PART FOURTY-NINE
(kelanjutan part 48...)
Museum Louvre adalah museum paling penuh benda bersejarah di Paris, namun yang paling terkenal dari museum itu adalah bentuknya yang unik. Tak membutuhkan waktu lama memikirkan seperti apa bentuk museum itu. Bayangkan saja sebuah kastil pada masa Renaisans, ornamen gading, dan gargoyle penjaga pintu, lalu kau akan menemukan bangunan berbentuk benteng yang membentuk persegi panjang, mengelilingi piramida yang konon terdiri dari 673 buah kaca tembus pandang. Piramida itu berdiri dikitari kolam yang bening seperti cermin ajaib. Kalau seseorang yang berfoto di salah satu sisinya, ia akan melihat pantulan bayangan Louvre yang gagah di permukaan kolam. Bangunan museum terdiri dari tiga sayap, yakni sayap Richelieu di utara, sayap Denon di selatan, dan sayap Sully di timur. Namun, pintu utama masuk museum adalah melalui lobby yang berada di bawah piramida.
Kami tiba di Louvre pukul setengah empat, saat pengunjung sedang banyak-banyaknya. Hari itu sedang diadakan pameran karya seni di ruang serba guna, jadi yang datang bukan hanya warga Paris atau turis biasa, melainkan juga wanita-wanita pejabat yang memiliki anjing pudel dan pria-pria berkostum aneh yang menganggap gayanya sendiri avant garde. Para pengusaha dan istri serta anak-anak mereka juga datang, siap menghadiri pelelangan di halaman Louvre yang indah. Matahari tak begitu terik tapi cerah, dan udaranya cukup mendukung suasana di Paris yang penuh lika-liku dan dinamika manusia. Saat kami memarkir mobil Cadillac—yang dipinjam Hyde melalui seorang pencoleng—di luar museum, Hyde memberiku isyarat untuk bergegas keluar dan menutupi wajahku dengan syal abu-abu. Setelah aku, yang keluar kedua adalah Kidomaru. Yang lainnya, seperti Sakon, Tayuya, dan Jirobo, diturunkan secara terpisah. Hal ini adalah upaya Hyde menghindari kecurigaan penjaga museum kalau kami keluar secara rombongan.
Hyde lalu mengumpulkan kami di satu spot dan mulai membisikkan rencananya.
"Jadi, kita kemari untuk mengambil salah satu peninggalan museum yang tengah dipamerkan di pameran seni," dia menjelaskan. "Orang-orang mengenalnya sebagai Coup de Foudre, artinya 'kilatan petir.' Aku belum tahu pasti seperti apa wujudnya. Karya seni ini sudah terdaftar dalam museum dua bulan yang lalu, namun baru boleh dipamerkan untuk umum pada hari ini. Coup de Foudre dijaga ketat oleh sistem pengamanan yang sama untuk melindungi lukisan Mona Lisa. Namun, berhubung sistem pengamanan Mona Lisa sudah pernah dibobol tahun 1911, rasanya tak sulit meretas milik Coup de Foudre. Hanya saja, kita harus selalu waspada setiap saat karena setiap dua jam sekali, penjaganya diganti dengan yang baru."
"Soal pengalihan perhatian, kan?" senyum Sakon. "Biar aku yang mengurusnya."
"Tunjukkan pada mereka kemampuan hipnotismu, dan aku akan berayun di jaring laba-labaku untuk menyusup ke ruang penyimpanan."
"Kalau begitu kita langsung bagi saja," kata Hyde. "Sakon, Tayuya, aku serahkan pada kalian penjaga-penjaga itu. Satu jam lagi adalah pergantian penjaga sekaligus dimulainya giliran Coup de Foudre untuk dipamerkan. Jirobo, kau bertugas di bagian pengamanan. Kidomaru dan Sasuke, kalian yang akan beraksi. Vous comprennez*?"
"Oui*," kata Jirobo.
"Je comprends*," jawabku dan Kidomaru bersamaan.
"Bagus," kata Hyde, senyumnya melebar. Tiba-tiba, ear-receptor di telingaku berdesing. Suara Hyde berkata dalam telepati, "Untuk Kidomaru dan Sasuke, kalian harus segera masuk lobby, lalu kalian akan menemukan jalan menuju kamar mandi. Kalian akan menemukan dua orang petugas kebersihan di sana. Bereskan mereka. Aku baru saja dapat kabar dari informan, bahwa pameran ditunda sepuluh menit karena masalah teknis. Kita punya tambahan waktu yang singkat."
"Tunggu sebentar," kata Tayuya. "Sepertinya aku ada ide." Ia mengangguk pada Sakon seraya mengedip. Sakon menyeringai setuju. Tayuya lalu mengendap-endap di belakang dua orang pengunjung asal Italia yang salah satunya membawa kamera DSLR yang tergantung di lehernya. Mereka setangah jalan menuju ke gerbang. Tayuya mencolek mereka sedikit, lalu belum pulih dari kekagetan, Tayuya menonjok muka mereka dengan dua tinju. Dua orang itu langsung pingsan, namun segera Tayuya—dibantu Sakon—menyeret kedua orang itu ke bayang-bayang kelokan jalan. Tayuya lalu mengambil kamera dan topi si pengunjung, begitu pula Sakon mencuri jaket kulitnya.
"Jenius, dasar pamer," ejek Kidomaru.
"Kerja bagus!" puji Hyde. "Nah, semua sudah di posisi, ayo
Kami pun masuk satu per satu melewati gerbang. Aku dan Kidomaru berpisah dengan Tayuya dan Sakon juga Jirobo. Kami akan menuju ruang pameran serbaguna dari arah berlainan. Sewaktu masuk ke bawah piramida, aku menyaksikan betapa menakjubkannya pemandangan Paris dari bawah tanah. Lobby itu ramai sekali, sehingga kami tak khawatir akan terlihat penjaga. Belum lagi, ada seorang pria kecil bersuara lantang yang berseru kepada pengunjung museum sembari melambai-lambaikan brosur di atas kepalanya.
"Hadirilah! Pameran peninggalan sejarah paling berkesan di Paris, Madame dan Monsieur! Pameran Coup de Foudre yang menakjubkan! Dan jangan lupa bagi pecinta fotografi, hadiri juga pameran para fotografer muda pilihan UNICEF! Tamu kehormatan Cyril Oakroot dari Kanada!"
"Dia bisa menggunakan toa, bukan? Kenapa harus teriak-teriak?" Kidomaru mencibir. Kami terus berjalan dengan cepat. Salah satu brosur pria kecil itu terbang ke arahku. Segera kutangkap, kubaca sekilas, lalu kujejalkan ke dalam tong sampah.
Aku dan Kidomaru segera menemukan rambu-rambu menuju kamar mandi pria, dan benar yang dikatakan Hyde. Dua orang petugas kebersihan sedang sibuk mengepel di sana. Kidomaru memberiku isyarat untuk maju duluan, dan aku menggunakan kemampuanku untuk 'mematikan' sementara kedua pria malang itu. Setelahnya, ear-receptor kembali berdesing.
"Kerja bagus, Kawan-kawan!" Hyde yang bicara. "Aku sedang di ruang pengamanan sekarang. Informan kita berhasil melumpuhkan penjaga CCTV dan sekarang ia aman bersamaku. Aku bisa menyaksikan kalian melalui ruangan ini. Nah, sekarang pakai baju petugas kebersihan itu dan masuklah ke ruang pameran."
"Baik," ujarku.
"Dimengerti," kata Kidomaru. Setelah itu, kami mengganti baju dengan pakaian petugas kebersihan. Aku kurang menyukai warna jingganya yang mencolok, tapi apa boleh buat.
"Hei, sepertinya ukuran pria ini sedikit lebih kecil dariku, tapi tak apalah," komentar Kidomaru seraya memakai topi petugas kebersihan itu. "Apakah kita perlu membawa alat pel juga?"
"Sembunyikan saja mereka," kataku. "Di bilik paling ujung kosong. Mereka akan sadar kurang lebih dua jam lagi. Kira-kira setelah kita selesai melaksanakan misi."
"Hm, ide bagus," kata Kidomaru. "Tapi sebentar, aku akan memberi sedikit sentuhan…" Ia menembakkan jaring laba-laba dari pistolnya sehingga menjerat sekujur tubuh dua petugas kebersihan itu.
"Keren, kan?" katanya sambil tertawa. "Laba-laba memang menakjubkan!"
Kemudian, kami segera keluar kamar mandi sambil membawa alat pel. Aku melihat penjaga lain sedang siaga di dekat loket, lalu baru sadar bahwa aku masih memakai tanda pengenal milik petugas kebersihan tadi. Cepat-cepat kumasukkan ke dalam saku untuk menghindari kontak dengan si penjaga. Menuju pintu masuk Louvre, kami mengarah ke lantai dasar. Di sanalah kami menemukan ruangan bergaya Renaisans kental yang dilengkapi peninggalan-peninggalan sejarah yang berasal dari Mesir, Yunani, dan Babilonia kuno. Aku pernah membaca diantaranya adalah Codex Hammurabi dan patung karya Michelangelo yang terkenal, yaitu The Dying Slave. Tapi kami harus terus berjalan, sebab ruang pameran masih jauh. Kami harus menemukan tangga menuju lantai paling dasar. Sulit juga ternyata, karena ruangan display terlampau luas dan ramai. Tiba-tiba, kami berpapasan dengan dua orang penjaga tambun yang sedang berpatroli.
"Bon… bonsoir—selamat sore!" sapa Kidomaru gugup.
"Selamat sore juga," balas dua penjaga itu, melirik alat pel kami dengan heran. "Kalian terburu-buru?"
"Eh, tidak juga," sahut Kidomaru. Ia mencolek lenganku agar segera mengalihkan topik.
"Kami petugas kebersihan baru di sini," jelasku. "Bisakah kalian memberitahu kami tangga yang menuju lantai paling dasar? Kamar mandi di sana—eh—mampet."
"Benarkah?" kata si penjaga. "Kalau begitu silakan lurus, lalu belok kanan. Nah, di sana kalian akan menemukan tangganya. Tapi saranku, sebaiknya kalian menggunakan elevator saja. Elevatornya ada di sebelah barat tangga."
"Oh, merci—terima kasih," kata Kidomaru sambil nyengir.
"Semoga harimu menyenangkan," balas kedua penjaga itu. Aku dan Kidomaru bergegas pergi sambil menyeret alat pel. Bisa kudengar mereka masih bicara, "Oi, pastikan kamar mandinya bersih mengkilap, ya!" Mereka tertawa. Mungkin menyindir.
"Oh, akan kugosok muka kalian dengan alat pel ini sampai mengkilap!" gumam Kidomaru naik darah, menggunakan telepati.
"Itu tangganya," kataku. Tangga berpoles marmer itu mengingatkanku sedikit dengan tangga di Hotel Carrousel, entah mengapa. Kami menuruninya dengan cepat, lalu mengikuti rambu-rambu yang menunjukkan arah menuju ruang pameran. Ruang pameran masih dikunci, tentu saja, karena pameran belum dimulai. Tapi, para pengunjung sudah padat menunggu sementara menikmati deretan foto yang dicetak seukuran kertas A2 dalam pigura-pigura berukir, disusun di atas triplek horizontal yang melintangi ruangan.
"Madame dan Monsieur sekalian!" Pembawa acara wanita yang berambut pirang mengumumkan menggunakan pengeras suara. "Selamat datang di pameran fotografi! Silakan menikmati karya-karya indah ini! Karya-karya bertemakan pesona pedalaman Afrika adalah karya fotografer muda, Mr Cyril Oakroot. Karya-karya impresif ini adalah pilihan UNICEF dan tergabung dalam proyek pemberdayaan anak-anak di Kenya yang menjadi program utama UNICEF tahun ini."
"Permisi, Tuan..."
Seseorang mencolek bahuku. Dengan kaget, aku menoleh ke samping. Seorang pemuda berambut cepak hitam—mungkin seusia diriku—menyodorkan kartu nama ke arahku dengan lagak sopan. Ia mengenakan kemeja yang kedodoran sehingga kesannya selengekan, tapi di samping itu, potongannya cukup meyakinkan.
"Apakah ini milik Anda?" ia bertanya ramah. Aku terkesiap. Kartu nama si petugas kebersihan rupanya lepas dari kantongku, entah bagaimana. Aku buru-buru menyambarnya dari tangan pemuda itu, lalu mengangguk singkat.
"Trims, Tuan," kataku.
"Omong-omong, kau kelihatan lebih muda dari yang di foto," celoteh pemuda itu.
"Itu foto ayah saya," kataku membual. "Saya orang baru di sini."
"Ah, begitu," ujar pemuda itu. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan. Saya harus menyingkir sebelum wanita cerewet itu menyadari keberadaan saya. Anda tahu, saya hanya kemari dengan niat menghadiri pameran, tapi rupanya pameran fotonya juga diadakan di sini. Yah, bisa Anda rasakan seperti apa perasaan saya. Saya permisi dulu." Dia tersenyum dengan mata setengah memicing, lalu melenggang pergi.
Aku tersadar. Pasti dialah fotografer terhormat itu. Dan dia masih kelihatan seperti bocah SMA yang polos. Kalau dipikir-pikir, kurang kerjaan sekali dia berada di sini! Aku mendengus lega. Hampir saja identitasku terbongkar.
Saat itu, mendadak mataku tersilaukan oleh cahaya flash. Seorang penjaga botak yang garang berteriak pada dua orang pengunjung museum yang gayanya khas. Mereka jelas adalah Tayuya dan Sakon dalam penyamaran. Selagi si penjaga mengomel menggunakan logat Prancis Selatan, aku dan Kidomaru menangkap isyarat dari tangan Tayuya. Kami berbelok menuju lorong di belakang ruang pameran. Di ujung lorong, Jirobo sedang menyeret tiga orang penjaga ke dalam gudang. Ia melemparkan sebuah kunci logam kepadaku.
"Itu kunci ke ruang penyimpanan," ia memberitahu menggunakan telepati. "Lima penjaga lain sedang menuju kemari. Kalian harus cepat."
Kidomaru tampak tenang-tenang saja. "Kalau begitu ini waktunya aku menunjukkan kemampuan laba-labaku," katanya. Ia menembakkan ke langit-langit benang sutera dari pistolnya, kemudian ia mengayunkan tubuh ke atas. Tak sampai satu menit, ia sudah merekatkan diri di langit-langit seperti laba-laba raksasa. Ia lalu melemparkan pistol jaringnya kepadaku.
"Ikuti aku, Sasuke!" ia berkata keras-keras. Aku, dengan bimbang, menembakkan pistol. Begitu benang sutera itu mengenai langit-langit, aku menarik napas dalam-dalam. Dibantu Kidomaru, aku berhasil merayap naik. Jirobo sudah mempersiapkan senjata lasernya.
"Jangan sampai mengenai lukisan apapun, lho!" Kidomaru memperingatkan dari atas.
"Memangnya aku bodoh?" balas Jirobo. Ketika langkah-langkah cepat berderap di ujung lorong yang lain, Jirobo mengarahkan pistolnya ke lima penjaga itu. Ia menembak. Kena! Lima penjaga itu langsung lumpuh dalam hitungan detik, seperti kartu domino. Sementara itu, aku dan Kidomaru masih susah payah merayap di langit-langit. Namun suara berisik di lorong berhasil membuat geger pengunjung, sehingga mereka berduyun-duyun muncul dari ruang pameran untuk melihat apa yang terjadi. Saat melihat Jirobo, mereka menjerit ketakutan.
"Jangan bergerak!" Jirobo menodongkan pistol lasernya, memperingatkan. "Mundur semuanya, mundur! Semua akan baik-baik saja."
Aku dan Kidomaru akhirnya turun dari langit-langit, merasa beruntung karena kami pikir tak ada satupun yang menyadari keberadaan kami, sampai…
"Hei! Apakah kau Spider-Man?"
Aku terkejut. Seorang anak laki-laki berambut cokelat bergaya bob dan berkacamata dengan polosnya berdiri di belakangku. Tangannya memeluk figurin si manusia laba-laba setinggi dua puluh sentimeter—pahlawan super favoritnya. Aku dan Kidomaru jadi bingung harus menjelaskan apa, jadi aku menarik anak itu mendekat, lalu berbisik padanya:
"Kau boleh panggil aku begitu, tapi kami ada urusan penting. Jadi, tolong menjauhlah. Kembali ke ibumu."
"Kalau kau Spider-Man, mengapa kau memakai kostum petugas kebersihan?" anak itu kembali bertanya.
"Aku tadi habis membersihkan langit-langit," jawabku, entah mengapa pikiranku bekerja lebih spontan dari biasanya saat itu. "Agar museum ini lebih baik, kita harus menjaga kebersihan, bukan?"
"Oh," kata anak itu. "Syukurlah kau bukan pencuri. Kalau kau pencuri, si penjaga akan mencarimu."
"Nah, selamat tinggal! Aku harus membersihkan yang lain!" Aku pun segera mengikuti Kidomaru, meninggalkan anak itu. Kidomaru sedang sibuk mengutak-atik kunci ruang penyimpanan dengan frustrasi.
"Jirobo yakin kalau ini kuncinya, kan?" dia mengomel.
"Apakah tidak berhasil?" tanyaku.
"Waktu kita sudah hampir habis!" kata Kidomaru jengkel. "Pintunya tetap tak mau dibuka!"
Aku menunduk mengamati kunci yang tersangkut di lubangnya tersebut. Tampaknya memang sudah pas. Apa lagi yang kurang?
"Oi! Kalian berdua!"
Aku dan Kidomaru sama-sama kaget seraya menoleh. Dua penjaga yang sebelumnya kami temui di lantai dasar atas telah berdiri di belakang kami.
"Kalian mau masuk ruangan itu?"
"Oh, kami diminta kepala museum membersihkan ruangan ini," spontan aku menyela.
"Bukankah kalian seharusnya membereskan kamar mandi yang mampet?" kata si penjaga sambil mengerutkan dahinya yang licin.
"Ah, tukang ledengnya baru saja tiba, jadi kami bisa mengerjakan yang lain," ujar Kidomaru, menyodok punggungku meminta dukungan. Aku mengangguk kuat-kuat.
"Kalian yakin?" penjaga itu masih tidak bergeming. Aku dan Kidomaru tak tahu harus bicara apa lagi, jadi kami mengangguk saja.
Si penjaga mendecakkan lidah. "Bon—baiklah, jadi kalian butuh bantuan apa?"
"Kami tak bisa membuka pintunya," Kidomaru langsung bicara.
"Ah, dasar pekerja baru," kata si penjaga terkekeh. "Kalian harus menekan lebih dahulu kenopnya sebelum memasukkan kunci. Kalau kalian langsung memutarnya, bisa-bisa kuncinya menyangkut!"
"Oh..." aku manggut-manggut. "Merci beaucoup*!"
"De rien*, kalian bisa mengandalkan kami kapan saja!" kedua penjaga itu nyengir. "Selamat bersih-bersih!"
Setelah keduanya pergi, aku dan Kidomaru menarik napas lega. Kami tak menyangka semudah itu kedua penjaga itu dibodohi. Kami melakukan apa yang diinstruksikan, lalu pintu ruang penyimpanan pun terbuka dengan lancar. Bersamaan dengan itu, Tayuya menghampiri kami.
"Lho, kau berhasil lolos?" Kidomaru menanyainya.
"Kubiarkan Sakon mengurusnya," ujar Tayuya sembari menyibakkan rambut. Matanya berbinar-binar menatap ke dalam ruang penyimpanan. "Kerja yang bagus! Aku tak sabar melihat peninggalan sejarah itu! Makanya aku kemari untuk mengecek kalian."
"Huh, kami akan baik-baik saja tanpamu," kata Kidomaru mencibir. "Tapi, mari kita lihat seperti apa target kita!"
Dan di sanalah ia berada, peninggalan sejarah yang akan dipamerkan, Coup de Foudre. Aku harusnya sudah bisa menebak seperti apa wujudnya. Kalau seseorang yang mengaku pecinta film sejarah, mereka pun sudah bisa menebaknya. Benda itu adalah sebilah pedang, tapi dilihat dari bentuknya yang hanya memiliki satu bagian tajam, terlihat bahwa pedang itu adalah hasil akulturasi dari budaya Eropa dengan katana, pedang tradisional Jepang. Ukiran di gagangnya yang menyerupai fleur de lys—bunga lili putih—menjelaskannya. Begitu pula dengan ukiran yang sama di sarung kayu ash yang melintang di bawahnya. Pedang itu tersimpan di dalam kotak kaca anti peluru yang tebal dan agak berdebu. Ada sebuah deskripsi yang menyatakan 'bawa dengan hati-hati' di luar kacanya.
"Dari semua aksi perampokan yang pernah kulakukan," Kidomaru menyeletuk, "baru kali ini aku merasa gelisah untuk merampok."
Aku setuju dengannya. Mata pedang yang terasah tajam dan sebening air laut itu memantulkan cahaya lampu display dengan sempurna, lalu membiaskannya ke luar kotak kaca menjadi ribuan titik pelangi. Pendek kata, pedang itu terlalu mulia untuk dicuri.
"Kami menemukan target dalam kotak kaca. Jadi, bagaimana kita membukanya?" tanyaku, mengirimkan sinyal telepati kepada Hyde melalui ear-receptor.
"Kalian hanya perlu mencari sekatnya," suara Hyde menjawab. "Pasti ada di sekitar situ."
"Hm, coba kita lihat," kata Kidomaru seraya memeriksa kotak kaca tersebut. "Tak ada sekat sama sekali. Kurasa kita mesti membukanya dengan paksa."
"Apa?" aku terkesiap. "Itu mustahil!"
"Oh, serahkan padaku!" Tayuya mengacungkan jempol. "Kalian hanya perlu memastikan ruangan ini kedap suara dan menutup pintu rapat-rapat!"
Aku dan Kidomaru melaksanakannya. Tayuya kemudian menyuruh kami tiarap. Saat kutanya mengapa, dia hanya tersenyum.
"Kau tak mau terbunuh, kan? Lebih baik juga kau tutup kedua telingamu."
"Oke, ini gila," kata Kidomaru.
Tayuya mengambil rekordernya dari dalam saku, kemudian memasangkan mulutnya di ujung rekorder itu. Saat dia meniup, nada yang keluar adalah C bergaris satu. Aku memastikan telingaku benar-benar tertutup rapat dengan kedua tangan. Tayuya merangkai nada-nada lainnya menjadi sebuah lagu tanpa syair, kemudian oktafnya semakin tinggi. Aku sudah bisa menerka apa yang akan terjadi. Lampu kecil di langit-langit mulai bergetar, begitu pula kotak kaca yang menyimpan Coup de Foudre. Aku merasakan telingaku berdengung hebat dan kepalaku bergemuruh. Tayuya terus memainkan rekorder dengan santai. Tak lama kemudian, terdengar bunyi derak keras. Kaca pecah berantakan. Serpihannya mengotori seluruh lantai. Di saat bersamaan pula salah satu lampu ikut pecah, sehingga ruangan itu menjadi remang-remang.
"Wow!" komentar Kidomaru, tubuhnya gemetaran. "Itu tadi musik yang mengerikan!"
Tayuya tampak sangat puas. "Nah, tunggu apa lagi? Ayo, kita bereskan ini!"
"Target berhasil didapatkan," aku mengabarkan pada Hyde.
"Bagus!" suara Hyde menjawab. "Agak kurang aman di sekitar sini, tapi masih bisa dikontrol. Kalian harus membawa benda itu keluar sekarang juga! Lima menit lagi pameran dimulai!"
Aku menyarungkan pedang itu dengan hati-hati, kemudian kami membungkus pedang itu di dalam selembar taplak. Kami bermaksud membuka lagi pintu ruang penyimpanan ketika kami berhadap-hadapan dengan seorang petugas kebersihan lain yang tampak kaget—tepat di depan pintu.
"Kalian—sedang apa—di sini?" katanya dengan suara bergetar.
"Eh... kami..." aku berusaha mencari alasan, namun petugas kebersihan itu menghalangi langkah kami.
"Kalian penyusup!" serunya. "PENJAGA! PENJAGA!"
BUGGG! Kidomaru menonjok wajah petugas kebersihan itu dengan keras hingga terkapar di lantai. Namun ternyata, respon para penjaga terhadap teriakannya lebih cepat dari dugaan kami. Tak sampai semenit, kami sudah dikelilingi para penjaga dari segala arah.
"Baiklah, tunggu aba-abaku dan kita kabur, oke?" Kidomaru berbisik ke arahku dan Tayuya. "Satu... dua... tiga!" Kidomaru lalu menembakkan jaring ke arah penjaga-penjaga itu. Aku dan Tayuya jadi punya kesempatan meloloskan diri. Aku, membawa pedang yang berat itu, mengikuti tubuh kecil Tayuya menyusup-nyusup di sepanjang lorong. Namun, kami pun dicegat penjaga lainnya. Kami harus berbelok ke arah lain—ke arah pameran foto. Kami menabrak triplek yang melintang itu. Roboh berantakan. Ada suara orang memekik, mengumpat, bahkan suara ceklik kamera menyaksikan peristiwa kejar-kejaran kami dengan para penjaga. Tapi kemudian, Jirobo—yang sudah lepas dari tawanan penjaga—muncul untuk menolong kami. Ia melumpuhkan mereka semua.
"Ke elevator! Cepat!" Tayuya berseru.
Baru kami membuka elevator, sirine tanda darurat berbunyi. Aku mengumpat dalam hati. Inilah risiko merampok sebuah museum, tapi memang itulah yang kukerjakan sekarang. Suara Hyde muncul lagi dalam kepalaku melalui ear-receptor.
"Kalian sudah berhasil lolos?"
"Sudah," jawabku. "Kidomaru dan Jirobo melindungi kami."
"Di mana kalian sekarang?"
"Elevator."
"Bodoh! Kenapa tidak lewat tangga saja!"
"Penjaganya terlalu banyak!" protes Tayuya. "Kami tak bisa melewati mereka!"
"Kalau begitu setelah ini, turun di lantai paling atas. Kalian harus segera meloloskan diri sebelum terlambat!"
Pintu elevator mendenting terbuka. Aku dan Tayuya bergegas keluar elevator itu. Di koridor yang mengarah ke luar sayap Richelieu, kami masih bisa mendengar bunyi sirine darurat. Seluruh pengunjung tampak panik dan berlarian keluar, namun kami tak peduli. Pedang itu masih aman dalam genggamanku. Aku dan Tayuya nyaris mencapai pintu keluar ketika segerombolan petugas keamanan mencegat kami.
"Sial!" umpat Tayuya. "Ayo, Sasuke, mereka akan bingung kalau kita mencari celah sempit!"
Buru-buru berbalik, kuikuti Tayuya menyusup ke dalam ruangan display, lalu menuju lorong yang terhubung dengan lobby. Kulihat dua petugas kebersihan yang sebelumnya kulumpuhkan dengan Kidomaru sudah sadarkan diri. Mereka menunjuk-nunjuk pakaian yang kukenakan sambil berteriak. Aku terus berlari selagi dua orang itu mengejar aku dan Tayuya dengan mengenakan pakaian dalam. Ternyata, petugas keamanan yang semula di luar telah mengikuti kami sampai jauh. Aku dan Tayuya seperti terjebak, tak tahu arah.
"Tahan dulu! Jangan panik! Ini adalah komandan kepolisian Paris! Saya minta pengunjung agar tetap tenang!" sebuah suara berseru dari pengeras suara di atas loket.
"Ada penjahat diantara kalian! Saya minta pengunjung tetap tenang!" suara itu memecah keributan. "Penjahat ini telah mengambil peninggalan sejarah museum. Saya minta agar kalian, para penjahat, segera meletakkan barang curian kalian dan pergi ke luar museum sekarang juga."
Hening. Semua orang menunggu reaksi. Termasuk aku dan Tayuya. Kami tak berani bergerak sama sekali. Kemudian, Tayuya mengangkat tangannya, lalu berteriak lantang:
"Kami di sini! Kami di sini!"
Semua orang menoleh ke arahnya. Aku heran menatapnya.
"Baiklah, kami menyerah," kata Tayuya. "Kalian boleh membawa kami. Kalian dengar? Tapi sebelumnya, aku akan memberi kalian selamat karena sudah menemukan kami. Dan selamat itu datang dari sini."
"Selamat macam apa?" balas suara komandan polisi.
Tayuya mengeluarkan rekordernya. Seluruh pengunjung menganga, bertanya-tanya. Namun aku tahu apa yang akan dia lakukan, meskipun tak yakin dia benar-benar akan melakukannya.
"Kalian orang Prancis pasti kenal dengan lagu Alouette," kata Tayuya sembari menyeringai. "Akan kumainkan untuk kalian."
Saat dia mulai memainkan lagu, semua orang terpaku padanya. Irama Alouette yang lembut membuat meeka terpikat. Tetapi aku sudah lebih dahulu menyingkir, karena sudah kudengar kaca piramida bergetar di atas kepalaku, meski belum seluruhnya. Baru bait ketiga, lagu itu sudah membuat retakan kecil terbuka dari kerucut piramida, memanjang ke bawah. Hanya sebagian orang yang menyadarinya, termasuk aku. Kemudian, lagu semakin meninggi dan kira-kira sepuluh orang sudah mengalami telinga berdarah saat itu. Beberapa juga terpuruk di lantai seperti ikan terkapar di daratan. Musik itu semakin meninggi hingga ear-receptor di telingaku ikut berdesing. Aku buru-buru melepas alat itu, lalu menggunakan tangan untuk menutupi telinga selagi meringkuk di dekat tembok. Tiba-tiba, mataku menangkap sosok anak kecil yang membawa figurin Spider-Man sedang melindungi telinganya di dekatku. Dia pasti juga tidak mengerti dengan apa yang bakalan terjadi.
Kemudian, klimaks lagu tercapai dan bersamaan dengan itu, seluruh kaca di piramida telah retak menjadi potongan-potongan kecil, sebelum serentak meledak dengan bunyi memekakkan, menghujani semua orang di bawah. Aku menyambar anak kecil itu, menyuruhnya menunduk selagi seluruh kaca kolaps, menimpa pengunjung di bawahnya. Tayuya sudah meloloskan diri dengan mulus, meninggalkan pengunjung yang berlarian ketakutan dan panik, namun terlambat sudah. Piramida sudah benar-benar rata dengan tanah. Peristiwa yang begitu mengerikan telah terjadi dan menimpa Paris saat itu. Sirine polisi berbunyi. Ambulans dipanggil. Teriakan penuh teror di mana-mana.
"Sasuke, ayo!" Tayuya memberiku isyarat untuk segera pergi, namun aku tetap tak bergerak. Mataku menangkap pemandangan horor saat tubuh-tubuh orang tak bersalah terhujani pecahan kaca, tertusuk, dan penuh darah. Tubuhku pun ikut merasakan sakitnya. Malam terbunuhnya ayah dan ibuku kembali dalam pikiranku.
"Spider-Man," kata si anak kecil lirih, mengembalikan kesadaranku. "Aku takut..."
Buru-buru aku berbalik menghadapnya.
"Aku bukan pahlawan," kataku, kemudian bersiap menyusul Tayuya. "Aku adalah penjahat. Kau tidak lihat apa yang kubawa? Aku harus segera pergi."
Tahu-tahu tanganku ditahan dari belakang. Anak itu menjejalkan figurinnya ke dalam tanganku, lalu memaksaku menggenggamnya.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku," katanya pelan. "Aku tak peduli kau pahlawan atau bukan, tapi dengan ini... kuharap kau akan mengerti."
Aku menatapnya heran, lalu kuanggukkan kepala padanya. Sirine polisi terus meraung. Aku dan Tayuya berlari menuju mobil Cadillac yang sudah menunggu kami di dekat bayang-bayang gedung. Kami memasukkan barang curian kami ke dalam bagasinya. Kusaksikan keributan di Louvre dengan wajah pias.
"Kalian sungguh payah! Terutama kau, Tayuya!"
Hyde memarahi kami habis-habisan saat kami sudah kembali ke markas.
"Kalau kalian sudah pernah merampok, tentu hal ini bukan sesuatu yang baru bagi kalian," katanya lagi. "Tayuya, kau tidak perlu mendramatisir keadaan seperti itu. Kalau tadi kau dan Sasuke bisa meloloskan diri lebih cepat, kalian takkan terjebak di lobby."
"Bukannya sudah kubilang, kami selalu tercegat!" protes Tayuya. "Kau akan merasakan hal yang sama sewaktu berada dalam posisi kami!"
"Ya, memang," kata Hyde. "Tapi, aku bisa memikirkan hal lain yang lebih cerdas. Sekarang kalian telah merusak ikon kebanggan Paris dan semua orang akan mengira sesi latihan kita adalah semacam teror!"
"Kurasa yang sukses di sini hanya aku, kan?" kata Sakon. "Aku nyaris tak menggunakan senjata kecuali saat petugas kepolisian menyeruak ke dalam."
"Pokoknya ini memalukan!" Hyde kembali mengomel. "Tindakan bodoh! Minggu depan adalah waktu yang ditentukan. Kalau kalian masih melakukan kesalahan begini, kalian takkan bisa menjadi profesional—dan mana bisa kalian menghadapi Organisasi?"
"Itu kesalahan yang fatal, memang..."
Joseph dan ularnya, Manda, telah tiba di aula. Tak ada yang berani bicara, bahkan Hyde sekalipun.
"Kesalahan kalian fatal, tetapi juga sepele," kata Joseph. "Aku tak mau mengulang apa yang dikatakan Hyde, tapi bagaimanapun juga, kalian harus siap. Senjata-senjata yang kurakit sudah siap. Besok Senin, aku ingin kalian mempersiapkan diri. Aku tak mau dengar ada kata menyerah diantara kalian. Kalian berempat yang sudah berpengalaman, sudah waktunya kalian meninggalkan ego pribadi dan mulai bekerjasama. Ini juga berlaku untukmu, Sasuke."
Aku mengangguk.
"Jadi, aku ingin kalian semua istirahat yang cukup malam ini," kata Joseph lagi. "Kalian sudah cukup membuat berita dan menggegerkan Paris. Kita hanya bisa berharap semoga divisi Paris tidak bisa melacak kasus ini."
"Mereka sudah tahu," Kidomaru angkat bicara. "Kepolisian bekerjasama dengan mereka, kan? Maka dari itu, mereka jelas sudah tahu."
"Jadi, kita harus segera pergi dari sini secepatnya," sambung Hyde. "Tuan, kita mesti berkemas malam ini. Akan kukabari informan kita untuk mengamankan keadaan..."
"Tidak, Hyde," kata Joseph. "Aku akan menunggu sampai besok. Mereka keletihan. Terutama anggota termuda kita. Ia belum pulih dari shock, jadi ada baiknya kita biarkan mereka beristirahat malam ini."
"Ah, Anda baik sekali," kata Kidomaru seraya menguap lebar-lebar.
"Tapi ingat, kalian semua," Joseph menyela, "bahwa besok kalian harus benar-benar siap. Jadi malam ini, sebelum tidur, kalian siapkan bawaan kalian, terutama senjata. Besok pagi kita akan pergi dari Paris menuju lokasi yang berbeda. Kalian akan mengetahuinya saat bangun besok. Dipersilakan bubar."
Ketika berjalan menuju kamar, aku menyentuh Spider-Man pemberian anak di museum dalam diam. Kugantungkan jaket dan kukeluarkan figurin itu. Bentuknya sangat jelek—mungkin figurin murahan. Tapi kata-kata anak itu masih terngiang di kepalaku, entah bagaimana membuatku bimbang.
"...kuharap kau akan mengerti."
Wajah-wajah orangtuaku, Colin, kemudian berganti jadi wajah teman-teman sekolah menghantui pikiranku malam itu. Wajah sengak Robbie, lalu ada Chloe, Bree, Mr Grace... kemudian yang terakhir wajah Joseph sendiri.
"Kau ingin maju atau mundur?"
Kata-katanya sangat kontradiktif setelah aku mendengar perkataan anak laki-laki di museum itu. Spider-Man yang ia berikan padaku adalah simbol rasa terima kasihnya. Bagaimana mungkin? Dia tahu aku penjahat yang mencuri pedang, kan?
Pedang itu kini tergeletak di ujung kamarku, di dalam taplak yang membungkusnya. Aku memandangnya dengan mata setengah terpejam. Aku sudah merampok museum... itulah yang kulakukan. Lalu, setelah ini, aku akan pergi ke mana?
Paginya, aku bangun sambil merogoh-rogoh benda asing di bawah bantalku. Ternyata, benda itu sepucuk surat beramplop putih. Aku membaca surat itu.
"Selamat pagi, Sasuke. Aku harap kau menikmati tidurmu. Aku dan Hyde menunggumu di aula, sekarang juga. Bawa benda bersejarah itu."
Rupanya bukan hanya aku, tapi empat sekawan itu juga datang bersamaan, membawa koper dan senjata masing-masing. Hyde berdiri di samping Joseph, mengenakan jas biru toska. Joseph sendiri juga mengenakan jas. Mereka tampak sangat rapi, kontras dengan penampilanku atau empat sekawan itu. Joseph menyuruh ular-ularnya memberi kami masing-masing sebutir permen.
"Kalian makan itu, dan kalian akan tahan lapar selama perjalanan nanti," katanya. "Ayo, kalian harus masukkan barang ke mobil sekarang."
"Ke mana kita pergi?" tanya Tayuya.
"Jangan banyak cincong!" kata Hyde tegas. "Lakukan sekarang!"
Kami menurut. Permen itu lagi-lagi membakar tenggorokan keringku. Tapi efeknya cepat sekali, seperti sebelumnya. Aku baru hendak memasukkan barang ke bagasi saat tergoda untuk memeriksa keadaan pedang itu. Pelan-pelan, agar tidak ketahuan yang lain, aku membuka sarungnya. Pedang itu berkilau sadistik dalam genggamanku. Entah mengapa, saat dipegang dengan benar, bobotnya terasa lebih ringan. Aku mengayunkan pedang itu di udara, menikmati desiran angin pagi yang menusuk selama bilahnya menari. Seolah-olah aku ditakdirkan memegangnya.
"Pedang yang luar biasa," celetuk Joseph yang tahu-tahu sudah berdiri di undak-undakan. Koper-kopernya terjejer di bawah kaki.
"Sudah terlalu tua," kataku, menyarungkan pedang itu kembali.
"Apakah kau tidak tahu apapun tentang pedang itu sama sekali?" tanya Joseph. Aku menggeleng. Joseph turun dari undak-undakan sambil bercerita.
"Dahulu, Organisasi mengadakan kerjasama dengan Prancis untuk pertama kalinya," katanya. "Sebagai hadiahnya, Prancis memberikan hadiah pedang ini untuk direktur Organisasi. Namun kemudian, penyerangan Akatsuki di Jepang membuat pedang ini tak aman, jadi pedang itu pun dikembalikan ke Prancis. Sampai tahun lalu, pemerintah melindunginya dengan ketat, namun kemudian diputuskan bahwa tidak selamanya mereka bisa melindungi artefak Organisasi. Mereka lalu memasukkannya ke dalam museum."
"Tapi, pedang ini sepertinya memang didesain untuk digunakan ketimbang disimpan dalam museum," kataku.
"Nah, kalau begitu apa yang kau tunggu?" Joseph mengangkat bahu. "Bukankah sudah jelas? Pedang ini memilihmu. Kau boleh menggunakannya kalau kau mau."
"Tapi, tidak mungkin," ujarku. "Pedang ini sudah terlalu tua. Perlu penempaan ulang agar bisa digunakan."
"Kalau begitu, pilihanku atas lokasi operasionalmu benar," kata Joseph. "Kau bisa menempanya di sana begitu tiba besok."
Aku melebarkan mata. "Di mana?"
"Pedang ini sudah terlalu lama di Prancis, bukan?" Joseph terkekeh. "Sudah waktunya kau menunjukkan padanya tempat yang layak untuk dia berkembang."
Aku langsung paham.
TO BE CONTINUED
Vocabulary:
Vous comprennez? = kalian mengerti?
Oui = ya
Je comprends = saya mengerti
Merci beaucoup = terima kasih banyak
De rien = tak masalah
