Chanyeol tidak tau apa yang dilakukannya.

Dia langsung berlari dengan tiba-tiba dari restoran itu dan mendekap dan melindungi tubuh serta kepala perempuan itu dengan erat.

Dia tidak tahu kenapa dirinya melakukan itu, yang dirinya ketahui dan ia sadari apa yang dilakukannya adalah saat dia mengatakan itu.

BRAK!

Beberapa orang menjerit melihat tabrakan itu dan Kyungsoo yang berada tak jauh dari sana terdiam kaku melihat apa yang terjadi di hadapannya.

Tubuh mereka terpental jauh dan suara ban yang bergesekkan dengan jalan terdengar nyaring.

Semuanya terjadi sangat cepat.

"BAEKHYUN!" Kyungsoo langsung berlari menghampiri Baekhyun yang di dekap entah oleh siapa dan terkejut ketika melihat Chanyeol mendekap perempuan itu dengan erat.

"Ahh... enggak... enggak... bangun! Bangun Park Chanyeol!" Baekhyun menepuk pipi Chanyeol berulang kali, berharap kedua mata lelaki itu yang terpejam terbuka dan menatapnya. "Enggak! Park Chanyeol, bangun! Chanyeol!"

Ah, sejujurnya Chanyeol sendiri bingung.

Kenapa dia melakukan itu semua?

Kenapa dia mengatakan itu?

Setelah dia bertemu dengan Jinki dia selalu memikirkan perkataannya sendiri.

Kenapa dan kenapa?

Karena dia marah.

Karena dia benci.

Karena dia muak.

Baekhyun selalu setengah-setengah padanya.

Perempuan itu selalu tidak serius dan membuatnya seperti mainan.

Dia bukan mainan!

Jangan mendorongnya dengan perlahan dan mengikatnya seenaknya! Dia juga butuh kepastian yang tegas agar dirinya bangkit.

Dia memang pengecut. Menghindar saat itu namun kembali lagi ketika semuanya telah berubahm

Dia memang selalu pilih yang aman dan tak beresiko.

Namun ketika itu, dia sungguh sungguh meskipun dia telah mengetahui segalanya.

"Jangan bercanda! Kenapa aku harus mengikuti perkataammu!?"

"Chanyeol, aku mohon."

"Aku mencintaimu dan kamu juga mencintaiku, apa susahnya Baek?"

"Kamu harus bersama Hana apapun yang terjadi, aku tak peduli."

"Tapi aku mencintaimu!"

"Chanyeol!"

Chanyeol menghela nafasnya kasar. "Terserah! Aku tak peduli! Jangan pernah menyesal dengan perkataanmu sendiri!"

"Tidak akan." Baekhyun tersenyum lebar. "Terimakasih, Chanyeol."

Tapi, meskipun dia melakukan itu.

Semua itu hanya alasan.

Meskipun dia menyakiti Baekhyun, dia sungguh tak ingin melakukan itu.

Dia membuat orang-orang yang dipanggilnya waktu itu untuk menikmati tubuh Baekhyun pergi dan menggantikannya dengan para pelacur sebagai imbalan, dan hanya dia yang memakai tubuh Baekhyun dengan sepuasnya meskipun dia terus menangis ketika melakukannya.

Baekhyun mungkin tidak sadar ketika dia melakukannya untuk kesekian kalinya.

Dia sungguh tak ingin melakukan itu.

Namun kenangan buruk tentang Hana membuat harga dirinya dan amarahnya memuncak.

Semuanya selalu sama.

Dipacu oleh hal yang sama.

Dan Baekhyun memang selalu menjadi pemacu apapun yang terjadi pada dirinya.

Meskipun dia harus kehilangan nyawanya sendiri.

Chanyeol tak masalah.

Dia bahagia ketika dirinya sempat memeluk erat tubuh itu untuk terakhir kalinya.

Dan dia sangat bahagia ketika dia sempat untuk mengatakan itu lagi setelah sekian lamanya.

"Aku mencintaimu." Chanyeol tersenyum lebar. "Sungguh, aku mencintaimu."