Episode 39 (Invasion Begin)
Mereka semua terperanjat tidak menyangka bahwa orang tua violet adalah dua demigod muda, Percy Jackson dan Annabeth Chase. Padahal, mereka sama sekali belum menikah dan belum ada keinginan untuk berkeluarga secara serius, meskipun mereka sama-sama menjalani pacaran dengan serius.
"Kenapa semua orang pada kaget begitu?" kata violet sambil garuk-garuk kepala.
"Serius, violet? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau keluargamu adalah mereka? Ini benar-benar di luar dugaanku." Kata Sammy sambil mencoba berpikir rasional.
"Itu karena jika dia memberitahu kalian, bisa jadi masa depan akan berubah dan bisa-bisa dunia masa depan akan hancur." Suara yang menggema di perpustakaan, membuat mereka semakin waspada terhadap seseorang. Begitu juga, captain seperti takamina, rena dan masao.
"Siapa itu?" Tanya rena dengan nada galak.
Lalu, muncul seorang pria mengenakan kacamata hitam memakai jaket hitam bergaris pink, kemudian membawa kamera lama dengan gambar seperti 3D. Dia pun membuka kacamatanya dan berkata, "Dunia itu seperti parallel. Bisa berkaitan satu sama lain. Kita memang tidak bisa mengubah masa depan, tetapi bisa kita perbaiki dan tetap maju terus tanpa melihat belakang. Dimas, kau di sini rupanya?"
"Tsukasa, iya? Iya benar. Aku di sini untuk melatih mereka." Kata dimas dengan enggan.
"Hoo…begitu iya? Sayang sekali tidak ada Ares maupun Poseidon di sini. Bisa-bisa—"
"Bisa-bisa kau sebut nama itu tanpa menggunakan dewa?! Kau ini sebenarnya siapa, dasar—" saat takamina belum selesai bicara, terlihat wajah tsukasa sangat tajam.
"Hey, perempuan! Bisa diam apa tidak? Ini tidak ada kaitannya denganmu, ok?! Sekarang diamlah dan biarkan aku menyelesaikan permasalahan ini."
Wajah Takamina pun menjadi ungu dan kelihatannya dia membenci pria yang baru saja kasar terhadapnya. Kemungkinan dia ingin balas dendam.
"Dimas, Invasi sudah dimulai. Aku melihat ketika Izanami sedang menuju ke sini. Kemungkinan, pasukan Kirito ke sini untuk membantu kita. Untuk saat ini, aku membutuhkan sebuah gulungan itu. Kalau tidak salah—" kemudian tsukasa berjalan mencari sebuah gulungan.
"Kalau boleh tahu, itu gulungan isinya apa?" Tanya annabeth.
"Nanti aku jelaskan. Sekarang kalian semua! Tidak ada lagi latihan perang atau meneliti. Kita akan langsung perang. Invasi pasukan Uranus segera dimulai." Kata dimas sambil teriak-teriak.
"Lalu bagaimana dengan bantuan dari pasukan Kirito?" kata seseorang dari arah kiri. Percy pun mencoba berdiri sambil dipegang lengannya oleh annabeth.
"Kirito pasti akan datang. Yang penting sekarang adalah kita bakal mempertahankan bagaimana caranya Izanami tidak ke sini."
"Kalau begitu, kita mulai rapat, bocah. Ayo semuanya, kita adakan rapat dan juga strategi perang! Semuanya, kode merah dinyalakan!" teriak takamina.
Akhirnya para ilmuwan membunyikan kode merah dan dimulai persiapan perang melawan pasukan yang dipimpin oleh Izanami. Termasuk para kru kapal argo 0 dan II itu sendiri. Beberapa menit kemudian, Tsukasa menemukan sebuah gulungan dan segera beritahu dimas.
"Aku sudah menemukannya." Kata tsukasa sambil melambaikan tangan.
"Bagus. Kita akan pecahkan kode itu." Janji dimas sambil pegang pundak tsukasa. Terlihat gulungan itu sudah lama tidak terpakai. Apalagi, cara perawatannya berbeda dengan lazimnya. Terlihat gulungan masih bagus tulisannya. Justru banyak tulisan-tulisan yang sukar mengerti. Seperti menggunakan bahasa jepang kuno, Indonesia memakai bahasa melayu kuno.
Akhirnya, tsukasa melemparnya dan tepat ke arah dimas. Namun, tanah bergetar tidak sepertinya biasanya.
"Kenapa ini? Apa mereka datang untuk menginvasi kita?" Tanya seorang peneliti yang merasakan gempa aneh.
"Aku tidak yakin!" teriak rena, "Lebih baik kita cek dulu!" kata rena sambil berlari menuju ke pintu keluar perpustakaan. Semua lari terbirit-birit dan panik ketika ada sebuah kaki raksasa yang muncul dari atap perpustakaan. Semua orang tewas. Violet, annabeth dan piper bersembunyi di dalam kolong meja. Annabeth menggunakan belatinya untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu terjadi.
"Apa kita sudah aman, violet?" Tanya annabeth. Dia mengucapkan namanya karena dia bukan tidak mau mengakui, tetapi dia masih bingung. Makanya, dia kesampingkan soal masalah violet yang muncul tiba-tiba.
Lalu, muncul seorang wanita mengenakan baju warna merah, membawa nimbus awan naga dan membawa pedang katana. Terlihat juga dia mengenakan tas gulungan yang berisi mantra mantra yang mungkin saja sangat merepotkan bagi percy dan kawan-kawan. Ternyata itu adalah Izanami. Mantan dewi yang bergabung dengan Titan karena sangking benci nya kepada izanagi dan 3 anaknya. Maka, dia pun tersenyum keji.
"Wah wah wah, sepi sekali iya. Seandainya saja–"
"Seandainya apa, kau merusak suasana, nona! Jadi, berhentilah bermain dan bertarung denganku!" kata tsukasa dengan kesal karena gulungan nya hampir kena injak izanami yang mungkin secara tidak sadar dia melihat gulungan itu.
Izanami pun mengambil gulungan itu dan dia berkata, "Gulungan apa ini? Memanggil anak bodoh iya? Hahahaha! Yang benar saja, bocah! Kau pikir seorang manusia bisa mengalahkanku?"
"Tentu saja! Kenapa tidak kalahkan saja aku?!" kata tsukasa. Di belakangnya, ada dimas, percy, Jason, mayu, takamina dan masao.
"Hooo...para bocah yang menyebalkan! Tonatiuh, Khione! Bereskan mereka! Aku mau menggunakan gulungan ini." Kata izanami sambil meninggalkan perpustakaan dengan tertawa. Takamina yang kesal pun langsung mengejarnya dan ingin menghabisinya sendiri.
"Tunggu, takamina! Kau tidak kuat melawannya!" kata masao sambul mengejar takamina.
Di sisi lain, Dimas mengepalkan tangannya dan berkata dalam hati, "Aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Cukup satu kali kesalahanku!"
"Percy, Jason, kalian bawa annabeth, piper dan violet ke tempat amaterasu. Mungkin dia bisa membantu kalian. Ini bukan masalah kalian sanggup atau tidak, tetapi aku merasa gulungan itu sangat membantu saat kita sedang kesulitan. Itu adalah wujud amaterasu sejati. Jadi, aku berusaha mengulur-ulur waktu untuk mendapatkan gulungan itu kembali. Paham?" Tanya dimas.
"Iya, kami mengerti." Kata percy. Dia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi ada sesuatu yang menghalangi.
"Ok. Kalian cepatlah ke sana. Tsukasa, Mayu, Sammy, kita kejar izanami." Kata dimas dengan bergegas sambil menyiapkan senjatanya.
Kemudian, Percy dan Jason mengulurkan tanganke pacar masing-masing.
"Butuh bantuan, pipes?" Tanya Jason dengan tersenyum.
"Ayo. Ada misi yang harus kita kejar sekarang." Kata percy. Namun, annabeth dan piper tersenyum saat mereka bebarengan mengulurkan tangan.
"Sepertinya kalian cocok jadi sahabat karib deh." Kata piper.
"Aku setuju dengan piper. Nah, kita mau ke mana sekarang?" Tanya annabeth sambil keluar dari tempat persembunyian.
"Kita akan menuju ke tempat amaterasu. Dimas ingin meminta kita untuk membantu nya dalam misi melawan izanami." Kata Jason. Kemudian, percy menjelaskan saat dia bersembunyi di rak lemari perpustakaan, gulungan yang diambil oleh izanami daan juga misi yang diberikan oleh dimas serta mereka mengejar izanami yang menuju ke perkemahan jepang.
Sontak, violet pun emosi dan berkata, "Ini…mustahil! Aku harus membantu dimas dan Sammy!"
"Whoa whoa, jangan! Dia ingin membantu kita untuk memanggil amaterasu. Jika misalnya kita berhasil memanggilnya, kemungkinan kita bisa mengatasinya." Kata percy
"Caranya, otak ganggang?" kata annabeth. Tidak ada satupun yang mencetuskan ide. Namun, violet berkata, "Aku punya ide. Ikuti aku." Violet pun berlari dan menghindari reruntuhan yang jatuh. Mereka berusaha berlari dan juga menghindari batu-batuan. Banyak sekali para ilmuwan tewas, ada yang terkena reruntuhan bebatuan, ada juga tewas dibunuh oleh izanami. Kemudian, ada juga dibekukan dan dibakar oleh Tonatiuh dan juga Khione.
Memang dewa maupun dewi berkhianat, namun ada juga loyalis. Benar kata Jason, dewa memang susah ditebak, dan itu terbukti ketika di sejarah mitologi dia diagung-agungkan oleh rakyat Aztec tiba-tiba menjadi seorang pengkhianat.
"Percy, kita harus bergegas sebelum menimpa kita!" teriak annabeth. Dia pun melihat percy, piper, Jason dan violet berlari tanpa menyadari annabeth di belakangnya. Saat percy menyadari annabeth tidak ada, dia pun menoleh dan langsung berlari menemuinya.
"Annabeth!" teriak percy. Saat itulah dia tidak peduli apa yang menimpa dirinya, dan batu tepat mengenai percy. Annabeth shock dan langsung berlari untuk menemui percy. Dia tidak mau terjadi sesuatu, baik percy maupun annabeth sama-sama tidak mau saling kehilangan satu sama lain.
"Percy!" teriak annabeth dan berusaha membangunkannya dengan menampar wajahnya, menggoyangkan bahunya dan memiringkan badannya. Barulah dia melihat atap dan dia pun melindungi percy. Namun, batu itu ditembak dengan mudah dengan oleh pria itu. Mengenakan baju hitam, mata kirinya merah dan mata kanannya hitam. Dia pun tersenyum kepada annabeth dan percy.
Kemudian, di susul oleh wanita berambut krem dan menggunakan seragam ksatria, kemudian pria baruh baya yang banyak tato nya dan juga wildan yang saling waspada.
"Kau ini siapa?" Tanya annabeth.
"Wah, lagi-lagi percy lupa bilang kalau aku teman barunya dia. Menyebalkan!" katanya sambil garuk garuk kepala. Yang wanita itu terlihat wajahnya cemburu karena melihat dirinya. Namun, dia bisa mengerti wanita itu pacarnya pria yang mata kirinya merah.
"Nona, sebaiknya kau cepat-cepat! Apa bisa kau panggil Gigas, nona?" kata harper.
"Kau ini tidak sabaran rupanya, harper!" gerutu wanita berambut krem.
"Iya iya. Lebih baik kita akan membantu mereka dulu. Dan aku anggap bala bantuan telah tiba!" kata wildan tersenyum.
To be Continued
