Rather than lying to this feeling. Why I didn't try to change it? It suck to keeping this horrible feeling.

YUKIKO'S POV

The Last Trip adalah acara menginap angkatan kami yang terakhir. Acara ini berlangsung 7 hari, lalu pada hari ke-8 kami akan mengadakan acara wisuda di sana. Lokasinya di puncak gunung yang jaraknya 7 jam dari sekolah, bila naik kereta lalu naik bus ke pinggiran untuk sampai di tempat tujuannya. Cukup jauh, namun desas-desus tentang acara ini sudah menyebar. Yang kutahu dari beberapa gossip baru-baru ini, kami akan tidur di semacam pesantren. Terdapat lebih dari seratus kamar asrama di sana, jadi kami pasti cukup. Setiap asrama di lengkapi dengan dua ranjang dengan perlengkapannya, satu set TV, satu meja di samping kasur, meja untuk makan di kamar, telepon, dan satu kamar mandi. Mirip-mirip hotel, kata para gossip girl di sekolahku.

Aku masih tidak tahu apa saja kegiatan kami di sana. Berapa kalipun anak-anak mencoba bertanya pada wali kelas masing-masing, guru-guru akan tutup mulut dan menghindar. Terlebih lagi wali kelasku , setiap anak yang bertanya pada King Moron akan di teriaki habis-habisan karena beliau menganggap kami kurang sopan dengan bertanya tentang hal itu. Tapi, ada tiga hal yang kuketahui dari guru BK kami. Guru BK kami termasuk guru yang masih muda dan cukup lembek pada kami. Karena itulah ia tidak terlalu susah untuk di rayu, anak sekelasku membujuknya agar memberitahu informasi yang di ketahuinya pada kami. Dan yah, karena guru itu baik, ia memberitahu kami. Pertama, bahwa acara ini khusus untuk kami. Hanya anak angkatan kami yang boleh menginap di sana. Tidak boleh membawa adik, orang tua, kenalan, siapapun. Guru-guru di sini pun hanya akan mengantarkan kami, lalu setelah itu kami akan di titipkan pada pengawas di sana.

Kedua, kami harus mengurus diri sendiri. Bu guru bilang, di sana kami akan di beri banyak kebebasan. Namun apa bila kami kenapa-napa, pengawas di sana tidak akan bersedia mengurus kami. Itulah kenapa kami di harapkan bisa menjaga kesehatan. Hal ini di maksudkan sekolah agar kami berlatih mandiri, karena masa-masa dewasa sudah terlalu dekat bagi kami.

Ketiga, inilah yang hal yang wajib kami turuti; kami di larang keluar dari batasan kota itu. Kecuali apa bila kami tidak ingin ikut wisuda.

~OoOoO~

Pagi ini, halaman sekolah yang seharusnya kosong karena anak kelas sepuluh dan sebelas belajar, di jejali murid-murid kelas dua belas yang semuanya memakai baju bebas dan koper berisi banyak perlengkapan masing-masing. Suasana riuh terdengar oleh rasa antusias murid-murid yang ingin melepas perasaan tertekan mereka sehabis Ujian Nasional. Tidak terkecuali aku. Aku dan Chie sibuk mengobroli apa saja barang-barang yang kami bawa. Maklum ya, kami kan cewe.

Tidak lama, mataku menangkap siluet Souji di seberang lapangan sedang mengobrol santai dengan Yosuke dan Kou Ichijou. Seketika, aku menelan ludah dan merasa tanganku berkeringat. Sepertinya wajahku pucat karena Chie segera bertanya, "Kau baik-baik saja?" Sambil menatapku penasaran. Aku hanya setengah tersenyum dan menjawab, "Y-yeah, aku baik-baik saja.". Dadaku berdegup keras. Tidak lama dari sekarang, aku akan melakukan apa yang sudah ku rencanakan.

Aku akan mengatakan isi hatiku padanya.

~OoOoO~

Pukul 5 sore, keempat bus menurunkan anak Yasogami di depan gerbang tempat kami akan menginap. Kukira tempatnya tidak lebar-lebar, tapi aku salah, tempat ini hampir 3 hektar luasnya. Mungkin lebih menyerupai pondok pesantren dari pada tempat menginap, tapi ya, sudahlah. Sebut saja penginapan karena kesannya lebih elit.

Puluhan orang berusia sekitar awal 30-an menyambut kami dengan hangat. Kami berbondong-bondong masuk dan berkumpul di aula. Di aula, kami di jelaskan apa-apa saja yang harus kami pahami di sini. Aku hanya menangkap beberapa hal karena suara bising belum juga mereda akibat kenorakan angkatanku. Hanya inilah yang kudengar;

Masalah kamar, adalah bahwa setiap kunci kamar memiliki 3 duplikat. 2 di sembunyikan di beberapa pot-pot atau di bawah keset pada balkon depan masing-masing kamar. Dan satu lagi di pegang oleh para pengawas agar tidak hilang.

Lalu Aula, aula adalah tempat multifungsi. Makanan akan di sediakan di lantai 2 pada pukul 8-10 pagi, 1-3 sore, dan 6-7 malam. Bila kami ingin makan gratis, kami hanya perlu datang tepat waktu. Kami boleh memilih, antara pergi ke kota (sekalian jalan-jalan) dan makan di sana, atau tetap di wilayah sekitar asrama dan makan di aula dengan gratis sebanyak-banyaknya. Aula lantai satu di gunakan sebagai tempat kumpul, di lantai satu juga terdapat papan pengumuman yang harus kami lihat setiap pagi. Di sana, akan tertera segala macam pengumuman. Dan hari ini hanya ada jadwal acara kami yang di tempel, yang membuatku terkejut dan girang bukan main, bahwa kertas itu hanya bertuliskan;

Acara pada tanggal XX-XX bulan May tahun 2013 sekolah Yasogami:

B E B A S

Acara pada tanggal XX bulan May tahun 2013 sekolah Yasogami;

W I S U D A

Kemudian, ada juga aturan-aturan yang berlaku di tiap asrama. Bahwa kami tidak boleh ada yang merokok, mabuk, mengotori kamar dengan sengaja, mencuri, menyelinap kamar orang lain sebelum minta izin pada kamar orang yang menempati, tidur lebih dari pukul satu pagi, juga DILARANG KERAS untuk mendekati wilayah asrama lawan jenis kecuali keadaan mendesak. Selain itu, kami akan di pantau agar tidak melakukan hal yang DILARANG KERAS itu. Sebagian pengawas akan stand by di aula, yang juga berada di satu-satunya bukit luas pembatas wilayah asrama. Kami juga boleh ke kota, namun pada pukul 20.00 kami harus sudah kembali atau gerbang asrama akan di tutup.

Terdapat papan berisi denah penginapan-maksudku pesantren-di samping papan pengumuman. Tiap-tiap tulisan membuat mata kami makin melotot karena tidak percaya; tempat memancing, lapangan tenis, lapangan golf, sungai untuk berenang, padang rumput kosong samping lapangan golf, jalur joging, taman, dan rest area. Nampaknya, yang terakhir itu bukan rest room sembarangan. Buktinya, panjangnya saja hampir sepanjang lapangan tenis. Dan aku penasaran ingin ke sana.

Sisanya, para pengawas memberi tahu kami sebagian hal yang sudah kami ketahui seperti kami tidak akan di urusi bila kami sakit, kecuali kami sakit hingga hampir mati atau penyakitnya sudah terlalu akut. Dan juga bahwa kami hanya perlu naik bus sekali dan kami akan sampai di kota dekat sini. Katanya, kota itu tidak besar namun ramai dan fasilitasnya bagus. Banyak game center, cafe, dan mall seperti di kota besar.

Dan terakhir, kami belum boleh keluar hari ini karena hari sudah menjelang malam. Jadi setelah kami di bubarkan, anak-anak berlarian menuju kamar yang mereka kehendaki dan membereskan barang di kamar mereka. Aku dan Chie mendapat kamar nomor 11. Entah kenapa, aku teringat satu January, dan aku tertegun seketika.

Aku teringat, aku belum sempat mengucapkan selamat ulang tahun pada Souji.

~OoOoO~

Pukul 6.35

Aku dan Chie memutuskan untuk makan karena kami lapar setelah membereskan kamar. Tidak terasa kami menghabiskan satu setengah jam hanya untuk membereskan sebagian besar kamar kami (dan belum selesai). Kami dan anak perempuan lainnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mondar-mandir, saling menanyakan hal ini dan itu, mengobrol, atau mengecek kamar anak lain, walaupun kamar kami sendiri belum selesai. Jauh lebih menyenangkan dari pada yang kukira, karena kami semua gembira dan tidak ada sedikitpun rasa bermusuhan di sini. Juga tentu saja karena kadang, obrolan kami begitu melenceng hingga ujung-ujungnya kami justru bertukar maskara dan lip gloss.

Sekarang, aku dan Chie ikut dalam antrian untuk mengambil makan. Aula lantai 2 ini seperti cafetaria, kami mengambil nampan, memilih makanan, lalu mencari kursi. Suasana di hiasi obrolan hangat para murid. Ke mana pun kami memandang, tidak ada satupun guru dari Yasogami. Rupanya mereka benar-benar meninggalkan kami. Tapi ya sudah lah, aku tidak peduli. Aku benar-benar bersemangat untuk menjelajahi nasibku di tempat asing ini.

Sehabis makan, Chie ingin segera kembali ke kamar. Aku menyuruhnya duluan karena aku harus melakukan sesuatu. Saat Chie bertanya hal apa yang akan kulakukan, aku mengelak dan menyuruhnya segera kembali ke kamar.

Segera saja, begitu Chie sudah tidak terlihat, aku melesat ke bangku Souji dan kawan-kawannya. Karena kesibukan dan celoteh anak-anak yang membahana di aula itu, aku terpaksa harus menyentuh bahu Souji agar aku tidak perlu berteriak padanya. Begitu jemariku menyentuh bahu Souji, rasa hangat yang nyaman merayap ke dalam dadaku.

Souji beserta kawan-kawannya menoleh dan menatapku seakan aku baru hidup kembali dari kematian. Mereka terkejut luar biasa. Tapi hal itu sama sekali tidak menggangguku, aku mencondongkan diri dan berkata di daun telinga Souji, "Bisakah kita bicara sebentar?" Tanyaku. Souji kembali menatapku, kali ini dengan penasaran, lalu mengangguk setuju. Aku pun memintanya mengikutiku keluar aula.

~OoOoO~

Aku celingak-celinguk mencari tempat yang agak tersembunyi dari mata-mata yang mampu mengawasi kami. Aku tahu Souji yang di belakangku masih memandangiku, entah bagaimana, aku bisa merasakan tatapannya. Aku berusaha mengacuhkan perasaan gugup ini dan mencari-cari tempat aman untuk berbicara. Sebelum aku menemukan tempat yang lebih baik dari di balik pohon dua belas meter dari tempatku berada, Souji menarik lenganku.

Souji membawaku ke arah gerbang depan. Saat aku mengira ia akan membawaku keluar ke jalanan, Souji berbelok ke kiri dan masuk ke celah sempit di samping gerbang. Celah itu berukuran tidak lebih dari dua meter, dan hanya sesemakan setinggi tiga centi meter yang tampak sepanjang mataku melihat. Aku hanya mengikutinya tanpa banyak bicara. Setelah sekitar setengah menit kemudian, celah melebar dan jalan setapak terlihat. Aku mulai berandai-andai ke mana hendak Souji membawaku.

Dan segera saja, aku mendapati diriku berada di kebun yang indah setelah jalan setapak berujung.

Aroma bunga musim semi membuat indra penciumanku di butakan oleh ragam wangiannya, ke manapun mataku memandang aku akan menemukan warna warni bunga yang bergerombol dengan jenisnya sendiri, rerumputan tampak hidup dan bergoyang di terpa angin malam. Mataku membelalak melihat air terjun kecil di ujung kebun ini. Airnya turun perlahan dan hanya menimbulkan sedikit suara. Pantulan bulan yang baru separuh muncul di ufuk langit terpantul karena kejernihan air yang mengalir itu. Juga beberapa kelopak bunga mengambang perlahan di atasnya.

Nyaris saja aku melupakan tujuan awalku, aku segera mendekati Souji yang sedang duduk di sebelah aliran air terjun sebelum aku terbuai oleh keindahan alam dan membiarkan kesempatan emasku hari ini pergi berlalu. Souji duduk bersila dan memainkan air dengan tangannya. Aku duduk di sebelahnya tanpa suara. Souji tampak sedikit galau, aku tidak tahu kenapa. Lalu saat kukira aku dan Souji hanya akan diam hingga dunia berakhir, Souji menoleh padaku.

"Ada apa? Katanya mau bicara." Katanya dengan lembut. Aku terdiam dan rasa gugup kembali merayapi tubuhku. Kata-kata yang sudah kususun beberapa waktu lalu, hilang tanpa meninggalkan jejak di benakku. Walaupun aku gugup, aku sama sekali tidak merasa bingung harus bagaimana. Karena aku percaya, perasaanku saat ini padanya bukan sebuah kebohongan. Aku hanya tinggal mengungkapkannya saja.

"Yeah, maaf, tapi aku sedang ingin mengungkit-ungkit tentang kita." Kataku setenang mungkin tanpa menatap Souji. Aku merasakan bahu Souji sedikit mengejang di sampingku, tapi ia tidak bicara apa-apa. "Aku ingin tahu lagi, kenapa kau menjauhiku?" Lanjutku. Di sebelahku, Souji diam beberapa saat. Souji sama sepertiku, menatap air sambil menerawang. Setelah keheningan yang mencengkram akhirnya Souji menjawab, "Karena kamu tidak bisa menganggapku teman, bukan?". Aku mengangguk sambil mencelupkan jariku ke dalam air, "Ya. Tapi.. Jika sekarang.." Aku menelan ludah, "Aku sudah bisa menganggapmu sebagai teman, apakah akan ada yang berubah?" Tanyaku. Dadaku berdegup kencang menunggu jawabannya. Dari pantulan air, mata Souji bertemu dengan mataku. Tatapan Souji seakan menembus tempurung kepalaku dan mencoba mencari-cari sesuatu di dalam otakku.

"Ya. Akan ada yang berubah." Jawab Souji sambil masih menatapku.

Aku tidak mampu menahan senyum lega, "Jadi?". Lalu aku merasakan tubuh Souji mendekatiku. Jarak kami hanya beberapa jengkal, jadi aku spontan menatap ke dalam mata Souji secara langsung. Lalu aku tidak mampu berkata-kata setelah Souji menyunggingkan senyumnya yang manis padaku. "Kita berteman?" Tanya Souji tanpa menyembunyikan rasa suka citanya. Aku mencoba membalas senyumnya, tapi efek senyuman Souji membuatku pangling. Aku harus menarik nafas sebelum menjawab, "Ya. Berteman.". Lalu Souji tampak sumringah saat memalingkan wajahnya dari wajahku.

Aku bukannya mau terus menjerumuskanku ke dalam kubangan penuh tangisan dan kegelapan. Masa-masa itu sudah kulalui, dan sekarang aku ingin menemukan diriku yang menyukai Souji dalam arti lain. Aku ingin menjadi sahabatnya, seperti hubungan Chie dengannya. Sudah cukup segala kerusakan yang di akibatkan cinta pada hidupku dan mungkin sedikit dari hidup Souji yang ku ganggu. Setelah lima bulan aku nyaris tidak bicara dengan Souji, aku memikirkan segalanya. Aku ingin menjadi dewasa. Aku ingin pergi dari hidup sengsara. Aku ingin memperbaiki hidup ini demi masa depan yang lain. Aku akan maju dengan berusaha menghilangkan perasaan cinta ini, dan menggantinya dengan perasaan sayang. Tidak harus cinta agar menyayangi seseorang. Terutama jika ia sahabatmu.

Souji kembali menerawang jauh. Tapi kali ini ia memandangi kelopak bunga di aliran air yang tidak deras,"Aku tidak menyangka kau akan mengatakan hal ini padaku." Ujar Souji tanpa menatapku. Aku juga mengalihkan tatapanku sepertinya, "Ya, kurasa juga begitu.". Di sampingku, Souji menggeleng, "Maksudku.. Setelah segalanya.. Aku.. Aku hanya.." Kata-katanya menggantung di udara. Maupun aku atau Souji tidak berniat melanjutkannya. Jujur saja, aku heran kenapa Souji meminta maaf? Bukan dia yang salah. Aku saja yang terlalu manja padanya hingga jadi selemah ini. Agh! Berhenti mengungkit masa lalu! Aku kan mau maju!

Setelah kami terdiam cukup lama, aku kembali menoleh menatap Souji. Sedetik, pancaran di mata Souji membuatku terperangah. Mata kelabunya menyiratkan rasa malu dan penyesalan. Tapi secepat datangnya, sekejab kemudian ia tersenyum padaku. "Apakah kau masih mau di sini? Tidak kah kau lelah setelah berjam-jam duduk dan membenahi kamar?" Tanyanya perhatian. Aku pun mengangguk dan berdiri. Memang, aku lelah. Ingin saja aku tidur di kasur yang empuk dan menunggu hari esok datang.

Sebelum kami hendak kembali ke kamar masing-masing, Souji mencabut bunga sakura berwarna putih bersih berona pink untukku. Souji tersenyum dan berkata, "Tanda persahabatan baru.". Aku hanya bisa menerimanya dengan berterima kasih. Kami pun kembali ke kamar sambil mengobrol ringan. Hal yang cukup luar biasa, akan kenyataan bahwa kami bisa enjoy mengobrol seperti ini. Seakan kami tidak pernah berciuman, bercumbu, berpelukan, maupun berpacaran. Namun perasaan yang selalu kurasakan saat berpacaran dengan Souji tidak mau hilang. Perasaan bahwa dunia adalah milik kami berdua.


A/N; Hello!

Lama ya updatenya? Oke deh, saya minta maap tapi jangan lemparin sendal! *ga di lemparin sendal, tapi di lemparin pisau*

Kasihanilah Author cacad ini yang tengah mengalami penyakit maag. Maag adalah sebuah penyakit mengerikan. Bilamana penyakit itu sudah akut, rasanya sungguh menyiksa! Rawatlah lambungmu sebelum kau menyesallinya suatu hari nanti. (halah!) Yah, mohon doa dan restunya selalu. Agar saya bisa melanjutkan cerita ini, tanpa pernah merasa malas.

Baik, cukup basa-basi, terima kasih dan selamat malam (?).