Hola! Apa kabar readers tersayang? Hehehe. Maafkan keisengan author yang naroh tulisan tamat di chap sebelumnya, ya!

Sebenarnya HnY belum tamat :p review dan masukannya ditunggu, ya!

Oh ya, cerita ini akan focus heavily on incest, bagi kalian yang nggak nyaman sama topik ini, kalian sudah author peringatkan ya!

Aku tidak tahu mana yang lebih buruk.

Berbohong kepada anggota keluarga padahal itu jelas-jelas menyakiti mereka, atau mempertahankan sesuatu yang tidak pantas kau miliki.

Selama beberapa bulan ini aku mempertanyakan moralku. Dan jujur saja, saat hal yang ingin kau miliki berada dalam jangkauanmu, tidak butuh waktu lama untuk mendapati dirimu digerogoti oleh ketamakan.

Aku tidak seharusnya memonopoli kedua kakakku...

Aku tidak seharusnya memonopoli kedua kakakku...

Akuー

"Can I have this dance?"

Tangan Itachi terbentang ke arahku, jemari jenjangnya menyita perhatianku. Aku mengenal seluk beluk jari telunjuk, tengah dan jempol miliknya yang akan menyentuh tanganku terlebih dahulu jika aku mengambil tawarannya. Kemudian hangat radiasi tubuhnya akan mengalir melalui kontak ringan tersebut, memicu hangat entah dari mana dalam tubuhku.

Aku mendesah kaget saat dada Itachi bertemu dadaku. Alunan musik lounge jazz dari dalam kamar hotel terus berputar, memberitahu bahwa ia tidak menunggu untuk siapapun.

Aku menggeleng.

"Kenapa?"

Aku membuang mata canggung. Cahaya bulan membuat Itachi terlihat lebih tampan dari biasanya.

"Aku tidak tahu caranya."

"Tapi kau baru saja berputar dan aku menangkapmu."

"Kau menarikku, Itachi." keluhku.

"Kalau begitu," mulai Itachi, kedua tangannya mengubah posisi kami berdua menjadi berhadapan dengan jarak di antara kami.

"Follow my lead."

Aku menggeleng menyerah. Itachi ingin berdansa; berdansa ia dapatkan.

Itachi meletakkan satu tanganku di bahunya, kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku. Ia mengetukkan sepatunya ke lantai balkon beberapa kali dan memanduku bergoyang mengikuti irama saxophone. Setelah dua, tiga kali gagal mendapatkan tempo yang benar, akhirnya Itachi berhasil membuatku menari dengan pantas. Tentunya dengan keringanan darinya; tidak ada satupun gerakan yang sulit, hanya gerakan dasar.

"Not bad."

"Diamlah." keluhku lagi, malu.

Itachi tersenyum. Ia tidak peduli dengan serpihan salju yang terus menumpuk di kepala dan bahunya. Atau sepatu kets yang kukenakan. Atau pakaianku yang juga tidak sesuai untuk digunakan berdansa.

"What's on your mind?"

Tidak ada satu hal pun luput dari perhatianmu, bukan, Itachi?

"Hanya...ekspresi seperti apa yang harus kutunjukkan saat kita mengunjungi kuburan Ayah besok."

Bohong. Bukan itu yang kupikirkan.

Itachi memejamkan matanya. Ia tahu. Tapi memutuskan untuk tidak mempedulikannya.

"Terharu, sedih, apapun itu. Asal jangan menangis."

Aku mengernyitkan dahi. "What?"

"Dia tidak pantas kau tangisi."

"...Itachi."

Aku memekik kecil ketika Itachi menarik pinggangku dengan tangannya dan mendorongku ke bawah, gerakan yang akan terlihat indah bagi yang menontonーnamun tidak ada penonton kali ini, Sasuke sedang terlelap di kamarーsayangnya, ini adalah kali pertama aku mencoba berdansaーwaltz? Flamenco? Tango? Yang mana?!ーdan kurangnya pengalaman membuatku panik, melepaskan genggaman Itachi dan menggapai punggungnya sebagai pegangan.

"...urk."

Itachi mengelus punggungku pelan, seolah menenangkanku. Setelahnya kami kembali berdiri tegak seperti biasa, hanya saja tempo kami berubah kacau karena kini kami berpelukan dan bukannya kembali berdansa.

"...maaf, aku kaget."

"Aku yang minta maaf. Aku seharusnya memperingatkanmu."

Aku mengernyitkan dahi, mata terpejam. Pelukanku bertambah erat. Aku menghirup aroma Itachi dalam-dalam, mencoba mengukirnya dalam ingatan.

"Don't leave."

Deg.

A-apaー

"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi kau menatapku seolah akan pergi jauh." bisik Itachi pelan.

Jantungku berdetak kencang. Aku yakin Itachi merasakannya.

"...aku tidak ke mana-mana."

Aku menggigit bibir. Berbohong tidak terasa menyenangkan. Apa Itachi juga mengetahui kebohonganku barusan?

Itachi melepaskan pelukannya, mencoba menatapku lurus. Aku membalas pandangannya sekilas. Sekarang aku ingin berlari ke dalam kamar dan bersembunyi di dalam selimut. Ke manapun; selain hadapan Itachi. Aku tidak menyukai arah percakapan kami.

"You cannot escape us."

Deg.

Itachi memiringkan kepalanya. "Sasuke."

Saat aku mencoba menoleh, dua lengan kekar menyilang memeluk tubuhku dari belakang. Aku nyaris kehilangan keseimbangan karena terkejut, tapi Sasuke menahanku di tempat, mengeliminasi kesempatanku untuk goyah.

"Sasuー"

Sasuke menggeram. "Berdansa tanpa mengajakku? Kalian curang."

"Kupikir kau tidur." balas Itachi.

"Well, kau bisa membangunkan aku, kan!"

Aku termangu. Ucapan Sasuke tadi...meskipun Itachi tidak mengatakan apapun, aku yakin ia nyaris menyatakan hal yang bermakna sama. Perasaan takut di malam saat Itachi membawa pergi Sasuke merayapiku sekali lagi. Bedanya, rasa itu bertambah dua kali lipat.

"You cannot escape us."

Itu terdengar seperti...ancaman.

"Tentenー"

Aku tersentak, sentuhan dingin tangan Itachi di pipiku membuatku terlonjak. Bisa kurasakan Sasuke yang menempel padaku terheran melihat reaksiku.

"Ahーm-maaf, akuー"

Tatapan Itachi berubah dingin.

"ーtangan Itachi-nii sedingin es, makanyaー"

Tatapan Sasuke padaku terasa menusuk.

A...pa?

"Kau...sungguh berpikir untuk meninggalkan kami?"

Aku menoleh ke Sasuke panik. "Buー"

"Tenten."

Aku menoleh kepada Itachi.

"Aー"

Greb.

"Kenapa kau meninggalkan kami?"

Deg.

Bola mata Itachi tampak dingin dan tidak bersimpatik. Seperti kedua tangannya yang melingkar di leherku.

"IーItachi-niーhii?!"

Usahaku meruntuhkan serangan Itachi ke leherku sia-sia saat pelukan Sasuke ikut bertambah erat. Aku kesulitan bernafas, namun mereka berdua tidak memperlihatkan niatan untuk berhenti.

"Tindakan bodoh." desah Itachi penuh kebencian.

Sasuke tertawa kecil. "Kau milik kami. Kau pikir segampang itu melarikan diri dari kedua kakakmu ini?"

"Ohkーsーstopー"

Itachi berdesis pelan, menyuruhku berhenti meronta sembari mendekat untuk mencium bibirku. Tindakannya itu membuatku mual.

"Kau pikir bisa sembunyi?"

Tidak. Aku mulai kehilangan kesadaranku.

"Kau milik kami." kata Sasuke selagi ia pelan tapi pasti mencoba menghancurkan tulang rusukku.

"If we can't have you..." bisik Itachi lirih, senyuman maniak di bibirnya.

Seseorangー

Sasuke melonggarkan pelukan mematikannya untuk beberapa detik sebelum kembali meremas rusukku dengan kekuatan membunuh.

"...then no one can!"

KRAK!

"NOOO!"

"Tenten!"

Sesosok pria berambut perak memenuhi pandanganku. Tubuh kekarnya menyambutku dalam pelukan hangat. Dadaku naik dan turun dalam upaya memompa sebanyak mungkin oksigen ke paru-paru. Aku nyaris menghempas lelaki di hadapanku sebagai mekanisme pertahanan diri. Tetapi sesuatu tentangnya membuatku menahan diri. Seakan-akan aku bisa mempercayainya.

"Semuanya baik-baik saja."

Mataku bergulir meminjam kecepatan cahaya. Otakku mengenali ruangan berwarna lilac di sekitarku.

"Apーapa yangー" tanyaku kacau, air mata meleleh di pipiku.

"Kau bermimpi buruk lagi. Tapi sekarang semuanya baik-baik saja."

Mimpi?

Laki-laki berambut perak itu melonggarkan pelukannya. Wajah tampannya menatapku penuh khawatir. Jam dinding di kejauhan menunjukkan pukul dua dini hari.

"Kakakーkakak-kakakkuー" seruku cepat, mencoba menjelaskan apa yang barusan kulihat. "Merekaーmencoba membunuhー"

Tidak sanggup menyelesaikan kalimatku, aku menangis tersedu di bahu pria berambut perak. Masih segar di benakku bagaimana mereka bersikap lembut padaku kemudian mencoba membunuhku.

"Shhh. Itu hanya mimpi buruk. Kau aman bersamaku."

Seperti mengurus anak kecil, pria berambut perak itu merangkulku erat. Aku terisak sambil ditimang pelan olehnya, seolah ingin membuatku kembali tidur.

"Tidurlah kembali. Aku akan menemanimu."

Aku mengangguk cepat. Rasa-rasanya, jika bersama pria ini, aku akan mengikutinya ke mana saja.

"...siapa?"

Pria itu bergumam pelan, memintaku mengulangi pertanyaanku.

"Siapa kau...?"

Aku tidak pernah mendapatkan jawaban dari pertanyaanku ketika rasa kantuk yang amat sangat merenggutku. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi sekilas aku melihat bibirnya bergerak cepat. Aku bukan pembaca bibir yang handal, tapi aku berhasil menangkap yang satu ini.

"I'm your new brother."