Iwagakure, 9 Januari
"Kami pulang…"
Oonoki menganggukkan kepala. Bocah yang dilatihnya dulu dan selalu marah jika dipanggi Calon Uzukage kini berdiri superior di depannya sambil membawa gelar itu di pundaknya. Uzumaki Naruto telah menunjukkan eksistensi luar biasanya sebagai Uzukage, di kekuatan maupun di pikiran. Oonoki tidak terlalu khawatir soal Ramalan Rikudou Sennin atau perjanjian brengsek 5 desa besar yang dikepalai Danzo. Oonoki hanya berpikir, bagaimana membalas kebaikan besar muridnya tersebut.
"Calon Kaa-san, Calon Kaa-san. Calon Kaa-san akan ke sini lagi kan?" Kurotsuchi berlari mendekati Shion dan memegang lengan Sang Ratu dengan wajah cemas. Itu membuatnya terlihat imut. Shion mengelus pelan pucuk kepala Kurotsuchi dengan wajah datar. Semua rombongan yang saat itu ingin berjalan meninggalkan Iwa berhenti dan memandang kejadian tersebut. Naruto tersenyum memandang Kurotsuchi dan istrinya bergantian.
"Ya, tentu saja." Perlahan-lahan wajah boneka non-ekspresif itu tersenyum. Sebuah senyuman yang bahkan Naruto jarang lihat "Kita pasti bertemu lagi sayang…"
Shion memeluk Kurotsuchi dengan erat. Akatsuchi menangis sesenggukan dengan pie apel di mulutnya. Sang ayah hanya meng-geplak kepala anaknya karena makan di situasi yang tidak tepat. Kitsuchi menegakkan kepalanya dan memandang Naruto dengan ucapan terima kasih. Naruto menganggukkan kepala tanda mengerti maksud tatapan Kitsuchi.
Pagi itu, semua rombongan meninggalkan Iwa yang secara resmi bersama Suna menjadi aliansi Uzushiogakure.
Naruto melirik sekilas ke belakang, ke arah Oonoki, Kitsuchi dan kedua anaknya yang melambaikan tangan tanda perpisahan. Di atas gerbang terbang seekor burung tanah liat dengan Deidara di atasnya. Yondaime Uzukage menutup matanya, lalu membuka kelopak matanya dengan iris menatap datar ke depan.
'Bibit keempat berhasil ditanam, tinggal memanennya di Konoha…'
Saat memikirkan Konoha, iris biru itu terlihat menakutkan.
The Uzukage
Story By Doni Ren, Main Idea By Icha Ren
Naruto By Masashi Kishimoto
The Uzukage Project
Storyline Part 2, The Rise of Uzushiogakure
The Last Arc-Konoha Arc!
Warning: OOC, Out of Canon, Imagination, Some Hard Languange and 18+ Languange, A Little Bit 18+ Scene (No Sex Scene), A Little Bit Gore and H-Author
Genre: Adventure-Romance-Drama
Pair: NaruShion
Have Fun!
.
.
.
The Rise of Uzushiogakure
Chapter 48
Rombongan itu berhenti di kedai makan yang terdapat di Desa Padi. Saat itu waktu sudah mencapai tengah hari. Karena beberapa anggota rombongan memiliki cidera yang belum sembuh, perjalanan tidak dipaksakan untuk sampai cepat ke Kumo. Yang terpenting adalah keselamatan dan kesehatan anggota rombongan yang masih terluka. Contohnya adalah lengan A yang patah maupun tangan kanan Sara yang buntung dan dibalut kain putih. Saat perjalanan, Naruto beberapa kali menggendong adiknya di punggung walaupun sang adik terus menolaknya sehingga sedikit terjadi kisruh antara dua saudara tersebut. keberanian Sara melawan Sandaime Kazekage dibayar mahal dengan tangan kanannya. Dia benar-benar adik Yondaime Uzukage.
Naruto yang sedang melahap potongan puding terakhirnya memandang Konan di pojokkan kursi. Wajah ketua Divisi Intel Uzu itu terlihat sedih. Sang Uzukage berdiri lalu berjalan mendekati sahabatnya tersebut. Nagato yang sedang berbicara dengan A memandang Naruto dengan pandangan ingin tahu. Dia mengerti, Naruto pasti ingin menghibur Ketua Divisi Intel Uzu tersebut.
"Gomen," Naruto langsung minta maaf saat duduk di sisi kanan Konan "Aku tidak bisa menyelamatkan Yahiko. Bahkan operasi penyelamatan istriku membuat Yahiko-"
"Jangan mengatakan hal tersebut, Yondaime Uzukage-sama…"
Naruto terdiam. Dia memandang lurus ke depan. Konan yang sedang memutar-mutar pipet di gelas minumannya kembali melanjutkan ucapannya,
"Yahiko mati sebagai Shinobi Uzu sejati, begitulah yang ia dan aku yakini…" Konan terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya pelan "Tidak. Lebih tepatnya begitulah yang semua Uzumaki yakini…" Konan menekan ujung atas pipetnya perlahan "…Tidak perlu minta maaf."
Naruto tidak menjawab selama beberapa detik, kemudian sang Uzukage menoleh ke arah sahabatnya dan dia tahu pemandangan yang akan dilihat retina matanya. Konan memainkan pipetnya dengan pelupuk mata yang digenangi air bening tersebut. Naruto tahu perasaan saat ditinggal orang yang dicintai, apalagi seorang wanita. Sang Uzukage tahu beberapa bilah kata yang musti ia ucapkan untuk menyemangati sahabat bersurai birunya tersebut.
"Keluarkanlah, Konan. Tidak apa-apa kau menangis di hadapan sahabat bodohmu yang bergelar Uzukage ini, tetapi harus kau yakini satu hal…" Naruto memandang lurus ke depan, dengan tatapan biru yang sedikit bersinar "Yahiko selalu di hati kita sebagai sahabat dan Komandan terbaik Uzushiogakure…"
Konan menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih dengan nada sesenggukkan "A-arigatou, Yondaime Uzukage-"
"Jangan panggil aku dengan kata itu," Naruto menyodorkan sebuah puding baru yang diberikan Shion dari seberang meja "Panggil Naruto saja, Konan. Walaupun untuk satu hari ini…"
Konan menerima puding itu dengan air mata yang telah mengalir di pipinya. Dia tersenyum lemah kepada Naruto yang membalas senyumannya dengan sunggingan semangat. Dia tahu sosok mata biru di depannya pasti merasakan sakit yang sama dengan sakit yang ia rasakan sekarang. Yahiko adalah sahabat Naruto dari kecil, bahkan Naruto-lah yang pertama kali mengajak Yahiko kecil untuk bermain bersama mereka. Konan tahu, di balik senyuman semangat Naruto, ada perih hati yang sangat dalam bagi Uzukage untuk mengeluarkannya. Naruto tidak mengeluarkannya karena dia adalah seorang pemimpin, yang di mana dituntut untuk tidak menunjukkan kelemahannya dan harus menguatkan teman-temannya ketika mereka sedang dalam keadaan lemah.
"Ya." Kata Konan lalu menyendok pudingnya perlahan.
.
.
.
Perjalanan dilanjutkan. Mereka sudah hampir mencapai perbatasan antara Negara Tanah dan Negara Petir saat matahari sudah hampir terbenam. A yang melihat sebuah penginapan dengan pemandian air panas tiba-tiba mendapatkan ide, sekaligus membuat suasana di rombongan menjadi menyenangkan. Jujur saja, dia tidak suka aura kesedihan yang dirasakannya di rombongan ini. Bagi A, prinsip suatu Shinobi adalah merelakan apa yang memang sudah ditakdirkan. Begitulah para Ninja, kematian akan terus membayangi mereka saat bertarung atau berperang. A akan membuat semua orang di rombongan tersebut menjadi sedikit 'cerah', bahkan untuk ayahnya yang selalu tidak sabaran untuk kembali ke Kumo tanpa memikirkan anggota rombongan lain yang tidak sesangar dia.
"Bagaimana kalau kita malam ini menginap di penginapan?" A menunjuk penginapan yang berada 20 meter di sisi kanan rombongan dengan tangan kirinya "Aku rasa pemandian air panas cukup bagus untuk memperkuat stamina kita…"
Semua yang di sana memandang arah tunjukkan A dan terlihat berpikir. Tiba-tiba Nagato berjalan di samping A dan menepuk bahu kekar tersebut.
"Aku setuju," kata Nagato dengan wajah yang mencurigakan bagi Naruto "Kita harus menyelam di air bersuhu panas demi kelancaran otot-otot kita, bagaimana kawan-kawan?"
Semuanya setuju, walaupun Raikage ketiga ingin protes karena itu hanya memperlama perjalanan mereka. Raikage pun ditinggal sendiri bersama Naruto saat semua rombongan berjalan ke penginapan tersebut dengan wajah semangat.
"Dasar para anak muda…mereka tidak mengerti arti waktu dan kondisi."
Naruto tersenyum lalu melirik ke arah gurunya tersebut "Ayo Raikage-sama, sekali-kali kau harus menuruti saran anak muda."
Raikage menghela napasnya dan masuk ke penginapan bersama Naruto di sampingnya.
.
.
.
Menurut kalian, Haku itu berkelamin apa?
"Baiklah, pertanyaan itu akan dijawab di tempat ini!" Utakata menanggalkan kimononya perlahan dengan wajah menggebu-gebu. Naruto memandang datar pengawalnya tersebut, bahkan agak geli dengan cara Utakata melepas kimono birunya dari bahu yang diturunkan ke bawah. A yang mendengarkan percakapan tersebut menoleh ke arah Utakata dan memandang ingin tahu.
"Maksudmu si laki-laki berwajah ayu itu?"
"Ya ya ya!" Utakata mengepalkan tangan kirinya sangat kuat. Tangan kanannya melepas ikat kimononya dengan lemah gemulai.
"Uoooh, itu ide bagus Utakata-san, mungkin kita memasuki…"
Utakata dan A saling berangkulan.
"CERITA PEMANDIAN AIR PANAS! HAHAHAHAHAHA!"
A dengan mata berapi menunjuk tembok bambu yang berada di kolam air panas tersebut. Di sana sudah berendam Raikage ketiga dan Killer Bee yang nge-rap di bawah ketek Raikage dengan kepala tercelup-tersembul di air panas tersebut. Di samping mereka ada Shibuki yang sedang tidur.
"BAIKLAH!" A mendengus pelan, sangat keluar dari karakternya "KITA AKAN MENUNJUKKAN KEPADA SEMUA PRIA DI SINI APA ARTI PETIR SEBENARNYA! PETIR SURGA HAHAHAHAHAHA!"
Utakata ikutan tertawa, sementara Naruto yang sedang memasang handuk kecil di pinggangnya hanya memandang sweatdrop.
'Aku tak mengerti, di mana bagian lucu dari lawakan garing itu…' Naruto menyiram kepalanya dengan air dingin kemudian mengibaskan rambut merahnya yang berstyle jabrik. Saat dia ingin mencelupkan seluruh tubuhnya ke kolam air panas agar merasakan sensasi nyaman tersebut, Utakata menepuk bahu sang Uzukage dan berbisik dengan tajam.
Masalahnya bukan suara tajam Utakata, tapi ketajaman kata dari bisikan tersebut.
"Kau kan belum pernah melihat Full-Body dari Shion-sama, Naruto-san…ini-lah kesempatanmu melihat bagian dari P-P-P istrimu!"
"APA ITU P-P-P! P-KUN KAH?! KAU BILANG ISTRIKU PUNYA P-KUN?!" teriak Naruto kesal. Utakata membuat gerakan diam dengan jari telunjuknya.
"Jangan keras-keras Uzukage baka, P-P-P itu bukan P-jiji, tapi…" Utakata berubah mode serius, matanya menajam dengan cahaya merah bak iblis "Jelaskan, A-san khekhekhe…"
"P itu Payu****, P satunya Pan***, dan P terakhir…itu ano, ukuran…emm…"
"P***" kata Raikage ketiga dengan suara geraman pelan. Semua melongo memandang pemimpin ketiga Kumo tersebut.
"Tou-san, kau…." A tercengang. Utakata menunjuk wajah Raikage dengan jari telunjuk bergetar.
"Ra-Raikage-sama, an-anda…"
Naruto menaikkan alisnya kebingungan. Mereka ingin mengatakan Raikage ketiga mesum kah?
"ANDA DEWA!" teriak A dan Utakata sembah sujud, yang langsung di-geplak Raikage pakai 4 jari nerakanya.
Setelah semua keributan itu, semuanya masuk ke dalam kolam air panas dengan handuk putih di kepala mereka. Naruto bersandar di tepi kolam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya terlihat berpikir. Tunggu dulu, tidak mungkin sang Uzukage terpengaruh bisikan setan nan bejat Utakata. Naruto meringis pelan membayangkan Shion, ehem, telanjang di depannya. Dengan dipenuhi kabut asap air panas, dia membayangkan Shion membelakanginya sambil berkata…
"Onii-chan~, main sini yok…"
'Kuso! Kenapa aku membayangkan hubungan Incest Loli-sialan! Aku tahu Shion memiliki tubuh yang cukup kurus, tetapi menurutku dadanya…dadanya…' Naruto menggelengkan kepalanya sangat kuat sehingga handuknya sedikit berantakan. Mata Naruto membulat. Dia merasakan mendengar suara opera kematian di telinganya.
'SESUATU BERDIRI DI BAWAH!'
Sementara Utakata berbisik di telinga A dengan senyuman licik "Lihat A-san, bahkan Uzukage hebat dan penuh ketenangan seperti dirinya tidak tahan akan godaan khas pemandian air panas, kukukuku…bagian ini memang bagian favoritku."
"Aku juga." Kata A cool. Tidak sadar akan wajah beringasnya.
"Yo ngomong-ngomong yo, Nagato-san dan Haku-san lama amat ke sini yo!" Bee memunculkan wajahnya di depan Naruto. Naruto hampir melompat terkejut karena bocah dengan kacamata hitam itu tiba-tiba muncul di hadapannya, apalagi…
"AWAS KENA SESUATUKU SIALAAAAN!" kata Uzukage dengan tidak elitnya. Naruto pun bergerak mendekati Raikage yang bersandar di tepian kolam dengan wajah tenang dan mata tertutup. Sementara Shibuki dengan hebatnya tertidur di kolam air panas tersebut, bahkan disertai dengkuran yang cukup kuat.
"Iya ya, mereka kok lama amat…" Utakata menggaruk belakang kepalanya kebingungan. A memandang datar ke depan. Dia segera melompat dari kolam dan memasang handuk di pinggangnya dengan cepat.
"Aku akan menyusul ke kolam wani-" A terdiam sejenak "Maksudku mereka…"
"Hee?" Utakata menautkan alisnya kebingungan. A membuka pintu geser tersebut dan menutupnya dengan cepat.
Di luar kamar ganti, Nagato yang baru selesai menghabiskan satu kaleng kopi dinginnya melihat Haku berdiri kaku di depan kamar ganti yang nantinya langsung terhubung ke kolam. Nagato segera menghampiri pengawal pribadi sahabatnya tersebut.
"Haku-san ada apa? Kau tidak masuk? Hehe, maaf…aku tadi mencari minuman untuk menyegarkan tenggorokan, are?" Nagato semakin bingung dengan ekspresi kaku Haku. Pengawal Yondaime Uzukage itu terlihat memandang shock ke atas. Nagato mengikuti arah pandangan Haku dan membaca tiga plang di depannya.
"Wanita" tentu saja itu kamar ganti wanita.
"Pria" tidak perlu ia jelaskan.
"Haku" ya itu juga-
"…"
"…"
Nagato menepuk bahu Haku lalu masuk ke dalam kamar ganti pria dengan wajah datar. Haku menoleh ke arah Nagato dengan wajah shock.
"K-KAU JUGA MENGAKUINYA NAGATO-SAAAAAN?!"
Dunia memang penuh misteri…
~TU~
"Jadi itu Haku si Pembunuh Berdarah Dingin dari Kiri?"
Dua orang yang mengintip dari meja resepsionis penginapan memandang tajam Haku yang sedang memegang dagunya karena kebingungan dengan plang "Haku" tersebut. Yang bertanya adalah seorang nenek tua berambut putih kelabu dan memiliki iris mata berwarna jingga. Di sebelahnya adalah anaknya, seorang pemuda berusia 20-an yang memiliki rambut coklat panjang sepunggung dengan poni zig-zag datar. Dia memiliki mata berwarna sama dengan ibunya. Anak itu menganggukkan kepala.
"Ya Kaa-san, dia adalah Ninja yang hampir membunuhku waktu itu…aku kenal dengan topeng yang diikat di pinggangnya." pemuda itu mengepalkan tangan kanannya sangat kuat "Jebakan Kamar Mandi kita berhasil, saat dia masuk ke sana…" anak itu menyeringai sadis,
"Maka dia akan terbunuh oleh serangan-serangan hebatku khukhukhu…" JRENGG! Suara musik menyeramkan menjadi pengiring rencana tersebut. Sang ibu menepuk bangga anaknya. Tentu saja membunuh seorang Shinobi hebat seperti Haku adalah suatu prestasi yang luar biasa.
"Kerja bagus Hoshimaru, Kaa-san bangga kepadamu," Kaa-san Hoshimaru tertawa sok sadis "Khukhukhu, kita akan lihat apakah rencanamu berhasil-eh, ada seorang pria yang masuk ke dalam kamar ganti wanita!" Ibu Hoshimaru melompat dari meja resepsionisnya dan mengejar pria tersebut. Hoshimaru menaikkan alisnya kebingungan.
"DASAR PENGINTIP, KAU AKAN KUMASUKKAN KE JEBAKAN ANAKKU!" teriak Ibu Hoshimaru dengan mata berbentuk bintang dipenuhi api kemarahan. A yang mengendap-endap untuk mengintip lewat pintu ruang pemandian wanita (plus wajah mesum yang sangar) langsung dijewer Ibu Hoshimaru dan dibawa ke kamar ganti ber-plang "Haku."
"Eh, A-san? Kenapa kau-"
"AWAAAS! PENGINTIP INI PERLU DIBERI PELAJARAAAN!" Ibu Hoshimaru membuka pintu geser kamar ganti ber-plang "Haku" dan melemparkan A ke dalam sana. Dia menutup pintu tersebut dengan keras lalu berjalan kembali ke meja resepsionis dipenuhi guratan gusar. Napasnya terengah-engah seperti banteng mengamuk. Haku memandang kebingungan Ibu pemilik Penginapannya tersebut.
"Ka-Kaa-san, ingat kamar ganti itu untuk siapa…" kata Hoshimaru dengan nada suram. Tanda seru muncul di kepala Ibu Hoshimaru, dia menoleh ke arah kamar ganti tersebut dengan wajah tersadar akan sesuatu.
CRANG! PRANG! TRANG! BOOM! DUARHHH! "APA INI, LARIAAAAAT!"
DHUARHHHH!
Haku menegak ludahnya. Tempat kamar gantinya tampak berbahaya.
'Aku ke tempat kamar ganti pria saja…' batin sang Last Hyouton sambil melirik seram ke arah pintu kamar ganti yang mengeluarkan asap berbau mesiu. Hoshimaru dan Ibunya bergidik ketika A membuka pintu kamar ganti itu perlahan-lahan, disertai suara krieeet yang mengerikan.
Di kolam air panas bagian wanita.
"Su-suara apa itu?" tanya Yugito dengan wajah kebingungan di dalam kolam. Konan memandang kebingungan ke arah kamar sebelahnya. Dia menoleh ke arah Ratu Negeri Iblis untuk meminta pendapat.
"Shion-sama, anda tahu suara apa-" mata Konan membulat terkejut. Shion menekan telapak tangan kanannya di tepi kolam dengan tangan kiri yang menutupi dadanya. Ada aura suram di sana.
'Dadaku paling kecil…dadaku paling kecil dari dua wanita itu…'
"SHION-SAMA?!" teriak Yugito dan Konan khawatir dengan aura suram tersebut.
.
.
.
Setelah selesai menyegarkan tubuh di pemandian air panas, semuanya duduk di meja makan untuk menyantap makanan yang disediakan. Konan sendiri sedang di kamarnya ditemani Yugito yang sedang membalut luka pada bahunya menggunakan kain perban baru. Di kamar lainnya Shion sedang menyuap Sara yang beristirahat. Di meja makan duduk Haku, Utakata, A, Sandaime Raikage, Killer Bee dan Nagato yang baru saja mengganti perban luka di kaki dan perutnya. Naruto sendiri sedang berdiri di teras penginapan bersama Shibuki. Keduanya nampak memandang bulan yang terlihat indah malam itu. Bunga musim semi yang bermekaran bergerak pelan ditiup angin.
"Apa tindakanmu sekarang kepada Konoha, Uzukage-sama?" Shibuki menggosok dagunya perlahan "Kau akan menyerangnya langsung? Maksudku apa ada alasan berlebihan untuk menyerang Konoha saat ini?"
Naruto melihat seekor tupai yang melompat di antara cabang pohon. Dia tersenyum simpul.
"Tidak ada alasan, aku tidak mengatakannya dendam. Tapi…"
Shibuki melirik ke arah pemimpin keempat Uzu itu,
"Bagiku Konoha di tangan Danzo akan menjadi sesuatu yang buruk."
"Kau benar," Shibuki menggosok dagunya semakin cepat "Aku penasaran apa yang akan dilakukan Danzo ketika 4 desa besar lainnya berbalik menyerang desanya? Tapi kita musti waspada, di Konoha banyak Shinobi-Shinobi terkuat yang sangat berperan penting dalam Perang Dunia Shinobi terdahulu…jika mereka memihak kepada Danzo,"
"Aku akan membunuh Danzo lebih dahulu sehingga tidak ada yang memihak orang itu…"
Shibuki agak terkejut dengan nada menggeram Naruto. Saat dia ingin mengatakan sesuatu, Nagato memanggil nama mereka bahwa makanan sudah disiapkan.
Makan malam itu berakhir dengan Utakata yang terus berlarian ke kamar mandi karena perutnya terasa tak nyaman. Tanpa sepengetahuan Utakata, makanan Haku yang dicurinya saat Sang Last Hyouton pergi ke kamar mandi sudah dimasukkan obat pencuci perut oleh Hoshimaru dan Ibunya. Alhasilnya, Utakata-lah yang terkena efek obat tersebut.
"Apa yang dimakan si peniup gelembung itu?!" tanya Haku dengan wajah kebingungan. Sementara Hoshimaru dan Ibunya hanya berdiri suram di meja resepsionis karena rencana mereka gagal lagi.
Waktu tidur sudah menyambangi mereka, semuanya sudah kembali ke kamar dan futon masing-masing. Bulan saat itu dilewati beberapa awan yang juga acapkali menutupi sinar berwarna perak tersebut. Yondaime Uzukage duduk bersila di samping futon adiknya yang sudah terlelap. Dia baru saja menceritakan Legenda Kaguya Sang Dewi Kelinci kepada adiknya yang memang menyukai cerita tersebut. Naruto mengelus pelan kepala merah itu lalu berdiri tegak dengan tangan perlahan-lahan mengepal erat. Dia memandang Shion yang tidur di samping Futon sang adik. Naruto tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan kamar tersebut.
Sementara itu Hoshimaru beserta Ibunya masih merencanakan pembunuhan kepada Haku dengan cara memberikan racun seperti obat bakar di kamar yang ditempati Haku bersama Utakata. Saat Hoshimaru membuka pintu geser kamar, dua pengawal Yondaime Uzukage sudah tidak ada di sana.
"Are? Ke mana mereka Kaa-san?" tanya Hoshimaru kebingungan. Ibunya juga menggeleng tak mengerti. Dasar anak-anak muda, ini adalah waktunya tidur!
.
.
.
Saat melihat lebih jauh penginapan tersebut, di sana akan terlihat sebuah tebing bukit yang menjulang di belakang penginapan. Sumber air panas berasal dari kaki bukit ini. Di ujung tebing, duduk sang Uzukage dengan kaki kanan bergelantungan ke bawah dan kaki kiri tertekuk. Tangan kanannya bertumpu di tanah sedangkan tangan kirinya berada di atas lutut kaki kiri. Di ujung tangan kiri Yondaime Uzukage tergenggam sebuah rumput yang diputar perlahan-lahan. Naruto memakai pakaian barunya. Sebuah jaket berwarna hitam dengan lengan panjang dan ada lambang Uzumaki berwarna merah di belakangnya. Jaket tersebut memiliki dua kantong di bagian sisi kanan-kiri perut dan dua kantong berkancing di dada kanan serta dada kiri. Naruto membiarkan jaket hitamnya terbuka, memperlihatkan kaos abu-abunya dengan model neck berbentuk V. di leher sang Uzukage tergantung kalung yang bermata lonceng istrinya. Lonceng Shion dibungkus kain berwarna emas agar tidak berbunyi saat dirinya bergerak. Naruto juga memakai sarung tangan dengan ujung jari terbuka di tangan kiri. Tangan kanannya yang dililiti perban tidak perlu ia pasangi sarung tangan. Di bagian bawah kedua lengannya terikat dua gulungan ninja berisi dua pisau lipat Shodaime Uzukage. Naruto memakai celana hitam shinobi dengan lilitan perban putih di pergelangan kakinya. Di paha kirinya terikat kantong shuriken-kunai sedangkan di paha kanannya terdapat kantong berwarna coklat gelap berisi dua scroll ninja yang menyimpan senjata Nidaime dan Sandaime Uzukage. Jangan lupa sepatu berwarna hitam standar Shinobi yang terlihat pas di kaki sang Uzukage.
"Ada apa memanggil kami, Naruto-sama?" tanya Haku dengan sopan. Utakata menahan napasnya. Aura Yondaime Uzukage begitu kental dan kelam malam ini, sangat harmonis dengan rembulan perak di atas kepala mereka. Kedua pengawal Yondaime Uzukage tersebut memakai kimono tidur mereka.
"Ada sesuatu yang harus kubicarakan kepada kalian, agar kalian tidak terkejut…" Naruto tetap memandang datar ke depan. Rambut merah jabriknya dihembus pelan angin malam.
Haku dan Utakata terdiam. Ketika suara Naruto berubah sedikit dingin dan tanpa emosi, mereka tahu bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang direncanakan sang Uzukage dengan sangat matang.
"Sesuatu yang kalian dengar malam ini adalah sesuatu yang akan kita lakukan setelah aku…" Naruto terdiam sejenak "…menghancurkan Konoha." Mata Haku dan Utakata sedikit bergetar mendengarnya. Nada Naruto sedikit menggeram ketika mengatakan dua kata terakhir.
"Ketika bibit sudah tumbuh dan hasilnya dipanen, maka ketika panenan selesai maka akan tersisa batang-batang tumbuhan yang tak berguna…" Naruto memandang rembulan. Safirnya memantulkan bulan tersebut bagai cermin berkaca biru "Haku, Utakata…ketika kalian mendengar hal ini, maka kalian berdua adalah orang yang paling aku percayai, dengarkan ini baik-baik…"
Haku dan Utakata menganggukkan kepala. Mereka mendengarkan apa yang diucapkan Naruto tiap bait kata dan terkejut saat tiap bait itu dipaparkan dengan jelas. Hembusan angin malam membuat suara Naruto tak terdengar di kejauhan, tetapi bagi Utakata dan Haku, Yondaime Uzukage sudah mengungkapkan sedikit hal mengenai dirinya.
Swinng! Naruto muncul dengan cahaya indah di belakang Hoshimaru dan Ibunya yang menguping pembicaraan sang Uzukage bersama dua pengawalnya. Naruto menepuk tengkuk mereka cukup kuat hingga keduaya pingsan. Naruto menggerakkan segel dan meletakkan kedua telapak tangannya di kepala kedua orang tersebut.
"Fuinjutsu: Bainda Kokoro!" Fuinjutsu ini adalah sebuah Jutsu segel yang mengikat memori seseorang. Memori yang tersegel adalah memori yang dipilih oleh si penyegel. Naruto menajamkan matanya saat menemukan memori tersebut, memori yang berisi pembicaraannya bersama Haku dan Utakata tentang rencana mereka. Bisa disimpulkan apa yang didengar Hoshimaru dan Ibunya serta apa yang dibicarakan Yondaime Uzukage kepada dua pengawalnya adalah hal besar, bahkan dua orang pemilik penginapan biasa tidak boleh mengetahuinya.
Naruto berdiri tegak dengan jaket hitam lengan panjangnya yang berkibar pelan akibat tidak ditutup, memperlihatkan kaos abu-abu berleher V-nya, dengan lambaian kalung berisi lonceng istrinya. Haku dan Utakata mengerti satu hal tentang Uzukage mereka,
'Dia sangat tak tertebak…' batin keduanya saat Naruto mengibaskan poni merah jabriknya dengan anggun ketika angin sepoi-sepoi menggerak lembut surai merah tersebut.
"Aku bukan kegelapan, aku bukan cahaya. Aku bukanlah seorang pendendam…"
Awan malam bergerak menutupi cahaya perak bulan, membuat suasana di sana menjadi sedikit lebih gelap. Naruto mengucapkan tiap kalimat dari mulutnya dengan nada tanpa emosi.
"Dan aku bukan seorang pemaaf," terlihat mata kanan sang Uzukage yang beriris biru berubah sekilas menjadi iris merah dengan pupil salib terbalik.
"Aku adalah Uzukage!"
.
.
.
Unknown Place, 9 Januari
"ITACHI!"
Uchiha Itachi memberikan sebuah ranjang kecil berisi seorang bayi kepada wanita paruh baya berbadan besar di perbatasan Hi no Kuni. Napas anak sulung Fugaku itu terlihat terengah-engah. Wanita gemuk itu menerima ranjang tersebut dengan wajah shock, apalagi melihat bekas- bekas darah di pakaian Anbu Itachi.
"Aku titip Sasuke kepada anda, Ayumi-Baa…" Itachi menoleh ke arah tiga Shinobi Konoha yang berada di belakangnya. Ketiganya mengangguk, tanda bahwa mereka harus melanjutkan perjalanan. Belum sempat Ayumi-Baa menanyakan perihal yang terjadi, Itachi dan ketiga Ninja Konoha tersebut berlari meninggalkan rumah itu.
"Apa yang terjadi dengan Konoha?" katanya bergumam sendiri sambil memandang Uchiha Sasuke yang sedang tertidur dengan wajah tenang.
'Kaa-san, Tou-san…semua Uchiha…' Itachi meringis pelan. Di mata kanannya tergenang air mata kesedihan 'Sasuke…Nii-san pasti kembali!'
Syaat! Syaat! Syaat! Empat Ninja Konoha itu bergerak cepat memasuki Hutan Negara Petir, tujuan mereka tentu saja Kumogakure di mana Yondaime Uzukage bermarkas di sana.
Konohagakure, 9 Januari
"Perlawananmu sudah selesai, Hiashi…"
Hyuuga Hiashi terbatuk-batuk dalam posisi tertelungkup. Dia tidak menyangka Danzo punya seorang Anbu Ne yang sangat kuat. Dia memandang semua anggota klan-nya, semua mata Byakugan itu sudah terkena cahaya Koto Amatsukami skala besar dari sinar raksasa Mira no Kami. Semua anggota Klan Hyuuga sudah dikuasai oleh Danzo untuk menjadi klan-klan yang mendukung dirinya. Hiashi mendecih pelan, hanya dirinya yang mampu melawan Hokage berpikiran kelam tersebut.
"Bunuh atau berikan dia Koto Amatsukami, Danzo-sama?" tanya Midoru Shizukesa sambil memutar tanto-nya, yang kemudian ia masukkan ke sarung tanto di punggung pakaian Anbu khas Ne. Danzo menyeringai tipis.
"Tentu saja berikan dia Koto Amatsukami, Shizukesa...Hyuuga Hiashi adalah aset berharga Konoha-"
"HYAAAAH!" sebelum Danzo menyelesaikan kalimatnya, sososk berparas sama dengan Hiashi menyerang danzo dari belakang dan melancarkan teknik Jyuuken ke punggung pemimpin Anbu Ne tersebut. Shizukesa tepat waktu menangkap pergelangan tangan Hyuuga Hizashi, saudara kembar Hiashi, sebelum telapak tangannya menyentuh punggung Danzo. Hembsuan angin pelan menggoyangkan kimono putih-hitam yang dipakai sang Hokage.
"Kalau yang ini, bunuh atau beri Koto Amatsukami?" tanya Shizukesa dengan nada lembut. Wajah cantiknya terlihat sangat senang. Mata Hiashi terbuka lebar, ternyata saudara kembarnya sekaligus Bunke dirinya tidak terkena Genjutsu skala besar dari Danzo.
"Heh…bunuh saja yang itu."
Hiashi ternganga. Dia meneriakkan nama saudara kembarnya agar menjauhi Danzo dan Anbu Ne terkuatnya tersebut.
"HIZASHI, LARI DARI SINI! KAU TAK PERLU BERKORBAN DEMI DIRIKU!"
CRASHHH! Terlambat. Empat puluh tombak Shizukesa yang tiba-tiba muncul di belakang Hizashi meluluh lantakkan tubuh kembaran pemimpin Klan Hyuuga tersebut. iris putih Hiashi melihat hitai-ate yang dipakai Hizashi jatuh ke tanah dan berdenting pelan. Dia juga dapat melihat tanda hijau di dahi saudara kembarnya menghilang secara perlahan. Walaupun tubuhnya tertusuk empat puluh tombak cahaya Shizukesa, Hizashi tersenyum bangga kepada saudaranya.
"Aku mati bukan sebagai pelayanmu, Hiashi…tetapi sebagai…"
Bruk! Tubuh itu jatuh di tanah dengan debu pelan yang menyelebungi lembut.
"…Sebagai saudaramu."
Hiashi ternganga tak percaya. Dia memandang bengis Danzo yang menyeringai tips melihat takdir menyedihkan Klan Hyuuga, benar-benar sistem kasta yang berat.
"Konoyaro…kalian-"
"Shizukesa!" kata Danzo, tak mau membuang-buang waktunya. Bagai kecepatan cahayanya sendiri, Shizukesa muncul di depan Hiashi dan menepuk kening pemimpin Klan Hyuuga tersebut. kepala Hiashi mengadah ke atas dan matanya melihat langsung sinar raksasa bergambarkan mata Mangenkyou Shisui dengan pengaktifan Koto Amatsukaminya.
Danzo terkekeh pelan lalu memandang patung Sandaime Hokage di tebing Konoha.
Dia tak sabar menantikan aksi Uzukage keempat jika berani mendatangi Konoha bersama pasukannya.
"Heh…aku bukan orang gila seperti Sandaime Kazekage, Uzumaki Naruto. Aku adalah Shimura Danzo…" Danzo menempelkan telapak tangan kirinya ke mata berperbannya tersebut "Sang Yondaime Hokage!"
Cerita bagian akhir, dimulai dari sekarang!
TBC
AN:
Maaf chapter pembuka di arc Konoha cukup pendek, hanya 4k lebih saja karena saya terus dikejar deadline pekerjaan saya. Hal itu juga yang membuat saya agak lama up.
Readers bisa menilai sendiri bagaimana karakter Naruto yang sebenarnya, cara berpikirnya atau tanggapannya sebagai seorang Uzukage pasca mengalahkan 4 desa besar. Yondaime Uzukage memang terlihat jelas sangat marah kepada Konoha, terutama Danzo yang menjadi otak atau dalang penghancuran Uzushiogakure.
Oke, saya akan menjawab beberapa pertanyaan dari para Readers.
Q: Thor salah satu sumi-kyo 9 dan 10 itu singa ya ? Aku jadi kasihan sama si naru belum merasakan malam ya author bejat
A: Saya hanya bisa menjawab kita lihat di next storynya. Untuk malam pertamanya, hehe mungkin ada sesi khusus.
Q: Yo doni-san fanfic yang bagus tapi saya mau nanya kemana si hantu uchiha madara? Engga mungkinkan setelah chap 7 dia menghilang. Apalagi dia punya zetsu mata mata terbaik di dunia shinobi pasti dia merencanakan sesuatu karna engga mungkin tuh si uchiha diem jadi fosil pasti punya rencana ditambah anggota akatsuki yang masih didesa dan ada yang mati.
Yadi apa rencana madara dan kapan munculnya?
A: Hohoho, pertanyaan visioner nih. Untuk Uchiha Madara dan keronco-nya belum saya katakan, masih rahasia Negara fic ini. Tetapi hm…merencanakan sesuatu ya? Tolong baca last arc ini sampai selesai dan lihat kejutannya wahaha.
Q: Naruto sengaja dikendalikan Zero karena hanya Meiton yang bisa mengalahkan Jiton hanya analisis
A: Salah satu jawaban yang bagus, anda telah menjawab setengahnya dan setengahnya lagi akan diungkap sang Uzukage, mungkin di last arc fic ini.
Q: Duh penasrn sm pertanyaan para sumi-kyo, jd apa watak naruto yg sbnrny?
Btw, pas obrolan onoki-naru entah knp si jiji kya lg introgasi gitu :v
smngt, satu arc lg...
A: Oke gan. Anda bisa menilai sendiri, bagaimana sih watak sang Uzukage di chapter ini.
Q: wahh,,akhirnya arc iwa-suna selesai juga,jadi chap depan arc konoha ya,,,
tentang pembantaian klan Uchiha,apa itachi sama sasuke selamat seperti di animenya?,,trus gmna tu nasib si madara?
lanjut trus ya doni san
A: Sasuke dan Itachi sudah diperlihatkan statusnya, untuk Uchiha Madara? Ditunggu saja gan.
Q: apa pihak konoha mengunakan khusina sebagai umpan? saya boleh minta list kekuatan sumi-kyo
A: Hoho, salah satu rencana Konoha ya…lihat saja nanti gan. Untuk list Sumi-Kyo, akan saya perlihatkan di chap-chap depan.
Q: Hmmm...
Danzo yang jadi pemimpin konoha ya...
Apa gk menutup kemungkin orochimaru juga berada di konoha menjadi sekutu danzo...
Kan di canon danzoma orochi jadi mitra bisnis...
Atau malah orochi di jebak danzo dan dikalahkan midoru pa miroku lali aku...
Dan dijadikan tahanan...?
A: Di chap lalu sudah saya perlihatkan klise tentang sosok Orochi, mungkin agan bisa membacanya lebih teliti lagi. Thanks gan.
Q: Kirain gk bkal battle dngan konoha! Krna ane pikir gk seimbang, naruto-uzumaki4 negara besar? Di tmbah para jincurikinya, mski konoha punya kyubi ane gk yakin, apalagi blum di kuasai kekuatannya.
Tpi ane ikutin rencana nte, pastinya ada kejutan :) kalo bisa si setan kriput uchiha juga ikutin nanti perangnya biar greget, krna peran madara gk jelas msa cuma buat pemanis cerita doang di brapa chap seterusnya hilang gk jelas. Itu yg msih ngeganjel di hati ane, kalo bisa Madara buat sebagai kejutan 5negara besar!
A: Wahaha, semuanya menunggu Mbah Madara. Tenang, dia ada di rumah ane sambil nonton Bo*ep pake Sharingan *AMAPANTSU (Akibat banyak nonton Bo*ep)* yah ditunggu saja kejutannya gan. Soal kekuatan Konoha, Danzo sangat percaya kepada Anbu Ne terbaiknya dan rahasia tubuhnya. Itu saja gan and thanks.
Sip, untuk soal Sumi-Kyo 9 dan 10 pasti akan terkuak di arc ini, yang menanyakan sumi-kyo nomor satu itu bagaimana, ya si Gamayuden Tenho adalah sumi-kyo bertitel 1 tersebut, sang katak ahli analisis pertarungan dan dapat menggabungkan dua kekuatan sumi-kyo sekaligus.
Soal Danzo yang memiliki Sharingan di tangannya, hm? Bisa jadi kemampuannya seperti itu. Banyak hal akan dijelaskan di arc terakhir ini, dan juga pemikiran Naruto tentang "bibit"nya.
See you in chapter 49!
Tertanda. Doni Ren
