"Itu ada di ruang penyimpanan kami," ulang Derek. "Ada di dalam toples salah satu rak di sana."

Langsung saja aku mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celanaku, biar aku bisa langsung menelepon Scott.

Aku menyerngit ketika ponsel Scott tidak bisa dihubungi. Setelah itu aku berniat menelepon Stiles. Tapi sebelum aku menelepon pemuda itu, aku baru teringat satu hal: selama PSAT, ponsel harus dinonaktifkan dan disimpan oleh pengawas. Sial, pantas saja aku tidak bisa menghubungi kakakku!

Lalu kupikir, kalau peserta PSAT, alias para murid tidak bisa dihubungi ponselnya, berarti guru-guru masih memegang ponsel masing-masing, kan? Segera aku mencoba menghubungi ponsel mamanya Lydia, karena seingatku dia sudah jadi guru biologi di sekolah kami. Tidak bisa terhubung. Sambil mengerang kesal kini aku mencoba menelepon Mr Yukimura, sama juga, tidak terhubung.

"Tidak ada yang terhubung?" tanya Derek. Aku mengangguk.

"Aku tidak heran—itu salah satu prosedur karantina oleh CDC. Kita tidak akan bisa menghubungi telepon atau ponsel mereka yang ada di di dalam gedung. Mereka tidak akan dapat sinyal," kata mama.

"Lalu bagaimana kita bisa beritahu mereka?" tanyaku cemas.

Mama merogoh ponsel dalam sakunya. "Aku akan coba telepon papamu," kata mama sambil menekan layar ponselnya, kemudian menempelkannya ke telinga. "Oh, bagus, terhubung," ujar mama. "Raf? Dengar, kau harus memberitahu Scott, atau Stiles, bahwa ada penawarnya di ruang penyimpanan. Namanya Reishi. Itu ada di dalam toples salah satu rak. Raf, bilang pada mereka untuk mendapatkannya."

.

.

Disclaimer: Jeff Davis
Warning: Tidak menjanjikan Lime / Lemon yang baik, rated M hanya lebih kepada bahasa yang agak menjurus. Berusaha mengikuti alur canon. Agak Mary-sue. Seperti sinetron.

.

The Sister
Chapter 38

by Fei Mei

.

.

"Val, tenanglah," kata Derek untuk yang kesekian kalinya.

Aku mondar-mandir terus setelah mama menelepon papa. Aku kepikiran, apa papa sudah bertemu dengan Scott atau Stiles dan memberitahu soal Reishi? Atau mungkin mereka sedang mencari Reishi itu? Terlebih lagi, sudah sejauh apa dampak virus itu pada Scott? aku cemas bukan main.

Tadinya aku sudah ingin pergi ke sekolah, entahlah, mungkin untuk membantu mereka mengambilkan Reishi. Tapi Dr Deaton melarang, katanya aku bisa terinfeksi virus itu juga. Memang aku bukan manusia serigala, tapi bisa saja tubuhku bereaksi juga gara-gara terinfeksi.

"Aku cemas, bisakah kita menelepon papa lagi, tanya kalau ia sudah beritahu Scott atau Stiles?" tanyaku.

Mama menghela. "Baiklah," ujarnya. Diambilnya ponsel lagi dan mencoba menelepon. "Raf? Kau sudah beritahu mereka? Oh, baguslah." Ia menghembus nafas lega sambil memutus sambungan teleponnya. "Ia sudah bertemu Stiles dan memberitahunya. Sekarang mereka tinggal mencarinya di rak."

"Virusnya ada di dalam gedung sekolah, kan? Mungkin aku bisa ada diluarnya saja?" pintaku sambil agak memelas.

"Baiklah, aku akan ikut denganmu," kata Derek akhirnya.

Aku langsung tersenyum senang. Derek langsung menggandengku keluar dari ruangan. Satomi ternyata mengikuti kami keluar kamar.

"Kau yakin harus ke sekolah sekarang?" tanya Satomi. "Kalian berdua bisa kena virus itu juga."

"Bila itu terjadi, aku bisa langsung ke ruang penyimpanan dan mengambil Reishi itu dengan cepat," ujar Derek. "Lagipula, kalau tidak pergi sekarang, Val bisa tambah cemas dan badai akan terjadi."

Suara 'ting' berbunyi, tanda pintu lift terbuka. Setelah bunyi itu, aku mendengar suara ledakan pistol. Aku termegap saat melihat ke arah lift. Seorang perempuan berambut pirang sedang menodongkan pisol ke arah kami, berarti ialah yang menembakkan pistol itu.

Derek segera melompat ke depan satomi, lalu terjatuh ke samping. Aku tidak tahu ia terjatuh karena ia melompat atau karena kena tembakan pembunuh bayaran barusan. Segera kuhampiri Derek sembari Satomi maju mungkin untuk menyerang perempuan yang baru keluar dari lift itu.

"Derek, kau baik-baik saja?" bisikku sambil membantunya bangun.

"Ya, ya, aku tidak apa," jawab Derek.

"Kau kena tembak?" tanyaku.

"Aku baik-baik saja, Val," gumam Derek.

Lalu aku mendengar suara erangan. Aku menoleh melihat Satomi menyerang perempuan itu. Saat lawannya terjatuh, Satomi menyimpan senjatanya.

"Aku mungkin sudah belajar mengontrol emosiku," kata Satomi, "tapi aku masih tahu kapan harus menggunakannya."

.

.

Aku tidur dengan Derek di ranjangku, kami ada di apartemen ayah. Ayah tahu tentang ini, tentu saja, karena waktu aku dan Derek masuk ke apartemen ini, ayah ada di dalamnya.

Memang aku bukan manusia serigala atau makhluk supranatural apa pun yang bisa tahu mana yang bohong dan mana yang bukan, tapi kadang aku tidak memerlukan pendengaran super itu untuk tahu kalau ada sesuatu yang salah. Contohnya sekarang, saat aku terbangun di pelukan Derek, aku langsung penasaran kalau sebenarnya ada bekas tembakan di tubuhnya, tepatnya di daerah pinggangnya. Sepanjang tidur Derek memelukku, dan waktu aku terbangun sekarang aku bisa melihat posisi tidurnya mungkin agak tidak nyaman untuknya.

Jadi aku pelan-pelan menyingkirkan tangannya dari pinggangku agar aku bisa bangun. Kusingkapkan sedikit kaosnya, melihat memang ada luka bekas tembakan di sana dan tidka ada tanda-tanda penyembuhan ala manusia serigala. Aku menyerngit, walau Derek sudah bukan Alpha dan kemampuannya untuk sembuh tidak lagi secepat saat ia Alpha, harusnya luka tembak begini sudah sembuh sekarang, kan? Apa lagi ini, kan, tembakan kemarin malam ...

Tiba-tiba kedua tangan Derek menangkap tanganku. Aku agak kaget sendiri.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya lembut.

"Eh, aku hanya ingin tahu kalau kau bohong padaku semalam," ujarku pelan. "Dan kau memang bohong, kau sebenarnya tertembak."

Ia tersenyum lembut sambil berusaha bangun. "Aku baik-baik saja, Val."

"Kenapa kau belum sembuh?" tanyaku.

"Beberapa luka memang butuh waktu untuk bisa sembuh," jawabnya.

"Dan beberapa luka meninggalkan bekas. Tapi kau manusia serigala, Derek, harusnya itu tidak berlaku padamu," kataku. "Apa ada sesuatu yang tidak kau beritahukan padaku?"

"Mungkin aku hanya lelah," ujar Derek, membelai pipiku dan tersenyum sedih.

Baru aku membuka mulut untuk mengatakan hal lain, pintu kamarku diketuk. Langsung saja aku beranjak dari ranjang dan membuka pintu. Kulihat ayah ada di depan kamarku.

"Valion, baru bangun?" tanya ayah.

Aku menggeleng. "Tidak juga."

"Oke, uh, Scott punya rencana untuk mencaritahu siapa Benefactor, dan aku akan membantunya seharian ini," kata ayah.

"Oh, aku mau ikut," kataku.

"Tidak, tidak, Scott bilang biar kau tetap dengan Derek saja."

"Baiklah ... apa rencananya?"

"Soal itu, kau tidak akan suka sama sekali, karena Melissa pun tidak suka. Jadi Scott memutuskan untuk tidak memberitahumu," kata ayah sambil tersenyum kecil.

"Oke, jadi kalau aku tidak boleh bergabung dalam rencana ini, lalu mama tidak suka rencana ini, dan aku pasti tidak akan menyukainya juga, kutebak ini adalah sesuatu yang berbahaya dan beresiko," tebakku.

Ayah mengangguk. "Tepat. Dengar, Scott dan yang lain akan baik-baik saja. Mereka sudah mempertimbangkan semuanya. Jangan khawatir. Kami akan menginformasikanmu kalau ada sesuatu."

Akhirnya aku mengangguk juga walau tidak setuju. "Berhati-hatilah."

Ayah mengangguk lagi. Ia memelukku pelan dan lalu pergi. Aku kembali masuk ke kamarku dan menutup pintu, naik ke ranjang lagi dan duduk di samping Derek.

Aku menghela dan menoleh padanya. "Derek, aku ingin melihat matamu."

"Kau sedang melihatnya sekarang," katanya lembut sambil mengelus pipiku lagi.

Aku menggeleng pelan. "Kau tahu maksudku."

Ia menghela. Menyingkir tangannya dari wajahku, lalu memejamkan matanya sendiri. Waktu ia membuka kelopak matanya, aku tidak melihat mata yang menyala merah, biru, atau kuning. Warna mata itu adalah hijau, alias matanya tidak berubah warna.

Kini giliran aku yang menggapai wajahnya dengan sedih. "Derek, apa yang terjadi?"

Derek memegang tanganku di pipinya, mengelus punggung tanganku. "Aku tidak tahu ... mungkin ini masih dampak dari apa yang Kate lakukan di Meksiko."

Aku menghela. Kusingkapkan lagi kaosnya, melihat luka di pinggangnya. Dengan lembut tanganku mengelus sekitar bekas luka tembaknya. Perlahan bekas luka itu pun hilang, tapi aku tidak tahu kalau pinggang itu masih sakit. Maksudku, bagaimana pun aku hanya bisa menyembuhkan luka luar.

Segera setelah luka itu raib, bibir Derek menemui bibirku. Ia menciumku dengan lembut. "Terimakasih, tapi sebenarnya kau tidak perlu melakukan itu."

"Itu bekas luka yang kecil, jadi kupikir aku bisa menghilangkannya," gumamku. "Oke, jadi matamu tidak bisa menyala warna kuning atau biru lagi, dan kau tidak punya kemampuan menyembuhkan diri?"

Derek mengangguk. "Tidak ada pendengaran super, tidak ada kecepatan super, semuanya hilang."

"Kekuatan super juga?" tanyaku.

"Aku masih bisa menang dalah pertarungan," katanya, "aku masih punya kekuatan untuk melindungimu."

"Hm." Aku menyengir. Kutarik lengannya dan kami turun dari ranjang, kuhampiri meja belajarku, menaruh sikutku di atas meja.

"Kau becanda," ujar Derek.

"Oh, ayolah, Braeden sudah mengajariku beberapa trik, mungkin aku bisa menggunakannya saat adu panco denganmu," kataku, masih menyengir.

Ia terkekeh pelan, tapi menurut juga. Ia menaruh sikutnya di atas meja, menyilangkan lengannya dengan lenganku.

"Siap?" tanyaku.

"Mm-hm," gumamnya sambil tersenyum kecil.

Kutatap bola matanya sambil tersenyum, ia membalas tatapan mataku. "Satu, dua—" Dan aku langsung mendorong lengan Derek. Lengan besarnya langsung berbaring sempurna di atas meja.

"Kau curang—itu curang!" ujar Derek tidak terima.

"Aku menang," kataku sambil terkikik pelan. "Itu yang diajarkan Braeden. Katanya, ketika seorang manusia sedang melawan makhluk supranatural, manusia perlu mengabaikan peraturan sedikit."

"Maksudmu harus berlaku curang?" tanya Derek.

Aku menyengir kecil. "Yah, itu adalah bahasa kasarnya. Habisnya manusia, kan, tidak punya kekuatan super untuk bergerak cepat atau apa pun, kami hanya tinggal pakai akal."

Derek tersenyum kecil. "Oke, jadi seberapa banyak yang Braeden ajarkan padamu?"

"Hm, banyak, sangat banyak. Dan itu tidak termasuk yang ayah ajarkan selama kami di Paris," kataku. "Kau tahu, kau sering membantuku belajar, Derek, tapi aku tidak pernah bisa membalasmu dengan mengajarimu apa pun. Jadi sekarang, aku akan mengajarimu cara mengalihkan perhatian lawan saat kau tidak punya kekuatan super."

"Kau akan mengajariku itu?" tanyanya sambil menyengir.

"Hanya dasarnya, aku tidak sejago Braeden. Maksudku, kalau kau sudah bisa melakukan apa yang kuajarkan, kau bisa naik kelas dan diajari Braeden," kataku.

Ia terkekeh. "Oke, baiklah." Kutarik rak di meja belajarku, mengambil pistol dari dalamnya. Dari sudut mataku, aku melihat Derek agak terperanjat. "Kau menyimpan pistol di rak meja belajarmu?!"

"Untuk jaga-jaga," ucapku. "Aku bahkan menyimpan Crossbow-ku di kolong ranjang, dan ada satu senapan di dalam lemari baju. Ayah bilang kami harus menaruh senjata di kamar untuk mempertahankan diri di situasi terburuk."

"Oh astaga ... " erang Derek.

Aku menyerngit. "Kenapa?"

Derek menggeleng. "Tidak, hanya saja, tahun lalu, saat aku pertama kali bertemu denganmu, kau adalah gadis yang, yah, normal. Maksudku, tanpa dunia supranatural, tanpa senjata apa pun. Setahun kemudian kau menyimpan pistol di kamarmu."

"Ini bukan mauku," gumamku. "Derek, aku benar-benar berharap aku tidak punya darah Argent. Aku ingin menjadi seorang McCall yang sesungguhnya. Aku bisa saja memilih untuk tetap tinggal dengan mama dan Scott, tapi aku sudah janji pada Allison dan ia benar—ayah akan tinggal sendirian kalau tidak ada aku. Aku tidak boleh meninggalkan ayah, jadi inilah yang dia ajarkan padaku."

"Kau bukan Allison."

"Memang bukan, tapi aku tetap seorang Argent, darahku darah Argent, bukan McCall," ucapku lirih. "Derek, dengar, aku masih Val yang pertama kali kau kenal, Val yang masih butuh kau lindungi, Val yang adalah adik Scott McCall, aku masih Val yang itu."

Ia akhirnya menghela dan mengangguk. "Oke, jadi kau akan mengajariku pakai pistol?" Aku mengangguk. "Aku tidak suka pistol."

"Kau lebih ingin pakai Crossbow?"

"Tidak, itu akan membuatku terlihat feminim," katanya sambil menyengir.

Aku memeriksa isi peluru di pistol itu. "Ukuran klip yang diizinkan di California adalah sepuluh. Kau harus selalu ingat berapa kali kau menembak. Kehabisan peluru bisa membuatmu terbunuh. Kata Braeden, itu juga bisa membuatmu terlihat bodoh," kataku. Aku dan Derek langsung terkikik pelan. "Hm, tapi menggunakan pistol tidak hanya tentang bagaimana cara membidik dan menembak."

"Kenapa?"

"Aku tidak tahu ini benar apa tidak, tapi Braeden bilang rata-rata orang bisa bergerak sejauh dua puluh satu kaki dalam satu koma lima detik," kataku, "jika mereka punya pisau, mereka bisa menyerangmu sebelum kau menarik pelatuk. Jadi dengan pistol, kau akan membutuhkan jarak." Lalu aku menyodorkan pistol itu pada Derek. Dengan bingung ia menerima barang itu. "Coba, tembak aku."

"Kau becanda," kata Derek sambil menyengir.

"Coba saja tarik pelatuknya," tantangku, membalas cengirannya.

Cengiran Derek lenyap. "Val, Chris bisa membunuhku."

"Tidak akan, percayalah," kataku mantap.

Derek menghela dan mengangguk. Ia mundur dua langkah, mengulurkan tangannya yang memegang pistol, mengarahkan mulut pistol itu padaku. Pemuda itu berdeham pelan dan memegang mantap pistol tersebut. Sebelum ia berhasil melakukan gerakan lain, aku langsung maju dengan cepat dan merebut pistolnya dengan cara yang pernah diajarkan Braeden. Wajah Derek agak tercengang.

"Kau terlalu banyak berpikir," gumamku sambil tersenyum.

"Oh, yah."

"Mau coba lagi?" tawarku.

"Mm-hm," gumamnya.

Kuserahkan pistol itu lagi. Ia berdeham lalu mengarahkan pistol itu padaku. Baru saja ia mengangkat pistolnya, aku langsung maju lagi, merebut kembali pistol di tangannya.

"Sekali lagi," pinta Derek.

Aku terkekeh pelan. "Jangan khawatir, Derek, kita punya waktu seharian," kataku, mengoper pistol lagi.

Derek memegang pistol itu sambil menyengir kecil. Tapi ia tidak mengarahkan pistol di tangannya itu padaku. Dengan satu tangannya yang kosong Derek malah menarik kepalaku dan mencium bibirku dengan lembut. Di saat aku baru membalas ciumannya, kurasakan mulut pistol menekan di perutku.

"Kau curang," dengusku.

Ia menyengir lebar. "Aku hanya sedang belajar untuk mengalihkan perhatian lawan."

Mau tak mau aku jadi terkekeh pelan. Derek ikut terkekeh juga. Ia segera menaruh pistol itu di meja belajarku, lalu menemui bibirku dengan bibirnya. Derek mencumbu bibirku dengan agak nafsu sekarang sambil kedua tangannya mengangkat pantatku. Jadi aku melingkarkan kakiku di pinggangnya, sambil bibirku meladeni bibirnya.

Ia membawaku ke ranjang dan langsung merebahkanku di tempat empuk itu. Kemudian ia menyerang leherku—menggigit dan mengisap di sana. Tangannya tidak mau menganggur, ia meremas buah dadaku dengan gemas. Sambil agak mengerang, Derek melepaskan kaosnya sendiri, habis itu membantuku membuka kaosku juga. Karena daritadi aku tidak pakai bra, jadi sepasang bukit kembarku langsung memamerkan diri di depan Derek.

Pemuda itu langsung menyambar buah dadaku dengan mulutnya. Sambil mencium di sana, ia masih meremasnya pelan. Derek tahu bagaimana cara membuatku mendesahkan namanya dengan nikmat, jadi ia memasukkan putingku ke dalam mulut dan mengulumnya. Pada saat itu juga aku langsung mendesah dan agak menggeliat.

Dari putingku, ia melepas celana panjang dan langsung celana dalamku juga. Ia memainkan liangku sebentar dengan jari telunjuknya, sambil ia kembali mencium bibirku. Derek mengisap-isap bibir bawahku lalu memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, menemui lidahku bersamaan dengan ia memasukkan satu jari lagi ke dalam liangku. Aku dan Derek saling mendesah di mulut satu sama lain.

Kemudian ia membawa mulutnya ke bawah tubuhku, ke mulut vaginaku, mengganti jarinya di sana dengan mulutnya yang basah. Sesekali aku bisa mendengar gumaman Derek yang berkata bahwa ia mencintaiku sambil ia mencium di sana, lalu memasukkan lidahnya juga.

"Val, kau mau aku memasukkan penisku?" tanya Derek sambil agak terengah.

"E-eh?" tanyaku sambil terengah juga. Derek tidak pernah menawariku untuk yang satu itu, biasanya ia hanya bilang bahwa ia ingin memasukkannya tanpa tanya dulu—kecuali waktu pertama kali ia mengambil keperawananku, ia menanyakan kalau aku benar-benar yakin mau melakukan itu dengan Derek.

"Kalau kau mau, minta, Val, minta aku melakukannya," erang Derek sambil mengusap mulut vaginaku dengan telunjuknya.

"Uh—D-Derek! Kumohon—"

"Kau mohon apa?"

"M-masukan itu! Masukan penismu! Mm-uuuhh—"

"Masukan ke mana, Val?"

"Vaginaku—ah! D-Derek—Derek, kumohon!" ujarku susah payah sambil mendesah.

"Kau benar-benar manis, Val," gumam Derek.

Kurasakan jari Derek sudah tidak di kulitku. Ia bangkit dari ranjang dan kulihat ia langsung melepaskan celana panjangnya. Karena tidak pakai boxer, aku bisa langsung melihat kejantanannya yang begitu tegap. Habis itu langsung naik ranjang lagi, melebarkan kakiku lagi, dan ia langsung memasukkan kejantanannya pelan-pelan.

Aku begitu menikmati sensasi dirinya memasukiku. Ketika sudah masuk dengan sempurna, ia mulai menggoyangkan pinggangnya. Kedua tangan Derek menemui tanganku, kami saling menggenggam jemari satu sama lain sambil ia menyatukan diri kami. Aku mendesahkan namanya, sama seperti ia mendesahkan namaku.

"D-Derek! Uh—a-aku—aku mau keluar!" kataku tidak berapa lama kemudian.

"Hitungan ketiga—satu, dua tiga—"

"AAAAAAHHH!" erangku keras.

Aku mengeluarkan cairanku bersamaan dengan dirinya menyemburkan cairannya dalamku. Rasanya begitu hangat. Aku mendesah pelan saat Derek menarik keluar penisnya perlahan dariku.

Ia mengecup keningku. "Aku mencintaimu, Val," gumamnya sambil tersenyum. "Aku benar-benar mencintaimu."

Aku tersenyum sambil memegang wajahnya yang masih ada di hadapanku. "Aku juga mencintaimu, Derek," gumamku.

"Kau benar-benar akan jadi Val Hale di masa depan," katanya sambil tersenyum geli, aku pun tertawa kecil.

"Oke, baiklah, kita harus bangun sekarang," ujarku sambil menepuk pelan dadanya.

Derek menyerngit. "Kenapa?"

"Kita belum mandi, belum sarapan, dan sekarang sudah jam—astaga sekarang jam sepuluh lewat!" pekikku.

"Val, ini hari Minggu, tidak ada sekolah," kata Derek mengingatkan.

"Aku tahu. Hanya saja mama selalu mengajarkan anak perempuan tidak boleh malas-malasan di ranjang dari bangun tidur sampai siang hari," balasku.

Ia mengangguk, tidak juga beranjak dari hadapanku. Aku sudah mendorong tubuhnya, tapi Derek hanya menyengir dan tidak bergerak. "Aku masih ingin menciummu," bisiknya sambil tersenyum.

"Kau sudah menciumiku daritadi," kataku sambil memutar bola mata.

"Masih ingin lagi," katanya lalu mencium bibirku.

"Tuh, sudah?" tanyaku setelahnya.

"Belum."

"Derek ... "

"Hn, baiklah," kata Derek akhirnya dan ia menyingkir dari atasku. "Mau kubantu mandi?"

Pipiku menghangat. "Tidak. Waktu kau membantuku mandi di tempatmu, kau selalu ambl kesempatan untuk menyentuhku."

Derek tertawa kecil. "Val, aku membantumu mandi, tentu saja aku harus menyentuhmu."

"T-tapi kau menyentuh—menyentuhku, seperti ... seperti, yah, pokoknya kau ambil kesempatan untuk meremas buah dadaku atau mengusap vaginaku, itu kan, tidak termasuk mandi!" kataku, dengan wajahku yang kupikir sudah memerah ini, sambil memunggunginya.

"Mm, yah, aku lupa," katanya. "Apa aku melakukannya seperti ini?"

Aku bingung. Tapi baru aku akan menoleh padanya, langsung saja aku merasakan sepasang tangan besar menggapai buah dadaku dari belakang dan meremasnya. Aku sempat termegap, lalu jadi mendesah kecil terutama saat Derek memilin putingku. Kurasakan punggungku menempel pada dada bidangnya, dan bahkan aku bisa merasakan kejantanannya juga di sana.

"Aku mencintaimu, Val," bisik Derek sambil mendesah, dan jarinya terus memilin putingku.

"D-Derek—sudah, kita harus—ah—apa yang kau—OH!"

Tangan kiri Derek sudah tidak memilin putingku, kini tangan itu ada di bawahku, jemarinya mengusap mulut vaginaku. Tangan kanannya masih terus saja asyik dengan putingku. Aku mendesah nikmat, desahanku itu mengkhianati perkataanku yang meminta Derek untuk berhenti.

Dengan cepat dan tanpa aba-aba, Derek menarik tubuhku kembali ke tengah ranjang, merebahkan tubuhku dan ia langsung mencium panas bibirku. Aku dapat merasakan kejantanannya menggesek daerah kewanitaanku, membuat kami mendesah di mulut masing-masing.

"A-aku—aku mau k-keluar lagi—"

Derek mencium bibirku sekali lagi sebelum ia menaruh kepalanya di selangkanganku. Ia melebarkan lubang di bawahku itu dengan dua jarinya. "Ayo, Val, aku sudah siap."

Kuteguk ludah dengan susah payah, dan lalu mengeluarkan cairan itu sampai habis. Aku tahu apa yang dilakukan Derek di bawah sana, ia pasti menegak cairanku. Dan, ya, ia sampai mengisap-isap seakan kurang. Habis itu ia kembali ke atasku.

"D-Derek, k-kumohon sudah, y-ya?" cicitku sambil agak terisak.

Ia tercengang melihatku. Dengan lembut Derek mengusap air mataku yang mengalir di pipiku. "Maafkan aku," bisiknya sambil mencium keningku. "Aku benar-benar minta maaf."

.

.

Aku tidak banyak bicara pada Derek sejak kejadian di kamarku tadi. Mungkin aku agak, yah, sedikit trauma. Sesungguhnya aku bingung kenapa Derek bisa sampai memaksaku untuk bercinta lagi di saat aku sedang tidak mau. Bukannya tidak pernah, aku dan Derek pernah sampai ronde ketiga, kok. Tapi yang tadi pagi itu, rasanya beda. Ia terasa begitu memaksa, padahal ia selalu berjanji untuk tidak memaksaku melakukan sesuatu yang tidak aku mau.

Mungkin Derek menyadari juga bahwa aku jadi tidak nyaman dan memilih diam di sekitarnya. Ia pun tidak mengajak ngobrol. Saat sarapan—atau tepatnya makan siang—ia hanya mengomentari bahwa masakanku enak. Hal yang sama terjadi juga saat menjelang malam dan kami makan malam. Lalu ia mengajakku ke tempatnya untuk latihan pistol lagi hanya dengan satu kalimat pertanyaan yang kujawab dengan anggukan kepala saja. Tidak ada obrolan, tidak ada ciuman, tidak ada kontak kulit atau pun kontak mata, bahkan senyum pun hanya senyum paksa dariku padahal ia sudah tersenyum lembut.

Kusiapkan Crossbow dan pistol, kubawa masuk ke dalam mobil Derek. Hening sepanjang perjalanan. Derek tidak mengucapkan apa-apa juga. Tapi dari sudut mataku aku bisa melihat sesekali ia menoleh sedikit padaku, dan tiap kali ia menoleh ke depan lagi ia akan menghela pelan.

Masuk ke rumah Derek, aku menaruh tasku di atas sofa. Belum sempat aku mengambil pistol, Derek sudah lebih dulu menangkap tanganku, memutar tubuhku agar berhadapan dengannya. Ia memandangku dengan tatapan sedih.

"Val, bicaralah padaku," pintanya pelan.

"Aku harus bicara apa?" gumamku.

"Apa saja. Aku merindukanmu," bisiknya.

"Derek, kau bersamaku seharian ini, kau tidak mungkin merindukanku," kataku mengingatkan.

"Memang, tapi dari siang kau tidak mau bicara padaku. Aku kangen suaramu, senyumanmu, ciumanmu ... Val, aku tahu aku salah, aku sudah minta maaf tapi kau tidak menjawab bahwa kau memaafkanku atau tidak. Aku frustasi, Val," ujarnya.

"Aku memaafkanmu, Derek, aku sudah memaafkanmu. Aku hanya ... masih agak takut."

Ia mengangguk. "Oke, oke, sebagai gantinya kau ingin aku melakukan apa? Bagaimana aku bisa menebusnya? Kau bisa menghukumku atau—atau kalau kau bingung ingin mengapakanku, kau bisa beritahu Chris kalau aku berlaku tidak baik biar ia bisa menghajarku sampai aku puas."

Aku termegap kecil. "Astaga, aku tidak akan melakukan itu! Melihatmu terluka gara-gara ayahku dengan alasan apa pun yang ada hanya membuatku sedih!"

"Baiklah, oke, jadi apa hukuman untukku?" tanya Derek.

Aku dapat ide. Sebenarnya aku juga merindukan ciumannya. Tapi aku akan menggunakan itu untuk 'menghukum'nya.

"Kau ingin menciumku?" tanyaku.

"Oh, astaga, ya!" erang Derek lalu hendak menciumku, tapi kutahan dia. Derek langsung menatapku bingung.

Kutarik ia pelan sampai ia duduk di sofa, aku duduk di pangkuanya berhadapan dengan wajahnya. Ia langsung menggapai pinggangku dengan kedua tangannya saat aku duduk, tapi aku langsung memegang tangan besarnya, memaksa ia melepaskanku. Aku menyengir kecil. "Hukumanmu, Derek: aku menciummu, tapi kau tidak boleh membalas ciumanku, dan kau tidak menyentuhku apa pun yang kukatakan dan apa pun yang terjadi sampai selesai. Aku boleh menyentuhmu, tapi kau tidak boleh menyentuhku."

"Astaga, aku lebih memilih dikeroyok daripada ini," gumamnya.

Aku masih menyengir kecil. Derek akhirnya menaruh kedua tangannya di sofa. Aku menyentuh lehernya dan menarik diriku sendiri untuk menempelkan bibirku dengan miliknya. Mulut Derek agak terbuka sedikit, kuyakin ia berusaha untuk tidak membalas ciumanku. Kucium kecil-kecil sekitar bibirnya, kuisap bibir atas dan lalu bibir bawahnya.

Derek mengerang, dan ia semakin mengerang ketika aku meninggalkan bibirnya dan beranjak mencium rahangnya. Aku tidak pernah mencium daerah lain selain bibir dan, eh, kejantanan Derek. Jadi yang sekarang ini adalah buah kenekadanku. Mulutku agak geli saat mencium rahangnya karena Derek tidak mencukur bersih rambut-rambutnya di sana. Dari rahang, aku mencium kecil-kecil lehernya. Derek masih terus mengerang, dan kudengar tangannya memukul-mukul sofa, mungkin ia sangat ingin menyentuhku. Aku hanya menyengir kecil sambil terus membenamkan kepalaku di lehernya.

Tiba-tiba aku merasakan gundukan di daerah kewanitaanku. Aku mendesah kecil di leher Derek gara-gara itu. Derek terangsang. Kuhentikan aksiku di lehernya karena terengah-engah akibat mendapat sensasi di bawah sana. Wajah Derek terlihat benar-benar sedang menahan nafsunya untuk menyentuhku.

"Val, Val, aku tidak akan menyentuhmu, sesuai perkataanmu," ujarnya pelan sambil agak terengah. "Tapi, kumohon jangan menghukumku untuk yang di bawah itu."

"I-itu bagian dari, eh, hukumanmu," cicitku sambil memaksakan diri untuk menggoyangkan pinggangku biar kejantanannya tergesek.

"Val, aku mencintaimu, kumohon jangan menyiksaku begini," katanya setengah mendesis.

Aku tidak bisa membalas perkataannya karena sudah terlanjur asyik mendesah gara-gara kejantanannya tergesek di daerah kewanitaanku terus. Derek mengumpat dan sesekali memintaku menciumnya atau membiarkannya menciumku. Aku tidak mengabulkan yang mana pun.

"Aku tidak bisa—astaga, Val—" erang Derek.

Kulumatkan bibirku pada bibirnya. "Balas ciumanku," gumamku lalu menciumnya lagi. Derek menurut, kali ini bibirnya ikut bergerak, malah mendominasi mulutku sekarang. Kedua tangannya masih tidak kuizinkan menyentuhku. Tadi tangannya sempat menyentuh pinggangku lagi tapi segera aku mendorong tangannya menjauh.

"S-sudah! A-aku tidak kuat—" kataku lalu menyingkir dari pangkuan Derek dan duduk di sebelahnya.

"Jadi ... hukumannya sudah selesai?" tanya Derek, aku mengangguk. "Aku sudah boleh menciummu dan menyentuhmu?" Aku tidak menjawab. "Aku janji tidak akan memaksamu lagi. Aku tahu aku sudah mengingkari itu tadi pagi, tapi kali ini aku bersumpah untuk tidak memaksamu."

Aku menoleh padanya, menatap intens kedua bola matanya yang menatapku sedih. Dengan pelan akhirnya aku mengangguk. Derek langsung tersenyum dan ia mencium lembut bibirku. Oh, astaga, aku kangen ciumannya yang itu.

.

.

"Selama ini aku bertarung dengan kedua tangan kosong, aku tidak perlu membidik untuk menonjok orang," dengus Derek saat sudah kesekian kalinya ia tidak bisa menembak ke targent dengan peluru plastik.

"Yah, makanya kau harus belajar sekarang," kataku sambil menyengir.

"Ini tidak seru," ujar Derek. "Apa hadiahnya kalau aku berhasil menembak target?"

Aku menyerngit. "Apa?"

"Waktu dulu aku membantumu belajar, kau dapat novel setiap berhasil menjawab sepuluh pertanyaan dengan benar. Lalu sekarang, kalau aku berhasil menembak target itu, kau akan memberikanku apa?"

"Oh, jadi waktu itu kau tidak ikhlas?" tanyaku dan Derek menyengir. Aku terkekeh pelan. "Kau mau apa?"

"Kalau boleh aku ingin bercinta denganmu," tantang Derek. Aku termegap. "Ada lima target di depan sana. Kalau aku berhasil menembak kelimanya, aku ingin lima ronde denganmu di ranjang." Mulutku menganga makin lebar. Derek tertawa geli. "Aku becanda, Val. Satu ciuman tiap kena satu target saja."

Aku menghembus nafas lega. "Astaga, kau membuatku kaget. Dan takut juga."

Derek masih terkekeh. "Aku tidak tahan untuk menggodamu, kau manis, sih."

Seketika itu juga aku jadi agak tercengang. Kapan terakhir kali Derek menyebutku manis? Rasanya sudah lama sekali. Aku selalu suka kalau ia menyebutku manis. Ia selalu memujiku manis, bukannya cantik seperti yang semua orang lain katakan. Itulah yang membuatnya berbeda dan aku senang karenanya. Bersama Derek yang tidak mengatakan aku cantik membuatku melupakan fakta bahwa aku seorang Veela.

Aku tersenyum kecil padanya, dan Derek membalasku dengan senyuman lembut. Derek menghampiriku, mengusap pipiku dengan satu tangannya dan hendak menciumku. Kutarik wajahku agak menjauh darinya dan ia bingung.

"Kau belum berhasil menembak satu target pun dan kau sudah mau ambil hadiahnya?" tanyaku sambil menyengir.

Derek memutar bola matanya sambil mengerang kecil. Itu membuatku terkekeh. Ia melepaskan tangannya dariku lalu membidik salah satu target. Derek menarik pelatuk dan sebutir peluru plastik berhasil mengenai target. Aku terkejut melihatnya. Ia langsung membidik ke target lain, berhasil menembak ke sana juga.

Sampai ia berhasil mengenai kelima target, ia berbalik muka menghadapku sambil menyengir. Aku tertawa kecil melihatnya. Derek mendekati wajahku dan mencium lembut bibirku. "Satu." Lalu menciumku lagi, "dua." Lagi, "tiga." Dan lagi, "empat." Diciuman kelima, ia menciumku lebih lama, malah ia memeluk erat pinggangku. Saat aku mulai kehabisan oksigen, ia baru melepas bibirnya dariku. "Itu yang kelima," gumamnya sambil tersenyum dan menempelkan dahinya padaku. Aku terkekeh. "Astaga, kalau dari awal hadiahnya seperti ini, aku pasti sudah menembak banyak target." Aku langsung tertawa geli.

Kemudian aku mendengar suara ponsel Derek. Ia mengerang pelan dan mengambil ponsel itu, menjawab panggilannya. "Scott. Apa? Ya, bawa dia ke sini. Ada aku dan Val. Ya." Lalu sambungannya putus.

"Ada apa?" tanyaku.

"Kau tahu seorang polisi bernama Parrish?" tanya Derek.

"Sepertinya aku pernah dengar. Ada apa dengannya?"

"Nama Parrish masuk dalam daftar Deadpool. Barusan seorang polisi lain bernama Haigh menyiramnya dengan gasoline dan membakarnya hidup-hidup, tetapi Parrish masih bisa hidup, dan tanpa luka sama sekali. Scott bilang ingin membawanya kemari, biar aku bisa mencaritahu apa Parrish itu," jelas Derek.

"Oh, wow, seperti burung Phoenix. Kau tahu, api adalah kekuatannya dan ia imortal," komentarku.

"Val, kau tahu itu hanya mitologi, kan?" tanya Derek sambil menyengir.

"Dan awalnya kupikir manusia serigala hanya dongeng," balasku sambil menyengir juga.

Derek terkekeh lalu ia mencium lembut bibirku.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Scott datang dengan Lydia dan seorang pria muda yang kupikir seumuran Derek. Kuingat kalau tidak salah ia adalah polisi yang pernah ingin menyita senjata ayah saat ayah dan Derek dibebaskan dari tuduhan membunuh Katashi. Oh, jadi dia itu yang bernama Parrish?

Aku dan Derek langsung menghampiri mereka. Scott memelukku erat, kutahu ia merindukanku karena seharian ini kami tidak bertemu. Setelah itu aku memeluk Lydia juga.

"Bagaimana dengan rencana untuk menarik keluar Benefactor?" tanyaku.

"Antara berhasil atau tidak," jawab Scott dengan ragu. "Banyak hal yang terjadi, tapi Benefactor tidak menunjukkan batang hidungnya. Tapi karena itulah kami jadi sadar akan suatu hal: Benefactor adalah seorang Banshee. Dia bisa tahu seseorang sudah tewas tanpa perlu melihatnya sendiri."

"Kau tahu, mungkin Parrish harus diperiksa Derek dulu," usul Lydia. "Setelahnya ada yang ingin kuceritakan pada kalian."

Kuanggukkan kepalaku dan Derek mulai memeriksa Parrish. Benar kata Scott, Parrish tidak terlihat punya luka sama sekali. Kulitnya masih putih bersih seakan tidak tersentuh api sama sekali.

"Dia menyirammu dengan gasoline?" tanya Derek sambil memeriksa tangan polisi itu. Parrish mengangguk.

"Harusnya rambut dan kukunya habis, kan?" tanya Lydia.

Oh ya. Tidak hanya kulit itu tidak ada luka sama sekali, tapi rambut dan kukunya masih ada. Kalau memang terbakar, harusnya keduanya terbakar habis, kan?

"Yah, seharusnya mereka sudah tidak ada," timpal Derek.

"Aku dibakar," celetuk Parrish, "seluruh tubuhku harusnya sudah tidak ada." Aku mengangguk setuju.

"Kecuali kalau kamu seperti kami," ujar Scott.

Parrish menyerngit. "Seperti kalian?"

"Kupikir dia tidak seperti kita," gumam Derek.

"Lalu dia apa?" tanya Lydia.

"Maaf, tapi aku tidak tahu," aku Derek.

"Tapi kau tahu soal Jackson dan Kira," kata Scott.

Derek menghela dan menoleh padaku lalu pada Scott. "Aku tidak tahu soal Val sebelum ia memberitahuku, malah. Aku tidak tahu segalanya, Scott. Kalau ada yang tidak kuketahui, berarti itu sudah di luar pengalamanku."

"Bagaimana dengan Bestiary? Lalu ayahku?" tanyaku sambil merogoh ponsel dalam kantong celana.

"Setelah menjalankan rencana kami tadi, Chris pergi begitu saja dan bilang harus ke suatu tempat," kata Scott. "Aku sudah coba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif."

Aku jadi mengantongi ponsel itu lagi.

"Oke, tunggu," kata Parrish yang sudah selesai diperiksa. "Apa itu Bestiary? Sebenarnya itu bahkan bukan pertanyaan pertamaku. Hanya saja ... tolong beritahu aku. Apa kalian semua seperti Lydia? Apa kalian semua cenayang?"

Derek menyerngit. "Cenayang?"

"Tidak juga," gumam Scott.

Kulihat Scott kontak mata dengan Derek, pacarku itu terlihat menyuruh Scott melakukan sesuatu. Jadi kakakku menoleh pada Parrish lagi dengan matanya yang menyala merah.

Parrish terlihat terkejut. "Oke ... jadi kau apa?"

Scott pun memberitahu bahwa ia dan Derek adalah manusia serigala, aku seorang Veela, dan Lydia seorang Banshee. Kakakku menyebut dan memberi definisi serta ciri-ciri singkat setiap makhluk supernatural yang ia tahu, dibantu oleh Derek.

"Apa itu Kanima?" tanya Parrish, padahal seingatku Scott sudah pernah memberitahunya. Tapi kupikir mungkin ini terlalu banyak untuknya dalam waktu yang begitu singkat, Parrish pasti pusing sendiri.

"Aku akan menjelaskan itu lagi nanti," kata Scott dengan sabar. "Untuk sekarang, kau cukup tahu bahwa semua yang seperti kita—semua yang punya kemampuan supernatural masuk dalam Deadpool."

"Tapi aku bahkan tidak tahu apa aku ini!" ujar Parrish agak mengerang.

"Aku cukup yakin mereka tidak peduli," timpal Derek.

"Tapi berarti Benefactor itu hebat sekali, kan?" celetukku. "Dia bisa tahu siapa saja yang supernatural di Beacon Hills. Menurutmu dia juga tahu nama mana makhluk apa?"

Derek menaikkan bahunya, tanda tidak tahu. "Mungkin dia juga hanya tahu mereka supernatural."

Parrish menghela. "Ada berapa banyak pembunuh bayaran profesional yang ada?"

"Kita sudah mulai kehilangan beberapa," jawab Lydia.

"Tapi apa ini masih yang profesional saja?" tanya Scott pelan.

"Kupikir Haigh tidak pernah mencoba melakukan ini sebelumnya," kata Parrish sambil menggeleng. "Seperti ia hanya mengambil kesempatan."

"Itu berarti siapa pun yang memiliki daftar Deadpool itu bisa mengambil kesempatan," ujar Derek.

"Tapi jika Haigh bisa punya, siapa lagi yang punya? Seberapa mudah cara mendapatkannya?" tanya Parrish.

"Bukankah perlu kata kunci untuk bisa membuka daftarnya?" tanyaku juga.

"Mungkin cara mendapatkannya sudah beda, dan lebih mudah juga makanya orang-orang biasa pun bisa mendapatkannya," kata Scott.

.

.

Sesuai perkataan Lydia waktu sebelum Derek memeriksa Parrish tadi, gadis berambut pirang stroberi itu sekarang menceritakan tentang neneknya yang bernama Lorraine Martin dan tentang Meredith yang tewas gantung diri.

"Meredith hanya di Lake House nenekku sekali. Tapi kupikir itu sudah cukup," kata Lydia.

Aku menyerngit. "Nenekmu mengenal Meredith?"

Lydia menoleh padaku, tersenyum dan menggeleng. "Dia tidak mengenalnya. Dia menemukannya. Itu karena seorang perempuan bernama Maddy—" Gadis itu berdiri dari sofa, menghampiriku dan Scott untuk menyerahkan selembar foto."—Perempuan yang ia cintai."

Dalam foto itu ada dua orang perempuan muda, yang salah satunya sangat mirip dengan Lydia, mungkin itulah Lorraine Martin. Perempuan yang satu lagi berambut hitam panjang bergelombang, itu pasti Maddy.

"Aku tidak pernah bertemu dengannya, tapi aku melihat namanya dimana-mana," lanjut Lydia. "Dulu dia bergabung dengan tim balap perahu pesiar. Ada trofi di Lake House dari semua perlombaan yang ia menangkan."

"Bagaimana ia tewas?" tanya Parrish.

"'Bagaimana' bukanlah ceritanya, melainkan 'apa' yang terjadi tepat sebelumnya," kata Lydia sambil tersenyum kecut. Ia pun melangkah pelan menuju jendela. "Nenekku, Lorraine, dulu bekerja di San Fransisco untuk IBM. Saat itu dia sedang di sana waktu akhir pekan, mengerjakan tugas yang belum selesai. Ia pun mulai mendengar suara ... seperti suara hujam. Tapi saat ia melihat ke jendela, yang dia lihat adalah langit yang biru."

"Tapi dia terus mendengar hujan?" tanya Scott bingung.

Gadis itu menoleh pada kami lagi dan mengangguk. "Dan itu semakin kencang. Hujan dan petir seperti menembak ke kepalanya. Sangat keras. Akhirnya dia teriak—"

"—Seperti Banshee," gumam Derek.

Ia mengangguk lagi. "Dia menelepon Maddy yang berencana membawa salah satu perahu ke danau. Tapi Maddy bilang bahwa matahari bersinar di sana juga. Jadi Lorraine pun tidak mengatakan apa-apa."

"Ada kecelakaan?" tanya Parrish.

"Butuh waktu empat hari untuk mereka akhirnya menemukan tubuh Maddy," kata Lydia, "dan itu membutuhkan berpuluh-puluh tahun untuk mencaritahu bagaimana Lorraine bisa mengetahuinya. Dia memulai dengan parapsikologi, seperti yang punya PhD di namanya membuat lebih spesifik. Mereka membangun ruang belajar di Lake House sesuai dengan teori Pseudoscientific yang bisa mereka temukan. Tidak ada yang bekerja. Jadi dia mulai mencoba yang lebih gaib lagi. Seperti medium dan cenayang. Mereka semua gagal.

"Sampai mereka menemukan Meredith. Mereka menemukannya di Eichen House. Gadis rapuh ini ini tidak mengerti apa pun yang ia dengar. Mereka membawanya ke ruang belajar. Dan mereka nyaris membunuh. Dia dimasukkan ke rumah sakit selama lebih dari setahun. Dia ... tidak pernah pulih sepenuhnya. Nenekku sempat membuatnya bunuh diri karena tidak kuat. Dan yang ia mau hanya membantu."

Lydia kemudian mengambil lipatan kertas dari kantong bajunya. Dilebarkannya kertas itu dan ditaruh di meja. Aku bisa melihat deretan angka dan huruf ditulis secara acak di sana yang ditulis dengan tulisan tangan. "Nenekku membuat kode untuk Deadpool. Mereka pikir dialah Banshee yang menaruh nama-nama itu pertama kali. Dia meninggalkan pesan ini padaku dengan kode yang sama."

"Tapi dia tidak meninggalkan kuncinya, kan?" tanya Scott.

Gadis itu menggeleng lesu. "Kemungkinan besar aku akan bolos besok biar bisa mencari kuncinya."

"Lyds, kau benar-benar harus istirahat, kau tidak boleh memforsir dirimu sendiri," ujarku lembut.

Ia tersenyum kecil. "Aku tidak apa, Val."

Kemudian Parrish memutuskan untuk mengantarkan Lydia pulang, sementara aku dan Scott masih di sini. Scott menghampiri sofa, menarik keluar pistol yang tadinya ditutup dengan jaket Derek.

Derek langsung menhampiri Scott. "Hati-hati dengan itu."

"Ini punya Val, kan?" tanya Scott meyakinkan.

"Itu punya Derek sekarang," jawabku.

Scott menyerngit dan melirik Derek lagi. "Kukira kau tidak suka pistol ... " gumam Scott sambil menyerahkan pistol di tangannya pada Derek. "Apa ini ada hubungannya dengan matamu?"

"Mataku, kekuatanku, kemampuan penyembuhku sebagai manusia serigala ... semuanya," jawab Derek.

"Hilang?" tanya Scott pelan.

Derek mengangguk. "Apa pun yang Kate lakukan padaku, efeknya masih berlangsung," ujar Derek.

Scott menggeleng dan menghela pelan. "Jika Deadpool benar-benar dibuat oleh Banshee, maka ada sesuatu yang harus kau tahu. Namamu membuka daftar ketiga. Itu jadi kuncinya."

"Dan dua nama lainnya adalah Allison dan Aiden," gumam Derek.

Kakaku mengangguk gugup. "Dan aku—aku tidak mau membuatmu cemas. Tapi itu seperti ada pola, kan? Allison, Aiden ... kau ..."

Aku menyerngit. "Pola apa? Ketiganya masuk dunia supernatural? Tapi Allison seorang Pemburu dan dua nama lain manusia serigala. Allison dan Aiden sudah tewas dan Derek masih di sini."

"Val ... itu adalah nama yang dipilih oleh Banshee," ujar Derek lembut.

"Lalu?" tanyaku masih bingung.

"Itu ... itu bisa berarti Derek sedang dalam bahaya," gumam Scott.

"Scott, Banshee tidak memprediksikan bahaya," kata Derek," mereka memprediksikan kematian."

Aku termegap. "Ap—apa?! Namamu jadi kunci ketiga karena kau yang akan tewas selanjutnya?"

Derek mengangkat bahu. "Mungkin bukan 'selanjutnya', tapi pasti akan terjadi."

.

.

Scott pulang tanpa aku, aku tetap dengan Derek di sini. Mengekori pacarku ke dapur, ruang makan, ruang tengah, sampai akhirnya ke kamar tidurnya. Derek menghela melihatku, kemudian ia menarikku pelan agar duduk di pinggir ranjang dengannya.

"Val, ada apa?" tanyanya lembut.

Kuangkat bahu. "Tidak ada apa-apa."

Ia tersenyum kecil. "Aku tidak perlu pendengaran super untuk tahu kalau kau sedang berbohong."

Aku menghela dan menoleh padanya. "Lydia memprediksikan kematianmu. Kita tidak tahu kapan dan di mana kau akan tewas, kita hanya tahu kau akan tewas. Aku cemas."

"Jadi kau mengekoriku?" tebak Derek, aku mengangguk. "Val ... mungkin sebaiknya tadi kau ikut pulang dengan Scott.

Aku langsung menyerngit. "Kenapa?"

Derek menghela dengan wajah sedihnya. Ia menggapai tanganku dan menggenggamnya. "Aku bukan hanya sudah kehilangan kekuatan super, Val, tapi aku pun juga sudah tidak punya kekuatan untuk melindungimu. Mungkin kau tidak akan aman kalau denganku."

Kugelengkan kepalaku. "Aku masih ingin denganmu ... "

"Aku juga, Val. Tapi jika seorang pembunuh bayaran profesional datang untuk menyerangmu, mungkin aku tidak akan cukup kuat untuk melindungimu lagi. Ingat saat kau diserang Violet? Itu adalah Scott yang melindungimu, bukan aku," ujar Derek.

"Aku Mate-mu, Derek, aku tidak akan meninggalkanmu apa pun yang terjadi," kataku. "Kau pernah bilang kalau seorang supernatural menandai Mate-nya, itu seperti suatu pernikahan ala supernatural, kan? Nah, kalau dalam sebuah pernikahan biasa, mempelai akan mengucapkan janji suci mereka. Kita tidak mengucapkannya saat kau menggigit bahuku, jadi aku akan mengucapkannya sekarang: Aku akan ada tetap bersamamu dalam suka dan duka sampai maut memisahkan kita berdua. Aku mencintaimu, Derek."

Senyumnya mengembang. "Dan aku juga akan tetap bersamamu dalam suka dan duka sampai ajal menjemput." Derek mencium keningku dengan lembut. "Aku sungguh mencintaimu, Val."

Lalu Derek mencium lembut bibirku.

.

.

Sebenarnya aku tidak mau pergi sekolah pagi harinya. Aku benar-benar cemas akan Derek dan tidak ingin menyingkirkan dia dari jarak pandangku. Tapi pemuda itu bersikeras bahwa ia akan baik-baik saja. Jadi Derek mengantarku ke sekolah dan bilang habis itu akan menemui Braeden untuk meminta gadis itu mengajari lebih lanjut tentang pistol.

Waktu aku membuka pintu lokerku, aku merasakan pinggangku dirangkul seseorang. Dengan cepat aku menoleh, ternyata itu adalah kakakku. Scott tersenyum lembut padaku lalu mencium keningku.

"Pagi," katanya.

Aku tersenyum juga. "Pagi, Scott." Lalu aku celingak-celinguk ke sekitarnya. "Stiles belum datang?"

Scott menggeleng. "Sepertinya ia tidak masuk sekolah hari ini, soalnya Sheriff, kan masih—eh, um ..."

"Sheriff?" tanyaku sambil menyerngit. "Ada apa dengan Sheriff?"

"Um ... oke, jadi kemarin Parrish dibakar Haigh, kan?" ujar Scott dengan agak ragu. "Ternyata Parrish masih hidup dan masuk lagi ke kantor polisi, langsung menghajar Haigh, dan itu menyebabkan Haigh tidak sengaja menarik pelatuk pistolnya dan mengenai Sheriff. Jadi waktu aku dan Lydia membawa Parrish ke Derek, Stiles membawa papanya ke rumah sakit."

Aku termegap pelan. "O-oke, baiklah. Sheriff baik-baik saja? Mungkin aku akan ke rumah sakit habis sekolah untuk menghilangkan lukanya ... "

"Tidak, tidak, jangan," cegah Scott. Aku menyerngit. "Kau hanya bisa menyembuhkan luka luar, ingat? Kau tidak bisa menyembuhkan bagian dalamnya ..." Aku mengangguk. "Ingat waktu papa kena pedang Oni dan kau berhasil menutup lukanya yang besar itu? Nah, saat ia dibawa ke rumah sakit, dokter kebingungan melihatnya. Tidak ada luka sama sekali tapi di bagian dalam tubuhnya seperti habis kena sayat. Dokter kebingungan, Val. Mungkin mereka akan bingung lagi saat kau menutup luka Sheriff padahal yang di dalamnya masih terluka."

Dengan tidak rela aku mengangguk juga. Setelah itu aku berjalan di sekitar koridor sekolah dengan kakakku. Kami terpisah saat aku masuk ke kelas Fisika, sedangkan Scott pergi ke ruang loker.

.

.

Kelasku tidak banyak hari ini, Scott juga. Saat aku keluar dari kelas terakhirku, aku melihat Scott sudah bersandar di dinding depan kelas. Ia langsung tersenyum melihatku keluar kelas. Scott menghampiriku dan langsung merangkul pundakku sambil mencium puncak kepalaku pelan.

"Lydia tidak ada di kelas matematika tadi," laporku.

Scott mengangguk. "Berarti ia benar-benar bolos untuk mencari kunci dari kode yang ditinggalkan Lorraine."

"Dasar, sudah kubilang agar dia jangan memaksakan diri ... " dengusku pelan.

Kakakku itu malah terkekeh. "Yah, kau dan sahabatmu itu sama, Val, sama-sama keras kepala dan pekerja keras." Lalu Scott meraih ponsel celananya. "Oh," gumamnya setelah melihat layarnya. "Pesan dari Stiles. Ia bilang sedang di rumahnya dengan Lydia untuk mencari kunci kode Lorraine."

"Apa kita perlu datang dan ikut membantu?" tanyaku.

"Kalau kau mau, aku akan mengantarmu. Tapi aku tidak bisa ikut ... " ujar Scott pelan. "Ada pesta api unggun malam ini, Pelatih memintaku sebagai kapten tim Lacrosse untuk memastikan agar tidak ada anggota tim yang mabuk."

Aku menyerngit. "Pesta api unggun?"

"Ya, kau tidak tahu?"

Aku menggeleng. "Aku baru dengar dari kau barusan ... "

Ia mengangguk. "Jadi kau mau ke rumah Stiles? Ke tempat Derek? Tinggal di rumah? Atau ikut aku?"

"Aku tidak bisa membantu apa-apa untuk Stiles dan Lydia. Derek sedang latihan dengan Braeden. Aku tidak yakin mau tinggal sendirian di rumah. Jadi mungkin aku akan ikut denganmu," jawabku.

"Baiklah, tapi kau harus ingat peraturannya—"

"—Jangan minum apa pun karena aku masih kecil," potongku.

Scott mengangguk. "Yep. Ayo, mau ke loker, kan?"

Kuanggukkan kepalaku lalu kami berjalan menuruni tangga menuju lantai satu. Di anak tangga paling bawah, kami melihat ada seorang anak sedang duduk di sana sambil memegang stik Lacrosse. Waktu kuperhatikan, ternyata anak itu adalah Liam, Beta Scott. Kami pun menghampirinya, duduk dengannya.

Kakakku langsung meremas bahu Beta-nya. "Hei, kau tidak apa-apa?"

Liam menoleh sebentar pada kakakku dengan wajah letih dan cemas, kemudian ia menoleh pada stik Lacrosse di tangannya lagi. "Semalam printer-ku menge-print dengan sendirinya. Aku tidak bisa menghentikannya. Aku sudah menekan tombol cancel, tapi dia masih menge-print terus.

"Menge-print apa?" tanya Scott lembut.

Adik kelas kami itu menyodorkan lipatan kertas putih pada kakakku. Scott membuka lipatan itu. Belum sempat aku membaca tulisannya, aku bisa langsung mendengar suara keras Pelatih Finstock.

"APA-APAAN INI?!" Itu suara Pelatih.

Scott langsung bertukar pandang sebentar denganku dan Liam, lalu kami bertiga langsung beranjak dari tangga, menuju asal suara. Begitu kami tiba di depan ruangan Pelatih, aku bisa melihat banyak kertas bertebaran di lantai ruang itu, kulihat juga printer-nya sedang menge-print.

Aku langsung mengambil satu lembar kertas yang ada di lantai, menyerngit membacanya, mendapati bahwa itu adalah kertas Deadpool. Jadi kuingat pembicaraan dengan Parrish semalam, mengenai pertanyaan 'seberapa mudah mendapatkan daftar Deadpool'. Apakah mungkin caranya seperti ini? Dengan mesin-mesin printer menge-print sendiri kertas Deadpool banyak-banyak, makanya orang-orang awam yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang supernatural jadi bisa punya Deadpool?

Kuserahkan kertas yang kupungut itu pada Scott, kemudian ia membandingkan kertas Deadpool yang kuberikan dengan kertas yang disodorkan Liam tadi—yang ternyata adalah Deadpool juga.

"Kau melihat perbedaannya?" tanya Liam.

"Derek tidak ada di daftar lagi," gumam Scott.

Entah aku harus menghela nafas lega mendengar perkataan kakakku itu atau tidak. Maksudku, nama-nama yang sudah tewas itu dicoret di kertas print, bukan dihilangkan. Kalau nama Derek tidak ada di kertas itu, berarti ia tidak tewas, kan? Itu mungkin hanya berarti Derek sudah tidak diincar.

"Dan aku sudah tidak seharga tiga juga lagi," kata Liam. "Sekarang jadi delapan belas. Delapan belas juta Dollar."

Mendengar itu, aku jadi mencari nama Liam di kertas Deadpool. Benar juga, di sana ada tulisan nama Liam Dunbar dan ada angka delapan belas di sebelahnya. Waktu masih masuk daftar Deadpool, Derek harganya lima belas, dan Liam tiga. Ketika Derek sudah tidak diincar, Liam jadi seharga delapan belas. Berarti lima belas milik Derek itu ditambahkan pada harga Liam.

"Tapi kenapa Derek sudah tidak masuk Deadpool?" tanya Scott bingung.

"Deadpool ini berisi nama-nama orang yang supernatural, kan? Derek sudah tidak punya kekuatan supernaturalnya lagi, berarti mungin itulah sebabnya namanya tidak termasuk lagi," jawabku pelan.

"Lalu kenapa harganya ditambahkan padaku?" tanya Liam, yang sepertinya sadar juga bahwa tambahan lima belas juga untuknya itu dari Derek.

Aku mengangkat bahu. "Mungkin karena kau Beta Scott? Scott adalah Alpha Sejati. Mungkin kau dianggap spesial."

.

.

Aku tidak pernah datang ke acara api unggun apa pun. Pesta yang pernah kudatangi mungkin hanya pesta-pesta yang diadakan oleh Lydia. Seingatku aku tidak pernah datang ke pesta sekolah. Sudah baru pertama kali akan datang ke pesta sekolah, itu pun pesta api unggun pula. Keduanya hal baru untukku.

Makanya aku jadi bingung sendiri memilih baju. Aku tahu aku akan pakai celana panjang, tapi aku tidak tahu baju atasannya apa. Yah, setidaknya kutahu Lydia tidak akan ikut pesta ini, jadi dia tidak akan mengomentari macam-macam baju yang kukenakan saat pesta api unggun.

Huh, di saat-saat bingung mau pakai baju apa saat pesta beginilah yang membuatku cemburu pada anak laki-laki. Mereka hanya pakai kemeja dan celana jins. Tidak perlu bingung untuk memilih antara pakai blus, kemeja biasa, kaos yang modelnya seperti apa, blazer atau tidak, dan sebagainya.

Untuk kedua kalinya Scott mengetuk pintu kamarku, menanyakan kalau aku sudah siap. Kubilang bahwa aku masih bingung ingin pakai baju apa, lalu aku bisa mendengar suara tawa kakakku dari balik pintu. Karena sudah sangat bingung, akhirnya kusambar saja salah satu kemeja lengan panjangku dan mengenakannya.

Kusisir cepat rambut panjangku, mengantongi ponsel dan dompet dalam saku celanaku, kemudian keluar kamar. Aku dan Scott langsung keluar rumah, naik motornya, dan pergi ke sekolah.

Anak-anak tim Lacrosse banyak yang menyebalkan bagiku. Mereka sering menggodaku, dan tak jarang pakai kata-kata vulgar. Kupikir pakai celana panjang dan kemeja biasa akan membuat mereka menghiraukanku, ternyata mereka masih menggodaku juga. Makanya Scott sampai menggandeng erat tanganku selama kami melewati anak-anak tim Lacrosse di lapangan tempat pesta api unggun diadakan.

Saat sedang berjalan menjauhi anggota tim Lacrosse, aku melihat seorang gadis berambut coklat terang sedang minum sendirian. Gadis itu tidak asing untukku walau kami hanya bertemu beberapa kali.

Aku menyenggol pelan lengan Scott. "Scott, bukankah itu Malia?" tanyaku sambil menunjuk dengan dagu.

"Apa?" gumam Scott pelan sambil menoleh. "Oh, ya, itu dia."

"Kenapa dia ada di sini? Maksudku, biasanya dengan Stiles, kan?" tanyaku.

"Itu, eh, kau tahu siapa ayah kandungnya, kan?" tanya Scott dan aku mengangguk. "Nah, Malia melihat daftar Deadpool dari jaket Stiles, melihat namanya di sana adalah Malia Hale, bukan Malia Tate. Sejak itu ia jadi marah dan mendiamkan kami semua."

"Oke ... jadi kita akan membiarkan dia sendiri di sana atau menghampirinya?" tanyaku lagi.

"Menghampirinya, ayo," ajak Scott.

.

.

~TBC~

Next: #VeelasHair

.

.

A/N: Chapter depan chapter terakhir di story ini :')