Yah akuu gak keberatan soal protesan ini yah tapi, ada yang bilang atau review Natsu terlihat lemah banget dan gak bisa apa-apa di chapter kemarin yah sebenarnya ini hanya awal perkenalan karakter Villain dan kekuatannya yah seperti di manga kan gak lucu baru ajah muncul tapi, udah kalah ajah apalagi aku buat agak kuat Villainya gak kayak di Manga Asli yang terlihat amsyong dah yah intinya baru ajah unjuk gigi tiba-tiba kalah ajah kan gak fair untuk orang yang di sebut anggota mafia yah intinya nikmatin dulu tentang masalah battle dan cerita dah aku siapin so gak usah khawatir karakter utama terlihat lemah intinya ini masih chit chat belum puncak dan penyelesain masalah.

P.S : soal masalah pribadi sial! Di kampungku lagi musim yang namanya maling -_- itu terlalu dan membuatku tak tenang sekarang yah bayangin ajah malam hari sendiri naik motor yah yang kutakutkan itu terjadi padaku dan aku tak mau itu terjadi. Maling berbagai jenis dan ada yang maling kotak amal masjid -_- entah kenapa ini yang kamfret klo mau duit kerja jangan malas dan bisanya maling mnding klo gak ktahuan klo ktahuan? Mungkin mati kena bogem masa yang anarkis huhuhuhu!

.

...

.

- Rumah Sakit

*Hoqmzzz!

Natsu menguap mulutnya di depan rumah sakit di pagi hari mengenakan pakaian normal bukan khas pasien rumah sakit yah dia telah bebas di pulangkan hari ini setelah luka yang di alaminya sudah sembuh total meski Natsu agak sedikit merasakan nyeri di bahu kanan.

Yah dia sekarang bolos pelajaran sekolah atau lebih tepatnya Izin dulu karena, tubuhnya masih agak rentan walaupun itu hanya alasan yang di buat-buat olehnya sendiri agar terhindar dari pelajaran dengan alasan sedang suntuk dan malas melakukan apapaun selain itu bajunya juga terbakar habis oleh ledakan itu jadi, dia tak punya baju sekolah sama sekali.

Tapi, untuk Wendy dia menyuruh adiknya sekolah karena, yah sekedar belajar dan lagipula dia sudah meminjam baju sekolah ke teman-temannya yang masih muat apalagi tubuh adiknya sudah bertambah dewasa hampir sepantaran Ultear atau Brandish yang memiliki tubuh Profosional yang cukup menarik perhatian kaum adam.

"Uhhh payah! Aku harus membelinya dari awal lagi!' Gerutu Natsu kesal di perjalanan dia dengan seenaknya menendang kaleng ke sembarang arah untungnya tidak ada orang di sana.

Dia menggerutu karena, Pc dan Playstation milikinya ikut hancur juga tapi, bukan itu yang dia sesalkan yang dia sesalkan adalah semua kaset Game dan buku Komik yang telah di belinya dan di kumpul dari awal sampai sekarang harus hancur dan hangus oleh ledakan selama beberapa menit selain itu banyak yang edisinya langka sehingga dia harus susah payah mencarinya dan juga memiliki stok terbatas.

" Sial!" Natsu terus saja mengumpat dan menendang kerikil tentu saja tendangannya ini mengenai seseorang dengan suara feminim

"Owwww!"

"Ohhh maaf!" Natsu langsung mendekati korban yang terkena batu dari kakinya "hei, kau tak apa-apa?" Dia bisa melihat yang jadi korbannya gadis berambut putih seumuran dengannya meski dia mengenalinya namun, dia bersikap sopan takut salah sangka.

"Owww! Tak masalah lagipula tak terlalu serius" Mirajane menoleh ke belakang siapa yang melempar batu ke arahnya begitu menoleh "Natsu?! Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau sekarang di rumah sakit?" dia cukup terkejut melihat lelaki berambut pink di depannya.

"Hmm! Lukaku sudah sembuh jadi, Dokter memulangkanku tadi" Jawab Natsu dia memikirkan sesuatu tapi, tak jadi "oh ya apa yang kau lakukan di sini? Bukankah hari ini sekolah? Atau kau bolos yah?!" Dia meledeknya.

"Huh! Enak saja, seharusnya aku yang bicara begitu" Mirajane tersenyum senang mencubit hidung Natsu "lagipula aku sudah minta izin tak masuk sekolah, bagaimana keadaanmu?" dia cukup senang berbicara berdua saja tanpa ada siapapun.

"Yah kau bisa lihat sendiri?" Natsu memutar tangannya tanda dia sehat "ahh ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di sini?" dia agak heran melihat gadis itu di sini yah itu tak biasanya.

"Yah aku kesini untuk membantu membeli Dekorasi dalam rangka merayakan pesta Kejutan Ultah Erza" Jawab Mirajane Natsu mengingatnya sekarang sudah dua hari berlalu dengan kata lain adalah hari ini Tanggal Ultah Gadis berambut Scarlet ini "oh ya, ngomong-ngomong hadiah apa yang kau berikan?"

"Hmmm, apa yah?" Natsu memiringkan kepalanya tampak berfikir "aku tak terlalu tau hadiah apa yang akan di berikan dan terlebih dia perempuan aku juga tak tau apa yang pantas dan cocok" Jika Ultah Laki-laki dia cukup mudah memberikan sesuatu seperti Kaset Game, Atau sejenisnya.

"Apapun itu yang terpenting bukan isinya intinya niat tulus tersendiri darimu" Mirajane tersenyum ceria "ngomong-ngomong kau bisa bantu aku? Soalnya ini agak berat dan banyak" dia menunjuk tumpukan kardus yang entah apa isinya.

"Kau tak bawa motormu?" Tanya Natsu

"Ada di parkiran hanya saja aku tak kuat membawanya sendiri" Mirajane memberi efek mata anak anjing sedikit memohon "bisakah kau membantuku?" tentu saja hal seperti tak mengefek sama sekali kepada Natsu.

"Ah, oke" Natsu hanya Sweatdrop dia langsung mengangkut kardus itu tapi, dia merasakan aura yang aneh ketika seseorang melewatinya dan menoleh tak ada siapapun.

"Ada apa?" Tanya Mirajane melihat lelaki itu berhenti

"Huh?!" Natsu langsung membuyarkan lamunannya "tak apa, aku hanya sedikit berfikir" dia langsung kembali membawanya tak mempedulikannya.

.

.

.

.

Setelah Natsu membantu Mirajane kini dia berjalan-jalan keliling kota karena, kalau ke rumah hal yang mustahil yaitu tepat tinggalnya sudah di hancurkan dia tak tau harus kemana dan tidur di mana sebelum rumahnya benar-benar selesai di perbaiki.

"Huh, apa itu?" Natsu menghentikan langkahnya ketika matanya di perempatan gang tapi, ada sesuatu yang membuatnya ingin tau dan menyeledikinya "ini?!" dia melihat beberapa tembok berlubang dan tanah retak, dan beberapa bercak darah seperti ada pertarungan.

*Critttt!

Natsu langsung berhenti mencari sesuatu ketika sebuah mobil limosin mewah berhenti dan tampak pria berbadan tegap membuka pintu mobil belakang dan menampakan seorang Gadis berambut hijau panjang dengan dadanan ala bangsawan turun dari mobil dengan anggun Natsu benar-benar tau gadis ini yaitu teman masa kecil

"Ara, butuh tumpangan anak muda atau harus kupanggil Natsu temanku" Hisui tersenyum memberi tawaran.

"Hah, tak kusangka seorang Putri yang kemari" Natsu membalas sindiran tapi, untuk Gadis itu hanya blush di wajahnya "aku tak menyangka kau dimari ada apa?"

"Yah, aku sehabis belanja" Jawab Hisui Natsu hanya geleng-geleng dengan tingkah glamornya ini meski dia tau anak Presiden memang seperti ini tapi, aslinya dia baik yah ini hanya tingkah laku di depan yang lain untuk menunjukan kelas atasnya "ketika aku melirik keluar jendela aku melihatmu berdiri jadi, aku menyuruh supirku berhenti"

"Hei-hei, kau tau tak patut jika, Anak Presiden disini kau tau banyak kuman dan alergi menular tau, nanti bisa terkena deman" Natsu memasang wajah ejekan yang baginya menyenangkan bisa menggoda putri Presiden ini.

"Muuuuuu! Kau menyebalkan Natsu!" Hisui cemberut kesal Natsu hanya tertawa karena, hal langka sang Putri Presiden menunjukan ekspresi berbeda yang biasanya kalem dan anggun "meski aku Putri Presiden aku tetaplah seorang Gadis biasa oh, ya apa yang kau lakukan di sini? Bukankah hari ini sekolah?"

"Harusnya aku yang bilang begitu" Natsu Pokerface "jangan bilang kau bolos juga? Dan kau tau aku baru keluar dari rumah sakit"

"Ini jam Istirahat apa kau lupa?" Tanya Hisui Natsu mengangguk "oh, soal rumahmu itu aku turut prihatin dan maaf aku tak bisa menjenguk aku sungguh menyesal" Dia memasang wajah sedih Natsu hanya mengelus rambutnya menunjukan dirinya baik-baik saja.

"Hahaha tak masalah! Dan aku lupa soal itu" Natsu hanya tertawa ketika melihat jam sudah siang dan waktunya Istirahat dirinya tak sadar selama berjalan-jalan gak jelas dan waktu sudah cepat terlewati.

"Oh, ya bagaimana kalau kau menemaniku?" Tawar Hisui reaksi Natsu hanya berkedip "yah sebagai gantinya aku traktir kamu makanan yah sebagai balas budi waktu itu" sebuah keberuntungan diajak dan ditawari makan bersama oleh sang Putri.

"Errr!, anu,! Uhmm gimana yah" Natsu tak tau harus menjawab apa jika, menolak pastinya akan jadi masalah karena, Temannya ini memiliki sifat ngambekan dan memang pernah dia di ajak namun, dia menolak alhasil Dia dicueki selama seminggu dan setelah itu semuanya kembali normal seperti biasanya seperti tak terjadi apapun.

"Berarti kuanggap iya! Ayo!" Hisui menarik tangan Natsu seenaknya menghiraukan Teriakan protes dari lelaki berambut pink ini.

"Oiiiii!"

"Selamat siang Nona Hisui, anda baik-baik saja?" Tanya Arcadios sebagai supir plus bodyguard pribadi dengan suara formal dan terkesan sopan "apa, ada sesuatu yang menganggu anda? Biar saya urus jika itu terjadi"

"Tidak, kau tak usah khawatir aku tak kenapa-kenapa" Hisui menggeleng "Arcadios! Bawa kita ke Restaurant aku ingin makan dan mentraktir temanku yang sudah sembuh dari sakitnya"

"Dengan senang hati" Arcadios membuka pintu mempersilahkan mereka masuk ke dalam mobil dan mengantar mereka.

"Apa ini tak masalah?" Natsu agak ragu bertanya dengan suasana di dalam mobil yang terkesan cukup mewah.

"Apanya?" Hisui tampak tak mengerti.

"Maksudku dengan semua ini? Apa tak masalah mengajakku dengan menggunakan ini" Jawab Natsu baginya hal yang bermegahan dan terlalu kemewahan tak biasa baginya.

"Tak apa lagipula takkan rusak walau dinaiki siapapun" Hisui tersenyum melihat tingkah Grogi temannya ini "aku, tau kau memang tak terbiasa dengan ini? Tapi, biasakan sedikit supaya di mana-mana kau terbiasa" dan beberapa saat kemudian mobil mengalami guncangan sebentar

*Gludakkkkkk!

"Wahhhhh!".

" kyahhhh!"

"Nona! Apa anda terluka? Saya mohon maaf atas guncangan tadi?" Tanya Arcadios menghentikan laju mobilnya yah setelah dia mendengar jawaban dia kembali melanjutkan menyetirnya.

Tapi, supir itu tak menyadari bahwa mereka terjatuh hanya saja posisinya cukup meyakinkan atau menyenangkan yah mereka terjatuh dari kursi dengan posisi Natsu di bawah dengan menahan Hisui di atasnya wajah mereka berdekatan sehingga bisa merasakan hembusan nafas tentu saja pipi gadis itu bersemu merah

"Hei, kau terluka?" Tanya Natsu tampak biasa saja walau dia merasakan sesuatu yang kenyal dan lembut di dadanya.

"Eh, i-iya?!" Hisui gelagapan dan menyadari posisinya langsung menjauh "tadi, itu guncangan apa yah?" dia mulai berbicara dengan maksud menghilang rona merah di wajah walau ucapannya tak terdengar Natsu.

"Baiklah!"

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

- Restaurant

"Ummm! Apa ini tak masalah di tempat seperti ini?" Tanya Natsu dia melihat sekeliling yah menyadari tatapan yang tak menyenangkan atau iri dari kaum adam "kau tau tak harus di tempat terbuka juga kan?" dia tak tau harus berbicara apa lagi.

"Yah biarkan saja mereka" Balas Hisui cuek dan asik dalam makanannya "lagipula kita berbicara layaknya teman dan tak ada maksud lain" dia memang menyadari tatapan orang-orang yah hal ini wajar seorang Putri Presiden yang tak pernah tersentuh kini mengobrol dan tertawa akrab dengan seorang laki-laki yang bekerja menjadi Koki di Restaurant Yajima.

"Uhhh, apa ini tak menimbulkan kekhawatiran?" Tanya Natsu agak ragu sebenarnya jika di dalam hati dia ingin memberi tebasan pada mereka namun, diurungkan.

"Jangan khawatirkan mereka, meski Orang-orang itu Iri yang jelas aku tak suka dekat dengan orang asing" balas Hisui masuk mode seorang bangsawan yang angkuh "dan lagipula kita sudah berteman lama dari kecil"

"Yah kau tau mereka takut berbuat sesuatu padamu? Bukannya aku tak kuat hanya saja aku tak mau berbuat kerusakan" Ucap Natsu dia masih ingat waktu dia jalan dengan Ultear tentu saja ada orang-orang yang jahil dan langsung dia memberi tebasan Udara dan membuat tiga rumah hancur terpotong dan Natsu harus menggantinya.

"Biarkan saja! Mereka tau jika berbuat masalah denganku maka ayahku bertindak" Jawab Hisui "selain itu jika, mereka mendekat maka Arcadios akan bertindak" dia menunjuk sang Bodyguard pribadinya yang duduk di pojokan sambil mengamati Situasi.

"Oh, ya bagaimana dengan ayahmu?" Tanya Natsu mengenai kabar pak tua itu.

"Yah, seperti biasa sibuk dengan anggota-anggota dewan lainnya" Jawab Hisui "oh yah bagaimana keadaanmu lukamu itu? Kudengar agak sedikit serius?" dia cukup shock ketika mendengar berita tentang temannya.

"Yah, hanya luka bakar biasa bentar lagi kering" balas Natsu dengan grin walaupun sebenarnya dia menyembunyikan sesuatu tentang penyakit sebenarnya agar tak ada yang direpotkan olehnya.

"Oh, syukurlah" Hisui bernafas lega "aku sempat risau kau kenapa-kenapa" dia menunjukan raut wajah khawatir kepada lelaki di depannya tapi, Natsu tersenyum menandakan dia baik-baik saja.

!

Natsu langsung melirik ke arah jam satu ketika instingnya melihat sesuatu yang berbahaya begitu juga sang Bodyguard menatap ke arah yang lain tapi, meski begitu dia juga merasakan sesuatu yang aneh dan ketika melihat tak ada apapun di sana.

"Hmmm! Ada apa?" Tanya Hisui menyadari tatapan aneh lelaki itu aneh "kau melihat sesuatu yang tak jelas?"

"Tidak, hanya halusinasiku saja" Jawab Natsu tetap fokus 'hmmmm, cukup aneh perasaan aku melihat bayangan tadi? Apa cuman pikiranku saja?' dia langsung melepaskan Reisi ke segala arah dan mendeteksi sesuatu 'sudah, kuduga ada seseorang dari jauh yang mengintai hanya saja, aku tak tau jelas di mana lokasi jelasnya' dia tetap pada seperti itu dan menunggu sebuah serangan dadakan.

"Btw, Natsu aku ingin tau? Apakah kau punya kekasih untuk saat ini?" Tanya Hisui seenaknya membuat Natsu tersedak.

"Huh, apa maksudnya itu?!" Natsu bertingkah gugup lalu minum karena, tadi dia tersedak.

"Tidak, hanya bertanya saja" Hisui tertawa kecil melihat reaksi temannya ini "kalau kau sendiri aku tak keberatan meski tampaknya aku harus bersaing sedikit" Dia menambahkan senyum jahil Mata Natsu berkedip bingung tapi, langsung berubah.

"Awas!".

" whaa! Ap-"

*Ciuttt!

*Jduarrr!

"Natsu apa yang terjadi?" Tanya Hisui dalam posisi tiarap yang di tarik paksa oleh Natsu terlihat bingung tapi, wajahnya shock ketika melihat banyak kobaran api di depan dan terdengar suara tembakan api dan sontak para pengunjung berteriak dan berlarian panik.

"Argggg! Lari!".

" selamatkan diri kalian!"

"Ada teroris!"

"Seseorang hentikan ini!"

"Menjauhlah dari sini!"

"Ada pertarungan! Dan merunduk!"

"Uh, tampaknya ada sesuatu yang buruk" Jawab Natsu dia menembakan busur panah kecil ke arah sasarannya yang ada di pojok sebuah gedung dan mengenai secara tepat sebelum orang itu berniat kabur "hei, kau bawa Hisui! Ke tempat aman!" Dia memerintah dan Bodyguard itu mengangguk faham.

"Ayo Putri, kita pergi dari sini" Ajak Arcadios melindungi Hisui.

"Tapi, bagaimana denganmu?!" Teriak Hisui menanyakan keadaan teman lelakinya

"Tak masalah ini jadi urusanku!" Natsu menenteng dua pedang dan Arcadios segera membawa Hisui ke tempat aman dia lalu mengusap pedang hitamnya dengan dua jari "saatnya kita bermain serius... BERKILAULAH DAN JADILAH CEPAT! PIKYU YOUKI!" tubuhnya bercahaya silau dia bisa merasakan ada dua aura orang kuat di sekitar sini tapi, dia memilih untuk tetap diam dan menunggu momen pas.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

- Sekolah

"Ada apa Brandish?" Tanya Ultear melihat Gadis berambut hijau ini ke arah lain atau lebih tepatnya melamun.

"Hmm, tidak ada" Brandish Geleng-geleng tapi, dia kembali hening lagi 'Reiatsu ini, bukankah ini milik Natsu? Tapi, apa yang terjadi di sana?' dia bisa dengan mudah menebaknya karena, Reaitsu milik lelaki itu akan sangat kuat jika di lepaskan apalagi dalam mode bertarung serius.

"Hei, bagaimana kalau kita menjenguk Natsu-san lagi?" Usul Juvia yang membawa bento besar entah kapan dia buatnya.

"Yang kulihat dari SMS tadi, dia sudah keluar dari rumah sakit katanya" Jawab Gray yang seperti biasa kehilangan pakaian "hmm mungkin dia saat ini sedang berada di rumahnya"

"Rumah? Apa melupakan sesuatu?" Sambung Elfman Gray sedikit berfikir dan kemudian mengingatnya "rumah dia kan, sedang dalam masa perbaikan?"

"Kupikir biasanya di mana dia sekarang?" Tanya Ultear.

"Hmmm, mungkin di Restaurant atau biasanya tempat dia bisa termenung sendiri beberapa jam" Jawab Gray.

"Darimana kau tau?" Tanya Meredy balik.

"Dia yang bilang sendiri" balas Gray dia melihat teman berambut putihnya tengah mengobrol dan berbicara dengan orang-orang di Meja kantin sebelumnya "hoi!, apa yang kau lakukan itu?"

"Hanya berbicara sesuatu yang serius sebaiknya kalian ikutan saja" Jawab Elfman kembali mengobrol lagi.

"Yang benar saja," Gray memutar bola matanya dengan raut bosan.

"Memang apa yang kau bicarakan sih!" Meredy yang penasaran langsung ikut nimbrung dan di susul yang lainnya sementara Gray hanya tiduran di meja.

"Huh! Kau serius apa yang kau bicarakan itu?!" Elfman berlagak shock walaupun itu cukup lebay untuk orang sepertinya.

"Hmmmm! Kau tak tau yah, Tsukusima dan dua temannya sekarang masuk rumah sakit dan dan itu yang bisa kudapat! Khuuuu!" Jawab Bixlow dengan ciri khas lidah menjulur "dan itulah sebabnya lomba sekarang di tunda terlebih dahulu sampai, situasi ini benar-benar selesai"

"Tahun, ini benar-benar lebih gila dan tak waras dari tahun kemarin" Komentar Evergreen "banyak hal yang aneh menimpa sekolah kita dua sudah jadi sasaran mungkin, siapa lagi nanti?" Laxus hanya hening dan mendengarkan.

"Mungkin ini hanya sandiwara saja supaya agak terkenal dan famous!" Sambung Freed tentu saja kepalanya kena gaplok

"Terkenal? Dengan cara melukai dan menghancurkan milik orang? Kaupikir ini Film Action?" Sambung Bixlow serius "tapi, akan lebih bagus jika ada tambahan orang yang mati dan itu penting! Khuuuuu!" Semuanya hanya bisa menepuk dahi mereka.

"Kalian berdua sama saja" Laxus Pokerface.

"Dan bicara soal lomba, bagaimana keadaan mereka?" Tanya Meredy dengan nada agak cemas juga.

"Yah, yang kudengar Tsukusima hanya menderita luka kecil biasa sementara dua temannya sedikit parah dan mereka di rawat" Jawab Rufus dia membuka bukunya untuk di baca.

"Hmmm, mungkin kita akan menjenguknya setelah ini" Usul Laxus dan lain mengangguk setuju tapi, dalam pikirannya dia masih ingin tau siapa Orang-orang yang menyebalkan ini.

.

.

.

.

- Atap Sekolah

"Aku mengerti" Sorano menutup teleponnya setelah dia menerima panggilan dari seseorang tampaknya dari Mirajane.

"Hmmm, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Erza menghampiri Gadis itu dia cukup resah tak melihat teman berambut putih itu.

"Oh, Mirajane katanya hanya deman kecil bentar lagi juga sembuh" Jawab Sorano sebenarnya itu hanya alasan berbohong untuk tidak di ketahui kenyataan aslinya Gadis berambut Putih itu tak masuk sekolah "selain itu juga keperluan Perlombaan juga di tunda jadinya kita saat ini bebas"

"Kau benar" Erza mengangguk setuju melahap kuenya "oh, ya kau sering kemari? tak biasanya kau di mari, dan lagipula aku sering melihatmu di kantin atau di bawah pohon?"

"Aku kemari karena, sering melihat Natsu di sini yah, setelah kucek di sini keliatan tak buruk juga" Jawab Sorano tersenyum "dan juga, kenapa kau di sini? Tak biasanya kau di mari?" kali ini dia bertanya hal serupa.

"Hmmm, yah aku di Ajak Natsu kemari dan pemandangan di sini cukup bagus setelah kulihat" Jawab Erza Sorano hanya hening "dan keliatannya tak buruk makan sambil menatap kota ini apalagi jika, waktu Sunset"

"Nee, Erza katakan sesuatu?! Hmmm, apa kau menyukai Natsu?" Celetuk Sorano membuat Erza tersedak.

"Apa maksudmu bicara seperti itu!" Protes Erza memegang lehernya.

"Eh, katakan saja" Sorano menggodanya "tapi, jika kau bilang tidak, itu bagus karena Mirajane menyukainya juga, hmmm mungkin harus kuhubungi dia sekarang karena, saingannya berkurang" Dia memegang Hp tapi, di cegah oleh Gadis berambut Merah itu.

"Berhenti, atau kulemparkan Hp itu" Ucap Erza dengan nada serius.

"Hoh, itu berarti kau menyukainya" Sorano menyeringai senang dan membuat Gadis berambut merah itu salah tingkah dan memerah seperti rambutnya

"Urusai!"

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

- Restaurant

"Hmm, orang itu belum keluar juga yah" Komentar Natsu dia berjalan berkeliling sekitar yah meski dia sudah tau tapi, dia tak menemukan lokasi tepat mereka "tunggu! Kenapa kalian masih di sini?!" Dia terkejut ketika melihat Arcadios dan Hisui masih di sekitar sini.

"Kita memang ingin kabur hanya saja ada sesuatu yang menghalangi kita" Jawab Arcadios dia berjalan tapi, terlihat terhenti sesuatu oleh sebuah penghalang "kau bisa lihat? Sulit kita untuk maju dan keluar"

"Hmm, begitu rupanya" Natsu mengayunkan pedang ke atas dan tampak mengeluarkan kilauan cahaya yang menyilaukan dan tak lama cahaya itu menghilang "oh, aku mengerti sekarang tampaknya kita di kurung oleh sebuah Kekkai" tampak Kurungan besar berwarna ungu.

"Bagaimana cara kita keluar dari sini?" Tanya Hisui dia agak panik "selain itu Sinyal Handphone ku mati dan tak berfungsi" dia menunjuk Handphone.

"Di dalam Kekkai ini, kau tak bisa melakukan apapun kecuali, jika kau ingin bebas maka hancurkan si Pengguna tehknik ini" Jawab Natsu melirik ke belakang "aku, tau kau di sana, keluarlah! Atau aku yang memaksamu!" dia menancapkan pedangnya ke tanah dan tak lama muncul ledakan besar Natsu dapat melihat dua bayangan muncul dari tanah.

*Jduarrr!

"Tch,! Ini salahmu Karakka! Kau terlalu terbuka jadi, ketahuan!"

"Heh, kau selalu menyalahkanku Rayure! Ini juga salah anak buahmu yang gagal membunuh Putri itu!"

"Hei, bocah itu yang cekatan sehingga dia menyadarinya!"

Natsu melihat dua orang di depannya yang satu Badan agak tinggi, gendut dengan gaya rambut seperti Elfman, dan yang satu lelaki pendek dengan mengenakan penutup kepala ala Cleopatra yah seperti jaman kuno.

"Arcadios, jangan lengahkan kewaspadaanmu, biar aku yang urus mereka berdua" Natsu masuk dalam Mode Quincy dan Shinigami secara bersamaan "hmm, tampaknya kalian mengincar Hisui!?"

"Yah, kekeke! Seperti yang kau lihat tujuan kita adalah Gadis itu" Rayure menunjuk Hisui "dan ini juga perintah dari Erigor-san!"

"Erigor?" Natsu sedikit mendengar nama baru tapi, dia melihat Simbol yang sama seperti Kageyama di tangan kanan 'ahh, begitu rupanya mereka masih satu Organisasi dan Tampaknya Erigor itu adalah pemimpinnya'

Rayure melemparkan Tali-tali hitam seperti Bantalan Jarum, dan mengikat Pedang Natsu dan satunya mengarah ke arah Hisui, Natsu memainkan pedang satunya dan memotong tali yang mengikat pedangnya dan mengarah ke Hisui.

"Rarghhhh!"

Natsu melihat Karakka bergerak ke arahnya dengan tubuh menghitam kilat tampak terlihat seperti Besi dan Natsu memberi tebasan Udara berwarna kuning tapi, lelaki itu mudah menghancurkannya dia langsung menyeruduk Natsu beruntung lelaki berambut pink ini bisa menahannya dengan satu pedang.

"Fisikmu lumayan juga bocah!" Karakka terus menekan Natsu dengan tubuhnya tapi, tak ada perubahan sama sekali.

"Heh, bocah tak bisa di remehkan bodoh!" Natsu menyeringai dia tampak tenang meski daya fisik orang ini kuat dia mengayunkan pedang yang satunya lagi.

*Jduarrrr

"Bocah ini lumayan!" Komentar Rayure dia langsung membuat tali dan terbang entah kemana

"Heh, jangan biarkan pertahananmu lengah" Karakka membuat lubang dan menghilang.

'Yang satu bisa berpindah tempat dengan tubuh keras dan yang satunya hanya seperti benang hitam dan tampak tali' Natsu mengerti kekuatan dua orang ini "baiklah!, saatnya berpesta!" Dia mengusap pedangnya dan menjadi panjang berkat Efek pedang Cahaya.

Muncul banyak tali bawah tanah, Natsu melompat Udara dan tali itu mengejarnya Natsu membuat busur panah dan menembakannya dalam jumlah banyak dan dia melihat lingkaran portal dan Karakka langsung menyeruduknya, Natsu bisa menghindar begitu dia ingin menyerang balik orang itu sudah tak ada.

"Begitu rupanya, mereka ingin main kucing-kucingan!" Natsu sudah membuat busur panah dan siap menembak kapanpun

Natsu langsung menembakan panahnya namun, tak terjadi apapun dia mendengar teriakan Hisui dan melihat Tali-tali itu mengikatnya sementara Arcadios sibuk memotong tali yang lain, Natsu bergerak cepat dia tau Karakka akan menyerangnya dan memang benar orang itu muncul sebelum berhasil mengenai dirinya dia memberi tebasan dan memberinya luka sebelum menghilang lagi.

"Hei, kau tidak apa-apa?" Tanya Natsu berhasil memotong tali yang mengikat gadis itu.

"Yah, terima kasih aku sempat lengah tadi" balas Hisui merapihkan bajunya.

Natsu membuat sayatan berbentu X di udara dia mengarahkannya ke sebuah bangunan dan berputar-putar hingga meledak dan benar dua orang itu muncul dari sana.

"Sial, bocah itu mengetahui keberadaan mereka" Umpat Rayure.

"Sudah kubilang jika, cara sembunyi seperti takkan berhasil" Balas Karakka kesal.

"Berhentilah bermain-main...Guh!"Natsu menembakan busur panah dalam jumlah banyak tapi, dia merasakan nyeri di tangan kanan'ghh! Kenapa sekarang kumatnya!' kedua orang itu mementalkannya dan menghindarinya tapi,

*Cling!

Natsu dengan cepat menghilang dan muncul di bekakang dua orang itu dia memberi tebasan cukup keras memberi luka berarti dan membuat mereka berteriak kesakitan dan dia kembali menghilang.

"DEAD BURNING FINGERS!"

Natsu posisi setengah jongkok, tangan kanan posisi lurus ke depan dan muncul kobaran api biru berbentuk Pisau besar dia lalu melemparkannya dan kedua orang itu sangat mustahil menghindar karena, posisi sedang di udara.

*Jduarrrr!

"Rayure!" Teriak Karakka melihat temannya terkena serangan telak dia menyadari Natsu sudah di belakangnya.

*Cling.

"Kau membuat kesalahan karena, membuat masalah" Natsu langsung menancapkan pedangnya ke punggung lelaki itu tapi, tak begitu dalam setidaknya itu memberi Efek luka serius karena dia ingin menanyakan banyak hal soal organisasi itu.

*Boommmm!

Natsu langsung menembakan panah kecil dan membuat Karakka hancur terluka dan tak bergerak menyerang lagi, Natsu menoleh melihat tumpukan tali jarum ke arahnya dia berlari dan menghindarinya dengan lues dan melihat sasaran.

*Slashhh!

"Ini kekalahanmu" Natsu berhasil menebasnya dengan suara keren dia langsung menghempaskannya ke tanah dan menodongnya dengan pedang "katakan, dimana persembunyianmu dan bosmu? Apa tujuanmu mengincar Hisui?!" dia sedikit mengintrogasinya.

"Guhh! Hah, bukan urusanmu yang harus kau tau bocah!" Rayure mengeluarkan darah segar dari mulut "jika, Erigor-san tau! Kau akan tamat dan rencana kita takkan terhentikan gyahahaha!" dia tertawa.

"Baiklah itu jawabanmu!" Natsu memukulnya dengan pegangan pedang dan memingsankannya "kau, tak begitu mengerti apa yang kau lakukan" dia melihat ke atas dan Kekkai itu menghilang.

"Tampaknya yang satunya menghilang" Ucap Arcadios mencari keberadaan Karakka tapi, hasilnya nihil.

"Tak apa, yang penting kita dapat satu untuk diintrogasi" Balas Natsu menunjuk Rayure "sebaiknya kita telepon polisi" dia melihat banyak kerusakan yang di perbuat oleh pertarungan tadi entah kenapa dia agak resah.

"Tenang saja sedang kulakukan" Jawab Hisui tengah menelpon "dan, juga jangan khawatir tentang kerusakan akan kubicarakan ini dengan ayah" dia menyadari tatapan khawatir Natsu.

"Baiklah!"

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

- Rumah Pribadi Presiden ( Malam Hari )

"Terima kasih atas bantuannya Natsu-kun" Toma berucap Syukur dia mendengar semua cerita dari Putrinya yang terjadi di Restaurant "jika, tak ada kau mungkin Putriku sudah hilang entah kemana" dia menghela nafas lega.

"Hahaha tak masalah aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan" Natsu hanya tertawa mendengar pujian "dan lagipula aku juga cukup terkejut ketika ada serangan itu dan tak menyangka di tempat terbuka seperti itu"

"Hmm, kau sudah menyelamatkan Putriku dua kali" Toma mengelus dagunya "yang, kudengar dari Putriku Rumahmu hancur, bagaimana kalau aku yang akan menyuruh anak buahku untuk membelikan rumah atau setidaknya memperbaiki rumahmu" dia menawarkan

"Wah, bukannya menolak hanya saja apa ini tak merepotkan?" Tanya Natsu sekedar basa-basi yah meski dalam hatinya dia berteriak kegirangan intinya dia bersikap sopan.

"Tak ada yang merepotkan bagiku Natsu-kun, bahkan kau kerepotan menjaga Putriku dalam bertarung yang seharga rumah saja belum cukup untuk mengungkapkan terima kasihku" Ucap Toma yah selain itu dia mengenal secara pribadi kepada ayahnya Natsu.

"Baiklah jika anda berkenan" Natsu hanya cengengesan.

"Baiklah nikmati tempat ini" Toma dan Pengawal setianya pergi dari sini menyisakan Hisui dan dua Perempuan Pelayan pribadi tapi, Natsu menyadari sesuatu ketika melihat jam.

"Hmm, ada apa? Natsu?" Tanya Hisui melihat wajah temannya.

"Oh, sial aku lupa aku harus ke pesta Ulang tahun!" Natsu berteriak panik yah hal itu wajar saja setelah bertarung dia langsung Istirahat di Rumah Hisui dan ketiduran begitu bangun sudah jam 9 malam "hmm, hei! Hisui kado apa yang cocok diberikan jika, seseorang Ultah tapi, dia perempuan?" dia bertanya mungkin saja Hisui tau karena, dia juga perempuan.

"Hmmm, apa yah tergantung biasanya kau memberikan apa yang dia suka tapi, jika tak ada bisa Kalung atau Cincin yah, ini menurutku sih" Jawab Hisui "yah, intinya sesuatu yang Spesial dan berharga"

"Oke, aku pergi dulu dan sampai jumpa lagi!" Natsu langsung berlari seenaknya keluar "dan terima kasih makanannya!" dia sebelum lari mencomot makanan tanpa kesopanan.

"Sampai jumpa juga" Hisui tertawa kecil melihat tingkah antik Natsu.

.

.

.

.

.

- Belserion House

Erza hanya menghela nafas kurang bersemangat bukan dia tak senang dengan pesta kejutan Ulang tahun dirinya yang diadakan oleh ibunya dan juga teman-temannya hanya saja ada sesuatu yang kurang lengkap di dalam pestanya juga.

Dia melihat ke arah pesta teman-temannya melakukan hal gila dan konyol di mana Cana mengajak lomba minum yang jelas itu bukan arak atau Bir karena, itu masih dilarang oleh anak-anak yah intinya itu Cola dengan beberapa kawannya terlihat tergeletak Bixlow dan Evergreen yang sudah tepar karena, kelebihan minum dan Freed yang masih kuat menantangnya.

Laxus yang tak begitu peduli situasi hanya makan sesuatu saja, Gray dan Gajeel saling baku hantam tentu saja Elfman sebagai Provokator, di luar Sting yang terlihat matanya di tutup tengah memukul Pinata yang di gantung di pohon, Mirajane dan Ultear saling mengobrol dengan para Gadis lain.

Dan adik-adik kelas yang terlihat kesenangan dengan makanan manis seperti Wendy dan Chelia yang begitu senang, dan Hibiki, Ichiya yang menggoda para gadis sempat menggoda Erza namun mendapat hadiah berupa pukulan yang tak mengenakan.

"Kenapa, kau murung begitu? Apa kau tak senang dengan Pesta ini?" Tanya Irene sebagai ibu dia melihat Wajah Putrinya tak senang "apa, kau tak suka dengan Hadiah yang mereka berikan?"

"Bukan begitu!" Erza menggeleng "untuk hadiah aku senang bisa menerimanya dan Pesta aku senang karena meriah hanya saja ada sesuatu yang kurang di pesta ini" yah yang dia tunggu lelaki bersyal dan berambut pink hadir ke pestanya.

"Maksudmu Natsu?" Irene sudah bisa menebaknya dia cukup terkejut tak melihat Anak muridnya itu padahal dia sudah mengundangnya "kau tunggu saja mungkin, ada sesuatu yang terjadi hingga dia telat yah setidaknya sedikit bersabar oke?" Erza mengangguk.

"Hei, Erza kau tak habiskan ini?" Panggil Kagura "jika, kau tak mau habiskan maka aku akan menyuruh yang lain!" Beberapa saat kemudian wajah Erza berubah menjadi Bringas ketika Kue Favoritnya di ambil orang lain.

"Hahahajaha!" Semua orang tertawa di tempat itu.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

- Jam 23.30 ( Di Kamar Pribadi Erza )

Erza sekarang di kamarnya berbaring di Kasurnya tapi, ekspresi wajahnya masih terlihat tak puas dengan pesta itu yah alasannya sederhana karena, lelaki yang di harapkannya tak kunjung datang sampai pestanya berakhir.

"Apa, kau masih membenciku Natsu?" Guman Erza air matanya kini terlihat dan wajahnya sangat sedih dengan suara serak "bukankah kita sudah baikan? Kau tau yang kuharapkan dari pesta ini adalah kau datang" dia memejamkan matanya tapi, tampaknya Tuhan masih mengambulkan Harapannya terdengar suara ketukan Jendela

*Tok *Tok *Tok *Tok

Erza langsung terbangun dengan pedang di tangan siapa orang berani mengetuk Jendelanya, begitu dia melihat dirinya cukup terkejut ternyata itu orang yang di nantikannya selama ini.

"Natsu!" Erza buru-buru membuka jendela "apa yang kau lakukan di mari? Dan kau dari mana saja aku menunggumu tau!" dia bersikap antara senang, cemas, dan panik.

"Ahh Gomen! Aku ada sesuatu yang penting jadi, aku tak bisa datang ke Pestamu" Natsu dengan nada menyesal "ahh, aku bawa hadiah untukmu dan Selamat Ulang tahun yang Ke-18 Erza aku memberimu ini" dia memberi sebuah kotak kecil dengan membungkuk.

"Natsu... Ini" Erza membuka isi kotak itu tak percaya yang melihat isinya yaitu sebuah kalung emas, dengan Gantungan Permata merah yang terlihat sangat asli dengan sebuah kartu ucapan "i-ini ha-hadiah u-untukku?" dia masih tak percaya apa yang dia lihat.

"Yah, aku tak tau harus memberimu apa makanya aku membelimu kalung itu dengan uang tabunganku yah, kuharap kau suka" Natsu hanya tertawa kering "yah, itu Permata asli yah kudengar Perempuan tak suka Palsu makanya kuminta dari toko emas itu Permata yang asli bukan imitasi dan kubuat warna merah karena, ini sesuai dengan rambutmu itu tapi, jika kau tak suka kau boleh membuangnya" dia tetap tersenyum.

"Tidak, aku malah senang ini cukup membuatku shock" Erza memakaikannya ke Leher "hmm, bagaimana? Terlihat cocok denganku?!" dia menujukannya.

"Hmm, kau terlihat manis dengan itu" Komentar Natsu membuat Erza blush "baiklah, tampak hari sudah malam dan maaf menganggu tidurmu aku harus pergi untuk tidur juga" dia berjalan ke arah jendela tapi, Gadis berambut Scarlet itu menahannya.

"Kumohon kau tidur denganku kali ini saja,! Aku tau kau tak punya rumah pliss! Jangan menolak oke? Aku meminta padamu!" Erza menambahkan efek mata anak anjing yang memang tak berefek pada Natsu sendiri.

"Baiklah!" Natsu hanya mengalah saja karena, akan jadi urusan panjang jika menolak sama sekali.

"Yayyyyy!"

Natsu langsung tidur di kasur karena, jika di lantai maka Gadis itu akan memintanya lagi dan itu akan sangat kerepotan dan memakan waktu untuk berargumen lagi.

Erza membuka Piyamanya dan tampak Bra dan CD miliknya berwarna hitam yah, memang ini kebiasaaanya kalau tidur hanya memakai itu dan setengah bugil ketika, dia menoleh Natsu sudah sangat tertidur pulas tampak raut wajahnya yang kelelahan.

Dia lalu tidur di sampingnya entah kenapa dia tak mempermasalahkan ada seseorang lelaki tidur di sampingnya dalam keadaan setengah bugil terlebih lagi jika itu Natsu rasanya ada sesuatu yang berbeda yaitu rasa nyaman, dan aman ketika dia tidur di sampingnya.

Dia mengelus rambut Spiky pink itu lalu, mencium kening sebelum kembali memejamkan matanya sekarang.

'Good Night My Future Husband'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Whooooooo akhirnya yang menyedihkan wkekwkw dan yupz arc ini sudah masuk dalam puncak permasalahan dan tinggal menunggu battle bertaburan kayak biji wijen faks! See ya!

Pm

.

RnR