FADE IN TO SERIES (REMAKE)

Series 3 - Fade Into Always

ChanSoo Version

.

.

Original Story By. Kate Dawes

.

.

Cast :

Park Chanyeol

Do Kyungsoo (GS)

Xi Luhan (GS)

Kim Suho

Kim Kai

.

.

Genre :

Romance

.

.

Bab 11

.

.++

Aku merasa gugup dalam perjalanan menuju ke apartemenku.

Keadaan yang sekarang dihadapi Luhan, tidak ada yang tahu apa yang mungkin akan kami dapati. Dia bisa saja sedang duduk santai disana, setelah menemukan sedikit keberaniannya untuk bertemu dengan Minseok dan orang tuaku. Atau bisa saja dia berada di ruang baca, melakukan threesome atau pesta seks yang lengkap dalam hal ini.

Tapi ternyata dia tidak ada. Apartemen tampak gelap, kecuali lampu atas disekitar dapur, pancaran cahaya yang cukup bagiku saat aku menyalakan lampu di ruang baca.

"Well, inilah tempat tinggalku." Sambil mengangkat bahuku. "Tidak terlalu besar, aku tahu, tapi untuk standar LA ini sangat besar."

Ayahku mengerutkan dahi. Ibuku segera bertanya mengapa kami tidak memiliki tirai di jendela dan aku membayangkan suatu hari ketika aku mendapat paket dari UPS yang berisi beberapa tirai buatannya sendiri yang hanya cocok untuk orang-orang diatas usia enam puluhan. Minseok mengatakan dia menyukai tempat ini.

Saat itulah aku melihat rangkaian bunga di atas meja tamu. Aku mengambilnya, melihat kartunya, dan memperhatikan bahwa itu hanyalah gambar hati yang dibuat dengan tangan. Mungkin seseorang memberinya pada Luhan. Atau mungkin dari Chanyeol dan Luhan meletakkannya di sana jadi aku tidak akan melewatkannya. Aku tak tahu, yang mana, karena tidak ada tulisan tangan sedikitpun.

Kami belum lama bahkan baru lima menit sebelum ada yang mengetuk pintu. Ada dua orang, seorang pria dan seorang gadis, yang mengatakan mereka teman Luhan -aku pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Dan mereka mengatakan dia tidak muncul untuk makan malam dan Film itu segera dimulai, dan apakah aku tahu di mana dia?

"Tidak. Dia bilang dia pergi keluar. Apa kau sudah menelepon atau mengirim sms padanya?" Pria itu mengangguk.

Gadis itu berkata, "Dia tidak menjawab."

Di wajah mereka jelas terlihat rasa khawatir yang kurasa mungkin cocok dengan penampilanku.

"Apakah semuanya baik-baik saja?" Ibu berteriak dari ruang baca.

"Ya, sebentar saja."

Aku melangkah keluar dan menutup pintu di belakangku.

"Kalian tahu dia terjerumus dalam sesuatu yang buruk, kan?"

"Ya. Dia mengatakan pada kami semuanya," kata gadis itu. "Kami bukan bagian dari kelompok yang sama."

"Oke, bagus. Tapi aku yakin dia bersama siapa."

"Kami akan pergi mencarinya di sekitar tempat biasanya," kata pria itu.

Gadis itu memberitahuku, namanya Molly, pria itu Suho. Aku sangat benci bahkan hanya mendengar nama itu sekarang.

Aku berkata, "Aku ingin pergi dengan kalian, tapi keluargaku di sini sedang berkunjung. Jika kalian menemukannya, tolong beritahu aku."

Kami bertukar nomor telepon, dan mereka pergi mencari Luhan.

Orang tuaku dan Minseok tinggal sekitar satu jam atau lebih. Sebagian besar waktunya habis terfokus pada bayi Minseok, dan hebatnya lagi dengan berbagai cara, hal ini tidak sedikitpun menutupi kemungkinan orang tuaku mencari banyak kesempatan untuk melanjutkan kembali kampanye mereka untuk membawaku pulang ke rumah.

Meskipun, ibuku mencoba dengan caranya sendiri yang tidak terlalu halus. Dia menceritakan sesuatu tentang masa kanak-kanak yang dia pikir akan membuatku kangen akan rumah. Setiap kalinya, Ayahku selalu mengatakan sesuatu seperti, "Tapi kau akan tahu jika kau masih berada di rumah."

Aku merasa sangat frustrasi dengan hal ini. Begitu bertubi-tubi hingga aku tidak bisa menampungnya lagi.

"Ini rumahku. Kalian melihatnya."

Mereka tampak terkejut.

"Kyungsoo..." Minseok berkata dengan nada memohon, nada suaranya melemah.

"Apa, Minseok?" Bentakku, kemudian kembali menatap ke orang tuaku. "Aku tinggal di sini sekarang. Aku sudah memulai kehidupanku. Aku bahagia, oke? Benar-benar bahagia. Dan seharusnya kalian turut berbahagia untukku."

"Kau benar," kata ibuku dengan ekspresi di wajahnya yang mengatakan dia berusaha untuk mengakhiri sedikit pertengkaran ini.

Untuk sekali ini, Ayahku tidak mengatakan apa-apa.

Bayi itu mulai menangis. Minseok mengangkatnya dan memeriksa popoknya.

Ibuku berkata, "Apakah perlu ganti?"

"Tidak," kata Minseok. "Kupikir dia membutuhkan istirahat. Bisakah kita pergi sekarang?"

Ketegangan semakin berat. Aku benci akan hal itu. Membenci setiap detiknya. Apa yang pada awalnya merupakan akhir pekan yang relatif menyenangkan berubah persis seperti yang kutakutkan. Pertengkaran, berpura-pura semuanya baik-baik saja, mengontrol semuanya, semua yang telah aku tinggalkan di belakang di Ohio-sekarang ada di ruangan baca di rumah baruku.

Aku hanya ingin mereka pergi.

Dan sepertinya mereka melakukannya, kami membuat rencana sarapan besok dengan setengah hati sebelum mereka berangkat pulang keesokan harinya.

.

.

.++

Aku mencoba menelepon Luhan ketika mereka pergi. Tidak ada jawaban. Aku meninggalkan pesan suara, kemudian mengirim sms padanya. Aku menjadi semakin yakin bahwa ia pergi dengan "teman-temannya" yang memiliki kokain.

Aku menelepon Chanyeol.

"Halo, gadis impian," jawabnya.

"Bisakah kau datang?"

"Apa ada yang salah? Dimana keluargamu?"

Aku merasakan ada sengatan di belakang tenggorokanku sebelum aku menangis. Tapi aku melawannya. "Keluargaku sudah kembali ke Hotel mereka, dan ada perbedaan pendapat dengan mereka."

"Oh tidak. Maafkan aku."

"Bisakah kau datang kemari, please? Aku membutuhkanmu."

"Beri aku waktu tiga puluh menit."

.

.

.++

Teleponku menjadi sangat berguna, bisa digunakan untuk menghabiskan waktu luangku sambil menunggu kedatangan Chanyeol. Aku memeriksa Twitter untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan orang-orang yang aku jadikan teman, dan melihat topik yang sedang ngetrend. Tidak banyak yang menarik bagiku. Jadi aku membuka browser dan melihat majalah People, di mana mereka memiliki foto dari red carpet pada penghargaan Emmy.

Aku mengingat kembali tentang malam itu ketika Chanyeol membawaku ke acara pemutaran film perdana di New York City. Pengalaman pertamaku berjalan diatas red carpet. Mungkin juga yang terakhir. Tapi aku tak peduli. Melihat bagaimana luar biasa glamor penampilan para wanita yang membuatku merasa seperti seseorang yang berpura-pura menjadi bagian dari mereka. Aku tidak ada urusan bahkan berpikir aku bisa melepaskan diri.

Aku tersentak dari serangkaian lamunanku ketika mendengar suara kunci di pintu. Mungkin itu Luhan, atau bisa juga Chanyeol, yang memiliki kunciku, tapi masih terlalu dini dia datang. Ia mengatakan untuk memberinya waktu tiga puluh menit.

Aku tetap duduk di sofa tapi melihat kearah pintu saat knop berputar perlahan-lahan. Aku berpikir Luhan akan menyelinap masuk.

Lalu aku membeku. Mulutku menjadi kering. Mataku melebar dan dia terpaku disana.

Astaga. Kai...

.

.

.++

TBC