~Reply Review~

Fang2: Wah~~~ makasih... XDDDDD Jiang Wei juga ama Yan Lu juga titip pesen semoga sukses ama FFnya juga~~~ XDDDD

IXA Cross: Lahhhh~ habis ini Suhu Zhuge Kongming bakal muncul, kok~ tenang ajaaa~ Dan tentang Yan Lu, ya begitulah dia... XDDDD cewek perkasa~

Mocca-Marocchi: Yups~~~ wkwkwkw... lagian kan nggak apa saya pengen eksis juga di FF saya sendiri~~ *dinuklir ampe jadi partikel gara2 narsis*

Putri: Wah, kalo bisa kasih tau dengan cara segampang itu, si Yan Lu udah saya kasih tau dari awal... XDDDD *dinuklir*

Rudolf Rayquaza: Yaaaayyy! semangat 45 ya bacanya, biar bisa ampe tamat~~~ *dinuklir tenan*

Fei Qi: Waduh~ Hmmm... Zhao Yun keluar *BEWARE! SPOILER STARTS HERE!* mungkin 3 ato 4 chap lagi... *SPOILER ENDS HERE* Dan tentang di Wu ada buah Yangmei dan di Shu ada buah Dao, sebenarnya ini cuma ada di FF saya aja... XDDDD Di China 2 buah ini tumbuh dimanapun... wkwkwk... Kalo Wei, nah berhubung di cerita saya Wei itu bukan tanah subur (meski Wu juga kurang subur juga, sih...) jadi saya nggak bikin ada buah khas di sana... XDDDDD

Fansy Fan: Hehehe... You'll see that soon! XDDDD Hehehe...

Ahhhh~ nggak kerasa kita udah nyampe di chap 50! Kalo ini perkawinan, maka kita udah nyampe di perkawinan emasssss~~~! *dinuklir* haissshhh~ ngomong apaan, toh... ==a Wokey, berhubung kita udah nyampe chap 50 AKA setengah dari seratus, sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih sebesar-besar-besar-besar-besar-besar-besar-nya pada semua yang udah baca cerita saya. Dan terlebih khusus lagi buat semua yang selama ini sesudah baca yang telah menyempatkan waktunya yang sangat berharga untuk mereview cerita saya yang asli nggak penting ini. Sekali lagi, duo xie... m(_ _)m Review-review anda bagaikan minyak tanah yang bikin api semangat saya makin berkobar2~~~ Dan juga buat yang udah baca part 1 yang nggak kalah cacad nan hancurnya~~~ terima kasih untuk segala support dan dukungan anda... Moga2 cerita ini nggak mengecewakan sodara yang udah menyempatkan diri untuk membaca~~~

Wokey, sekian sepatah-dua patah kata dari saya untuk merayakan chap yang ke lima puluh ini... Makaseh~~~

Dan, sebelum kita mulai dengan chap 50 ini, saya mau memberikan WARNING karena di chap ini bakal ada violence... Yah, saya udah berusaha bikin supaya violencenya se-implisit mungkin... tapi kalo bagi sodara yang merasa nggak suka dengan kekerasan, mendingan bagian tersebut di-skip aja...

Warning yang kedua adalah, maaf, di chap ini ada chara-bashing alias menjelek2kan beberapa character. Yups... saya tau character2 ini nggak sejelek itu (alias di cerita saya mereka termasuk OOC...) Tapi, yah~ demi kelancaran cerita, apa mau dikata... Yang pasti, sodara, seorang PyroMystic tidak mungkin menjadikan canon-character sebagai main-antagonist ato villain...

Wokey! Happy reading! ^^


Lu Xun

Nggg...?

Dimana aku?

Heran, kenapa saat aku membuka mata, semuanya tetap gelap? Lalu, kenapa aku terbangun di atas tempat yang keras begini? Seingatku aku masih berada di Istana Cheng Du, bukan? Dan kalau tidak salah kemarin aku masih tidur di Wenchangdian, di atas sebuah pembaringan yang nyaman. Jadi, kenapa aku berada di tempat yang keras dan dingin ini sekarang?

Oh, aku baru sadar. Rupanya mataku ditutup dengan sehelai kain yang diikat.

Segera aku menggerakkan tanganku untuk melepaskannya. Tetapi, hei! Tanganku terikat! Bahkan tidak hanya itu, kakiku juga! Sekujur tubuhku, semuanya!

Celaka... kenapa lagi ini?

Akhirnya aku menyerah, pasrah berusaha melepaskan diri. Mulutku sendiri disumpal dengan benda yang sepertinya adalah sebuah botol kaca, sehingga aku tidak bisa minta tolong pada siapapun. Yang bisa kulakukan sekarang hanya mengatur nafasku yang kacau karena panik. Dimana aku sekarang, aku juga tidak tahu. Sampai akhirnya... beberapa saat kemudian... aku mendengar suara langkah kaki mendekat.

Tak lama kemudian, sebuah tangan dengan kuat mencengkeram pergelangan tanganku yang masih terikat kuat. Kemudian tubuhku diseretnya dan dijatuhkan di atas sebuah kotak besar yang sepertinya terbuat dari kayu. Orang yang tidak kukenal itu mengikat tanganku pada tepi kotak itu. Dengan begini, aku berada dalam posisi berlutut dengan tubuh atas bersandar pada kotak kayu itu. Kedua tangan dan kakiku terikat kuat.

Seseorang melepaskan kain yang menutupi mataku. Pandanganku menjadi jelas seluruhnya. Aku berada di sebuah ruangan yang aku tidak tahu dimana, tetapi yang pasti tempat ini luar biasa gelapnya dengan hanya sebatang lilin yang menjadi penerang. Aku menengadahkan kepalaku, hanya untuk melihat beberapa orang yang wajahnya ditutupi kain hitam, dan juga mengenakan pakaian hitam, hingga aku tidak mengenal mereka semua. Yang bisa kulihat hanya mata mereka yang menatapku tanpa perasaan saja.

Tiba-tiba sebuah kertas mendarat di depanku.

"Tanda tangani kertas itu."

Suara itu dingin. Aku juga sama sekali tidak mengenalnya. Tetapi kertas itu kubaca baik-baik.

Ya Tian! Rupanya kertas itu berisikan pengakuan bahwa memang akulah pelaku yang telah membunuh Permaisuri Gan! Aku dipaksa untuk menandatangani surat pernyataan atas kesalahan yang sama sekali tidak aku lakukan! Ini... ini benar-benar gawat!

Orang yang lain menarik sumpal di mulutku. "Bagaimana? Kau bersedia?"

Aku menggeram marah. Mereka ini siapa sebenarnya? Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei kah? Tetapi tidak ada seorang pun yang memiliki tubuh seperti mereka di tempat ini! Selain itu suara mereka berbeda semuanya, tidak ada satupun yang kukenal. Aku benar-benar marah, tetapi juga bingung dan bertanya-tanya, dan yang pastinya juga panik.

"Jangan bercanda." Sahutku berusaha tenang.

Tepat sesudah aku menjawabnya, sesuatu sekali lagi dilempar di depanku. Kali ini bukan kertas, melainkan sebuah cambuk. Cambuk sungguhan. Cambuk berujung lima yang digunakan untuk menghukum orang biasanya. Cambuk yang bisanya digunakan untuk menyiksa saat mengintrograsi orang sampai ia mengakui apa yang diinginkan pengintrograsinya.

"Masih menolak?" Seorang yang lain lagi menyeletuk sambil mengambil cambuk itu, memainkannya dengan tangannya.

Aku memang takut dengan alat penyiksa itu. Tetapi masih lebih baik daripada harus menandatangani surat pernyataan yang sangat tidak masuk akal itu. Kali ini aku tidak menjawab, hanya membuang muka saja.

Mereka tidak berhenti hanya dengan menunjukkan alat itu. Kali ini, mereka melepaskan baju atasku sehingga punggungku terlihat oleh mereka! Ya, mereka akan mencambukiku. Tetapi bukan itu yang membuatku gelisah dan panik bukan main! Mereka.. mereka melihat tanda di punggunggku...!

"Hah? Apa ini?" Seorang dari mereka bertanya dengan keterkejutan bukan main. "Li? Budak?" Kemudian, aku merasakan sebuah jari menekan-nekan luka sangat dalam yang sudah mulai tertutup itu. Padahal aku mati-matian berusaha menutupi dan menyembunyikan tanda itu... Tapi akhirnya toh tanda itu tersingkap juga. Yang bisa kulakukan sekarang cuma menunduk malu.

Tak terasa, tubuhku mulai bergetar.

"Jangan... jangan melihat itu..."

Namun, bisikan yang lemah itu tidak mungkin sampai ke telinga mereka.

Sentuhan itu berakhir sementara terdengar sebuah suara yang lain lagi berseru. "Tanda itu tidak penting! Yang penting, cepat tanda tangani kertas itu!"

Medengar bentakan seperti itu, mau tidak mau aku jadi takut juga. Tempat ini benar-benar mengerikan sekarang, sebentar lagi akan menjadi ruang penyiksaanku. Aku benar-benar panik, tetapi berkali-kali aku berusaha menenangkan diri. Mengapa harus takut? Aku tidak melakukan kejahatan apapun. Dan lagi, di Wei aku sudah pernah mengalami hal yang lebih buruk daripada ini.

"Kau tidak dengar kata-kataku?" Tanyaku dengan nada menantang. "Aku bilang tidak akan."

"Hmph. Baiklah. Kau sendiri yang minta."

Lalu tiba-tiba saja, serangan itu datang secepat kilat! Cambuk itu langsung tepat sasaran mengenai punggungku. Aku berteriak kesakitan dengan nafas tersenggal-senggal. Astaga... cambukan itu... benar-benar sakit... Untuk sesaat aku merasa seolah tulang-tulang punggungku terlepas semua, dan pikiranku begitu tercerai berai oleh karena shock yang begitu hebatnya...!

"Kau masih ragu?" Serangan itu berhenti sementara orang lain lagi bertanya. "Tidak perlu bingung lagi. Cepat tanda tangani kertas itu!"

Aku mengigit bibir sambil mendesis marah. Orang-orang ini... menjebakku begini untuk memaksaku mengakuinya! "Tidak akan!"

Sekali lagi serangan itu datang.

"Ahhh...!"

Ya Tian...! Ini benar-benar... gila...

Mataku mulai berkunang-kunang sangking pusingnya. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana sakitnya punggungku. Aku sendiri tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan permukaan kulitku yang terkena cambuk itu barusan. Yang pasti, cambukan itu membuat sekujur tubuhku gemetar karena menahan sakit. Bibirku kugigit erat-erat, dalam usaha untuk menahan rasa sakit yang luar biasa ini.

"Ayo! Mengaku sajalah!" Kali ini suara itu terdengar bersahut-sahutan di telingaku.

Mengaku? Mengaku apa? Apa aku pernah berbuat salah?

Serangan itu datang lagi dan lagi.

"Hei, kalau kau tidak mengaku, ini bisa berjalan selamanya!"

Selamanya...?

Di sela-sela nafasku yang tersenggal-senggal, aku berusaha untuk bersuara. "Aku tidak..." Ucapanku terhenti saat cambuk itu mengenaiku lagi. "...melakukannya..."

Tapi mereka tidak mendengarku.

-o-o-o-o-o-o-

Jiang Wei

"Perdana Mentri Zhuge Liang! Akhirnya kau datang!"

Akhirnya, dua minggu berlalu dengan sangat cepat. Padahal, aku belum menemukan petunjuk apapun sama sekali mengenai pembunuh sebenarnya! Pikir-pikir, sulit juga menemukan pelaku yang menggunakan kekuatan kegelapan yang tentunya tidak dimiliki oleh sebagian besar orang itu. Dengan penuh penyesalan, terpaksa pada hari ini aku, Perdana Mentri Zhuge Liang, dan istrinya yang bernama Huang Yueying yang kerap kali di panggil Zhuge furen, datang kembali dengan tangan kosong.

Di lain pihak, kudengar Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei juga tidak menemukan bukti apapun bahwa Phoenix itu bersalah. Ini artinya, dia akan dibawa oleh Perdana Mentri untuk diintrograsi. Baguslah. Asalkan sudah berada bersama dengan Perdana Mentri, tentu mudah untuk membebaskan dan menyatakan ketidakbersalahannya atas kasus ini.

Perdana Mentri Zhuge Liang menunduk dalam-dalam sambil bersoja. "Yang Mulia Kaisar Liu Bei," Ia memulai. "Sungguh menyesal aku tidak dapat menemukan pelaku pembunuhan itu dan terpaksa kembali menghadap Yang Mulia dengan tangan hampa. Kiranya Yang Mulia berwelas asih mengampuniku."

Kaisar hanya menggeleng. "Tentu akan sangat sulit meringkus masalah ini hanya dalam waktu dua minggu." Tuturnya dengan penuh wibawa dan kebijaksanaan. "Terutama jika benar apa yang Yan Lu katakan bahwa pelaku pembunuhan ini adalah seorang pengguna sihir kegelapan atau bahkan Yaoguai." Kaisar menepuk bahu Perdana Mentri. "Lagipula, aku cukup senang kau datang kembali sesudah dua minggu untuk membawa Phoenix itu."

Perdana Mentri mengangguk sekali. "Mengenai itu, Yang Mulia," Ia bertanya. "Apa Yang Mulia sudah melakukan seperti yang sudah kupesankan?"

"Ya." Kaisar mengangguk. "Aku sudah menyuruh beberapa orang pengawal untuk dua minggu ini menjaga istana Wenchangdian sesuai dengan pesanmu." Jawabnya tegas. "Namun aku masih heran, Perdana Mentri. Mengapa harus menempatkan pengawal di sana?"

"Tentu saja untuk keamanan Phoenix itu sendiri." Jawabnya pendek.

Kalau perbincangan ini terus berlangsung, bisa sampai berjam-jam! Padahal, aku sudah tidak sabar bertemu dengan sang Phoenix! Jadi, aku menghimpun seluruh keberanianku untuk memotong percakapan mereka. "Maafkan ketidaksopananku, Yang Mulia, tetapi jika boleh tahu, bisakah kami bertemu dengan Phoenix itu sekarang?"

Kaisar Liu Bei tertawa hangat. "Ah, tentu saja, Jendral Jiang Wei. Tentu sekarang kau tak sabar ingin bertemu dengan Phoenix itu, bukan?" Tanyanya sambil menepuk bahuku. "Ngomong-ngomong, aku lupa mengucapkan selamat atas kesembuhan ibumu."

Aku mengangguk dan sekali lagi bersoja dengan sopan. "Terima kasih, Kaisar. Tentu ini juga berkat dari doa Yang Mulia selama ini hingga aku dapat bertemu dengan sang Phoenix hingga akhirnya ibuku dapat sembuh."

"Baiklah kalau begitu." Kaisar Liu Bei menyahut. "Kurasa, kita tidak perlu berlama-lama lagi di tempat ini. Mari kira pergi ke Wenchangdian untuk menemuinya!"

Sesudah itu, tanpa banyak omong lagi, kami langsung bergegas menuju ke Wenchangdian untuk bertemu dengan Phoenix itu. Kaisar, Perdana Mentri, dan Zhuge furen masih bisa dengan santainya mengobrol dalam perjalanan. Tetapi aku, aku benar-benar tegang! Bukannya apa-apa, tetapi aku senang sekali! Aku bisa bertemu lagi dengan orang yang telah menyelamatkan nyawa niang! Kembali kejadian saat aku tiba di Tian Shui terputar dalam ingatanku. Waktu itu, bahkan sebelum aku masuk ke gerbang kota Tian Shui, niang sudah berlari-lari ke luar menghambur ke hadapanku! Bayangkan saja, niang berlari! Padahal semenjak penyakitnya, bahkan duduk di atas ranjangnya pun ia tidak bisa.

"Jiang Wei!"

"Niang? Bagaimana niang bisa ada di sini?"

"Aku juga tidak tahu, Jiang Wei, tetapi beberapa hari lalu, tiba-tiba saja ada cahaya putih melingkupi tubuhku. Dan tahu-tahu, aku bisa bergerak! Aku bisa melompat turun dari ranjang dan lihatlah! Sekarang aku bisa bebas bergerak!"

"Ya Tian...!"

"Jiang Wei, katakan. Apa yang terjadi sebenarnya?"

"Niang, sebenarnya aku pergi jauh-jauh ke Cheng Du karena mendengar bahwa Phoenix telah tiba di sana! Dan aku pergi untuk memohon padanya agar ibu disembuhkan!"

"Phoenix? Maksudmu... Phoenix yang dikatakan dalam ramalan leluhur itu? Yang sudah kita nanti-nantikan?"

"Iya, niang! Phoenix itu!"

Saat mendengar kabar yang sangat mengejutkan tetapi pada saat yang sama sangat menggembirakan itu, niang langsung memelukku erat-erat, bahkan sampai menangis tersedu-sedu. Aku benar-benar mengerti perasaannya, aku pun sudah menunggu Phoenix itu sampai benar-benar pasrah, dan rupanya dia benar-benar datang!

"Oh... Jiang Wei..."

"Niang... kau benar-benar sembuh! A-apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikannya?"

"Jiang Wei, kurasa hanya ada satu jalan..."

"Apa itu?"

"Kembalilah padanya, Jiang Wei. Katakan padanya kau berterima kasih benar atas pertolongannya. Dan juga sampaikan ucapan terima kasihku. Dan bersumpahlah atas Langit dan Bumi padanya bahwa kau seumur hidup akan bersedia membantunya apapun yang dia minta."

Itulah alasannya mengapa aku langsung kembali ke Cheng Du tanpa banyak menunggu lagi.

Sungguh ini adalah sebuah keajaiban yang luar biasa! Benar-benar tidak salah perkataan Perdana Mentri Zhuge Liang bahwa aku akan melihat ibuku sembuh oleh kekuatan Phoenix itu! Dalam perjalananku dari Tian Shui kembali ke Cheng Du, entah berapa kali aku berseru berterima kasih baik dalam hati maupun sampai keluar dari mulutku. Bahkan beberapa kali airmata bahagia sampai membasahi wajahku!

"Kita sampai!"

Kami pun tiba di istana yang letaknya cukup dekat dengan perpustakaan. Namun, aku menyadari keanehan di tempat itu. Perdana Mentri pasti juga menyadarinya.

"Ngomong-ngomong, Kaisar..." Ujar Perdana Mentri dengan dahi berkerut. "Dimana pengawal-pengawal yang katanya kau tempatkan di sini?"

Ya, itulah keanehannya. Tempat ini benar-benar kosong. Tidak ada seorang pengawal pun. Tidak ada kasim dan dayang. Bahkan yang lebih aneh, pintu Wenchangdian dibiarkan terbuka begitu saja! Sungguh aneh, bukan? Jika memang si Phoenix itu sedang berjalan-jalan keluar, tidak mungkin dia akan lupa menutup pintu. Namun, kenapa sekarang pintu itu terbuka lebar-lebar mengundang siapa saja untuk masuk begitu?

Perasaanku mulai tidak enak.

Sebelum yang lainnya beranjak, aku sudah terlebih dahulu menapaki tangga dan masuk ke dalam istana itu. Benar! Tidak ada seorang pun di sini!

"Xiansheng!" Aku memanggilnya, hanya untuk dibalas oleh gema suaraku sendiri. Celaka! Apakah terjadi sesuatu padanya? Jantungku mulai berdengup lebih cepat dari biasanya. "Xiansheng! Kau dimana?"

Aku belari ke sana kemari, tetapi memang tidak ada siapapun di sini! Tempat tidurnya yang kosong belum dirapikan. Ini benar-benar aneh! Apa mungkin seseorang datang dan...

"Jiang Wei!" Suara Perdana Mentri membuyarkan lamunanku. "Kau menemukannya?"

Aku menggeleng kuat. "Tidak ada!"

Makin lama, keadaan makin kalut. Aku panik. Perdana Mentri dan istrinya panik. Kaisar apalagi. Tak lama kemudian, pengawal-pengawal berdatangan beserta beberapa orang jendral. Kulihat Yan Lu serta Liu Chan dan Xing Cai juga bahkan sampai di sini. Mata ketiganya dipenuhi dengan rasa takut dan gelisah yang mendalam saat melihat kamar ini kosong, tidak ada siapapun di dalam.

"Jiang Wei!" Yan Lu memanggilku. Nyaris berseru sangking paniknya ia. "Apa yang terjadi sebenarnya?"

"Kau yang tinggal di sini, bukan, Yan Lu? Kenapa Phoenix itu bisa tidak ada di sini?" Tanyaku balik. Keteganganku yang sudah mencapai titik puncak ini membuatku berteriak dengan kedua tanganku meremas bahunya kuat-kuat.

Yan Lu menggeleng kuat. "Aku juga tidak tahu!" Serunya. "Kita harus mencarinya, Jiang Wei! A-aku..."

"Kenapa?" Yan Lu masih juga tidak berani mengatakannya. Hanya tangannya saja yang meremas kepalanya kuat-kuat, seperti orang yang sedang frustasi. Benar-benar aneh... tidak biasanya Yan Lu panik seperi ini. "Katakan, Yan Lu!"

"Aku punya firasat buruk...!" Jawabnya pada akhirnya. "Phoenix itu...!"

"Ada apa?" Aku nyaris saja terdengar membentaknya. Tetapi syukurlah perihal aku membentak seorang putri Shu tidak terdengar oleh siapapun. Sangkik kalutnya, tempat ini sampai dipenuhi dengan berbagai seruan dan bentakkan yang membuat suaraku sendiri tidak terdengar. "Phoenix itu kenapa, Yan Lu!"

Yan Lu berusaha menenangkan dirinya sebelum menjawab. "Sesuatu yang tidak adil sedang terjadi sekarang...!" Katanya. "Phoenix itu dalam bahaya!"

Aku menelan air ludahku saat mendengar itu. Yan Lu... biasanya perkiraannya tidak pernah meleset. Kalau dia mengatakan Phoenix itu dalam bahaya, pasti Phoenix itu benar-benar sedang dalam bahaya sekarang! Dan ini bukannya membuatku makin tenang, sebaliknya membuatku makin panik! Aku sampai kehilangan akal sehatku sekarang!

Sial... Phoenix itu... Sejak aku tiba di Cheng Du aku tidak dapat melakukan apapun untuk menolongnya. Sekarang bahkan dia sedang berada dalam bahaya besar dan aku masih saja berada di sini...!

Aku menarik tangan Yan Lu, kemudian bersama dengan gadis itu bergegas menemui Perdana Mentri. "Perdana Mentri!" Dia langsung berbalik ke arahku. Bahkan Perdana Mentri Shuge Liang yang biasanya selalu tenang itu kali ini menampakkan kepanikan di wajahnya. "Perdana Mentri! Kita harus cepat menemukan Phoenix itu! Yan Lu bilang dia sedang dalam bahaya!"

Sebelum Perdana Mentri mengatakan apapun, Yang Mulia Kaisar sudah langsung tiba di sisi kami. Wajahnya menunjukkan kepanikan sampai begitu pucat seperti kertas. "Phoenix itu dalam bahaya? Bagaimana bisa?"

"Sejujurnya, Yang Mulia..." Perdana Mentri tetap berusaha tenang. "... aku juga sudah menebaknya. Inilah alasan mengapa aku berpesan pada Yang Mulia untuk meletakkan beberapa pengawal di tempat ini."

"Celaka! Apa lagi yang sebenarnya sedang menimpa kita?" Kaisar Liu Bei berseru sangking frustasinya. Satu tangannya yang mengepal menggebrak meja dengan keras, membuat vas bunga di atasnya menggelinding dan jatuh. "Phoenix itu sudah dituduh yang bukan-bukan. Lalu ditangkap dan ditahan di sini. Sekarang apa lagi yang akan terjadi padanya?"

Jendral Guan Ping tiba-tiba muncul. "Yang Mulia, mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah! Sebaiknya kita cepat mencarinya!" Jendral muda yang berusia dua tahun di atasku itu datang dengan ayahnya.

"Kakak Pertama," Jendral Guan Yu juga ikut menambahkan. "Sebaiknya kita tidak hanya mencari di sini! Aku sudah membagi pengawal-pengawal istana untuk mencari di setiap daerah! Lebih baik kita ikut berpencar mencarinya!"

"Kerja bagus, Adik Kedua!" Kaisar Liu Bei berseru. "Baiklah kalau begitu! Kita cari Phoenix itu sampai ketemu! Cepat! Cepat!"

Dengan begitu, Kaisar Liu Bei dengan tergopoh-gopoh berlari keluar dari ruangan itu. Perdana Mentri Zhuge Liang dan istrinya juga ikut berlari pergi. Kutarik tangan Yan Lu dan berlari mengikuti Perdana Mentri.

"Ayo, Yan Lu!"

"B-baiklah!"

Yan Lu berlari, sementara kedua anak kecil itu masih mengikutinya dengan langkah tersandung-sandung. Anak-anak kecil yang sedang menangis ini makin menambah kekalutan suasana yang terjadi. Orang-orang mulai berlari kesana kemari seperti kesetanan. Keadaan benar-benar kacau! Seperti huru-hara saja. Padahal, ini masih pagi hari!

Ya Tian... Phoenix... dimanakah kau sekarang?

-o-o-o-o-o-o-

Lu Xun

"Ayo! Masih belum menyerah juga?"

"A-ahhh..." Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku sebagai jawabaku. Tubuhku... rasanya setiap tulang-tulangku sudah terlepas semua...

Sekarang mereka semua menatapku dengan tatapan membunuh. Aku tahu benar, mereka sudah tidak sabar lagi menungguku untuk menandatangani surat pernyataan yang absurd itu. Tapi, bahkan kalaupun aku harus mati, aku tidak bersedia melakukannya. Pikir-pikir... rasanya aku sudah benar-benar mendekati kematian sekarang...

CTAR!

"Ahhh...!" Suaraku sudah bukan main seraknya. Entah sudah berapa banyak cambukan kuterima, tetap saja tidak berhenti.

Kemudian, dengan pandangan yang mulai kabur, aku melihat orang yang mencambukiku itu maju, kemudian melemparkan cambuk itu tepat di depan wajahku. "Sial! Kau memang tidak bisa diajak kerja sama!" Saat kulihat cambuk itu, aku sampai ngeri sendiri. Aku tidak percaya cambuk yang sekarang merah seluruhnya itu telah digunakan untuk mendera punggungku.

"Hmph! Cepat, ambilkan garam!"

A-apa...?

Orang yang lain lagi datang, dengan membawa semangkuk besar garam kristal. Mataku melebar ketakutan melihatnya. Tentu saja aku tahu apa yang akan mereka lakukan sesudah ini. Dan, siapa yang tidak takut jika harus mengalaminya?

Orang yang lain lagi menciduk garam itu segenggam penuh sebelum berjalan ke belakangku.

"Kalau kau tidak mau diajak kerja sama, baiklah!"

"J-jangan...!" Aku memekik lemah. Kalau... kalau garam yang asin itu menyentuh kulitku yang sudah dicambuki berkali-kali... aku tidak bisa membayangkan rasa sakit bagaimana lagi yang akan kurasakan...

Tiba-tiba saja, samar-samar aku mendengar langkah kaki seseorang. Ahhh... siapa lagi yang akan datang...? Gawat... kepalaku rasanya pening bukan main, berputar-putar tak karuan... Kepalaku jatuh begitu saja di atas kotak kayu ini.

"Celaka! Celaka! Kita terlambat! Mereka sudah datang!"

Dengan pengelihatanku yang semakin lama semakin kabur ini, aku melihat orang-orang di sekelilingku jadi panik bukan main. "Apa? Cih! Kurang ajar!"

Itu hal yang terakhir kudengar.

Karena sesudah itu, segala sesuatunya menjadi hitam...

-o-o-o-o-o-o-

Zhuge Liang

Aku sudah tahu hal ini akan terjadi.

Bahkan sejak mendengar cerita dari Yan Lu dan Jiang Wei untuk pertama kalinya, aku tahu hal seperti ini akan menimpa Phoenix itu. Aku bahkan telah memperingatkan Yang Mulia Kaisar. Tetapi, kelihatannya peringatanku benar-benar sia-sia belaka. Sekarang sudah terlambat. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah bergegas menemukan Phoenix itu sebelum semuanya benar-benar terlalu terlambat bahkan untuk disesali.

"Perdana Mentri!" Jiang Wei, jendral muda itu, berlari nyaris menyusulku. "Anda yakin Phoenix itu ada di tempat ini? Di... penjara?"

"Ya." Jawabku pendek berusaha untuk tenang. Semua orang sudah panik. Jika aku ikut panik, entah akan jadi apa tempat ini. Aku berani menjamin dengan pasti Phoenix itu pasti saat ini sedang berada dalam bahaya luar biasa besar yang tidak dapat dikatakan lagi. Bisa kupastikan Phoenix itu sekarang di bawah ancaman dan tekanan berat, atau bahkan mungkin saja siksasaan hebat, yang memaksanya untuk mengakui kejahatan yang tidak ia perbuat. Nyawanya saat ini tentu sudah di ujung tanduk.

Aku, diikuti dengan yang lainnya di belakang, berlari melewati sel demi sel, masuk ke lorong yang satu dan yang lainnya mencari dimana letak Phoenix itu sekarang.

Sampai akhirnya, aku tiba di sebuah ruangan yang paling ujung, yang pintunya bukan hanya terbuat dari jeruji-jeruji besi tetapi pintu dari kayu yang tertutup rapat. Kucoba membuka pintu itu, tetapi gagal.

"Dikunci!" Seruku.

Ini membuat kami semua panik. Sampai pada akhirnya dua orang jendral maju.

"Minggir! Minggir! Biar kudobrak pintu itu!" Rupanya Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei yang datang, kemudian langsung mendobrak pintu itu! Seketika itu juga, dengan kekuatan dua jendral terkuat di Shu itu, pintu itu langsung didobrak.

Ruangan itu menunjukkan, memang pikiranku tidak salah.

Yue Ying dan Putri Yan Lu langsung memekik melihat pemandangan di depan matanya. Liu Chan dan Xing Cai yang entah bagaimana juga berada di sana langsung menangis. Aku, Kaisar Liu Bei, dan jendral yang lain terpaku, hanya bisa mematung melihat tubuh bermandi darah yang tidak bisa bergerak itu.

"XIANSHENG!" Jiang Wei langsung berlari menghampirinya. Dilepaskannya tali yang mengikat tangan dan kaki tubuh yang sudah tergolek tak berdaya itu. Punggungnya yang sudah didera dengan kejam oleh cambuk yang tergeletak di sebelahnya sekarang terkoyak. Jiang Wei langsung menyandarkan kepala pemuda yang sebenarnya Phoenix itu di atas lengannya, dan tak ayal lagi jendral muda itu menangis membiarkan airmatanya berjatuhan.

"Siapa... yang melakukan ini...?"

Kaisar Liu Bei mendekat. Aku mengikutinya dari belakang. Dia jatuh berlutut di sisi Jiang Wei.

"Ya Tian... ini tidak bisa jadi..." Jiang Wei terisak-isak, sama sekali tangisannya tidak bisa berhenti. "Kenapa Phoenix ini... justru harus menderita begini rupa di Shu...? KENAPA?" Kali ini, Jiang Wei langsung merengkuh pemuda yang tak sadarkan diri itu dalam pelukannya. Kedua tangannya memeluk erat-erat tubuh itu, membuat pakaian serta tangannya dibasahi oleh darah.

"Lu gege! Lu gege!" Kudengar dari belakang tangisan Liu Chan dan Xing Cai. Keduanya ingin menghampiri juga, tetapi langsung dicegah oleh Yan Lu.

Kaisar juga sepertinya mulai meneteskan airmata. "Ini benar-benar... PERBUATAN BIADAB!" Teriakannya itu membuat semua orang terkejut bukan main, mulai merinding dengan suasana yang makin bergejolak ini. "Siapapun pelakunya... harus dihukum mati!"

Kaisar Liu Bei sungguh terpukul melihat kejadian ini. Dalam waktu yang sangat dekat, dia kehilangan permaisuri satu-satunya yang sangat disayanginya. Sekarang, ia melihat Phoenix yang sudah ditunggu-tunggu olehnya disiksa seperti ini, di dalam kerajaannya sendiri. Bahkan di dalam istananya sendiri.

"Phoenix..."

"Hah?"

Aku menunjuk anak laki-laki berambut coklat yang sedang dipeluk Jiang Wei. "Anak ini benar-benar Phoenix. Aku yakin itu."

Yang lain saling berpandang-pandangan dengan heran.

"Lihat punggungnya." Kataku. "Samar-samar, meski tidak jelas, terdapat ukiran 'li' di punggungnya. Berdasarkan ramalan leluhur, bukankah pada tubuh Phoenix itu akan terukir tanda budak?"

Aku berhasil mengucapkannya dengan tenang. Air mukaku tidak menunjukkan perubahan, persis seperti yang kuharapkan. Tentu saja, sebagai seorang Perdana Mentri aku harus bersikap tenang dalam kondisi apapun. Namun melihat pemandangan yang menyayat hati ini, dalam hati aku berteriak keras. Sungguh, kukira ramalan leluhur itu bukan sesuatu yang benar. Tetapi ternyata... aku melihat dengan mata kepalaku sendiri tanda itu benar-benar ada, mencoreng tubuhnya.

Sebagai seorang Perdana Mentri Shu, dengan segenap kerendahan hati aku harus mengakui bahwa aku menyerah jika diperhadapkan dengan pertanyaan seperti ini. Mengapa tanda seperti itu ada di punggungnya? Tanda budak itu sungguh memalukan, sebuah aib seumur hidup yang langsung akan mencopot dan melucuti harga diri seorang. Tanda yang menjijikkan dan rendah itu, mengapa bisa ada di punggung seorang Phoenix? Seorang Phoenix yang akan datang dan membawa kedamaian di China ini? Pertanyaan itu tidak bisa aku jawab.

"Phoenix... Phoenix..." Jiang Wei, sambil menangis terisak-isak, memeluk Phoenix itu erat-erat. Airmatanya bersimbah tanpa henti seperti hujan membasahi tubuh yang sudah berdarah-darah itu. "Kenapa... pantaskah... seorang Phoenix... mendapatkannya?" Dia bertanya tidak jelas kepada siapa. Dan jika aku saja tidak bisa menjawabnya, maka yang lain pun tidak mungkin dapat menjawabnya. Semuanya hanya terdiam dengan kepala tertunduk. Mungkin pertanyaan itu, hanya Phoenix itu sendiri yang dapat menjawabnya.

Lalu, aku mendengar sebuah suara.

"Sungguh, seandainya saja kejadian ini dapat dielakkan..."

Aku menoleh. Tepat seperti dugaanku, suara Jendral Guan Yu. Di sebelahnya Jendral Zhang Fei juga sedang menunduk.

Tapi aku tahu dibalik semua itu...

Ini semua rencana mereka!

Aku sudah tahu kalau mereka pasti akan melakukan ini! Orang-orang seperti ini tentu tidak dapat menerima keberadaan sang Phoenix di dekat mereka. Jendral Guan Yu yang begitu tinggi hati dan Jendral Zhang Fei yang pendek benar kesabarannya tidak mungkin dapat bergaul dengan Phoenix ini, yang rendah hati dan lemah lembut di depan mereka. Meskipun aku yakin, tidak mungkin Phoenix ini akan selalu bersikap demikian. Ada kalanya dia dapat bertindak keras dan tegas juga, dengan kemarahan dapat melakukan segala sesuatu yang tidak akan terpikirkan oleh mereka berdua.

Tetapi, sayang sekali waktu itu bukan sekarang.

Aku sudah tahu tabiat jelek kedua jendral ini. Pernah kudengar tentang Jendral Zhang Fei yang berkali-kali nyaris dalam bahaya karena tidak dapat mengontrol kesabarannya. Sementara Jendral Guan Yu pernah dengan sombongnya menampik gelar Lima Jendral Macan yang dianugrahkan oleh Kaisar hanya karena gelar yang sama diberikan pada Jendral Huang Zhong (1). Dia merasa terlalu tinggi jika harus bersanding dengan jendral yang katanya sudah tua itu. Bukan hanya itu, aku masih ingat dalam pertarungan di bukit Bo Wang beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih pertama kali direkrut oleh Kaisar Liu Bei. Kedua adik angkat Kaisar itu menolak untuk mendengarkan perintahku dan baru menurut sesudah Kaisar memberikan mandatnya sepenuhnya padaku (2). Dan lagi, bukankah kali pertama aku bertemu dengan Yang Mulia Liu Bei, sebelumnya mereka mengancam akan membakar rumahku? (3)

Kurasa, sifat jelek kedua jendral ini masih belum hilang. Biarlah. Kuharap suatu saat ketika mereka terkena akibat dari sifat mereka itu sendiri, mereka tidak menyesal.

"Yang Mulia Kaisar." Suaraku memecahkan keheningan yang mencekam di tempat itu. Kaisar menoleh. Aku mengangkat sebuah kertas yang tadi tak sengaja kulihat. Benar saja dugaanku. Sebuah surat pernyataan palsu. Sang Phoenix disuruh menandatanganinya untuk dijadikan bukti kalau dia memang bersalah. "Melihat keadaan seperti ini, mau tidak mau aku harus benar-benar membawanya jika tidak mau nyawanya terancam. Biar dia tinggal di kediamanku demi keselamatannya sendiri."

Kaisar Liu Bei mengangguk setuju seraya berdiri. "Baiklah, sesuai perjanjian, Phoenix ini akan dibawa oleh Perdana Mentri!"

Aku sekilas melemparkan pandanganku ke arah kedua jendral terkuat di Shu itu. Keduanya menampakkan wajah tidak senang dan tidak puas atas keputusan ini.

"Terima kasih banyak. Aku tidak akan mengecewakan Yang Mulia Kaisar." Ujarku sambil bersoja dan membungkuk dalam-dalam. Kulihat sekarang Jiang Wei sedang menggendong tubuh pemuda itu di atas kedua tangannya. Yan Lu membawakan sehelai kain sutra putih yang bersih dan lembut, kemudian menyelimutkannya pada tubuh Phoenix itu. Seketika kain yang tadinya putih berubah merah oleh darahnya.

Kuhampiri Jiang Wei. "Jiang Wei, ayo kita pergi." Jendral muda itu mengangguk dan mengikutiku. Kini aku berbalik sekilas ke arah Yan Lu. Putri Shu ini pintar, tentu dia sudah bisa menebak siapa pelaku sebenarnya. "Yan Lu, kasus ini kupercayakan padamu. Kau tinggal di istana ini." Bisikku dengan suara tajam, berharap cukup jelas untuknya tetapi hanya dia sendiri yang mendengar. "Kau sudah tahu siapa yang menyebabkan semua ini, bukan?" Tanyaku sambil menyerahkan kertas berisi surat pernyataan palsu itu padanya.

Gadis itu mengangguk mantap. Kedua mata hijaunya, sama sepertiku, tajam menatap kedua jendral Shu yang adalah paman angkatnya itu, penuh dengan semangat untuk menyatakan kebenaran. Tangannya terkepal erat.

Sesudah mengurusi semua hal ini, aku, Yue Ying, dan Jiang Wei keluar dari penjara tanpa mengatakan apapun. Sesampainya di gerbang istana, aku dan Yue Ying masuk ke dalam kereta kuda. Jiang Wei membaringkan tubuh pemuda itu di salah satu deretan kursi. Kemudian jendral itu keluar dan menunggangi kudanya sendiri. Kusir mulai menghela kudanya dan kereta pun berjalan meninggalkan tempat itu.

Aku hanya terdiam menatap tubuh yang terbaring lemah tak berdaya itu. Rupanya, sekilas mata memandang Phoenix ini hanyalah seorang bocah laki-laki yang masih sangat muda, seumuran dengan Jiang Wei. Tapi pada wajahnya basah oleh peluh yang mengalir, aku bisa melihat kepolosan seorang anak kecil, semangat dan harapan tinggi seorang muda, kelembutan seorang penyair, keberanian dan wibawa seorang jendral, dan juga kebijaksanaan seorang ahli strategi. Benar-benar seorang muda yang lain daripada yang lain. Tidak perlu diragukan lagi, dia pasti adalah Phoenix itu.

Yue Ying menyibakkan rambut di kening anak muda itu. "Fujun," Panggilnya. "Anak ini..."

Aku mengangguk. "Iya. Aku pun bertanya-tanya." Jawabku sambil tetap menatap wajah yang tak sadarkan diri dalam kesakitan dan penderitaan itu. "Kenapa dia harus menempuh semua ini...? Benar kata Jiang Wei. Dia Phoenix, tidak sepantasnya mengalami semua ini."

Lalu keadaan menjadi hening kembali.

Seolah kabar ini belum cukup membuatku kehilangan kata-kata, aku tiba-tiba teringat pada cerita Jiang Wei dan Yan Lu bahwa Phoenix itu datang di Cheng Du berpakaian seperi Gaibang yang sangat sederhana. Sungguh, ini benar-benar mengingatkanku pada tulisan para leluhur. Bukankah juga dituliskan bahwa dia akan berusaha disingkirkan dan dibunuh? Rupanya, perkataan itu sama sekali tidak salah.

Tetapi sungguh ini kenyataan yang sangat menyedihkan, memalukan, dan ironis sekali bahwa segala kejadian ini rupanya terjadi di Shu. Bagaimana mungkin...?

Seandainya saja... aku dapat mencegah seluruh kejadian ini...

Sesudah perjalanan yang penuh keheningan itu, kami sampai. Dua orang pengawal membukakan pintu gerbang untuk kami masuk. Kereta kuda itu berhenti di dalam. Aku dan Yue Ying keluar, sementara Jiang Wei menggendong kembali pemuda ini. Segera kami membawanya ke sebuah kamar tamu yang kosong. Tak perlu menunggu lagi kuperintahkan pembantu-pembantu yang ada di rumahku untuk merawat luka-lukanya yang demikian mengerikan dilihat mata itu. Yue Ying ikut berada di sana, bersama-sama mengawasi para pembantu itu membersihkan lukanya, mengoleskan obat, kemudian membebat tubuhnya dengan perban.

"Jiang Wei," Kutepuk bahu anak muda itu. Dia terlonjak kaget. "Ayo kota keluar."

Dia menurut. Kami segera keluar dari kamar yang hiruk-pikuk dan penuh dengan orang-orang uang panik itu. Di luar, kembali kami menemukan ketenangan meskipun dalam hati perasaan gundah ini tetap bersemayam. Kulihat wajah Jiang Wei yang benar-benar basah, bahkan sampai kerah bajunya pula. Sepertinya dalam perjalanan dia tidak berhenti menangisi Phoenix itu. Ya, tidak heran dia akan menangisi seseorang yang telah menyelamatkan nyawa ibu yang sangat disayanginya.

"Perdana Mentri..." Desahnya pelan sambil menatap lurus ke depan, memandang taman pohon Dao yang perlahan mulai tertutup salju itu. Ah, baru aku sadar. Kami yang berada di Shu ini tentu begitu dingin baginya seperti musim salju yang kejam ini. "Aku benar-benar heran mengapa semua ini harus menimpa Phoenix itu..." Matanya tertutup perlahan. "Dia orang yang sangat baik. Kalau tidak, tidak mungkin bersedia menyembuhkan ibuku. Tapi kenapa...?"

Aku pun hanya bisa menghela nafas. Uap berwarna putih terbentuk di depan mulutku. "Ingatkan kau, Jiang Wei, ketika kau bertanya-tanya mengapa ibumu sakit?" Tanyaku. Jiang Wei menoleh karena heran. "Pada akhirnya semua berakhir dengan baik, bukan? Bahkan seperti yang kukatakan, dari antara kita semua penghuni istana, kau yang paling pertama bertemu dengan Phoenix itu."

"Tidak." Dia menggeleng. "Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei lah yang pertama melihatnya."

"Aku bilang 'bertemu dengan Phoenix'." Kuulangi sekali lagi. Ini membuatnya makin bingung. "Mereka bukan bertemu seorang Phoenix. Pikiran mereka sendiri yang mencegah mereka bertemu dengannya. Pada akhirnya, yang mereka temukan hanya seorang Gaibang rendahan." Jelasku dengan suara pelan. Jiang Wei masih mendengarkan dengan seksama. "Kau lah, Jiang Wei, orang yang paling pertama melihatnya."

Jiang Wei menunduk dalam-dalam. "Lalu?" Tanyanya. "Tetap saja tidak menjawab pertanyaanku." Dalam suaranya, aku bisa merasakan kesedihan yang mendalam.

"Kau bertanya-tanya mengapa ibumu sakit, bukan? Mengapa kau dan ibumu harus tenggelam dalam penderitaan?" Untuk kesekian kalinya jendral muda itu mengangguk. "Tetapi justru karena itulah, kau akhirnya bisa bertemu dengan Phoenix itu. Pada akhirnya, semua akan baik-baik saja. Kurasa, hal yang sama sedang terjadi padanya."

"Meskipun dia dituduh seperti itu, dan disiksa habis-habisan agar mengakui kejahatan yang tidak dia lakukan, pasti ada kebaikan yang sedang bersembunyi di baliknya. Sai weng shi ma, an zhi fei fu-Kehilangan satu kuda, mungkin akan kembali membawa kumpulan kuda." Lanjutku.

"Ahhh..." Jiang Wei terdiam beberapa saat. Matanya terbuka lebar oleh pengertian. "Kau benar, Perdana Mentri."

Aku tersenyum tipis. "Dan ini pelajaran untukmu, Jiang Wei." Ujarku lagi. "Sekarang kau mengerti, bukan? Kau tidak seharusnya mengeluh kalau harus berada dalam penderitaan. Jangankan kau, Phoenix itu saja mengalaminya. Mengapa kau harus memperoleh hak istimewa untuk mendapatkan hidup tanpa kesedihan?"

Mendengar perkataanku, Jiang Wei hanya bisa mengangguk mengerti. Meskipun kesedihan itu masih tersirat, namun kini aku bisa melihat senyum kecil perlahan-lahan muncul di wajahnya, sebelum senyum itu mengembang. Jiang Wei, jendral yang cemerlang ini tentu dengan cepatnya dapat menangkap maksudku.

Namun dalam hati, sebenarnya aku sendiri masih tidak puas dengan jawabanku sendiri.

"Perdana Mentri." Jiang Wei berbalik. Matanya lurus tertuju ke arahku. "Terima kasih banyak. Aku merasa jauh lebih baik sekarang." Katanya sambil bersoja. "Jika boleh, aku ingin permisi dahulu, Perdana Mentri."

"Ya, pergilah."

Dan dengan begitu, jendral muda itu pergi. Hanya aku sendirian yang berada di sini, masih memandangi langit putih yang sedikit mendung. Udara semakin lama semakin dingin. Aku masuk kembali ke kamar tamu tempat Phoenix itu berbaring. Sekarang kamar itu sudah sepi. Lukanya sudah hampir selesai di rawat. Sempat aku bergidik ngeri saat melihat kain putih yang digunakan untuk membersihkan lukanya itu kini merah sepenuhnya, sementara baskom berisi air yang tadinya bening itu kini penuh oleh darah.

"Bagaimana keadaannya, Yue Ying?" Tanyaku.

Yue Ying menggeleng lemah. "Lukanya sudah dibebat. Tetapi lebar sekali. Mungkin penyembuhannya akan lama." Jawabnya dengan nada sendu. "Dia juga belum sadarkan diri."

Kutatap wajah itu. Ahhh... menatap wajah yang tertidur itu saja, rasanya hati menjadi penuh dengan kedamaian. Kuangkat selimut tebal yang berada di sisi ranjang, kemudian menyelimutinya. Dalam tidurnya, dia meringkuk dalam-dalam, menemukan kehangatan pada selimut itu.

Dan satu keanehan lagi, di bibirnya, aku bisa melihat senyuman tipis yang tersungging. Wajahnya seperti wajah seorang anak kecil yang akan tidur yang tahu meskipun malam gelap akan datang, besok akan ada pagi hari lagi untuknya bermain. Semuanya akan baik-baik saja.

Ya, semuanya akan baik-baik saja...

-o-o-o-o-o-o-

Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Tetapi aku tetap saja tidak bisa tidur. Aku masih memikirkan pemuda yang ada di rumahku sekarang ini. Dia... seorang Phoenix.

Aku keluar dari kamar, mengenakan alas kaki dan berjalan menyusuri satu koridor demi koridor yang lainnya, melewati setiap ruangan di kediamanku ini. Aku sempat melewati kamar Jiang Wei, dimana pemuda itu sekarang sudah tertidur pulas, tentu dia benar-benar lelah sesudah menjalani hari ini. Perjalananku kulanjutkan hingga akhirnya aku sampai di kamar tamu.

Kubuka pintu... hanya untuk menemukan ranjang itu kosong!

Tetapi kemudian aku memalingkan pandanganku ke satu arah, dan aku bisa menebak dimana Phoenix itu berada sekarang. Khusus untuk kamar tamu ini, ada sebuah tangga dari lantai satu ini menuju ke lantai dua yang sama juga berisi ruang tidur, kusiapkan dua kamar jika seandainya ada banyak tamu. Tetapi di lantai dua pun terdapat tangga lagi yang kali ini menyambung ke atap. Atap yang terbuka ini dapat menjadi tempat untuk seseorang melihat pemandangan dari atas. Kediamanku ini berada agak di daerah bukit, sehingga dari atas sini dapat terlihat pemandangan seluruh kota Cheng Du.

Rupanya dugaanku tidak salah. Pemuda itu kini berada di salah satu sudut atap, bersandar pada tembok setinggi pinggang yang digunakan sebagai pembatas, dengan kepalanya memandang ke atas. Dia menatap ke langit dengan mata penuh rasa kesepian dan kerinduan, meskipun aku tidak tahu kenapa. Sama sekali tidak diindahkannya angin yang membuat rambutnya kusut dan bajunya berkibar. Tangannya yang berada di atas tembok itu memangku dagunya. Tentunya dia berada dalam lamunan yang dalam sehingga tidak menyadari kehadiranku.

"Selamat malam."

Dia melonjak kaget saat mendengar suaraku, dan dengan cepat berbalik. Pemuda itu memberikan seulas senyum sebelum bersoja dan membungkuk sedikit. "Selamat malam, Perdana Mentri..."

Aku berjalan dengan langkah pelan mendekatinya. "Kau masih belum tidur?" Sebagai jawaban, dia hanya menggeleng. Aku berdiri di sebelahnya, berusaha melihat apa yang sedari tadi dipandanginya. "Ngomong-ngomong, aku belum tahu. Siapa namamu?"

"Nama bei Lu Xun." Jawabnya. Hmmm... dari suaranya saja, aku sudah bisa mendengar sebuah logat timur yang sangat kental. Pemuda ini tidak perlu diragukan lagi pasti berasal dari Kerajaan Wu di sebelah timur. Sekali lagi sebuah tanda yang jelas bahwa dia memang Phoenix.

Sesudah memberikan namanya, Lu Xun kembali menatap pemandangan malam itu, sepertinya benar-benar tidak terusik sedikitpun dengan kehadiranku di sini. Kupandangi langit malam musim salju yang sangat dingin ini, tersenyum tipis saat melihat sebuah bintang yang sangat terang berada tepat di atas pemuda Phoenix ini, entah dia sendiri menyadarinya atau tidak.

Pada akhirnya, aku tahu apa yang sedang dipandangi oleh Lu Xun. Dia sedang mencari bulan yang sudah lebih dari empat bulan ini menjadi gelap.

"Bulan sudah enggan melakukan tugasnya, menolak memantulkan cahaya matahari lagi dan bersembunyi dalam kegelapan malam." Tuturku dengan setengah suara, tetapi cukup untuk membuat Lu Xun terhenyak kaget. "Karena itu matahari menyembunyikan cahayanya sampai menjadi bintang, kemudian masuk ke dalam kegelapan malam itu untuk mencari bulan yang disayanginya." Ketika kata-kataku telah keluar semuanya, dia terlihat makin kaget saja.

Lu Xun mengerjap-ngerjapkan mata. "P-perdana Mentri...?"

Aku melemparkan pandangan ke arahnya. "Tidak salah, kan, Lu Xun?" Tanyaku. Dia hanya menunduk. "Kau sedang mencari bulanmu itu, Huang, padahal dia baru saja melakukan sebuah kesalahan besar yang nyaris merenggut nyawamu."

"A-apa maksudmu, Perdana Mentri?" Suara penuh keterkejutan itu terdengar jelas di malam yang sunyi ini.

"Ini hanya dugaanku saja. Tapi kurasa tepat." Jawabku dengan suara datar. "Yang melakukan pembunuhan kepada Permaisuri itu dia, bukan?"

Detik itu juga, mata emasnya terbuka lebar. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada kata-kata apapun yang keluar sangking terkejutnya ia. Lidahnya kelu tak dapat mengucapkan apapun. Aku tahu benar, dia terkejut bukan karena mendengar bahwa orang yang sangat disayanginya sendiri yang membunuh Permaisuri. Dia terkejut karena aku tahu tentang hal itu, dan juga takut bahwa aku akan melaporkan hal ini kepada orang lain.

Perlahan, tubuhnya yang tegang mulai rileks kembali. Dia menunduk lemah sebelum membalas. "Bei tidak akan menyangkal tentang hal itu. Yang Perdana Mentri katakan memang benar." Jawabnya dengan jujur. Sebelum aku membalas apapun, dia telah menjatuhkan diri dulu dan berkowtow di hadapanku. "Tetapi jika boleh, bei mohon, kalau hukuman yang berat akan dilimpahkan padanya, biarlah bei yang menanggungnya saja."

Kini gantian aku yang terhenyak. Laki-laki Wu ini... apa dia tahu hukuman seperti apa yang akan diberikan pada seseorang yang telah membunuh keluarga kerajaan? Membunuh seorang Permaisuri? Siksaan dengan cambuk itu tidak ada apa-apanya dibandingkan hukuman atas kesalahan yang tak terampuni itu. Namun dari wajahnya yang serius, aku tahu dia tidak sedang main-main. Dia memang memaksudkan hal itu.

Sungguh, dia benar-benar sayang pada kekasihnya itu. Perasaan yang tidak bisa aku jelaskan kenapa. Di dalam diri pemuda Wu sederhana dari Wu ini, aku menemukan banyak sekali pertanyaan yang aku sendiripun tidak tahu jawabannya.

"Bulan itu..." Aku membantunya berdiri sambil sekali lagi menatap langit yang tak berbulan itu. "...meski sudah menjadi gelap, akan tetapi dicari oleh matahari, bukan?"

Dia juga mengikuti pandanganku. "Iya." Jawabnya. "Karena suatu saat nanti, ketika bulan itu dapat menerima cahaya matahari lagi, dialah yang akan menerangi malam hari."

Sesudah itu, keheningan yang panjang berlanjut. Entah sudah berapa lama waktu yang berlalu hanya dengan kediaman saja. Tetapi, baik aku maupun Lu Xun tidak ada yang merasa terganggu dengan keheningan yang menenangkan ini. Hanya mendengar semilir angin malam musim dingin yang sejuk saja, seolah beban-beban di kepala terangkat semuanya.

"Hei, Lu Xun." Dia memalingkan wajah menatapku, tetapi aku masih mengarahkan pandanganku pada kota Cheng Du yang sekarang sudah mulai terlelap itu. "Bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"

Mata emasnya sekali lagi mengerjap-ngerjap kebingungan. "Jika bei dapat memberikannya..."

Aku berbalik. Tubuhku menghadap ke arahnya.

"Berikan aku..." Di malam yang dingin ini, aku bisa mendengar suaraku yang mungkin agak sedikit terlalu keras. "... kedamaian itu."

Kali ini dia juga langsung berhadapan denganku. Tentunya dia tidak akan menduga bisa mendapat permintaan seperti itu.

"Aku tahu benar, kau pasti adalah Phoenix yang dikatakan dalam legenda itu, bukan? Yang diramalkan oleh para leluhur akan datang pada zaman Tiga Kerajaan ini dalam wujud manusia? Yang akan membawa kedamaian pada tempat yang tidak pernah berhenti melihat darah dan peperangan, bukan?" Tanyaku dengan suara yang mantap dan tegas. Untuk setiap pertanyaanku, suaraku semakin lantang. Satu tanganku menengadah, seolah hendak menerima sesuatu darinya. "Akhirnya aku bisa melihatmu. Tolong, berikan kepadaku ini kedamaian itu."

Keheningan itu berlanjut lagi.

"Perdana Mentri," Dia bersiap untuk menjawabku. "kau benar-benar yakin aku adalah Phoenix itu? Meski aku adalah seorang biasa, bahkan seorang Gaibang? Seorang asing dari Kerajaan Timur? Dan yang terpenting, kau tahu kan tanda di punggungku ini?"

"Justru semua hal itulah yang membuatku yakin."

Matanya lurus menatapku. Sungguh sayang, aku gagal menebak apa yang hendak dikatakan mata emas yang jernih itu. Entah dia hanya sedang menatapku sambil berpikir, atau memastikan jawabaku, atau bahkan mungkin sedang membaca pikiranku. Tetapi dia akan menemukan bahwa keyakinanku ini bukan cuma di mulut saja. Aku yakin, dia tidak akan mengkhianati apa yang sudah aku percayai darinya.

Perlahan, bibirnya mulai menyunggingkan seulas senyum yang aku tidak tahu apa artinya. Dia maju selangkah, kemudian menutup tanganku yang terbuka. "Kau tidak perlu meminta lagi, Perdana Mentri." Jawabnya sembari kembali menatapku. Kini tanganku kembali ke sisi tubuhku. "Kau sudah mendapatkannya."

Kedamaian...

Perasaan yang menyenangkan sekali, bukan?

Aku tidak menyangka, bahwa meskipun di dalam peperangan seperti ini, seseorang, ya meskipun hanya satu orang saja, dapat merasakan kedamaian yang menenangkan seperti ini. Apakah jika suatu saat, jika China benar-benar dilingkupi kedamaian sesudah dia selesai menjalankan tugasnya, perasaan seperti ini akan terus abadi?

"Terima kasih banyak." Ujarku sembari bersoja sekali lagi.

Kulihat anak muda itu tersenyum sekilas, sebelum menatap sebentar ke arah kota Cheng Du. "Shu ini..." Gumamnya. "Tempat yang sangat unik, ya?"

Sekali lagi, aku harus menyerah mengartikan apa arti kalimatnya ini. Tetapi saat dia mengatakan itu, sebuah hantaman rasa bersalah membuat dadaku terasa sesak. Mungkin memang aku tidak melakukannya dengan tanganku sendiri. Tetapi ketika dia ditangkap karena tuduhan tidak benar itu, kemudian dicambuk tadi pagi, ditambah lagi kalau dalam perjalanan ke tempat ini ada hal-hal tak mengenakkan yang menyakitkan hatinya...

...itu semua menjadi beban tersendiri untukku. Sebab bagaimanapun, akulah Perdana Mentri kerajaan Shu ini.

"Lu Xun," Dia memandangku dengan pandangan terkejut saat melihatku membungkuk dalam-dalam. "Satu hal lagi yang ingin kumohonkan. Apa yang sudah menimpamu sampai saat ini, aku sama sekali tidak tahu." Ujarku. "Meskipun mungkin bukan aku yang tepat mengatakannya, tetapi maafkanlah semua kesalahan mereka."

Laki-laki Wu itu tercenung cukup lama. Baru sesudah itu dia menjawab. "Perdana Mentri, kau tahu? Aku juga sudah pernah masuk ke Kerajaan Utara yang terkenal kejam itu." Aku mengangkat kepala saat mendengar kisahnya. "Yang kualami di sini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tempat itu. Tetapi, sebelum aku pergi meninggalkannya, seorang jendral datang dan memohonkan maaf atas kejahatan pangerannya."

Kembali semilir angin yang lembut membawa hawa sejuk terasa sementara dia berhenti sejenak.

"Jendral Wei itu tidak perlu melakukannya, karena aku sudah memaafkan pangerannya bahkan sebelum dia memohonkan maaf. Apalagi di tempat seperti Shu ini, Perdana Mentri..."

Senyum lega mengembang di wajahku.

Memang tidak salah jika Phoenix ini dikatakan memiliki sebuah unsur yang sangat kuat yaitu pengampunan. Sekali lagi, aku makin yakin bahwa anak muda berlogat timur ini bukan orang biasa. Dia pasti adalah Phoenix. Sungguh aku hanya bisa bertanya-tanya, bagaimana bisa Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei tidak mau percaya juga? Apa mereka benar-benar tidak bisa melihat hal yang begitu jelas yang sedang terang-terangan ditunjukkan olehnya?

Kalau tidak salah, aku mendengarnya mengatakan sudah pernah masuk di Kerajaan Wei. Hmmm... ini sungguh menarik. Tak dapat membendung rasa penasaranku lagi, aku pun bertanya padanya. "Jika kau tidak keberatan, Lu Xun," Dia sepertinya mengisyaratkanku untuk melanjutkan. "Bersediakah kau menceritakan siapa kau sebenarnya? Mulai dari di Kerajaan Timur, kemudian bagaimana kau masuk ke Kerajaan Utara, dan perjalananmu sampai akhirnya tiba di tempat ini?"

Dia tersenyum ringan, kelihatan sama-sekali tidak keberatan untuk menceritakannya. Jadi, mulailah ia menuturkan kisahnya. Benar-benar menarik. Rupanya di Kerajaan Wu ia adalah seorang ahli strategi, pantas saja ia bisa memiliki aura kebijaksanaan itu meskipun masih sangat belia usianya. Ia juga ditunangkan dengan seorang putri Wu, anak Kaisar Sun Ce terdahulu yang rupanya adalah Huang, Phoenix kedua yang perempuan yang sedang dicari-cari olehnya saat ini.

Sepanjang malam itu, aku mendengar penuturan kisahnya yang sangat panjang, tetapi aku sama sekali tidak bosan dan tidak mengantuk. Malah sebaliknya, semua hal yang terjadi padanya sangat mencengangkanku.

Dan satu hal lagi. Semua hal yang diceritakannya makin membuatku teguh pada apa yang kupercayai.

-o-o-o-o-o-o-

Yan Lu

Tengah malam ini, aku tidak tidur.

Aku sedang berada di depan makam niang. Pemakaman niang berada di tempat yang sangat indah, berada di taman pohon Dao di belakang istana yang sangat disukai Fu Wang, dengan banyak bunga-bunga Luo Lan yang disukai niang tumbuh di sana-sini. Pemakaman yang sangat mewah serta upacara pemakaman yang mahal telah disiapkan oleh Fu Wang dan telah dijalankan tak lama sesudah kepergian niang.

Namun sungguh sial... sampai sekarang aku belum dapat menemukan pembunuh niang dan membalaskan dendamku padanya!

Di depan makam niang, aku mengangkat cangkir porselain kecil bersisi arak tinggi-tinggi, kemudian menuangkannya ke tanah, kemudian ber-kowtow pada Langit dan Bumi. Sama seperti Fu Wang mengikat sumpah persaudaraan dengan kedua adik angkatnya, kini aku mengikat sumpah akan membalaskan kematian niang pada orang yang telah membunuhnya! Semumur hidup aku tidak akan pernah melupakan sumpah ini!

"Ibunda Permaisuri," Ujarku dalam keheningan malam itu. "Malam ini, Yan Lu datang kemari untuk memberikan kabar yang akan membuat Ibunda Permaisuri dapat beristirahat dengan tenang. Aku bersumpah akan menggunakan seluruh hidupku untuk mencari orang yang telah membunuh Ibunda. Akan kubalaskan kematian Ibunda."

Bibirku mulai terbata-bata mengucapkan kata-kata itu. Sial... sudah dua minggu lebih berlalu sejak kepergian niang, tetapi aku masih tidak bisa mengontrol emosiku jika mengingat akan hal itu... Bayangan hitam dalam api kegelapan yang telah menghanguskan niang, suara yang menjijikkan penuh dengan kelicikan itu...

Aku bersumpah demi Langit dan Bumi akan menangkapnya!

"Ibunda dapat beristirahat dengan tenang sekarang..."

Arak di dalam cangkir itu sudah habis sekarang. Kuletakkan atas sebuah meja di taman itu.

Aku baru saja akan bersiap-siap untuk kembali ketika aku mendengar sesuatu dari belakangku.

"Yan Lu..."

Hah? Siapa itu? Saat aku menoleh ke belakang, rupanya tidak ada siapapun!

"Yan Lu... putriku..."

Suara itu... suara niang!

"Ibunda Permaisuri!" Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah dengan cepat. Jantungku mulai berdengup kencang. Niang... niang ada di sini? Apa mungkin, aku bertemu dengan arwah niang yang sudah mati...? Ketika aku menemukan sosok niang dikelilingi bunga-bunga Luo Lan yang bermekaran meskipun dalam musim salju ini, aku tahu dia ingin menyampaikan sesuatu padaku.

Airmataku kembali berderai bagai hujan.

"IBUNDA PERMAISURIIIII!" Kaki berlari secepat yang masuk akal, menghambur ke arah niang. Tetapi aku gagal memeluk. Jangankan memeluk, menyentuhnya saja tidak bisa! Baru saja aku sadar, yang kulihat dari niang sekarang bukanlah tubuh yang utuh atas darah dan daging yang bisa disentuh, tetapi tubuh transparan yang hanya arwah saja.

Apakah ini cuma mimpi? Apakah pikiranku sebegitu kacaunya sampai bisa melihat niang?

Kulihat niang tersenyum. Ya, senyuman yang sama yang membuatku yakin kalau dia memang adalah niang. "Yan Lu, bahkan sesudah aku mati pun kau masih memanggilku 'Ibunda Permaisuri'?"

Apalagi pertanyaan itu. Tangisanku yang sudah pecah makin tidak bisa terbendung. Benar... Niang tidak senang jika aku memanggilnya 'Ibunda Permaisuri'. Dia ingin aku memanggilnya 'niang' saja meski dirinya adalah seorang permaisuri. Namun, demi tata krama dan kesopanan yang ada di istana ini, aku terpaksa terus memanggilnya 'Ibunda Permaisuri'.

Sekarang, niang sudah tiada. Aku tidak perlu memanggilnya 'Ibunda Permaisuri'.

Akhirnya, sesudah waktu yang sangat lama, aku bisa tersenyum sambil memanggilnya, "Niang..."

Niang juga tersenyum. "Yan Lu... seandainya waktu aku masih hidup kau dapat memanggilku begitu..."

Aku hanya bisa mengangguk lemah. "Niang, tetaplah di sini... jangan tinggalkan aku..."

Niang terdiam sejenak. Sudah kuduga, dia menggeleng. "Aku sudah mati, tidak mungkin bisa kembali lagi di dunia orang hidup. Di tempat aku berada sekarang benar-benar menyenangkan, Yan Lu. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Dan kalau bukan karena kau, aku tidak akan kemari lagi." Katanya. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. "Aku kemari karena ingin menyampaikan padamu suatu hal, Yan Lu..."

"Apa itu, niang?" Tanyaku.

"Aku sudah mengetahui siapa yang melakukan pembunuhan itu."

Mataku terbelalak lebar. Jadi, ini saatnya! Niang akan memberitahuku siapa yang membunuhnya, dan dengan demikian aku bisa menangkapnya! Bagus! "Siapa, niang? Katakan padaku!"

Niang masih terlihat sangat tenang, tidak terburu-buru untuk menjawabnya. Padahal aku sudah tegang bukan buatan. Jantungku berdengup kencang begitu inginnya mengetahui siapa gadis busuk yang telah membakar niang hidup-hidup! "Seorang abdi Langit yang mengantarkanku memberitahuku, Yan Lu." Jawab niang, masih dengan suaranya yang lembut. "Aku sudah tahu siapa. Tetapi kau tidak perlu tahu."

"APAAAA?" Aku bergidik kaget. Kekesalan dan kekecewaan menuhi seluruh batinku sampai rasanya kemarahan yang bergejolak bagai gunung yang akan meletus itu keluar lagi. Tanganku mengepal. Gigiku menggertak. "Apa maksudnya itu, niang? Beritahukan padaku agar aku dapat membalaskan dendammu! Semisalkan aku gagal membalaskan kejahatannya, aku bersedia dikutuk menjadi anjing atau babi di kehidupan selanjutnya untuk menebus kesalahanku!"

"Aku tidak menyimpan dendam apapun, Yan Lu." Balas niang dengan tersenyum. Kalimat niang ini langsung membuatku terdiam bisu. "Sudah kubilang. Tempatku berada sekarang ini jauh lebih menyenangkan daripada kehidupan sebagai permaisuri. Selain itu, Yan Lu, kalau tidak begini, mungkin sampai kapanpun kau tidak akan bisa bertemu dengan Phoenix itu."

Tanganku yang tadi terkepal perlahan terbuka lagi. Aku masih tidak terima dengan ucapan niang, tetapi yang dia katakan itu memang tidak salah.

"Akuilah, Yan Lu. Sebenarnya yang mendendam kepada pembunuh itu adalah kau sendiri, bukan?"

Kali ini, otakku terhantam oleh kesadaran.

"Kau sendiri yang tidak bisa memaafkannya."

Ahhh...

Mataku sekali lagi melebar, tetapi menatap kosong rerumputan di bawah. Benar... betapa benarnya kalimat niang itu. Kalau dipikir-pikir, akulah yang tidak bisa memaafkan pembunuh itu dan mendendam ingin membunuhnya. Bukan niang.

"Yan Lu, kau sudah bertemu dengan sang Phoenix, bukan?" Tanya niang lagi. Aku, masih dengan kepala bergetar, mengangguk. "Kau seharusnya sudah tahu untuk memaafkan."

"T-tapi..." Dengan gigi menggertak dan bibir gemetaran, aku menyanggah ucapannya. "Ini bukan cuma sekedar masalah dendam, niang! Ini masalah hukum dan keadilan! Yang bersalah harus dihukum! Aku akan menemukan pembunuh niang dan menghukumnya atas nama kebenaran!" Seruku dengan suara lantang dan tegas penuh semangat dan keteguhan.

Mulut niang terkatup sejenak. "Jadi, begitukah?"

"Ya." Aku mengangguk mantap sambil mengeratkan genggamanku pada tombak yang selalu kubawa kemana-mana ini. "Aku akan menghukumnya dengan tanganku sendiri."

"Jika itu alasanmu, tidak perlu. Suatu saat penghukuman itu akan datang meski tanpa bantuan tanganmu."

Mendengar kalimat ini, aku mulai merasa sedikit lega, meskipun agak susah juga untuk mempercayaianya. Lagipula, tidak salah, bukan? Bagaimanapun, cepat dan lambat orang yang bersalah pasti akan menerima hukumannya. Terutama jika kesalahannya demikian berat seperti membunuh seorang ibu negara. Di dalam pikiranku, kukira suatu saat mungkin salah satu atau lebih jendral Shu akan datang membawa pelaku pembunuhan itu. Begitulah yang kupikirkan

"Kapan penghukuman itu akan dilaksanakan, niang?" Tanyaku. "Dan siapa jendral atau mungkin orang lain yang berhasil meringkusnya?"

Untuk waktu yang sangat lama, niang tidak membalas apapun. Dia memalingkan wajah ke arah lain, seolah menolak untuk melihatku. Dengan begini, aku tidak bisa melihat wajahnya. "Pada malam terakhir musim dingin, Yan Lu." Aku nyaris saja melompat kegirangan. Berarti sebentar lagi! Hanya sebulan lebih sedikit! "Tetapi jangan kau kira... hukuman itu terjadi seperti yang kau bayangkan..."

Aku mengerutkan dahi karena bingung. Pertama, aku bingung dengan maksud pernyataan niang. Kedua, yang membuatku bingung adalah... apakah perasaanku saja ataukan suara niang terdengar diselingi sedu-sedan yang lemah? Suaranya juga terdengar bergetar. "Niang?" Tanyaku. "Mengapa kau menangis?"

"Aku... menangisinya..."

Ini membuatku makin bingung. "Niang menangisi pembunuh itu? Yang benar saja!"

"B-bukan..." Kulihat niang menggeleng. Kini kedua belah tangannya menutupi wajahnya. "Aku menangisi orang yang dihukum menggantikan pembunuh itu..."

Seraya mendengar kalimat itu, aku merasakan ribuan jarum dihujamkan di dadaku. Bahkan tak hanya itu, ribuan meriam seolah jatuh di kepalaku, memporak-porandakan pikiran dan jiwaku. Aku, Liu Yan Lu, adalah seorang yang dibesarkan dalam keluarga kerajaan yang penuh keadilan dan memiliki jiwa kebenaran yang tinggi. Sekarang, mendengar hal absurd dan menggelikan seperti isapan jempol anak kecil begitu, bagaimana aku bisa menerimanya?

Ini tidak adil! Sungguh ini tidak adil! Bagaimana mungkin ada seorang yang tak bersalah disuruh menggantikan hukuman itu? Tidak boleh dan tidak bisa hal seperti ini terjadi!

"TIDAK BOLEH, NIANG!" Aku berteriak, nyaris menjerit dengan sepenuh kekuatanku. Suaraku sepertinya sampai kepada langit, dan menggetarkan awan-awan yang ada di atas. Nafasku memburu saat mengeluarkan seruan itu dari bibirku. Tenggorokanku langsung serak sesudah itu. "Ini... sungguh tidak adil!"

"Kau tidak boleh bilang tidak adil, Yan Lu..." Niang berujar. "Ini benar-benar adil. Pengganti itu sendiri yang bersedia. Bahkan... takdir ini semua sudah diatur dengan baik, seperti benang yang tidak akan pernah putus..."

Sungguh terpukul aku mendengarnya. Tetapi, bisakah aku mencegahnya? Kurasa tidak mungkin. Aku hanya bisa menerimanya saja meski ini sungguh terdengar bodoh, absurd, ironis, dan tidak masuk akal bagiku.

Aku menghirup banyak-banyak udara, berharap dapat menenangkan jiwaku. "Siapa itu, niang?" Tanyaku. "Siapa pembunuh itu dan orang yang menggantikannya?"

Meski aku bertanya begitu, namun aku tahu niang akan tidak menjawab.

"Kau akan tahu, Yan Lu..." Kata niang seraya ia menghilang perlahan-lahan dari hadapanku. Sudah saatnya kami berpisah. "Malam terakhir musim dingin semakin dekat..."

Niang meninggalkanku seorang diri di tengah malam ini, masih dengan perasaan galau dan kepala penuh tanda tanya besar.


(1) Yang punya buku novelnya Luo Guanzhong berjudul Samkok atau Romance of Three Kingdom dibuka, ya~~~ Ceritanya, pas Liu Bei membentuk 5 Jendral Macan (Five Tiger Generals), kan yang dipilih itu Guan Yu, Zhang Fei, Zhao Yun, Ma Chao, Huang Zhong. Nah, Guan Yu satu2nya yang nggak mau bergabung karena dia nggak terima disepadankan ama Huang Zhong yang udah tua dan bukan siapa2 sebagai 5 Jendral Macan...

(2) Ini juga silahkan buka novelnya~ Ceritanya itu beberapa saat sesudah Zhuge Liang direkruit Liu Bei, tentara Wei mau perang ama mereka. Awalnya Guan Yu dan Zhang Fei nggak mau mengikuti nasihat Zhuge Liang. Sampai Liu Bei memberikan kekuasaan seluruh tentara ke Zhuge Liang, barulah kedua jendral itu mau nurut...

(3) Ini juga silahkan buka novelnya~ Jadi ceritanya Liu Bei itu mengunjungi Zhuge Liang 3 kali sebelum akhirnya bisa merekruit Zhuge Liang. 2 pertemuan pertama Liu Bei dan 2 adeknya gagal ketemu ama Zhuge Liang. Pada pertemuan ketiga, Zhuge Liang lagi tidur. Liu Bei pun nunggu ampe Zhuge Liang bangun, tapi Zhang Fei yang nggak sabar ngancam mau bakar rumahnya Zhuge Liang kalo dia nggak bangun... getu...

Yahhh~~~ Zhuge Liang udah tau kalo Yangmei emang pelakunya, sodara... Yah, moga2 dengan ini saya memperlihatkan si Zhuge Kongming yang tau segala, persis kayak di DW dan di Romance of Three Kingdom getu~ Hehehe... supaya si Zhuge Liang nggak OOC... XDDDD

Wokey~~~ Sekian untuk chap ini... DAN SELAMAT HARI APRIL MOP UNTUK SEMUA~~~~