Author : Disini saia memasukkan NPC cameo, namanya Ishido. Kiriman dari seorang reader, yah karena dia kirimnya kurang lengkap jadi saia jadikan dia NPC cameo, semoga berkenan (meski saia gak tau dia baca atau tidak). Makasih buat ide hint antara para tokoh heheheh, saia akan berusaha memunculkannya, dan untuk ide antara OC dan OC akan saia usahakan memberi titik temunya, yang ada ide lagi jangan sungkan untuk share. Dichapter ini mungkin akan diperjelas sedikit mengenai perasaan Queen Marie terhadap Joker dan Shimizu terhadap Sasuke. Juga mungkin menjelaskan perasaan Joker sendiri pada Sakura. Oh, ya nama tempat Blue island itu ide dari seseorang yang sempat mengirimkan nama tempat bernama Blue sand, makasih atas kirimannya. Selamat membaca, enjoy this chapter.
Warning : T rate semi M (for complex theme), chara death, bahasa labil, kehadiran OC.
Genres : Action/Adventure/Fantasy/Friendship/Mystery/Tragedy/Humor/Romance/Angst/Crime.
Pairing : Hint only.
Disclaimer : Belong to Masashi Kishimoto (except for OC).
This story belong to me and Riku.
Neverland
Chapter 35
(Kisame, The Warrior)
.
.
Warrior Kingdom…
.
.
"Kalian saja yang masuk ke dalam, gue di luar aja nunggu." Kata Hery yang lebih memilih untuk menunggu di luar.
"Gue juga sama kayak Hery." Reika juga ikut memutuskan untuk menunggu di luar.
"Umm, kayaknya gue juga disini aja deh. Gue juga gak terbiasa sama suasana formalitas di dalam." Timpal Nyx yang merasa tidak enak kalau harus ikut masuk ke dalam, suasana di dalam hanya membuatnya grogi saja.
"Kalau begitu kami masuk dulu." Shun bersama dengan yang lainnya masuk ke dalam istana, menyisakan Hery, Reika dan Nyx di luar.
"Kira-kira seperti apa ya tugasnya nanti di misi berikutnya? Gue udah gak sabaran!" tampak Reika sangat bersemangat sekali, dia benar-benar sudah tidak sabar untuk menunggu.
"Apapun itu gue siap menjalankannya." Balas Hery sambil setengah menyeringai. Saat ini apapun yang ditugaskan dia siap menjalankannya tanpa keraguan sedikitpun.
.
.
"Jadi kalian kemari untuk mencari informasi mengenai lost child?" tanya sang Raja pemimpin dari Warrior Kingdom, rambut hitam panjangnya tampak sangat kontras dengan wajahnya yang beribawa.
"Benar, kami harus menyelesaikan misi ini sampai selesai, kami sangat membutuhkan bantuanmu." Balas Shun berusaha berhati-hati dalam bicara agar tidak membuat sang Raja marah.
"Kelihatannya kalian serius sekali, baiklah akan kukatakan karena hari ini aku sangat senang sekali! Hahahahaha!" sang Raja sepertinya sedang bahagia dan memutuskan untuk memberitahu informasi mengenai lost child, namun sayang saat Raja hendak bercerita, tiba-tiba muncul salah seorang pengawal Raja yang masuk dengan tergesa dengan wajah pucat.
"Yang mulia! Ada seorang pengacau yang masuk istana! Dia menculik tuan putri, dan sekarang dia meminta agar anda keluar menemuinya!" pengawal itu memberikan laporan mengenai peristiwa yang sedang terjadi di istananya.
"Kurang ajar! Berani sekali orang itu membuat kekacauan disini!" sontak sang Raja langsung marah sambil memukul pegangan kursi kebesarannya, dia berdiri dengan marah. "Maafkan saya, tampaknya terjadi hal di luar dugaan disini, saya permisi dulu." Dengan tergesa sang Raja pergi ke tempat kejadian bersama pengawalnya.
"Bagaimana ini?" tanya Taka kebingungan sambil menatap teman-temannya yang lain.
"Kita lihat saja apa yang terjadi." Balas Shun yang akhirnya mereka semua pergi mengikuti sang Raja untuk melihat kejadian apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Somewhere else in Neverland...
.
.
"Bagaimana keadaanmu Joker?" tanya Orochimaru yang berada di tempat milik Joker. Dia menghampiri sosok NPC itu yang masih tertidur. Tak ada jawaban dari NPC itu. Orochimaru berjalan lebih mendekat lagi, sampai dia berdiri tepat di sisi Joker. Topeng itu menarik perhatiannya, perlahan dia meraih topeng itu.
"Apa yang kau lakukan?" reflek Joker terbangun dan berusaha untuk kembali mengambil topeng yang kini berada di tangan Orochimaru. "Kembalikan padaku atau… " Joker yang kesal meminta Orochimaru mengembalikan topeng itu kepadanya. Di dalam kegelapan seperti itu, wajah Joker tidak terlihat begitu jelas, tampak samar oleh pencahayaan yang sangat minim di ruangan itu.
"Heh… Jangan marah begitu padaku, aku hanya merasa ganjil dengan topeng ini, seolah kau itu benar-benar sudah menjadi satu dengan Neverland ini." Orochimaru segera mengembalikan topeng itu pada Joker, dapat terlihat seringai kecil yang muncul disudut bibirnya.
"Jangan berbasa-basi, apa alasanmu datang kemari?" tanya Joker yang memasang kembali topeng tersebut.
"Tampaknya Sakura memutuskan untuk menemuimu kembali, apa yang akan kau lakukan Joker?" tanya Orochimaru, dia ingin tau sekali apa tindakan NPC itu setelah mengetahui kalau Sakura datang ke Neverland menjemputnya.
"Kalau dia memang datang untuk menjemputku, aku akan kembali mendampinginya." Balas Joker yang sepertinya memang benar-benar menunggu Sakura datang untuknya.
"Satu pertanyaan lagi, apa kau menyukai gadis itu?" satu pertanyaan yang sepertinya berhasil membuat NPC itu terdiam cukup lama.
"Perasaan seperti tidak diperbolehkan dan itu hanya akan menghambat tujuanku saja." Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Joker menjawab juga pertanyaan dari Orochimaru itu.
"Jadi kau akan melakukan cara apapun untuk menjalankan tujuanmu? Sekalipun harus memanfaatkan Sakura ataupun menyakitinya kelak?" tanya Orochimaru lagi yang sepertinya sedang menguji kebulatan niat Joker untuk melaksanakan semua rencananya.
"That's right." Jawab Joker dengan datar.
"Baguslah, jangan sampai perasaan konyol seperti itu merusak rencana kita." Balas Orochimaru yang sepertinya merasa puas dengan jawaban Joker barusan, dia pergi meninggalkan ruangan itu.
"But this silly feeling never can change… " Joker berbisik dengan lemah pada dirinya sendiri sambil menatap ke luar jendela.
Inside Warrior Kingdom...
.
.
"Dasar berandal! Lepaskan tuan putri!" salah satu pengawal sudah mengarahkan pedangnya ke arah seorang pemuda berambut jabrik abu-abu. Pemuda itu sekarang sedang menawan sang putri.
"Apa yang kau lakukan Ishido! Lepaskan putriku!" kata sang Raja yang tiba disana dan meminta pemuda bernama Ishido itu untuk melepaskan putrinya.
"Dimana Kisame-senpai? Kalian membunuhnya kan? Aku kemari minta keadilan!" kata Ishido sambil menyebut-nyebut nama Kisame.
"Tenanglah Ishido! Masalah itu sedang dalam penyelidikan dan rencananya kami akan menyelidikinya sekarang!" balas sang Raja sambil mencoba mendekati Ishido secara pelan-pelan. "Jadi turunkan senjatamu dan lepaskan putriku." Sang Raja sekarang mulai membujuk Ishido untuk tenang.
"Kalau begitu, sertakan aku dalam penyelidikan ini!" Ishido yang mendengar Raja akan melakukan penyelidikan segera memaksa untuk ikut menyelidiki.
"Dengarkan aku Ishido, orang-orang ini akan pergi ke Blue island untuk mencari jejak Kisame. Kau bisa ikut dengan mereka." Kata sang Raja sambil menunjuk rombongan Shun yang masih bingung dengan situasi yang terjadi dan semakin dibuat keheranan dengan kondisi yang akhirnya malah melibatkan mereka semua.
"Dengan segala hormat, yang mulia. Apa maksud dari perkataan anda? Kami sama sekali masih belum mengerti apa yang terjadi disini? Dan kami kemari bukan untuk melakukan penyelidikan, tapi mencari infromasi mengenai lost child." Balas Shun yang sepertinya tidak rela menjadi kambing hitam sang Raja, selain itu dia tidak mau mengulur waktu dengan terlibat ke dalam masalah yang sama sekali bukan tujuan utama mereka.
"Kalian bilang sedang mencari lost child bukan? Kisame adalah lost child yang kalian cari. Sekarang terserah, apa kalian mau menerima tugas ini atau tidak." Ternyata Kisame merupakan lost child yang sedang dicari Shun dan kawan-kawan.
"Tentu saja, kami akan menerima tugas ini!" jawab Taka dengan cepat, tentu saja mereka tak akan menolaknya.
"Bagus kalau begitu. Kisame adalah merupakan Warrior kebanggaan yang kerajaan ini miliki, tapi dia menghilang saat menyelidiki kasus hilangnya kapal-kapal yang melewati Blue island. Kalian bisa pergi ke sana kalau pergi ke Blue continent dengan menggunakan kapal yang ada di tempat ini." Sang Raja menjelaskan kemana mereka harus pergi mencari Warrior bernama Kisame ini. "Aku akan menyediakan kapal untuk kalian, dan kalau kalian sudah siap berangkat temui pengawalku yang akan menunggu di port." Sambungnya lagi sambil memanggil salah seorang pengawal dan menyuruh pengawal itu untuk menunggu di port.
"Kalau begitu kami akan memberitahu hal ini pada teman-teman kami yang berada di luar, setelah itu kami akan berangkat. Terima kasih atas bantuannya." Balas Shun yang kemudian pergi keluar untuk memberitahu tujuan mereka selanjutnya kepada Reika, Hery dan Nyx yang sedang menunggu di luar. Tentunya mereka pergi bersama dengan Ishido yang juga ikut bersama mereka.
Notice : Kisame, The Warrior.
.
.
"Jadi kita akan naik kapal lagi?" tampak Nyx langsung tidak bersemangat mendengar kalau mereka akan melakukan perjalanan laut, tentu saja dia tidak senang, gadis ini mabuk laut. Berbeda dengan Reika dan Hery yang langsung bersemangat.
"Dari nama tempatnya saja terdengar indah! Queen Marie pasti menyukai tempat seperti itu, ada baiknya aku memanggilnya agar dia juga bisa menikmati perjalanan ini!" dengan senyum mengembang Yumiko memanggil Queen Marie yang sudah resmi menjadi NPC pendampingnya. Dia sangat yakin kalau Queen Marie pasti akan menyukai pemandangan laut lepas dan langit biru yang membentang.
"Ada apa Yumiko?" muncul sosok Queen Marie di hadapan Yumiko.
"Tidak, hanya saja kami akan melakukan perjalanan ke Blue island, aku hanya ingin kau ikut mendampingiku… Kau tidak keberatan, kan? Queen Marie?" Yumiko menggeleng cepat sembari tersenyum manis. Dia hanya ingin Queen Marie ikut mendampinginya saja.
"Ah, Blue island ya! Tentu saja Yumiko, aku senang sekali!" balas Queen Marie dengan ceria.
"Kalian bisa melakukan persiapan dulu untuk perjalanan kita, kalau sudah selesai kita bertemu di port." Kata Shun yang kemudian pergi duluan ke port sambil memberikan waktu kepada teman-temannya, siapa tau mereka ingin membeli sesuatu untuk persiapan mereka nanti.
.
~o0o~
.
"Jiraiya-sensei… Sebenarnya apa kau mengetahui apa yang sedang terjadi disini?" tanya Naruto mulai membahas kejadian yang sedang mereka alami saat ini.
"Aku juga tidak begitu mengerti, tapi mungkin ada kaitannya dengan Joker." Jawab Jiraiya yang membuat Naruto sedikit kecewa.
"Ah, payah! Masa sensei tidak tau apa-apa? Lalu bagaimana dengan Orochimaru dan Tsunade-sensei?" balas Naruto mengutarakan kekecewaannya. Lalu dia menanyakan bagaimana dengan Orochimaru atau Tsunade, apa kedua orang itu tau sesuatu.
"Kalau dilihat dari gerak-geriknya Orochimaru seperti berkaitan dengan Joker." Shikamaru berbicara sambil mulai menganalisa.
"Jiraiya-sensei… Kau admin bukan? Apakah… Game master itu benar-benar Sasuke?" tanya Sakura yang masih memikirkan Sasuke yang ternyata merupakan sosok Game master.
"Selama ini tidak ada satupun yang tau siapa sebenarnya sosok Game master, karena kami hanya berkomunikasi lewat email ataupun chat khusus. Game master hanya bertindak bila ada laporan, identitas aslinya pun tidak diketahui oleh banyak orang. Tapi belakangan sosok Game master seakan menghilang, banyak kasus di dalam game yang tidak dia selesaikan. Tak kusangka kalau Sasuke adalah Game master, hal itu di luar dugaan." Jawab Jiraiya sambil menjelaskan sosok Game master yang dia kenal selama ini juga keterkejutannya mengetahui Sasuke adalah Game master, ada suatu keraguan dari nada suara Jiraiya.
"Menghilang? Maksudnya menghilang itu, bagaimana sensei?" tanya Shikamaru yang mulai curiga, dia merasa ada yang janggal dari cerita Jiraiya.
"Yah, maksudnya tidak aktif lagi dalam mengurusi game. Pada awalnya Game master cukup aktif dalam mengurusi berbagai macam bug yang ada di game, hanya saja saat Gaara meghilang sosok Game master seperti tidak aktif lagi." Ternyata yang dimaksud Jiraiya dengan menghilang itu adalah tidak aktif lagi.
"Kalau begitu akan jadi aneh sekali kalau Sasuke adalah Game master. Karena sosok Game master mulai menghilang saat Gaara menghilang, bukankah saat itu Sasuke sudah menghilang duluan, jadi tak mungkin dia adalah Game master." Balas Shikamaru yang ternyata firasatnya benar, kalau memang ada yang tidak beres. Menghilangnya sosok Game master yang diceritakan Jiraiya tidak ada sinkronisasinya sama sekali kalau Game master adalah Sasuke, kecuali Sasuke berpura-pura menjadi Game master. Yang jadi pertanyaan bagaimana dia bisa mendapat semua akses di tower tempat base milik Game master.
"Itu benar sekali, Sasuke bukanlah Game master, aku yakin itu karena dilihat dari menghilangnya Game master dan Sasuke, memiliki waktu yang berbeda. Yang jadi permasalahan, bagaimana mungkin dia bisa bebas keluar masuk tower milik Game master?" sambar Neji yang ternyata juga memikirkan hal yang sama seperti Shikamaru.
"Apa mungkin… Game master yang asli berkerja sama dengan Sasuke dan dia yang memberikan akses ke Sasuke?" timpal Sai yang juga mengikuti alur pembicaraan Shikamaru dan Neji.
"Ah! Kalian semua sedang bicara apa sih? Gue gak ngerti!" teriak Naruto frustasi, dia sama sekali tidak mengerti teman-temannya itu sedang membicarakan apa. Kepalanya rasanya mau pecah mengikuti pembicaraan mereka.
"Berisik! Mending lo diem aja kalau gak ngerti!" samber Kiba nyuruh Naruto untuk diam.
"Lo bilang apa barusan? Sok tau! Padahal lo sendiri pasti juga gak ngerti, kan?" dengus Naruto langsung sewot merasa diremehkan oleh Kiba.
"Gue itu gak sebodoh elo, Naruto! Tentu gue tau mereka lagi bicara apa! Lo aja yang lamban, dasar payah!" balas Kiba yang malah semakin menjadi mengejek Naruto, membuat pemuda berambut pirang jabrik itu kesal setengah mati. Rasanya ingin sekali dia melahap Kiba hidup-hidup.
"Sial!" desis Naruto sambil menahan niatnya untuk menelan Kiba bulat-bulat.
"Na-Naruto… Ki-Kiba, ka-kalian jangan bertengkar... " Hinata berusaha melerai keduanya yang saat ini tengah memasang deathglare masing-masing. Tapi percuma, suara Hinata yang kecil itu tak terdengar oleh mereka yang akhirnya sibuk adu mulut.
PLAK!
PLAK!
Sebuah kipas besar sukses mendarat di kepala mereka masing-masing, dan tentu saja sang pemilik kipas tak lain adalah Temari yang merasa jengah dengan pertengkaran kedua biang ribut itu. Sungguh dia heran bagaimana bisa Naruto dan Kiba bisa bersahabat yang tiap hari kerjaannya hampir selalu perang mulut. Kalau ada penobatan dengan gelar 'persahabatan terunik', mungkin merekalah yang akan memenangkannya.
"Kalau kalian berdua masih saja ribut, akan ku kipas kalian sampai ke ujung Neverland!" ancam Temari dengan galak sambil mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan kipas besarnya.
"Cih… !" desis keduanya dengan kesal sambil memalingkan wajah.
"Jadi kita semua sepakat memutuskan, kalau Sasuke bukanlah Game master yang sebenarnya, dan kemungkinan besar Game master asli yang berada di balik semua ini?" tanya Jiraiya sambil menyimpulkan pendapat yang sedang mereka bahas saat ini. Tampak semua mengangguk, dengan kata lain untuk sementara mereka berspekulasi hal yang sama dan satu suara.
'Tapi tetap saja aku merasa ada yang aneh… ' batin Shikamaru yang sepertinya tidak puas dengan kesimpulan barusan, tapi Shikamaru memutuskan untuk diam dulu sementara karena dia sendiri masih belum yakin dengan apa yang dia pikirkan.
"Gak sia-sia deh perjalanan kali ini! Bener-bener lautnya biru banget!" seru Yumiko sambil memandangi lautan dari atas geladak kapal bersama dengan Reika dan Hery yang berdiri sejajar dengannya.
"Sayangnya gak bawa kamera!" Reika masih sempet-sempetnya berpikir mau foto-foto.
"Menurut di dalam cerita game yang pernah gue baca, Blue island memiliki wilayah laut yang paling biru diantara wilayah lainnya, jadi jangan heran laut disini indah banget." Sambar Hery menjelaskan sedikit mengenai Blue island.
"Baca juga ya? Gue kira lo gak tertarik buat baca-baca mengenai kota-kota yang ada di game!" celetuk Reika sambil menatap tatapan –tak kusangka- kepada Hery.
"Yah, apa boleh buat. Mau gak mau gue harus rajin baca-baca mengenai wilayah kota-kota di Neverland, soalnya gue punya partner tukang nyasar! Gak dimana-mana nyasar mulu kerjaannya!" bales Hery sambil menyeringai, mengingat selama dalam permainan dia sering mencari-cari Reika yang suka menghilang gak jelas.
"Si-siapa yang nyasar? Gue gak nyasar tau, cuma jalan-jalan keliling kota sekalian cari toko!" bela Reika dengan wajah sedikit merah, merasa aibnya dibongkar sama Hery di depan cewek.
"Abis itu lo nyasar! Hahahahah! Percaya gak, Yumiko? Masa Reika pernah nyasar di dalam suatu desa yang tidak terlalu luas! Konyol banget kan? Masa ngilang di dalam desa yang kecil begitu! Hahahahaha!" Hery semakin menjadi mentertawakan Reika dan membuka aib teman seperjuangannya itu. Yumiko tertawa kecil melihat kelakuan Hery dan Reika yang seperti anak kecil.
"Ah, reseh lo! Udah, ah. Gue cabut aja!" Reika yang kesel akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kapal, dari pada dia terus jadi bulan-bulanan Hery, mending dia menghindar.
"Yah, kabur dia hahaha... " Hery masih sedikit mentertawakan Reika yang berbalik ke arahnya sambil mengacungkan jari tengahnya.
"Tak kusangka orang seperti Reika ternyata sering nyasar juga… " balas Yumiko yang ikut geleng-geleng kepala.
"Yumiko… Rasanya Queen Marie butuh teman." Hery menyenggol bahu Yumiko sambil menunjuk Yumiko yang berada di ujung sisi kapal sendirian. Yumiko mengerti maksud Hery, dengan cepat dia menghampiri Queen Marie yang tengah sendirian itu.
.
.
"Pemandangannya indah yah, Queen Marie!" kata Yumiko sambil tersenyum ceria ke arah Queen Marie yang seperti setengah melamun.
"Sangat indah… Terima kasih, kau sudah mengajakku… " balas Queen Marie dengan senyuman kecil yang tampak agak dia paksakan.
"Sedang memikirkan Joker ya?" tanya Yumiko menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan Queen Marie saat ini. Dan dilihat dari reaksi Queen Marie, sepertinya tebakan Yumiko tepat sasaran.
"Aku sangat mencemaskan keadaannya… Ingin sekali aku menyusulnya… Tapi aku tau, yang ingin ditemui Joker bukan aku, tapi… Sakura." Queen Marie berkata dengan miris, dapat terdengar sedikit isakan pada saat dia menyebut nama Sakura.
"Queen Marie… Jangan putus asa begitu! Kalian kan NPC pair!" Yumiko yang mendengarnya jadi ikut sedih, dia berusaha untuk menghibur sang Ratu cantik itu.
"Meskipun kami NPC pair, tapi itu hanya latar belakang kami saja di dalam game... Aku merasa sudah kehilangan Joker sejak Sakura datang… " jawab Queen Marie yang merasa sangat takut kehilangan Joker. Meskipun hanya latar belakang di dalam game, dia sungguh-sungguh terhadap Joker.
"Dia… Dia memang seperti sedang menunggu seseorang… Menanti dan terus menanti, meskipun aku berusaha keras untuk masuk dan merebut perhatiannya tapi dia tetap tidak berubah… Aku tau sampai kapanpun dia tidak akan bisa membalas perasaanku… Rasanya aku ingin program pair ini dihilangkan tapi sejak mengetahuinya aku tak ingin kehilangan dirinya… Meski harus sakit mengetahui dia memikirkan orang lain, aku tidak peduli… " untuk pertama kalinya Queen Marie berbicara panjang lebar mengenai apa yang dia rasakan pada Joker dan menceritakannya pada orang lain. Yumiko tidak bisa berkomentar apa-apa, karena dia sendiri bingung. Di lain sisi dia merasa kasihan pada Queen Marie, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Sakura ataupun Joker. Bukankah rasa suka itu muncul begitu saja dan tak bisa disalahkan.
"Apa kau tidak pernah mengatakan yang kau rasakan padanya?" tanya Yumiko mencoba memberi dorongan pada Queen Marie.
"Tentu pernah… Tapi dia tidak membalasnya… Selain itu dia pernah bilang kalau perasaannya terhadap orang yang dia tunggu itu tak akan berubah meskipun dia harus menunggu selama ratusan tahun sekalipun… Yang bisa kulakukan saat ini mendukungnya dan tetap berada dipihaknya, sampai kapanpun aku akan tetap berada dipihaknya meskipun… Meskipun dunia menjadi musuhnya." Balas Queen Marie dengan mantap, terlihat sekali perasaannya sangat besar untuk Joker, meski NPC itu sama sekali tidak melihatnya sama sekali.
.
~o0o~
.
"Kenapa harus aku ikut menjaga benda itu? Bukankah kau sendiri sudah cukup?" tanya Shin yang saat itu sudah berada di ruangan Sasuke bersama dengan Shimizu.
"Ini adalah permintaan Sasuke, kau harus mematuhinya." Balas Shimizu dengan datar.
"Aku bukan kau! Kepentingan gue disini cuma karena Gaara!" kata Shin yang sepertinya tidak rela kalau harus diminta untuk tunduk dan patuh pada Sasuke begitu saja. Ada perasaan yang mengganjal dihatinya, Sasuke agak berbeda entah dimananya, tapi yang jelas dia merasa ada yang tidak beres.
"Belajarlah untuk berkerjasama." Jawab Shimizu yang masih tenang menghadapi sikap Shin yang seenaknya.
"Lalu, kemana Sasuke?" tanya Shin sambil melihat keadaan ruangan yang sepertinya sepi.
"Dia pergi, aku tidak tau kemana. Makanya dia meminta kau dan aku untuk menjaga Pandora box." Balas Shimizu yang kemudian duduk tak jauh dari Shin.
"Shimizu, apa lo gak ngerasa ada yang aneh sama Sasuke?" Shin mulai membuka pembicaraan, siapa tau gadis itu juga merasakan keanehan yang sama seperti yang dia rasakan.
"Bagiku, Sasuke adalah Sasuke. Dan saat ini dia sedang membutuhkan bantuan kita semua, kita sebagai temannya harus membantu Sasuke." Jawab Shimizu yang sepertinya memiliki pendirian yang tak akan mudah digoyahkan begitu saja, sekali dia mempercayai Sasuke, dia akan percaya selamanya.
"Dan, lo menggunakan kata 'teman' untuk membela Sasuke, sementara Sasuke berniat untuk mencelakai Sakura?" tanya Shin heran pada Shimizu yang masih bisa membawa kata 'teman' sedangkan dia sendiri pernah berusaha untuk membunuh Sakura yang notabene adalah temannya sendiri.
"Apapun yang akan dilakukan Sasuke, aku akan selalu mendukungnya. Tidak peduli meski itu berarti aku harus membunuh temanku sendiri, selain itu aku tidak pernah menyukai Sakura." Jawab Shimizu mengutarakan perasaannya, sepertinya gadis ini memang sudah tidak menyukai Sakura sejak awal. "Bukankah kau juga sama, Shin? Kau akan melakukan apapun untuk menyelamatkan Gaara? Lihat dirimu sekarang, kau mengkhianati teman-temanmu sendiri." Sambung Shimizu lagi sambil mengingatkan Shin, kalau mereka berdua berada di dalam posisi yang sama.
"Gue gak sama kayak lo... Karena gue gak akan pernah melukai teman-teman gue sendiri, karena Gaara pasti gak akan suka sama tindakan itu." Balas Shin merasa mendapat tamparan keras pada mentalnya setelah mendengar ucapan Shimizu, gadis itu benar. Demi menolong Gaara dia rela untuk mengkhianati Sakura dan yang lainnya, tapi dia sama sekali tidak pernah berencana untuk melukai teman-temannya itu. Dia teringat kembali pada apa yang dia lakukan pada Shun dan Rei. Shin mendesah gelisah setelah mengingat kejadian itu.
"Kau mau kemana?" tanya Shimizu begitu dilihatnya pemuda itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.
"Gue malas disini, mau keluar sebentar. Ayo Aoki kita keluar." Balas Shun dengan cepat, dia dan Aoki segera pergi meninggalkan ruangan itu, membiarkan Shimizu sendirian disana.
Apakah benar kalau Sasuke bukanlah Game master yang sebenarnya? Dan apa yang dipikirkan Shikamaru? Ada kaitan apa pemuda bernama Ishido itu dengan Kisame?.
TBC ...
Author : Rei emang hobi kabur, biarkan saja dia kabur entah kemana, masih ada Shun yang bisa membantu.
Shun : Kalau ketemu Rei di tengah jalan gue cekek rame-rame.
Rei : *Gak jadi balik, kabur makin jauh*.
Author : Wah Sunny-san bikin saia penasaran aja! Apanya yang sudah terbukti? Malah saia yang penasaran. Mungkin dengan sedikit hint dichapter ini readers bisa kembali menduga mengenai Game master hehehehe.
Dichapter ini saia dan Riku sepakat memunculkan Kisame, karena dia itu sangat patriot (menurut kami), kalau Hidan sih, terlalu sesat untuk menjadi seorang warrior *ditebas Hidan*. Yang mau kirim ide, saran, pendapat atau sekedar kritik silahkan, selama masih berhubungan dengan cerita. Yang mau tanya-tanya juga silahkan bisa review langsung ataupun lewat PM, akan saia usahakan untuk menjawabnya. Selamat membaca dan maaf bila banyak kesalahan dan kekurangan di fic ini.
.
.
Happy read and enjoy your day!.
