The Worst One
Desclaimer : Jelas bukan punya saya!...,
Warning : Gaje!, Au!, imajinasi Author!, OOC!, Bahasa gak baku!, Absolute Typo!, bikin sakit mata!, GAK SUKA JANGAN BACA!..., dan yang terpenting, Isekai!...,
Pairing: Naruto X Shaga
Summary : Reinkarnasi, jika diartikan maka menjadi ' kelahiran kembali ' Namikaze Naruto seorang pria baik, pintar dan Ramah namun sayang bujangan..., tewas tertusuk oleh pencuri saat menemani temannya kencan..., dan saat ia membuka matanya ia berada didalam tubuh seseorang yang sangat mirip dengan dirinya, dan disaat itulah ia hidup didunia yang penuh dengan hal Fantasy dan Supranatural...,
-Opening theme: Day of Story by Sadohara Kaori-
Chapter 48
Ditengah keramaian ibukota, seorang pemuda bersurai hitam tengah berjalan dengan tenang, iris pale-grey miliknya memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang dengan damainya... Tobio menatap pemandangan itu sebelum ia mengalihkan pandangannya dan menatap langit berhiaskan awan.
"Aku tidak percaya akan muncul hari dimana aku melihat Naruto semarah itu."
Tobio bergumam pelan dan kembali menatap kedepan, Tobio tidak pernah melihat Naruto semarah itu, terlebih aura menakutkan dikeluarkan oleh Naruto membuat tubuhnya menegang, sensasi yang begitu menusuk kulit memberitahu Tobio jika Naruto adalah orang yang benar-benar bahaya.
Semenjak kejadian diruang pemulihan dimana Tuan putri diculik oleh seseorang membuat Naruto marah besar karena Tunangannya, seseorang yang ia sayangi diculik. Naruto meminta tolong pada dirinya, Miya, Lee, Cao Cao, Arthur dan Okita. mereka diminta untuk menemukan Shaga, menurut analisa dari Naruto penculik Shaga belum jauh meninggalkan daerah Ibukota, penculik Shaga tidak akan pergi jauh karena penculik itu harus memastikan jika Naruto menjalankan perintah penculik itu dan berkat itu juga Naruto tahu jika penculik Shaga berjumlah lebih dari satu.
"Waspada terhadap musuh kah?..."
Gumam Tobio pelan, ia tersenyum mengingat pesan Naruto, walau dalam keadaan marah sekalipun Naruto tidak pernah melupakan Sahabatnya... Yare, dia memang benar-benar pemuda yang sulit ditebak.
Tobio melanjutkan langkahnya, ia melirik kesamping ketika ia melihat beberapa orang berpakaian... Err, kurang layak menatapnya dengan pandangan ingin tahu, bingung dan tertarik... Ya dia tidak bisa berbuat apapun pada tatapan orang-orang yang melihatnya, karena bagaimanapun pakaian yang saat ini ia pakai sangat mencolok...
Hirozimon Academy, seperti yang banyak diketahui oleh orang-orang merupakan sebuah tempat dimana Talent begitu dihargai, untuk masuk kedalam Academy elit ini tidaklah mudah, dan juga biaya masuknya sangat tidak masuk akal, ya dibenua ini hanya mereka yang memiliki kekuasaan dan berlimpah kekuasaan saja yang akan menikmati hidup mereka... Sementara yang tidak? Mereka akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tidak ada waktu untuk belajar, bagi mereka bisa makan sehari-hari adalah sebuah keberkahan.
Tobio tersenyum miris, hidup ini keras seperti perkataan Naruto saat camp pelatihan... Hidup ini tidak adil untuk mereka yang menyerah dalam menjalaninya...
"Ya, itu kata-kata yang sangat tepat, Naruto."
Tobio menghapus senyumannya dan memasang wajah datar, iris Pale-Grey miliknya melirik kebelakang ketika ia merasakan seseorang yang mengikutinya, Tobio terus melanjutkan jalannya, ia melewati banyak persimpangan untuk melihat apakah benar dia diikuti dan ia merasakan jika orang yang mengikutinya semakin banyak.
'Empat... Lima... Enam... Ada delapan orang ya... Jumlah yang cukup banyak tapi tidak masalah untuk-ku...!?.'
Tobio yang baru saja akan berbalik untuk melawan orang-orang yang mengikutinya terpaksa pupus sebab ketika ia berbalik seseorang menarik kerah pakaiannya dan membawanya masuk kedalam gang yang sempit dan gelap.
"Ap-Apa yang-, Hummph!."
Tobio memberontak berusaha melepaskan tangan yang membekap mulutnya namun ia terdiam ketika mendengar suara 'ussst!' yang feminim, iris Pale-grey miliknya turun sedikit dan ia melihat seorang kinpatsu Bishoujo dengan iris blue shappire indah menatap kearah Tobio dengan isyarat untuk diam.
"Diamlah, atau mereka akan menemukan kita."
Ucap Kinpatsu Bishoujo itu pada Tobio yang hanya diam menatap perempuan cantik didepannya, Bishoujo didepannya mengintip dari balik dinding dan iris blue shappirenya menajam melihat beberapa orang terlihat kebingungan.
Tobio yang penasaran dengan apa atau siapa yang dilihat Bishoujo didepannya memunculkan sedikit kepalanya untuk mengintip dan iris pale Grey-nya menajam melihat beberapa orang berpakaian normal tengah mencari seseorang yang ia yakin adalah dirinya. Entah karena sial atau apa salah seorang dari mereka melihat dirinya.
"Hey! Itu dia! Kejar!."
"Oh sial kita ditemukan..."
Umpat Tobio, melihat orang-orang itu datang kearah mereka, Kinpatsu Bishoujo itu dengan cepat menarik tangan Tobio dan tanpa menunggu waktu lagi mereka berdua langsung berlari menghindari para pengejar itu...
Tobio menatap kearah perempuan didepannya dalam diam, iris Grey Pale miliknya menatap pakaian yang dikenakan perempuan didepannya, itu... Seragam Hirozimon bukan? Apa dia salah satu murid disana? Tobio menajamkan pandangannya ketika ia melihat tepat dibagian kerah seragam yang dikenakan perempuan didepannya terdapat lambang lingkaran sihir dan itu menandakan jika perempuan didepannya adalah seorang Wizard.
Tobio yang melamun tidak menyadari jika dirinya telah dibawa masuk kedalam sebuah tempat bangunan besar yang tidak terpakai, Tobio baru sadar ketika Kinpatsu Bishoujo itu melepaskan tangannya...
"Nah, aku rasa tempat ini aman, orang-orang itu tidak akan menemukan kita untuk sementara waktu."
Ucap perempuan itu selagi ia berjalan dengan pelan menuju sebuah meja yang ada disudut ruangan, Tobio menatap lurus Kinpatsu Bishoujo itu.
"Ano, terimakasih karena sudah menyelamatkanku."
Ucap Tobio membuat Kinpatsu Bishoujo itu tersenyum tipis sebelum ia duduk dimeja itu dan menatap Tobio.
"Tidak masalah, Ikuse Tobio-kun..."
Reaksi Tobio adalah sesuatu yang absolute, dengan cepat Tobio langsung melompat kebelakang dan memasang gesture waspada, disebelah Tobio entah sejak kapan muncul seekor [Hound] berukuran cukup besar mengeram marah dan menatap tajam perempuan yang duduk diatas meja itu.
"Owh... Refleks yang bagus."
Kinpatsu Bishoujo itu tanpa merasa sedikitpun terancam oleh gesture waspada dari Tobio, dan malah kagum dengan kecepatan refleks dari Tobio yang saat ini mewaspadai dirinya.
"Siapa kau? Kenapa kau tahu namaku."
Tanya Tobio dengan sedikit nada ancaman didalamnya namun bukannya takut Kinpatsu Bishoujo didepannya malah tertawa halus.
"Ufufu~ tidak ada yang tidak mengetahuimu saat ini, Ikuse Tobio-kun. Berkat kemenangan beruntunmu dalam [The Great Royal Tournamen] antar Divisi namamu kini terkenal dan diketahui oleh setiap murid Hirozimon Academy, termasuk diriku."
Ucap Kinpatsu Bishoujo itu dengan halus seolah mengatakan jika ia tidak mengingikan permusuhan dengan dirinya, yeah, Alasan yang masuk akal. Tobio melunakan posture tubuhnya dan menghilangkan kewaspadaannya, lalu menundukan kepalanya.
"Maaf atas ketidaksopananku tadi."
"Ufufufu, tak apa, aku memakluminya, waspada pada orang yang tidak kau kenal itu hal yang wajar bukan?."
Ucap perempuan itu dengan halus, Tobio mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis pada perempuan didepannya, dan itu membuat rona tipis timbul secara samar dikedua pipi perempuan didepannya.
"terimakasih atas pengertianmu. Nona."
"Y-ya, sama-sama..."
Tobio tersenyum tipis sebelum senyuman itu lenyap ketika ia merasakan hawa keberadaan seseorang dibelakangnya, tidak hanya Tobio bahkan [Hound] disebelah Tobio langsung berbalik dan mengeram. Tobio menoleh kebelakang dan ia melihat para pengejar yang mengejarnya telah berdiri dibelakangnya menghalangi jalan keluar.
"Akhirnya kami menemukanmu, kau tahu, kau merepotkan kami, Nii-san."
Salah satu dari kedelapan orang yang Tobio yakin adalah pemimpin dari tujuh orang yang lain berjalan dan menatap Tobio dengan tatapan bengis.
"Jadi, jangan buat kami bertambah repot, jadilah anak baik dan ikut dengan kami."
Ucap pemimpin itu menatap Tobio dengan tatapan merendah sebelum matanya bergulir dan menatap kebelakang Tobio, seketika iris matanya melebar penuh kesenangan ketika melihat seorang Kinpatsu Bishoujo tengah duduk diatas meja dengan pose yang memperlihatkan banyak sekali paha putihnya.
"Owh! Lihat apa yang kita dapatkan disini! Seorang perempuan cantik... Nee, Nee-san apa kau mau ikut bermain bersama kami? Kami jamin kau akan bersenang-senang."
Ucap pemimpin itu membuat para anak buahnya yang ada dibelakangnya menyeringai mesum melihat lekuk tubuh perempuan dibelakang Tobio yang jika dilihat dengan teliti sangat mengiurkan.
"Ufufu, tawaran yang menarik."
Ucap perempuan itu selagi ia melompat turun dari meja dan berjalan mendekati para penjahat itu, Tobio yang melihat perempuan itu berjalan menuju gerombolan sampah itu bermaksud menghentikannya namun ia dibuat diam ketika sebuah kedipan mata ia lihat dari perempuan itu.
"Owh~ Nee-san, kau sepertinya cukup pintar, tenang saja aku jamin kau akan menikmati permainan kami... Khukhukhu."
""""Bos! Jangan lupakan kami!.""""
Teriak para anak buah dibelakangnya, namun dihiraukan oleh Bos mereka itu, pemimpin itu menyeringai mesum ketika kinpatsu Bishoujo itu berdiri didepannya dengan senyuman yang begitu menggoda, senyuman mesum pemimpin itu semakin berkembang ketika pipinya yang berminyak merasakan sentuhan dari tangan halus dari perempuan didepannya, tangan itu terasa halus dan dingin, sedingin ice... Tunggu dingin? Pemimpin itu melebarkan matanya.
[Freeze]
Kraaak!
Semua yang ada disana melebarkan mata mereka ketika melihat pemimpin mereka berubah menjadi patung ice hanya dengan sentuhan dari perempuan didepan mereka...
Perempuan itu menjauh dari patung ice didepannya sebelum ia menoleh kearah belakang dimana ia melihat banyak pasang mata menatapnya dengan terkejut, perempuan itu tersenyum manis namun bagi siapapun yang melihatnya mereka tidak akan menemukan senyuman dimata perempuan itu...
"Sekarang Giliran kalian..."
Suara yang begitu lembut menyadarkan mereka dari rasa terkejut mereka, mereka menatap kedepan dan mereka melihat perempuan itu mengangkat tangannya dengan lembut, seketika partikel-partikel ice berkumpul didepan telapak tangan Kinpatsu Bishoujo itu...
"Ja-Jangan bercanda! Se-semua serang secara bersamaan!."
Karena panik akibat pemimpin mereka yang dibekukan dalam sekejap, seseorang dari mereka menyeruhkan perintah yang langsung ditanggapi oleh yang lain, Perempuan itu tersenyum ketika melihat mereka mulai merapalkan mantra namun dimatanya itu hanya sebuah kesia-sia karena mereka kalah cepat...
[Ice Magic: Freeze Field]
Kraaaaaak!
Dalam sekejap semua yang ada didepan perempuan itu berubah menjadi padang Ice, Tobio terdiam menyaksikan kehebatan dari perempuan didepannya, Magic Ice yang luar biasa, itu begitu kuat hingga dapat membekukan daerah seluas itu hanya dalam sekejap, juga... Iris Tobio menajam melihat lingkaran sihir yang ikut membeku.
'Dia tidak hanya membekukan mereka namun juga lingkaran Formula sihir mereka sedetik sebelum aktif, Dia kuat, tapi...'
Tobio melirik kearah [Hound] disebelahnya yang juga menatapnya seakan paham apa yang diinginkan Tobio [Hound] itu langsung berlari kebelakang Tobio dan menyelam kedalam bayangan Tobio... Tobio menatap tajam kedepan dimana ia melihat salah satu patung ice terlihat bergerak...
Pyaaaar!
Mendengar suara sesuatu yang pecah dengan cepat perempuan itu menoleh kebelakang dan ia melebarkan matanya ketika melihat pemimpin yang ia bekukan diawal berhasil menghancurkan Ice yang membekukannya, Pemimpin itu menatap tajam perempuan itu sebelum dengan cepat ia melompat dengan belati hitam yang mengeluarkan hawa yang tidak mengenakan.
"Matilah kau!?..."
Perempuan itu mengeraskan wajahnya ketika ia menyadari akan percuma menghindar dengan jarak sedekat ini! Ia memejamkan matanya berharap jika rasa sakit yang akan ia terima tidak akan begitu menyakitkan...
Trank!
Suara logam bergema dibangunan itu, tidak merasakan sakit, perempuan itu terdiam sebelum dengan perlahan ia membuka matanya dan yang pertama kali ia lihat adalah punggung lebar yang melindunginya, iris shappire milik gadis itu terangkat dan ia melihat Pale-Grey menatapnya dengan pandangan datar.
"Kau baik-baik saja?."
Tanya Tobio, perempuan itu terdiam sebelum ia mengangguk pelan membuat senyuman tipis terpatri diwajah Tampan Tobio.
"Syukurlah... Sekarang, Nona. Bisakah kau menutup mata dan telingamu sebentar?."
Ucap Tobio menatap perempuan itu yang terdiam sebelum ia mengangguk dan menutup mata dan telingannya, setelah yakin perempuan itu tidak akan mendengar apapun, senyuman diwajah Tobio lenyap dan digantikan tatapan tajam kedepan membuat orang yang bersilang senjata dengannya menegang, pemimpin itu melompat kebelakang menjaga jarak dari Tobio, dan menatap tajam Tobio.
'Pemuda itu... Bukankah ia seharusnya ada jauh dibelakang tapi kenapa...'
Pemimpin itu tersentak ketika ia melihat tatapan menakutkan dari Tobio, tatapan itu terlihat gelap layaknya jurang dalam tanpa dasar, Tobio mengangkat pedang hitam berukir simbol kutukan berwarna merah semerah darah secara terbalik.
Pemimpin itu merasakan bahaya yang nyata ketika ia ditatap oleh mata gelap itu, insting yang telah tertempa selama bertahun-tahun memberitahunya jika pemuda didepannya sangat, sangat berbahaya.
"Nee, Ossan... Biar aku tanyakan satu hal... Siapa yang memberimu perintah ..."
Ucap Tobio dengan suara yang dapat membuat tubuh terasa ditusuk oleh ice, tubuh pemimpin itu menegang, instingnya sedaritadi memperingatinya untuk lari dari orang didepannya, ia mengertakan giginya dan dengan cepat ia melempar belati ditangannya kearah Tobio yang hanya menatap datar belati itu. Tobio mengangkat pedangnya sebatas wajah dan...
Trank!
Suara logam berbenturan bergema diruangan itu, Tobio menatap datar belati yang melayang jatuh dikakinya sebelum ia mengalihkan pandangannya dan melihat kedepan dimana ia melihat Leader itu melarikan diri, Tobio yang melihatnya menghela nafas sebelum ia dengan perlahan melepaskan pedangnya ketanah...
"Sayang sekali."
Secara ajaib pedang hitam Tobio tenggelam kedalam tanah, dan seketika seluruh permukaan tanah diselimuti oleh bayangan hitam, Leader itu terlihat pucat ketika melihat tanah dibawah kakinya telah sepenuhnya berubah menjadi hitam.
Tobio mengangkat tangannya yang terbuka Lebar dan menatap Leader yang berusaha lari, pedar energi kelam menyelimuti tangan Tobio.
"Cabik dia... [Jin]."
Ucap Tobio sebelum dengan cepat ia menutup telapak tangannya dan seketika tepat dibawah tanah hitan yang dipijak oleh Leader itu muncul puluhan pedang yang langsung menikam tubuh Leader itu tanpa ampun...
Jleb!
Jleb!
Jleb!
Suara jeritan penuh penderitaan bergema diruangan itu, Tobio tidak menampilkan ekspresi apapun ketika melihat orang yang merupakan pemimpin dari kelompok itu mati dengan tubuh tertikam puluhan pedang yang tumbuh dari dalam bayangan hitam yang menutupi permukaan tanah,Tobio membuka telapak tangannya dan seketika bayangan dengan cepat merambat dan menelan pemimpin itu tanpa meninggalkan bekas sedikitpun, tidak hanya pemimpin itu bahkan kegelapan juga ikut menelan patung-patung ice disekitar tempat itu tanpa meninggalkan apapun.
Tobio menghela nafas dan menghilangkan kegelapan yang menutupi tanah, ya ini sudah berakhir, ia membalikan tubuhnya dan menatap perempuan yang berjongkok dilantai dengan mata tertutup juga tangan yang menutupi telingannya, Tobio tersenyum tipis dan menepuk surai pirang panjang digerai itu dengan lembut.
"Ya, kau bisa membuka matamu sekarang."
Ucap Tobio membuat perempuan itu dengan pelan menurunkan tangannya dan menoleh kearah Tobio yang masih tersenyum tipis, rona merah tipis muncul dikedua pipi perempuan itu ketika melihat senyuman Tobio tapi sayangnya Tobio tidak menyadari hal itu dan mengulurkan tangannya membantu perempuan itu berdiri.
"Terimakasih..."
"Tidak perlu, Nona... Aku hanya membalas budi, Kau tadi telah menolongku, dan kini aku menolongmu, bukankah itu bisa dikatakan Lunas?."
Ucap Tobio membuat perempuan itu tersenyum dan mengangguk pelan."benar, kini kita tidak memiliki hutang budi lagi."ucap Perempuan itu, Tobio tersenyum tipis sebelum senyuman itu lenyap ketika ia mengingat sesuatu.
"Ah, kita belum berkenalan secara resmi, jadi perkenalkan namaku, Ikuse Tobio, seorang Knight dan ketua dari Club Penelitian Ilmu Alam, silahkan datang jika berminat! Aku akan menyambutmu."
Ucap Tobio memperkenalkan nama sekaligus mempromosikan club yang ia ketuai dengan cengiran lebar membuat perempuan itu tertawa halus dan menyambut tangan Tobio.
"Namaku, Lavinia Reni, aku adalah seorang Wizard dan aku belum memasuk keclub manapun."
Ucap Lavinia Reni, Tobio terdiam mendengar nama perempuan didepannya, entah kenapa ia seperti pernah mendengar nama itu tapi sialnya ia tidak bisa mengingat kapan dan dimana ia mendengar nama itu, Tobio tersenyum tipis dan berjabatan dengan Lavinia.
"Baiklah, aku ada urusan jadi aku ijin pergi, Lavinia-san."
"... Apa kau tengah mencari seseorang? Ikuse-san?."
Tobio yang baru saja akan mengambil langkah ketika berhenti dan menoleh kebelakang menatap Lavinia yang tersenyum tipis padanya.
"Hooh, menarik darimana kau tahu hal itu, Lavinia-san..."
"Owh... Aura yang menakutkan Tobio-san."
Lavinia menyeringai kecil melihat aura menakutkan yang berkeliaran disekitar tubuh Tobio, aura itu kelihatan tipis tapi cukup untuknya tahu jika aura itu kuat. Sangat kuat.
"Mudah saja... Karena aku selalu mengawasimu..."
Tobio mengangkat satu alisnya dengan bingung, mengawasi? Sejak kapan, ia telah meningkatkan sensor kepekaan terhadap hawa keberadaan makhluk hidup sejak ia menginjakan kakinya keluar Academy, orang ini bagaimana bisa ia lolos dari sensor-nya. Melihat Tobio diam Lavinia melanjutkan.
"Kau pasti bertanya bagaimana bisa aku tidak kau sadari bukan? Jawabannya mudah, Ikuse-san... Ada sebuah magic yang disebut [Misdirection], ketika Magic ini diaktifkan maka hawa keberadaan dari pemilik Magic akan terhapuskan seperti ini..."
Lavinia mengangkat tangannya dan seketika sebuah lingkaran sihir tercipta diatas telapak tangannya lingkaran sihir berdiameter kecil itu berputar dengan pelan diatas tangan-nya, Lavinia tersenyum tipis ketika ia melihat wajah terkejut dari Tobio.
"Kau sudah tahukan bagaimana caraku lolos dari deteksimu? Ikuse-san."
Ucap Lavinia, Tobio terdiam dan menatap perempuan didepannya, orang ini tidak hanya kuat tapi juga berbahaya karena bisa lolos dari sensor deteksinya, Lavinia tersenyum kecil melihat sikap Tobio yang mewaspadainya.
"Maa, Maa, aku tidak bermaksud jahat disini jadi turunkan sikap-mu, Ikuse-san."
"Apa jaminan dari ucapanmu itu, Lavinia-san."
Lavinia tersenyum tipis sebelum ia berjalan kearah Tobio yang langsung memunculkan aura hitam yang dengan cepat mengambil wujud pedang hitam dan mengarahkannya pada leher Lavinia yang hanya tersenyum tanpa rasa takut.
"Nyawaku..."
Ucap Lavinia membuat Tobio melebarkan matanya.
"Nyawaku, jika aku berbohong maka kau bisa mengambil nyawaku, Tobio-san..."
Tobio terdiam dan menatap Lavinia, ia berusaha mencari kebohongan dari iris shappire indah itu namun hasilnya nihil ia tidak dapat menemukan sedikitpun kebohongan dimata seindah permata shappire itu, Tobio menghela nafas dan melenyapkan pedang aura miliknya.
"Baiklah, kau mendapatkan kepercayaan dariku, Lavinia-san... Dan benar, aku sedang mencari seseorang..."
"Hooh, jika boleh tahu siapa yang kau cari?..."
"Untuk itu... Aku rasa aku tidak bisa memberitahumu karena itu rahasia."
Ucap Tobio membuat Lavinia cemberut dan mengembungkan pipinya dengan imut dan 'hmph!' khas perempuan ngambek keluar dari Lavinia, Tobio sweatdrop melihat tingkah kekanak-kanakan Lavinia.
'Dia seperti anak kecil...'
Tobio menghela nafas dan mengaruk belakang kepalanya yang tak gatal."ini masalah, jika aku tidak bisa menemukan orang itu secepatnya maka orang itu bisa mati..."gumam Tobio pelan, namun tidak cukup pelan untuk bisa didengar Lavinia.
"Jika kau mau, aku bisa membantumu..."
Gumam Lavinia membuat Tobio terdiam dan dengan cepat mengalihkan pandangan pada Lavinia yang bersedekap dada dan mengalihkan pandangannya tak mau menatapnya.
"Eh? Kau bilang apa tadi... "
Tanya Tobio memastikan jika pendengarannya masih berfungsi dengan baik, Lavinia mengalihkan pandangannya dan mengerucutkan bibirnya dengan imut.
"Muu, aku bilang jika kau mau, aku bisa membantumu..."
"Hooh~ benarkah! Benarkah kau bisa melakukan itu!? Jika kau benar-benar bisa melakukannya maka aku mohon! Pinjamkan kekuatanmu!."
Lavinia terdiam sebelum ia melirik kearah Tobio yang menundukan kepala padanya, ia menghela nafas.
"Baik, akan aku bantu, tapi ada syaratnya..."
"Apapun Syarat itu akan aku penuhi asalkan kau bisa membantuku menemukan orang yang aku cari, maka aku akan memenuhinya..."
Lavinia terdiam sebelum iris shappirenya melirik kesamping menghindari kontak mata dari Tobio yang saat ini menatapnya dengan tatapan penuh harap, rona merah perlahan tercipta dikedua pipi Lavinia.
"Syaratnya cukup mudah, k-ka-kau hanya perlu berbalik sebentar..."
"Eh? Hanya itu?."
"Ya, hanya itu..."
"Kau yakin kau tidak mau yang la-,"
"Diam! Dan berbaliklah!."
Tobio berjengit sedikit ketika melihat amarah dari perempuan didepannya entah kenapa melihat Lavinia marah ia jadi teringkat dengan sosok perempuan yang selama ini selalu menemaninya, tidak ingin membuat Lavinia marah dan membuatnya teringat dengan wakil ketua diclub yang ia pimpin, Tobio langsung menegapkan tubuhnya dan berbalik.
Ia tidak tahu apa yang diinginkan Lavinia tapi demi permintaan Sahabat dan Rivalnya, Naruto setidaknya ia harus sedikit berkorban lagi pula jika hanya dengan melakukan ini dia bisa menemukan Shaga-hime maka itu harga yang mu-.
Grep...
Tobio terdiam ketika ia merasakan sesuatu yang lembut menekan punggungnya, Lavinia-san... Memeluknya... Layaknya sebuah palu godam yang menghantam kesadarannya, Tobio melebarkan matanya hingga mata itu hampir lepas dari tempatnya.
"Aku merindukanmu..."
Mimpi apa Tobio semalam hingga ia mendapatkan pelukan dari seorang Kinpatsu Bishoujo seperti Lavinia Reni!? Uwwoooo Tobio menyampaikan rasa terimakasih pada Lalatina-sama karena memberikannya kesempatan dipeluk oleh seorang perempuan manis...
'Lalatina-sama... Terimakasih atas berkah yang kau berikan hari ini.'
Tobio menangis bahagia dalam batinnya...tunggu bodoh!? Bukan saatnya terhanyut dalam suka cita! Ia masih memiliki tugas yang harus ia selesaikan!...
"La...Lavinia-san..."
"Aku merindukanmu... Sangat merindukanmu..."
Bisik Lavinia membenamkan wajahnya pada punggung Tobio samar-samar Lavinia menemukan bau rerumputan yang membuat dia nyaman hanya dengan menciumnya, cukup lama Lavinia memeluk Tobio yang sudah memerah karena merasakan sensasi lembut nan kenyal dipunggungnya sebelum Lavinia melepaskan pelukannya dan melangkah mundur.
"Baiklah, sekarang aku akan membantumu mencari orang yang kau cari..."
Lavinia mengatakan itu selagi ia tersenyum manis pada Tobio yang hanya diam menatapnya dengan tatapan bingung, pelukkan tadi... Apa itu syaratnya? Tobio mengangkat bahu tak tahu dan menatap Lavinia dengan tatapan datar.
"Jadi? Bagaimana caramu menemukan orang yang aku cari?."
"Ya itu mudah, cukup dengan aku mendengar nama dari orang itu dan aku akan mengetahui orang itu, ah... Namanya harus lengkap karena jika tidak itu akan berubah menjadi acak..."
Tobio terdiam, dengan nama lengkap kah? Bukankah itu gawat, jika ia mengatakan nama orang yang ia cari maka sudah jelas Lavinia akan terkejut sebab bagaimanapun orang yang ia cari adalah orang penting dari yang terpenting dikerajaan ini, Tobio membuat wajah kesulitan.
"A-Ano, tentang itu apa tidak ada cara lain selain dengan nama? Jujur saja, itu tidak bisa aku lakukan karena beberapa alasan tertentu."
Ucap Tobio selagi ia mengaruk pipinya yang tak gatal, Lavinia terdiam menatap wajah kesulitan yang dibuat Tobio, ia menaruh jari telunjuknya dipipinya dan memiringkan kepala dengan imut.
"Hmm, ya ada cara lain sih, tapi ini agak sulit dilakukan karena butuh syarat khusus."
"Syarat khusus? Seperti apa Syarat itu..."
Tanya Tobio dengan serius, itu lebih baik daripada harus menyebutkan nama, karena bagaimanapun pencarian ini dilakukan secara rahasia, Lavinia terdiam sebelum ia mengangkat satu jarinya.
"Aku membutuhkan benda yang setidaknya berhubungan dengan orang yang akan kita cari, jika punya benda itu maka aku bisa menemukan orang yang kau cari, bagaimana apa kau punya benda itu?."
Tanya Lavinia membuat Tobio terdiam dengan dahi berkerut, ia tengah memikirkan benda apa yang berhubungan dengan orang yang ia cari, cukup lama ia berpikir sebelum ia teringat sesuatu, ia dengan cepat merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda... Lavinia menatap benda yang ada ditangan Tobio itu...
"Sebuah kertas?."
"Ya, kertas ini kebetulan berhubungan dengan orang yang aku cari apa ini bisa digunakan?."
Lavinia mengangguk pelan dan mengambil kertas dari tangan Tobio."Tentu saja, asalkan itu berhubungan dengan orang yang dicari maka itu bisa digunakan, sekarang aku akan melakukan bagianku, jadi tunggu disini sebentar."ucap Lavinia sebelum ia berjalan menjauh mencari ruang yang cukup luas, Tobio menatap Lavinia yang berdiri cukup jauh darinya, beruntungnya ia membawa surat yang ditulis oleh sih penculik itu dengan surat itu mungkin ia tidak bisa menemukan Shaga tapi ia bisa menemukan dalang dari semua ini, Tobio menatap Lavinia yang meletakan kertas yang sudah lusuh itu ditengah ruangan sebelum Lavinia mundur selangkah kebelakang.
Lavinia mengambil nafas dalam sebelum ia bergumam pelan, sangat pelan hingga Tobio yang ada dipinggir ruangan itu tidak dapat mendengarnya.
[Absolute Demise]
Tepat setelah mengatakan itu suhu diruangan itu langsung turun dengan drastis, kabut ice tipis mulai memenuhi ruangan.
Merasakan suhu yang menusuk, Tobio memompa [Mana] yang didalam tubuhnya untuk melawan suhu ruangan yang begitu menusuk kulit.
Tobio menatap kearah Lavinia dan ia menyipitkan matanya ketika ia melihat sebuah bayangan secara samar muncul dibelakang Lavinia, bayangan itu memiliki tinggi sekitar tiga meter, memiliki enam pasang lengan ramping ditubuhnya... Lavinia membuka matanya dan terlihatlah iris shappire yang bercahaya redup,
Lavinia menatap kearah surat didepannya sebelum ia mengangkat tangannya keatas dan seketika dari bawah kaki Lavinia muncul lingkaran sihir yang meluas secara cepat, surat didepan Lavinia bersinar terang, perlahan tapi pasti surat itu melayang keudara...
Lavinia menatap kertas lusuh yang melayang didepannya, Lavinia perlahan menutup telapak tangannya dan secara perlahan kertas lusuh itu mulai membeku dan terurai menjadi partikel ice, lingkaran sihir dibawah kaki Lavinia perlahan bersinar terang dan semakin terang disetiap detiknya...
Tobio menajamkan pandangannya dan menatap lingkaran sihir dibawah kaki Lavinia, terlihat sesuatu yang seperti tulisan mulai muncul kepermukaan, itu semakin lama semakin jelas dibarengi dengan kertas yang terurai seutuhnya menjadi partikel kristal ice.
Lavinia menghela nafas dan melenyapkan lingkaran sihir dibawah kakinya, suhu udara diruangan itu juga mulai kembali ketitik normal, Lavinia membuka matanya dan menatap kearah bawah dimana sebuah tulisan bersinar didepannya.
"Apa yang dapatkan, Lavinia-san."
Lavinia mengalihkan pandangannya dan menatap Tobio yang berjalan kearahnya, Lavinia menunjukan senyuman manis dan menunjuk kearah tulisan didepannya.
"Kita menemukan dimana lokasi orang yang kita cari..."
Ucap Lavinia membuat Tobio menatap kearah tulisan yang ada diatas tanah, iris pale-grey Tobio menajam melihat tulisan itu... Jadi, disini tempat dalang itu bersembunyi...
"Lavinia-san... Terimakasih atas bantuanmu, dan maaf kita harus berpisah disini... Sampai jumpa lagi, Lavinia-san."
Setelah mengatakan itu Tobio berbalik dan berjalan meninggalkan Lavinia yang menatap kepunggung Tobio dengan senyuman tipis sebelum senyuman itu hilang digantikan dengan wajah tertunduk sedih...
"Kau melupakanku... Darling..."
.
.
.
-The Worst One: Last Arc-
.
.
.
"Baiklah, Tobio. Jelaskan padaku satu hal..."
Asama Miya, Fuku Taichou dari club penelitian Ilmu Alam menatap kearah Tobio yang menatap kearahnya dengan pandangan datar, Miya menatap Tobio sebelum ia mengalihkan telunjuknya pada bangunan besar atau bisa disebut sebuah benteng yang ditinggalkan terletak agak jauh dari tempat mereka saat ini...
"Apa yang membuat yakin jika Hime-sama ada disana..."
Ucap Miya membuat Tobio menatap datar dirinya, sebelum ia kembali menatap kearah benteng tua itu.
"Aku tidak bisa mengatakannya secara pasti, tapi percayalah didalam sana kemungkinan besar Hime-sama berada..."
Ucap Tobio menatap datar benteng tua itu, disebelah Tobio Cao Cao mendesah tidak percaya."Mungkin? Kau membawa kami semua kesini dengan informasi yang masih 'mungkin' itu?. Yang benar saja, Taichou. kita tidak punya waktu untuk berjudi dengan kemungkinan, saat ini dua nyawa tengah dipertaruhkan..."ucap Cao Cao dibalas anggukan dari Lee, Okita dan Arthur yang ada dibelakang mereka, Tobio menghela nafas dan memijat pelipisnya yang berdenyut... Ia tahu hal itu, saat ini tidak hanya nyawa Shaga-hime saja yang terancam tapi nyawa dari Naruto juga akan terancam...
"Aku tahu itu, Cao Cao. Tapi tidak ada salahnya mencoba, jika ternyata Shaga-sama tidak ada disini maka ucapkan selamat tinggal pada hari esok, teman."
Ucap Tobio dengan datar membuat semua yang ada dibelakangnya terdiam, Miya menghela nafas sebelum ia menatap serius pada lima orang didepannya.
"Baiklah, kita telah melempar dadu kematian diatas meja kehidupan, kita lihat akankah keberuntungan berpihak pada kita atau tidak."
Ucap Miya selagi ia menarik pedang kesayangannya, Cao Cao mendesah sebelum ia menepuk benda berlapis kain yang selalu ia bawa kebahunya.
"Jika Fuku Taichou sudah mengatakan seperti itu maka mari berjudi dengan keberuntungan..."
Ucap Cao Cao membuat Tobio tersenyum tipis, ia mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Arthur, Lee dan Okita yang mengangguk menyetujui Miya, itu membuat senyuman tipisnya berkembang...
"Baiklah, karena tekad kalian sudah mantab maka bersiaplah, menurut perkiraanku, ada setidaknya puluhan orang yang mendiami Reruntuhan itu... Tapi tenang aku sudah menyiapkan rencana..."
"Dan apa rencanamu itu, Ikuse-san..."
Tobio menatap kearah Okita yang bertanya sebelum senyuman tipis mekar diwajah Tobio, dan tanpa alasan yang jelas Okita merasakan punggungnya mengigil melihat senyuman tipis Tobio, itu bukan senyuman biasa tapi senyuman dingin yang menakutkan... Wajah Tobio mengelap.
"Dengarkan ini rencana-nya..."
.
.
.
Didepan gerbang benteng tua itu terlihat dua orang berpakaian tertutup tengah memandangi sekitar, nampaknya kedua orang itu ditugaskan untuk mengawasi daerah sekitar. Salah satu dari orang itu menyipitkan matanya ketika dari kejauhan ia melihat seorang perempuan yang tengah berjalan dengan pelan.
"Hey... Lihat disana ada seorang perempuan yang berjalan kesini."
Ucap orang itu menunjuk kearah perempuan yang berjalan menuju benteng, teman dari orang itu melihat kearah yang ditunjuk oleh teman disebelahnya dan benar apa perkataan temannya disana memang terlihat seorang perempuan bersurai ungu panjang dengan pakaian khas academy Hirozimon yang terkenal...
"Seragam itu... Dia murid Academy itu?..."
"Apa yang diinginkan murid Academy itu kesini... Apa mungkin kita sudah ketahuan?..."
Kedua orang itu menajamkan matanya ketika mereka melihat tepat ditangan perempuan itu terdapat sebuah pedang yang berkilauan ditimpa sinar matahari, kedua orang itu melihat perempuan itu berhenti dijarak ratusan meter dari benteng, mereka melihat perempuan itu mengangkat pedangnya secara perlahan... Kedua orang itu mengerutkan dahi mereka melihat tindakan Perempuan itu... apa yang dia ingin lakukan? Apa dia berniat menyerang dari jarak sejauh itu... Dia pasti sudah gila jika dia berpikir bisa menyerang dari jarak sejauh itu...
Miya menatap datar kearah benteng yang terpisah jarak ratusan meter dari tempatnya berada... Ia menarik nafas dan mengobarkan mana ditubuhnya, Miya mengeratkan pegangan pada gagang pedangnya lalu dalam satu kali tarikan nafas Miya menebas udara kosong dengan kecepatan tinggi...
Slash!
Wuuuuush
Blaaaaaaar!?
Tebasan super cepat Miya melepaskan Shockwave tajam yang menerjang apapun yang ada didepannya, Shockwave yang Miya lepaskan melesat cepat sebelum menghantam gerbang tebal yang dimiliki benteng hingga gerbang benteng itu terbelah menjadi dua... Tidak hanya membelah gerbang benteng itu tapi juga menerbangkan dua orang yang menjaga gerbang benteng itu... Miya menatap kearah gerbang yang terpotong dengan satu kali ayunan pedang miliknya, nafas Miya mulai menjadi berat dan wajah cantiknya juga telah dibasahi oleh keringat... Melepaskan Shockwave dari jarak ratusan meter itu sangat membebani tubuhnya...
Puk!
Miya merasakan sebuah tangan penepuk kepalanya, ia menoleh kebelakang dan mendapati Tobio tengah tersenyum tipis padanya, rona merah secara samar muncul dikedua pipinya.
"Kerja bagus, Miya..."
Ucap Tobio lembut sebelum ia menoleh kebelakangnya dimana ia melihat tiga dari empat orang tengah mengeluarkan nafsu bertarung tingkat tinggi sementara satunya hanya menatap kedepan dengan gugup, Pandangan Tobio teralih pada Okita yang gugup...
"Okita... Kuatkan tekadmu, kita disini untuk menyelamatakan seorang teman, jika tekadmu lemah maka kita tidak akan bisa menyelamatkan teman kita."
Ucap Tobio membuat Okita terdiam, apa yang dikatakan Tobio benar, jika ia tidak menguatkan tekadnya mana mungkin ia bisa memenuhi permohonan dari Naruto dan menyelamatkan Shaga-hime... Okita menarik nafas dan menenangkan dirinya, demi temannya, ia harus berjuang... Jika tidak ia akan kehilangan semua kehangatan yang telah ia rasakan beberapa hari yang lalu...
Okita menarik pelan Katana dipinggangnya, suara gesekan dari pedang yang bergesekan dengan sarung pedangnya bergema ditempat itu, Tobio tersenyum tipis melihat Okita perlahan maju kedepan, ia dapat merasakan aura dari Okita telah berubah sepenuhnya, tidak ada lagi kegugupan yang ada saat ini hanyalah tekad yang membara...
"Tennen Rishin-Ryu..."
Okita memasang gesture bertarung, ia mengangkat katana sebatas pelipis dan menekuk lututnya dengan kuat, lalu dalam satu kali hentakan Okita melesat dengan kecepatan tinggi, Tobio tersenyum ketika ia melihat Okita tanpa ampun menebas dua orang yang menjaga gerbang dengan gerakan layaknya kilat.
[Flash]
Adalah julukan dari Seorang Souji Okita, julukan itu diberikan bukan tanpa sebab, kecepatan dari gerakan Okita yang sulit diikuti oleh mata membuatnya mendapatkan julukan itu...
Sekilas Okita memang terlihat seperti orang yang ramah dan lembut, ia juga lucu dengan sifat kikuknya itu, tapi semua akan lenyap ketika Okita sudah menarik keluar Katana-nya... Okita akan berubah menjadi orang yang benar-benar berbeda ketika ia telah serius dan saat ini, Okita tengah dalam keadaan serius...
Okita menatap datar dua orang yang baru saja ia bunuh dengan kedua tangannya, wajahnya yang telah dipenuhi cipratan darah segar tidak mengendurkan hawa membunuh dari Okita, mata yang terlihat membeku itu menatap mayat dua orang didepannya seolah ia baru saja membunuh apa yang seharusnya ia bunuh, sebelum iris matanya melirik kedalam benteng dan tanpa banyak waktu lagi ia langsung berlari kedalam Benteng.
Tobio yang melihat tindakan Okita menghela nafas sebelum ia menoleh kebelakang dimana ia melihat Lee dan Arthur yang tengah siap menunggu perintah.
"Lee... Arthur... Kalian kejar Okita, saat ini ia tidak akan berhenti membunuh sebelum ia menemukan Shaga-hime..."
Ucap Tobio membuat Arthur dan Lee mengangguk pelan dan tanpa banyak waktu lagi mereka berdua berlari mengejar Okita, melihat kedua-nya pergi dan menyisakan Cao Cao, Miya dan Tobio disana...
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Taichou."
Cao Cao bertanya selagi ia melepaskan ikatan kain yang melilit benda yang selama ini ia bawa-bawa, Tobio terdiam sebelum ia menatap kedalam Benteng Tua itu, disebelah Tobio seekor Anjing hitam muncul entah sejak kapan, Tobio menatap kearah anjing itu membuat Anjing itu mengangguk pelan, seketika cahaya lembut menyelimuti tubuh anjing itu dan sedetik kemudian anjing itu berubah menjadi sebuah pedang hitam dengan ukiran simbol kutukan berwarna Crimson.
Tobio mengambil pedang itu sebelum ia menoleh kearah Cao Cao yang juga menatapnya dengan pandangan datar, ditangan Cao Cao telah tergenggam sebilah tombak yang mengeluarkan aura yang begitu suci...
"Bukankah itu sudah jelas... Kita akan menghancurkan mereka yang sudah berani mengusik kita..."
"Heh~, itu mudah dipahami, Taichou."
Miya menatap datar Tobio dan Cao Cao yang tengah mengeluarkan aura membunuh yang begitu pekat, Iris cokelat Miya menatap dua benda yang tengah dipegang oleh Cao Cao dan Tobio, pedang hitam yang diselimuti kutukan kegelapan juga Tombak yang mengeluarkan aura suci yang begitu menenangkan. Miya menghela nafas.
"Aku masih tidak percaya jika dua benda berbahaya dari tiga belas senjata pembunuh Dewa... [Longinus] ada ditangan dua orang idiot ini... [Longinus] yang dikenal sebagai [Tuhan Palsu]... [Canis Lykaon]... Juga Tombak yang dikatakan memiliki kekuatan Ilahi dari Dewa [True Longinus]..."
Miya menghela nafas lagi dan memijat kepalanya yang berdenyut, sepertinya ia akan terkena sakit kepala hanya dengan memikirkan hal itu...
"Demi Dewi Lalatina... Akan jadi apa dunia ini melihat dua senjata berbahaya seperti [Longinus] ada didua orang idiot ini..."
And Cut~
-Ending Theme: Aoi Honoo By Itowokashi-
Yeah~ hallo, Phantom come Back...
Chapter 48 Release, disini para Anggota PIA telah mencari dimana Shaga-hime berada dan ditengah pencarian Tobio bertemu dengan seorang Kinpatsu Bishoujo, Lavinia Reni, bagi kalian yang membaca dan mengikuti LN DxD sampai Vol 24 di Vol 21 Atau lebih tepatnya di Parade Sih Malapetaka, Trihexa. Lavinia Reni memulai debutnya di Main Story DxD...
Lavinia Reni adalah seorang penyihir berbakat yang berada difraksi Mephitospeles lebih tepatnya di Fraksi penyihir [Grauzauberer], Lavinia Reni adalah kebanggaan dari Mephitospeles, dia juga pemilik dari Longinus [Absolute Demise] dan dikenal dengan julukan [Ice Princess Lavinia]...
Lavinia disini adalah seorang Wizard dan secara samar aku menujukan hubungan dia dengan Tobio atau Tobi-kun... Sepertinya mereka cukup dekat atau lebih tepatnya sangat dekat~...
Ya lupakan itu, Longinus Canis Lykaon telah bangkit dan menunjukan kekuatannya begitu juga dengan Absolute Demise, kini tinggal True Longinus yang belum menampilkan tarung tajamnya, so besok adalah panggung bagi Cao Cao dan True Longinusnya...
Yeah, lupakan, aku sudah selesai jadi sampai jumpa diwaktu, tempat dan keadaan yang berbeda... Jaa ne...
Next Chapter: Knight yang berjuang dengan Tombaknya.
Phantom Out!
