Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Author teringat akan princess hours setelah membaca salah satu review reader, author akan mencoba membuat fic dengan tema film korea yang keren itu.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

~ To Be A Princess ~

[ Chapter 51 ]

.

.

"Sebagai seorang putri kau harus-"

Bught!

"Aauuhh!" Rintihku, jidatku terbentur tepat di atas meja.

"Putri Sakura! Kau tidur di saat aku menjelaskan?" Marah ibu permaisuri.

"Aku sungguh minta maaf ibu permaisuri, aku tidak tidur, hanya tadi sedikit terbentur." Ucapku, panik.

"Baiklah, dengarkan lagi apa yang harus kau terapkan sebagai seorang putri mahkota.

Aku sudah sangat ngantuk, kemarin malam aku sibuk menyelesaikan tugas laporan, pagi harinya aku harus kuliah dan sorenya ada jadwal pratikum dan setelah kegiatan kampus berakhir aku harus mendatangi ruangan ibu permaisuri dan mendengar semua penjelasannya, aku kembali belajar menjadi seorang putri mahkota, tapi rasa ngantukku jauh lebih parah, aku sangat-sangat butuh tidur sekarang.

Ibu permaisuri bahkan tidak peduli jika aku sibuk di kampus, dia ingin aku tetap datang ke ruangannya, jika aku mengeluh dia akan semakin marah padaku, siapa yang bisa menolongku sekarang? Sasuke pun tidak berani, hikss... aku harap nenek tua ini segera pergi dan aku bebas.

"Sudah mengerti putri?" Tanyanya dan menatap tajam padaku.

"Su-sudah, aku mengerti ibu." Ucapku, takut, kenapa dia jadi mirip Sasuke saat baru pertama kali kami bertemu? Atau jangan-jangan sikap Sasuke itu akibat didikan nenek tua ini.

"Sekarang kita belajar hal yang melanggar peraturan kerajaan, terutama berkelahi, seorang putri mahkota tidak berkelahi." Ucap ibu permaisuri dan aku sedikit terkejut, apa dia tahu hal itu juga?

"Jangan berbohong padaku putri, aku bisa tahu segalanya bahkan saat tidak berkunjung di istana." Ucapnya.

"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi."

"Aku tidak mengerti kenapa kalian sampai berkelahi, putri Seon itu sangat baik dalam hal sikap, atau kau yang memulainya, putri?"

Terdiam.

Jika di pikirkan lagi, memang akulah yang memulai perkelahian itu, seperti kata Sasuke, aku benar-benar harus berhati-hati pada ibu permaisuri, setiap tindakanku akan langsung di ketahuinya, bahkan itu hal yang sudah lewat, tapi apa ibu permaisuri benar-benar tidak mengetahui sikap asli putri Seon? Kau akan jauh lebih kecewa, aku yakin itu.

"Aku akan mendengar setiap ucapan ibu permaisuri, aku harap ibu permaisuri bisa membimbingku menjadi putri mahkota sebagaimana mestinya." Ucapku, saat ini aku hanya bisa patuh.

"Nah, aku senang mendengar ucapan seperti itu, mulai sekarang setiap hari kau punya jadwal baru denganku." Ucapnya.

.

.

Jadwal baru bersama ibu permaisuri, bukan hanya mendengar ceramahnya di ruangannya, sekarang, suasana begitu tegang.

"Bagaimana kabar kedua orang tuamu putri Seon? Aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka." Ucap ibu permaisuri.

"Mereka baik-baik saja, terima kasih sudah menanyakan mereka dan mereka pun merindukan kedatangan Yang mulai permaisuri di kerajaan." Ucap putri Seon, aku tahu, aku tidak akan pernah menang dalam hal sikap jika menandingi putri Seon.

Hari ini, seharusnya aku libur dan beristirahat, sayangnya ibu permaisuri mengajakku keluar, ternyata kami pergi bertemu putri Seon untuk acara minum teh bersama, hanya aku dan putri Seon yang merasa canggung dan tegang, kami sudah terlibat masalah dan aku tahu putri Seon sedang tidak ingin melihat atau bertemu denganku, tapi nenek tua ini malah mempertemukan kami.

Tidak ada pembahasan tentang perjodohan, sepertinya ini hanya acara pertemuan biasa.

"Jadi, bisakah aku mendengar masalah yang terjadi pada kalian?" Ucap ibu permaisuri.

Uhukk!

Menatap ke arah putri Seon, aku pikir hanya aku yang tersedak, dia pun tersedak dan terlihat terkejut mendengar pertanyaan ibu permaisuri, jadi bagaimana kami bisa menjelaskannya? Aku juga ingin mendengar ucapan putri Seon, apa dia akan mengatakan jika selama ini dia tidak bisa melepaskan pangeran Sasuke, meskipun dia sudah memiliki istri?

"Bu-bukan sebuah masalah yang rumit Yang mulia, hanya masalah sepelah antar perempuan, kami hanya salah paham, tapi sudah di selesaikan." Ucap putri Seon, alasannya terdengar aneh.

"Apa benar begitu, putri Sakura?" Ucap ibu permaisuri dan menatap ke arahku.

"Be-benar ibu, ini hanya masalah salah paham." Ucapku, sial, kenapa kau memberi alasan tentang salah paham? Kau duluan yang membuatku kesal. Menatap ke arah putri Seon dan dia membuang mukanya dariku.

Aku yakin dia pun tidak ingin mengatakan alasan yang sebenarnya, apa putri Seon juga takut pada ibu permaisuri? Dia menjaga sikapnya, aku muak melihatnya, aku ingin acara minum teh ini segera berakhir dan beristirahat, aku merindukan suamiku, setiap hari kami jarang bertemu, aku sudah tertidur lebih dulu saat dia pulang, belajar bersikap membuat tenagaku habis, kami hanya saling menyapa saat sarapan.

Beberapa jam berlalu.

Acara minum teh ini terlalu lama, banyak hal yang hanya di bicarakan ibu permaisuri dan putri Seon, kadang beliau akan meminta pendapatku. Ibu permaisuri pulang lebih awal, dia punya sebuah kegiatan lain dan memintaku pulang di antar pengawalku, sekarang, hanya ada aku dan putri Seon.

"Masih memakai topeng juga." Sindirku.

"Ada apa? kau tidak perlu mengurusku, putri." Ucapnya.

Kami saling bertatapan kesal.

"Dengar, aku sangat peduli pada pangeran Izuna, jangan membuatnya susah, kau sebaiknya menolak perjodohan ini, aku bahkan tidak ingin melihat pangeran Izuna hidup bersama manusia yang tidak pernah melepaskan topeng kebohongannya itu." Ucapku.

"Kau sangat peduli padanya? Kenapa tidak menikah saja dengannya?"

"Apa! Jangan mengucapkan hal konyol." Ucapku.

"Aku menolak atau menerima perjodohan ini semua terserah aku, bukan kau yang memutuskannya, sekarang jagalah pangeran Sasuke, apa kau tidak peduli pada putri lain yang bisa saja menjadi pasangannya kelak? Meskipun aku hanya orang luar, aku tahu siapa Yang mulai permaisuri, ratu pertama yang tidak bisa memberi keturunan, kau harus hati-hati putri." Ucapnya dan sebuah tatapan puas darinya.

Dia sedang menyindirku, dasar putri bermuka dua, mendengarnya berbicara semakin membuatku kesal.

"Suamiku tidak akan seperti itu, dia akan tetap bersamaku bagaimana pun keadaanku." Ucapku, aku percaya pada Sasuke.

"Baiklah, aku tahu kau putri yang keras kepala." Ucap putri Seon. "Lagi pula apa kau tahu jawaban pangeran Izuna tentang perjodohan ini? Bukan aku yang harus kau beri peringatan, tanyakan pada pangeran Izuna, mungkin saja dia setuju." Ucapnya dan tersenyum licik. Cih, aku benci melihat wajahnya.

"Itu tidak mungkin, pangeran Izuna tidak menyukaimu, kau hanya bermimpi putri, tidak akan ada pria yang bisa tahan dan menikahi putri sepertimu." Ucapku dan Seon terlihat marah.

"Kita akhiri pembicaraan ini." Ucapnya dan bergegas pergi, dia sudah sangat kesal.

Yeeeh...! Aku benar-benar senang bisa membalasnya. Meskipun sangat ingin menghajarnya lagi, ibu permaisuri sudah menegurku, aku pun harus menjaga sikap di setiap saat, ada begitu banyak mata-mata milik ibu permaisuri, menatap sekitar, apa sekarang pun mata-matanya itu ada? Aku rasa mungkin dari salah satu pengawalku.

.

.

Akhirnya pulang, rasa lelahku seketika menghilang saat menatap Sasuke yang sedang bersantai di sofa, hanya dia yang menjadi penyemangat hidupku, suami tampan meskipun selalu cuek dan berwajah dingin, itu sudah menjadi khas Sasuke.

"Kau sudah pulang?" Ucapnya.

Aku hanya mengangguk, menghampirinya dan duduk di sebelah Sasuke.

"Kami bertemu lagi." Ucapku dan memasang wajah cemberut.

"Siapa?"

"Putri Seon."

"Kalian tidak berkelahi di hadapan ibu permaisuri 'kan?" Ucap Sasuke, dia tahu aku keluar bersama beliau, tapi Sasuke tidak tahu jika putri Seon pun ikut bersama kami.

Tertawa, aku rasa lawakan Sasuke cukup lucu, aku jadi membayangkan bagaimana repotnya ibu permaisuri memisahkan kami yang saling menjambak dan memukul satu sama lain.

"Aku harap bisa melakukannya, tapi itu tidak mungkin, melihatnya marah saja aku sudah sangat takut, bagaimana jika dia melihat aku berkelahi? Mungkin aku akan di coret dari kartu keluarga kerajaan." Ucapku.

Usapan lembut pada puncuk kepalaku." Aku rasa kau sudah bekerja keras." Ucap Sasuke.

Aku terus menahan diri selama bersama ibu permaisuri, Sasuke benar, hanya perlu patuh saja, dia akan menjadi baik, meskipun kata-katanya tetap saja sangat tajam.

"Aku harap ibu permaisuri segera kembali ke kediamannya." Harapku.

"Dia akan pulang jika sudah memastikan apapun di sini." Ucap Sasuke.

Aku lelah belajar bersama ibu permaisuri, memeluk Sasuke dan menyamankan diriku, hari ini aku bisa istirahat, ibu permaisuri sedang keluar dan belum pulang, semoga dia pulang malam dan tidak perlu ada pelajaran menjadi putri terhormat hari ini.

"Aku merindukanmu." Ucap Sasuke.

Mengangkat wajahku dan menatapnya.

"Wah, aku tidak menyangka jika pemikiran kita sedang sama." Ucapku dan terkekeh.

"Kesibukan menyita waktu kita." Ucapnya.

Aku pun tahu, kembali memeluknya dan pelukan Sasuke mengerat, waktu bersama Sasuke jadi berkurang setelah nenek itu menjadi repot mengurusku, ibuku saja, tidak sampai seperti itu, eh? Ibuku? Aku jadi merindukannya, ayah juga.

"Suamiku, kapan kita akan mengunjungi kedua orang tuaku lagi?" Tanyaku

"Mungkin saat kau liburan semester, aku akan menjadwalkan kunjungan kita ke kedua orang tuamu." Ucap Sasuke.

Aku senang mendengarnya, Sasuke jadi pengertian padaku, sikapnya benar-benar sangat berubah, jika melihat ibu permaisuri aku teringat Sasuke saat pertama kali bertemu, sekarang dia begitu berbeda.

.

.

TBC

.

.


updatee...

hari ini ada sebuah penyampaian dari author, cukup penting sih, jadi harap di baca yaa...

karena ada sebuah kesibukan, bukan tentang nikahan lagi yaa wkwkwkw, nggak ada alasan begituan pffff.. hanya semacam pekerjaan tambahan author, jadi akan lumayan sibuk, author bakalan tidak update fic "To Be A princess" mulai besok hingga dua minggu, jadi uhmm.. *ngitung* jadi kira-kira dua minggu ke depan tanggal 12 november yaa, mungkin akan kembali update... jadi mohon pengertiannya, maaf nggak bisa update-update dulu.

.

sekali lagi, tanpa bosan, author mau ucapan, terima kasih yang buanyak, atas support untuk fic "To Be princess"

.

See you next chapter, (2 minggu lagi) XD