HUUUUAAAAAAA! Maafkan saya yang udah 2 minggu lebih nggak update... *kowtow 1000x* Tapi tenang aja~ UAS udah berlalu kok... jadi kuliah saya juga udah selesai~ *tebar konfeti* So, tenang aja... nggak bakal ada lagi yang namanya telat update sampe dua minggu~
Reply review~
Ruega: WOAH~ asyik banget baca fanfic bisa turun berat badan... XDDDD coba kalo saya juga bisa begitu... wkwkwkw...
Mocca-Marocchi: Diusahakan~ wkwkwkw... Mengenai ketiga You... Dan itulah Huo Li~ Kalo nggak enak, bukan Huo Li namanya~ *dibacok*
Saika Tsuruhime: Tenang aja~ seenggak2nya di universe lain dia udah sering di crossdress, jadi udah terbiasa banget, tuh~ (lagian siapa suruh punya tampang kayak getu? Wkwkwkw) Hmmm... 100 keping emas itu setara dengan 200 juta rupiah... So, menurut saya sih agak nggak heran kalo ketiga sodaranya rela2 aja Lu Xun disuruh pake baju cewe~ wkwkwkw...
That's it. Happy reading!
"... aduh!"
"HOREEEEEEE! Aku menang!"
"Baiklah! Baiklah! Latihan sampai di sini dulu! Lu Yi, kau baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa, Jendral Lü Meng. Kurasa, Jendral Ling Tong terlalu kuat untuk menjadi lawanku..."
"Kau jangan memanggilnya 'jendral' begitu, Lu Yi. Nanti dia malah akan makin kepala besar..."
"Hei, jangan sembarangan, Jendral Lü Meng! Ah, tentu saja, Lu Yi! Aku akan menjadi jendral terhebat di Wu! Dan itu termasuk menjadi lebih kuat dari kau, Lu Yi! sekalipun kau adalah orang yang diberi kekuatan Phoenix! Mwahahahaha!"
"... iya... iya... aku mengaku kalah...! Dan... kenapa sih semua selalu mengatakan aku ini orang yang diberi kekuatan Phoenix? Dan siapa sih sebenarnya Phoenix itu? Kenapa dia memberikan kekuatannya padaku, bukan padamu saja, Jendral Ling Tong?"
Pasukan yang berasal dari berbagai kerajaan itu semakin mendekati tanah Shu, meski dengan kecepatan yang lambat. Tapi, memang siapa juga yang akan mengira perjalanan ini cepat usai? Dengan ribuan prajurit, tentu akan sangat memperlambat. Dengan jumlah yang sebanyak itu, mustahil mereka dapat masuk ke kota tanpa menarik perhatian. Walhasil, sepasukan besar yang terdiri dari pasukan Dinasti Han, Wei, dan Wu itu memilih untuk berhenti dan beristirahat di padang luas daripada di dalam kota. Mereka hanya mengunjungi kota untuk mengisi ulang ransum jika habis, itu pun hanya mengirim beberapa orang saja.
Sore ini tidak beda dengan hari-hari sebelumnya. Mereka memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di sebelah selatan Kota Jiang Xia. Ini berarti mereka baru sampai di Provinsi Jing. Sepertinya, perjalanan mereka masih akan sangat lama dan panjang...
Lü Meng, salah satu dari jendral Wu yang diberi mandat oleh Kaisar Sun Quan untuk pergi beserta dengan Panglima Besar Yuan Shao, duduk di bawah sebuah pohon. Angin sepoi-sepoi musim dingin melambai-lambai rambut panjangnya yang ikal. Orang lain mungkin mengira jendral itu tengah memandangi alam dan terbenamnya sang surya di barat.
Namun, apanya yang mau dipandangi? Kabut tipis musim dingin mengalangi pandangan mata dari matahari, dan itu sama sekali tidak menganggungnya. Memang ia bukan sedang menikmati pemandangan. Ia sedang berpikir.
Mungkin bahasa 'merenung' lebih cocok untuknya. Di tempat ini, kepalanya kembali memutar segala kejadian di masa lalu yang seharusnya tidak perlu diingat-ingat. Itu hanya kenangan manis, tetapi tidak penting.
Bagaimana mungkin bocah yang dulu dibimbingnya bertarung, yang hampir selalu kalah jika berlatih bertarung bersama Ling Tong, adalah Sang Phoenix itu sendiri?
Lü Meng menghela nafas panjang.
"Hei, orang tua!" Mendengar suara parau tetapi lantang luar biasa itu membuat Lü Meng tersentak kaget. Suara itu, siapa lagi kalau bukan milik si mantan bajak laut, Gan Ning? Belum sempat menyemprot Gan Ning yang memanggilnya 'orang tua', rekan jendralnya itu tahu-tahu duduk di hadapannya. "Kau sedang memikirkan apa? Kalau kau terus-terusan berpikir seperti itu, kau akan makin cepat tua!"
"Aku tidak mau otakku berkarat seperti otakmu. Karena itu aku berpikir." Jawab Lü Meng sekenanya, sama sekali tidak ingin diganggu.
Sayang sekali, kalimat itu bukannya membuat Gan Ning, malah menambah satu orang lagi pengacau. Ling Tong menghampiri sangking tertarik, kemudian duduk di sebelah Gan Ning. "Rasakan itu, anjing laut!" Tukasnya sambil tertawa terbahak-bahak pada saudara angkatnya itu. "Kau sudah tahu kalau Jendral Lü Meng tidak suka dipanggil 'orang tua', dan kau masih melakukannya. Tapi... hmmm... aku juga penasaran, Jendral Lü Meng. Apa yang tengah kau pikirkan?"
Jendral yang tertua akhirnya menumpahkan apa yang ada di kepalanya, meski awalnya ia sedikit ragu. Dua makhluk tidak jelas ini, apakah kapasitas otaknya cukup untuk menampung segala pemikirannya yang dalam?
"Aku sedang memikirkan tentang Lu Xun." Jawabnya pada akhirnya. Detik melihat keseriusan dalam wajah Lü Meng, baik senyuman Ling Tong dan Gan Ning memudar.
"Memikirkan dia dimana dan bagaimana cara menolongnya?"
Lü Meng menggeleng. "Bukan. Aku hanya berpikir..." Ia memandang Ling Tong lurus. "Hei, Ling Tong. Apakah pernah terbersit sedikit saja di kepalamu, bahwa bocah yang dulu kau panggil 'putri dari Lu Jiang' itu, yang selalu kau kalahkan kalau kalian berlatih, adalah Sang Phoenix itu sendiri?"
Sampai di sini, Ling Tong tertegun, menunduk dan mencerna pertanyaan itu baik-baik.
"Dan kau juga, Gan Ning. Kau selalu bilang padaku bahwa Lu Xun itu seperti Phoenix dalam legenda. Waktu itu kita hanya tahu dia cuma 'orang yang diberi kekuatan Phoenix'." Ucapnya pada jendral satunya lagi. "Tapi... dia benar-benar Sang Phoenix."
Sampai di sini, ketiga terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Tidak jauh dari tempat itu, seorang jendral lain mendengarkan percakapan mereka. Xiahou Long menghentikan pekerjaannya sekilas, sebelum menajamkan pendengarannya dan mendengar percakapan itu baik-baik. Namun toh akhirnya jendral Wei itu memutuskan untuk mendekati kelompok kecil itu.
"Permisi," ucapnya sopan sambil bersoja. Ketiga jendral Wu itu sepertinya cukup kaget melihat kedatangannya. "Apakah aku boleh bergabung dengan anda sekalian?"
"Tentu. Tidak perlu sungkan-sungkan." Jawab Lü Meng ramah. Xiahou Long pun duduk bersama dengan mereka.
Jendral Wei itu membuka mulut. "Aku tertarik dengan cerita kalian, mengenai Sang Phoenix pada saat ia masih kecil. Memangnya, apa yang begitu berkesan pada ingatan kalian?" Tanya Xiahou Long penasaran.
"Itu..." Ling Tong-lah yang pertama kali menjelaskan. "Aku ingat saat dalam suatu latihan bertarung, Lu Xun bertanya dengan penuh keheranan kenapa semua orang memanggilnya 'orang yang diberi kekuatan Phoenix', siapa Phoenix itu, dan kenapa dia diberi kekuatannya?" Jelasnya. "Dan aku selalu dengan sok tahu mengajarinya mengenai Sang Phoenix... tanpa tahu bahwa Lu Xun adalah Sang Phoenix itu sendiri!" Diakhirinya penuturannya dengan tawa, bukan tawa karena sesuatu yang lucu melainkan sebuah tawa takjub.
Lü Meng juga ikut tertawa. "Ya, dan pernah suatu kali dia menanyakan hal yang aneh pada kami."
"Apa itu?"
"Dia bertanya, 'kalau memang Sang Phoenix itu menyayangi orang-orang di dunia yang penuh kegelapan dan peperangan ini, kenapa yang dia lakukan cuma memberikan kekuatannya pada orang lain? Kemudian menyuruh orang itu mengerjakan semuanya? Kenapa tidak dia saja yang turun dan datang menyelamatkan kita?'" Ucap Lü Meng sambil mengingat-ingat masa lalu.
"Oh! Aku ingat! Aku ingat pertanyaan itu!" Gan Ning berseru-seru dan tertawa. "Pertanyaan itu sampai membuat orang-orang seistana shock!"
Mata Xiahou Long terbelalak lebar. "Lalu, kalian menjawab bagaimana?"
"Tentu saja kami tidak menjawabnya." Jawab Ling Tong, sebelum ia menunjuk Gan Ning. "Anjing laut ini kemudian nyaris menempelengnya karena sudah menanyakan hal yang begitu kurang ajar."
Kurang ajar? Bukankah itu kebenarannya? Pikir jendral Wei itu dalam hati, tanpa bisa membendung keterkejutannya saat mendengar jawaban dari Ling Tong. "Tunggu sebentar. Pertanyaan itu sangat masuk akal sekali! Memang benar bahwa yang datang adalah Sang Phoenix itu sendiri, bukan sekedar 'orang yang diberi kekuatan Phoenix'. Ya, kan?" Tanyanya, dan hanya menerima tatapan bingung dan penuh pemikiran dari ketiga lawan bicaranya. "Mengatakan bahwa Lu Xun, Sang Phoenix itu, cuma seorang manusia biasa yang entah bagaimana mendapatkan kekuatan Phoenix, itu adalah penghinaan besar! Bagaimana kalian bisa tidak tahu mengenai ini?"
Lü Meng menghela nafas panjang, sekali lagi, sebelum mewakili kedua rekannya. "Jendral Xiahou Long. Kami ini dari Kerajaan Wu. Kami bukan kerajaan yang kaya dan besar seperti Wei, yang bisa mendapat segala pengetahuan dengan mudah. Kami juga bukan kerajaan Shu yang begitu makmur, dan begitu setia menunggu kedatangan Phoenix sampai-sampai memiliki gerbang Yan Lu maupun kota khusus seperti FengHuang Xian-kota FengHuang." Jawabnya sebelum memandang ke kejauhan, bergumam pelan lebih kepada dirinya sendiri.
"Kami hanyalah orang-orang bodoh, dan orang-orang bodoh hanya punya satu pengetahuan. Yaitu bahwa dirinya tidak tahu apa-apa."
Xiahou Long terkesiap.
"Ini yang kami tahu sejak dulu, bahwa... sepertinya tidak mungkin Sang Phoenix itu akan turun dan menjadi satu dari antara kami." Lanjut Ling Tong, dengan suara penuh kesungguhan. "Bukankah ada banyak cerita di masa lampai mengenai manusia, orang-orang yang karena jasanya, kemudian diangkat menjadi Abdi Langit? Tapi... bagaimana kalau yang terjadi adalah kebalikannya? Sang Phoenix, yang satu tingkat lebih tinggi di atas segalanya, turun menjadi manusia?"
Jendral Wei itu termenung, dengan penuh emosi menjawabnya. "Tapi itu tetap saja bukan alasan!" Tukasnya nyaris berteriak. "Apa kalian tidak percaya pada apa yang bisa dilakukan Sang Phoenix itu? Kenapa membatasinya begini rupa? Kalau dia ingin menjadi manusia, dia dapat melakukannya dengan mudah meski tidak sesuai dengan pikiran kita. Ya, kan?"
Kali ini, gantian Gan Ning yang menjawab. Jendral yang adalah mantan bajak laut itu jarang sekali terlihat penuh pemikiran. Tetapi sekali ia serius, ucapannya bisa menggetarkan hati setiap orang.
"Itu karena kau tidak benar-benar mengenal Wu, Jendral Xiahou Long dari Wei. Sang Phoenix itu, seperti dalam ramalan leluhur, akan datang di timur seperti layaknya matahari sendiri. Dan itu berarti akan datang di Wu. Ya, di kerajaan Wu." Ucapnya sambil menatap tajam lawan bicaranya. "Wu... secara militer kami masih kalah dari Shu, apalagi Wei. Begitu pula dengan luas wilayah. Kami pula-lah yang paling tidak mengerti apa-apa tentang Phoenix, sebab kami hanyalah orang-orang yang tidak berpendidikan."
"Orang-orang di kerajaan kami, siapakah yang bisa dibanggakan?" Lanjut mantan bajak laut itu. "Aku, begitu pula dengan Jendral Zhou Tai, hanyalah mantan bajak laut. Jendral Taishi Ci dulu adalah lawan Kaisar Sun Ce terdahulu. Keluarga Sun juga dulunya bukan penguasa asli daerah Timur, sebelum Kaisar Sun Jian terdahulu menyatukannya. Wu hanyalah kerajaan yang terdiri dari orang-orang yang biasa-biasa saja, bahkan orang-orang rendahan..."
Ditutupnya seluruh penjelasan itu dengan pertanyaan yang retoris, pertanyaan yang tidak perlu dijawab. "Sekarang, menurutmu, apa yang membuat Sang Phoenix itu mau datang pada orang-orang rendah seperti kami?"
Kata-kata Gan Ning meresap ke dalam hati Xiahou Long. Jendral Wei itu tak tahu harus mengatakan apa untuk beberapa saat.
Justru dari perkataan Gan Ning itulah, ia mengerti sepenuhnya kenapa Sang Phoenix tidak datang mula-mula di Wei atau Shu! Wu bukanlah kerajaan yang makmur sepertu Shu, itu benar! Bukan pula kerajaan yang kuat seperti Wei, itu benar! Tidak memiliki gerbang Yan Lu maupun FengHuang Xian, dan orang-orangnya bukan orang-orang yang begitu terdidik dan berasal dari garis keturunan tinggi hingga patut dibanggakan, itu benar!
Tapi justru di sanalah jawabannya. Mereka tahu ketidakpantasan mereka. Mereka tulus dan rendah hati.
"Tidak..." Pada akhirnya Xiahou Long membuka suara, membuat pendengarnya mengalihkan pandangannya pada mereka. "Jika kau tidak tahu apa-apa, itu tandanya kau sudah tahu yang terpenting, dan kau sudah tahu segalanya!" Ujarnya. "Justru Wu-lah yang paling siap menerima Sang Phoenix itu, bukan Wei ataupun Shu!"
Melihat luapan emosi jendral muda itu, ketiganya sedikit bingung. "T-tunggu...! Apa maksudmu, Jendral Xiahou Long?" Tanya Ling Tong yang berada di sebelahnya. Heran.
Xiahou Long memandang jendral Wu itu dengan ekspresi yang tidak dapat dibaca, mata biru-hijaunya terlihat lebar dan berkilat-kilat. "Kalian... orang-orang yang tahu bahwa kalian tidak pantas menerima kedatangannya. Justru kepada kalianlah Sang Phoenix itu mula-mula datang..."
Mungkin karena penuturan ketiga jendral Wu itu, mungkin juga karena kesimpulan yang diucapkan Xiahou Long pada akhirnya, orang yang lain lagi menghampiri mereka. Dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Panglima Besar Yuan Shao yang diserahi seluruh kekuasan militer Dinasti Han. Panglima itu berjalan dengan gagah diiringi dua orang jendral menghampiri mereka.
"Apa maksudmu?" Tanya Yuan Shao dengan alis berkerut, bertanya kepada keempat orang itu. "Bukankah itu memang sudah menjadi keinginan Sang Phoenix itu sendiri untuk datang di China ini dan memerintah? Dan bukankah karena itulah kita sekarang sedang berusaha menolongnya?" Tanyanya. "Mananya yang tidak pantas?"
"Kau tidak mengerti, Panglima Besar Yuan Shao!" Tukas Xiahou Long tiba-tiba sambil berdiri menghadap panglima itu lurus-lurus. "Seluruh China ini dilanda peperangan yang tidak henti-hentinya selama berabad-abad. Apakah itu urusannya? Sang Phoenix tidak perlu peduli pada kita!" Jawabnya dengan segenap hati. "Dan sekali lagi, Panglima, Sang Phoenix datang dengan tujuan membawa kedamaian, bukannya untuk memerintah!"
Lü Meng pun ikut berdiri, melanjutkan penuturan Xiahou Long dengan suara yang lebih tenang. "Kita hanyalah orang-orang bodoh yang tidak tahu bagaimana cara bertahan hidup selain dengan membunuh satu sama lain. Kita bahkan tidak tahu bagaimana caranya memperoleh kedamaian selain dengan mengangkat senjata. Dan sekarang, Sang Phoenix itu datang pada kita yang bodoh ini. Dengan semua ini, anda tetap berpikir Sang Phoenix itu memang wajib datang pada kita?"
Ucapan kedua orang itu hanya sampai di telinga Yuan Shao saja. "Aku tidak tahu bagaimana dengan Wu, tetapi Dinasti Han Agung adalah Dinasti yang telah memerintah lebih dari dua ratus tahun lamanya. Kaisar Xian terdahulu ditambah kaisar-kaisar yang lainnya telah berusaha keras membawa kedamaian itu. Aku mendengar dari mulut kalian sendiri mengatakan segala kelemahan-kelemahan kalian lainnya. Jangan anggap semua orang di China seperti itu! Keluarga bangsawan dari Dinasti Han Agung pantas mendapatkan pertolongan langit melalui Sang Phoenix!"
"KAAAUUUUUU...!"
Dengan penjelasan ini, tersulutlah amarah Gan Ning. Jendral mantan bajak laut itu berdiri dengan cepat dan menerjang Yuan Shao!
Ya, jendral itu nyaris saja akan menghajarnya kalau seorang gadis tidak terlebih dahulu menghalanginya.
"Hentikan, Jendral Gan Ning!" Seru Sun Shang Xiang, putri Wu yang juga ikut dalam perjalanan ini. "Jika kau menyerangnya karena kata-katanya yang merendahkan kita, bukankah itu berarti kau menyangkal sendiri semua penuturanmu? Kerendahanhati kita, pengakuanmu, semua itu apakah cuma di mulut saja?" Bentaknya penuh emosi, tetapi dengan penuh kebijaksanaan.
Dengan cepat Ling Tong dan Lü Meng juga ikut menghentikan Gan Ning, namun jendral itu masih berusaha melepaskan diri. Tatapan matanya yang penuh kemarahan menatap tajam Panglima Besar Dinasti Han itu. "Aku bukan marah padanya karena dia merendahkan Wu!" Teriaknya, sampai-sampai membuat orang-orang yang lain mendekat karena penasaran. "Aku marah padanya karena ia merendahkan Sang Phoenix! Merendahkannya dengan mengatakan mereka pantas mendapat bantuannya!"
Sun Shang Xiang hanya mendesah panjang. Apa yang Gan Ning katakan, dengan suara yang menggetarkan bumi dan menulikan langit, memang sepenuhnya benar.
Putri Wu itu hanya memandang Yuan Shao sekilas. Matanya yang lebar berkilat-kilat dan tajam seperti pisau. "Panglima Besar Yuan Shao, dengan segala hormat aku ingin memberikan suatu saran pada anda." Katanya sambil bersoja dan membungkuk dalam-dalam.
"Apa itu?" Tanya Yuan Shao penasaran.
"Jangan pernah menyombongkan dan merasa diri pantas." Ucap Sun Shang Xiang tegas dan lugas. "Orang-orang di Shu berusaha membunuhnya dan tidak bisa menerimanya, bukan gara-gara mereka orang-orang rendahan yang bodoh dan tidak terpelajar seperti kami. Sebaliknya, karena mereka tinggi hati dengan segala keberadaan mereka, seperti anda begini."
Dengan sebuah saran yang menusuk itu, Sun Shang Xiang pergi, diikuti dengan ketiga jendral Wu lainnya. Keberanian putri Wu itu sungguh membuat Yuan Shao mati kata, tidak dapat melakukan apapun selain diam mematung di tempatnya berdiri.
Xiahou Long serba salah. Pada akhirnya ia mendekati Yuan Shao yang masih mematung.
"Panglima Yuan Shao, anda baik-baik saja?"
Tidak ada jawaban dari Yuan Shao. Panglima itu hanya terdiam.
Jauh di sebelah barat, di Kota Perbatasan Kui, seorang pemuda berlari-lari dengan penuh semangat. Pemuda itu tidak lain dan tidak bukan adalah Jendral Zhang Bao. Sesudah menyelesaikan tugasnya yaitu melakukan patroli kota pada jam pagi, kini ia memutuskan untuk mengisi waktunya dengan suatu hal yang sebenarnya sudah sangat ingin ia lakukan sejak dulu. Apa mau karena terlalu sibuk dengan tugasnya, ia jadi tak sempat.
"Akhirnya aku bisa mengunjungi rumah keluarga Yang!" Serunya gembira. "Ah, sebenarnya aku juga ingin ke FengHuang Xian, tapi kurasa aku tidak bisa segera melakukannya..."
Tentu saja melihat seorang jendral berlari secepat kilat, seorang diri tanpa kawalan prajurit lain, membuat seisi kota terkejut dan panik kalau-kalau ada penjahat yang sedang dikejarnya. Namun Zhang Bao tidak peduli. Dan lebih tidak peduli lagi dengan panas matahari yang menyengat, dengan orang-orang yang beberapa kali ditabraknya sangking terburu-buru. Pokoknya ia harus secepatnya sampai ke rumah keluarga Yang!
Akhirnya, sampailah ia di tempat tujuannya, kediaman keluarga Yang. Pagar rumah itu berupa tembok yang tingginya sekitar dua meter dan panjangnya nyaris tiga puluh meter. Sungguh kediaman yang sangat luas! Di ujung sebelah timur, ia menemukan damen-gerbang utama pada pagar tembok itu. Bentuk kediaman keluarga Yang adalah se he yuan, bentuk rumah-rumah ideal yang dimiliki keluarga berada, dengan taman depan yang menuju ke ermen-gerbang kedua.
Sayang benar, ermen-gerbang kedua dikunci. Jendral yang terkenal sembrono ini tanpa tedeng aling-aling langsung menggedor-gedor pintunya.
"HOOOOIIII! Fei Ling! Rui Huo! BUKA PINTUUUUU!" Teriaknya. "Aku sudah menunggu sampai akan punah, nih!"
Seenaknya saja ia memanggil, seolah-olah penghuni rumah itu hanyalah kedua anak kecil itu saja. Tak berapa lama, akhirnya pintu tersebut dibuka dan menampakkan seorang wanita muda yang cantik jelita berpakaian sederhana.
Zhang Bao kontan kaget. WHOOOAAA! Aku tidak tahu kalau kedua bocah tengil ini rupanya menyewa dayang! Astaga... pasti mereka anak-anak manja yang tidak bisa hidup mandiri!
"Selamat siang, xiansheng." Kata si 'dayang' dengan ramah dan bersahabat. "Apakah anda mencari seseorang?"
"Ya, mana dua bocah yang namanya Fei Ling dan Rui Huo itu?" Jawabnya asal saja sambil berusaha melihat apa yang ada di balik ermen-gerbang kedua. Dari kejauhan, ia mendengar suara-suara kedua anak itu ditambah seorang tamu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Fei Tiao. Pasti mereka tengah berada di aula utama di seberang taman tengah! "Ah, dasar mereka anak-anak manja! Sampai-sampai menyuruh dayang untuk membukakan pintu. Ya sudah, guniang! Aku duluan, ya!"
Dan, tanpa permisi, Zhang Bao melewati 'dayang' itu sambil berlari, melewati ermen-gerbang kedua, dan menyebrangi sepanjang taman tengah. Sampailah jendral itu ke aula utama dengan sangat tidak sopan sekali!
Benarlah itu. Kedua bocah yang ia cari, ditambah dengan manusia aneh bernama Fei Tiao itu ada di sana. Aula utama yang berfungsi sebagai perpustakaan keluarga itu jadi hening sekali saat Zhang Bao masuk. Ketiga pasang mata memadang si tamu tak diundang.
"Lho? Itu kan jendral bodoh yang kapan hari..." Gumam Fei Tiao sambil asal tunjuk.
"Jendral Zhang Bao, kan? Kenapa kemari?" Tanya Fei Ling yang duduk di sebuah kursi cukup besar, dengan selimut di atas tubuhnya.
"Jangan-jangan kau tersesat..." Imbuh Rui Huo.
Kontan Zhang Bao tidak terima sekali dibilang seperti itu! Rupanya tabiat ayahnya yang mudah marah dan tak sabaran itu menurun juga padanya. Baru saja ia akan berteriak sambil memaki mereka, sebuah suara terdengar dari belakang.
"Permisi..." Rupanya adalah si 'dayang' yang tadi. Ia datang dengan membawakan sebuah nampan dengan empat cangkir di atasnya. "Aku sama sekali tidak menyangka Jendral Zhang Bao akan kemari dan mencari anak-anakku. Bahkan aku tidak dapat menyuguhkan apapun. Silahkan, anggap saja rumah sendiri..."
Dengan demikian, si 'dayang' pergi.
Zhang Bao kagok sendiri.
"Tunggu sebentar..." Jendral muda itu mengerjap-ngerjap. "Tadi dayang itu bilang 'kemari dan mencari anak-anakku'. Apa mungkin...?"
Fei Ling berdehem sekali, kelihatannya merasa jengkel pada jendral yang datang tak diundang ini. "Perkenalkan, Jendral Zhang Bao. Wanita itu bernama gadis Lin Jing Ai, dan kini dipanggil Yang furen sejak menikah dengan Yang Yuan Yu." Jelasnya panjang lebar dengan nada terhina sekali. "Dan dia adalah IBU KAMI(1)."
Bukan main kagetnya Zhang Bao. Matanya mendelik dan nyaris keluar dari tempatnya bercokol. "IBUUUU? Wanita semuda itu adalah ibumu? Yang benar saja!" Serunya dengan nada tidak percaya. Selama ini ia memang pernah mendengar tentang istri dari Yang Yuan Yu si pebisnis antar kerajaan sekaligus mata-mata terselubung kerajaan Shu. Tapi ia tidak menyangka bahwa ternyata sang istri masih semuda ini!
Apalagi, dikiranya sosok seorang istri pebisnis kaya adalah seperti laoban yang yang sok, mewah-mewahan, dan sombong bukan buatan. Siapa nyana ternyata Yang furen sangat sederhana sekali penampilannya!
"Jendral Zhang Bao, jangan tertipu penampilan..." Sahut Fei Tiao asal. "Yang furen itu sebenarnya jauh lebih tua dari kelihatannya."
"Aku sih tidak heran kalau Jendral Zhang Bao sampai tertipu. Soalnya, pertama kali Fei Tiao datang, dia juga mengira niang cuma seorang dayang." Tambah Rui Huo.
Zhang Bao hanya mangut-mangut. "Uwaaahhh... sungguh wanita yang luar biasa! Sopan, baik hati, dan ramah! Sangat berbeda sekali dari anak-anaknya..."
Setelah puas melakukan pertengkaran yang tidak penting dan tidak jelas gara-gara sebaris kalimat Zhang Bao yang tidak penting itu, akhirnya mereka duduk dengan rukun lagi. Zhang Bao pun menjelaskan kedatangannya ke tempat itu yang sebenarnya hanya karena ia ingin membaca ramalan leluhur pula, yaitu ramalan dari Yang Xiong yang merupakan leluhur keluarga Yang. Sesudah kejadian maling-malingan beberapa hari lalu, tahulah Zhang Bao bahwa keluarga Yang sangat menerima baik orang-orang yang ingin mengetahui mengenai Sang Phoenix. Ia tahu itu karena mereka menerima Fei Tiao dengan gembira. Tak hanya itu, mereka mengizinkan pengembara misterius itu tinggal di rumah kediaman mereka. Dari situlah, ia membulatkan tekadnya untuk berkunjung kemari.
"Ohhh... begitu..." Rui Huo mengangguk. "Tidak masalah, Jendral Zhang Bao!" Bocah itu mendorong sebuah kursi yang terletak di sebelah sebuah rak besar dan tinggi, kemudian meletakkannya di antara kursinya dan kursi Fei Ling, lantas mempersilahkan Zhang Bao duduk.
"Kebetulan kami juga sedang membaca ramalan dari leluhur Yang Xiong." Kata Fei Ling sambil diselingi batuk-batuk. Zhang Bao sadar benar bahwa Fei Ling mengenakan baju yang agak tebal. Wajahnya terlihat pucat dan suaranya parau. Kelihatannya gadis itu sedang sakit.
"Terima kasih banyak, Fei Ling, Rui Huo." Kata Zhang Bao sambil tersenyum lebar dan duduk. "Ngomong-ngomong, jangan panggil aku 'jendral'-'jendral' lagi! Kita kan teman? Kalian memanggilku begitu, seolah-olah aku ini orang asing saja!"
"Ya, aku setuju!" Tiba-tiba Fei Tiao menyeletuk dan berdiri. Dengan gaya sangat sok kenal pada jendral Shu itu, ia berbicara dengan sangat santai sekali. "Panggil saja dia Zhang Bao. Orang bodoh seperti ini, kalau dipanggil 'jendral', bisa-bisa akan menghancurkan kesan kita terhadap jendral-jendral yang sesungguhnya." Ucapnya, sedikit pun tanpa rasa bersalah atau sadar kalau Zhang Bao sudah keki bukan main!
"HOI! Kau itu jangan sembarangan bicara, dasar babi!" Serunya kesal sambil melempar apa saja yang didekatnya. Benar-benar tabiatnya sangat mirip sekali dengan ayahnya! Fei Tiao, Fei Ling, dan Rui Huo, sampai cuma bisa tertawa saja melihatnya. Akhirnya, sesudah keadaan kembali menjadi tenang, Zhang Bao angkat suara lagi. "Ngomong-ngomong, ada apa denganmu, Fei Ling? Kau sakit?"
Gadis itu mengangguk. "Iya... aku tidak tahu kenapa. Beberapa hari ini aku demam dan panasnya tidak turun-turun. Mungkin karena ini adalah perpindahan dari musim gugur ke musim dingin, makanya aku jatuh sakit." Jelasnya. "Tapi, tak apa, Jendral Zhang Bao... nggg... maksudku, Zhang Bao! Aku masih bisa membaca dan belajar, kok! Jadi semuanya akan baik-baik saja!"
"Benar itu!" Lagi-lagi Fei Tiao menyeletuk. "Aku punya firasat bahwa penyakit Fei Ling ini menandakan sebentar lagi kita akan bertemu Sang Phoenix!"
Zhang Bao yang sudah dongkol makin dongkol saja. "Kau ini lagi-lagi sembarangan bicara! Apa maksudmu Phoenix itu akan segera datang kemari, lantas ia membawa penyakit pada Fei Ling?"
"Maksudku, siapa tahu Sang Phoenix sendiri yang akan menyembuhkan Fei Ling. Bisa jadi, kan?" Sergah Fei Tiao tidak mau kalah.
Pada akhirnya, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Rui Huo langsung menghentikan percakapan yang tak jelas juntrungannya itu. "Sekarang kita akan melanjutkan pembahasan tentang Tai Xuan-Rahasia Besar. Gege, apa kau mengerti Tai Xuan-Rahasia Besar?" Tanyanya pada Zhang Bao.
"Apa-apaan kau memanggilku 'gege'-'gege'? Sudah kubilang cukup panggil aku 'Zhang Bao' saja! Aku ini kan berjiwa muda, seperti ibumu!" Katanya dengan sangat ngotot, malah membuat ketiga orang lainnya tertawa. "Oh, dan aku tidak mengerti apa itu Tai Xuan-Rahasia Besar. Bisa kau jelaskan?"
"Tai Xuan-Rahasia Besar adalah salah satu dari ramalah Yang Xiong mengenai Sang Phoenix. Satunya lagi adalah Fa Yan-Kata-kata yang Dihidupi. Tai Xuan-Rahasia Besar terdiri dari delapan puluh satu bab yang memiliki setiap tema berbeda. Delapan puluh satu bab ini mewakili delapan puluh satu tetragram. Setiap bab memiliki sembilan poin penafsiran. Sekarang kami sedang membahas mengenai bab ketiga puluh tujuh yang berjudul Sui-Mata Cahaya." Jelas Fei Ling panjang lebar sambil memberikan pada Zhang Bao buku yang sedang ia pegang.
Zhang Bao mengamatinya sekilas, membaca satu persatu kata yang tertulis dan halaman tersebut.
Yang qi jun sui qingming, wu xian chongguang, bao jue zhao yang-Mata Sang Phoenix memancarkan kedamaian. Seluruh alam menjunjungnya karena ialah perlindungan mereka.
Chu yi, sui yu nei, qing wu hui. Ce yue, sui yu nei, qeng wu hui ye-Pertama, dalam matanya terdapat cahaya. Tidak ada kegelapan setitik pun dalam dirinya.
Ci er, ming bo mao sui, er yu zhong. Ce yue, ming bo mao sui, zhong zi yi ye-Kedua, dalam matanya terdapat keberanian. Keberanian untuk mengalahkan kekuatan kegelapan.
Ci san, mu shang yu tian, er xia yu yuan, gong. Ce yue, mu shang er xia, cong cha ji ye-Ketiga, dalam matanya terdapat langit. Matanya memantulkan langit, namun telinganya cukup rendah untuk mendengarkan setiap kata di bumi.
Ci si, xiao ren mu sui, shi lu zhen. Ce yue, xiao ren mu sui, dao bude ye-Keempat, dalam matanya terdapat pemulihan. Yang diinginkannya adalah pertobatan orang-orang yang jahat dan bersalah.
Ci wu, sui yu you huang, yuan zhen wu fang. Ce yue, sui yu you huang, zheng de ze ye-Kelima, dalam matanya terdapat kesunyian. Tidak akan memberontak dan melawan pemerintahan bumi.
Ci liu, da sui cheng qian, yi. Ce yue, da sui cheng qian, xiao ren bu keye-Keenam, dalam matanya terdapat belas kasihan. Ia tidak memandang hina orang-orang yang direndahkan.
Ci qi, sui chen qian, junzi bu qian. Ce yue, sui chen qian, shan buguo ye-Ketujuh, dalam matanya terdapat kesembuhan. Mereka yang lemah dan sakit akan sembuh oleh kekuatannya.
Ci ba, sui e wu shan. Ce yue, sui e wu shan, zhong buke zuo ye-Kedelapan, di dalam matanya terdapat kelembutan. Tangannya menyentuh mereka yang menjijikkan dan dijauhi orang.
Shang jiu, sui zhong yong chu, zhen. Ce yue, sui zhong zhi zhen, cheng ke jia ye-Dan yang terutama, di dalam matanya terdapat keabadian. Pancaran matanya yang penuh kebahagian tulus adalah untuk selamanya.(2)
"Celaka! Celaka! Aku tidak mengerti barang seujung kukupun!" Kontan Zhang Bao berteriak-teriak sambil meremas kepala sangking bingung membaca ramalan leluhur yang ternyata tidak bisa dicapai dengan mudah oleh otaknya.
Ketiga yang lainnya merasa kasihan, tapi melihat gelagat Zhang Bao mereka jadi tertawa sendiri! "Hahaha! Sudah kuduga! Pasti Zhang Bao cuma tahu bahwa Sang Phoenix punya mata emas. Itu saja, kan? Itu sih anak-anak desa juga tahu!" Sergah Fei Tiao di tengah gelak tawanya. Mendengar ini, tawa Yang bersaudara itu makin heboh saja.
"Hah?" Syukurlah, kali ini daripada marah, jendral Shu itu hanya mengangkat alis dengan menampakkan wajah bodoh. "Sang Phoenix punya mata emas? Keren sekali! Baru kali ini aku dengar tentang hal ini!"
Seketika itu juga tawa ketiganya berhenti.
"APAAAAAAAAA?! Jadi kau benar-benar tidak tahu secuilpun tentang Phoenix?! Yang benar saja!" Seru Fei Tiao sangking tidak tahan. Bahkan Fei Ling dan Rui Huo cuma bisa geleng-geleng kepala sangking tidak percaya pada pendengaran mereka. Sungguh mereka sama sekali tidak sadar bahwa jendral yang seharusnya terdidik, dan bahkan tahu banyak mengenai Sang Phoenix, justru malah tidak mengerti apa-apa!
Zhang Bao merasa terhina sekali. Tapi kali ini dia tidak menggumbah emosi lagi seperti biasanya. Jendral muda itu mendesah panjang. "Habis mau bagaimana lagi? Di dunia ini, tidak ada satupun yang mau mengajariku tentang Sang Phoenix!" Dengusnya kesal sambil menunduk, memperhatikan lantai kayu yang mengkilat di bawah kakinya. Kata-katanya terdengar sungguh-sungguh, dan tahulah ketiga pasang telinga yang mendengarnya bahwa jendral ini tidak main-main.
"Sejak kecil, aku memang tidak sepandai Guan Xing..." Jendral itu memulai penuturannya. Fei Ling, Rui Huo, dan Fei Tiao terdiam dan mendengarkan. "Makanya itu aku cuma diajari cara bertarung saja. Jangankan membaca ramalan leluhur, hanya belajar literatur dan kata-kata sulit saja aku tidak bisa! Makanya itu ayahku, Jendral Zhang Fei, hanya mengajariku ilmu bertarung."
Zhang Bao menghela nafas panjang dan mengistirahatkan punggungnya di kursi. Matanya menatap jauh ke luar jendela. "Lain dengan Guan Xing. Dia pintar sekali. Di bidang strategi, kemampuannya hampir sama dengan Jiang Wei. Kalau bertarung pun, ia lebih hebat dari kakaknya, Jendral Guan Ping. Dia juga bisa berpolitik. Ditambah lagi, kalau bicara dia sangat berwibawa, sampai-sampai orang akan patuh padanya." Jelasnya sambil berpangku dagu. "Karena itulah, ayahnya, Jendral Guan Yu, mengajari segala ilmu padanya, salah satunya adalah mempelajari ramalan leluhur mengenai Sang Phoenix, sampai-sampai mengirimnya ke FengHuang Xian..."
Ketiganya terhenyak. Kalau semisalkan Zhang Bao tidak seserius ini sekarang, mereka pasti lagi-lagi akan menggarainya. Fei Ling dan Rui Huo saling berpandang-pandangan. Fei Tiao jadi serba salah. Tapi satu hal yang pasti adalah mereka tengah berusaha bersimpati dengan apa yang dialami Zhang Bao sekarang. Tentu tidak mudah baginya menjalani hidup sebagai jendral yang selalu dibanding-bandingkan dengan rekan sekaligus sepupunya.
Betapa jujur dan terbuka jendral Shu ini, begitu pikir mereka dalam hati. Ketika ia mengatakan bahwa mereka adalah teman, ia benar-benar memaksudkannya, bukan sekedar basa-basi pemanis mulut saja. Dihadapan ketiga orang ini, bagaimana seseorang degan jabatan jendral yang terkenal kaku dan keras, bisa menceritakan perasaannya dengan lugas seperti ini, sungguh di luar perkiraan mereka. Seorang jendral, apalagi jika ayahnya adalah salah satu dari lima jendral paling terkemuka di kerajaan, biasanya tidak mungkin sejujur dan seterbuka ini pada orang-orang biasa seperti mereka.
"Ahahaha...! Tapi tidak apa-apa, kok..." Kata jendral itu sambil memaksakan senyum lebar, berusaha mengusir kesedihan di wajah ketiga kawannya. "Meskipun pengetahuanku sangat jauh di bawah Guan Xing, tapi kalau suatu saat kita benar-benar bertemu dengan Sang Phoenix, aku pun akan jadi mengerti semuanya, kan?" Tanyanya. "Meskipun sekarang aku tidak mengerti Tai Xuan-Rahasia Besar dan bab mengenai Sui-Mata Cahaya ini, suatu saat kalau aku melihat mata emas Sang Phoenix secara langsung, aku akan mengerti. Ya, kan?"
Mendapat pertanyaan yang tulus dan polos seperti ini, bagaimana mereka bisa mengatakan 'tidak'? Selain bahwa pertanyaan itu diutarakan dengan sangat yakin dan penuh harap, adalah memang karena jawabannya adalah 'ya'.
Fei Ling menepuk bahu Zhang Bao dan balas tersenyum. "Tidak perlu khawatir, Zhang Bao. Suatu saat kita pasti akan benar-benar bertemu dengan Sang Phoenix. Dan saat itulah, kau akan mengerti semuanya. Tidak perlu terburu-buru mempelajari ramalan-ramalan ini."
"Benar! Kami juga tidak mengerti apa-apa, kok! Pokoknya kita sabar menantikan Sang Phoenix itu saja!" Kata Rui Huo.
"Siapa tahu..." Sambung Fei Tiao. "Nanti kalau saatnya kau bertemu dengan Sang Phoenix, mungkin saja justru kau akan jauh lebih mengerti daripada Jendral Guan Xing."
Zhang Bao merasa terhibur sekali. Ia tersenyum memandangi kawan-kawannya. Selama ini memang benar ia tidak pernah ambil pusing kalau orang lain membanding-bandingkannya dengan Guan Xing. Kalau ada orang bertanya padanya kenapa dia tidak sepintar Guan Xing, dia hanya akan melengos dan pergi saja. Satu hal yang pasti adalah, ia tidak mau perbedaan prestasi mereka membuatnya iri, kemudian merusak persahabatannya dengan Guan Xing.
Tapi... rupanya kalau kemampuan seseorang dihargai, rasanya akan menyenangkan juga, bukan?
"Terima kasih banyak!" Kata Zhang Bao sambil tersenyum lebar. "Iya! Pokoknya, kita akan bertemu dengan Sang Phoenix! Nah, sampai saat itu tiba, kita akan terus berusaha mempelajari ramalan leluhur. Bagaimana?"
"Memang itu yang sedang kami lakukan!"
Dengan demikian, berlanjutnya diskusi mereka yang seru. Benar-benar tak terasa menit telah berganti menjadi jam, dan siang telah berganti menjadi sore. Udara makin lama makin dingin, menandakan sebentar lagi langit malam akan segera menurunkan tirainya. Teh panas dalam poci yang menemani diskusi mereka mulai berkurang, seiring makin menghangatnya diskusi mereka. Namun seperti segala sesuatu yang memiliki awalan akan memiliki akhiran, diskusi mereka akan segera usai.
"Begitu..." Zhang Bao mangut-mangut. "Jadi kalau suatu saat aku bertemu dengan seseorang yang punya mata emas yang sangat indah sekali, itu pasti adalah Sang Phoenix!" Ia menyimpulkan, dibalas dengan anggukan oleh ketiga pendengarnya. "Aneh juga, ya... Kalau Phoenix, maka matanya pasti indah..."
Fei Tiao mengangkat bahu. "Itu sih sama sekali tidak aneh, itu sangat masuk akal sekali." Balas si pemuda rambut hijau itu. "Justru kalau Sang Phoenix tidak memiliki mata yang indah, nah itu baru aneh!"
"Eh? Apa maksudmu?" Tanya Zhang Bao keheranan.
"Maksudnya begini, Zhang Bao..." Rui Huo mulai menjelaskan. "Mata seseorang itu indah sekali kalau lebar dan penuh. Nah, biasanya, orang yang matanya lebar dan penuh itu adalah orang yang hatinya penuh kasih sayang, yang sering memandang kekejauhan, dan melihat dalam kegelapan(3)."
"Nah, Sang Phoenix itu pasti hatinya penuh kasih sayang." Si kakak melanjutkan penjelasan adiknya. "Lalu, dia juga pasti sering memandang ke kejauhan. Bayangkan saja! Entah berapa ribu tahun lamanya ia dari langit di atas sana, melihat dan memperhatikan dunia ini sambil menunggu kapan ia datang dan menolong. Itu jarak yang sangat jauh sekali, kan?" Jelasnya dengan penuh semangat. "Dan dia juga terbang dari tempat yang terang, menuju ke tempat yang penuh kegelapan ini. Dengan semua itu, tidak heran kan kalau matanya akan sangat indah sekali?"
Zhang Bao tersenyum lebar, kemudian tertawa. "Ah, Fei Ling! Kau ini benar-benar seperti berpuisi saja!" Katanya setengah bercanda setengah memuji. "Kalau perkataanmu benar, wah, aku semakin ingin sekali cepat bertemu dengan Sang Phoenix!"
Saat itulah, tiba-tiba saja pintu kembali diketuk. Kali ini menampakkan Yang furen dengan seorang jendral yang lain. Jendral itu tentu saja adalah Guan Xing.
"Silahkan masuk, huixia..." Kata Yang furen sebelum pergi untuk menyuguhkan teh.
Namun Guan Xing cepat menghentikannya. "Tak perlu repot-repot, Yang furen. Saya kemari hanya untuk memanggil rekan saya saja." Ucapnya sambil membungkuk dengan hormat dan sopan. Sesudah Yang furen undur diri, barulah jendral muda itu maju menghampiri rekannya. Meskipun sedikit, namun keempat orang itu sudah megetahui bahwa sebenarnya Guan Xing sedang kesal.
"Selama sore, Guan Xing! Kau ingin ikut berdiskusi dengan kami?" Tanya Zhang Bao yang masih sama sekali tidak peka. "Kau pasti tertarik! Kami sedang membahas bab Sui-Mata Cahaya dalam Tai Xuan-Rahasia Besar. Mau bergabung?"
Yang ditanya hanya menghela nafas. "Kukira kau sedang sibuk apa sampai-sampai tidak berada di Gerbang Kota. Rupanya kau di sini dan sedang berdiskusi. Lain kali, setidak-tidaknya melaporlah pada Jendral Ma Chao dulu." Ucapnya. "Jendral Ma Chao meminta kita berdua menghadap, makanya aku mencarimu kemana-mana. Orang-orang kota bilang kau menuju ke kediaman keluarga Yang dan aku segera kemari."
"Jendral Ma Chao meminta kita menghadap?" Dengan satu kalimat itu, Zhang Bao langsung bangkit dari kursinya.
Guan Xing mengangguk sebelum bersoja pada ketiga tuan rumah di depannya. "Fei Ling, Rui Huo, dan Fei Tiao. Aku minta maaf karena telah mengganggu waktu kalian dengan kedatangan kami kemari." Ucapnya sopan dengan tutur kata yang halus sekali. Benar kata Zhang Bao, mereka bertiga sampai tidak bisa mengatakan apapun! "Kami akan segera meninggalkan tempat ini. Sampai jumpa di lain waktu!"
Dengan demikian, kedua jendral itu pun pergi.
"Selamat tinggal, Fei Ling, Rui Huo, dan Fei Tiao!" Zhang Bao melambaikan tangan. "Kapan-kapan kita akan berdiskusi bersama lagi, ya! Zai jian!"
Dan dengan begitu, kedua jendral muda itu meninggalkan mereka bertiga. Entah kenapa, ruangan yang tadinya hangat dan ramai itu kini menjadi sunyi. Hari sudah menjelang malam.
"Benar-benar..." Gumam Fei Tiao berkomentar. "Zhang Bao dan temannya itu sangat-sangat berbeda sekali, ya..."
"Iya..." Rui Huo mengangguk.
Tentu tempat itu akan menjadi makin hening... kalau tidak ada suara-suara batuk yang keras dari Fei Ling!
"UHUK! UHUK!" Tangan Fei Ling yang satu menutup mulutnya, sementara yang lain di dadanya. Batuknya yang begitu parah dan tanpa henti seketika itu juga membuyarkan lamunan Rui Huo dan Fei Tiao.
Panik, kedua laki-laki itu segera menghambur ke arahnya. "Ya Tian! Jiejie!" Jerit Rui Huo kaget. Semakin kaget saat bocah itu saat melihat wajah kakaknya yang memerah. Suhu tubuhnya meningkat begitu tinggi dan tubuhnya menggigil.
"Kita bawa ke kamarnya! Rui Huo, cepat panggil ibumu!" Seru Fei Tiao dalam kekalutan sebelum memondong Fei Ling. Rui Huo dengan cepat mengangguk, kemudian berlari keluar mencari ibunya.
Sementara itu Fei Tiao sendiri tidak buang-buang waktu. Ia langsung berlari menuju kamar Fei Ling, kemudian membaringkan gadis itu di atas ranjang. Beberapa orang dayang dan ajudan yang melihatnya langsung ikut panik. Mereka membawakan handuk, sebaskom air dingin, obat, apa saja untuk meredakan demam Fei Ling yang makin parah.
Dengan cepat Fei Tiao memegang dahi Fei Ling, memperkirakan suhu tubuhnya, sebelum mencelupkan handuk dalam baskom berisi air dan meletakannya di atas dahi gadis itu. "Fei Ling! Kau tidak apa-apa? Bagaimana bisa begini?" Suara pemuda itu sarat dengan kekhawatiran.
Sebelum Fei Ling menjawab, pintu kamar terbuka. Rui Huo masuk, diikuti Yang furen. Wajah keduanya diliputi rasa cemas. Mereka menghambur ke pembaringan anak gadis itu. Yang furen menggenggam tangan anaknya erat-erat.
"Fei Ling...! Fei Ling...! Kau kenapa, nak?" Tanyanya dengan suara yang nyaris pecah.
Fei Ling berusaha tersenyum sambil menggeleng. "A-aku tidak apa-apa... niang..." Jawabnya dengan suara yang lemah dan parau. Terbata-bata sekali. "Tidak perlu mengkhawatirkan aku... Sebentar lagi... aku pasti sembuh..."
Si adik hanya bisa menggigit bibir dan melipat tangan erat-erat. "Jiejie, ada apa denganmu sebenarnya?" Suara Rui Huo pun terdengar bergetar. "Para tabib berkata kau baik-baik saja dan ini hanya demam biasa. Tapi sampai sekarang kau tidak juga sembuh. Kenapa bisa begini?" Bocah itu mulau merasakan tenggorokannya yang tercekat dan matanya yang memanas.
Gadis itu hanya tetap mempertahankan senyumnya. "M-mungkin saja... Fei Tiao benar... penyakitku ini berarti... sebentar lagi kita akan bertemu Sang Phoenix..." Kini kata-kata itu lebih terdengar seperti bisikan. "Soalnya... aku percaya Sang Phoenix pasti akan... menyembuhkanku..."
Seandainya bisa, ketiga orang itu pasti sudah akan bertanya atau membalas perkataannya.
Namun sayang sekali mereka tidak diberi kesempatan untuk itu. Fei Ling jatuh pingsan.
Ma Chao duduk menunggu dalam ruangannya. Di tangannya kini dua buah surat. Yang pertama adalah surat yang beberapa minggu lalu ia dapatkan dari Ma Dai. Sementara yang satunya adalah surat yang baru hari ini ia terima. Dari kedua surat itu ia menemukan banyak kesamaan. Namun perbedaannya jauh lebih besar lagi.
Surat yang kedua, yang hari ini ia terima merupakan surat perintah langsung dari Kotaraja Cheng Du. Surat itu ditulis atas nama Kaisar Liu Bei, namun bisa saja bukan beliau yang menuliskannya. Mungkin orang lain di dalam istana yang mengatasnamakan Kaisar Liu Bei. Mungkin rekan jendral-nya yang lain. Mungkin Perdana Mentri Zhuge Liang atau penasihat lainnya. Mungkin juga Lao Zucong.
Jendral Ma Chao, Wu Hu Jiang Penjaga Kota Perbatasan Kui,
Beberapa hari ini seorang pengacau dari Wu telah datang dan mengadu domba seluruh isi kerajaan dengan tipuannya. Ia mengelabuhi semua orang dengan mengatakan bahwa dirinya adalah Sang Phoenix yang telah dinanti-nantikan. Beberapa dari kami tidak termakan tipuannya itu, tetapi banyak yang sudah. Atas kejahatannya ini, kami sudah hampir berhasil menyingkirkannya, namun penyeranah itu akhirnya berhasil melarikan diri.
Kini ia dan beberapa temannya sedang dalam perjalanan untuk melarikan diri ke Wu. Kami telah menjaga seluruh perbatasan Wu-Shu dan menjebak mereka untuk mengambil jalan lewat Bai Di Cheng-Istana Bai Di, dimana kami sudah menempatkan Jendral Guan Ping. Dengan ini kami memberi perintah pada anda untuk menuju ke Bai Di Cheng-Istana Bai Di. Sehingga, semisalkan mereka berhasil meloloskan diri dari Jendral Guan Ping, anda dapat menyergapnya ketika ia keluar dari Bai Di Cheng-Istana Bai Di.
Kami harap mandat ini dapat dimaklumi dan dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Tertanda,
Kaisar Liu Bei
Apa yang sebenarnya terjadi? Pikir Ma Chao dalam hati. Siapakah orang ini yang sampai menimbulkan begitu banyaknya perselisihan di Kotaraja Cheng Du? Apakah pengacau ini adalah orang yang sama dengan Sang Phoenix yang dimaksudkan Ma Dai? Kalau iya, apakah Ma Dai juga terjebak dalam tipuannya? Sebenarnya, siapakah yang benar?
Kalau ada satu hal yang ingin jendral itu lupakan dan buang jauh-jauh dari pikirannya, itu adalah mengenai Sang Phoenix. Untuk apa menanti-nantikan harapan palsu dari sebuah dongeng kuno kepunyaan para leluhur? Ia sudah bukan anak kecil lagi yang akan berharap pada bantuan dari langit. Ya, setidaknya sesudah ia melihat bahwa berharap pada kedatangan Sang Phoenix itu sangat sia-sia.
Sekarang, bagaimana mungkin kedua surat itu datang padanya dalam waktu yang sangat berdekatan? Dan dua-duanya mengenai Sang Phoenix itu pula? Kenapa ia tidak bisa dibiarkan tenang seorang diri? Biarlah ia mengurusi urusannya sendiri, dan Sang Phoenix mengurusi urusannya pula! Tidakkah itu sangat mudah?
Ia tidak mau tahu tentang Sang Phoenix. Dan ia berharap Sang Phoenix itu juga tidak akan menganggu hidupnya.
Rantai pikirannya terputus saat mendengar pintu diketuk. Guan Xing dan Zhang Bao akhirnya tiba di hadapannya. Keduanya melalukan formalitas seperti biasanya, yakni bersoja dan mengucapkan salam sebelum Ma Chao mengutarakan maksudnya memanggil mereka.
"Aku memanggil kalian dengan maksud memberikan perintah." Katanya dengan tegas dan lantang. "Aku akan mengirim kalian ke Bai Di Cheng-Istana Bai Di."
Kedua jendral muda itu tersentak kaget. "Untuk apa, Jendral Ma Chao?"
Tanpa menjawab sepatah katapun, Ma Chao melemparkan surat yang ia terima hari ini pada mereka. Secarik surat berisi mandat dari Kaisar Liu Bei. Keduanya membacanya dengan seksama. Seperti yang sudah Ma Chao duga, keduanya terkejut sampai wajah mereka memucat.
"K-kenapa bisa... begini...?" Gumam Zhang Bao bertanya-tanya. Matanya melebar dalam keterkejutan. "Seorang penyeranah yang mengaku dirinya adalah Phoenix?"
"Keterlaluan..." Geram Guan Xing. Kedua tangannya mengepal erat. "Siapapun yang berani berbuat hal semacam ini harus mati!"
Kelihatan sekali bahwa Guan Xing jauh lebih yakin dan penuh tekad dalam menjalankan perintah ini. Dengan segera ia bersoja dalam-dalam kepada atasannya itu. "Jendral Ma Chao, aku sangat berterima kasih atas perintah ini. Aku akan segera menjalankannya dan berjanji tidak akan membuat anda menyesal mempercayaiku!"
Ma Chao mengangguk sekali. "Baiklah. Kau boleh meninggalkan tempat ini, Guan Xing. Bersiap-siaplah karena kau harus berangkat besok." Kata jendral itu, sebelum bawahannya sekali lagi bersoja dan keluar dari ruangan tersebut.
Kini yang tersisa di tempat itu hanyalah Ma Chao dan Zhang Bao.
Mula-mula jendral yang lebih tua diam, menunggu yang lebih muda untuk mengutarakan sesuatu. Namun sampai lama, Zhang Bao tidak membuka mulut sama sekali, hanya memandangnya dengan tatapan kebingungan dan heran, seperti anak kecil yang sedang mengamati apa yang tengah dilakukan orangtuanya.
"Dan kau, Zhang Bao?" Akhirnya keheningan itu terpecahkan oleh suara Ma Chao. "Apakah kau keberatan dengan tugas ini?"
Zhang Bao terdiam sejenak. Ia membungkuk sekali sambil bersoja sebelum menjawab. "Maafkan aku jika aku lancang bertanya begini, Jendral Ma Chao. Tapi aku benar-benar penasaran..." Katanya. "Kenapa anda tidak pergi sendiri saja?"
Ma Chao tersentak kaget. Ia tidak menjawab apapun.
"Ah! Nggg... m-maksudku..." Cepat-cepat jendral muda itu meralat ucapannya ketika melihat perubahan raut wajah atasannya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebelum menjelaskan. "Maksudku... begini... aku sama sekali tidak keberatan. Malah sebaliknya, aku sangat senang sekali! Kalau semisalkan orang itu bukan penyeranah, tetapi sungguh-sungguh Sang Phoenix, aku akan benar-benar senang karena bisa bertemu dengannya!"
"Dan kalau dia bukan?" Tanya Ma Chao, dengan suara yang pelan namun tajam.
"Yahhhh..." Zhang Bao mendesah panjang. "Aku... aku akan kecewa, sih... Tapi tak masalah! Kalau misalkan aku bisa bertemu dengan Sang Phoenix di kesempatan ini, berarti aku akan sangat senang sekali! Tapi semisalkanpun aku tidak bisa bertemu dengannya sekarang, aku juga akan sangat senang karena aku sedang belajar bersabar! Yang manapun tidak menjadi masalah untukku!" Deretan ucapan itu diucapkan dengan lugas dan sangat tidak dibuat-buat.
Dan itulah yang membuat Ma Chao terdiam.
Sementara di dalam pikiran Guan Xing adalah menghukum orang ini, yang telah mengakui dirinya Phoenix, Zhang Bao malah berpikir sebaliknya. Ia berharap. Meskipun bagi orang lain mungkin ia terdengar bodoh, tapi tidak ada salahnya, kan? Hanya saja... dari kedua orang ini, siapakah yang sepantasnya lebih cocok diberi tugas ini?
Dan... kenapa Zhang Bao bisa begitu optimis? Sementara dirinya sendiri tidak? Dan benarlah pertanyaan Zhang Bao, kenapa ia terus-menerus melarikan diri dari Sang Phoenix itu? Kenapa saat kesempatan ini datang untuk melihatnya, kenapa ia memilih untuk memberikan kesempatan ini kepada orang lain?
Kalau ia memang tidak mau peduli dengan Sang Phoenix, kenapa sekarang ia enggan melakukan tugas ini sendiri? Cukup datang, melihat kenyataannya saja bukan? Dan jika ia bukan Sang Phoenix, cukup membunuhnya saja. Masalah selesai. Semua orang akan tahu bahwa yang namanya Phoenix itu cuma adalah dalam dongeng-dongeng anak kecil.
"... tapi, justru aku mengkhawatirkan Jendral Ma Chao." Lanjut Zhang Bao. "Apakah meski sedikit saja, anda tidak punya keinginan sedikitpun untuk bertemu dengan Sang Phoenix? Soalnya... aku yakin kalau kita bertemu dengannya, kita akan senang sekali!" Kesimpulan itu ditutupnya dengan sebuah senyuman lebar. Sungguh sayang, senyuman itu tidak akan pernah dimengerti oleh seorang Ma Chao.
"Besok ada hal yang harus kulakukan. Aku tidak bisa ikut." Jawabnya singkat. "Kau boleh meninggalkan tempat dan bersiap-siap."
Sebenarnya Zhang Bao ingin bertanya lagi. Namun Ma Chao sudah berdiri membelakanginya, sebagai isyarat bahwa ia sedang tidak ingin diajak bicara. Pada akhirnya, Zhang Bao hanya bersoja sekali dan meninggalkan tempat.
Namun sempat-sempatnya Zhang Bao, sebelum pergi, meninggalkan pesan padanya.
"Tenang saja, Jendral Ma Chao! Nanti kalau aku kembali, akan kuceritakan bagaimana Sang Phoenix itu!"
Dengan satu kalimat itu, pintu ruangannya tertutup.
Ma Chao hanya bisa mendesah memandang langit malam musim dingin. Sebenarnya, besok ia tidak akan melakukan apa-apa.
(1) Ini dari deskripsi Mocca tentang Lin Jing Ai AKA Yang furen: "Istri Yuan Yu yang terlihat jauh lebih muda daripada usia aslinya ini sekilas tampak santun, anggun, dan terhormat, tipikal Real Chinese Lady gitu."
(2) Ini saya ambil dari salah satu tulisan Yang Xiong yang berjudul 'Tai Xuan' atau Great Mystery. Sayangnya, saya belum menemukan terjemahannya, terpaksalah saya terjemahkan sendiri. Tapi yang saya kaget adalah, rupanya isi dari bab Sui di Tai Xuan ini nyambung banget ama cerita saya~ (neeway, gara2 baca text ini, fetish saya terhadap orang bermata bagus kumat lagi... *dibacok*) Bagi yang mau baca bahasa aslinya, silahkan kasih tau saya dan akan saya email ke anda...
(3) Seriously, ini beneran. Terbukti secara ilmiah.
Wokey~ that's it... moga2 saya nggak berdosa ama yang empunya2 OC dengan menjadikan OC2 mereka OOC... Hohoho~
Updatenya... Hmmm... Sabtu minggu depan, ya...? Hehehe... Zai jian!
