Prolog:
Sabaku no Gaara, pewaris Sabaku corporation, karena deadline berumah tangga kakak perempuannya sudah dekat dan kenyataan kalau kakak lelakinya sama sekali tidak punya bakat memimpin perusahaan. Maka, mau tidak mau (walaupun Gaara benar-benar tidak mau), dia harus bersedia menerima pertunangannya dengan salah satu Hyuuga yang merubahnya jadi HOMO.
AU, OOC, Special for Mendy.d'LovelyLucifer.
Main pairing: NejiGaara
Slight pairing: SasuNaru, ShikaTema, SaiIno, KibaHina, LeeSaku, SasoDei, PeinKonan, KisaIta, dll.
Summary:
Neji sangat kenal pacarnya, dia yakin Gaara nggak akan menyerah sampe Neji mendengarkannya. NejiGaara. Chapter 51. Happy birthday Gaara
XxXxX
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO SENSEI
CAN WE PRETEND TO LOVE, THEN WE'LL MARRY? © HELENA NEGA
XxXxX
"Asami, kau udah bangun?" panggil Akihito setelah dia membuka kunci pintu, "Gaara-chan duduk dulu, aku akan... Eh?"
Akihito kaget, tau-tau ada yang merangkul pinggangnya dan menciumnya.
"A..asami, ada Gaara-chan," kata Akihito habis nafas.
Gaara nyengir dibelakang bahu Akihito.
"Oh hai..." kata Asami sambil melambai tapi dia masih melanjutkan ciuamannya sampe Akihito terduduk di lantai begitu Asami melepasnya.
"Lanjutkan aja," kata Gaara sambil nyengir.
Akihito melotot, "Jangan menawari Asami, dia sih mau-mau aja,"
Asami mengangkat bahu sambil menepuk kepala Akihito yang masih di lantai, "Ide bagus,"
"Gaara-chan cuma bercanda," teriak Akihito agak histeris, dia menutup dua tangannya ke wajah.
"Aku juga," kata Asami.
"Benarkah?" kata Akihito kaget. Tumben otak Asami nggak mesum lagi.
"Tentu aja bohong,"
"Gubrak!" Akihito jatuh ke lantai lagi dan Gaara ngakak.
"Udahlah, ayo sarapan. Gaara-chan sekalian, masih pagi banget kalo berangkat sekarang," kata Akihito sambil bangkit berdiri. Dia ke dapur dan mengambil piring.
"Bolehkah aku makan kamu aja?" kata Asami waktu dia dan Gaara duduk di meja makan dan Akihito kembali membawa piring. Asami sengaja mengedip ke arah Gaara yang lagi-lagi ngakak ngeliat reaksi Akihito yang keliatan marah tapi nggak bisa karena dia takut kalo harus meneriaki Asami, bisa-bisa Asami mengusir Akihito dari apartmentnya.
"Makan yang banyak, Gaara-chan. Kamu lebih unyu kayak dulu, sekarang kurus banget," kata Akihito sambil memindahkan sup, ikan dan sayur dari kotaknya.
Gaara nyengir, "Itidakimasu,"
XxXxX
Gaara tiba tepat waktu di sekolah, padahal dia berangkat pagi banget. Tapi karena sarapan dulu sambil ngobrol sama Akihito dan Asami jadi lumayan menghabiskan waktu.
"Ohayou," sapa Gaara waktu dia ketemu Kiba dan Sai di depan gerbang.
Kiba tersenyum sambil mengucapkan "Ohayou Gaara,"
Tapi Sai malah melongo, dia baru menutup mulutnya waktu Kiba mengeplak kepalanya, "Kau siapa?" tuduh Sai langsung pada Gaara.
Gaara keliatan bingung, tapi berusaha mengabaikan dengan tatapan 'Masih pagi udah amnesia'
Gaara berjalan duluan ke kelas karena Sai udah dicegat Ino dan Kiba mau mampir ke kelas Hinata.
"Jangan kelamaan pacaran, udah mau bel," pesan Gaara pada Sai dan Kiba yang nyengir.
Beberapa siswa dan siswi yang berjalan di koridor memandangi Gaara sambil bisik-bisik, tapi Gaara pura-pura nggak sadar. Gaara sih udah biasa cuek.
"Apa ada hal baik terjadi?" tanya Naruto begitu Gaara bertemu dengannya di depan kelas.
"Kenapa?" Gaara balik nanya dengan heran. Apa dia jadi aneh? Pantas orang-orang memandanginya.
"Auramu manis sekali kayak oreo," kata Naruto dengan nada 'Jadi pengen, puter, jilat dan celupin'.
Gaara mendengus geli, "Jangan mengada-ngada,"
Gaara meletakkan tasnya dan mengambil beberapa buku, dia jadi inget pembicaraannya dengan Asami dan Akihito.
"Sebentar lagi Gaara-chan lulus SMU kan?" tanya Akihito.
Gaara mengangguk.
"Bakal ngelanjut kuliah dimana?"
Gaara menelan satu suapan besar, "Bisnis dan Management,"
"Oh," kata Akihito dengan nada 'udahku tebak sih'.
"Rencana mau ujian masuk di universitas mana?" tanya Asami.
"Ada dua undangan, satunya dari university of Tokyo dan..." Gaara menatap Asami ragu-ragu, rencananya Gaara pengen Neji yang pertama tau dari mulutnya.
"University of Cambridge?"
Gaara berhasil nggak menyemburkan nasi ke muka Asami, "How do you know..." pekik Gaara nyaris histeris.
"Bukannya Uchiha kecil itu juga dapat udangan kesana?" kata Asami.
"Apa? Uchiha kecil? Sasuke?" tanya Gaara kaget.
"Ya, kakaknya si Akatsuki yang cerita padaku. Ada dua orang yang dapat undangan. Salah satu adiknya, satunya pasti kamu,"
Gaara terdiam. Memang Temari udah telat banget datang ke bimbingan karir, pastilah Sasuke udah tau masalah undangan ini dari berminggu-minggu yang lalu. Tapi kenapa Sasuke nggak bilang-bilang?
"Jadi Gaara-chan akan kuliah di luar negeri?" tanya Akihito dengan nada menggoda.
Gaara mengaduk sisa nasinya, nggak tau harus bilang apa.
"Tentu saja dia akan kesana," kata Asami seolah menghawatirkan keluguan Akihito, "kesempatan bagus nggak datang dua kali."
Gaara nggak tahan nggak nyengir waktu Akihito dan Asami tersenyum. Pagi ini Gaara udah membulatkan tekad, dia akan bicara baik-baik dengan Neji. Malah mungkin Neji udah dengar tentang undangan kuliah Gaara, soalnya Asami aja udah tau.
XxXxX
"Hari ini les dibatalkan, kau mau ikut main street basket di tempat yang dulu bareng anak-anak?" tanya Naruto pada Gaara yang masih mencatat, seperti biasa disamping Naruto ada Sasuke yang nempel kayak plaster pencabut kutil.
Gaara meringis, "Kau tau aku nggak bisa, aku akan langsung ke Sabaku corporation abis ini,"
Naruto tertawa, "Kali aja kalo mood-mu bagus, kau bisa kabur,"
Gaara balas tertawa, lalu dia menyadari tatapan Sasuke. Gaara jadi ingat kalo dia harus mengkonfirmasi info dari Asami.
"Sasuke, kau melanjutkan kemana setelah lulus SMA?"
Naruto ikut melirik pacarnya, dan dari tatapan 'Kok baru nanya sekarang sih Gaar, telat amat'nya Naruto, Gaara sadar kalo dia satu-satunya yang nggak tau soal undangan Sasuke.
"Menurutmu?" Sasuke malah balik nanya.
"Naruto kau nggak berencana ikut ujian masuk university of Cambridge menyusul Sasuke kan?" tanya Gaara ke Naruto.
Naruto tertawa, "Kau gila? Aku nggak akan mau mempermalukan diri sendiri, tau. Bisa-bisa aku gagal di tes pertama."
"Kau kan nggak sebego itu..." gumam Gaara membela diri, "Jadi? Sasuke akan masuk university of Cambridge?" tanya Gaara harap-harap cemas.
"Iyalah. Kau harus menjaga Teme untukku disana, kalo dia berani selingkuh langsung lapor. Aku disini aja, sekolah politik," kata Naruto enteng.
Sasuke mendengus mendengar ucapan pacarnya, "Gimana kalau kami cinta lokasi?"
Gaara mengabaikan kalimat Sasuke dengan memberikan tatapan terhina dan Naruto tertawa ngakak, cukup yakin kalo pacarnya bukan selera sahabatnya, gitu juga sebaliknya.
"Kau mau sekolah politik? Kau berniat bekerja di pemerintahan?" tanya Gaara pada Naruto. Dia belum pernah dengar tentang itu, jadi bagian cita-cita jadi ibu pejabat itu benar?
"Tentu aja, aku mendapat nilai penuh dibidang itu, tau..." kata Naruto seolah tersinggung, "itu menurut Anko-sensei," lanjut Naruto diakhiri tawa ala penjahat.
Gaara terdiam memandangi dua sahabatnya. Naruto dan Sasuke udah memutuskan pendidikan masa depan mereka, gimana dengan Gaara? Apakah bicara dengan Neji akan berakhir mulus?
XxXxX
"Neji-san, bisa kita bicara?" tanya Gaara sore itu setelah Shikamaru keluar dari ruangan dan hanya tinggal Ibiki diantara mereka. Ibiki cukup bijaksana untuk pamit pura-pura akan menelpon waktu Gaara mendekati Neji.
"Nanti saja, Gaara-chan." kata Neji tanpa menoleh, dia masih menekuni setumpuk berkas-berkas di depannya.
Nyali Gaara agak ciut mendengar penolakan Neji. Tapi dia tetap harus bicara. Waktunya tinggal 4 hari.
"Ano... Hanya sebentar, nggak akan lebih dari 5 menit," kata Gaara memohon.
Neji mendongak, Gaara hampir yakin Neji akan membentaknya. Tapi ternyata Neji menekan interkom dan menghubungi Baki.
"Bawakan last deal dengan Akatsuki dan Asami,"
Gaara nyaris menangis waktu Neji berdiri dan mengambil map besar di meja sudut untuk dicocokkan dengan berkas yang dia periksa.
Baki masuk nggak lama kemudian disusul Ibiki yang ngasih tau bahwa ada setumpuk dokumen untuk Gaara tanda tangani. Terpaksa Gaara beranjak ke ruangannya.
Tapi Gaara nggak menyerah, dia menyelesaikan tugasnya cepat-cepat dan berdiri di depan ruang Neji. Rencananya Gaara nggak akan beranjak dari sana sebelum Neji mendengarkannya. Mereka harus bicara gimanapun caranya.
"Bocchan ada apa?" tanya Kotetsu yang baru keluar dari ruang Neji dan nyaris menabrak Gaara yang berdiri di pintu.
Gaara agak gelagapan, tapi bohong jelas percuma, "Aku nunggu Neji-san,"
"Kenapa nggak masuk dan tunggu di dalam? Neji-sama sedang keluar."
Gaara buru-buru membuka pintu dan ngeliat kalo kata-kata Kotetsu benar, ruang Neji kosong.
"Kata Ibiki-san, Neji-sama sedang mengunjungi gedung baru," kata Kotetsu.
"Gedung baru?"
"Iya dan..."
Tapi Gaara udah nggak denger lanjutannya, dia udah berlari ke meja Ibiki.
"Gedung baru, dimana?" kata Gaara sambil ngos-ngosan ngatur nafas.
"Neji-sama udah kesana," kata Ibiki otomatis.
"Aku perlu pergi juga sekarang, minta alamatnya!" rengek Gaara.
Ibiki agak keberatan, tapi dia menulis juga di kertas memo dan memberinya pada Gaara yang menunggu nggak sabar. Gaara mengambilnya dan lari ke mobilnya tanpa pamit.
Gaara buta arah, tapi dia nggak berani naik taxi. Jadi dia menggunakan GPS, mencari jalan tercepat.
Gaara sampe di lokasi abis nyasar dan nanya ke polisi lalu lintas. Didepannya ada gedung tinggi yang hampir jadi. Gaara parkir di depan plang besi bertuliskan 'Sabaku-Hyuuga Corporation. Izin pembangunan Xxxx'
Gaara nggak tau Neji kebagian mananya gedung. Hari udah nyaris gelap, udah nggak ada lagi pekerja dan alat berat juga udah nggak lagi beroperasi. Gaara menelan ludah, gedung gede sepi gini udah kayak rumah hantu. Tapi Gaara memberanikan diri masuk ke dalam. Demi masa depannya.
XxXxX
Neji kembali ke Sabaku corporation dan bertemu Ibiki.
"Neji-sama, anda tidak bersama bocchan?"
Neji agak kaget, "Nggak, apa Gaara-chan nyusul?"
"Ya, 3 jam yang lalu,"
"Aku disana terus sampe setengah jam yang lalu." kata Neji, entah kenapa perasaannya nggak enak, "Gaara-chan tau kan kalo bagian sekretariatnya di gedung sebelah?"
Ibiki menggeleng.
Neji nyaris mengumpat. Dia mengambil hp-nya dan berlari mencari Shikamaru. Satu kali nada panggil, lalu nomor Gaara nggak aktif.
"Shikamaru, Gaara-chan dimana?" tanya Neji waktu dia nyaris menabrak pacar Temari itu.
"Bukannya kau harus pura-pura nyuekin Gaara-chan biar dia bisa baikan sama Temari-chan?" kata Shikamaru bingung.
Neji berdecak nggak sabar, "Gaara-chan ke gedung baru dan belum balik,"
"Apa?"
Shikamaru mengikuti Neji berlari keluar.
"Coba telpon hp Gaara-chan..." kata Shikamaru.
"Nggak aktif. Telpon Temari, siapa tau Gaara-chan balik ke rumah," kata Neji tanpa keyakinan, dia yakin Gaara belum pulang. Gaara mencarinya dan ingin bicara. Neji sangat kenal pacarnya, dia yakin Gaara nggak akan menyerah sampe Neji mendengarkannya.
Shikamaru naik ke mobil Neji dan menelpon Temari.
"Nggak ada, dia belum pulang sama sekali. Hp Gaara-chan nggak dibawa, ada di meja belajarnya." kata Shikamaru begitu dia menutup telponnya, "Temari nyusul kita kesana,"
Neji mengangguk.
"Kok perasaanku nggak enak ya, kamu..."
"Diamlah, Shikamaru," potong Neji kecut, "Aku lagi berusaha nggak berfikir yang bukan-bukan,"
XxXxX
Gaara menelan ludah, gedung gede sepi gini udah kayak rumah hantu. Tapi Gaara memberanikan diri masuk ke dalam. Demi masa depan.
"Neji-san?" panggil Gaara sambil ngidupin lampu di saklar terdekat. Tapi teriak adalah ide buruk, gema bersahutan mengulang panggilan Gaara. Menambah spooky keadaan. Gaara merinding. Kalo nggak inget ini semua demi ketemu dan ngomong ke Neji, Gaara pasti udah kabur duluan.
Gaara bergerak menuju lift. Gedung ini benar-benar hampir jadi, hanya tinggal pembersihan sisa cat, debu dan diberi perabot. Lift berdenting sepuluh kali lebih keras waktu pintu terbuka. Gaara keluar ke lantai satu sambil komat-kamit baca doa, dia menghidupkan semua lampu dan melongokkan kepala ke semua ruang yang ternyata kosong. Gaara naik ke lantai dua, melakukan hal yang sama dan menemukan kalo Neji juga nggak ada. Begitu terus sampe Gaara lupa ini lantai berapa.
Gaara berdiri di koridor kosong. Sekarang udah bener-bener malam, Gaara bisa ngeliat bulan sabit di jendela ujung koridor. Ketika Gaara memutuskan kalo Neji nggak ada di gedung ini dan berniat turun, tiba-tiba lampu padam. Saking kagetnya Gaara lupa teriak.
"Hp, hp..." gumam Gaara ketakutan sambil meraba sakunya, tapi nggak ada apa-apa disana. Gaara ingat kalo hp-nya ditinggal di kamar karena Neji nggak menghubunginya. Rasanya Gaara pengen nangis.
Tempat ini gelap banget, satu-satunya cahaya cuma dari jendela diujung koridor, itupun nggak membantu. Gaara nggak berani bergerak. Bermacam-macam pikiran bodoh silih berganti di kepalanya. Dari hantu tanpa kepala, rampok, sampe ketakutan kalo dia bakal kesandung. Tapi dia nggak bisa tetap disini tanpa melakukan apa-apa. Gaara mencoba mengingat dimana tangga darurat karena lift jelas nggak bisa digunakan. Gaara menyusuri dinding dan terpegang kenop pintu, untunglah ada tulisan 'Emergency Stairs' berpedar glow in the dark. Gaara mencoba membukanya, tapi nggak berhasil. Entah karena tangannya terlalu gemetaran atau karena tangan kanannya masih belum bisa digunakan.
"Please," rengek Gaara ketakutan dan panik. Gaara mencoba sekali lagi, mengacuhkan tangan kanannya yang sakit banget waktu dia memaksa mendorong.
Untunglah pintu terbuka.
Ada garis hijau glow in the dark sepanjang dinding di tangga darurat. Nggak menerangi apa-apa, tapi paling nggak Gaara tau kemana dia harus berjalan.
Gaara menelan ludah panik, dia takut banget tapi nggak punya pilihan lain. Gaara masuk secepatnya, takut tiba-tiba hilang keberanian. Tapi kakinya salah melangkah, dia terlewat satu anak tangga dan nyaris terjatuh. Jantungnya berdebar-debar dan dari tangan kanannya yang menyambar pegangan tangga terdengar suara derak.
"It's okey, I just slipped, not die," gumam Gaara sambil menahan sakitnya. Denyut di dada dan tangannya terasa sama kuat.
Gaara berjalan lebih hati-hati, merayap sepanjang garis glow in the dark. Dia nggak menghitung lantai berapa karena sibuk berdoa. Yang pasti dia turun banyak tangga.
Lalu Gaara berhenti, dia merasa (bukan ngeliat) ada sesuatu yang bergerak di depannya. Gaara merayap naik beberapa tangga, memegang kenop pintu keluar lantai sekarang. Pintunya nggak bergerak dan nggak bisa terbuka. Gaara menarik kenop pintu lagi dengan lebih panik karena sepasa mata merah menatap dari lantai tangga dibawahnya.
Pintu menjeblak terbuka setelah Gaara menarik dengan sekuat tenaga. Gaara berlari keluar. Menuju ujung koridor yang lebih terang disinari cahaya bulan. Tapi begitu Gaara terduduk kehabisan nafas di lantai depan kaca, sepasang mata merah lain menatapnya.
XxXxX
To be continue
XxXxX
Thanks for reading. Happy Birthday Gaara
