Kacau.

Semuanya sangat kacau.

Bagaimana mungkin, gabungan ketiga keluarga yang terkenal sebagai keluarga dengan penyerang yang handal gagal total dalam menyerang? Sebuah ketidakmungkinan yang sekarang menjadi kenyataan.

Keadaan mereka saat ini?

Setelah pertarungan sengit, Seungkwan telah terkapar dan tak sadarkan diri. Ia terhempas oleh sulur yang menghancurkan tameng yang melindungi dirinya. Jika Hansol tidak muncul dan menariknya ke atas, mungkin tubuh Seungkwan sudah termakan kehampaan di bawah sana.

Di sisi lain energi Wonwoo sangat tipis sehingga ia tak bisa banyak membantu. Ia perlu waktu untuk memulihkan energinya dan berdiam diri adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan kini.

Lalu disinilah Mingyu, Jihoon, dan Seokmin berdiri. Dengan keringat, debu, dan darah yang menghiasi tubuh mereka. Terdapat banyak sobekan pada pakaian mereka dan rambut ketiga orang itu sungguh amat sangat berantakan.

Mereka lah tiga orang yang masih tersisa untuk menghadapi sosok pria dengan senyum menyeramkan.

Pria?

Ya.

Sasaeng.

Namanya pernah diucapkan oleh angel Raziel. Sosok Lord kegelapan yang menjadi inti dari semua masalah. Sosok yang baru setengah terlihat di dalam bunga hitam yang belum mekar sepenuhnya. Senyum sosok itu benar-benar mengerikan walau seluruh tubuhnya belum terlihat.

Baru setengah saja kekuatannya tak main-main. Tentu saja tiga orang dengan level pertarung tinggi ini cukup kewalahan.

"ARGHHH!"

Ketiganya berteriak dan melesat mendekat. Mengepakan sayap mereka untuk menuju ke sumber malapetaka.

Suara jentikan jari terdengar. Hanya sebuah jentikan jari dan sebuah hempasan dasyat muncul menghadang ketiga sosok itu.

Dengan pedang yang menjadi kebanggan mereka, mereka menahan setiap hempasan.

Mingyu menukik tajam yang langsung membawa dirinya di depan sosok dengan senyum menyeramkan itu.

Crank…

Pedang beradu dengan tangan yang sekeras baja.

Mingyu berusaha keras untuk mempertahankan pedangnya.

Dari arah samping, muncul Jihoon yang mengayunkan pedang dengan bara api. Api itu milik Junhwi, iblis penjaga Wonwoo. Jihoon mengetahui bahwa mahluk ini sedikit rentan terhadap api.

Trakk...

Sebuah tangan muncul untuk menahan pergerakan Jihoon. Namun api di pedang yang dipegang Jihoon melahap lengan hitam itu, membuatnya hancur bagai kaca.

Mingyu memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang balik.

Jihoon dan Seokmin pun demikian.

Seokmin muncul dari atas mencoba menghancurkan sosok dengan aura hitam pekat. Dengan kekuatan penuh ia mengayunkan pedangnya.

Braaasthhh….

Mereka bertiga terhempas untuk kesekian kalinya.

Baik Mingyu, Seokmin, dan Jihoon sama-sama menggunakan pedang mereka untuk menahan pergerakan mereka, lagi.

Mingyu hampir saja terjatuh ke lautan kehampaan jika pedangnya tak tertancap dengan kuat untuk menopangnya.

Daratan besar ini sangat terjal dengan relief tak rata. Ditambah hempasan dan serangan semakin membuat relief yang tak rata semakin tidak rata.

Daratan ini hanya seluas 2 are. Pada jarak 20 meter terdapat daratan lainnya tempat pengungsian sementara Wonwoo dan Seungkwan.

Selain daratan besar dan daratan kecil itu, hanya ada kehampaan tiada arti yang tak berujung. Jika kau jatuh ke kehampaan di bawah sana, tamat sudah.

Seokmin mengepakan sayapnya yang sedari tadi melemah. Entah mengapa, seluruh kekuatan mereka seolah tertarik keluar dari tubuh mereka.

"Cih…" Seokmin kini berlutut dengan bertumpu pada pedangnya.

"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Seokmin.

Jihoon yang mencoba bangkit menatap tajam ke arah depan.

"Kita harus melawan. Hanya itu satu-satunya cara." Jawab Jihoon.

"Serangan kita tak ada yang berarti. Tapi menyerang adalah satu-satunya jalan. Cih." Kata Mingyu kini.

Mereka bertiga telah berdiri di satu tempat. Sama-sama menatap sosok di depan sana.

Kita beralih ke daratan satunya.

Wonwoo menyerit kala dahinya terasa sejuk. Dahi adalah tempat lambang Preator milik Jeonghan berada. Maka sesuatu telah terjadi pada Jeonghan.

'Jeonghan hyung… jangan bilang kau menggunakan berkahmu….'

Wonwoo menatap ke arah depan. Sama seperti ketiga petarung yang tengah kehabisan tenaga itu, ia juga benar-benar tak tahu harus melakukan apa.

Dengan energi yang sangat tipis ia masih mencoba untuk menyalurkannya ke Seungkwan. Hansol tak bisa bertahan lama di samping Seungkwan, maka ia kembali menghilang.

"Wonwoo… Ada yang datang."

Pelan. Bisikan dari Junhwi yang bisa didengar Wonwoo itu sangat pelan.

Wonwoo sendiri heran mengapa ia bisa mendengar bisikan kecil Junhwi karena sedari tadi, komunikasinya dengan Junhwi terputus.

Saat itu juga Wonwoo menaikan dagunya menghadap ke atas. Sebuah cahaya redup muncul secara perlahan.

"Uwwaaaaa…"

Sebuah teriakan terdengar di indra pendengaran Wonwoo.

Wonwoo menyerit ragu kala ia mengenal suara orang yang berteriak ini.

Benar saja. Sosok Jisoo terjatuh dengan tidak elitnya.

Begitu hampir menyentuh daratan, Samuel muncul dengan cepat dan menyelamatkan tubuh Jisoo yang terjatuh.

Sedangkan mata Wonwoo melirik ke arah lain.

Ah, itu sosok Seungcheol yang menggendong Jeonghan di lengan kirinya.

"Jisoo hyung! Jeonghan hyung!" Ucap Wonwoo.

Wonwoo mencoba bangkit lalu memeluk sosok yang amat sangat dirindukannya.

Dengan erat, Jisoo membalas pelukan Wonwoo. Setidaknya The Important baik-baik saja dan itu melegakan Jisoo.

"Apa yang terjadi?" Tanya Jisoo.

"Seungkwan tak sadarkan diri karena benturan. Jihoon hyung, Mingyu, dan Seokmin sedang menghadapi bunga di depan sana. Sedangkan aku mulai kehabisan energi." Jelas Wonwoo.

Jisoo menoleh ke Jeonghan.

Sosok Jeonghan tak berbicara sepatah katapun. Dengan segera ia melayang bersama Seungcheol menuju daratan utama.

"J..Jeonghan…" Ucap Jisoo tercekat.

Deg.

Suaranya tak mau keluar, seolah ditahan oleh kekuatan tak kasat mata. Langkah kaki Jisoo pun terhenti. Satu tangannya yang seolah ingin menggapai Jeonghan terdiam juga.

'Apa yang kau lakukan padaku, Jeonghan?' bathin Jisoo meraung.

Jeonghan menunjuk Wonwoo tanpa menoleh. Secara tiba-tiba mata kelam Wonwoo menyala terang.

"Arghhh..."

Suara Wonwoo terdengar kesakitan namun tubuh itu seolah mengerluarkan energi besar. Benar saja. dua buah tameng muncul secara perlahan. Kedua tameng itu mengerubungi daratan utama dan daratan kecil secara terpisah.

'Ada apa ini?!' Tanya Jisoo frustasi. Ia masih bisa menggerakan bola matanya dan rasanya ingin menangis melihat Wonwoo yang seperti itu.

"Jisoo hyung… Lord Jeonghan memaksa Wonwoo hyung mengeluarkan energinya. Ini adalah ledakan energi The Important."

Mata Jisoo semakin terbelalak. Jisoo tahu energi Wonwoo sangat tipis saat ini. Sedangkan energi sebesar ini tak mungkin dikeluarkan Wonwoo dengan keadaannya sekarang.

Jisoo bisa mendengar Samuel yang menghela nafas.

"Wonwoo hyung masih memiliki enegi kehidupan dari kristal Jaemin dan Ten. Namun ketika energi ketiganya habis…. Maka seperti yang Junhwi hyung pernah bilang, Junhwi hyung akan menghilang untuk menggantikan Wonwoo." Ucap Samuel meyakinkan Jisoo bahwa apa yang diucapkannya benar adanya.

Seungcheol dan Jeonghan kembali melanjutkan perjalanan mereka ke daratan besar.

Ketika mereka telah meninggalkan tameng di daratan kecil, Jisoo langsung bisa menggerakan tubuhnya.

Ia langsung mencoba melewati tameng Wonwoo tapi tak bisa. Jisoo masih mencoba melewati tameng itu dengan memukul-mukul tameng tersebut.

"Shit."

Jisoo paham walau ia menyerang dengan sabitnya, ia tak akan bisa menembus penghalang dengan titah Jeonghan ini.

Jisoo terjebak dan tak bisa melakukan apa pun.

"Jeonghan…"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Apa yang ada di pikiranku, semoga bukan apa yang ada di pikiranmu."