"Tenangkan dirimu."
Itachi melonggarkan syal di lehernya. Pintu di belakangnya berdebum pelan. Griya tawang yang mereka gunakan atas nama dan kartu kredit milik Shisui sangatlah luas dan mewah, sesuatu yang tidak terlalu disukai oleh Tenten apalagi jika hal itu didapatkan dari orang lain.
Itachi dan Sasuke harus meyakinkan gadis itu bahwa mereka harus mengambil tawaran bantuan Shisui karena jika melakukan pembayaran dengan kartu kredit Itachi, pihak hotel akan meminta paspor milik mereka dan tidak adanya cap keimigrasian serta visa penanda keabsahan kedatangan mereka ke Liechtenstein akan mengundang perhatian pihak berwenang setempat, dan mereka akan harus menanggung konsekuensi hukuman dari korporasi karena mencoreng nama baik perusahaan, hingga blacklist dari mendatangi Liechtenstein. Mereka cukup beruntung Shisui mempunyai koneksi dengan pemilik hotel yang meminta resepsionis tidak memeriksa paspor mereka. Kejahatan mereka adalah kejahatan lintas negara, tapi juga kejahatan yang sempurna. Gadis itu akhirnya menurut dan bersedia memanfaatkan bantuan kolega Itachi setelah diberitahu bahwa uang Shisui akan mereka ganti setelah pulang ke Jepang.
Tapi itu tidak ada artinya lagi.
Desahan berat nafas Sasuke memenuhi udara kamar. Padahal seluas ini, tapi atmosfir ruangan senilai 50.000 yen per malam itu terasa menyesakkan.
"...sial."
Itachi nyaris bersumpah ia mendengar suara Sasuke menyerupai isakan.
Semua ini tidak ada artinya lagi.
Tidak ada artinya jika gadis yang membuat mereka mengambil resiko besar dideportasi dari negara asing demi memenuhi keinginannya melenyapkan diri.
Itachi memejamkan matanya. Buku-buku jemarinya terasa dingin. Sudah lama ia tidak merasakan sensasi seperti ini. Terakhir kali, adalah saat ia berada dalam perjalanan menuju Jepang setelah mendapat pesan dari Danzo.
Perasaan di mana Tenten menghilang dari genggamannya.
Pikirannya terpusat pada Kakashi. Ia membiarkan rasa simpatiknya terhadap masa lalu pria berambut perak itu membuatnya menjadi lembek. Kini Itachi dan Sasuke harus menghadapi kenyataan bahwa dokter itu punya kemampuan persuasif yang tidak bisa diremehkan.
"Kenapa dia melakukannya?"
Itachi tidak menjawab. Ia juga ingin tahu. Tenten bukanlah tipe yang akan mempercayai orang begitu saja. Apalagi bersekongkol untuk mengelabui kedua kakaknya sendiri. Seharusnya ia mempercayai firasat buruknya saat Tenten berpura-pura kehilangan topinya.
Topi bermotif rusa dan fraktal salju itu kini berada di genggaman Sasuke. Anak itu terus menerus meremasnya sambil menutupi wajahnya dengannya. Satu-satunya memento dari adik tercinta mereka; juga adalah item pengingat akan pengkhianatan terbesar darinya.
Ironis.
Apa arti pintanya selama ini?
Permintaan agar mereka berdua terus berada di sisinya?
Apa itu kebohongan belaka?
"Aku seharusnya tidak meninggalkannya sendiri di kabin." geram Sasuke. Ia tahu ada yang salah dengan sikap gadis berambut eboni itu sejak perbincangan mereka di Chatan. Tenten bersikeras bahwa apa yang dikatakan Kakashi adalah benar. Seharusnya ia tidak meremehkan firasat buruknya.
Itachi, menyadari sikap aneh adik perempuannya yang terlihat terbebani oleh sesuatu saat kunjungan ke museum Vaduz, sudah mencoba untuk meyakinkan dirinya gadis itu tidak akan berani melakukan tindakan bodoh seperti ini.
"Tenangkan dirimu." ulangnya sekali lagi. Mereka tengah berada di negara yang tidak seharusnya, dan bersikap sembrono adalah hal terakhir yang ia ingin Sasuke lakukan.
Topi nordik merah terhempas. Kini benda rajutan tangan itu berada di lantai, beberapa meter dari sepatu boots Sasuke.
"TENANG, KATAMU?!"
Tatapan Itachi tidak berubah. Mimik wajahnya tetap dingin. Ada sekelumit kegetiran nampak, namun tetap saja ekspresi itu terlampau tenang buat Sasuke.
"Sasuke." panggil Itachi.
"YOU CANNOT TELL ME TO STAY CALM IN A SITUATION LIKE THIS!"
Itachi meraih pergelangan tangan Sasuke yang mencengkram kerah jaketnya, membuatnya terangkat dari sofa berseberangan dengan sofa berwarna sama tempat Sasuke duduk didera kalut beberapa saat lalu.
"Lepaskan."
Sasuke melakukan kebalikannya. Genggamannya bertambah erat, guncangan penuh emosi mengalir ke tubuh kakaknya itu.
"TENTEN IS GONEーTENTEN. IS. FUCKING. GONE!"
"Aku memperingatkanmu."
"I WANNA TAKE HER BACK! I WANNA KILL HIM! I'M GONNA FUCKING KILL KAKASHI!"
"Sasukeー"
"I AM GOING TO HUNT HIM DOWNーNO ONEーNO ONE CAN TAKE TENTEN AWAY FROM ME AND LIVE TO TELL THE STORY!"
BRATS!
Kepalan tangan Itachi merampas kerah Sasuke sama gemasnya. Komposur tenangnya hilang. Rahangnya mengerat. Kini giliran Sasuke diguncang tarikan tangan Itachi.
"D'YOU THINK I DON'T FEEL THE SAME?!"
Sasuke tampak terlepas dari kepekatan amarahnya. Ia terkesima; tidak setiap hari kau melihat Itachi Uchiha kehilangan kendali.
"I WANT HER BACK TOO! I WANNA TAKE HER BACK SO BAD THAT I'M THINKING OF PUTTING HER IN A CAGE SO NO ONE CAN TOUCH HER NOR EVEN KNOW OF HER!"
"Aku juga ingin Tenten kembali! Aku sangat ingin membawanya pulang dan menaruhnya di dalam kerangkeng agar tidak seorangpun bisa menyentuhnya atau bahkan tahu ia ada!"
Serahkan pada Kakashi untuk merancang kejahatan sempurna. Membawa pergi Tenten di negara di mana sebagai turis ilegal mereka tidak mempunyai hak untuk dilindungi atau melaporkan penculikan; tidak ada kejahatan yang lebih tanpa cela. Ditambah lagi, mereka tidak akan bisa berlama-lama berada di Liechtenstein karena resiko terendus korporasi semakin besar. Satu-satunya jalan yaitu kembali ke Jepang dan merancang rencana balas dendam dari kejauhan. Tenten bisa ada di manapun; Austria, Swiss, bahkan Liechtenstein. Tidak ada jaminan mereka akan berhenti di satu tempat. Eropa Timur adalah daratan luas.
Waktu tidak berada di pihak mereka.
"...nonetheless, this was still my fault."
Cengkraman Sasuke di kerah Itachi sudah terlepas beberapa saat lalu, dan sekarang Itachi melepas remasannya. Secepat kilat emosinya meluap, secepat itu pula ia berhasil mendapatkan ketenangannya kembali. Mereka tidak bisa menjadi dua orang yang panik dan marah di saat yang sama, Itachi sadar.
"Aku tidak seharusnya menuruti keinginannya mengunjungi kuburan Fugaku."
Ekspresi terhenyak Sasuke menjadi ekspresi kalut. Ia berniat mengoreksi kakaknya itu untuk berhenti menyalahkan dirinya atas segala sesuatu, tapi di sisi lain Sasuke bahkan meminta Juugo untuk berhenti meragukan Itachi; dan lihat di mana mereka berakhir sekarang.
Kejahatan sempurna yang mengalahkan kejahatan mereka.
Kakashi melakukannya tanpa cela.
Sasuke hanya bisa menatap iba pada Itachi. Ia menutupi pandangannya. Tangan lainnya beristirahat di bahu kursi. Tenten dan dirinya tahu bahasa tubuh itu. Pewaris utama tahta Uchiha Corporation itu kelelahan. Kelelahan yang amat sangat, ia bahkan tidak mampu menahan ledakan amarahnya. Hanya tunggu waktu hingga ia mulai meneguk sherry.
Tegang otot bahu Itachi terasa oleh telapak tangan Sasuke yang menepuk simpatik. Itachi tidak bergeming, tapi Sasuke tahu sedikit dorongan saja dan ledakan kedua akan tiba.
"Kau benar. Ayo kembali ke Jepang."
Terkejut, Itachi menarik tangan yang menghalangi wajahnya menjauh. Ekspresi meminta penjelasan terlihat.
"Tidak ada gunanya memperpanjang liburan bodoh ini. Kita akan kembali; dengan rencana pembalasan yang tidak akan gagal."
Mereka adalah Uchiha.
Keturunan Uchiha.
Ahli strategi. Jenius. Tidak terkalahkan.
"Kita akan mendapatkan Tenten kembali."
Realita yang mereka jalani tidak mengikuti aturan tertentu, tidak terikat norma umum; cinta terlarang yang pantas diperjuangkan.
Bertiga. Bertiga mereka akan menjadi tidak terkalahkan.
Mereka akan mencari ke manapun bagian puzzle yang hilang itu dan menjadi utuh kembali.
Itachi menjatuhkan pandangan ke lantai karpet polyester berwarna putih. Yang dikatakan Sasuke benar. Mereka harus cepat bergerak; ada tanggung jawab tertinggal di Jepang. Suka atau tidak, pekerjaan sebagai pewaris korporasi harus dijalankan.
"...aku akan hubungi pilot suruhan Shisui."
"Malam ini?"
Itachi mengangguk. Malam ini juga. Jepang. Tokyo. Mereka harus kembali sebelum pihak perusahaan curiga.
Sasuke menyodorkan telapak tangannya. Itachi menyambutnya dengan remasan hangat. Rutinitas lama mereka. Sungguh nostalgik.
"Apapun yang terjadi." mulai Itachi. Caranya mengucapkan kalimat tidak jauh berbeda dengan saat masa kecil mereka.
"Lindungi Tenten tidak peduli resikonya." balas Sasuke seolah sudah berlatih berkali-kali mengucapkannya.
Di suatu tempat entah di mana mereka merasa mendengar suara tawa cempreng Tenten usia 8 tahun, mengenakan jumpsuit jeans dan topi. Suara Mikoto juga ada; sumpah suci antara dua bersaudara luput dari perhatiannya karena anak bungsunya berlarian ke sana kemari, menolak dipakaikan masker. Fugaku tidak ada bersama mereka; ia sudah tiba di lokasi tujuan menggunakan jet pribadi. Ini adalah ingatan dari hari-hari di mana mereka meremehkan kekeraskepalaan paparazzi.
"...bahkan saat Ayah dan Ibu tidak ada nanti." lanjut Itachi, terkena rasa nostalgia. Bibirnya memulaskan senyuman tipis mengingat sosok Tenten kecil.
Masa-masa menyenangkan, dahulu.
Sasuke tersenyum tipis, kepedihan ada di dalamnya. Ia juga merindukan masa-masa tanpa sedikitpun kepedulian akan dunia; hanya tiga anak dari pasangan berpengaruh di perusahaan Uchiha, mencoba mengelabui kamera pers dengan penyamaran ala kadarnya.
"Kita akan menjaga Tenten dari kekejaman dunia luar." tutupnya.
Tapi tidak. Semua terjadi karena suatu alasan. Kenyataan mereka kini yaitu Tenten menghilang. Tidak ada waktu berandai-andai kembali ke masa lalu.
Di dunia di mana Amaterasu menghilang, Tsukuyomi dan Susanoo akan bersatu.
Tidak akan berhenti dengan Susanoo yang terusir ke bumi atau Tsukuyomi dan Amaterasu melanjutkan kehidupan di surga. Kisah mereka tidak sekaku mitos dewa Shinto. Kisah mereka masih berlanjut.
Daaan...
Tamat! (Lol)
Terima kasih banyak buat readers yang sudah mengikuti sampai sini! Nggak terasa sudah masuk bulan puasa, ya. Yang fujoshi kayak author mana suaranya? Iya, kita pasti bisa kok puasa maksiat sebulan /dijitak
Sekali lagi, selamat menjalankan ibadah puasa ya, semuanya!
