One Piece © Eiichiro Oda
Two Schools, Two Worlds
Chapter VII
Goodbye Days
Part 4
Last Mission
Nami heran, kenapa tiap acara yang dihadiri kombo Luffy dan Kid selalu berakhir kacau... seperti sekarang.
Badan penuh luka berserakan di sana-sini, anak-anak PMR bekerja overtime padahal harusnya mereka menikmati liburan musim semi. Mereka yang masih bisa berdiri, saling memelototi dengan aura pembunuh memancar deras, membuat udara di ruangan terasa berat dan menekan. Saking beratnya udara di sana sepertinya Sanji bisa membuat makananberbahan dasar udara seperti di manga Toriko*...
"Ini 'King's Game' atau perang...?!" berulangkali kalimat itu terlontar dari mulut para penonton. Walaupun tahu bahwa ini salah (masa bertarung di pesta perpisahan?), mereka tidak kuasa menghentikannya. Entah karena takut terlibat baku hantam atau memang ingin menonton.
"Eustass dan ide gilanya..." Nami bergumam.
'King's Game', seperti yang diketahui pada umumnya, adalah permainan yang biasa kau mainkan saat berkumpul dengan teman-temanmu. Cara bermainnya mudah, ambil beberapa batang sumpit atau potongan kertas panjang. Berilah tanda di salah satu batang, lalu masukkan semuanya ke dalam gelas dan kocoklah. Tiap peserta mengambil sebuah, yang mendapat sumpit atau kertas dengan tanda menjadi 'sang raja'. Sesuai namanya, sang raja berhak memberi perintah apapun pada para peserta lain, tentunya dengan batasan yabg sudah ditentukan sebelumnya. Suatu permainan yang jelas akan menjadikan acara apapun jadi semarak.
Tapi... itu bukan permainan yang bisa dilakukan di tengah pesta yang dihadiri seratusan orang! Dan lagi, itu bukan masalah utamanya...
"Aiyaaa! Siapa penerus raja selanjutnya... yak, sudah dikirimkan!" Bon-chan selalu pemandu acara berteriak dengan penuh semangat dari atas panggung. Di tangan kanannya terdapat sebuah ponsel yang dia arahkan pada anak-anak di depan panggung, para peserta 'King's Game' yang babak belur.
Suasana sunyi sejenak... sampai bunyi dering HP bergema di ruangan.
"Uh! I-itu aku!" Ace berteriak senang, dia mengacungkan smartphone-nya di udara.
"Idiot, jangan berteriak seperti itu!" teriak Sabo yang berdiri di sampingnya, yang entah kenapa wajahnya penuh luka.
"Sial, lupa saking senangnya," Ace memasukkan ponselnya ke saku dan mengambil ancang-ancang. Bersamaan dengan melesatnya dia dengan start lari rendah, ada 2 cowok yang menerjangnya dengan tendangan tanpa bayangan. Tentunya itu tidak kena dan mereka bertabrakan dengan indah di udara. Ace menolehkan kepalanya dan menertawai mereka... tapi tidak bisa lama karena dia menyadari hawa keberadaan 3 orang di depannya dengan 'Kenbunshoku'-nya.
"Mati, rajaaaa!"
"Mundur kau Portgas!"
"Ace, sini kau!"
Benar apa yang terdeteksinya, dalam sekejap dia langsung dihadang 3 orang. Dua temannya dari kelas 3 dan satunya... Luffy, berani sekali dia. Ace berdecak, dia tidak menyangka mereka cepat sekali bergerak. "Minggir kalian, pemberontak busuk!" cowok dengan bintik di wajahnya itu memasukkan kedua tangan dalam sarung penyembur api kebanggaannya, 'Meramera'.
Bersamaan dengan mata ketiga penyerangnya yang melebar karena kaget, Ace memfokuskan panas ke tangan kanannya... membuatnya menyala dengan api merah.
"Makan ini! Bakuretsu Shining... Fingeerrrrrr*!"
Ace memukul udara di depannya, membuat ledakan api seperti senjata flamethrower. Prinsip kerja sarung tangan Ace adalah pemantik berbahan bakar gas yang dipicu oleh gerakan tangan memukul maju. Karena daya hancur dan bahayanya, dia hanya menggunakan ini saat benar-benar terdesak... seperti saat ini.
Dia tidak terdesak sih, hanya ingin memberi pelajaran pada mereka yang menentangnya.
BWUNG!
"Finger apanya!?"
"Salah anime oi!"
Dua teman Ace menghindarinya dengan panik, sementara Luffy menerjangnya langsung, gerakan yang sekilas terlihat bunuh diri. Tapi, semburan api dari serangan Ace itu tidak mencapainya, sepertinya si otak karet sudah hapal dengan jarak serangan kakaknya itu. Luffy lalu mengarahkan telapak tangan kirinya yang mengeluarkan asap berwarna pink ke depan wajah.
"'Jet'..."
Ace menyadarinya, itu adalah serangan meriam udara yang dihasilkan dengan pukulan berkecepatan tinggi, 'Jet Pistol'. Sialnya, dia masih sedikit kaku karena menggunakan serangan besar tadi... dia tak bisa menghindar. Dia menoleh kanan-kiri dengan panik dalam waktu sepersekian detik sebelum pukulan itu melayang, dan mendapat ide.
"Perisai Kristal!" Ace mencengkeram pundak Jozu yang berdiri diam di dekatnya itu, menariknya ke depan untuk menahan serangan Luffy. Jozu, salah satu pentolan kelompok Shirohige memang memiliki badan yang amat tangguh layaknya kristal berlian, bisa dibilang dia memiliki pertahanan paling keras di Seifu, sehingga serangan Luffy samasekali tidak berdampak apapun... tapi tetap saja, itu menyebalkan.
"Portgas, brengsek kau! Jangan libatkan aku!" Jozu berteriak marah.
Tapi Ace sudah menghilang dari dekatnya, dia berlari ke arah yang berbeda dengan Luffy.
"Makanya jangan berdiri di depan raja dan hal yang dikuasainya!" teriaknya.
"Ace, aku belum kalah!" Luffy segera melesat mengejar sang kakak.
Karena badan besar Jozu menghalanginya, Luffy harus ambil jalan memutar... sekian detik yang dihabiskan untuk itu membuat Ace bisa menjauh. Sekarang dia tinggal kira-kira 15 meter menuju panggung. Kalau dia sudah sampai panggung, dia akan aman!
Tapi tentu saja Luffy tidak akan menyerah semudah itu. Dia menekuk kedua lututnya, dan asap pink menyembur kencang dari seluruh tubuhnya. "'Gear Second'!"
Ace menyadari nafsu membunuh yang luar biasa dan menoleh... untuk melihat pukulan terbang di depan wajahnya. Secara reflek, dia memiringkan kepalanya sedikit dan berhasil menghindari serangan Jet Pistol itu... tapi itu hanya tipuan.
Jeda sepersekian detik saat Ace memiringkan kepala, digunakan Luffy untuk memompa kedua kakinya dan meloncat sejajar dengan lantai, menciptakan serangan...
"'Jet Rockeeeet'!"
Dengan kedua terulur, mirip gaya terbang Superman.
Ace mengumpat, "Si-"
Tapi saat kepala Luffy menyentuh perutnya, dia tersenyum.
"'Koka'."
KLANGGGG!
Bunyi logam berbenturan dengan logam terdengar nyaring, itu akibat kepala Luffy menabrak teknik 'Buso: Koka' dari Ace, teknik mengalirkan haki pada bagian tubuh, membuatnya jadi hitam dan sekeras logam.
Mereka berdua terpental, tapi Ace bangkit cepat meninggalkan adiknya yang terkapar. Terang saja, Luffy menabrak sesuatu yang sekeras logam dengan kecepatan seperti itu... tanpa melapisi kepalanya dengan 'Koka'. Mungkin efeknya seperti menabrak dinding besi.
"Uhh, sepertinya dia kena gegar otak?" komentar Ace sambil mengelus perutnya yang sudah kembali ke warna alami. Tampak sedikit memar di sana, Luffy memang tidak pernah mengurangi tenaga.
"DOKTEEEEEER!"
Anak-anak di sekitar mereka berteriak histeris, dan PMR yang dipimpin Law langsung menuju ke lokasi kejadian. Merasa menang, Ace dengan santainya ke panggung di mana Bon-chan sudah menunggunya.
"... sampai!" Ace merogoh saku dan menunjukkan e-mail yang masuk di ponselnya pada sang okama.
Bon-chan mengamati pesan elektrik itu dengan sebelah alis terangkat... lalu menyeringai lebar. "Yaaaay! Sang raja berhasil mempertahankan mandatnya!"
"Ooooh!"
Para penonton menyambutnya dengan meriah, sementara Ace melakukan pose kemenangan yang norak dengan mengangkat kedua tangan dan berteriak-teriak layaknya seorang pegulat profesional.
Inilah 'King's Game ala OSIS'.
Sang raja adalah ia yang menerima e-mail dari OSIS, yang mengirimnya secara acak menurut nomor telepon yang tertera di yearbook. Setelah menerima e-mail dengan judul 'Titah' itu, dia harus berlari menuju panggung untuk mengklaim 'kekuasaan'. Sederhana, bukan? Tapi bukan itu saja!
Permainan tanpa tantangan bukanlah permainan, kata Kid. Begitu juga dengan 'King's Game' ini.
Tantangannya adalah anak-anak lain yang bertindak sebagai 'pemberontak'. Mereka harus menggagalkan pelantikan raja baru, menghadang, merebut ponselnya, dan menghapus e-mail 'titah' tersebut. Jika para pemberontak berhasil, si calon raja tidak bisa mengklaim kekuasaannya, dan langsung tersingkir dari permainan, bahkan tidak bisa ikut jadi pemberontak. Sang raja baru bisa mengklaim kekuasaannya setelah menjejakkan diri di panggung.
Apa keuntungan bagi para 'pemberontak'? Perasaan puas tersendiri setelah menggagalkan temannya menang, buat mereka itu sudah cukup.
Wajah kecewa para calon raja yang gagal dan pertarungan sengit memperebutkan kekuasaan... sungguh sedap dipandang (menurut Kid). Sebuah ide yang amat jenius, menurut anak-anak OSIS selain Nami (yang ngacir sesaat setelah Kid mengajukan permainan).
Sekarang, permainan sudah berlangsung selama satu jam, dengan 6 calon raja yang terpilih. Tapi semua digagalkan para pemberontak yang dipimpin oleh Luffy dan Kid. Mereka memang memilih peran itu karena sedang ingin berantem.
Sabo adalah salah satu calon raja yang gagal mengklaim titahnya, terhadang kombo Luffy dan Sanji beserta anak-anak kelas 3 yang menyimpan dendam padanya. Setelah pertarungan sengit yang pada akhirnya menyingkirkan banyak anak dari permainan karena luka-luka, Sanji berhasil merebut ponsel Sabo dan menghapus e-mail titahnya. Sebuah kemenangan phyrric* bagi kubu pemberontak, karena Ace bisa meloloskan diri memanfaatkan formasi pasukan pemberontak yang kacau.
Dia sekarang senyum-senyum mengejek dari atas panggung, bangga atas keberhasilannya sebagai calon raja pertama yang sukses mempertahankan titahnya.
Meskipun dari 7 kandidat hanya 1 yang berhasil lolos, tapi permainan ini disambut antusias anak-anak yang datang ke pesta. Bagi mereka, pesta terasa hambar tanpa pertarungan antar pemabuk (dalam kasus ini, antar anak-anak yang kelebihan energi).
Ini menunjukkan bahwa sekali lagi, OSIS sukses memeriahkan acara. Tapi, Nami heran... apa anak-anak SMU Seifu memang sebrutal ini...
Kembali ke panggung, Bon-chan memberikan mic-nya kepada Ace, "Oke, apa perintah anda, baginda?"
"Ehem!" Ace berdeham keras-keras, penuh gaya. "Sebagai raja, aku memerintahkan...
Titah atau perintah raja bisa ditujukan kepada semua peserta game, termasuk calon raja yang telah tumbang, bahkan boleh menyebut nama calon korban. Tentunya perintah yang bisa diberikan dibatasi, sesuai kesadaran masing-masing.
"Cowok 17 tahun bernama Monkey D. Luffy. Kepala pasukan pemberontak yang nyaris mendapatkan kepalaku tadi... sebagai raja aku menghukummu!" Ace menuding Luffy yang kepalanya sedang diperban Chopper di bawah panggung, sepertinya dia benar-benar cedera. Tapi tak ada rasa iba sedikitpun di wajah Ace yang kini menyeringai sadis, "Lihat meja salad di sana? Hmm, ya, itu. Kelihatan segar dan enak sekali."
Mata Luffy melebar nyaris 2 kali ukuran normalnya, seolah wajahnya hanya terdiri dari mata. Secara insting dia bisa tahu apa yang akan diperintahkan Ace padanya... dan saat itu dia merasa sangat takut, melebihi rasa takutnya ke Garp sang kakek.
"Habiskan semua isinya," Ace menggoreskan jempol di lehernya, seolah memerintahkan hukuman mati adiknya.
"AAAAHHHHHH!"
Hanya itu yang bisa didengar setelah anak-anak berbadan besar menyeret Luffy untuk dieksekusi.
Anak-anak seisi aula meneteskan keringat dingin. Itu... perintah yang benar-benar kejam buat sang ketua OSIS yang karnivora itu. Mereka pun berdoa dalam hati, semoga arwah Luffy diterima di sisiNya...
"Oke. Entah kenapa ini meninggalkan perasaan nggak enak di hati eike," Bon-chan mengambil mic yang dikembalikan Ace padanya. "Beristirahatlah dengan tenang, Mugi-chan. Huks."
"Aku belum mati- APA ITU?! KACANG POLONG?! TIDAAAAAAK!"
"Jujur... aku nggak menyangka hasilnya akan sebrutal ini," gumam Ace sembari dia melangkah turun dari panggung. Teriakan penuh penderitaan Luffy menohok hatinya sebagai seorang kakak... tapi rasa puasnya mengalahkan kelembutan hati. Di sisi lain aula, Sabo mengacungkan jempolnya pada Ace, puas dendamnya terbalas.
...
"Dilarang berpacaran selama masih menjadi anggota SH."
Peraturan yang sangat jelas dan... kejam.
Nami tidak menyetujuinya. Itu... peraturan itu sangat mengekang! Bukankah masa SMU itu harusnya diisi dengan masa-masa indah penuh romantisme?
Atau... itu hanya delusi seorang gadis muda?
Gadis berambut oranye itu menghela napas panjang. Dia bersandar pada tembok, sendirian di suatu sisi aula dengan segelas sampanye non-alkohol di tangan kanannya. Sebagai OSIS dia lepas tangan dari permainan gila Kid ini, tak mau terlibat acara bodoh itu... meskipun dia mengakui, melihat kerusuhan di depannya membuat pikirannya sedikit teralihkan dari sejarah gelap SH yang baru dia ketahui sejam lalu.
Setelah Tashigi pulang dan Zoro dihajar Sanji dan mantan anggota Newbee, semua anak SH berpencar. Jangankan para cewek, Nami bahkan tidak bisa bertemu dengan Sanji yang biasanya akan selalu mencoba nempel dengannya. Dia memang bisa bertemu Luffy waktu diskusi singkat OSIS untuk menentukan permainan, tapi cowok itu entah kenapa berusaha menghindari bahasan itu dan memilih ngacir bersama Kid dan yang lain.
Tingkah Luffy itu sangat aneh bagi seorang yang biasanya cuek soal romansa.
Nami berpikir lagi, "Jangan-jangan... Luffy sendiri merasa keberatan dengan aturan ini?"
Tapi, keberatan kenapa? Apa... di balik sikapnya yang seperti itu, sebenarnya dia tengah menyukai seseorang dan berharap bs berpacaran dengannnya?
Nami mendengus memikirkan itu. Luffy, berpacaran? Apa lagi nanti, Sanji jadi phobia wanita?
Dia menggelengkan kepalanya keras-keras, sadar kalau pemikirannya mulai ngaco. Kemudian dia menenggak minumannya dan mengutarakan alasan dalam hati kalau itu terjadi karena dia mulai mabuk... walaupun sampanye itu non-alkoholik.
Tepuk tangan yang membahana menyadarkan Nami dari lamunannya, sepertinya eksekusi Luffy sudah berakhir. Dia melayangkan pandangannya ke meja salad, lokasi pembunuhan, untuk melihat Luffy dengan wajah hijau yang pastinya bukan bekas sayuran, tengah digotong anak-anak PMR yang dipimpin Chopper. Itu sepertinya serius, oi?
Ace dan Sabo, di balik tawa senang mereka, tampaknya mengkhawatirkan Luffy. Mereka menghampiri sang adik... dengan kamera ponsel menyala.
"Kenapa dia, dok?" tanya Sabo, basa-basi.
"Keracunan makanan," jawab Chopper. "Dan jangan dikira karena memanggilku 'dok', senpai bisa memotret orang yang lagi sekarat!"
Anak itu menari-nari dengan anggota badan yang seperti mi, lalu menambahkan, "Jangan banyak-banyak fotonya, ok?"
"Keracunan makanan setelah makan salad... apa lambungmu nggak bisa mencerna selulosa*?!" Ace menepuk dahinya, tidak percaya ada kasus sekonyol ini.
"Heh, gitu kau penasaran kenapa adik kita ini nggak suka sayur," komentar Sabo, tangannya dengan cekatan mengambil foto dari berbagai sudut. Sudah begitu, pakai blitz lagi!
"... b-bunuh, bunuh aku sekarang..." tangan Luffy yang gemetaran menjamah baju Ace, wajahnya tampak amat menderita. Dengan cairan hijau (sayuran) mengaliri pipinya, dia memang tampak seperti korban perang biologis.
"Bah, nggak usah sok dramatis. Kau akan baik-baik saja," Ace menampik tangan sang adik.
"Benar, Luffy! Sedikit suntikan enzim pencerna selulosa dan meat shake akan menyembuhkanmu, jangan khawatir!" kata Chopper.
"... meat shake?"
"Milk shake dengan campuran bacon."
"Apa hal seperti itu legal?!"
Melihat pembicaraan itu, Nami bingung apa dia harus khawatir atau menepuk dahinya keras-keras.
Sekilas kondisinya tampak amat serius, tapi anak-anak itu menghadapinya dengan santai dan bercanda. Tapi, benar juga, ini SMU Seifu. Setiap kondisi serius di sana bisa dijadikan... comically serious.
Trilililit!
Tiba-tiba ponselnya berdering singkat, menandakan ada e-mail masuk. Nami membukanya dengan setengah sadar, dan melihat pesan berjudul 'Titah' dari akun OSIS SMU Seifu.
"'Titah'? Oke, siapa lagi ini yang usil...?" kata Nami, kesal.
Mendengar itu, anak-anak di sekitar langsung menatapnya dengan tajam. Nami yang merasa risih, secara reflek melindungi dirinya, ponselnya dia buat tersembunyi di balik kedua telapak tangannya.
"Oiiii! Raja... eh, ratunya di sini!" teriak seorang misterius, walaupun dari suaranya Nami tahu kalau pelakunya adalah Kid.
Gadis itu hanya bisa memiringkan kepalanya, bingung... tapi kemudian dia mendengar derap langkah kaki orang-orang yang marah... sebuah pasukan.
Dia tetap tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi satu hal yang jelas: dia ada dalam bahaya! Karena bingung dan ketakutan, dia berdiri mematung di tempat.
Tak lama, pasukan itu menyeruak, menyingkirkan anak-anak di sekitar Nami. Dengan kondisi babak belur dan wajah-wajah penuh amarah, mereka tampak sangat menyeramkan. Dan yang berdiri paling depan... adalah Sanji.
"N-Nami-swan...?" sebelah mata Sanji melebar.
Sedikit lega karena ada orang yang dikenalnya, Nami bertanya dengan nada khawatir, "... ada apa ini, Sanji-kun?"
Seorang anak kelas 3 maju dan menuding Nami. "Jenderal! Musuh kali ini seorang cewek, apa yang harus-"
BRAKK!
Anak itu terpental, menabrak 3 meja yang kosong, dan pingsan seketika. Anak-anak lain yang mengikuti Sanji menatap sang ketua dengan pandangan tidak percaya.
"Aku... akan melindungi sang ratu, sampai titik darah penghabisan!" Sanji berikrar dengan wajah amat serius.
"APA?!"
"Jendral pasukan pemberontak... membelot?!"
Nami hanya bisa melongo mendengar percakapan sok dramatis itu. Apa-apaan...? Pemberontak yang membelot? Bukankah itu sebuah paradoks?
"Pengkhianat tak bisa dimaafkan! Serbuuuu!" seorang anak kelas 3 mengambil alih komando.
"Maju kalian semua!" Sanji meloncat ke depan Nami, dan menolehinya, "Nami-swan! Larilah, aku akan melindungimu!"
"Apa-apaan ini, Sanji-kun?" Nami kembali bertanya.
"Uh, aku jawab sambil lari. Ikuti aku!" tanpa ragu, Sanji meraih tangan Nami dan menggenggamnya dengan lembut, lalu mulai berlari sambil kedua kakinya menghajar musuh di sana-sini.
Nami tidak tahu kenapa dia tidak berusaha melepaskan diri dari Sanji, padahal dalam hati dia masih kesal karena cowok itu merahasiakan soal sejarah SH dan juga kepergian Robin darinya...
Jarak Nami dari panggung sekitar 50 meter, dan mereka dihadang banyak sekali pemberontak. Termasuk di antaranya adalah Kid, Hawkins, dan Urouge, trio Supernova. Kemunculan mereka bertiga membuat gentar para pemberontak lain yang segera memberi jalan.
Sanji pun menghentikan gerakannya, dan bergumam dengan ekspresi kesal. "Akhirnya kalian muncul..."
"Yoi. Seperti biasa, aku ingin membuat permainan makin seru," Kid memasang sarung tangan magnetiknya, 'Magnezone'.
"Jangan tanya aku, aku hanya ikut-ikutan," kata Urouge.
"Ramalan bintang pagi tadi bilang bahwa aku akan bertarung dalam pertempuran yang ditakdirkan hari ini," kata Hawkins dengan wajah serius.
"Ooooh?! Kelompok pemberontak baru muncul dari abu kepemimpinan ketua sebelumnya, Sanji-kyun!" Bon-chan meraung penuh semangat di mic-nya.
"Sudah saatnya aku mengambil alih obor revolusi darimu yang terlalu lembek!" teriak Kid.
Anak-anak bersorak. Ya, bisa melihat pertarungan seru seperti ini cocok untuk menutup pesta!
"Hati-hati Sanji, mereka musuh yang kuat!" teriak Luffy dengan suara parau. Di mulutnya ada sebatang sedotan yang terhubung dengan minuman berwarna pink.
Tanda tanya muncul di atas kepala Nami, dia yakin saking besarnya itu bukan lagi tanda tanya imajiner. Dia menarik-narik lengan kaus Sanji, dan bertanya, "Jelaskan apa yang terjadi, sekarang."
"Sebentar Nami-swan, dalam situasi sekarang aku nggak bisa ngobrol. Butuh bantuan..." Sanji toleh kanan-kiri, dan melihat sosok teman-temannya di sisi lain aula. "Usopp, Franky, marimo! Ratu membutuhkan perlindungan kalian!"
Entah karena bosan atau apa, ketiga orang yang dia panggil itu segera beranjak dari posisi masing-masing. Bahkan Zoro yang biasanya malas berurusan dengan Sanji dan hal-hal seperti ini (apalagi badannya juga sudah luka-luka karena dihajar tadi).
Oooooh! Sorakan anak-anak semakin menggila. Dapat melihat pertempuran para petarung elit Seifu?! Ini hadiah perpisahan yang sangat bagus!
"Oke, yang menghalangi Ratu Nami, bersiaplah bermalam di rumah sakit," kata Franky.
"Aku ikutan saja," kata Zoro, malas.
"Jangan dekat-dekat, kali ini aku serius," kata Usopp, ketapel 'Kuro Kabuto'-nya mengancam. Dia tampak penuh percaya diri... walaupun kakinya gemetaran.
Keempat org itu melindungi Nami, dengan Sanji berada paling belakang menggandengnya.
"Oke, kalau begitu kita mulai saja... sayang nggak ada Monkey di sini, padahal aku paling dendam padanya," Kid mengarahkan telapak tangannya ke arah Zoro, membuat katana 'Shuusui' miliknya bergetar karena tertarik magnet. "Roronoa, kau pakai pedang 'kan? Sayang sekali, akulah kelemahan terbesarmu."
"Oh?" Zoro menyeringai. "Aku cukup jago dengan tangan kosong kok."
Wush!
Wujudnya menghilang... ini teknik 'Iai'! Kid mengumpat dan menyilangkan kedua tangannya di depan badan untuk menangkis.
"Guh!"
Wujud Zoro muncul lagi, sambil menyarungkan Shusui kembali dengan kerennya.
"Tetap saja, aku lebih suka menggunakan katana, terimakasih."
Kid merasakan nyeri di kedua tangannya yang ditebas Zoro. Tidak ada darah yang bercucuran dari sana... sepertinya si marimo itu menggunakan punggung pedangnya. Kid menyeringai, "Kita lihat apa kau bisa menjaga harga dirimu sebagai seorang pengguna pedang, melawanku yang magnet."
"Nggak usah sok keren, Eustass!"
Zoro terlambat menyadarinya, dan tiba-tiba saja bagian kanan badannya terkena hantaman berat. Dia pun terpental menabrak beberapa meja.
"Urouge, kau juga jangan sok keren," kata Kid.
"Hahaha! Ini adl pertarungan terakhirku sebagai anak SMU Seifu, jadi biarkan aku dapat spotlight!"
"Spotlight... seperti ini?"
Tiba-tiba muncul cahaya amat terang di depan wajah biksu itu, dan dia menutupi matanya dengan kedua lengan besarnya. Sayang, itu tidak berlaku pada...
"LASEEEERRRRR?!"
Seisi aula berteriak histeris (terutama para cowok + Bonney) melihat serangan itu. Ya, mau dijelaskan seperti apapun... itu adalah tembakan laser.
"Uh, sebenarnya ini memang serangan spotlight," gumam Franky si pelaku serangan. Kedua tangannya memegang sebuah lampu panggung besar yang ditempeli berbagai mesin di belakangnya. Konsepnya sederhana sih, memperkuat sinar lampu itu sehingga menghasilkan panas luar biasa secara radiasi. Tetap saja, hasilnya terlihat seperti pancaran laser besar, menyenangkan para penggila acara sci-fi dan anime mecha. "Jadi, aku beri nama ini... um... 'Spotlight Laser'! Ya! Itu terdengar... super keren!"
"Jangan beri nama jurusmu di tempat!" teriak Urouge kesal, matanya melotot keluar.
"Urouge, pemberian nama itu meningkatkan kesempatan menangnya sebanyak 7%," kata Hawkins, dengan beberapa kartu tarot melayang-layang di depan wajahnya.
"Itu hitungan dari mana...?" pikir para penonton.
"Kalau aku, berapa kemungkinan menangnya?!"
BAMMM!
Bersamaan dengan itu, meledaklah daerah di sekitar kepala si senior berambut panjang. Saat kepulan asapnya mereda, tampak kartu-kartu tarotnya terbakar habis.
"Hahaha! T-tanpa kartu itu kau tidak akan bisa membaca masa depan!" Usopp menuding sang senior dengan penuh percaya diri, walaupun keringat dinginnya mulai mengucur deras. Ketapel 'Kuro Kabuto' masih mengeluarkan asap setelah tembakan teknik 'Kayaku Boshi'.
Hawkins menghentikan semua gerakannya, dan saat itu firasat buruk menyerang Kid serta anggota Supernova lainnya.
"K-kau, apa yang kau lakukan?!" teriak Bonney dari sisi lain ruangan. Kid dan Urouge, teman satu tim Hawkins hanya bisa melongo... dan perlahan melangkah mundur?
"'Gouma no Sou'..."
Hawkins bergetar hebat... dan dari sekujur badannya muncul semacam jerami yang menyelimuti kulitnya. Perlahan sosoknya berubah jadi... boneka jerami raksasa.
"K-KYAAAAAAHHHH!" Usopp dan anak-anak dengan jantung lemah teriak berjamaah.
"Kau membakar tarotku... padahal itu favoritku dari 2 minggu lalu!" Hawkins menggeram, suaranya terdengar terdistorsi. Dia melangkah perlahan menuju Usopp, langkah-langkahnya berat dan penuh amarah.
"Usopp, selamat berjuang," kata Zoro dan Franky kompak. Mereka tidak tahu Hawkins itu berubah wujud jadi apa (dan dengan cara apa), jadi mereka tidak mau ikut campur. Musuh di depan mereka sudah cukup merepotkan...
"KIIIH! Kalian jahat amat?!" teriak Usopp dengan mata melotot dan gigi setajam gergaji.
Bulu kuduknya merinding, dan dia meloncat ke belakang berdasarkan nalurinya menghindari bahaya. Berkat itu, dia selamat dari serangan kuku-kuku Hawkins yang kini bentuknya lebih mirip paku hitam itu.
"Kyah!"
"Diam dan biarkan aku membalas dendam kartuku!"
"Bagaimana kalau aku lari saja dan kau diam di sini?" Usopp menawar.
"Kartu adalah temaaaaannnnnn! Percayalah pada kartuuuu!"
"Itu quote dari 2 seri berbeda*... kyaaaa!"
BLARRRR!
Kid dan Urouge meneteskan keringat dingin melihat rangkaian kejadian itu. Kemudian mereka mengembalikan perhatian ke Zoro dan Franky yang juga masih melongo.
"... oke. Bisa kita lanjutkan?"
"Tunggu dulu... serius, aku khawatir sama Usopp," kata Franky, jempol besarnya menunjuk Usopp yang berusaha menghindari serangan Hawkins mati-matian.
"Eh, dia akan baik-baik saja," Zoro menyeringai. Dia sudah paham betul cara bertarung Usopp, dan percaya kalau dia bisa bertahan.
"Kalau begitu kalian juga, siapkan PMR," Kid menggeretakkan tangan di balik 'Magnezone'-nya.
BLARRR!
Pertarungan kembali pecah di sisi Kid dan Urouge vs Zoro dan Franky.
"Tahan mereka dengan benar!" Sanji berteriak. Geraman kedua anak buahnya mengkonfirmasi perintah itu, dan dia menoleh ke Nami. "Oke Nami-swan, sekarang..."
Kedua tangan Nami mendarat di pipinya, sekilas dia ingin mengajak berciuman... tapi bahkan otak mesum Sanji berpikir kalau itu takkan terjadi sekarang. Dia melihat bahwa gadis itu... sekarang sedang sangat marah. Wajahnya memerah dan guratan otot menyembul di dahinya.
"Jelaskan. Apa. Yang. Terjadi. Sekarang," Nami memberi penekanan di tiap katanya.
Sanji menelan ludah. Nami yang marah tanpa bertindak kasar lebih menyeramkan. Tangannya pun melonggarkan kerah kemejanya yang terasa sesak.
"Oke, tapi lepaskan aku dulu. Posisi ini... nggak nyaman buatku," kata Sanji.
Nami menyadari posisinya yang seolah akan mencium cowok itu, dan buru-buru melepaskan tangannya seolah menyentuh panci panas. Dia pun berbalik dengan wajah memerah, yang kali ini bukan dari kemarahan.
"Imutnya..." pikir Sanji. Dia berdehem, dan berkata, "Ini... adalah 'King's Game', Nami-san."
"Huh?" Nami menoleh ke arah Sanji.
"Ya, 'King's Game ala OSIS'. Apa kamu nggak tahu?"
Sanji menjelaskan semua aturan King's Game ini dan kenapa Nami terpilih jadi pemenang... sementara Nami hanya bisa mengangguk dan menyumpahi si pencetus ide gila ini.
Selama penjelasan itu, Nami melihat Sanji bertingkah seperti biasanya. Santai dan sedikit genit, tidak terlihat seseorang yang salah satu rahasia terburuknya, soal dia yang berpacaran dan mengganggu keharmonisan SH, barusan dibeberkan. Bukan dia saja, tapi semua anggota cowok SH bertingkah sepertinya, seolah tidak ada masalah.
Nami tahu bahwa cowok kurang peka soal perasaan, tapi tetap saja...!
"... jadi, begitu. Kalau kami bisa melindungimu sampai panggung, kamu akan jadi ratu, Nami-swan!" Sanji mengakhiri penjelasannya, tanpa menyadari bahwa Nami sudah tidak mendengarkannya sejak dia menjelaskan aturan awal.
Perkataan itu menyadarkan Nami dari lamunannya. Dia memandang Sanji... dan mengerutkan dahinya. "Hei, Sanji-kun..."
"Hm? Kenapa? Ayo, kita segera ke panggung sebelum rambut tulip sial itu membawa bala bantuan-"
Alis Nami berkerut. Sampai kapan cowok pirang itu mau mengabaikan situasi?
"... kenapa kamu bisa bertingkah sesantai itu, setelah semua yang terjadi tadi? Tentang aturan rahasia SH dan masa-masa terburuk kita sebagai kelompok?"
Sanji berhenti bergerak dan menghela napas panjang, lalu terkikik.
Alis Nami semakin menukik tajam. Apa Sanji pikir ini pertanyaan bercanda?
Mengetahui mood Nami yang semakin memburuk, Sanji berhenti tertawa dan menatapnya dengan serius. "Itu sudah nggak penting lagi, Nami-"
Enteng sekali menjawabnya! Nami benar-benar marah sekarang, dia menghentakkan kakinya.
"Mungkin buatmu tidak penting!" dia berkata dengan nada tinggi, untungnya anak-anak lain tidak memandanginya karena lebih asyik melihat pertarungan Supernova melawan SH. "Apa kalian tidak lihat apa efek kejadian tadi kepada perasaan kami?"
Biasanya mendengar kata perasaan, apalagi perasaan cewek, Sanji akan bereaksi dengan keras... tapi kali ini reaksinya dingin saja? Melihat itu, Nami melanjutkan omelannya.
"Mengabaikan aku dan Margaret-san sejenak, kalian membongkar ini di saat-saat terakhir sebelum Robin meninggalkan kita! Apa kalian sadar, kalau karena ini, Robin-neesan akan meninggalkan SH dengan perasaan tidak enak?!" nada bicara Nami semakin tinggi. "Belum lagi konflik soal dia yang merahasiakan kepergiannya dari kota Raftel yang tidak kalian beritahukan padaku dan Margaret-san!"
Kalau Sanji memandang Nami dengan sikapnya yang biasa, maka ia akan menyadari cahaya dari lampu gantung elegan di ruangan itu memantul pada ujung mata Nami, yang mulai berurai air mata.
"Di saat-saat terakhirnya malah ada konflik seperti ini..." Nami berhenti sejenak untuk mengambil nafas, tapi yang keluar malah sesenggukan. "Aku... tidak suka ini samasekali... kita harusnya berpisah dengan senyuman sesuai katamu ke Luffy!"
Nami mengangkat wajahnya, dan kali ini jelas pipinya basah. Alis spiral Sanji berkedut, sepertinya dia merasa iba... tapi tidak ingin menunjukkannya. Ada yang lebih penting dari itu... tapi akhirnya dia tidak tahan. Sanji mengambil sapu tangan dari saku kemejanya dan memberikannya ke Nami. Gadis itu segera menggunakannya untuk menyeka air mata.
"... ini tidak terjadi dalam kontrol kami," Sanji menjawab singkat kemudian, dengan nada suara amat serius. Nami terdiam di balik sapu tangan. "Kamu ingat, Nami-san... semua ini terjadi setelah Tashigi-chan menyatakan perasaannya pada Zoro."
Dia memanggil nama musuh bebuyutannya dengan nama aslinya, pertanda sedang amat serius.
"Tapi, ini bukan salah siapapun. Ini terjadi begitu saja tanpa ada yang bisa memprediksi, tiba-tiba saja konflik menyebar," Sanji menoleh ke arah pertarungan dan melihat pedang Zoro akhirnya tertarik magnet Kid, meninggalkannya dengan tangan kosong. Dia menyeringai, ini akan menarik... tapi dia tidak ada waktu untuk menonton. "Aku ingin tanya Nami-san. Apa yang membuatmu lebih kesal dari 2 masalah ini...? Rahasia kelompok atau rahasia Robin?"
Nami tidak bisa menjawab, karena kedua masalah ini sama-sama mengesalkan. Dia terus menyembunyikan wajahnya di saputangan milik Sanji yang beraroma seperti cowok itu. Menenangkan dan menyejukkan...
"Apapun itu, kita tidak bisa menghindari konflik. Seperti kasusmu dengan Arlong beberapa tahun lalu, nggak ada yang menyangka. Baru sehari kita bertemu dan ngobrol santai, tiba-tiba kamu kena kasus separah itu," Sanji melayangkan pandangannya kembali pada Nami yang mengangkat wajahnya, dengan pipi masih basah. Dia merujuk pada kasus Nami yang nyaris memecahbelah SH di tahun keduanya.
Arlong adalah pemilik apartemen yang ditinggali Nami dan keluarganya. Sebagai pemilik, dia menarik tagihan yang sangat tinggi dan dengan bunga yang mencekik. Walaupun begitu, biasanya Bell-mere bisa mengatasinya dengan bekerja lebih keras. Suatu hari, tanpa sengaja Nami merusak bagian dalam apartemen setelah bertengkar dengan ibunya. Arlong pun meminta mereka mengganti uang... hal ini membuat Bell-mere bekerja semakin keras sampai jatuh sakit dan diopname cukup lama di RS.
Selama itu, tidak ada yang membayar uang sewa dan bunga yang semakin menumpuk... di tengah keputusasaannya, Nami meninggalkan sekolah untuk bekerja membantu Nojiko. Tanpa mengabari anak-anak SH yang khawatir bukan main padanya, tanpa mengabari sekolah. Dia bahkan menitipkan pesan pada Usopp untuk menyatakan bahwa dia keluar dari SH karena sudah tidak ada waktu untuk bertemu dengan mereka. Masalah bertambah parah saat sekolah mengancam akan mengeluarkan Nami setelah absen tanpa izin sangat lama...
SH sangat kacau saat itu, tiap anggota saat itu (Luffy, Zoro, Usopp, Chopper, Franky, Brook) berusaha menolong Nami sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Tapi Sanji tidak. Dia seolah lari dari masalah kelompok dengan mendapat pacar dan melupakan semua tentang SH...
Untungnya, sifat sembrono Luffy kali ini jd penolong. Berkat info dari Usopp dan Brook yang mempertaruhkan nyawa mereka, dia tahu kalau Arlong dan kelompoknya ternyata adalah yakuza yang meresahkan dan bekerjasama dengan polisi lokal sehingga bisa beroperasi dengan aman. Dia pun menyerbu markas Arlong bersama anggota lain setelah usaha keras mempersatukan SH yang terpecah kembali. Arlong ditangkap kepolisian Raftel dan Nami pun dibebaskan.
Sanji ingat benar, salah satu alasan kenapa SH bisa kacau saat itu karena dia yang biasanya jadi ahli taktik melarikan diri... yang akhirnya menciptakan peraturan seperti itu.
"Tentu saja aku nggak senang dengan kondisi seperti ini Nami-san, tidak ada yang menyukai konflik antar teman, bukan? Anak-anak... bahkan Luffy si idiot yang nggak pernah berpikir pun, pasti dalam hati berpikir cara mengatasi konflik kali ini. Kami ingin minta maaf pada kalian dengan cara menyelesaikan konflik," Sanji mulai tersenyum. "Karena itulah, kami diam-diam mengatur permainan ini."
"... hah?" Nami membelalakkan matanya.
"Kamu tahu kenapa Luffy yang harusnya mengurusi masalah kelompoknya setuju melakukan ini? Itu karena menurutnya ini bisa menyelesaikan masalah. Heh, anak itu ternyata bisa punya ide brilian juga."
Nami memiringkan kepalanya. Apa maksudnya?
"Secara nggak sadar, kepala karet itu memanipulasi Kid untuk melakukan ini. Lalu, Franky mengatur e-mail terakhir di permainan agar menuju ke kamu," Sanji terus menjelaskan tanpa menyadari kebingungan Nami. "Jika kamu berhasil mencapai panggung maka kamu bisa memerintahkan apapun kepada siapapun."
Mata Sanji berkilat-kilat penuh percaya diri, sepertinya dia ada rencana yang mumpuni.
"Selesaikan semuanya dengan perintahmu, Nami-san."
-xXxXx-
Nami melangkah ke atas panggung dengan mantap, sementara Sanji mengacau pertarungan Kid dan Zoro, merebut katana si marimo dari magnet dan mengembalikannya. Posisi 2 lawan 1 itu segera berubah saat Law muncul diseret Kid untuk membantu. Sang ketua PMR itupun segera beradu pedang dengan Zoro, sedang Sanji berhadapan dengan Kid. Pertarungan kembali memanas saat mic dari Bon-chan berdengung, pertanda raja terbaru telah dipilih.
Anak-anak pun memfokuskan perhatian mereka ke panggung, segala pertarungan dihentikan. Usopp ambil kesempatan ini untuk bersembunyi di bawah meja prasmanan terdekat menghindari amukan Hawkins.
Merasa anak-anak sudah memperhatikannya, Bon-chan bertanya, "Apa keinginanmu, wahai yang mulia ratu?"
Nami tersenyum dengan penuh percaya diri di atas panggung, seolah pertengkaran kecilnya dengan Sanji tadi tidak pernah terjadi. Dia memandang Sanji dan mengedipkan matanya, membuat cowok itu klepek-klepek. Kemudian dia mengambil mic dari Bon-chan dan menghela napas panjang...
"R-Roronoa Zoro..." Nami menunjuk Zoro.
Cowok berambut hijau itu menuding dirinya sendiri, protes, "Oi, aku punya salah apa padamu, Nami?!"
"... dan Nico Robin."
Zoro langsung menghentikan protesnya. Sementara Robin, yang sejak tadi diam saja di salah satu sudut ruangan mengangkat kepalanya. Matanya terbelalak saat dia menyadari apa maksud Nami.
"Belikan aku 1 krat 'Carlsberg'. Kalian tahu, bekas sponsor Liverpool."
Seisi aula terdiam, mereka memikirkan apa maksud dari perintah itu.
Sekilas sederhana. 'Carlsberg'... adalah minuman bir yang cukup langka di kota Raftel ini, hanya bisa ditemukan di hypermarket yang berjarak kira-kira 1 jam pergi-pulang dengan berjalan kaki dari Hotel Poseidon. Masalahnya, minuman beralkohol tidak bisa dijual pada anak di bawah 20 tahun menurut hukum Jepang. Karena yang disuruh adl anak SMU, mereka harus melakukan trik agar bisa membelinya...
Tapi bukan itu saja masalahnya. Waktu sejam lebih dan korbannya 2 orang yang jelas-jelas tengah berselisih... apa yang akan terjadi selama itu?! Paling tidak, mereka harus mendiskusikan cara membeli Carlsberg melewati batasan usia mereka!
Anak-anak bergidik membayangkannya, perintah yang mengerikan.
Nami melayangkan pikirannya pada perbicaraannya dengan Sanji sebelum dia sampai di panggung.
"... setelah dipikir-pikir, ini salah si marimo," Sanji bergumam. "Kalau saja dia tidak disukai Tashigi-san yang nekat menyatakan perasaannya, konflik ini nggak akan terjadi!"
Nami hampir terjungkal karena cowok itu akhirnya menyalahkan. Harusnya dia bisa menduga ini sih... karena subyek kali ini adalah Zoro, musuh bebuyutan si pirang.
"Karena ini salahnya, dialah yang harus menyelesaikan semua ini. Sebenarnya, kalau boleh jujur, aku akan memilih Luffy karena entah kenapa dia selalu bisa mendamaikan konflik internal grup dengan omongan ngaconya... tapi kali ini, masalahnya terlalu sensitif untuk otak karetnya." Sanji mengelus jenggotnya. "Oke, Nami-san, ini strateginya. 'Buat marimo dan Robin-chan berbicara 4 mata untuk menyelesaikan semua masalah'."
Sanji menyelesaikan itu dengan mengacungkan jempol, dan menyeringai pede, sampai menimbulkan kilapan cahaya layaknya iklan pasta gigi.
"Pada akhirnya kamu melepas tanggungjawab ke orang lain!" komentar Nami, gemas.
"Hey, seorang ahli strategi biasanya tidak bisa mengeksekusi strateginya sendiri 'kan?" jawab Sanji. Dia terlihat sangat keren... kalau saja dia mau beraksi sendiri.
Nami tertawa kecil mengingat pembicaraan tadi. Itu... benar-benar Sanji.
"Okeeeh, jij sekalian sdh dengar perintah sang ratu? Baiiiik, laksanakaaan!" kata Bon-chan.
Terdengar bunyi sabetan pedang, dan mic yang dipegang Bon-chan terpotong.
"Hieeeee!" okama itu melonjak kaget dan melotot ke arah Zoro si pelaku.
"Apa-apaan perintah itu oi?!" Zoro menggeram sambil menodongkan Shusui ke arah panggung.
"Oi, jangan banyak tanya dan laksanakan saja," Kid yang berada di belakangnya, berkomentar. Zoro menoleh dengan pandangan pembunuh, tapi si rambut tulip hanya mengangkat bahu dengan santai. "Kalau kau nggak mau... heh, apa kau bisa disebut laki-laki?"
Ctakkkk.
Kalau sudah menyinggung kejantanan, Zoro tidak mau berkompromi. Dia menyarungkan Shusui dan meletakkannya kembali di pinggangnya.
"Bah. Ayo segera kita selesaikan... oi, Robin!"
Robin yang dipanggil hanya bisa menoleh dengan wajah tanpa ekspresi. Zoro menghela napas panjang dan memalingkan wajahnya ke arah luar, mengisyaratkan dia untuk mengikutinya. Robin mengangkat alisnya dan Zoro menggangguk pelan.
"Oi, berkomunikasilah dengan kata-kata! Kalian ini manusia 'kan?!" teriak Kid, kesal.
"Oh, kalau mereka kadang nggak perlu begitu," Franky berkomentar, seringainya lebar. "Mereka punya teknik telepati atau... ikatan batin. Ngahahaha!"
Zoro menepuk dahinya dan segera melangkah keluar, dia tidak mau digoda lagi. Robin diam saja, tapi beberapa saat kemudian memantapkan tekadnya dengan mengangguk, lalu ikut keluar.
"Oi Zoro, jangan kacaukan ini!" Sanji berteriak amat keras dari dalam aula, tapi Zoro menutupi lubang telinga kanannya dengan telunjuk.
...
Robin tidak menyangka pertemuan terakhirnya dengan anak-anak SH dan teman-teman seangkatannya akan berakhir dengan... menarik (kalau tidak bisa dibilang kacau) seperti ini.
Mengingat lagi pengalamannya dengan SH, dia menarik pemikirannya barusan dengan tawa kecil. Karena bersama dengan SH membuat semuanya jadi lebih menarik.
Selalu saja ada aksi seru dan guyonan kocak yang terjadi oleh kombo Luffy dan teman-teman (Robin berpikir kalau semua temannya itu, entah kenapa, punya aspek sikap yang lucu). Tapi, kali ini... suasananya lebih serius dan gelap.
Siapa yang sangka pernyataan cinta seseorang bisa membongkar masa lalu kelompok yang gelap?
Robin bahkan tidak bisa mengkonfirmasi itu kepada teman-temannya yang lebih tahu, karena setelah kejadian itu mereka berpencar sendiri-sendiri, sepertinya tidak mau mengatakan apapun. Tentu ada faktor kalau dia... sedikit takut menanyakan ini juga.
Dia suka sejarah, tapi dia kurang suka mengorek sejarah pribadi yang kelam. Mungkin itu hanya pemikirannya sebagai seorang wanita.
"Hhh..." tanpa sadar, Robin menghela nafas panjang, mengakhiri pemikirannya barusan. Sekarang ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan, yaitu situasinya dengan Zoro.
Mereka sudah berjalan kira-kira 15 menit dari kompleks Hotel Poseidon, dan kalau perhitungannya benar, dia harus bersama cowok itu selama 45 menit lagi sembari menjalankan perintah dari 'King's Game' yang dimenangkan Nami tadi.
Dia tahu tujuan Nami memerintahkan demikian. Gadis berambut oranye itu pasti ingin dia dan Zoro berbicara secara privat untuk mengakhiri semua konflik ini, paling tidak agar dia bisa meninggalkan SH dalam perasaan damai.
Tapi sepertinya upaya Nami tidak berhasil.
Karena selama perjalanan ini, tidak ada sepatah kata apapun yang terlontar dari mulut keduanya. Kekeraskepalaan dan suasana yang canggung membuat perjalanan mereka sunyi. Yah, Robin tidak bisa menyalahkan Zoro. Dia benar-benar jadi obyek masalah malam ini, entah karma apa yang menimpanya.
"Aku nggak tau karma apa yang menimpaku malam ini, padahal aku nggak percaya dewa," tiba-tiba Zoro berkata demikian.
Robin mengangkat wajahnya, dan melihat Zoro yang masih menghadap ke depan tengah mengusap lehernya. Mendengar Zoro mengutarakan hal yang ada dalam pemikirannya barusan mengundang senyuman tipis ke mulutnya.
"Tapi mending kita selesaikan ini secepatnya."
"Langsung ke bisnis, ya?" Robin bertanya. Yah, itulah Zoro. Dia tidak pernah mau mencampur urusan pribadi dengan misi atau tugas yang diembannya. Sikapnya profesional, tapi dengan situasi sekarang... gadis berambut hitam itu jadi kesal karena dia masih beranggapan seperti itu.
"Ya. Jujur, aku ingin segera pulang," Zoro mengangkat tangannya ke wajah, sepertinya dia menguap. Dia masih tidak menghadap ke Robin. "Semua masalah malam ini sangat melelahkan."
"Fufufu, aku bisa bayangkan," Robin tertawa kering. "Menerima pernyataan cinta dari mantan kapten klub, menolaknya sambil membongkar sejarah gelap kelompok, dihajar teman-temannya karena menolak dia, kemudian kena hukuman 'King's Game'? Siapapun pasti akan kelelahan secara mental, bahkan orang dengan mental setangguh kamu."
Mendengar itu, Zoro membalikkan badannya. Akhirnya, Robin berpikir. Cowok berambut hijau itu tampak biasa saja, tidak tampak perasaan canggung atau gugup di wajahnya... ini membuatnya kecewa.
"... kau menyindir atau memujiku?" Zoro bertanya.
"Keduanya," Robin menjawabnya singkat, lalu memejamkan mata dan berjalan melewati Zoro.
"Oi-"
"Kamu bilang ingin segera menyelesaikan ini, 'kan? Kalau begitu ayo buruan, aku juga ingin segera kembali untuk mengecek persiapanku berangkat besok."
Ya, jika dia memang tak ingin bicara, tidak perlu dipaksa, pikir Robin. Biarlah semua berakhir seperti ini, daripada jika dibicarakan membuat situasi makin kacau.
"Hey!"
Dia terus berjalan, mengabaikan Zoro yang berusaha memanggilnya. Walaupun dia masih memejamkan mata untuk membantunya melupakan event malam ini, dia masih bisa menyadari situasi sekitarnya mengandalkan 'Kenbunshoku' haki, jadi dia tidak khawatir menabrak sesuatu. Tapi... karena haki itu juga dia jadi bisa menyadari perasaan Zoro yang kebingungan mencari cara untuk menjelaskan semuanya. Niatan cowok itu benar-benar terasa, sepertinya Robin memang sangat kelelahan secara mental.
"Oi, Robin."
Robin mengabaikan panggilan itu lagi, mengisi otaknya tentang kepergiannya ke Ohara besok. Apa dia sudah memasukkan semua pakaiannya? Bagaimana dengan peralatan mandi dan pernak perniknya? Sisa pakaian dan keperluannya bisa dikirim dengan paket, tapi dia tidak mau ada apapun yang tertinggal. Lalu, buku-bukunya... perjalanan ke Ohara memakan waktu sekitar 12 jam dengan pesawat, dia harus menyiapkan banyak buku untuk dilahap menghabiskan waktu di atas pesawat. Tidak lupa barang-barang elektroniknya harus di-charge... ah, setelah pesta ini selesai dia akan sibuk sendirian di rumah. Benar-benar-
"Nico Robin."
Mendengar itu, si pemilik nama menghentikan langkahnya. Zoro tidak pernah memanggil nama lengkapnya sejak dia bergabung dengan SH, sebelumnya dia selalu memanggil begitu karena menganggapnya senior. Jika dia memanggilnya seperti itu...
Apakah Zoro akhirnya memutuskan untuk kembali menganggap Robin sebagai senior, bukan sebagai teman? Robin terhenyak, bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Itu... akan jadi akhir yang sangat buruk baginya. Sekacau apapun hubungannya dengan anak-anak SH lain, dia berharap masih bisa berteman dengan Zoro.
Karena Zoro adalah orang yang membuka dirinya yang selama ini tertutup, yang mengenalkannya ke anak-anak SH dan yang menariknya keluar dari kesendirian.
Karena dia... menyukai Zoro.
Ya, dia menyukai anak berambut hijau itu. Walaupun ini hanya pengakuan dalam hati, bisa berpikir seperti ini adalah kemajuan, menurut Robin. Peduli amat dengan aturan dilarang pacaran di SH, Robin tetap akan menyukainya.
Karena itulah, karena itulah... jangan mengembalikanku ke posisi itu-
"Sepertinya dia sudah siap bicara?"
"Tunggu dulu, biarkan dia tenang sebentar."
Eh... kenapa ada 2 suara cowok di belakangnya? Dan suara itu...
"Luffy?!" Robin membalikkan badannya... dan benar, dia bisa melihat Luffy, dengan wajahnya yang masih hijau karena keracunan makanan, senyum-senyum di samping Zoro. "K-kenapa kamu ada di sini?"
"Aku ingin beli bacon buat meat shake lagi," jawabnya, santai. "Chopper bilang, proses reha-apa namanya... ah, pokoknya dia bilang aku butuh lebih banyak daging lagi biar sembuh. Karena di pesta sudah nggak ada daging, jadi aku keluar."
"Dia menyusul kita saat kamu melamun tadi," Zoro menyambung. Diliat dari wajahnya, dia tidak tampak kaget sedikitpun melihat Luffy, sepertinya dia sudah memperkirakan ini? "Aku memanggilmu tadi untuk menunggu dia. Bisa repot kalau dia nyasar."
"Hah! Nyasar? Memangnya kau, Zoro?!" Luffy melawan balik.
"Oi, kau adalah orang terakhir yang ingin kudengar mengatakan itu!" Zoro berteriak kesal.
Luffy tertawa kencang mengabaikan sang wakil ketua yang memukul kepalanya, pemandangan itu jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan Robin. Zoro bersikap seperti biasa, tidak ada niatan baginya untuk menurunkan posisi Robin dari teman menjadi senior.
Cewek berambut hitam itu mengelus dadanya.
"Lagian, aku juga ingin ngomong sama Robin," kata Luffy kemudian, suaranya terdengar tegas. Itu suara mode pemimpinnya, yang biasa dia gunakan saat mengkomando SH.
Robin berkedip sekali, dua kali. Eh? Dia pikir ini akan jadi momen bicara 4 mata antara dia dan Zoro saja? Dia menoleh ke wakilnya.
"Jangan memandangku begitu," kata Zoro, membela diri. "Perkataan dari ketua SH akan lebih mantap daripada dariku, kan? Apalagi untuk masalah seperti ini."
Benar juga, Robin sampai lupa. Di balik sifat dewasa dan kepala dingin Zoro, dia tetaplah anak buah Luffy di kelompok SH. Luffy-lah yang seharusnya lebih berwenang mengurus konflik internal, walaupun biasanya dia ngaco dan seenaknya.
Si ketua menghela napas panjang, lalu berkata, "Intinya, anak-anak nggak suka kau merahasiakan tentang Ohara, Robin."
JLEB!
Perkataan singkat dari seorang yang biasanya tidak serius itu... benar-benar mengena.
Ya, itulah masalah utama saat ini. Robin dan sifat sok misteriusnya, bahkan merahasiakan hal sepenting ini dari teman-teman 1 kelompoknya. Padahal, seharusnya tidak ada rahasia di antara teman.
"Waktu Zoro bilang ini ke kita sebelum pesta, aku marah. Nggak, kita semua marah," Luffy menatap Robin dengan serius, layaknya menghadapi seorang yang tengah beradu ideologi. "... kenapa, Robin? Kupikir kita ini teman! Harusnya kamu bilang soal sepenting ini!"
Baru kali ini Robin melihat Luffy yang seperti itu, dia... memancarkan aura seolah hendak bertarung serius. Robin pun memahami apa yang dirasakan orang-orang kurang beruntung yang pernah menjadi lawan Luffy saat dia sedang serius, tekanan luar biasa seolah kau menghadapi seorang raja, Haoshoku haki.
Beware the nice ones, indeed.
"Aku... tidak ingin membuat kalian khawatir," Robin akhirnya menjawab, dengan suara yang seolah berat sekali keluar dari tenggorokannya. "Aku adalah anak SH yang pertama lulus, dan akan meninggalkan kota ini... bersama kalian. Aku-"
"Haaah?!" Luffy berteriak. "Khawatir adalah tugas sebagai teman! Biarkanlah kami khawatir padamu!"
Robin terdiam mendengar itu.
Zoro kemudian menambahkan, "Kau bilang kau nggak mau membuat kita khawatir... kau terlalu egois. Kau nggak memikirkan perasaan kami, hanya memikirkan perasaanmu sendiri. 'Aku tidak ingin khawatir pada teman-teman', itu 'kan yang kau pikirkan?"
Kedua perkataan itu... telak sekali. Dikeroyok seperti itu, Robin tidak bisa berkata apa-apa. Zoro sih, sudah biasa menasehatinya begitu meskipun dia setahun lebih muda, tapi... Luffy? Si kapten yang serampangan itu bahkan ikut turun tangan! Robin terkekeh di dalam hati, sepertinya saat ini dia benar-benar sudah mengacaukan semuanya.
Dia menghela napas panjang.
"... oke, aku menyerah," sang senior tersenyum tipis, dia mengangkat kedua tangannya layaknya sedang ditodong pistol. "Kalian benar. Kali ini... aku sepertinya terlalu egois."
Luffy dan Zoro memandang ke arahnya, lalu saling memandang. Sepertinya... mereka sukses?
"Maaf."
Robin menundukkan kepalanya.
"Aah, jangan minta maaf padaku," Zoro berkata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aneh rasanya melihat seniornya itu menundukkan kepala padanya. "Minta maafnya ke Nami dan yang lain, setelah kita kembali."
"Tapi aku tidak maaf padamu, Zoro," kata Robin dengan senyuman usil. "Aku minta maaf ke ketua, ke Luffy. Jangan terlalu ge-er, fufufu."
Si ketua ngakak mendengar itu, membuat Zoro memukul kepalanya.
"Ap- oi, kau jangan tertawa! Kau juga, Robin! Cepat sekali sikapmu berubah, itukah yang pantas dilakukan seorang yang menyesal karena telah bersalah- argh!"
Kata-kata Zoro terpotong karena Luffy tidak terima pukulan tadi dan menyerang balik, langsung memulai perkelahian kecil di antara 2 anggota terkuat SH itu.
Robin tersenyum lebar membalikkan badan. Sekarang stl semua masalah tentang dirinya itu selesai, dia merasa bebannya sedikit berkurang. Tapi... soal peraturan rahasia SH belum selesai.
Karena ini mumpung forum yang cukup pribadi, dia memberanikan diri untuk bertanya, "Lalu, ke masalah selanjutnya... soal peraturan 'itu'."
Deg!
Seolah tertohok, gerakan kedua anak yang lagi bergulat itu terhenti seketika.
"Aku ingin kejelasan. Aku tidak mau meninggalkan SH dengan menyimpan sebuah rahasia... bisa-bisa aku dibuat mati penasaran. Saat itu terjadi aku akan menghantui kalian selamanya, tahu."
"Keh, kau dan omongan serammu," Zoro mendorong Luffy menjauh dan membersihkan bajunya yang kotor setelah pergumulan singkat tadi. Luffy juga melakukan hal yang sama di sampingnya. "Soal itu... um, yah, sepertinya semua sudah dijelaskan koki itu waktu kalian mengintip? Apa lagi yang ingin kau ketahui?"
"Iya. Memangnya separah itukah? Nami dan Margaret keliatan khawatir banget sejak tahu ini."
Kedua cowok itu lalu memiringkan kepala mereka kompak. Dasar cowok, pikir Robin kesal.
"Menurutku... itu aturan yang terlalu keras. Dilarang pacaran selama masih jd anggota SH? Apa nggak sekalian dilarang jatuh cinta?" Robin bertanya dengan nada tinggi. Ya, dia tidak setuju. Tidak selamanya berpacaran di dalam sebuah kelompok itu destruktif, tergantung menyeimbangkan kehidupan cinta dan kelompok saja sebenarnya.
"Huh... kan bisa saja jatuh cinta tanpa pacaran?"
Jawaban itu membuat Robin dan Zoro terhenyak. Karena, itu berasal dari Luffy.
Eh...
Oke, ini mulai aneh. Kenapa anak itu bisa mengeluarkan kata-kata sebagus itu dari mulut kasarnya? Tentang cinta, lagi! Ini anak yang berpikir kalau cinta itu semacam bumbu makanan!
(Walaupun dia ada benarnya... 'kan orang selalu bilang bahwa cinta adalah sesuatu yang membuat makanan terasa sangat lezat).
"Aturan ini memang mengekang, tapi ini untuk kebaikan bersama. Berkaca dari masalah yang ditimbulkan Sanji-kun..." Luffy terus berbicara...
Luffy tidak pernah memanggil Sanji pakai embel-embel... bukan, dia tidak pernah pake honorifik untuk memanggil seseorang (kecuali yang jauh lebih tua darinya). Apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu, apa selulosa mempengaruhi daya berpikir-
Saat itulah mereka menyadarinya.
Setelah diamati baik-baik... tampak headset nirkabel menempel di telinga kanan Luffy. Dari situ, samar-samar terdengar suara... Brook. Sekarang sudah jelas kenapa Luffy jadi filosofis dan bijak begitu.
"Brook-sensei," Robin sengaja menaikkan suaranya.
"Iya Robin-kun... ah?!" Luffy buru-buru menutup mulutnya. Kemudian dia tertawa kering.
"Ah, dasar. Kukira kau jadi pintar setelah keracunan sayuran, rupanya ada yang mendiktemu toh," Zoro menghampiri Luffy dan menarik headset itu dari telinga Luffy.
Luffy hanya bisa terus tertawa, dan mereka juga mendengar tawa khas 'yohoho' dari headset itu. Zoro menekan tombol speaker dari sana.
"Sudah, trik kalian sudah ketahuan. Bicaralah saja, Brook-sensei," kata Zoro.
"Yoho, mau bagaimana lagi Zoro-kun. Sebagai guru saya tidak bisa membiarkan anak-anak didik saya berkonflik seperti ini, apalagi kalian," Brook berbicara dengan santainya.
Mendengar itu, lagi-lagi menyadarkan Robin... bahwa semua orang mengkhawatirkannya. Walaupun dia berusaha keras untuk tidak membuat mereka khawatir, mereka tetap begitu. Brook benar, itulah tugas sebagai teman. Robin kembali mengingatkan diri untuk sungguh-sungguh minta maaf pada teman-temannya setelah ini.
Tapi kembali ke masalah utama.
Mengingat tentang peraturan itu sekarang, dia jadi menyadari beberapa situasi teman-temannya.
Seperti Usopp yang jelas-jelas memiliki hubungan spesial dengan Kaya, teman masa kecilnya yang sekarang juga bersekolah di Seifu dan jadi teman PMR Chopper. Robin sangat kaget waktu pertama kali diberitahu Kaya kalau mereka tidak berpacaran. Padahal menurutnya mereka sangat serasi.
Kemudian, Sanji yang terang-terangan menyukai Nami tapi tidak pernah menyatakannya secara resmi, dan di lain pihak ada Nami yang menyukai Luffy yang juga tidak pernah berkata langsung. Sanji sepertinya juga menyadari perasaan Nami... awalnya Robin berpikir kalau dia tidak ingin memicu cinta segitiga yang rumit, tapi masalahnya ternyata jauh lebih sederhana.
Daripada kehidupan asmara personal, mereka lebih mementingkan kekompakan kelompok.
Benar-benar hubungan pertemanan yang tanpa pamrih.
"... aku mengerti semuanya sekarang," Robin tiba-tiba berkata, membuat kedua orang yang bersama dia memandangnya. Dia menolehi mereka dan tersenyum lebar. "... terimakasih."
Ekspresi itu sangat berbeda dari yang dia tunjukkan selama pesta, bisa dibilang itulah senyuman tulus pertama Robin sejak dia mengutarakan rencana masa depannya ke Zoro beberapa bulan lalu.
Jadi selama itukah dia bingung... pikir Zoro. Dia mengusap lehernya dan berkata, "Oke, kalau sudah beres... bisa kita selesaikan misi kita sekarang?"
"Benar, ayo!" kata Luffy dengan penuh semangat.
"Yohoho, tapi kamu ingat Zoro-kun, anak di bawah 20 tahun tidak boleh membeli minuman beralkohol?" komentar Brook dari headset.
Zoro menurunkan bahunya. "Cih, aku lupa. Oi Robin, kau ada rencana soal ini?"
"Fufufu, mari kita lihat..."
-xXxXx-
Rencana dari Robin amat simpel. Menggunakan kartu tanda penduduk milik ibunya, Nico Olvia... yang berwajah amat mirip dengannya (hanya beda warna rambut), Robin bisa membeli 'Carlsberg' dengan amat mudahnya. Setelah 15 menit mencari Zoro yang nyasar di bagian makanan instan (padahal hanya ada 3 rak di situ) dan menarik Luffy yang berniat membeli bacon sebanyak kereta belanjanya bisa memuat, mereka pun kembali ke hotel.
Masih ada waktu 20 menit tersisa, jadi mereka memutuskan memanggil taxi karena 1 krat bir dan kantong-kantong besar bacon itu sangat merepotkan jika dibawa berjalan kaki. Dengan kendaraan, mereka bisa sampai ke hotel dalam 10 menit. Lalu, karena Luffy yang bersama mereka akan melanggar peraturan permainan, dia masuk duluan disusul Zoro dan Robin setelah berselisih kira-kira 5 menit.
Saat keduanya masuk kembali ke aula pesta, suasana sudah jauh lebih tenang daripada saat mereka berangkat yadi. Sepertinya 'King's Game' sudah berakhir, dilihat dari banyaknya mayat... bukan, korban perebutan kekuasaan yang terkapar di sana-sini. Semua cowok yang bisa bertarung di sana semua sudah tepar kecapekan, termasuk anak-anak PMR. Meja prasmanan juga sudah bersih, beberapa pegawai hotel mulai membereskan aula.
"Ini... apa-apaan..." gumam Zoro, dia memanggul krat bir hasil misinya dengan Robin.
"Fufufu. Berpesta dan terus tidur. Benar-benar ciri khas anak Seifu," Robin tertawa dengan cantiknya. Setelah berbicara dengan ketiga temannya, beban di pundaknya memang sudah jauh berkurang. Dia hendak segera menemui Nami dan yang lain untuk minta maaf sesuai rencananya, saat tiba-tiba terdengar bunyi dengung dari mic.
Tampak anak-anak kelas 3 berada di atas panggung. Robin melihat Sabo melambai-lambaikan tangan kepadanya, memintanya ikut naik. Robin menghela napas, sepertinya pembicaraannya dengan SH harus ditunda dulu. Dia pun melangkah ke panggung.
"Mohon perhatian, semuanya," Ace berbicara dengan nada suara penuh wibawa, khas darinya sebagai mantan wakil ketua OSIS. Semua org di dalam aula pun menghentikan kegiatan (dan rintihan kesakitan) mereka, memfokuskan perhatian pada cowok dengan wajah berbintik itu.
Ace memandang berkeliling wajah anak-anak di bawah panggung dan di seluruh aula, lalu menghela napas panjang dan tersenyum lebar.
"Yaa, ini pesta yang sangat luar biasa. Setelah Left for Dance dan sekarang ini, kami bisa bilang kalau akhir sekolah kami di Seifu sangat... menarik."
"Salut buat OSIS," Sabo menambahkan.
Anak-anak bertepuk tangan, menujukannya pada anak-anak OSIS yang terpencar di sana-sini. Kid yang masih babak belur, Bonney yang sedang dalam tahap terakhir membersihkan sisa-sisa makanan, Monet yang tengah membaca novel tebal sembari membantu perawatan korban luka, Nami yang bingung mencari-cari Robin, dan tentunya Luffy yang rona wajahnya sudah kembali normal.
Ace memberikan mic-nya ke Sabo.
"Lalu... dengan ini kami dari kelas 3 pamit," Sabo berkata dengan santai. Tapi perkataan ini membuat anak-anak terdiam. Benar juga, setelah ini mereka semua yang ada di panggung (dan mereka yang sudah pulang atau tidak bisa hadir) akan meninggalkan Seifu. Itu membuat mereka sedikit sedih, kehilangan para senior yang seru itu.
Sabo memberikan mic itu ke Urouge.
"Mulai besok, kami sudah tidak akan kembali ke Seifu. Urusan kami dengan sekolah, semua sudah selesai," Urouge memberikannya ke Hawkins.
"Tapi tenang saja, takdir memastikan kita akan bertemu kembali suatu saat."
Hawkins mengopernya ke Robin.
"Ini bukan perpisahan," Robin menatap ke arah teman-temannya dari SH yang masih berpencar. "Spirit kami sebagai mantan senior kalian akan terus berada di sekolah."
"Benar, ini adalah janji untuk bertemu lagi suatu saat nanti," sambung Sabo.
Cowok dengan luka bakar di wajah itupun mengembalikannya ke Ace. Pada poin ini, beberapa cewek kelas 3 di atas panggung mulai berkaca-kaca... melihat itu, tanpa sadar Robin juga merasakan matanya sedikit basah.
"Anggota klub, para junior kami, semuanya..." Ace berkata lagi. Suaranya terdengar serak, bahkan cowok tangguh sepertinya merasakan emosinya goyah. "Tiga tahun di Seifu sangatlah menyenangkan. Kuharap kalian juga merasakan indahnya masa SMU di sini."
Ace mengakhirinya dengan membungkukkan badan, diikuti teman-temannya.
"Kami serahkan SMU Seifu kepada kalian!"
Tepuk tangan membahana mengakhiri pesta perpisahan itu.
...
Anak-anak SH pulang bersama setelah pesta berakhir, mereka berpisah dengan anak-anak Supernova di perempatan pertama depan Hotel Poseidon. Suasana saat itu sudah berbeda jauh dengan suasana setelah terbongkarnya rahasia kelompok, mereka tampak bersenda gurau dan mengobrol santai.
Itulah momen yang tepat.
Robin, yang sejak keluar kompleks tadi berjalan paling belakang bersama Zoro, melangkah cepat mendahului teman-temannya. Dia berbalik, lalu dengan ekspresi yang tenang dan penuh kesiapan, berkata, "Teman-teman, aku ingin mengatakan sesuatu."
A/N
Hahaha, banyak yang protes kenapa jadi sinetron.
Karena... memang tujuanku begitu! Masa SMU tanpa drama nggak asyik! Sekali-kali fic ini harus kembali ke aspek kehidupan remajanya dong.
Anyway, selanjutnya adalah epilog!
Keterangan:
Toriko: manga dari Shonen Jump, menceritakan petualangan mencari bahan makanan yang aneh-aneh
Bakuretsu Shining Finger: jurus Domon Kasshu dari G Gundam
Kemenangan phyrric: kemenangan yang juga memakan banyak korban dari pihak yang menang
Selulosa: semacam zat gula yang ada dalam tanaman
Quote "kartu adalah teman": plesetan quote dari Captain Tsubasa, "bola adalah teman"
Quote "percayalah pada kartu": dari Yu-Gi-Oh!
Next in Two Schools, Two Worlds
Chapter VII Epilogue
Catch Ya Later
"Perpisahan adalah bagian hidup saat kamu bertambah tua. Tapi sangat susah bagiku mengucapkan 'selamat tinggal', aku berharap bisa terus mengatakan 'halo' pada kalian. Jadi... 'halo'!"
