Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto
Inspiride by : OreImo
Summary : Event besar sudah didepan mata, Jounin Exam pertama di Era Uzumaki Naruto akan dimulai. Seiring itu, bau masalah dan kejahatan tercium makin jelas. Bahaya besar bisa saja mengancam kedamaian dunia shinobi. Rivalitas Uzumaki-Uchiha sekali lagi menjadi pengakhir. Bagaimanakah Bolt dan yang lainnya menghadapi semua ini? Simak saja ceritanya. . .
Genre : Romance, Sci-fi, Adventure, Drama, & Family
Rate : T
Setting : Canon, Dunia Shinobi Modern, Konoha Metropolitan
Warning : Teen Naruto New Generation, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.
Jum'at, 3 Juni 2016
Happy reading . . . . .
Sebelumnya . . . .
Akses diterima, sistem keamanan dinonaktifkan
Brukkk...Brukkk...Brukkk...Brukkk...
Robot-robot yang menodong senjata, berjatuhan kelantai. Semuanya berhenti bergerak, Shikadai berhasil menyelesaikan tugasnya sebelum mereka mati.
"Huuuuhh. . . . . . Syukurlah kita selamat." ungkap Inojin.
"Mendokusei… Aku juga akan membatalkan program instruksi peluncuran roket di fasilitas ini. Baru setelah itu kita menyusul Bolt dan Himawari ke fasilitas yang satunya." kata Shikadai.
"Baik..." sahut yang lainnya.
.
My Cute Sister? Season II
By Si Hitam
Chapter 43. Combo Attack Bolt-Sarada.
Bolt dan Mirai sedang berlompatan di dahan-dahan pohon, mereka sedang menuju fasilitas peluncuran di sebelah selatan area survival test. Mereka berdua tampak terburu-buru dan tidak berbicara sedikitpun. Tiba-tiba...
"OOEEEEYY.. BOLT-NIISAAAAAAAAN…!"
Suara teriakan seorang gadis menghentikan langkah mereka. Karena tahu siapa pemilik suara itu, Bolt dan Mirai behenti, dan,,
tap tap...
Mendarat tepat di depan gadis yang memanggilnya.
"Amaru... Kau masih disini?" tanya Mirai dengan kening berkerut.
Amaru nyengir, tertawa kecil. "Ahh,,, eheheheee. Aku hanya beristirahat sebentar, Mirai sensei."
"Hmm,,, lebih penting dari itu, kenapa Mirai sensei bisa ada disini, dan Bolt-niisan juga?"
"Ahhh,, it-ituuu." Mirai enggan menjawab pertanyaan Ryuzetsu.
"Bolt,,, ceritakan saja masalahnya. Aku pasti akan membantumu." suara feminim lain keluar dari mulut gadis berambut pendek berkacamata.
Jadi ada tiga orang gadis yang menunda perjalanan Bolt dan Mirai.
"Ahhh,,, Ya, begini Sarada..."
". . . . ." Ketiga gadis yang menjadi peserta Jounin Exam itu menunggu Bolt mengatakan sesuatu.
"Sebelum itu, kenapa kalian bertiga bisa berkumpul disini?" Bolt bertanya dahulu, heran melihat kebanyakan para peserta Jounin Exam yang tampak berkumpul walau mereka bukan dari desa yang sama, dan lagi ini ujian individual bukan tim.
Dengan santai Amaru menjawab, "Aku dan Ryu-chan sedang beristirahat. Ryu-chan sedang tidur, lalu aku melihat Sarada senpai disekitar sini, jadi aku minta dia mengajariku tentang teori bedah tulang belakang, membunuh waktu luang untuk kegiatan yang berguna. Dan tiba-tiba aku tidak sengaja melihatmu lewat, makanya aku berteriak. Kan aku kaget karena seharusnya kau yang tidak ikut Jounin Exam bisa ada disini, Mirai sensei juga, seharusnya panitia ujian dilarang masuk kan?"
"Ohhh,, jadi pada intinya kalian bertiga tidak bisa keluar dari sini?" tanya Bolt menyelidik.
"Eheheheee.., Iya sih, Bolt-niisan" Amaru mengangguk sambil tertawa hambar, inti dari cerita panjang lebarnya dapat ditangkap oleh Bolt. Gadis-gadis ini rupanya masih terjebak didalam perangkap genjutsu area survival test, belum menemukan cara menyelesaikannya.
Ryuzetsu hanya mendengus saja, mungkin malu karena kepintarannya tidak berguna sama sekali disini.
"Aku tidak tersesat." Sarada menjawab lain daripada yang lain.
"Eh?" Amaru dan Ryuzetsu menyerngit heran. Kalau tau jalan keluar, kenapa masih disini?
"Aku menyadari kalau mekanisme tempat ini dibuat oleh ayahku. Mudah saja bagiku memecahkan genjutsu di lokasi ini karena mataku sama dengan matanya. Jadi aku bisa saja keluar dari sini kapanpun aku mau."
Bolt menatap serius ke arah Sarada, "Kau tidak akan bisa lulus dengan cara itu, Sarada. Kakashi Ojisan, Bibi Kurenai, Kakek Bee dan penguji-penguji lainnya pasti akan menangguhkan kelulusanmu karena kau tidak bisa melewati survival test ini dengan cara yang benar. Apa kau sadar, kalau survival test ini menguji keyakinan para peserta tentang arah dan tujuan hidupnya?. Ujian ini bukan untuk diakal-akali seperti tahap ujian lain, tapi untuk dilalui setelah kau berhasil yakin akan dirimu dan masa depan hidupmu sendiri."
". . . . . . ." Sarada tidak bisa menyanggah ucapan Bolt. Pukulan telak baginya. Dia memang jenius, IQ-nya tinggi, dan logikanya pun hebat, serta idealis dan perfeksionis dalam keseharian, tetapi sikapnya kali ini sama sekali belum menunjukkan kebijaksanaan dan kedewasaan dalam berpikir. "Aaahh,, ma-maafkan aku"
Bolt tersenyum, senang rasanya bisa mengingatkan sahabat sendiri. "Tidak masalah"
"Terima kasih telah mengingatkanku, Bolt"
"Ummm, ya"
Topik barusan bukan hal bagus untuk dibahas berlama-lama, jadi Amaru mengalihkan topik pembicaraan.
"Neee neee,,, jadi bisa ceritakan kenapa kau bisa ada disini, Bolt-niisan? Bersama Mirai-sensei lagi. Kalian berdua tidak sedang kencan kan? Kalian itu sudah putus loh. Sudah Putus…!" ucap Amaru asal, bahkan dengan tambahan penekanan pada akhir kalimat. Bukan bermaksud menggoda, tapi dari raut wajah gadis belia yang cintanya ditolak oleh Bolt ini, seakan masih belum bisa merelakan orang yang dia cintai bersama sang mantan pacar disini.
"Mana mungkin Amaru. Jangan mengada-ada!" Bolt bersungut kesal. Hal pribadi itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk diungkit. Apalagi ia dan Mirai baru saja menuntaskan masalah di antara mereka, jadi jangan lah membuka luka lama.
Dhuuaakkk..
"Itteiiii…." Amaru mengaduh kencang setelah kepalanya di jitak keras oleh Mirai.
"Jangan membautku malu disini, Amaru-chan!. Kau masih takut dengan hukuman dari ku kan?" Mirai tampak marah, membuat Amaru ketakutan.
"I-iyaiyaaa... Ma-maafkan aku, Mirai sensei."
Setelah situasi aneh itu, Sarada akhirnya bertanya sekali lagi, "Jadi, ada apa sebenarnya Bolt?"
"Ah ya, jadi begini. . . . . . ."
Bolt pun menceritakan semua yang terjadi dan membuat dirinya dan Mirai bisa ada disini. Perlu waktu 10 menit untuk menjelaskan semuanya. Tentang peluncuran senjata pemusnah massal meriam chakra ke angkasa dan kecerobohan Himawari masuk ke sarang musuh. Akhirnya Sarada, Amaru, dan Ryuzetsu sepakat membantu Bolt.
Selama perjalanan menuju fasilitas yang disebelah selatan, kelima orang itu lebih banyak diam, sampai akhirnya mereka semua berhasil menemukan pintu masuk. Sebuah lubang ventilasi, lubang yang tampak seperti sumur dengan diameter kurang lebih dua meter. lubang itu tertutup akar pohon dan daun serta semak, makanya tidak terdeteksi oleh orang lain.
"Ini jalan masuknya, didalam video rekaman CCTV beberapa jam lalu, Hima masuk lewat lubang ini." kata Bolt.
"Tunggu apa lagi, ayo kita masuk sekarang. Aku tidak ingin Hima-chan kenapa-kenapa.!"
"Jangan terburu-buru Amaru-chan, Hima-chan itu kuat jadi dia pasti bisa menjaga diri." kata Mirai menenangkan muridnya.
"Walau kuat, Hima itu kebodohan dan kecerobohannya lebih parah dari Papa. Musuh yang kita hadapi bukan orang sembarangan." kata Bolt dengan ekspresi khawatir.
"Baiklah, aku duluan didepan. Aku bisa melindungi diriku sendiri dan kalian jika ada jebakan." ucap Sarada.
Akhirnya mereka berlima melompat masuk kedalam lubang tadi, Sarada paling depan, disusul oleh Bolt dan yang lain.
Seteleh melewati lorong gelap akhirnya mereka sampai didalam fasilitas. Kini mereka berlima ada di koridor berdinding baja. Suhu udara di koridor ini terasa sangat dingin.
"Apa-apaan ini?, seperti bekas terjadi pertempuran besar."
Ryuzetsu terkejut mendapati keadaan disana. Koridor itu berantakan, bahkan dinding baja banyak yang berlubang, terlebih lagi banyak rongsokan material logam disana sini.
"Rongsokan robot-robot ini, pasti hasil pertarungan Hima. Tidak ada orang lain yang kutahu suka bertarung dengan tipe serangan dekstruktif separah ini selain Hima. Hawa dingin yang kita rasakan ini, pasti karena sisa-sisa rasenshuriken es miliknya." ucap Bolt yakin.
Semua rongsokan benar-benar hancur hingga berkeping-keping, tidak ada satupun robot yang masih utuh, bahkan tangan robot saja tidak tampak satupun. Gaya bertarung Himawari selalu menyisakan bekas seperti itu, apalagi ketika dia menggunakan kekuatan Yin Kurama ditambah senjutsu, seenaknya dia menggunakan jutsu dekstruktif berdaya hancur besar tanpa khawatir kehabisan chakra. Himawari sama seperti ayahnya, Hokage Ketujuh saat masih muda, bertarung beringas, all-out, dan sangat frontal.
"Kita tidak boleh diam. Ayo terus." Sarada lalu menoleh pada Bolt, "Kau bisa merasakan Hima-chan dengan sensormu kan, Bolt?"
"Ya. Dia tidak jauh didepan kita. Sepertinya dia sedang bertarung."
"Ayo, kita harus menyusul Hima-chan secepatnya." sahut Mirai.
Mereka pun terus berjalan menyusuri lorong, mengikuti Bolt yang memandu pencarian keberadaan Himawari dengan mode sensornya.
"Awass...!"
Sarada berteriak pada Bolt yang berjalan paling depan,
Lima robot tempur Terminator dengan machine gun kaliber 35 mm sudah siap menarik pelatuk, dan itu diarahkan pada Bolt.
Bolt tidak bisa merasakan keberadaan robot dengan mode sensornya, karena mode sensor yang dia miliki hanya efektif untuk merasakan keberadaan makhluk hidup, bukan benda mati. Dia hanya bisa menutup mata kerika peluru-peluru keluar dari laras senjata.
DorrDorrDorrDorrDorrDorr
DorrDorrDorrDorrDorrDorr
DorrDorrDorrDorrDorrDorr
Ketika Bolt membuka matanya, dia masih bisa bernafas. Tubuhnya dilindungi oleh tangan astral berwarna pink. Lengan susano'o milik Sarada menggenggam tubuh Bolt dan melindunginya dari proyektil peluru.
"Arigatou, Sarada." kata Bolt ketika Sarada sudah berdiri didekatnya. Dia dan Sarada terlindung dari tembakan peluru berkat rangka tebal dari susano'o Sarada. Mirai, Amaru dan Ryuzestu yang dibelakang mereka pun juga ikut terlindung karena sosok susano'o itu hampir menutupi lebar seisi koridor.
"Umm.." Sarada mengangguk dengan mata tidak lepas dari robot-robot yang menyerang Bolt dan dirinya. Terminator-terminator itu masih menembakkan amunisi, mereka mereload magasin bergiliran sehingga tembakan terus terjadi dengan cepat tanpa jeda.
Namun walau mereka semua bisa bertahan, tetapi karena terdengar keributan, puluhan Terminator lain berdatangan dengan cepat. Ada yang ikut menembak, ada juga yang menyiapkan senjata dan serangan lainnya.
"Semuanya, hati-hati!. Kita tidak bisa sembarangan melawan robot-robot Terminator itu. Shikadai memberiku informasi kalau mereka tidak bisa dilawan dengan genjutsu. Mereka hanya bisa dimusnahkan dengan tinju taijutsu dan ninjutsu tipe serangan dekstruktif. Teknik ninja lainnya tidak berguna. Ditambah lagi mereka dibekali program AI self-learning, mereka bisa belajar dari data pertarungan, membuat strategi, lalu melawan balik. Jadi jangan sia-siakan jutsu apapun, kalau tidak mau jutsu kalian berhasil mereka patahkan."
Sarada maju selangkah, "Mirai-sensei adalah master genjutsu, bukan ninja petarung garis depan. Amaru dan Ryuzetsu terlalu berbahaya jika ikut bertarung. Jadi aku yang berdiri paling depan, tinjuku bisa menghancurkan apapun dan susano'o adalah pertahanan mutlak milikku." Sarada cukup banyak tahu tentang data-data kemampuan ninja Konoha, sehingga dalam situasi ini dia bisa bertindak sebagai pemimpin. Sarada tersenyum pada Bolt yang ada selangkah di belakangnya, "Bolt, aku pasti akan melindungimu."
Mau tidak mau, Bolt dibuat terkesan dengan kesungguhan Sarada yang sangat ingin melindunginya. Sarada adalah orang yang paling bisa ia harapkan dalam kondisi apapun, Bolt benar-benar beruntung memiliki Sarada, tapi,,,,,
Bolt melangkah maju, berdiri sejajar dengan Sarada, "Aku tidak suka dilindungi perempuan. Jangan kira aku kesini tanpa persiapan."
Usai mengatakan itu, Bolt menekan suatu tombol di earphon yang terpasang di telinga kanannya. "JARVIS, berikan aku otoritas penuh pada Byakushiki!."
Bolt berbicara dengan JARVIS yang ada di laboratorium terhubung lewat saluran komunikasi khusus miliknya.
"Yes, Master."
Pemuda berambut pirang denga ahoge itu lalu menyentuh gelang ditangan kirinya.
Byakushiki, Limited Activation
Ditangan kiri Bolt, terbentuk gauntlet berupa armor berbahan metal berwarna putih yang membalut keseluruhan lengannya hingga bahu dengan aksen biru. Sepatu yang dikenakan Bolt juga sedikit bertransformasi, ada lingkaran bercahaya dibawah telapak kakinya.
"Bolt-niisan,,, a-apa yang kau pakai itu?"
Amaru dibuat kagum dengan penampilan Bolt sekarang, beberapa bagian tubuhnya dibalut armor logam yang keras dan yang pasti terlihat,,,,,,,, 'keren'.
"Ini senjata yang kukembangkan sendiri, sebagian dari proyek besar yang ku kerjakan selama ini. Namanya Byakushiki, armor tempur mobile suite berteknologi IS (Infinite Stratos). Gauntlet dilenganku ini belum semuanya, hanya sebagian dari Byakushiki. Senjata yang ku gunakan ini levelnya jauh di atas gauntle ninja generasi II. Walaupun semua ilmuan di dunia ini bekerja sama, perlu waktu 20 tahun bagi mereka untuk bisa mengejar teknologi milikku. Aku membuatnya untuk menopang semua kekuranganku, dan dilengkapi program pengenalan perintah suara untuk memudahkanku mengendalikannya."
Light Saber, Trace On
Benda berbentuk silinder serupa gagang pedang muncul dari ketiadaan ditangan kanan Bolt, dengan mengalirkan chakra ke benda itu, muncul cahaya seperti laser yang berwarna biru sepanjangnya 1,3 meter.
"Pedang buatanku ini lebih hebat dari pedang legendaris manapun, punya sifat metal eater yang mampu memotong baja setebal apapun."
Satu robot terminator terspesialisasi pertarungan jarang dekat, bersenjatakan pedang besar, merengsek maju.
Bolt membungkukkan badannya, membuat posisi seperti start lomba lari,
Gravity Force, Activated.
Bagian berupa lingkaran dibawah sepatu Bolt bersinar lebih terang,
"Gravity force bisa ku gunakan sebagai pendorong untuk bergerak, teknologi yang jauh lebih maju daripada jet dan roket. Aku duluan Saradaaa…!"
Zsshhhtttt...
Bolt melesat maju tanpa meninggalkan hembusan angin, melewati robot besenjata pedang tadi, tak lupa menebaskan light saber ditangannya. Ketika Bolt berhenti, robot tersebut sudah terpotong menjadi dua dibagian perut, jatuh, dan,,,
Bommmm...
Meledak hingga membuat rongsokannya terlempar kesana kemari.
"Bolt...!" Sarada berteriak memperingatkan,
Ternyata ada lagi satu robot melaju ke arah Bolt.
Tanpa kehilangan ketenangannya, Bolt mengarahkan telapak tangan kirinya yang berbalut armor ke robot yang hendak menyerangnya.
Goen Rasengan
Usai mengucapkan itu, dari ketiadaan muncul jilatan lidah-lidah api yang akhirnya berputar cepat membentuk pusaran seperti bola di telapak tangan kiri Bolt.
Territory, Activated
Bolt menciptakan barrier batas teritori berbentuk seperti sarang lebah, berwarna hijau transparan. Dia menciptakannya di antara telapak tangan dan bola rasengan api.
Bola rasengan api lalu membesar, semakin panas, dan menyala lebih terang, hinggaa...
BOOOMMMMM...
Meledak, menciptakan gelombang kejut yang mementalkan robot yang menghadangnya, beserta puluhan robot lain yang berada dikoridor itu. Hawa panas yang tercipta dari rasengan api bahkan mampu melelehkan tubuh robot yang terbuat dari bahan logam, membakar dinding koridor.
Gelombang kejut itu hanya mengarah kedepan menghancurkan robot-robot termintor, sedangkan Bolt dan yang lainnya terlindungi berkat barrier teritori yang dia pasang.
"Tangan kiriku yang dilapisi armor Byakushiki mampu membuat ninjutsu apapun, semua jenis elemen chakra, kekkei genkai, hingga kekkei tota. Aku sudah mengentry lebih dari 5000 macam ninjutsu dari seluruh dunia kedalam database Byakushiki, prinsip kerjanya mirip dengan Gauntlet Ninja Generasi II, hanya saja dengan modifikasi menggunakan perintah suara."
Mirai dan kedua muridnya menatap ngeri sekaligus kagum pada pertunjukkan yang diperlihatkan oleh Bolt. Tidak ada ekspresi lain selain ekspresi itu di wajah mereka. Ini hal yang baru pertama kali mereka lihat, dan pasti mereka bertiga adalah penonton pertamanya. Mirai sendiri sudah cukup banyak tahu dari mulut Bolt tentang proyek yang pemuda itu kerjakan, tapi setelah melihat langsung, hasilnya benar-benar mengejutkan, sungguh diluar dugaanya.
"Hoi, jangan bengong, ayo...! Hima tidak bisa menunggu kita lebih lama"
Dengan perintah Bolt, semua orang bergerak menyusuri lorong koridor, tanpa takut tersesat karena Bolt yang memimpin jalan dengan mode sensornya pasti bisa menemukan Himawari.
Sampai lah lima orang itu di ujung koridor. Sebuah ruangan hangar besar yang ukurannya dua kali ukuran stadion sepak bola. Tinggi atapnya saja diperkirakan mencapai dua ratus meter. Artinya fasilitas yang terletak dibawah tanah ini sangat lah besar.
"Sialan,,, robot-robot itu tidak ada habisnya." Bolt menggerutu kesal.
Ratusan robot tempur sudah bersiaga di ruangan besar itu, ada banyak robot dengan senjata teracung berdiri kokoh di lantai, dan lebih banyak lagi yang sedang melayang. Semua robot sepertinya dilengkapi dengan jet pendorong yang membuat robot-robot itu bisa terbang. Rupanya panggung pertarungan yang sebenarnya baru saja dibuka.
"Bolt-kun, apa strateginya sekarang?" tanya Mirai. Dia agak kurang nyaman dengan posisinya sekarang, tidak bisa membantu banyak karena dia bukan tipe ninja offensive frontline yang bisa menyerang frontal. Apalagi dihadapkan dengan robot, gelas master genjutsu belakang dibelakang namanya saat ini tak lebih dari hiasan tak berguna.
"Mirai-nee. Kau tetap disini, lindungi Amaru dan Ryuzetsu." Bolt menarik nafas panjang lalu menatap sahabatnya yang berkacamata, "Nah Sarada, bagaimana kalau kita bertanding?, Siapa yang lebih banyak menghabisi robot itu, dia yang menang. Yang kalah harus mentraktir makan burger selama sebulan kalau kita semua bisa keluar dari sini hidup-hidup."
Sarada tersenyum manis, sangat manis malahan, terdengar suara kekehan dari mulutnya, "Che,,, kau masih saja ingat makanan favoritmu disaat-saat genting ini. Baiklah, kali ini aku ikut taruhanmu. Kau membuatku senang hari ini, Bolt yang bersemangat seperti dulu, Bolt yang bertarung tanpa takut, Bolt yang kusukai sejak dulu, sekarang ada disampingku. Seperti nostalgia, sudah bertahun-tahun aku tidak melihatmu seperti ini."
"Aku masih sama seperti dulu, hanya saja aku yang sekarang sudah menemukan tujuan dan impian hidupku, yang jauh berbeda dengan ayahku."
"Baiklah, aku juga akan menunjukkan kekuatanku yang tidak pernah dilihat orang lain. Aku pasti akan meraih impianku menjadi hokage." Sarada berseru dengan penuh semangat.
Wuushshsshhhh. . . . . . .
Sosok astral berwarna pink setinggi 25 meter berdiri tegak dengan Sarada yang berada dibagian kepalanya. Sosok astral yang menyerupai seorang samurai wanita cantik berpenampilan khas Zaman Edo dengan setelan berupa kamishimo yang terdiri dari kataginu dan hakama lengkap dengan haorinya. Tak lupa aksesoris kanzashi atau tusuk konde yang menghiasi rambut Susano'o. Empat buah katana tersarung ada dipinggannya. Dua katana dicabut dari sarung dengan kedua lengannya, dan dihunuskan kearah ratusan robot. Inilah wujud Susano'o Lv3 milik Sarada yang ciptakan dengan dua Mengekyou Sharingan aktif berpola seperti bunga teratai.
Slashhh...
Katana besar diayunkan secara horisontal oleh susano'o Sarada. Menghancurkan setengah robot yang berdiri dilantai.
"Kau curang Sarada, maju lebih dahulu tanpa aba-aba."
"Ayo sini, keluarkan semua kemampuan mu, Bolt!"
"Kheh. Jangan remehkan aku,,,!" Bolt mengaktifkan gravity force di kakinya lagi, lalu menggunakannya sebagai tenaga pendorong untuk melesat terbang..
Zzsshhttt,,,,Zzsshhttt,,,,Zzsshhttt,,,,Zzsshhttt,,,,Zzsshhttt,,,,
Terbang dan melakukan manuver zigzag, Bolt seperti tidak terikat gravitasi lagi, bahkan caranya terbang bermanuver bisa disamakan levelnya kehebatannya dengan Naruto yang terbang menggunakan mode terkuat, senjutsu rikudou.
Slice...Slice...Slice...Slice...Slice...
Puluhan robot yang melayang di udara berhasil Bolt tebas dengan Light Saber, membuat robot-robot itu terpotong dan terbelah dua.
Boomm..Boomm..Boomm..Boomm..Boomm...
Semua robot yang sudah dipotong Bolt meledak begitu saja.
Sementara dibawah, diujung koridor jalan masuk keruangan ini,
"Mi-mirai sensei!" Amaru tergagap, "Mereka berdua itu manusia atau bukan sih?"
"Tak usah dipikirkan Amaru-chan. Dunia mereka saat ini berbeda dengan kita. Pertarungan mereka tidak bisa kita capai, jadi lebih baik kita menunggu disini."
"Ya. Aku setuju, Mirai sensei." sahut Ryuzetsu. "Aaahh~~~,,, aku jadi ingin punya alat seperti Bolt-niisan, supaya aku bisa bertarung di garis depan juga, tidak melulu dibelakang mengatur stategi."
"Itu gampang, kau bisa minta pada Shikadai nanti. Mereka punya rancangan lain armor tempur mobile suite seperti milik Bolt-kun. Kalau aku tidak salah ingat, ada Akatsubaki, Blue Tears, Shenlong, Ravale Revive, Schwarzer Regen, Uchinage Nishiki, Mysterious Lady dan Silent Zephyrus. Kau minta saja salah satu, pasti diberi."
"Aaa,,,,, it-" Ryuzetsu jadi merona karena Mirai membahas seniornya yang pemalasnya amat sangat kelewatan itu.
"Amaru-chan kalau mau, juga boleh."
"Hmm, pasti. Kalau Bolt-niisan tidak mau, aku akan memaksanya sampai dia memberiku salah satu armor mobile suite itu." ujar Amaru dengan nada bersemangat.
Kembali pada pertempuran,,, dengan mudahnya Bolt dan Sarada mendominasi. Lebih dari 200 robot telah hancur karena keberingasan mereka berdua.
Bolt mendarat di bahu sosok susano'o milik Sarada. Mereka berdua beristirahat sejenak.
"Kau sudah menghancurkan berapa, Sarada?"
"108. Kau?"
"Sama."
"Jadi kita seri ya?"
"Huuuhhhh,,, lupakan sebentar taruhan kita. Lihat semua robot itu!" ucap Bolt dengan telunjuk mengarah keatas.
"Kenapa,,, mereka semua sepertinya terbang tinggi menjauhi kita ya?"
Tidak ada satupun lagi robot yang berdiri dilantai ruangan itu, semuanya terbang tinggi hingga mencapai langit-langit ruangan yang sangat luas ini.
Bolt menganalisis situasi, "Aku yakin semua robot-robot itu telah mempelajari gaya bertarung kita. Mereka sepertinya berniat menyerang dengan semua senjata mereka dari atas, menghujani kita dengan peluru, misil dan ninjutsu."
"Jadi, bagaimana sekarang Bolt?"
"Aku punya ide. Aku akan memfokuskan semua aliran chakra dari arc reaktor Byakushiki pada satu serangan penghancur, tapi selama persiapan serangan itu territory ku tidak bisa diaktifkan karena tidak ada chakra dari reaktor yang dialirkan ke bagian pertahanan."
"Susano'o ku yang akan melindungimu. Jangan khawatir!"
Bolt menyeringai, "Ya,,, memang itulah yang ku pikirkan."
Sarada menarik Bolt kedalam tubuh susano'o pink miliknya. Kini dia dan Bolt berdiri bersisian didalam kepala susano'o.
Bolt menengadahkan tangan kirinya keatas,
Plasma Rasengan
dia membuat rasengan lagi, namun kali ini ukurannya sangat kecil, bahkan lebih kecil dari sebutir kelereng. Rasengan itu berwarna putih berkilau seperti mutiara.
"Sarada, tolong bawa Mirai-nee dan yang lainnnya kedalam susano'o-mu. Ruangan ini akan hancur oleh seranganku."
"Oke..."
Satu lengan susano'o muncul dari punggung sosok astral itu, menangkap Mirai, Amaru dan Ryuzetsu hingga tiga gadis itu berada didalam perut susano'o. Aman terlindungi disana.
"Bolt-niisan. Apa yang mau kau lakukan dengan rasengan sekecil itu?" Amaru agak ragu.
"Diam dan lihat saja!" titah Bolt.
Bola rasengan seukuran mutiara itu pun bergerak pelan menjauh dari tangan Bolt hingga keluar dari rangka susano'o.
Sementara itu, semua robot yang terbang diatas sudah menghujani Susano'o Sarada dengan ribuan peluru dari kaliber kecil hingga besar, ratusan misil sudah ditembakkan, puluhan bom pun juga dijatuhkan, dan bermacam-macam ninjutsu buatan semua elemen dari gauntlet generasi II yang terpasang di robot-robot itupun juga ikut menghujani. Namun Susano'o Sarada dapat menahan semuanya.
"Sarada,,, bola itu akan meledak, gunakan tangan susano'o untuk mengarahkan gelombang kejut ledakannya keatas.!"
Sesuai perintah Bolt, Sarada menggerakkan kedua tangan susano'onya. Kedua telapak tangan itu dia arahkan keatas, meniru gaya salah satu karakter anime sebelah yaitu jurus 'kamehameha'. Rasengan itu pun bercahaya sangat terang, kelima remaja itu menutup mata mereka saking silaunya. Lalu,,,,
Flaaaaaassssssssssshhhhhh…
KABOOOMMMMMM...
Ledakan super besar tercipta, ledakan yang setara dengan bijuudama dari kyubi. Gelombang kejut yang diarahkan keatas melibas habis semua robot yang sedang terbang. Belum berhenti sampai disana, ledakan juga sampai menghancurkan langit-langit ruangan hangar, membuatnya berlubang hingga diameternya lebih dari 100 meter. Langit cerah tanpa awan tampak jelas dari bawah tanah. Tidak hanya itu, semua material terpental kepermukaan bumi, tidak ada satupun yang jatuh kebawah menimpa sosok susano'o.
Ternyata ruangan yang mereka datangi cukup dalam, sekitar 300 meter dibawah permukaan tanah.
Semua gadis disana terdiam,
Akhirnya Sarada bersuara lebih dulu, "Bolt,,, ka-kau... Bagaimana bisa kau membuat jutsu semengerikan itu?"
Sarada masih belum percaya, sejauh yang dia tahu, tidak ada ninjutsu yang dihasilkan dari Gauntlet Generasi II yang daya hancurnya seperti yang dibuat Bolt, yang sebanding dengan sebuah bom bijuu.
"Itu tadi ledakan rasengan plasma, ukurannya kecil namun ledakannya sangat dekstruktif. Prinsipnya sama dengan reaksi fusi inti atom pada peledak nuklir bom atom hidrogen. Dan hasil ledakannya sama kuatnya dengan bijuudama yang dibuat ayahku ataupun Hima. Kalau aku mau, aku bisa membuatnya 10 kali lebih besar dari tadi."
Semuanya menganga, 10 kali katanya. Yang benar saja! Ini sudah sangat mengerikan, bagaimana dengan sepuluh kalinya?
Setelah tenang, Sarada menghilangkan susano'onya. Kini mereka semua menapak di lantai.
"Yahh,,, aku tidak bisa berkomentar apa-apa. Ini semua tak pernah kubayangkan sebelumnya. Jadi lebih baik kita segera mencari Hima-chan!" kata Mirai.
"Aku sudah menemukan Hima. Dia ada diruangan sebelah kita. Mencari jalan memutar akan lama, jadi kita akan melubangi dinding ruangan dihadapan kita ini." kata Bolt seraya menunjuk dinding yang dia maksud.
"Dinding ini? Kau yakin, Bolt-niisan?" tanya Ryuzetsu.
"Ya. Aku perkirakan dinding ini adalah dinding baja setebal 20 meter."
"Hah,, B-ba-bagaimana bisa kita menembusnya?" Amaru terkesiap.
"Serahkan padaku." Sarada mengepalkan tangan kanannya, tanda byakugou yang ada di dahinya melebar, hingga tanda berupa aksen hitam itu menyebar menghiasi tubuh Sarada.
"Tidak, Sarada. Kalau kau yang menghancurkan dindingnya dengan tinjumu, seluruh ruangan disebelah sana akan ambruk. Itu lebih berbahaya. Aku yang akan melakukannya."
"Bolt, ta-" Sarada hendak protes.
"Railgun kah?" Mirai teringat lagi salah satu jurus mematikan milik Bolt yang dapat menghancurkan apapun yang dilaluinya.
"Ahaa,,, ternyata kau masih ingat, Mirai-nee. Ya, dengan jutsu itu dinding baja setebal 20 meter pasti bisa dilubangi semudah melubangi kertas hanya dengan sebuah koin"
ctekk...
"Terima kasih, Mirai-nee" Bolt menangkap uang koin yang dilemparkan Mirai padanya.
"Hmm, aku tidak akan terkejut lagi kali ini. Sudah berulang kali kau membuat kami shock hari ini, Bolt" ucap Sarada.
"Lihat saja...!"
Bolt memegang koin yang diberikan Mirai dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan kirinya yang berbalut armor Byakushiki. Di tangan itu timbul percikan-percikan listrik yang sangat banyak, berasal dari chakra petir yang dihasilkan sumber energi Byakusihi. Kemudian Bolt menjentikkan jarinya, melempar koin itu.
RAILGUN
SYYUUUU...
Koin tadi terlempar bergerak lurus dengan kecepatan supertinggi meninggalkan jejak kemerahan dilintasannya, juga parit besar di lantai dibawah lintasan itu. Menembus dinding baja setebal 20 meter hingga berlubang sampai ruangan disebelahnya. Lubangnya cukup lebar, berdiameter sekitar 5 meter sehingga dengan mudah bisa dilalui manusia.
Aliran chakra petir statis bertegangan tinggi ditangan Bolt dialirkan ke koin logam. Konsepnya mirip sambaran kilat. Dengan bantuan koin yg dilempar menggunakan jentikan jari kearah target, koin tersebut menjadi media rambat sambaran kilat. Ditambah efek ledakan arus listrik tegangan tinggi, maka koin itu akan terlempar dan bergerak lurus 8 kali kecepatan suara, sambil meninggalkan jejak kemerahan akibat suhu supertinggi mencapai 1 juta 0C yang dapat melelehkan material apapun dalam sekejap.
Panjang lintasan koin terbatas, hanya sampai puluhan meter. Koin tadi akan segera meleleh diudara akibat panas dan kecepatan luar biasa. Jika jumlah chakra petir yang dikeluarkan diatur sedemikian rupa, maka panjang lintasan dapat ditentukan. Oleh karena itu, koin tadi hanya melubangi dinding baja tanpa merusak apapun yang ada diruangan sebelah sana. Lintasan koin diatur hanya sekitar 20 meter, sesuai ketebalan dinding baja.
Dari balik lubang itu, Himawari sedang berhadapan dengan satu robot berukuran besar. Tampaknya gadis itu yang sedang kelelahan. Dia sudah bertarung berjam-jam dengan ratusan robot, jadi wajar kalau dia kelelahan biarpun staminanya banyak.
Himawari menatap balik lewat lubang, dia terkejut, "A-aniki...?"
"Hima-chaaan…!" Amaru berteriak nyaring.
"Kami semua kesini datang untuk menyelamatkanmu, Hima-chan" kata Mirai.
Ryuzetsu mengangguk pelan sedangkan Sarada menampilkan senyum terbaik yang ia punya dibalik wajah datarnya.
"Dimanapun kau berada, aku pasti akan menemukanmu, Hima. Karena aku adalah kakakmu."
Himawari tersenyum tipis. Akhirnya sosok kakak yang selalu membantunya, menolongnya kapanpun dan dimanapun, telah datang ke sisinya.
.
.
.
To be Continued. . . . .
.
Note :Sampai ke penghujung FF ini nanti, akan lebih banyak battlenya. Bolt sudah mengeluarkan kekuatannya, walau masih sedikit. Sarada pun masih banyak kekuatan disimpan. Combo Attack Bolt-Sarada ini baru sebagai awal. Nantikan saja kekuatan penuh mereka.
Materi Fic ini banyak mengambil bahan dari anime lain. Khusus untuk teori-teori dasar tentang sci-fi, aku gunakan materi asli dari dunia nyata. Namun untuk penamaan alat dan senjata serta lain-lainnya, aku meminjam dari berbagai tempat. Susah kalau pakai nama baru buatan sendiri karena harus membuat detail pendeskripsiannya terutama bagian visualisasi. Jadi lebih baik aku menggunakan yang sudah ada saja supaya detailnya bisa kalian bayangkan sendiri dengan mudah, apalagi untuk kalian yang tahu anime lain yang ku jadikan bahan/materi. Kalaupun tidak tahu, tinggal search di Google Picture untuk setiap visualisasi senjata, masalah beres. Ada Armor Mobile Suite IS Byakushiki dan lainnya dari anime Infinite Stratos, lalu Light Saber dari Star Wars, JARVIS dan Arc Reaktor Vibranium dari Iron Man, Goen Rasengan dari Game Ultimate Ninja Storm, dan lain-lainnya. Kedepan nanti, akan lebih banyak lagi teknologi yang digunakan Bolt. Pokoknya kekuatan Bolt tidak main-main. Heheee…
Sarada, punya Sharingan. Sampai tahap Mangekyo, yang kita tahu penggunaan jangka panjang akan berefek kebutaan. Tapi Sarada memiliki tahap lain dari Mangekyo yang tak punya efek samping. Berbeda jalur dengan Eternal Mangekyou Sharingan yang harus ada cangkok mata dari pendonor, ada teknik dan penjelasannya nanti. Susano'o Sarada pun berbeda dari milik Sasuke. Susano'o Sarada berwarna pink merah muda, kalau Sasuke ungu. Tahap Lv1 dan Lv2, masih sama yaitu yang berupa tulang dan yang bertubuh. Lv3-nya berbeda, kalau punya Sasuke berjubah dengan senjata panah, maka punya Sarada menyerupai samurai wanita bersenjata katana dengan setelan pakaian Samurai Era Edo yaitu Kamishimo (menyerupai Kimono dengan pundak lebar). Lalu level Susano'o sempurna, milik Sasuke mengenakan baju zirah khas samurai era Sengoku dan ditambah sayap, kalau milik Sarada,,, masih rahasia. Heheeee… Selain itu, Sarada juga memiliki pengusaan pada Byakugou seperti halnya Tsunade dan Sakura, tenaga supermonster + percepatan regenerasi sel. Bayangkan saja kekuatan penuh Sarada jika semua itu digabung.
Yang terakhir, agar tidak lupa. Selain Bolt dan Sarada, Himawari juga punya kekuatan penuh yang luar biasa. Dia sudah menunjukkannya saat sparring dengan Naruto di chap 15 & 16. Itu saat Himawari belum menguasai penuh kekuatan Bijuu. Nah, sekarang Himawari sudah selesai berlatih di Pulau Kura-Kura. Bayangin aja kekuatan baru Himawari, Kyubi Bijuu Mode yang ditambah Byakugan, senjutsu sennin mode, fullteknik taijutsu Hyuga, dan Hiraishin.
Nah, sudah lumayan banyak profil statistik kekuatan chara utama fic ini kuterangkan, dan inilah yang akan diadu. Pertempuran besar sebagai pengakhir.
Menjawab satu pertanyaan, Kawaki tidak ada. Dia udah dikalahkan Bolt di Movie BTM.
Oh iya, mau promo nih. Aku bikin FF baru, tengok aja di akun ini. Materinya berhubungan dengan Fic ini. Bolt sekeluarga kedatangan tamu dari dunia Naruto yang lain. Baca aja, masih prolog kok.
...
Uzumaki Himawari – 15 tahun
Uzumaki Boruto/Bolt – 18 tahun
Uchiha Sarada – 18 Tahun
Naruto – 38 tahun
Sarutobi Mirai – 21 tahun
Dan chara-cara lainnya umurnya menyesuaikan canon, seperti teman seangkatan Bolt yang seumuran dengan Bolt, teman setim Himawari yang seumuran dengannya juga, serta bapak-bapak dan ibu-ibu mantan Rokie 12 yang pasti seumuran dengan Naruto.
Saya masih punya banyak kekurangan, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran di Kolom Review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.
….
Omake…
Panitia Jounin Exam yang berada di depan pintu masuk, tidak jauh dari arca dewa pengembara, semuanya sedang bersantai, mereka kurang kerjaan karena belum ada satupun peserta yang menemukan jalan keluar dari dalam lokasi survival test. Jadinya mereka bermain-main disana.
Ada yang main kartu, main layang-layang, bahkan yang masih punya jiwa anak-anak malah main petak umpet. Sebagian lagi sedang tidur, lalu lainnya sedang membakar makanan, ada ikan, rusa, dan burung untuk santapan makan siang mereka. Entah bagaimana menyebutnya, yang jelas para panitia ujian tidak melakukan pekerjaanya dengan benar.
Tiba-tiba mereka merasakan tanah bergetar hebat, ada gempa. Meraka semua panik hingga berhenti dengan aktifitas masing-masing. Belum cukup sampai disana,,,,
KABOOOMMMMM. . . . .
Suara keras seperti sebuah ledakan nuklir memekakkan telinga mereka semua, bahkan membuat mereka hampir tuli. Ledakan raksasa dari arah selatan. Beberapa ratus meter dari batas terluar Lembah Keputusasaan lokasi survival test. Saat mereka mendekati tempat ledakan, yang ada hanyalah lubang raksasa yang sangat dalam. Tidak ada sesuatu yang bisa mereka perbuat disana. Semuanya kebingungan, ditambah lagi ada banyak sekali besi rongsoka yang berhamburan, tampak seperti rongsokan robot.
"Apa yang harus kami laporkan pada Hokage-sama?" mereka membatin kompak, takut Sang Hokage akan menghukum mereka karena melalaikan tugas sehingga bisa kecolongan seperti ini.
.
.
