Eyke kembali bok~ #DITAMPAR
Oke, langsung aja deh... Balas review!
.3 Kapan-kapan ya kalo masalah bikin fanfic humu-nya soalnya nggak selamanya saya kurang kerjaan begini XD #PLAK Si Ipeg nakal sih #SIAPAIPENG Anak Jin sama Wei mungkin saja ikut, hanya saja di sini yang diekspos Lu Xun, jadi ya... Gitu (?) #GIMANA umm... Sebenarnya kalo sama keluarga juga nggak masalah kok :3 Btw makasih udah review~ :D
Ashura Holis682 sebenarnya kemarin-kemarin itu udah update sesuai jadwal sih, habis biasanya telat #PLAK makasih sudah review~ :3
cllylngzHUEEE- LUPA REVIEW HUE- #MEWEK #HOY W-Wah... T-Tau dari mana nih? S-Stalker ya? :"D #NGGAKGITU #DIBAKAR Aaa~ Happy new year too~ : a-aduh kasihan ipeng lol
Zhu Ran: HMPH! *buang muka*
Makasih udah review~ XD
Yuuki moon chansini kupukul :") #NGGAK waa~ happy new year too~ ahahaha~ amin amin X3 makasih yeps *cipika cipiki(?)* Makasih udah review dan baca~ Eh, kebalik, maksudku... Maksih udah baca dan review~ X3
ivana ... Ketelatan saya jangan ditiru ya wahai saudara sebangsa dan setanah air :") s-saya ga punya bahan bakar minyak :D #HOY #BUKANITU maksud saya... Nggak main BBM :") #PLAK DAN DEMI APA SUN QUAN... CAO PI JUGA- #PLOK
Happy new year too~ SALAM KAMBING! #NO
Oke, ehem. Makasih ya saudara sekalian :") langsung saja capcus~
Lu Xun's POV
Hari demi hari terus berlanjut, sampai pada akhirnya sehari sebelum Christmas Eve, acara yang selalu diadakan setiap tahunnya itu. Awalnya aku disuruh Sun Quan untuk pergi bersama Zhu Yuan, hanya saja, ya… Kami membatalkannya.
Aneh, seharusnya aku tidak kecewa. Toh ini hanya ulah iseng Sun Quan terhadapku. Seharusnya, jika dibatalkan, aku tidak usah kecewa. Tapi, entah kenapa…
Kenapa jadi merasa kecewa begini…?
Aku menatap ke luar jendela, pagi hari yang dingin dan turun salju dengan perlahan.
"Ah, salju…" aku bergumam sendiri di kamarku, membereskan tempat tidurku dan menata mejaku yang dipenuhi oleh buku-buku yang belum kukembalikan ke perpustakaan kota, "harus kukembalikan sekarang sebelum lupa…"
Kumasukkan buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan ke dalam kantung plastik yang menanti untuk diisi. Setelah merapikan meja dan memasukkan buku-buku itu, aku beranjak mandi menggunakan air hangat. Bisa beku nanti kalau pakai air dingin.
Walaupun dikata orang aku pyromaniac, tapi aku masih bisa beku, memangnya Zhu Ran?
Ah, entah kenapa, aku jadi ingin ngobrol dengannya.
Tunggu.
Bukan berarti aku mencintainya atau apa, aku masih normal, bukan seperti apa yang dikatakan Author biasanya!
Setelah selesai mandi, aku mengeringkan rambutku yang basah, berpakaian rapi, dan siap untuk pergi ke perpustakaan kota.
Hanya saja…
"H-Halo…"
Di perjalanan, aku bertemu dengan…
Zhu Yuan, dengan rambut pendeknya yang lebih rapi dibanding kemarin.
"Mengembalikan buku? Tujuan kita sama, ya. Haha…" Zhu Yuan tertawa kecil padaku.
"Ya, aku takut nanti tidak kukembalikan ke perpustakaan selamanya." Kataku sedikit tertawa.
"Hahaha! Benar! Aku pernah tidak mengembalikan buku perpustakaan SD, sampai sekarang masih kusimpan!"
"Eh? Buku apa yang kamu simpan?"
"Itu buku dongeng SD. Hehe, aku sangat suka dongeng dulu."
"Oh…"
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa canggung dekat dengannya. Padahal biasanya tidak ada masalah…
Sebenarnya apa yang terjadi padaku?
Setelah beberapa menit kami diam, tiba-tiba terdengar suara bersin mungil yang mengejutkanku.
"Hachim!"
(HACHIM ANAK YANG SEBATANG KARA~ PERGI MENCARI—)
"K-Kaget…" aku melompat gara-gara mendengar suara yang tiba-tiba itu.
"Ahahaha… Maaf, maaf, aku lupa bawa syal hari ini, habis aku buru-buru, sih…"
Tiba-tiba saja, tanganku bergerak sendiri. Kulepas syal yang kupakai dan memakaikannya ke Zhu Yuan. Zhu Yuan terkejut.
"E-Eh?!"
"M-Maaf… Aku… Sudah, pakai saja. Aku tidak apa-apa…"
"Tapi nanti—"
"Tidak apa-apa, Yuan." Aku tersenyum kecil.
"U-Uh… M-Makasih…" jawabnya dengan wajah malu-malu.
Lagi-lagi, kami terdiam selama perjalanan menuju perpustakaan kota.
Apa yang harus kubicarakan lagi? Keadaan jadi aneh kalau saling berdiam diri begini…
"Anu… Kak Lu." Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, aku pun ikut terhenti, menatapnya dengan bingung.
"Umm… Engg… Nggak, nggak jadi…"
"Eh?"
"S-Sudah, kita harus segera ke perpustakaan kota!"
Setelah kami sampai ke perpustakaan kota, aku mengembalikan buku yang kupinjam, kemudian melangkah kearah Zhu Yuan yang sedang memilih buku yang ingin dia pinjam.
"Yuan, boleh aku ke rumahmu setelah ini? Aku ingin bertemu Zhu Ran."
"Eh? Jadi beneran gossip itu?" Zhu Yuan melompat kaget.
"Hah…? Gossip?"
"Iya, gossip kalau kamu suka sama kakakku."
…
Aku tahu ini dari siapa.
(Dudududu~)
Author-san…
Tunggu pembalasanku.
"Ng-Nggak! Jangan percaya sama Author-san!"
"Ahahahaha! Iya, iya… Aku tahu kalau Author-san pasti bercanda juga…" Zhu Yuan tertawa kecil kemudian lanjut mencari buku.
(Tapi, kalian sudah official…)
AUTHOR-SAN…
(Maaf mengganggu, silahkan.)
"Ah, ini dia… Aku sudah mendapatkan bukunya, kalau begitu, ayo kita ke rumahku."
"Xunnie~ Aku sangat merindukanmu~" Zhu Ran hampir membunuhku dengan pelukannya.
"J-Jangan-jangan apa yang dikatakan Author-san benar…" Zhu Yuan merinding, kemudian pergi ke kamarnya di lantai dua.
"R-Ran… A-Aku masih normal! Aku datang kemari untuk—"
"Menemuiku, bukan?! Iya, 'kan?!" Zhu Ran menampakkan wajah bahagia dengan bunga-bunga bermekaran di belakangnya.
Aku hanya bisa diam. Speechless, sekaligus sweatdrop. Kenapa aku harus bertemu dengan orang segirang ini dan tingkat pyromaniac-nya melebihiku…?
Satu hal lagi…
Kenapa harus orang yang pakai eyeliner tebal dengan rambut landak…?
"HEI, AKU DENGAR APA YANG KAU KATAKAN, XUNNIE—" Zhu Ran mulai mencekikku.
"B-Beginikah kamu menyambut tamu?! H-Hei! S-Sesak!" teriakku meronta.
Setelah pertengkaran kecil kami(?), akhirnya kami duduk di sofa ruang tengah sambil menonton acara televisi.
"Di luar dingin sekali…" aku melepas jas musim dinginku.
"Kalau mau, berdiam dirilah di sana." Zhu Ran menunjuk kearah perapian yang menyala.
Wow. Api…
A-Ah, sudahlah. Aku mau tobat.
Aku mengangguk dan pergi ke dekat perapian di sana, menatap api yang berkobar itu. Tiba-tiba saja, Zhu Ran datang dan duduk di sebelahku.
"Hei, lihat, kesukaan kita berdua." Zhu Ran pasang evil smirk.
Jujur saja, aku jijik saat dia bicara begitu.
"Bercanda~ Bercanda~ Oh, iya. Kok kalian bisa samaan tadi?"
"A-Apa maksudmu…?"
"Kamu sama Yuan. Bisa bareng gitu."
"Oh, kami bertemu di perjalanan ke perpustakaan… Lalu aku datang kemari untuk bilang padamu. Suatu hal."
"Hmm? Apa itu? Kau menyukaiku?"
Aku langsung memukulnya dengan papan kayu yang entah berasal dari mana.
(Hei, itu aku yang siapin!)
Oh, makasih Author-san.
"A-Aduh…. Kamu sekongkolan sama Author, ya?!" Zhu Ran mulai mewek di hadapanku.
"Makanya nggak usah terpengaruh sama dunia maya! Sekali lagi kupukul lagi, nih!"
"Iya, iya… Maaf… Jadi, apa?"
Aku terdiam, meletakkan papan kayu yang kubawa tadi di lantai.
"Aku… Entah kenapa saat aku bicara dengan Yuan, aku merasa… Ada yang aneh…"
"Maksudmu… Canggung?"
"Ya, sejak kejadian kemarin-kemarin… Entahlah, aku jadi tidak bisa bicara dengan normal dengannya."
"Hmmm… Mungkin semenjak kalian tidak jadi ke Christmas Eve, itu?"
Aku terdiam, hanya menatap api yang ada di hadapanku dengan tatapan… Sedih, mungkin?
"Xunnie, biar kutanya satu hal."
"Apa?" jawabku tidak bersemangat.
"Apakah kau… Menyukai adikku?"
Mendengar pertanyaan itu, aku langsung melompat kaget. Wajahku memerah.
"A-A-Apa y-yang kau—"
"Sepertinya begitu… Kau menyukainya, bukan?"
"A-A-Apaan?! Umm… Err… Uhh…"
"Ayolah, aku bicara serius sekarang. Apa kau menyukainya? Karena… Selama pengamatanku saat kalian berdua bersama… Kalian itu… Benar-benar seperti ditakdirkan? Itu hasil pengamatanku, sih. Nggak tahu kata orang."
"Aku… Umm…"
"Hei, hei, biar kujelaskan. Melihat ekspresimu saat tahu kalau dia menolak datang ke Christmas Eve, wajahmu terlihat sedih, padahal saat Sun Quan memutuskan kamu dan Zhu Yuan berpasangan, kamu menolak. Lalu, apa wajah sedih kemarin itu kalau bukan cinta?"
"A-Aku… Aku… Aku tidak… Tahu…"
Aku tidak berpengalaman dalam hal seperti ini…
"First love?" Zhu Ran menggodaku dengan wajah menyebalkan.
"E-Eh?! Ngaco k-kamu!"
"Xunnie, oh Xunnie… Otakmu boleh saja cemerlang begitu, tapi kamu sangat nol dalam hal cinta… Oke, biar kuperjelas sekali lagi. Kamu suka dengan Zhu Yuan."
"Ssst! J-Jangan sampai dia dengar!"
"Tenang, dia sedang asyik di kamarnya, nggak dengar lah!"
Wajahku masih memerah.
"Kalau ada apa-apa, bicara saja padaku. Tenang, kakaknya Yuan yang tampan ini senantiasa membantumu dalam hal cinta~"
Jangan-jangan…
Zhu Ran adalah cupid.
"HEH, MENTANG-MENTANG AKU PEMANAH TERUS KAMU NYIMPULIN AKU MALAIKAT CINTA?!" Zhu Ran menjewer telingaku.
"A-ADUH SAKIT, RAN! LEPASIN—"
"Tapi… Bagus juga jadi malaikat cinta…"
"R-Ran, apanya yang malaikat cinta, yang ada kamu malah bikin orang cinta sama api—ADUDUDUDUH!"
Lagi-lagi kena jeweran dari Zhu Ran.
(Kalian kok unyu banget, sih… Gemes liatnya… *nosebleed*)
Thor, gantian…
(Nggak mau, aku capek.)
"Ya sudah gantian sini sama aku~" Zhu Ran girang.
Zhu Ran's POV
"Yuan~" aku mendatangi adikku yang paling imut ke kamarnya.
"Hmm? Ada apa? Kau mengagetkanku. Kak Lu mana?"
"Dia sudah pulang. Hei, aku ingin tanya padamu. Kenapa kamu nggak mau ke Christmas Eve? Bukankah itu acara yang kamu tunggu-tunggu?" tanyaku lalu tiduran di tempat tidurnya.
"Umm… Aku… Tidak mau saja."
"Oh, ayolah, Yuan… Kau tidak bisa menunggu setahun lagi untuk ikut. Setahun lagi, memangnya kamu bisa bertemu dengannya lagi?"
"Aku bisa berpasangan dengan siapa saja, tidak harus dia, kok." Zhu Yuan membuang mukanya dariku.
"Yuan, dia sangat… Sangat ingin berpasangan dengan—"
"Kalau terjadi hal seperti kemarin, aku tidak mau."
"Yuan—"
"Kenapa, sih?! Kakak sudah merusak mood siang ini! Sudah kubilang kalau aku tidak mau pergi! Aku takut terjadi apa-apa seperti kemarin! Aku salah apa?! Kak Lu yang mengajakku dan kenapa aku harus diperlakukan seperti itu?!"
Sekarang aku terdiam.
"Pokoknya… Pokoknya aku tidak mau! Sudahlah! Jangan bahas hal ini lagi! Aku mau ke dapur du—"
"Lu Xun menyukaimu."
"… Jangan ngomong yang bukan-bukan, kak."
"Tadi dia bertanya padaku, tentang perasaannya saat bersama denganmu. Dia benar-benar menyukaimu, Yuan."
"Tidak mungkin. Aku tidak percaya. Aku mau ke dapur."
"Tunggu, Yuan!" dengan cepat aku memegang pergelangan tangannya, mencegahnya untuk kabur, hanya saja, ia melepaskannya dan berbalik kearahku.
"APA LAGI?! SUDAH CUKUP!"
"Yuan, dengarkan aku du—"
"AKU MAU KE DAPUR DULU, KAKAK BODOH! APA-APAAN, SIH?! AKU TIDAK MENYUKAI KAK LU SAMA SEKALI!"
Aku terdiam, kemudian membiarkannya pergi.
Sayang sekali, Lu Xun…
Perasaanmu tidak sampai padanya.
Lu Xun's POV
Umm… Sudah kembali ke aku? Baiklah…
Saat aku dalam perjalanan pulang, aku menyadari sesuatu…
Bisa-bisanya aku lupa memakai jas musim dinginku…
"HACHIM! D-Duh… Aku harus kembali…"
Langkahku berbalik, menuju ke kediaman Zhu untuk mengambil jas musim dinginku yang tertinggal.
Saat berada di depan pintu rumah, aku mengetuknya.
CKLEK!
"Ya ada yang bi—Kak Lu…"
Aku terkejut. Kulihat Zhu Yuan yang seperti habis menangis.
"A-Anu… Kamu… Tidak apa-apa? Apa yang terjadi?"
Segera ia hapus sisa-sisa air matanya itu, "apa? Aku tidak apa-apa, kok."
Pasti terjadi sesuatu denganmu, Yuan…
"Anu, aku hanya ingin mengambil jas musim dingin milikku yang tertinggal."
"Bisa-bisanya kamu meninggalkan benda penting di cuaca seperti ini, Kak Lu… Masuklah, aku tidak tahu kamu menaruhnya dimana."
Langsung saja aku mengambil jasku setelah diperbolehkan masuk oleh Zhu Yuan, kemudian memakainya, dan segera pulang ke rumah.
"Tunggu, Kak Lu…"
"Hmm? Ada apa?"
"Umm… Hati-hati."
"O-Oh, tentu saja. Kalau begitu, permisi…"
Sepertinya bukan itu yang ingin ia sampaikan, tapi apa, ya?
Entahlah, setelah dari rumah Zhu Ran, aku terus kepikiran apa yang landak eyelineran itu katakan. Ya, memang, aku belum punya pengalaman cinta sama sekali. Tapi, apa mungkin? Tapi, ada benarnya juga, sih… Aku terus kepikiran soal Zhu Yuan. Pokoknya, ada sesuatu yang tidak bisa aku ucapkan dengan kata-kata. Perasaan aneh…
"Eh, halo Kak Lu Xun! Apa kabar?"
"Lho? Cai Hua? Sedang apa?"
"Habis belanja. Kakak sendiri?"
"Habis ambil barang yang tertinggal di tempat Zhu Ran."
Aku bertemu dengan Cai Hua, adik kelasku sekaligus teman dari ekskul memanah.
"Oh iya, Kak Lu Xun, bagaimana dengan Yuan? Setelah kejadian itu, kalian jadi…"
"Kami tidak apa-apa. Hanya saja… Sedikit canggung." Kataku sambil menghela nafas.
Tiba-tiba saja, Cai Hua menarik tangan kiriku.
"E-Eh?" aku kaget, hampir saja jatuh.
"Ikut aku! Sepertinya kamu butuh sesuatu untuk membangkitkan mood-mu hari ini!" Cai Hua tersenyum kearahku, lalu membawaku ke suatu tempat, masih dengan menggandeng tanganku.
Kami tiba di suatu tempat, seperti café, hanya saja mereka tidak menyediakan makanan berat. Mereka hanya menyediakan berbagai jenis parfait, cake, dan manis-manis lainnya. Umm, jujur saja, aku sangat suka dengan hal seperti itu. Tapi, jangan pernah anggap aku cewek, aku manly.
"Wuah~ Parfait yang kamu pesan sepertinya enak~" Cai Hua tersenyum melihat parfait yang aku pesan.
"I-Ini jadi mengingatkanku pada… Uh…"
"Eh? Kenapa?"
"Ng-Nggak apa-apa, kok. Ahahaha…" kataku tertawa maksa.
"Coba dulu saja. Enak kok! Aku sering berkunjung ke sini dengan teman-temanku."
Aku mengangguk, kemudian mencobanya sedikit demi sedikit…
Haup.
Nyem…
Hmm…
"Ini… ENAK!" mataku berbinar.
(Ya, Lu Xun sudah masuk mode ceweknya)
AKU MANLY.
"Sudah kuduga~ Oh, iya. Aku sudah bicara dengan sekumpulan fangirlmu."
"UHUK!"
"E-Eh, m-maaf… Umm… Katanya, mereka tidak ada masalah kalau kamu bersama dengan Zhu Yuan. Mereka bukan orang-orang yang kemarin, kok. Mereka hanya fangirl biasa… Bukan semacam orang-orang yang kemarin. Tenang saja."
"O-Oh… Tapi… Kami membatalkannya."
"Haah… Iya, aku tahu itu. Kau sudah bilang begitu padaku…"
Aku terus saja menikmati parfait yang kupesan, mau bagaimana lagi, ini enak.
"Kak, aku mau tanya. Ini soal Zhu Yuan."
"Hmm?"
"Kak Lu Xun punya perasaan dengannya?"
Tanganku berhenti menyendok parfait yang daritadi kulahap. Hening, menatap Cai Hua dengan bingung.
"A-Aku hanya menebak! Habis, setelah aku lihat wajah kakak kemarin-kemarin…"
"Zhu Ran juga berkata begitu padaku tadi." Kataku kembali menyendok parfait itu.
"Masalahnya…"
"Masalahnya?"
"Kemarin Yuan bilang… Dia nggak ada perasaan denganmu, kak Lu Xun."
Lagi-lagi aku berhenti menyendok.
"B-Bukan berarti kakak harus menyerah segala macam! Tapi, aku yakin! Seratus persen yakin kalau sebenarnya Yuan menyukaimu juga! Aku yakin itu! Dia mengatakannya dengan takut-takut, kok! Pasti sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu!"
"Ahahaha… Sudah, aku tidak apa-apa kok kalau pun dia benar-benar tidak menyukaiku." Kataku senyum lalu kembali menyendok parfaitku.
Cai Hua menatapku dengan sedih.
Ini bukan perasaan cinta, kok.
"Ah, aku harus segera pulang. Terima kasih sudah mengajakku bicara hari ini. Sampai jumpa." Aku melangkah pergi menuju kasir untuk membayar parfaitku, kemudian pergi dari café itu.
Cai Hua's POV
Setelah mendengar apa yang dikatakan Kak Lu Xun kepadaku, aku langsung mengambil handphone-ku. Aku punya rencana lain untuk menyatukan mereka. Sebenarnya, agak sakit juga, aku ingin sekali dengan Kak Lu Xun, hanya saja… Ya sudah, tidak apa-apa. Toh, aku juga ditolak.
"Halo? Dengan Zhu Ran paling tampan se-Dynasty Warriors~"
"Kak Zhu, aku ada ide, mau membantuku besok?"
"Eh? Besok? Memang kenapa?"
"Ajak adikmu ke Christmas Eve. Bilang saja, aku ingin menemuinya."
"Eh? Oh… Akan kucoba."
"Kabari aku ya, kak."
Ya, aku punya rencana lain.
Setelah mendengar perkataan Zhu Yuan kemarin, saat dia bilang dia tidak ada perasaan apa-apa dengan Kak Lu Xun, sepertinya itu bohong besar. Aku yakin seratus persen, kalau dia itu sebenarnya suka, hanya saja dia tidak bisa mengutarakannya kepada orang lain. Ia memendam sendiri perasaannya. Tidak ingin siapa pun tahu, termasuk Kak Lu Xun, orang yang ia cintai.
Kalau Kak Zhu Ran berhasil mengajak Zhu Yuan, aku juga harus berhasil mengajak Kak Lu Xun ke Christmas Eve.
Semoga saja rencana ini berhasil...
Kembali ke Author
Sore hari, beberapa jam sebelum Christmas Eve berlangsung…
"Yuan~ Jadi, 'kan nanti? Kasihan si Cai Hua kalau nggak jadi."
"Iya, iya… Tapi kenapa harus saat Christmas Eve?"
"Mana aku tahu… Sebenarnya aku malas, tapi dia menginginkanku ikut juga…"
"Ya sudah, aku berpasangan dengan kakak."
"Nggak mau~"
Zhu Ran kena jepret adiknya.
Saling jepret-jepretan karet, tiba-tiba handphone Zhu Ran bergetar.
"H-Halo? Kaget…"
"Kak Zhu? Nanti jadi?"
"Iya. Kami akan ke sana, kok. Lalu… Bagaimana?"
"Akan kuusahakan."
Pip!
"Hei, ngapain bisik-bisik begitu? Mencurigakan…" Zhu Yuan pasang wajah kepo.
"Nggak, nggak apa-apa. Sudah, siap-siap dulu sana!"
"Tapi masih ada wak—"
"SIAP-SIAP DOANG, HARUS GITU SETENGAH JAM SEBELUMNYA BARU SIAP-SIAP?"
"S-Santai kenapa?! Iya, iya! Kakak bawel!"
Baiklah, kita fokus ke Cai Hua sekarang.
Cai Hua sedang berada di depan rumah Lu Xun, mengetuk pintunya secara perlahan.
"Kak Lu Xun? Ini aku, Cai Hua…"
Tidak ada jawaban…
"Apa aku telepon saja, ya…?" Cai Hua langsung memainkan jarinya untuk menghubungi Lu Xun.
Pip!
"H-Halo…? Siapa…?"
"Ini aku, Cai Hua. Kak, kamu dimana?"
"Ha? Aku… Aku di kamar, kenapa?"
"Aku ada di depan pintu rumahmu. Boleh kemari sebentar? Jangan lupa bawa jas musim dingin dan syal."
"Eh? Buat apa?"
"Sudah, ke sini saja."
Lu Xun bergegas merapikan dirinya dan mengenakan pakaian sesuai dengan yang dikatakan oleh Cai Hua, kemudian menemui Cai Hua di bawah.
Cai Hua's POV
Aku menanti Kak Lu Xun selama lima menit, menemuiku dengan pakaian yang sesuai dengan perkataanku, kecuali satu…
"Dimana syalmu?"
"Eh? Ah… Masih dipakai Yuan, ahaha…"
"Ya sudah. Tidak apa-apa."
"Err… Memangnya ada apa?"
Aku terdiam, menatap Kak Lu Xun dengan yakin. Apakah aku bisa melakukannya? Kalau Kak Zhu Ran sih pasti bisa, dia adiknya, pasti kakaknya lebih bisa dipercaya. Aku? Apakah aku bisa membawanya ke tempat yang sudah ditentukan? Ya, aku berniat membawa Kak Lu Xun ke tempat Christmas Eve, dimana Kak Zhu Ran juga membawa Zhu Yuan ke sana. Kami bekerja sama untuk mempertemukan mereka.
Tapi, apakah aku bisa…?
"Err… Cai Hua?"
"Kak. Maafkan aku sebelumnya."
Aku tahu, aku harus melakukannya.
"Eh? Apa maksudm—HUAAAA!"
Kutarik tangan Kak Lu Xun dengan kuat dan berlari menjauhi rumah Kak Lu Xun, berlari menuju tempat peryaaan Christmas Eve berlangsung.
"Tunggu! Cai Hua! Kita mau kemana?!"
Aku tidak menjawab pertanyaannya, hanya terus berlari menariknya dengan kuat, tidak akan kulepaskan.
Aku harus pergi…
"Cai Hua! Kau mau membawaku ke acara Christmas Eve?!"
"Nanti… Kau akan tahu…!" jawabku terengah-engah sambil berlari.
"Tunggu! Aku tidak mau ke san—"
"Sudah! Ikuti saja aku! Jangan berani-berani melepas tanganku dari tanganmu!"
Kulihat wajah Kak Lu Xun yang hanya bisa pasrah kubawa ke tempat yang sudah ditentukan.
Acara Christmas Eve sudah dimulai, memang sangat ramai, tapi tidak jadi penghalang untuk menemui duo Zhu yang katanya sudah berada di tempat. Aku masih menarik tangan Kak Lu Xun, tapi tidak dengan berlari, aku berjalan menelusuri jalanan yang ramai itu.
"Cai Hua… Jangan bilang kalau kamu mau mempertemukanku dengan…?"
"Ya. Aku akan mempertemukan kalian berdua."
"Kenapa…?"
"Kamu menyukainya, bukan?"
"E-Eh?! S-Siapa yang bilang begitu?!" wajahnya memerah.
Sudah kuduga, kamu menyukainya.
"Terlihat jelas dari wajahmu."
"U-Uhh…"
Orang ini benar-benar tidak bisa melawan, ya? Mengikutiku seperti anak bebek yang mengikuti ibunya. Pasrah…
"Ooy~" seseorang melambai kearahku.
"Ah! Kak Zhu! Lho? Dimana Yuan?"
"Dia sedang ke kamar mandi. Oh, hai, Lu Xun!"
"Emm… Uhh…"
"Ini kesempatanmu, Xunnie~" Kak Zhu Ran mendekati Kak Lu Xun lalu merangkulnya.
"Tapi, Ran—"
"Sudah. Katakan saja…! Ah, Yuan!"
"Maaf menunggu la—Eh…?"
Mata mereka berdua bertemu.
Terlihat Kak Lu Xun menatap Zhu Yuan dengan pipi memerah, sedangkan Zhu Yuan hanya menatap Kak Lu Xun kaget.
"Nah, sudah kumpul semua, 'kan? Ayo kita—"
"Kak, sudah kubilang 'kan kalau aku tidak ada—UPP!"
Kak Zhu Ran langsung menutup mulut adiknya dengan tangan kanannya.
"Ayo kita jalan-jalan~"
"Ide bagus, kalau begitu, Kak Lu Xun sama Yuan, ya?"
"E-EEEH?! KOK GITU?! Tunggu dulu, Cai Hua!"
Mereka berdua dengan terpaksa berjalan di belakang kami. Aku harap ini akan berhasil…
Lu Xun's POV
Aku sudah bisa menebaknya, tiba-tiba Cai Hua menyeretku kemari, pasti ada maksudnya dan pasti ada hubungannya dengan Yuan. Ternyata benar. Pada akhirnya pun, kamu berdua pergi ke acara Christmas Eve. Padahal, kami berdua tidak ingin pergi.
Aku menatap Cai Hua dan Zhu Ran sedang berbincang mengenai sesuatu. Rasanya aku ingin bergabung, tapi…
Bagaimana dengan Yuan?
Kami hanya saling diam. Tidak ada interaksi sama sekali.
"Umm…"
Ah, sepertiya Yuan ini mengatakan sesuatu.
"Ada apa, Yuan?"
"Pada akhirnya… Kita pergi juga, ya? Haha…"
"Ah, iya. Tapi maaf, aku nggak bisa kasih kado, ini mendadak, sih."
"Iya, kita nggak bisa tukar kado atau semacamnya…"
Aku menatap kearah Zhu Ran dan Cai Hua. Oy, oy. Kalian nggak kencan 'kan? Setidaknya ajak bicara kami berdua. Aku nggak tahu harus bagaimana lagi!
"HUOO~ API~" Zhu Ran mulai kegirangan melihat api yang berkobar dari kompor sebuah toko makanan kecil.
Anak ini…
"Kak, nggak boleh gitu! Malu-maluin!" Zhu Yuan langsung menyeret kakaknya pergi.
"Eh, ada tempat foto bagus, tuh!" Cai Hua menunjuk kearah pohon natal yang sangat besar, "mau foto-foto di sana?" tanyanya kepadaku.
"E-Eh? B-Boleh deh…"
Kami akhirnya melakukan foto di sana. Awalnya Cai Hua yang narsis duluan, lalu Zhu Ran, dan kemudian…
"Ayo, kalian foto berdua!" Cai Hua yang memegang kamera tersenyum kearahku dan Yuan.
"E-EH?! T-Tapi kalian cuma sendiri—"
"Nggak apa-apa, Yuan. Nggak mungkin aku foto sama kakakmu yang sudah punya orang lain ini. Nanti aku dikira apa, lagi…"
"U-Uhh… Baiklah! Ayo, Kak Lu!" dia menyeretku dengan malu-malu.
Setelah mengambil foto, kami berjalan lagi. Hanya saja…
"Let's Go!" Zhu Ran tiba-tiba menyeret Cai Hua dengan girang dan lari menjauh dari kami berdua.
"H-HOOYY! MAU KEMANA?!" teriakku mengejar mereka bersama dengan Zhu Yuan.
Karena terlalu ramai, pada akhirnya kami terpisah jauh…
"Kakak aneh-aneh ah, bete!" teriak Zhu Yuan kesal.
"Ah, lebih baik kita pergi mencari mereka—"
"Nggak usah, Kak Lu! Nanti juga mereka kemari. Nggak mungkin seorang kakak tega meninggalkan adiknya!"
"Ahahaha… Benar juga…"
"Umm… Mumpung berdua, aku mau ngomong sesuatu. Sebenarnya dari kemarin mau kubicarakan, sih. Hanya saja… Nggak enak aja."
"Hmm? Ada apa?"
Zhu Yuan terdiam sesaat, kedua tangannya berada di balik tubuhnya dan kaki kanannya bermain-main dengan salju yang ia injak.
"Apa benar…?"
"Hmm? Benar apa?"
"Apa benar kalau Kak Lu… Menyukaiku?"
EHEM!
Mari kita nobatkan...
LU XUN, KISAH ROMANCE TERPANJANG DARI ZHAO YUN MAUPUN ZHU RAN.
*Tepuk tangan meriah*
Lu Xun: Umm... Err... Hehe...
Zhu Ran: AKU KARAKTER YANG DICINTAI AUTHOR NGGAK PERNAH DAPAT BEGINIAN- QAQ
Iya deh, mari nobatkan ZHU RAN SEBAGAI ORANG YANG SELALU DIBUAT NGGAK BENER SAMA AUTHOR!
*Tepuk tangan super meriah*
Zhu Ran: HOY! QAQ
Cukup. Oh iya, seperti biasa, INI SUDAH HAMPIR MASUK SEKOLAH LAGI. Jadi, mohon maaf kalau terlambat ya update-nya. Ya, tahun 2015, UN tinggal sebentar lagi, jadi... Ya, tahu sendiri lah bagaimana sibuknya anak-anak yang mau pada UN dan mau pada lulus? :") #plok Jadi, mohon maaf jika terlambat. Jadi, jangan sampai ada yang ngamuk nagih-nagih ya XD #SIAPA #KAGAKADA
Sukses buat kalian semua dan sampai jumpa di chapter depan~ *lambai tangan*
