Eksperimen Penjara Stanford, Bg. 3

Mayat seorang wanita itu membuka matanya, dan bola tenggelam yang pudar itu memandang keluar ke kekosongan.

"Gila," Bellatrix menggumamkan dalam suatu suara pecah, "Sepertinya si kecil Bella sudah gila … ."

Profesor Quirrell sudah memerintahkan Harry, dengan tenang dan tepat, bagaimana dia harus bertindak di hadapan Bellatrix; bagaimana membentuk suatu pretensi yang harus dia jaga di dalam pikirannya.

Kau menganggap bahwa itu membantu, atau mungkin hanya menghibur, untuk membuat Bellatrix jatuh cinta padamu, untuk mengikatnya pada pelayananmu.

Cinta itu akan bertahan di dalam Azkaban, kata Profesor Quirrell, karena untuk Bellatrix itu bukanlah pikiran bahagia.

Dia mencintaimu sepenuhnya, seutuhnya, dengan seluruh keberadaannya. Kamu tidak membalas cintanya, tapi menganggap dirinya berguna. Dia mengetahui ini.

Dia adalah senjata paling mematikan yang kamu miliki, dan kamu memanggilnya Bella sayang.

Harry mengingatnya dari malam sang Pangeran Kegelapan membunuh orangtuanya: kegembiraan dingin, tawa merendahkan, suara bernada tinggi dari kebencian mematikan itu. Itu tak terasa sebegitu sukar untuk menebak apa yang Pangeran Kegelapan akan katakan.

"Aku harap kamu tidak gila, Bella sayang," kata bisikan dingin itu. "Gila itu tidak berguna."

Mata Bellatrix berkedip, mencoba memfokuskan pada udara kosong.

"My … Lord … aku menunggumu tapi kamu tidak datang … aku mencarimu tapi aku tak bisa menemukanmu … kamu hidup … ." Seluruh kata-katanya keluar dalam gumaman rendah, jika ada emosi di dalamnya, Harry tak bisa mengetahuinya.

"Tunjukkan padanya wajahmu," desis ular di kaki Harry.

Harry menyingkapkan kerudung dari Jubah Gaib.

Bagian dari dirinya yang Harry tempatkan dalam kendali atas ekspresi wajahnya melihat kepada Bella tanpa sedikit pun jejak belas kasihan, hanya ketertarikan dingin, tenang. (Sementara di dalam intinya, pikir Harry, Aku akan menyelamatkanmu, aku akan menyelamatkanmu tak peduli apa pun … .)

"Bekas luka … ." gumam Bellatrix. "Bocah itu … ."

"Demikian mereka semua masih pikir," kata suara Harry, dan memberi suatu gelak kecil tipis. "Kamu mencariku di tempat yang salah, Bella sayang."

(Harry sempat bertanya kenapa Profesor Quirrell tidak bisa menjadi orang yang memainkan peran sang Pangeran Kegelapan, dan Profesor Quirrell menyatakan bahwa tak ada alasan masuk akal untuk dia dirasuki oleh bayangan dari Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut.)

Mata Bellatrix tetap terpaku pada Harry, dia tak mengatakan kata apa pun.

"Katakan ssessuatu dalam Parsseltongue," desis si ular.

Wajah Harry berbalik kepada si ular, untuk membuatnya jelas kalau dia sedang berbicara padanya, dan mendesiskan, "Ssatu dua tiga empat lima enam tujuh delapan ssembilan ssepuluh."

Ada suatu jeda.

"Mereka yang tidak takut terhadap kegelapan … ." gumam Bellatrix.

Si ular berdesis, "Akan dimakan olehnya."

"Akan dimakan olehnya," bisik si suara dingin. Harry tidak benar-benar ingin memikirkan tentang bagaimana Profesor Quirrell memperoleh kata kunci itu. Otaknya, yang memikirkan tentangnya bagaimanapun juga, menyarankan bahwa itu mungkin melibatkan seorang Pelahap Maut, suatu tempat sunyi terisolir, dan suatu Legilimency pipa-besi.

"Tongkat sihirmu," gumam Bellatrix, "aku mengambilnya dari rumah keluarga Potter dan menyembunyikannya, my lord … di bawah batu kubur di kanan kuburan ayahmu … akankah kau membunuhku, sekarang, jika itu adalah semua yang kau harapkan atasku … . Aku pikir aku pasti selalu menginginkanmu menjadi orang yang membunuhku … tapi aku tak bisa mengingatnya sekarang, itu pastilah suatu pikiran bahagia … ."

Jantung Harry remuk di dalamnya, itu tak tertahankan, dan—dan dia tak bisa menangis, tak bisa membiarkan Patronusnya memudar—

Wajah Harry menunjukkan kedipan kejengkelan, dan suaranya tajam saat mengatakan, "Cukup dengan kebodohan. Kau pergi denganku, Bella sayang, kecuali kamu lebih memilih ditemani para Dementor."

Wajah Bellatrix berkedut dalam kebingungan singkat, anggota tubuh yang mengerut tidak berubah.

"Kamu akan perlu menerbangkannya keluar," Harry mendesis pada si ular. "Dia tak lagi berpikir tentang melarikan diri."

"Ya," desis si ular, "tapi jangan meremehkan dia, dia adalah prajurit paling mematikan." Si kepala hijau menunjuk dalam peringatan. "Ssesseorang akan terbilang bijakssana untuk mewasspadaiku, bocah, bahkan ketika aku kelaparan dan ssembilan perssepuluh mati; wasspadalah terhadapnya, jangan biarkan ssatu pun celah dalam pretenssimu."

Si ular hijau dengan halus meluncur keluar dari pintu.

Dan tak lama setelahnya, seorang pria dengan kulit pucat dan ekspresi ketakutan pada wajah berjenggotnya mengernyit ke dalam ruangan dengan tongkat sihir di tangan.

"My Lord?" si pelayan berkata dengan gagap.

"Lakukan seperti yang kuperintahkan," si Pangeran Kegelapan berbisik dalam suara dingin, terdengar bahkan lebih mengerikan datang dari tubuh seorang anak-anak. "Dan jangan biarkan Patronusmu goyah. Ingat, jika aku tidak kembali tidak akan ada hadiah untukmu, dan akan lama sebelum keluargamu diizinkan mati."

Sesudah mengatakan kata-kata mengerikan itu, si Pangeran Kegelapan menarik jubah penghilangnya menutupi kepalanya, dan menghilang.

Si pelayan yang mengernyit membuka pintu ke kurungan Bellatrix, dan menarik satu jarum kecil dari jubahnya yang dengannya dia menusuk si manusia tulang itu. Setetes darah merah yang dihasilkan dengan cepat diserap menjadi suatu boneka kecil, yang terbaring di atas lantai, dan si pelayan mulai memantrai dalam suatu bisikan.

Tak lama tulang hidup lain terbaring di atas lantai, tak bergerak. Setelahnya si pelayan sepertinya ragu untuk sesaat, sampai dari udara kosong berdesis suatu perintah tak sabar. Kemudain si pelayan mengarahkan tongkat sihirnya pada Bellatrix dan mengatakan satu kata, dan si tulang hidup yang terbaring di ranjang menjadi telanjang, dan si tulang yang terbaring di lantai berpakaian dalam pakaian memudar tadi.

Si pelayan merobek secarik kecil kain dari pakaian itu, saat itu terbaring di atas mayat pura-pura tadi; dan dari jubahnya sendiri, si pria penuh ketakutan itu kemudian memunculkan suatu tabung kaca kecil dengan sedikit jejak-jejak cairan keemasan yang melekat pada bagian dalamnya. Tabung ini disembunyikan di dalam satu sudut, potongan kain diletakkan di atasnya, kainnya nyaris menyatu dengan dinding metal kelabu itu.

Ayunan lain dari tongkat sihir si pelayan melayangkan si tulang manusia yang berbaring di ranjang ke udara, dan nyaris dalam gerakan yang sama memakaikan padanya jubah hitam baru. Sebuah botol susu cokelat yang terlihat biasa diletakkan ke tangan Bellatrix, dan suatu bisikan dingin memerintahkan Bellatrix untuk menggenggam botol itu dan mulai meminumnya, yang dia lakukan, wajahnya masih hanya terlihat bingung.

Kemudian si pelayan membuat Bellatrix tak terlihat, dan membuat dirinya sendiri tak terlihat, dan mereka pergi. Pintu tertutup di belakang mereka semua dan berbunyi klik saat dia terkunci, membenamkan koridornya ke dalam kegelapan sekali lagi, tak berubah kecuali untuk sebuah tabung kecil tersembunyi di sudut satu sel, dan sebuah mayat segar yang terbaring di lantainya.


Lebih awal, di toko kosong itu, Profesor Quirrell sudah mengatakan pada Harry bahwa mereka akan melakukan suatu kejahatan yang sempurna.

Harry tanpa berpikir mulai mengulang peribahasa standar bahwa tak ada hal yang dinamakan dengan kejahatan sempurna, sebelum dia benar-benar memikirkan tentangnya selama dua pertiga detik, mengingat suatu peribahasa yang lebih bijak, dan menutup mulutnya di tengah kalimat.

Apa yang kamu pikir kamu tahu, dan dengan cara apa menurutmu kamu mengetahui hal itu?

Jika kau memang melakukan suatu kejahatan yang sempurna, tak satu pun akan pernah mengetahui hal itu—jadi bagaimana mungkin ada yang tahu kalau memang benar tak ada kejahatan yang sempurna?

Dan begitu kamu melihatnya dengan cara itu, kamu sadar bahwa kejahatan sempurna mungkin dilakukan setiap waktu, dan koroner menandainya sebagai suatu kematian yang wajar, atau surat kabar melaporkan bahwa tokonya tidak pernah begitu menguntungkan dan akhirnya gulung tikar … .

Ketika mayat Bellatrix Black ditemukan mati di selnya pagi berikutnya, di sana di dalam penjara Azkaban yang dari mana (semua orang tahu) tak ada yang pernah melarikan diri, tak seorang pun repot-repot melakukan otopsi. Tak seorang pun yang akan berpikir dua kali tentangnya. Mereka hanya akan mengunci koridor itu dan pergi, dan Daily Prophet melaporkan di dalam kolom kematian di hari berikutnya ...

… itulah kejahatan sempurna yang Profesor Quirrell sudah rencanakan.

Dan bukan Profesor Quirrell yang menggagalkannya.