanya. "Nah, gitu dong Pak." kata supir itu kembali mengemudikan angkotnya. "Hey, udah tiga kali ku bilang, jangan panggil ku 'PAK'!" teriakku kesal.

Aku kembali memusatkan perhatianku kepada motorku. 'Oh iya, kuncinya di mana ya?' pikirku sambil mencari-cari di tanah sekitar motorku. "Hei Gir!" teriak seseorang dari seberang jalan. Aku pun segera menoleh ke arah sumber suara tersebut. *plakk* Mukaku kembali menjadi sasaran lempar Helda, kali ini kunci motorku yang menjadi senjatanya. Untungnya tidak ada bagian yang mengenai mataku.

"Ouuww…. thanks, Da." kataku tetap berterima kasih meskipun kesakitan. Helda pun segera berjalan memasuki gang, meninggalkanku tanpa sepatah kata. 'Oh well, setidaknya ku masih bisa pulang dengan motorku.' Pikirku berusaha positif.

Aku pun mulai menyalakan motorku. Anehnya, mesin motorku tidak mau menyala. Aku terus berusaha men-starter motorku berkali-kali. 'The Heck? Perasaan tadi lancar-lancar aja deh….' pikirku kesal.

"Oh, aku lupa bilang…." teriak Helda yang ternyata belum pergi jauh. "Bensin motor kamu abis tuh, makanya aku tinggalin di situ." jelasnya singkat lalu kembali berjalan.

'So….'

'I know, Shadow. You don't have to say it.'

'Kejadian ini sekarang masuk ke dalam 13 besar kejadian terburuk dalam hidupku.'

Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Meskipun agak malas, aku tetap membaca sms yang baru masuk ke inbox-ku.

"Hey Gir, udah tau belum? Ada manga keren bru lho! Main Chara cowoknya bnr2 'Un'lucky Bastard. Soalnya dia gak pny skill kyk yg lain, tp dia bs lwn org terkuat no.1 di manga itu. Kalo dipikir2, mirip lu deh Gir :v" Arif.

"Revisi, kejadian hari ini termasuk ke dalam 7 besar kejadian terburuk dalam hidupku." kataku mulai mendorong motorku.


Rejoice, sang author ter"Fail"er telah kembali!

Nope, I won't make any excuse for the long update. Hanya saja alur kehidupan ku sekarang sudah berubah sejak lulus kuliah. Jadi jangan harap ku bakal update lagi dalam waktu dekat.

Dan karena waktu ku buat ngetik hari ini telalu singkat, ku nggak bisa kasih Reviewer Responds di chapter ini. Mungkin di chapter berikutnya baru ku kasih (atau kalau ada yang ingin banget ku jawab, akan ku jawab di review).

Anyways, semoga kalian sadar maksud dari judul chapter ini. Seperti biasa, itu cuma plesetan kok. Meskipun maksud dari plesetan ini nggak beda jauh sama judulnya.

Oh well, sudah waktunya ku kembali ke dalam kesibukan.

Enjoy your life! (terutama yang udah merasa bebas)