FINAL FANTASY VERSUS


052

NOCTIS


06.09.756 M.E. | 05.30 PM

"Ayo kita makan di restoran Takka. Nona Lunafreya bisa mencoba makanan di sana juga!" Prompto menyarankan kepada teman-temannya ketika berkumpul untuk menentukan apa yang akan mereka lakukan sore ini.

Tadinya Noctis setuju, tapi dia berpikir makanan cepat saji tidak baik untuk Lunafreya yang sedang terluka. Apalagi kebanyakan makanan di restoran Takka berupa gorengan yang tidak sehat. Dia berpikir makanan buatan Ignis akan jauh lebih layak bagi Lunafreya. Terlebih lagi ini adalah kesempatan langka untuk Lunafreya mencoba masakan Ignis yang lezat.

"Mengenai itu," Noctis memulai, "aku ingin kita dan Luna menyantap masakanmu, Ignis."

Untuk kesekian kalinya hari ini, Ignis mendesah. Dia melepas kacamatanya, dengan hati-hati mengelap bersih lensanya sebelum mengenakannya sekali lagi. Dan ketika dia melakukannya, tatapan tajam yang diberikannnya kepada Noctis dan Prompto memulai aktivitas yang akan mereka lakukan sebelum malam tiba. Setengah jam kemudian, ketika berdiri di tengah hujan gerimis, Noctis sedang memancing ikan untuk makan malam.

"Apa kau pikir bawang dan berri ini cukup?"

Sang Pangeran menatap kepada Prompto yang sibuk membawa sekeranjang buah-buahan dan sayur-mayur yang dia panen dari area sekitar. Ketika Noctis menyibukkan diri mencari ikan, Prompto mengais tanah di area sekitar Hammerhead, mencoba untuk tidak berkelana terlalu jauh dari perhentian selama mencari apapun yang bisa dimakan.

"Ignis pasti tahu cara menggunakan bahan-bahan itu," jawab Noctis, menarik kailnya. Sejauh ini, hanya tertangkap dua ikan yang relatif kecil. Jika dia tidak menangkap ikan yang lebih besar, kemungkinan besar beberapa orang dari kelompok mereka tidak memperoleh makan malam yang layak.

"Apa kau pikir ada ikan yang besar?"

"Kuharap begitu."

Selesai memeriksa bahan-bahan yang dia panen, Prompto perlahan merembet ke ujung perairan di mana Noctis berdiri dan merunduk di samping sang Pangeran. Dengan hati-hati Noctis menarik kail ke kiri.

"Hei, Noct."

"Ada apa, Prompto?"

Fokus untuk tidak mengganggu pancingannya, Noctis berhati-hati menyeka air dari wajahnya. Dia harus bisa melihat tolakan sekecil apapun di umpan ketika tangan dinginnya kesulitan membedakan tarikan dari gigitan ikan atau hanya angin yang menarik kail.

"Aku turut berduka."

Tangannya menyentak sedikit. Kemungkinan besar telah menakuti semua ikan, Noctis menarik kembali kailnya. Waktunya untuk menggunakan umpan yang lain.

"Untuk apa?" dia bertanya sebagai respon dari permohonan maaf yang halus dan penuh dengan penyesalan.

Terlihat mirip sekali seperti Chocobo yang terluka, Prompto menggaruk dagunya. "Kau tahu, untuk semuanya. Ayahmu, Insomnia, Nona Lunafreya…Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah terjadi."

Melepas umpan, dia mengaitkan umpan yang lain di ujung kail. Noctis menguji coba kail. Cukup kokoh. Rasanya mereka semua terdorong untuk mengasihani dia. Dia bisa menerima permohonan maaf dari Lunafreya karena wanita itu sempat berada di Insomnia, telah melihat kematian ayahnya dan kehancuran ibu kota. Tapi untuk mendengarnya dari Prompto, yang sama sekali tidak terlibat, membuatnya bimbang.

"Itu bukan salahmu," dia mengatakan kata itu dengan nuansa déjà vu, sudah mendengar dan mengatakan itu sepanjang hari. "Niflheim adalah pihak yang patut disalahkan."

Menggunakan kekuatan lebih dari yang diperlukan, dia melempar kail lebih jauh, hampir mengenai ujung danau yang berukuran sedang, yang terletak di belakang Hammerhead. Prompto mengangguk.

"Yeah, itu semua salahnya Niff."

"Dan kita akan membalas perbuatan mereka," Noctis berjanji ketika dia merasakan tarikan kecil di kailnya. Sepuluh menit berikutnya adalah pertandingan sengit antara dia dan ikan. Nyaris saja dia memutus kailnya setelah satu tarikan ke satu arah atau memutar kail terlalu cepat. Akhirnya dia memperoleh Lucian Catfish yang besar dan kuat, yang hampir menampar wajahnya ketika dia menarik ikan itu yang melawan dari dalam air.

"Wohoo! Itu ikan yang besar, Noct!" Prompto menyelamati dia dengan pukulan di punggungnya, percakapan mereka sebelumnya terlupakan karena perayaan keberhasilan menangkap ikan itu. "Kelihatannya kita akan makan-makan besar malam ini."

Noctis berhati-hati melepas umpan dari ikan dan meletakkannya di ember penuh air, memisahkannya dari ikan-ikan kecil yang dia tangkap sebelumnya. "Tidak juga, ikan ini untuk Luna. Aku akan mencoba menangkap ikan lainnya untuk kita makan."

"Tunggu, kau memberikan seluruh ikan itu untuk Nona Lunafreya?" Prompto menganga kepada Noctis. "Maksudku, aku juga ingin memberikan Nona makan, tapi kurasa dia tidak akan mampu menghabiskan semua catfish itu sendirian. Berat ikan itu terlihat mencapai lima kilogram!"

"Maaf, teman," Noctis mengecek umpan yang terkait erat di kail dan melemparnya sekali lagi. "Luna mendapat seluruh ikan itu."

Prompto hanya bisa menggerutu. Noctis tidak dapat menahan senyuman sebagai respon dari ekspresi temannya itu. Serahkan kepada sang penembak untuk mengangkat suasana hati mereka. Walaupun Prompto tidak terhubung kepada Noctis melalui statusnya seperti Ignis atau Gladiolus, Prompto adalah satu dari sedikit sahabat sejatinya. Dan ketika Gladiolus bertugas untuk mengawalnya dan Ignis bertugas untuk memandunya, satu-satunya tugas Prompto adalah berjalan di sampingnya sambil melempar candaan dan mengambil foto. Kemudian sebelum dia dapat menahannya, kekehan Noctis dibalas dengan tawa ringan dari temannya.

"Terima kasih, Prompto."

"Sama-sama, Noct."

Noctis menghabiskan setengah jam ke depan dengan mencoba mengulang menangkap ikan. Tetapi yang berhasil dia dapat hanya beberapa Hornet Bluegills kecil. Melempar kail untuk kesekian kalinya, dengan sabar dia menunggu ikan untuk menggigit umpan.

"Kau tahu, kau berbeda di dekat Nona Lunafreya," Prompto berkata kasual sambil duduk di dekat Noctis, memainkan telepon genggamnya.

Noctis berusaha acuh tak acuh. "Benarkah?"

"Yeah, ketika kamu berada di dekat dia, kamu─aku tidak tahu, kamu lebih peduli. Atau kira-kira seperti itu. Rasanya sulit untuk menggambarkannya dalam kata-kata," Prompto berusaha menjelaskan, melakukan gestur aneh dengan tangannya. "Dia pasti amat berarti bagimu."

Noctis menatap ke permukaan danau lagi. Kalau saja Prompto mengerti seberapa berharganya Lunafreya bagi dirinya. Hubungan mereka selalu rumit. Noctis yakin akan perasaannya kepada sang Oracle. Hanya status dan apapun yang diturunkan kepada mereka yang membuat mereka sulit bersama. Oracle dan Raja Sejati. Dulu, itu semacam legenda yang sulit dijelaskan, sesuatu yang sulit dia pahami. Sekarang, dia bertanya-tanya kebenaran di balik legenda itu.

"Itulah alasan Luna tetap mendapatkan catfish," kata Noctis, sekali lagi kembali ke kepribadian kalemnya.

Mengabaikan protes dari Prompto, dengan semangat yang terangkat, dia terus memancing, mencoba untuk menangkap sesuatu yang lebih layak bagi empat lelaki untuk berbagi di samping ikan-ikan kecil yang memenuhi ember. Ketika malam tiba dan waktunya mereka kembali ke karavan, Noctis membawa Lucian Catfish di satu ember, ikan itu mengepak-ngepak di dalam ember yang sempit. Di tangan lainnya, dia membawa ember yang penuh dengan tujuh ekor Hornet Bluegills seukuran tangan. Harapannya untuk menangkap catfish bagi mereka sirna ketika Ignis memanggil mereka untuk kembali.

"Bagaimana hasilnya?" Ignis, mengganti pakaian formal ke baju kasual, bertanya ketika mereka berdua berjalan dengan lesu menghampirinya. Akhirnya hujan berhenti ketika matahari terbenam. Area di depan karavan sudah dipenuhi meja dan kursi, pemanggang, kompor gas portabel, dan lain-lain. Prompto meletakkan sekeranjang sayuran dan buah-buahan ke meja untuk diperiksa Ignis.

"Kerja yang bagus, Prompto. Ini dikombinasikan dengan rempah-rempah yang kutemukan seharusnya cukup untuk makan malam ini," Ignis memuji sang penembak. Dia menunjuk ke koper yang diletakkan di sisi karavan. "Aku sudah menyiapkan pakaian santai untuk kalian. Sebaiknya segera ganti sebelum kalian terkena demam. Gantilah di toilet di restoran Takka. Nona sedang beristirahat."

Kalimat terakhir diucapkan dengan tegas ketika Prompto nyaris membuka pintu karavan, lupa bahwa sang Oracle sedang beristirahat di dalam.

"Benar, aku mengerti," kata Prompto, malu-malu. Dia mengambil pakaiannya dan berlari ke restoran.

"Ini untuk Luna," Noctis mengangkat ember berisi catfish. Kemudian dia menurunkannya dan mengangkat ember satunya untuk makan malam mereka. "Yang ini untuk kita."

"Aku mengerti. Kau sudah bekerja dengan baik, Noctis," Ignis membungkuk untuk memeriksa catfish. "Kari untuk Nona, dan ikan panggang untuk para jentelmen. Ya, ayo kita masak keduanya untuk menu malam ini. Noctis, pergilah dan ganti baju. Aku butuh bantuanmu untuk menyiapkan makan malam."

Dia pergi dan mengambil baju dari koper dan berjalan ke restoran Takka. Ketika dia memasuki restoran, Prompto terburu-buru keluar, mengenakan kaos lengan buntung merah, celana abu, dan sepatu bot yang dikenakan serampangan karena talinya tidak terikat erat. Menggelengkan kepala, Noctis masuk untuk mengganti pakaian Pangerannya menjadi kaos putih polos, celana jeans gelap, dan sepatu kets yang nyaman. Ketika dia kembali, Ignis sedang bekerja keras menguliti ikan ketika Prompto berhati-hati mencuci dan mengupas sayur-mayur. Gladiolus tidak ada di sana.

"Di mana Gladio?" tanya Noctis, membuang pakaiannya ke tumpukan baju basah. Dia belum melihat pria besar itu semenjak kembali ke perhentian.

"Dia sibuk menyiapkan tenda di luar sana. Itu bukan lokasi kamping ideal, tapi kita harus melakukannya. Di momen ini, tidak ada tempat tinggal lain yang tersisa bagi kita berempat."

"Seberapa jauh 'di luar sana' itu? Aku tidak suka meninggalkan Luna di sini tanpa pengamanan," Noctis mengambil pisau kecil di tangan, sangat berhati-hati membantu Prompto mengupas sayuran.

"Ah, maaf, maksudku, tidak termasuk kamu. Tentu saja kamu akan tinggal di sini bersama Nona. Kalau ada sesuatu yang terjadi, kau bisa mengurusinya sampai kami tiba. Setidaknya, itulah harapanku," Ignis mengambil ikan yang mengepak-ngepak dari ember dan dengan potongan cepat, memutus kepalanya dari badan. "Dari kita berempat, kamu memiliki alasan kuat untuk tinggal di sini. Kecuali jika…kamu memilih untuk tidak melakukannya?"

Sang penasehat tampak berkomplot, mencoba untuk memojokkan dia untuk mengutarakan perasaannya. Noctis hanya bisa bergumam. "Aku tidak berkata begitu."

Mereka lanjut memasak, Ignis memerintah bagaikan seorang Komandan di medan perang, kedisiplinannya yang ketat terlihat ketika dia memberi tahu Prompto untuk tidak mengupas terlalu banyak dan Noctis bahwa dia memotong kentang tidak rata, atau kepada mereka berdua untuk tidak memegang ikan.

"Dan satu hal lagi, Noctis," kata Ignis, melintasi Pangeran yang diberi tugas untuk mengaduk panci berisi kari untuk Lunafreya. "Maafkan Gladio untuk kekasaran yang mungkin dilakukannya di depan. Dia sedang kesulitan berjuang karena minimnya berita tentang ayah dan adik perempuannya."

Noctis berhati-hati mengaduk kompor. "Aku tahu. Aku bukan anak kemarin sore, kau tahu."

"Hanya mengingatkan bagianku, tidak lebih dari itu," Ignis berhati-hati meletakkan Hornet Bluegills yang sudah dikuliti dan dipotong kepalanya di atas pemanggang, berdiri ketika memasaknya. Noctis melirik ke belakang lelaki itu. Prompto sudah menghilang dengan membawa kamera, berusaha memotret Cindy di bawah langit berbintang, atau apapun yang bisa dilakukan dengan kameranya untuk memotret apa saja yang menarik.

Sekarang adalah waktu terbaik baginya untuk meminta saran. "Apa yang sebaiknya aku lakukan, Ignis?" Pertanyaan Noctis keluar sebagai permintaan yang senyap.

Ignis menatap Noctis dan pada akhirnya harus melepas kacamatanya yang terkena embun dari pemanggang. "Aku tidak akan mengetahui jawaban untuk pertanyaan itu lebih darimu sendiri, Pangeran," Ignis menyatakan keseriusannya dengan menggunakan sebutan bagi Noctis. "Di titik ini, kita bisa melupakan protokol. Aku ragu ada satu pun protokol untuk situasi seperti sekarang. Satu-satunya yang bisa kupikirkan adalah, apa yang ingin kamu lakukan?"

Aku? Ada banyak kewajiban yang tertinggal untuknya sebagai seorang Pangeran dan keturunan terakhir Lucis Caelum. Dia tidak tahu apakah keinginannya lebih dari sekedar hasrat egois. Dia memikirkan ayah, menyaksikan beliau pergi dengan Regalia, kemungkinan besar mengetahui nasib Insomnia di momen dia menyetujui perbincangan perdamaian. Dia memikirkan Lunafreya, seberapa rapuhnya dia terlihat ketika meninggalkan gerbang kota. Lalu dia memikirkan teman-temannya, yang berjanji akan terus berada di sampingnya─bahwa dia akan sampai di Altissia seolah itu adalah hal terakhir yang akan mereka lakukan.

Hanya ada satu pilihan yang jelas. Mengangkat pandangannya kepada Ignis, suaranya tegas walaupun hatinya gemetar. "Aku ingin semuanya kembali. Kristal Agung. Insomnia. Kerajaan…Tenebrae. Aku ingin merebut kembali semuanya dari Niflheim."

Melalui asap putih yang membumbung, dia pikir dia melihat persetujuan dan kebanggaan dari wajah Ignis. Itu tertutupi pada detik berikutnya ketika ikan kedua diletakkan di atas pemanggang. Kata-kata dari penasehatnya diucapkan lantang dan jelas.

"Kalau begitu tidak perlu bingung lagi. Kamu memiliki rekan-rekan yang bersumpah akan selalu mendampingimu. Ke manapun kau pergi, kami akan mengikutimu, Pangeran. Kita akan merebut kembali apa yang menjadi hakmu. Kamu memiliki sumpahku."

Dan itu semua lebih dari cukup. Sambil tetap mengaduk kari, Noctis menengadah ke langit, melihat bulan purnama dan bintang-bintang yang bersinar di atasnya. Rasanya lega mengetahui pagi selalu tiba setelah malam yang gelap. Dan ketika matahari terbit di langit, dia akan menjalankan petualangan baru yang akan menuntun dia kembali ke rumah.

"Izinkan aku menguji rasanya," kata Ignis ketika Noctis selesai mengaduk kari, mengizinkan pria berkacamata itu untuk mengambil porsi kecil sebagai sampel. Noctis menonton dengan cemas ketika Ignis menyeruput sedikit sup di sendok. Dia bergumam kecil, lalu mengambil sampel kedua untuk dicoba.

"Yah, bagaimana rasanya?" tanya Noctis ketika jelas bahwa Ignis tidak berniat menyuarakan pemikirannya.

"Maafkan aku, aku seperti kewalahan dengan rasanya yang lezat. Nona Lunafreya akan kagum dengan kemampuan memasakmu," Ignis menyodorkan penyerok kepada Noctis lagi. "Nasinya akan selesai dimasak. Kamu bisa mulai menyiapkan meja."

Ignis kembali ke pemanggang karena masih ada beberapa Bluegills yang tersisa untuk dimasak. Merasa penasaran, Noctis mengambil sampel kecil dari masakannya, merasakan sendiri kari merah itu. Rasa yang gurih meledak di mulutnya, mengisi dia dengan kehangatan dari kepala ke kaki. Rasanya lezat sekali sampai membuat dia merasa bersalah sudah mengumumkan masakan kari itu hanya untuk Lunafreya saja. Tapi hasratnya untuk melihat wanita itu menikmati masakannya tidak sebanding dengan perutnya.

Pintu karavan yang terbuka menyita perhatian Noctis. Kalau saja dia tidak meletakkan penyerok kembali ke kompor, dia pasti sudah menjatuhkannya ketika melihat Lunafreya berhati-hati menuruni undakan metal menuju pintu karavan. Keresahannya dulu mengenai pakaian yang dipilih Cindy sudah hilang. Walaupun pakaian itu tidak langsung cocok dengan aura kehormatan dan kepentingan Lunafreya, itu setidaknya dapat menggambarkan sedikit dari aura tersebut.

Gaun putihnya yang robek dan terkena darah digantikan dengan jeans putih, kaos hitam sederhana, kardigan, dan sepatu bot kulit hitam yang sudah mengelupas karena lama dipakai. Rambut pirangnya yang panjang diikalkan ke atas. Noctis lega melihat wanita itu tidak sepucat ketika mereka bertemu lagi. Ada warna kemerahan di pipinya.

"Apa kau beristirahat nyenyak, Putri?" Ignis adalah yang pertama menyapa Lunafreya ketika wanita itu menuruni undakan terakhir dengan malu-malu. Noctis tidak tahu apakah penyebabnya adalah pakaian barunya atau fakta bahwa wanita itu berada di lingkungan yang baru.

"Ya, terima kasih," dia meremas tangan kirinya dengan tangan kanannya.

"Keresahan kita sirna sudah. Walaupun aku berasumsi Noctis sudah memberitahumu mengenai aku, aku tetap ingin memperkenalkan diri. Ignis Scientia siap melayanimu, Nona Lunafreya," Ignis memperkenalkan dirinya dengan hormat, membungkukkan badan sejajar dengan pinggang. Percayakan kepada penasehat pribadinya untuk menunjukkan Lunafreya kesopansantunan yang diperlukan wanita itu.

Lunafreya memiringkan kepalanya kepada Ignis. "Noctis sudah menceritakan banyak tentangmu. Aku dengar kau seorang koki yang andal."

"Tidak semahir yang dipikirkan orang-orang. Mayoritas masakannku disetarakan untuk gizi Noctis. Aku ragu orang biasa akan berpikir kemampuanku layak memperoleh pengakuan. Omong-omong, kamu tiba tepat waktu. Makan malam sudah hampir siap," Ignis memindahkan ikan bakar terakhir ke piring yang telah dia siapkan. "Duduklah di kursi ini. Noctis, siapkan piring untuk Nona, kalau kau tidak keberatan. Aku akan memanggil Gladio dan Prompto."

Segera saja Ignis pergi, meninggalkan Noctis berdua dengan Lunafreya. Postur sang Oracle menjadi lebih relaks ketika tertinggal mereka berdua. "Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Lunafreya, berjalan untuk berdiri di samping Noctis. Sekarang tanpa sepatu haknya, dia beberapa sentimeter lebih pendek dari Noctis. Ketika wanita itu cukup dekat dengannya, dia bisa mencium aroma bunga. Sama seperti ketika mereka masih kecil.

"Kamu bisa membantu menyiapkan meja," kata Noctis, menunjuk meja metal dan alat makan di sampingnya.

"Rasanya aneh," kata Lunafreya, mengumpulkan piring-piring di tangan dan menaruh lima di atas meja. Untung saja Ignis sudah mempersiapkan peralatan makan untuk enam orang daripada empat orang. Dia telah mengantisipasi kehilangan atau rusaknya satu set peralatan dan membeli dua untuk berjaga-jaga. Ini berarti Lunafreya memiliki perlengkapan ekstra tanpa mereka perlu membeli tambahan satu set. "Aku tidak pernah membayangkan kamu mengenakan pakaian santai. Apalagi mengaduk penyerok."

"Sama denganmu," Noctis membalas, masih belum terbiasa melihat wanita itu mengenakan apapun selain gaun. "Bagaimana pakaian Cindy untukmu?"

"Sepatunya agak kebesaran, tapi yang lainnya cukup untukku," kata Lunafreya. Dia menarik kardigan. Noctis melebarkan matanya sedikit. Pada pandangan kedua, kardigan itu mengingatkannya akan jaket dari seragam Pangerannya. "Apa ini terlihat aneh bagiku?"

"Tidak!" Sanggahan itu nyaris terdengar seperti teriakan yang mengagetkan mereka berdua. Dia membersihkan tenggorokannya, berpindah untuk mengisi piring-piring dengan nasi secukupnya. "Tidak, tidak sama sekali. Kau terlihat cantik… Cantik sekali, maksudku."

Untuk alasan tertentu, menggunakan kata sifat biasa tidak cukup untuk menggambarkan Lunafreya. Merasakan wajahnya memanas, Noctis terus membagi nasi. Ketika dia selesai, dia menuangkan kari dalam jumlah besar ke piring Lunafreya. Wanita itu butuh makanan ekstra. Ketika dia mengembalikan penyerok ke kompor, dia menangkap senyuman kecil Lunafreya di balik tangan wanita itu. Ternyata pujian sama sekali tidak buruk, pikir Noctis ketika dia mengambil ikan dari piring Bluegills panggang. Dia meletakkan satu ikan panggang ke masing-masing piring temannya, memberikan yang terbesar untuk Gladiolus.

Ketika Lunafreya dan Noctis duduk, Ignis kembali dengan menyeret Prompto dan Gladiolus. Begitu melihat piring mereka sudah diisi dengan makanan, tiga orang itu mengambil kursi dengan Prompto dan Gladiolus duduk di seberang Lunafreya dan Noctis, dan Ignis di depan meja.

"Ayo kita makan," kata Ignis, berhati-hati membuka serbet dan menaruhnya di pangkuan, menarik kursinya mendekati meja.

"Noct, Nona Lunafreya, tunggu!" seru Prompto, mengagetkan Pangeran dan Putri sampai menatapnya dengan mata terbuka lebar. Pada momen selanjutnya, Noctis bisa mendengar suara jepretan dan kaget dengan kilasan kamera. "Kita harus mengabadikan momen ini. Ini adalah makan malam pertama bersama yang kalian peroleh setelah dua belas tahun lamanya."

"Simpan kameramu dan makan makananmu, Prompto," kata Noctis, sedikit jengkel. Dia mengambil garpu dan mulai menggali ke dalam ikan dan nasinya, memisahkan sayuran ke pinggir piring.

Mereka berlima, dengan peralatan makan di tangan, mulai menyantap makanan. Walaupun sudah merasakan kelezatan kari, ikan bakar yang dibuat Ignis sama sekali tidak bisa diremehkan. Dia tidak pernah merasakan daging ikan yang lembut sebelumnya walaupun itu dibakar. Dan sedikit rasa saos pedas yang ditambahkan ke kulit membuat rasanya tidak tawar. Kalau Ignis tidak begitu jenius, Noctis akan merekomendasikan dia untuk menjadi koki Kerajaan.

"Bagaimana rasanya, Nona Lunafreya?" tanya Prompto, menatap terlalu lama ke kari di makanan Lunafreya. Sang Putri makan dengan cepat, tidak begitu banyak memberikan komentar, hanya fokus memberikan nutrisi ke dalam tubuhnya. Dalam benaknya, Noctis menghitung ketika menonton wanita itu. Kalau Lunafreya sudah disandera selama penandatanganan pakta perdamaian, kemungkinan besar wanita itu tidak memperoleh kesempatan untuk makan dan tidur selama nyaris dua hari. Dia menggali terlalu dalam ke piringnya ketika dia mengambil sesendok penuh nasi.

"Lezat. Aku terkejut karena rasanya. Kemampuanmu benar-benar sesuai untuk Noctis," Lunafreya mengarahkan pujian itu kepada Ignis.

"Benarkah?" Ignis mengangkat alis kepada Noctis. Ketika sang Pangeran tidak bisa berkomentar, Ignis menatap dengan ekspresi senang. "Pangeran membantu memasak kari. Dia bersikeras agar Nona mendapatkan perlakuan terbaik yang bisa kita berikan."

"Diamlah, Ignis," gerutu Noctis, menundukkan kepalanya agar Lunafreya tidak bisa melihat wajahnya yang merona.

Untung saja, topik itu selesai dan Ignis menyinggung topik lain. "Juga, berapa lama lagi kamu akan menolak nutrisi yang layak dari sayuran?"

"Sini," Lunafreya mendorong piringnya mendekati piring Noctis, dan dengan sendoknya, berhati-hati memindahkan sayur-sayuran ke piringnya. "Aku akan memakannya untukmu. Aku suka sayur-sayuran."

Dia benar-benar seorang dewi, pikir Noctis ketika dia menyaksikan Lunafreya dengan mudahnya menerima selera makan dia yang pilih-pilih. Lagipula semenjak kecil, wanita itu sudah tahu kalau dia membenci sayur-sayuran. Semuanya dimulai ketika koki Kerajaan membuat sup bayam, cairan hijau itu membuat Noctis mual hanya dengan melihatnya. Dan didorong halus oleh ayahnya, dia menyantap sup itu dan menyesalinya. Dokter berkata kebencian Noctis akan sayuran adalah dampak penolakan dari pengalaman buruk itu yang terbawa sampai dewasa. Sampai hari ini, Noctis tetap bersikeras menolak sayuran apapun, kecuali jika Ignis memaksanya dengan memotongnya kecil-kecil sampai tersembunyi di dalam makanan atau ketika dia terpaksa harus memakannya.

Sebahagianya mereka berdua menjadi dekat satu sama lain dan kembali ke kondisi ketika mereka kecil, Ignis menonton adegan itu dengan kekalahan. Dia hanya bisa menggeleng, membiarkan masalah lama itu pergi. Sangat jelas bahwa percuma untuk mempercayakan masalah diet Noctis kepada Lunafreya.

"Apa tidak ada yang ingin mengambil bagian dari kari ini?" tanya Lunafreya setelah jeda sesaat ke dalam keheningan ketika semua orang fokus makan. Matanya melesat dari satu piring ke piring lainnya sebelum kembali ke piringnya sendiri.

Noctis harus menurunkan garpu yang menghalangi wajahnya dari pandangan Lunafreya. Meskipun dia menyandarkan kepalanya ke tangannya, kenyataannya, dia mencoba untuk diam-diam mengatakan kepada teman-temannya untuk tidak berkata apa-apa mengenai dia ingin Lunafreya mendapatkan kari itu.

Menangkap petunjuk Noctis, dengan sopan Prompto melambaikan tangannya. "Kita baru saja makan itu kemarin. Jadi kita rasa sebaiknya kita menyantap sesuatu yang segar untuk makan malam sekarang. Benar, Gladio?"

Prompto menyenggol lelaki di sampingnya. Gladiolus hanya menggerutu sebagai respon. Lunafreya menatap sejenak, bibirnya cemberut. "Noctis," wanita itu berkata tidak yakin, "apa kau mau sebagian? Sepertinya aku tidak bisa menghabiskannya."

"Hmm?" Berusaha untuk terlihat tidak acuh, Noctis mengangkat bahu. "Baiklah. Aku akan membantumu."

Di seberang dia, Prompto menggerakkan mulutnya. "Pengkhianat! Itu tidak adil!" Noctis hanya tersenyum kepada Lunafreya ketika wanita itu memindahkan porsi makan malamnya kepadanya. Noctis berterima kasih, lalu menyantap rasa kari itu. Sekali lagi mereka kembali ke keheningan. Ketika mereka makan, Noctis mendapat firasat bahwa dia dan Lunafreya diam-diam diperhatikan oleh yang lain. Ya, tidak diam-diam karena jelas sekali Prompto menatap mereka dari kursi di seberang.

Terlalu berharap banyak jika makan malam itu berlalu tanpa ada suatu kejadian. Mereka menyelesaikan bagiannya karena Lunafreya memaksa semuanya membantu menghabiskan kari, yang dengan senang hati diterima Prompto. Setelahnya, Gladiolus memecah keheningan, matanya fokus kepada sang Oracle.

"Kau berada di Citadel ketika perang terjadi, benar, Putri?" Dia bertanya, alisnya berkerut, membuat bekas lukanya tampak lebih mengintimidasi di bawah lampu temaram karavan.

Lunafreya mengangguk, menunjukkan ekspresi tidak yakin kepada Noctis. "Benar."

"Apa kau tahu apa yang terjadi dengan ayahku, Clarus?" Gladiolus bertanya dengan kasar, mungkin tidak bermaksud menggunakan banyak emosi, tetapi tidak mampu mengendalikannya karena dia tampak kesal dari minimnya berita yang keluar dari ibu kota. Di meja depan, Ignis melipat tangannya untuk menutupi bagian bawah wajahnya, sikunya bersandar di tepi meja. Prompto menurunkan sedoknya ke piringnya, mencoba untuk membuat dirinya sekecil mungkin.

"Komandan Clarus…" Dia menatap lurus kepada Gladiolus. "Komandan sudah terbunuh ketika aku mencapai Citadel. Aku tidak tahu siapa yang membunuhnya."

"Sialan!" Gladiolus mendobrak meja dengan tinjunya. Kekuatan aramahnya menggetarkan meja mereka, bahkan menumpahkan air dari teko. Prompto berhati-hati menjauhkan kursinya dari Gladiolus untuk menghindari luka yang mungkin terjadi. Tidak ada yang tahu hendak berkata apa. Satu-satunya pilihan adalah membiarkan Gladiolus meluapkan amarahnya. Dan dia telah melakukannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, pria berotot itu berdiri dari kursinya dan melesat pergi, meninggalkan meja itu dalam atmosfer yang berat.

"Apa kita sebaiknya mengejar dia?" Prompto berbisik ketika Gladiolus tidak lagi mampu mendengarnya. "Ada daemon di malam hari."

"Perhentian mempunyai cukup cahaya untuk menjauhi daemon. Tempat kamping kita tidak terlalu jauh dari sini untuk kita khawatirkan. Mengenai Gladio, kita sebaiknya memberi dia ruang. Semua orang mengatasi rasa duka dengan cara yang berbeda-beda," kata Ignis, berdiri untuk mengumpulkan piring-piring kotor. "Aku malah merasa kasihan pada daemon-daemon yang menampakkan diri di hadapannya."

Noctis berdiri untuk mengambil piringnya. Di belakangnya, Lunafreya bangkit dari kursi, masih menunjukkan tatapan cemas ke arah perginya Gladiolus. "Jangan khawatirkan dia," kata Noctis. Dia memahami kekhawatiran Lunafreya karena wanita itu belum pernah melihat Gladiolus atau berurusan dengan amarahnya. "Dia tidak menjadi pengawalku bukan untuk apa-apa."

Meskipun masih cemas, Lunafreya memercayai perkataan Noctis. Dia mengangkat piringnya untuk membantu bersih-bersih. Mereka berempat dengan cepat mencuci piring dan meletakkan semua kursi dan meja yang mereka pinjam dari restoran Takka.

"Kita tutup malam ini di sini. Kita punya perjalanan panjang besok. Aku memperkirakan mobil akan membawa kita satu atau dua jam. Sebaiknya kita beristirahat sekarang. Kita pamit sekarang, Nona Lunafreya. Noctis, jadilah jentelmen terbaik sebagaimana kau dibesarkan," kata Ignis, membersihkan tangannya.

Kapan mereka akan berhenti menggodai dia? "Pergilah sekarang," kata Noctis, melipat tangannya di depan dada.

"Tunggu sebentar, kumohon," Lunafreya meletakkan tangannya di atas tangan Noctis, matanya melebar. "Hanya Noctis yang akan tinggal denganku?"

"Ya. Kita akan tinggal di dekat sini, bukan penginapan tapi masih cukup dekat untuk kamping malam ini. Pangeran akan berada di sampingmu untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi," respon Ignis, matanya berpaling dari ekspresi Lunafreya yang tak terbaca kepada Noctis. Ekspresi dia menjadi lebih keras. "Berhati-hatilah, Pangeran."

"Pergilah," keluh Noctis, berjalan mendaki tangga untuk membuka pintu karavan, mencoba tidak melihat Lunafreya. Dia merasakan jantungnya berdetak kencang di dalam dadanya ketika pintu terbuka. Melalui celah sempit di sekitar pintu, dia bisa mendengar Lunafreya mengucapkan selamat malam kepada temannya dan meminta maaf menjadi pembawa kabar buruk terkait Gladiolus.


Author's Notes:

Tidak banyak yang perlu saya katakan tentang chapter ini karena hanya berisi eksplorasi interaksi antara Lunafreya dengan kelompok Noctis. Nyx masih belum siuman, dia akan tertidur lama sampai 3 hari. Membayangkan interaksi ini, sayang sekali di versi game-nya Lunafreya mendapat jatah screentime sedikit sekali. Padahal dia bisa menjadi lebih menarik kalau bergabung dengan kelompok Noctis. Di chapter depan, kita sudah mulai memburu Royal Arms. Mengenai bagaimana Noctis mengumpulkan Royal Arms, saya masih berpikir apakah efektif jika saya menuturkan keseluruhan 13 Royal Arms itu di sini, atau dipecah dengan kelompok kedua yang berisikan Nyx dan 3 orang lainnya. Bagaimana menurut kalian? Apakah perlu saya rincikan semua Royal Arms atau dibagi menjadi dua kelompok agar plotnya tidak stuck di perburuan ini?

Terima kasih atas review dari Jacob Hendricks, Vryheid, Latifun Kanurilkomari, dan dannymoore221b. Sesuai janji saya merilis chapter baru setiap hari karena didorong review dari kalian semua.

Saya tunggu review dari kalian. Sampai jumpa lagi di chapter 053!

N/B: Saya sudah selesai menulis chapter 053, tapi saya akan merilis satu chapter per hari, untuk memberi kalian waktu mengirimkan review. Jadi, semakin banyak review yang saya terima, saya akan semakin cepat merilis chapter baru. Win-win solution, bukan?