Unexceptionable

Disclaimer: It's sad, but I only have the story

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi

A/N: Inspired from "Dangerous Twin" written by aninkyuelf

.

.

Enjoy!

.

.

Suara ketukan dari heels yang dikenakan Sakura membuat Sasuke menarik napas panjang, berusaha meredakan kegugupan yang malah semakin menjadi. Ia memiliki hak penuh untuk merasa gugup karena ini adalah salah satu hari berharga yang pernah terjadi di hidupnya.

"Sasuke, kau harus cepat pergi. Kau tidak bisa terlambat," tutur sang Haruno yang mengacuhkan keadaan emosi sahabatnya.

Adik dari Uchiha Itachi itu menatap bayangannya di cermin, memastikan tidak ada satu helai rambut pun yang mengacaukan penampilannya. Untuk kesekalian kalinya ia merapikan dasi yang ia kenakan, berusaha sebaik mungkin memperbaiki simpul yang jelas-jelas sudah sempurna. Pandangan sepasang iris mata oniks miliknya teralihkan ketika sebuah tangan menarik salah satu pergelangan tangannya.

"Kau harus keluar sekarang sebelum Naruto mulai panik dan berpikir kalau kau kabur," ucap Sakura dengan nada tidak sabar dan segera menarik rekannya.

Sasuke tahu kalau di hari ini akan ada salah satu momen berharga yang terjadi di hidupnya, itulah kenapa ia tidak bisa berhenti khawatir sejak pagi tadi. Ia ingin semuanya berjalan dengan lancar. Ia ingin semuanya berakhir dengan baik. Ia ingin hari ini menjadi hari berharga yang akan meninggalkan kenangan manis saat ia mengingatnya di masa depan.

Yang paling terpenting, Uchiha Sasuke ingin hari ini terus terpatri di memorinya dan juga di memori Uzumaki Naruto.

Setelah menarik napas panjang beberapa kali sebagai usaha menenangkan diri, putra bungsu keluarga Uchiha itu membiarkan tubuhnya didorong pelan oleh gadis yang sejak tadi menemaninya.

.

-0-

.

"Kau gugup?"

Naruto menolehkan kepala, menatap Shikamaru yang melemparkan tatapan heran padanya.

"Aku tidak punya alasan untuk tidak gugup," balasnya sembari kembali mengarahkan pandangan lurus ke depan.

"Apa yang membuatmu gugup? Bukankah kau sempat bertemu Sasuke pagi tadi?"

Shikamaru menaikkan alis melihat bagaimana Naruto terus-menerus memainkan gantungan ponselnya. Jari lelaki berambut pirang itu memang tidak pernah bisa diam kalau ia sedang merasa tidak tenang seperti sekarang.

"Apa yang kau takutkan, Naruto? Kalau ada orang yang harus merasa gugup, kurasa itu adalah Sasuke dan bukan dirimu," komentar pemilik marga Nara itu sembari duduk di kursi kosong yang ada tak jauh dari tempat seniornya berdiri.

"Sasuke juga pasti merasa gugup, tapi tidak sepertiku—dia bisa menyembunyikan kegugupannya dengan sangat baik di balik raut wajah dingin miliknya itu."

"Kalau begitu, kenapa kau tidak melakukan hal yang sama dengannya? Kenapa kau tidak menyembunyikan kegugupanmu?"

"Kalau aku bisa, aku tidak akan seperti ini sekarang," Naruto mengerlingkan mata. "Lagipula apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau seharusnya sedang sibuk bersama yang lain sekarang?"

Shikamaru menggelengkan kepala. Pemilik rambut yang selalu diikat tinggi itu menyamankan posisi duduk dengan bersandar ke punggung kursi.

"Aku mempercayakan semuanya pada Sakura. Aku bisa menebak kalau dia pasti sedang ada bersama Sasuke sekarang."

"Huh? Kenapa?"

"Tentu saja karena dia harus memastikan kalau kekasihmu itu keluar dari dressroom tepat waktu."

"Oh."

Shikamaru menggelengkan kepala melihat bagaimana kemampuan berpikir lelaki yang lebih tua darinya itu berkurang hanya karena merasa gugup dengan event yang akan terjadi kurang dari satu jam lagi. Ia bangun dari duduknya dan melangkah mendekati sang Uzumaki.

"Kau tidak perlu gugup, semuanya pasti berjalan sesuai rencana. Setelah semua yang dijalani Sasuke selama ini, semuanya pasti berujung baik," tuturnya sembari menepuk bahu sang lawan bicara. "Kurasa kau juga harus keluar sekarang. Sasuke pasti tidak ingin kau datang terlambat."

.

-0-

.

"Aku sangat bangga padamu, Sasuke. Kau terlihat sangat tampan mengenakan tux."

Pujian yang diberikan Mikoto membuat sang putra mendengus geli. Sasuke tidak mengerti kenapa wanita yang tengah memeluknya ini tidak pernah bosan memberikan komentar yang sama ketika melihat ia mengenakan tux seperti sekarang.

"Kau terlihat sangat keren! Kakkoi!" ungkap Shion dengan dua ibu jari teracung mantap.

Sasuke melepaskan tawa pelan sembari menerima rangkaian bunga yang disodorkan padanya oleh sang gadis. Pandangannya beralih menyapu keadaan sekeliling yang masih ramai, membuat Mikoto mengulaskan senyum dan Shion tertawa geli.

"Kurasa Naruto sedang bersama dosen pembina klub dan juga Shikamaru. Dari yang kulihat, sepertinya kau berhasil mencuri perhatian anggota organisasi teater kota, otouto."

Pertunjukkan drama berlangsung lancar sesuai dengan yang Sasuke harapkan dan tidak ada yang bisa membuat fakta itu lebih baik selain kebenaran dari ucapan kakaknya. Ya, setelah persiapan intensif hingga tengah malam kemarin, akhirnya drama sukses dipentaskan.

"Sasuke! Selamat!"

Sang pemuda menaikkan alis dan menerima rangkaian bunga yang kembali disodorkan padanya. Keadaan backstage yang sudah mulai sepi mempermudahnya memperhatikan keadaan sekeliling.

"Shikamaru memberitahuku kalau semua pemain harus berkumpul dua jam lagi untuk membereskan panggung dan sebelum itu kita diperbolehkan beristirahat," papar Sakura setelah menyapa Mikoto, Itachi dan Shion yang menjadi tamu khusus Sasuke hari ini.

"Kalau begitu kita bisa pergi makan. Apa kau mau ikut, Haruno-san?"

Sakura mengulaskan senyum dan menggelengkan kepala, memberitahu kalau ia harus segera kembali membantu teman-temannya merapikan kostum yang harus segera dikembalikan ke tempat penyewaan. Gadis berambut merah muda itu segera pamit saat namanya dipanggil Tenten yang muncul dengan tangan penuh tumpukan baju.

"Baiklah, kurasa kita harus segera pergi sebelum waktu istirahatmu berakhir," ucap Mikoto sembari melingkarkan lengan di pinggang putra bungsunya dan mendorong tubuh Uchiha muda itu keluar dari area backstage.

Shion tertawa pelan melihat bagaimana Sasuke masih menyapukan pandangan, mencari sosok lelaki berambut pirang yang belum ia temui setelah pertunjukkan berakhir. Itachi mendengus geli dan mengusap puncak kepala tunangannya, memberikan isyarat agar gadis cantik itu tidak mengeluarkan komentar apapun.

Tidak butuh waktu lama untuk keempatnya tiba di sebuah restoran kecil yang ada di sekitar kampus. Waktu yang terbatas membuat mereka tidak bisa pergi lebih jauh, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang keberatan. Sasuke mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan segera mengirimkan pesan singkat, memberitahu Naruto dimana posisinya sekarang sekaligus meminta lelaki itu untuk segera menyusul sebelum acara makan bersama dimulai.

"Ayahmu tidak bisa keluar dari kantor karena ada meeting hari ini, tapi dia berjanji akan membelikan spaghetti kesukaanmu sepulang dari kantor," tutur Mikoto setelah memberitahu pelayan apa saja yang mereka pesan.

"Hn." Sasuke menatap kakaknya yang sedang duduk berdekatan dengan Shion dengan sisi wajah yang hampir bersentuhan. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyanya dengan alis terangkat.

"Aku merekam penampilanmu," jawab Shion sembari mengacungkan handycam yang memang sejak tadi ada di tangannya. "Aku akan mem-burning videonya dan memberikan hasilnya padamu nanti."

Penolakan yang hampir meluncur dari mulut Sasuke terpaksa ia telan kembali ketika kursi kosong yang ada di sebelahnya ditarik dengan kasar. Ia membulatkan mata dan menatap sosok yang muncul tiba-tiba dengan sorot terkejut.

"Ouch!"

Shion kembali melepaskan tawa, diikuti Mikoto. Itachi menggelengkan kepala melihat bagaimana adiknya tanpa ragu memukul bagian belakang kepala Naruto. Kini lelaki berkulit tan itu terlihat menempelkan dahi di permukaan meja sembari meringis kesakitan dan sebelah tangan mengusap bagian dimana pukulan kekasihnya mendarat.

"Sapaanmu sama sekali tidak manis, Teme," cibir sang Uzumaki yang sudah kembali menegakkan tubuh. Ia mengulaskan senyum lebar pada Mikoto sebelum sedikit membungkukkan tubuh dan beralih untuk menyapa Itachi dan Shion secara bergantian.

"Apa yang kau harapkan dari tindakan tiba-tibamu tadi, hn? Masih untung aku tidak menendangmu, Dobe."

Gembungan pipi yang diperlihatkan sang pemilik julukan membuat Mikoto menepuk sebelah pipinya dengan sayang. Ia tidak pernah bisa menahan diri untuk tidak memberikan perhatian berlebih pada kekasih putra bungsunya ini.

"Ah, aku hampir lupa."

Sasuke menarik tubuh, menjauhkan diri dari benda yang disodorkan Naruto tepat di depan wajahnya. Ia mengerlingkan kepala saat menyadari kalau seniornya itu memberikan buket bunga mawar merah padanya tepat di hadapan ibu, kakak dan juga calon kakak iparnya tanpa ragu.

"Aku terlambat karena aku harus menunggu ini datang," papar Naruto setelah Sasuke menerima hadiahnya.

"Kau tidak pernah memberiku bunga di pertunjukkanku sebelumnya, Dobe. Kenapa kau memberiku sekarang?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan pandangan dari rangkaian bunga di tangannya.

"Sesekali tidak masalah kan aku memberikan sesuatu padamu, Teme?"

Sasuke menggumam pelan. Ia membiarkan jari telunjuknya menyentuh satu per satu kelopak mawar yang masih ia genggam. Bunga-bunga yang sebelumnya ia dapatkan sudah ia titipkan di mobil Itachi, jadi baru buket ini yang bisa ia lihat dengan seksama.

Sejak awal Sasuke tahu kalau Naruto menang tidak termasuk lelaki yang romantis dan sebenarnya ia tidak keberatan dengan fakta itu. Sasuke tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka kalau Naruto berusaha bersikap romantis padanya, tapi melihat kekasihnya ini berusaha seperti ini ternyata bukan ide yang buruk.

.

..

-0-0-0-

..

.

"Not you, too. Please."

Neji melepaskan tawa mendengar permintaan setengah memohon yang ditujukan padanya. Ia menyodorkan rangkaian bunga lili pada pemuda yang baru saja ia temui di ruang klub drama.

Pujian berlebihan dari beberapa anggota klub drama yang ia dengar beberapa saat yang lalu membuatnya memahami larangan yang diucapkan Sasuke. Mahasiswa muda itu tidak ingin mendengar Neji melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan kawan-kawannya tadi.

"Kau tidak datang ke pertunjukkanku," ucap Sasuke sembari menerima pemberian sang senior. Ia menarik napas lega karena lelaki di hadapannya tidak mengeluarkan pujian apapun untuknya. Telinganya sudah cukup lelah mendengar semua ucapan yang meluncur dari mulut teman-temannya terkait keberhasilannya diterima di klub drama kota.

"Aku harus menyelesaikan semua urusanku sebelum pergi besok."

"Kau benar-benar akan pergi?"

"Apa yang bisa kulakukan? Aku tidak mungkin menolak tawaran promosi kan?"

Sasuke menghela napas panjang. Ini memang kali pertama setelah pertemuan terakhir mereka beberapa minggu yang lalu dan mendengar berita kepindahan Hyuuga muda ini secara langsung ternyata lebih mempengaruhi perasaannya.

Satu minggu yang lalu Naruto memang sudah memberitahukan rencana kepindahan Neji ke kantor cabang perusahaan tempatnya bekerja di luar kota, tapi Sasuke sejujurnya tidak mau percaya dengan keputusan yang diambil seniornya itu. Bagaimana bisa Neji pergi saat keadaan sudah membaik seperti sekarang?

"Justru karena keadaan sudah membaik, aku memutuskan untuk pergi."

Sasuke mengerang kesal saat menyadari kalau apa yang ia pikirkan secara tidak sadar meluncur dari mulutnya, walaupun dengan nada setengah berbisik. Ia mengangkat pandangannya yang sempat tertunduk saat lelaki di depannya mengusap puncak kepalanya.

"Tawaran ini sebenarnya sudah diajukan sejak dulu, tapi aku tidak mau meninggalkanmu dan Naruto bersama 'Gaara'. Bagaimana pun juga kalian adalah adikku—aku tidak mau salah satu atau bahkan kalian berdua terluka."

"Kau terlalu baik dan itu membuatku merasa tidak nyaman," protes Sasuke dengan sebelah tangan mengusap setengah wajahnya.

"Oh? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau mau datang, Neji?"

Pertanyaan yang meluncur dari sosok yang baru saja membuka pintu membuat Neji dan Sasuke menolehkan kepala ke arah pintu.

"Ponselmu tidak aktif," Neji mengerlingkan mata.

Naruto melepaskan tawa canggung setelah mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menyadari kalau ia tidak sempat menge-charge baterainya di kantor siang tadi. Sasuke menggelengkan kepala, heran dengan sifat pelupa kekasihnya yang makin hari sepertinya makin parah.

"Berhubung kau ada di sini, aku akan pamit padamu sekarang," ungkap Neji sebelum membungkukkan tubuh.

"Huh? Kau pamit padaku sekarang? Bukankah haha mengundangmu makan malam bersama kami?"

"Masih ada beberapa hal yang harus kubereskan sebelum pergi besok. Lagipula aku masih harus pergi menemuinya dan berpamitan."

Dari sorot mata Neji yang melembut, baik Sasuke dan Naruto langsung tahu siapa yang dimaksud lawan bicara mereka. Pemilik rambut coklat itu mengulaskan senyum, mengambil satu langkah maju dan memeluk sosok pirang yang selama ini tidak pernah jauh darinya.

"Jadilah adik yang baik. Jaga kaasan dan tousan untukku," bisiknya sembari mengeratkan pelukan. "Jadilah kekasih yang baik dan jaga Sasuke untukku karena aku tidak akan datang membantunya jika dia mengalami kesulitan."

Naruto mengerutkan dahi, sama sekali tidak menyukai momen perpisaan seperti ini. Perlahan ia menundukkan kepala sebelum benar-benar menyembunyikan wajah di bahu Neji. Pelukan kedua lengannya yang melingkar di pinggang lelaki Hyuuga itu sesekali mengerat, memberikan tanda kalau ia mendengar pesan yang disampaikan padanya.

Sasuke tahu kalau dirinya dan Naruto masih bisa bertemu dengan Neji, tapi melihat bagaimana Naruto bergantung pada lelaki itu saat ini membuatnya merasa makin berat menerima kenyataan. Dibandingkan dengan dirinya, Neji lebih memahami Naruto dan dengan fakta itu Sasuke bisa membayangkan bagaimana perasaan pemilik kulit pucat itu ketika harus berpisah dengan orang yang selama ini ia rawat dan jaga dengan sangat baik.

"I should go now," Neji menepuk pelan bahu sosok yang terlihat enggan melepaskannya, "aku tidak mau kembali di malam hari dan terlambat besok."

Dengan enggan Naruto melepaskan pelukan, namun ia enggan mengangkat kepalanya. Neji melepaskan tawa pelan saat menyadari kedua tangan sang Uzumaki yang masih menggenggam sisi pakaian yang ia kenakan. Kebiasaan yang dimiliki Naruto ini nyatanya tidak pernah hilang.

"Jaga dirimu baik-baik," ucap putra tunggal keluarga Hyuuga itu sebelum meninggalkan ruangan.

.

-0-

.

Sasuke menggelengkan kepala melihat kekasihnya yang masih duduk di depan televisi dengan kedua lengan memeluk kaki yang terlipat di bagian depan tubuhnya. Sejak mereka selesai makan malam bersama di kediaman Namikaze-Uzumaki satu jam yang lalu, lelaki berambut pirang itu belum juga beranjak dari posisinya.

"Kalau kau sebegitu tidak inginnya Neji pergi, seharusnya kau pergi mencegahnya, Dobe. Merajuk seperti itu tidak akan merubah apapun," cetus sang Uchiha setelah menuangkan susu ke panci kecil untuk dihangatkan.

""Dia tidak akan mendengar apapun yang kukatakan," balas Naruto dari ruang tengah. "Tekadnya sudah bulat, apa yang bisa kulakukan?"

Sasuke menggumam, membenarkan fakta mengenai bagaimana keras kepalanya seorang Hyuuga Neji. Ia membalikkan tubuh, melangkah mendekati meja makan dan duduk di salah satu kursi. Pandangannya kini tertuju pada buket bunga yang diberikan Naruto saat makan bersama siang tadi.

"Hn?" Sasuke mengerutkan dahi saat menyadari ada yang berbeda dengan rangkaian bunga yang sedang ia pegang.

"Dobe."

"Hm?"

Putra bungsu keluarga Uchiha itu menoleh dan mendongakkan kepala, menatap sosok yang berdiri tepat di belakang kursinya dengan kedua tangan yang diletakkan di bahunya. Ia kembali memperhatikan buket di tangannya dengan dahi berkerut.

"Kurasa kau harus memilih toko bunga lain kalau kau ingin memesan bunga lagi."

Kini giliran Naruto yang mengerutkan dahi karena tidak berhasil menangkap pesan yang berusaha disampaikan kekasihnya.

"Apa kau tidak sadar?" tanya Sasuke yang kembali memandang lawan bicaranya. "Ada satu bunga yang belum mekar," tuturnya sembari menunjuk bunga yang ia maksud.

"Ah," Naruto mengusap bagian belakang lehernya dengan canggung.

"See?" ucap sang Uchiha bungsu dengan tangan yang sudah mengacungkan satu-satunya bunga yang memang masih kuncup setelah memisahkannya dengan hati-hati dari buket.

Sasuke menaikkan kedua alis saat jarinya menyentuh satu kelopak dari bunga tunggal yang sedang ia perhatikan. Walaupun samar, Sasuke bisa melihat garis-garis yang tidak seharusnya ada di sebuah kelopak bunga.

Naruto bisa merasakan bagaimana jantungnya berdetak dua atau tiga kali lebih cepat dari normal saat kekasihnya membuka satu per satu kelopak bunga yang sebelumnya masih berbentuk kuncup. Napasnya tercekat saat pandangannya kembali beradu langsung dengan sepasang iris gelap yang selalu ia sukai.

"Ow, ow, ow!"

Naruto melangkah mundur dengan kedua tangan berusaha melindungi wajah dan kepalanya dari pukulan Sasuke. Walaupun hanya menggunakan setangkai bunga, tenaga yang digunakan pemuda itu sama sekali tidak main-main.

"Bukankah aku sudah memberitahumu kalau aku tidak ingin mendapatkan bunga saat kau melamarku, Dobe?" seru Sasuke sembari memukul lelaki pirang itu untuk yang terakhir kali.

Tanpa ragu Uchiha bungsu itu melemparkan bunga mawar merah yang ada di tangannya ke tubuh Naruto yang sudah setengah terbaring di sofa karena tersandung beberapa saat yang lalu.

Sasuke menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Dari tawa yang sampai ke telinganya, ia yakin saat ini telinganya sudah berubah merah. Pemilik rambut raven itu mengerang kesal, menyembunyikan wajah dengan cara menundukkan kepala dan menutupnya dengan sebelah tangan.

Naruto menghentikan tawa dan mengulaskan senyum melihat bagaimana manisnya pemuda yang sedang berdiri di depannya. Ia bangun dari posisinya untuk duduk dan meraih tangan kiri yang digunakan Sasuke untuk menyembunyikan wajah, sementara tangannya yang lain membuka kepalan tangan kanan sang Uchiha untuk mengambil benda yang sengaja ia sembunyikan di dalam bunga yang berakhir dengan keadaan rusak di lantai.

Naruto mengulaskan senyum saat Sasuke membiarkan cincin yang sudah ia siapkan tersemat di jari manisnya. Ia menatap benda baru di tangan sang kekasih dan menyunggingkan senyum ketika Sasuke meraih tangannya dan menautkan jemari mereka. Senyumnya makin melebar saat sepasang mata beriris oniks milik Sasuke melebar karena menyadari kalau ternyata bukan hanya dia yang mengenakan cincin di jari manis.

"I want you to marry me."

.

.

End

.

.

A/N: I'm terribly sorry for my lateness and I'm gratefull for all of my reader *deep deep bow* Terima kasih karena sudah bersabar menunggu update-an fic ini dan terima kasih karena sudah menemani saya sekaligus meninggalkan review ^^

.

.

Review Reply:

.

.

Aicinta: uh, maksud aku nama 'Aicinta'-nya ditulis di kolom nama reviewer ^^ Maaf karena sudah membuat Ai menunggu lama *bowbow*

unkow blukang: ahahaha, ga akan ada lemon di fic ini *lirik bagian rate* Ada apa sama angka 48? (O.O)

Lista: yang dimaksud Sasu ada di bagian akhir chapter ini (^3^) Permintaan Lista dikabulkan soalnya aku bener-bener telat update (walaupun sebenernya aku ga niat kayak gitu). Habis fic ini mungkin aku ga akan buat multichap untuk sementara waktu ^^

Dinie TEME: semua jawaban ada di chapter ini~ ^^

.

.

.

p.s: I shouldn't end this fic now, should I? ^^