New Savior : Rise Of Hell Boy

.

Title : Naruto : New Savior : Rise Of Hell Boy

Genre: Adventure,

Disclaimer: Our Highness, Mr. Masashi Kishimoto

Rating : M

Pair : Naruto x ?

Warning : Kurang nyambung, OC, OOC, Typo(pasti), ect.

.

Yo.. sebelumnya aku minta maaf minggu kemarin tidak up. Ada sedikit kegiatan atau lebih tepatnya acara keluarga selama satu minggu lebih.

Tentang typo Udon… aku salah kaprah dan itu adalah kesalahanku, jadi aku minta maaf. Jadi untuk menghemat waktu, silahkan dilanjutkan membacanya.

,

Keluarga

.

.

.

Sebuah lambang Uzumaki di leher Tayuya terlihat muncul dengan jelas. Perlahan Chakra Orange kuluar dari tanda itu, bak cairan yang meleleh ke deluruh lehernya. Chakra orange itu terus menjalar pelan tapi pasti masuk ke dalam pakaian Tayuaya, menjelajahi kulit putih gadis itu. Tayuya membuka kedua matanya yang kini telah berwarna merah, dengan sebuah iris vertical di dalam bila matanya bewarna hitam..

"GAAAAAHHHHHHHH" Teriak Tayuya kesakitan, merasakan Chakra itu terus menjalar menutupi permukaan kulitnya. Teriakan kesakitan yang tidak pernah Tayuya dikeluarkan sebalumnya, terdengar jelas di seantero Kusagakure. Kidoamaru dan yang lainnya melihat iba, betapa menderitanya rekan mereka merasakan tekanan Chakra Kyūbi. Salah satu tangan Kidomaru ingin menyentuh tubuh Tayuya yang kini sempurna di baluti chakra Kyuubi.

Kidomaru terlihat kasihan, seolah tidak kuat melihat penderitaan Tayuya dan ingin melakukan sesuatu. Tapi sebelum itu "jika aku jadi dirimu, aku tidak akan menyentuh Chakra itu" komen Naruto pelan, tanpa melepaskan segel tangan Ram-nya.

"ka-kau.. hentikan itu.. kau bisa saja membunuh Tayuya.." ungkap kidomaru khawatir, menatap rekannya yang terus berteriak kesakitan.

Disisi lain, Guren juga nampak khawatir melihat hal ini. Ia mengubah tatapannya ke Naruto, beranjak dari sebelumnya ia fokus ke Tayuya "Naruto-sama, bukankah ini akan menarik perhatian Shinobi Kusa" Mereka bisa merasakan dengan jelas betapa mengerikannya Chakra Kyūbi yang keluar di tubuh Tayuya, bahkan mereka bukanlah tipe Sensorik. Perlahan sebuah ekor dari chakra terbentuk di buntut gadis berambut merah itu.

"aku telah memasang segel di tempat ini, Guren. Kau tidak usah khawatir akan Shinobi Kusa" komen Naruto, terus fokus dalam kegiatannya. Mereka yang berada di dalam rauangan itu tidak menyangka kapan Naruto akan membuat segel pelindung. Tapi mereka melihat dengan jelas kalau ada barrier transparan yang muncul menutupi ruangan itu. Tayuya kini tidak bersuara lagi, hanya saja wajahanya blank, dengan mata terbuka dan mulut menganga lebar.

' Ia pingsan karena tidak kuasa menahan rasa sakit di tubuhnya…. ' pikir Kimimaro mengamati Tayuya. Di leher bagian belakang Tayuya, perlahan lambang segel Orochimaru menghilang bagaikan tinta pensil yang di hapus. Bermula dari Tomoe pertama, lalu tomoe kedua, menghilang di udara. Bagian terakhirnya memecah bagai kaca yang retak, lalu menghilang di udara. Tiga pasang mata ninja pelindung otogakure melebar, menyaksikan sesuatu diluar dugaan mereka.

"Ti-Tidak mungkin…." Ungkap Kidomaru, melebarkan kedua matanya ketika melihat segel di leher Tayuya telah menghilang. Chakra Orange di tubuh gadis itu juga menghilang seiring dengan Naruto yang menyudahi heandseal Ram-nya.

"ba-Bagaimana mungkin?" ungkap Guren hampir terjatuh Karen rasa terkejutnya.

Pelaku tunggal perlahan menurunkan tangannya "Aku telah melakukan hal ini sebelumnya pada Kimimaro, lalu sekarang Tayuya." Ucap Naruto pelan, mengubah sorot matanya ke Kimimaru yang hanya memberikan tatapan datarnya. Tubuh Tayuya perlahan jatuh, namun di tangkap oleh Kidomaru yang berada di belakangnya. "Ia akan siuman dalam waktu tiga atau empat hari, menunggu proses penyembuhannya" kembali lagi, fokus mata berubah ke Naruto. "Kini giliran kalian bertiga yang akan kubebaskan dari segel kutukan Orochimaru."

"Aku menolak…" penolakan itu jelas ditunjukkan oleh Kodimaru. "aku tidak ingin kehilangan kemampuanku yang selama ini telah kupelajari" lanjutnya dan rekan lainnya setuju melalui sebuah anggukkan kepala.

"Apa kau merasa bangga memilki kekuatan yang hanya bersifat sementara itu, dibandingkan memiliki kekuatanmu sendiri?" Tanya Naruto serius.

"jika aku tidak memiliki kekuatan ini, maka aku hanya akan menjadi bahan ejekan bagi Ninja Oto lainnya. Aku menolak merasa di kucilkan dan diabaikan lagi" tegas si pemilik tangan 6 itu. Naruto tersenyum sejenak, lalu menatap Kimimaro.

"Bisakah kau membantuku menjelaskan bagaiamana kekuatanmu setelah aku menghilangkan kutukanmu, Kimimaro? " Tanya Naruto.

Perlahan beberapa iris noda hitam menjalar di tubuh dan wajah Kimiaro, berasal dari segel juinjutsu Naruto. Mata ke tiga Ninja Oto melebar, tidak percaya akan apa yang mereka lihat. Itu adalah segel kutukan Orochimaru level pertama.

"Ba-Bagaimana mungkin… kau sudah tidak memiliki segel kutukan dari Orochimaru-Sama?" Tanya Sakon pada Kaguya Kimimaro.

"segel kutukan Orochimaru telah menghilang dari tubuh Kimimaro, tapi kekuatan itu melekat di dalam tubuhnya. Yang bisa aku hilangkan adalah racun segel itu, tapi tidak mungkin kekuatan yang telah menempel di dalam tubuhnya. Kenyataannya, kekuatan itu terus menjadi kekkai genkai khusus bagi kalian, tanpa adanya rasa sakit lagi dari pengaruh segel. Kekuatan itu resmi menjadi milik kalian" jelas Naruto serius, sedikit monoton tidak ingin ada yang menyanggahi perkataannya

Terdiam di dalam rasa kagum. Hanya itu yang bisa di berikan sebagai respon dari ke tiga ninja penjaga Oto lainnya. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang mereka akan dapatkan jika nanti segel Orochimaru menghilang dari tubuh mereka. Mengendalikan kekuatan segel kutukan tanpa adanya rasa khawatir akan merenggang nyawa adalah sebuah mukjizat bagi mereka.

"Apa yang kau inginkan sebagai balasan dari perbuatanmu ini? Apa kau ingin menjadikan kami pengikutmu atau bawahanmu seperti Orochimaru?" Tanya Kidomaru serius. Ia tidak lagi menambahkan akhiran kata -sama dalam nama Orochimaru, ini berarti kalau ia sudah mulai merubah pikirannya tentang Naruto.

Si bocah Uzumaki hanya memberikan senyum sebelum menjawab pertanyaan itu. "keluarga…" jawabnya singkat, menimbulkan rasa penasaran dari seluruh yang ada di ruangan itu. "aku ingin kalian menganggapku sebagai keluarga kalian dan saling mengisi satu sama lainnya. Tidak akan ada lagi yang namanya kesendirian, tidak akan ada lagi yang namanya kontes untuk mencari perhatian atau kekuatan dari orang lain demi pengakuan. Aku ingin kita semua saling menganggap kalau kita adalah keluarga yang saling memiliki dan melindungi satu sama lainnya. Susah, senang bersama, berjalan berdampingan menuju ke puncak tertinggi" ia mengakhiri penjelasan dengan senyuman hangat, seolah tidak ada beban apapun saat ia mengungkapkan niatnya.

Kembali untuk kesekian kalinya mereka semua terdiam. Tidak ada yang berkata sepatah katapun, hanya satu kata 'keluarga' yang terniang di dalam pemikiran mereka. Masing-masing dari mereka memilki masa lalu yang kelam dan tidak pernah mengingat atau mengerti apa itu keluarga. Mereka semua pernah memiliki niat membunuh Naruto. Tapi dengan mudahnya Naruto mengangkat tangan mengucapkan selamat datang pada mereka, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Bagaimana dengan segel ini? Jika kau menganggap kami sebagai keluarga, kenapa kau memberikan kami segel?" Tanya Sakon penasaran.

Entah kenapa bola mata hitam legam pria Uchiha-Uzumaki itu langsung melototinya tajam, sangat tajam "Itu bukanlah segel, itu adalah ikatan dan catat itu" seharusnya dengan nada dan tatapannya, semua sudah jelas kalau ia kurang suka jika juinjutsu-nya dibandingkan dengan milik Orochimaru yang pernah mereka miliki "Kita akan saling merasakan satu sama lainnya melalui Juinjutsu itu, kalian hanya perlu bermeditasi, merasakan yang lain dari segel yang sama, maka kita akan merasa saling berdekatan. Aku tidak pernah menciptakan segel itu dengan tujuan untuk menyakiti sesama" lanjutnya, mengungkap sisi lain dari juinjutsu buatannya.

"lalu, bagaimana dengan rantai yang selalu menyiksa kami" kali ini Jirobo juga ikut berkomentar dan ditambah anggukkan oleh semuanya, tentunya kecuali Kimimaro.

"Tentang itu…. Anggap saja sebagai bonus, heheheh" ungkap Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya bagian belakang. Ekspresinya dari tegang berubah 180o menjadi agak kikuk "Tapi jika aku menghilangkannya, maka kekuatan kalian juga akan menghilang. apa kalian menginginkan itu?" lanjutnya mengangguk-angguk yakin

"TENTU TIDAK BAKA…" teriak ketiga rekan elite Oto itu, memotong perkataan Naruto.

Senyum lebar terlihat jelas di wajah remaja berambut merah "Jadi…. Siapa yang akan menjadi orang berikutnya?" Tanya Naruto menyeringai, melupakan teriakan baka dari ke tiga ninja bawahannya itu.

'sudah sangat jelas kalau ia baru saja di teriaki seperti itu, kenapa ia malah merasa senang?' pikir Kimimaro memperhatikan tindakan Naruto. "kenapa kau tidak marah pada orang yang memakimu?" tanyanya penasaran, "Terlebih aku tau dengan jelas kalau kami semua bisa kau hancurkan semudah yang kau mau" ia membayangkan tuan lamanya, Orochimaru. Tentu tidak ada yang pernah berteriak seperti itu pada sang Sannin ular.

Ia masih belum mengerti masalah yang satu ini. Selama bersama Orochimaru, penempatan kalimat haruslah mereka perhatikan atau mereka akan berakhir dengan penyiksaan karena Juinjutsu sang sannin. Namun ia merasakan hal berbeda dari sosok di depannya ini. Sudah sangat jelas dan tidak terbantahkan kalau Naruto lebih kuat di bandingkan mantan tuan mereka dan dengan itu seharusnya ia lebih arrogan di bandingkan Orochi, namun…

Sebuah senyuman tipis Naruto keluarkan. "Sebab dalam keluarga, saling memaki adalah proses pendekatan satu sama lainnya. Hal itu menunjukkan bagaimana akrabnya satu dengan yang lainnya, bukan begitu, Ukon?" Tanya Naruto. Si wajah dua itu memberikan seringainya, lebih dari cukup untuk membuktikan kalau ia menikmati ini.

"Itulah yang kurasakan dari saudara busuk yang menempel di punggungku ini" komennya menghina saudara satu tubuhnya.

"AKAN KUBUNUH KAU UKON…" teriaknya geram. Naruto, Kidomaru dan Jirobo hanya tertawa melihat perlakuan seperti itu.

Sipemilik kristal yang dari tadi mengamati Naruto, perlahan melepaskan senyuman. Sangat jarang melihat wanita ini tersenyum, meski hanya senyuman tipis 'Kau memang berbeda dengan Orochimaru, Naruto-Sama. Kau memberikan kehangatan bagi orang lain dan membuat mereka merasa nyaman berada di sekitarmu. Aku senang memilih berada di sasmpingmu' pikir Guren rupanya dari tadi menganalisa tindakan si anak remaja.

'orang yang aneh… tapi menarik…' pikir Kiimaro, memiliki penilaian sendiri.

.

.

Dua minggu kemudian

"Sial.. kini aku mengerti kenapa ia memilih untuk menjadi pemain di balik bayangan di bandingkan mengurusi hal seperti ini di depan layar" runtuk Guren, sedang dalam keadaan tidak mood, duduk berhadapan dengan tumpukan kertas yang harus ia basmi. Ia tidak bisa kemana-mana sekarang, bahkan sekedar meregangkan ototnya, tugas rumah yang harus ia kerjakan terlalu banyak, terlebih dalam satu minggu terakhir.

"Perkembangan pembukaan lahan baru untuk hotel dan Restoran?" ucapnya, membaca tulisan yang ada di laporan yang kini ia pegang. 'Rupanya metode Naruto-sama yang meminta pembangunan Hotel dan pemandian air panas sebagai pancingan sudah mulai terasa. Bahkan bangunan itu belum rampung, mereka sudah bisa melihat kemungkinan bisnis yang baik.. yeah.. The Almighty King' pikirnya kagum akan strategi Naruto.

Tidak bisa ia pungkiri kalau uang yang Naruto berikan ketika ia meminta desa ini di bangun sangat berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan desa. Perlahan tapi pasti, satu persatu penduduk sudah mulai memikirkan cara untuk hidup normal, dengan membuka kedai dan bisnis lainnya. Perlahan tapi pasti juga, desa perekonomian desa ini meningkat dibandingkan semasa pemerintahan Orochimaru yang hanya menjadikan warga sebagai bahan percobaannya saja.

'Dengan penggabungan desa ini dan Otogakure, kurasa tidak akan lama lagi negara Ninja baru akan muncul, terlebih dengan adanya hal ini..' pikirnya menyeringai, membaca kertas lain yang ada di depannya.

Dari atas, terlihat dengan jelas kalau Kusagakure bukan lagi seperti dulu, dimana desa dengan bangunan aneh di batang pohon, atau tersembunyi di balik pepohonan lebat lagi. Dari atas terlihat, hamparan luas 20 hektar tanah yang di sembunyikan oleh sebuah tembok tebal melingkar dalam proses pembanguna, di lindungi oleh popohonan lebat berdahankan kayu seperti jamur dan hamparan luas padang rumput di sekitarnya.

Jarak desa yang tadinya cukup jauh dengan jembatan Kanabi dan jembatan Tenchi, kini hanya sekitar 1 km saja, semenjak perluasan wilayah yang 'King' lakukan. Desa ini benar-benar sedang mengalami masa perombakan jauh dari apa yang bisa di bayangkan manusia. Lagi-lagi, dana yang Naruto berikan bukanlah dana sedikit, ia bahkan bisa membeli Negara dengan Dana itu.

"Sibuk seperti biasanya?" suara Naruto terdengar saat itu. Guren tidak terlihat terkejut sedikitpun, karena ia tau kalau remaja yang kini mengenakan kimono ungu gelap di hadapannya itu bukanlah orang yang bisa ia baca gerakan atau pemikirannya. ia selalu memiliki cara sendiri yang tidak mudah untuk di tebak.

"Humph.. " respon pemilik kekkei Genkai Kristal itu. "Tidak biasanya kau berada di sini, dibandingkan bersama para pekerja, membantu pekerjaan mereka dibalik samaran tidak jelasmu menggunakan bunshin" tanyanya lanjut, terkesan cuek.

Naruto hanya memberikan sebuah senyuman. "jika aku tidak menggunakan bunshin-ku untuk membantu pekerjaan mereka, pembangunan desa ini akan memakan banyak waktu. Aku tidak ingin menunggu lama, menikmati masa kejayaan desaku ini di masa tuaku nanti"

"desaku?.." gumam Guren bingung. 'Bukankah desamu di Konoha?' lanjutnya tapi hanya bisa berani di dalaml benaknya saja.

"Apa ada masalah dengan itu?" Tanya Naruto datar, mengubah ekspresinya dengan cepat.

"Tidak… lagi pula kau adalah Almighty King yang merintis dan mengakui desa ini berada di bawah kekuasaanmu" komen Guren, terlihat memberikan tanda tangannya.

"Apa kau tidak suka dengan itu?" Tanya Naruto penasaran.

"Siapa yang tidak suka perubahan ke arah lebih baik? Semua orang bisa melihat kau membawa desa ini dari lubang buaya ke ladang kehidupan lebih baik. Bahkan orang bodoh atau gila sekalipun tidak akan protes" terang Guren tanpa menatap Naruto. "Oh yah.. Ini ada permintaan khusus untukmu.." lanjutnya, melemparkan sebuah gulungan ke Naruto.

Dengan mudahnya Naruto mengangkat tangan kiri, mengangkap gulungan itu "Apa ini?" tanyanya penasaran.

"Buka saja, kau akan mengetahui apa isinya nanti" jawab Guren.

Naruto memutuskan tidak bertanya lagi, dan membuka gulungan itu, lalu mulai membacanya. Seketika ekspresi wajahnya menjadi sangat serius, tidak lama setelah ia mulai membaca. "Ini serius?" tanyanya penasaran, menatap kage di desa itu.

"Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya, tapi sepertinya mereka serius…" jelas Guren, meletakkan pekerjaannya sejenak, lalu menatap lawan bicaranya "Setelah apa yang kau lakukan dan Iwa, juga kabar yang kau sebarkan mengenai hubungan misteriusmu dengan King, tokoh buatanmu sendiri, iwa memutuskan untuk benar-benar tidak mengganggu desa Kusa, paling tidak untuk beberapa waktu" ia berhenti sejenak, memposisikan dirinya senyaman mungkin

"Bagaimanapun juga, mereka masih dalam keadaan genting, karena sewaktu-waktu, bisa saja terjadi peperangan antara Iwa dan konoha, sementara itu hubungannya dengan Ame juga tidak stabil. Konoha memiliki hubungan baik dengan Suna, di bawah pemerintahan Kazekage ke- 5 saat ini, jadi mereka harus memiliki back up." Tidak sia-sia Guren diangkat sebagai Kage melihat kemampuan analisa dan pengetahuannya.

Naruto mengubah fokusnya ke sang Kage "Mereka menargetkan desa kecil untuk mereka kuasai dan akan mereka jadikan sebagai lahan penambah kekuatan, begitu kan" Guren menganggukkan kepalanya setuju atas perkataan Naruto yang melanjutkan penjelasannya.

"Pemimpin mereka mengetahui hubungan baik King denganmu, pembebas desa kusa dan Oto, bahkan seluruh dunia juga sudah mengetahui perkembangan di desa kita. Ia memutuskan untuk melakukan itu, tanpa harus lepas jabatannya atau menjual desanya, dengan harapan kau akan memperlakukannya seperti desa ini, atau Oto." Lanjut Guren menjelaskan.

"lalu apa yang kau berikan sebagai balasan?" Tanya Naruto penasaran, menatap asistennya itu.

"Aku belum memberikan jawaban apapun pada mereka" jawab Guren singkat. "Aku tidak bisa menebak pikiranmu apakah kau akan menerima permintaan mereka atau menolaknya. Kau adalah rajanya, sementara aku hanyalah tangan kananmu saja. Tangan kanan tidak akan bergerak jika otak tidak memerintahkannya" Naruto menganggukkan kepalanya serius.

Remaja itu kembali menatap isi gulungan, mengamatinya dengan seksama, sekaligus memikirkan jawaban atas isi pesan "Segera beri jawaban kalau aku akan menemui mereka, perwakilan mereka akan datang secepatnya dan menemuiku di sini." Jawab Naruto.

Harus Guren akui, jawaban itu cukup cepat, tapi ia tidak memiliki waktu untuk meragukan jawaban Almighty King "Baik.. aku akan segera menghubungi pihak pengirim pesan untuk mengirimkan jawabanmu"

Naruto menganggukkan kepalanya dan diam sejenak, mengamati perubahan emosi pada wajah tangan kanannya itu. "humph.. apa kau kesal karena kau harus menghabiskan waktumu di sini dan tidak bisa bersama dengan pacarmu itu, siapa namanya, aku lupa.." naruto kemudian memasang pose berpikir. "Gazu, guzo.. Gizo.. Guz... yah Gozu"-

"Bisakah kau diam dan tidak menggangguku? Aku sendang tidak mood bercanda saat ini" potong Guren kesal.

"Ouh… aku sudah membuat Guren-chan marah karena menyinggung pacarnya, tebayou.." ejek Naruto, sambil menutupi mulutnya dengan jarinya, seolah ia ingin tertawa.

"GOZU ITU BUKANLAH KEKASIHKU BAKA…" teriak Guren, menggunakan jutsu Big headnya.

"Sungguh… lalu siapa kekasihmu? Oh yah, si pengendali kelelawar itu, Ri… Rinji.. yeah Rinji.." tebak Naruto tidak perduli akan amarah gadis itu.

"DIA JUGA BUKAN KEKASIHKU, LAGIPULA SIAPA JUGA YANG MAU SAMA ORANG ANEH SEPERTI KELELAWAR" teriak Guren kembali membentak Naruto, semakin keras.

Naruto kembali memegangi dagunya, seraya berpikir. "Humph.. Jika bukan Gozu, Bukan Rinj, lalu…. " ia kemudian melebarkan kedua matanya memikirkan sesuatu. "Ja-jangan bilang kalau kau berkencan dengan si maniak Orochimaru?" lanjutnya penuh rasa terkejut.

Guren hanya bisa menghela napas saja, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia tau kalau bertengkar dengan remaja yang satu ini tidak akan habisnya dan hanya akan membuatnya semakin pusing saja, jadi ia memilih untuk tenang. "Kau gila… lagipula kenapa kau tiba-tiba tertarik ingin mengetahui siapa kekasihku?" Tanya Guren balik. "jangan bilang kalau kau menyukaiku…?" godanya lanjut.

"Aw… aku sangat tertarik jika kau menginginkannya, Guren… chan.." goda Naruto balik, sukses mengembalikan keadaan, membuat Guren yang tadinya berniat ingin mengerjai Naruto malah terlihat Nerves. "kita mungkin bisa menghabiskan malam ini bersama jika kau menginginkan kencan pertama kita.." lanjutnya semakin liar, dan guren semakin memerah.

Tidak pernah guren se nerves ini sebelumnya, bahkan mungkin dalam hidupnya ia tidak pernah berpikir kalau akan seperti ini. Ia tidak pernah memikirkan masalah perasaan atau dirinya sendiri, hanya memikirkan tentang Orochimaru yang akan menjadikannya tubuh baru, sampai Naruto datang, dan mengubah semuanya, mengubah Kristal keras menjadi segumpal daging yang bisa merespon perasaan.

"GAAHAHAHAHAAH… GAHAHAHAH" terdengar tawa keras Naruto, sambil memegangi perutnya, tidak tahan melihat ekspresi guren seperti sekarang ini, sangat aneh di matanya, sementara Guren hanya bisa mengeram kesal. "Lihatlah ekspresimu Guren-chan, aku tidak menyangka kalau kau akan begitu lucu jika seperti ini.. GAHAHAHAHAH" tawa Naruto semakin mengeras, di atas kekesalan gadis itu.

Sebuah Urat tebal menyilang di kening gadis pengguna Kristal itu. "KELUAR DARI RUANGANKU SEKARANG SEBELUM KURUBAH MENJADI BONEKA KRISTAL" teriaknya sangat keras, sampai menciptakan gelombang besar yang membuat Naruto terlempar ke luar jendela. "beraninya dia mempermainkan perasaan seorang wanita, bocah kecil itu .." decihnya kesal, lalu menarik napas dan melanjutkan pekerjaannya.

'Tunggu dulu.. jika ia tau tentang nama-nama itu, apa ia memata-mataiku?' lanjutnya dalam benak, penasaran bagaimana Naruto bisa mengetahui aktifitasnya di luar pekerjaannya sebagai kage.

"Apa kau merasa baik-baik saja membentak pemimpinmu seperti itu?" terdengar suara kritikan dari arah pintu masuk, dan terlihat disana Kimimaro melangkah mendekatinya.

'Oh.. tidak, penyebab sakit kepala lagi.. 'pikir Guren mengingat bagaimana susahnya berbicara dengan orang yang satu ini. Kimi di kenal sebagai orang yang sangat kaku dan terlalu loyal pada Orochimaru, bahkan sampai sekarang. "Apa ada masalah?" Tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa.

"Aku masih tidak mengerti dengan pemikiran kalian.." gumam Kimimaro, berhenti di depan meja kerja Guren. "jika kalian menganggap dia adalah pemimpin kalian, bukankah kalian seharusnya menghormati dan sopan padanya?" lanjutnya bingung.

"Itu jika kau berhadapan dengan pemimpin yang lain… berbeda dengannya" respon Guren pelan, terlihat tidak terlalu mempermasalahkan pertanyaan kimi.

"Kenapa? Karena dia lebih muda? Atau karena dia tidak memiliki karisma sebagai seorang pemimpin?" ungkap pengendali tulang itu bingung. Ia ingin mengerti apa yang membuat Guren dan yang lain menghianati orochi, lalu menerima Naruto sebagai pemimpin baru mereka.

Guren menarik napas sejenak dan menatap rekannya itu. "pemimpin tidak bisa di lihat dari kharisma atau usianya, Kimimaro. Hal yang kami lihat adalah bagaimana dia memperlakukan kami, dan apa yang telah ia lakukan untuk desa ini. Kau tentu tidak buta ketika berada di luar dan merasakan perbedaan besar pada desa ini" terangnya, mencoba mengajari kimimaro.

"Selain berisik dan kehebohan, aku tidak dapat menemukan apapun di luar sana. Aku lebih suka dengan ketenangan yang dulu" ujarnya jujur.

"Jadi kau lebih suka melihat pembantaian dimana-mana karena prodak gagal Orochimaru dan tangis ketakutan warga, dibandingkan dengan tawa mereka?" Tanya Guren, meningkatkan tekanan suaranya.

"…" kimimaro diam, memutuskan untuk tidak menjawab atau merespon pertanyaan itu. sudah sangat jelas kalau tidak ada orang yang suka akan pembantaian dan penyiksaan, tidak untuk mereka manusia Normal.

"Kita Semua di kumpulkan oleh orochimaru karena kita semua memiliki kesamaan, kesendirian. Dia muncul di tengah-tengah kita dan menawarkan kebaikan pada kita yang begitu mudahnya percaya, namun bila di pikirkan lagi, apa kebaikan itu untuk kita, atau untuknya?" Kembali Guren melanjutkan pekerjaannya. "kapan kita merasakan kebahagiaan yang benar-benar untuk kita, bukan untuknya, atau sebagai objek percobaannya? Apa kau pernah mengingatnya, sekalipun?"

"bersama Orochimaru-sama membuatku merasa berguna dan di butuhkan, itu sudah lebih dari cukup bagiku di bandingkan di tinggalkan seorang diri" respon Kimimaro pelan, setengah berbisik.

"kau tidak suka di tinggalkan, tapi lihat apa yang terjadi padamu? Apa menurutmu ia tidak meninggalkanmu?" Tanya Guren, serius, menatap pengguna kekkei Genkai langka ini. "Ia kabur dan menginginkan keselamatannya sendiri, meninggalkanmu yang tidak jelas sendirian. Apa menurutmu, jika Naruto tidak datang dan mengobatimu, kau bisa menikmati udara bebas seperti sekarang, tidak lagi bersama peralatan aneh yang menempel di tubuhmu?"

Kimimaro hanya menatap wanita itu sejenak, lalu melangkah meninggalkan ruangannya. Sepertinya lagi-lagi ia kehabisan kata-kata bagaimana caranya agar ia membujuk anggota-anggotanya. Dari semua, memang ia adalah orang yang paling setia pada Orochimaru.

"Aku hanya tidak menyukai penghianatan.. " gumamnya sambil melangkah ke pintu ruangan kage itu, membukanya perlahan

"bukanlah sebuah penghianatan namanya jika kau memilih yang lebih baik bagi hidupmu. Orochimaru sejak lama sudah menghianati kita, menghianati kepercayaan kita dengan hanya memanfaatkan kita" Kimi sangat jelas mendengar perkataan itu, sebelum ia menutup pintu itu rapat.

.

.

Beberapa hari kemudian, Kusagakure

Tidak jauh dari ruangan kage, di sana ada sebuah bangunan megah, berbentuk kubah, dengan beberapa tiang besar dan panjang, berlapiskan kristal merah sebagai penopang. Bangunan itu memakan area 40 x 20 meteran, dua lantai dan ada lambang Uzumaki pada puncak atap berbentuk kubahnya itu. (bayangkan Tajmahal dua tingkat yang di lapisi Kristal)

Pekarangan yang di hiasi beberapa tanaman hias di sepanjang area luas tempat itu, serta jalanan khusus indah menunjukkan 4 pintu masuk di segala arah. Tiap-tiap jalanan, terdapat dua buah kubahan tinggi, seperti gerbang, sebelum memasuki ruangan. Pada 4 sisi bangunan itu, ada empat tiang tinggi, melebihi tinggi bangunan itu, dengan kepala 4 hewan berbeda, sepertinya menunjukan lambang 4 hewan penjuru, sangat megah.

Di dalam bangunan itu, tepat di salah satu ruangan 10 x 10, ada sebuah lampu gantung indah menggantung di langit-langit tinggi ruangan itu. lampu berbentuk lambang magis dari bola kristal, dan di hiasi lampion merah pada setiap ujungnya. Tidak lupa beberapa lampu terang yang bersinar, menerangi ruangan itu. tepat di bawah lampu itu, ada sebuah sofa berbentuk lingkaran luas, sekitar 5 meter untuk dimaeternya dan terpotong di beberapa bagian menunjukan jalan masuk.

Di tengah-tengah sofa Hijau metalik itu, ada sebuah meja bundar dengan pola Kristal berkilauan. Ada beberapa jenis buah yang bisa di temukan pada peja itu, sebagai makanan kecil ketika melakukan percakapan ringan. Di sepanjang tembok ada beberapa lukisan alam dan hiasan indah lainnya.

Pintu ruangan itu terbuka, dan terlihatlah seorang Ninja Kusa, melangkah masuk. "Anda bisa menunggu King-sama di tempat ini. Sebentar lagi King-sama akan menemui kalian" ucapnya sopan, mempersilahkan dua orang muda pria dan wanita berambut hijau, memasuki tempat itu.

"Whoa… tempat ini sangat mewah.." terdengar suara kagum wanita pemilik rambut sebahu, menyaksikan kemegahan sekitarnya. Tingginya sekitar 162 cm, postur ramping, terkesan kurus dengan ransel merah di belakangnya. (a.k.a Fuu)

"Terima kasih sudah mengantarkan kami ke tempat ini" respon remaja pria, sopan. Ia memiliki rambut lurus yang di kepang di belakangnya, dan. Kulit putih dan tinggi sekitar 171 cm. sepertinya usianya dan usia gadis itu sama. (a.k.a Shibuki).

"Ini sudah menjadi tugasku, Shibuki-san…" respon sopan sang shinobi. "Aku akan kembali ke penjagaan dan silahkan menikmati waktu kalian di tempat ini" dengan itu ia melangkah keluar, tidak lupa menutup pintu.

'Aku tidak menyangka akan melihat bangunan seperti ini di dunia ini' pikir Shibuki, mengamati seluruh seluk beluk ruangan itu, takjub. 'Apa ini pekerjaan manusia, ataukah dewa?' lanjutnya ketika melihat detail bangunan yang hampir seluruhnya di lapisi Kristal hijau tipis sebagai plesteran tembok.

"Whoa… kursinya sangat empuk dibandingkan dengan milikmu di desa, Shibuki.." ujar Fuu sambil duduk dan melompat-lompat memanfaatkan gaya pegas kursi itu.

"Oh tidak.. FUU" tegas shibuki yang langsung menghampirinya. "Apa yang sudah kukatakan sebelum kesini?" tanyanya sambil menghentikan gerakan wanita itu.

"Aw.. kau tidak asyik, Shibuki.." gumam gadis itu, terlihat sedang ngambek, melipat kedua tangan di depan dada kecilnya, kemudian memalingkan wajahnya.

Shibuki menghela napas, lalu duduk di samping Wanita itu. "ini bukan di Takigakure, Fuu. Kita harus memberikan rasa hormat kita ke pemilik tempat, untuk menunjukkan rasa hormat kita." Ungkapnya mencoba mengajari wanita itu.

"yeah… yeah.. rasa Hormat dan ceramahmu itu sudah kudengar sebelum kesini.." jawab Gadis itu cuek. Matanya kemudian mengarah ke buah-buahan segar di hadapannya." Whoa….. Kelihatannya sangat enak.." tanpa menunggu lagi ia langsung mengambil salah satu dari banyak jenis buah, apel.

"FUU… Bisakah kau jaga tingkahmu di tempat orang lain" tegas Shibuki menahan lengan Fuu yang sudah ingin melahap buah itu.

"Ayolah shibuki… buah itu di siapkan untuk tamu dan kita adalah tamu, jadi tidak ada salahnya jika kita mencicipinya" ujar Fuu, membela diri, dan masih ingin melanjutnkan niatnya melumat buah itu.

Shibuki yang ngotot menahan Fuu, ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi harus ia tahan karena suara seorang pria terdengar saat itu. "Gadis itu benar, buah di tempat itu memang di siapkan untuk tamu dan kalian adalah tamuku" Mata Fuu dan Shibuki langsung bergerak ke asal suara dan mendapati seorang yang tidak jauh dari usia mereka.

"Ka-kau… "gumam Shibuki tidak percaya.

"hai.. namaku adalah King.." potong sosok yang melangkah mendekati mereka. Ia mengenakan kimono perak, seperti seorang bangsawan, dengan rambur merah di kepang pada bagian belakangnya rapi. Tidak lupa pada bagian depan agak ke kanan, ia sisihkan poni menutup setengah pipi dan telinganya. Sepasang mata hitam legam terlihat menyapa mereka.

"Ka-kau sungguh Ki-King?" Tanya Shibuki tidak percaya.

King melangkah pelan, lalu duduk di samping kanan Shibuki, sementara Fuu yang masih menganga duduk di samping kirinya. Tidak ada lagi pertikaian tangan mereka dan tangan Fuu bergerak otomatis memasukkan buah apel itu ke dalam mulutnya, lalu menggigitnya.

"Aku adalah King.. " jawab Naruto mencoba meyakinkan Shibuki.

"King yang sudah membangun Kusa dan mengusir pemimpin lamanya?" Tanya Shibuki memastikan. "King yang mengatakan kalau kusa dan Oto di bawah naungannya?" lanjutnya lagi tanpa berkedip sekalipun, mengamati King.

King hanya memberikan sebuah anggukan. "Apa semua tidak seperti yang kau harapkan?" tanyanya pelan.

"Te-tentu saja.. kami pikir kau adalah orang tua yang suka memberikan ceramah panjang lebar.." kali ini Fuu yang menjawab dengan otomatis dan Shibuki mengangguk setuju. Sebuah tawa tipis Naruto lepaskan, ketika mendengar ungkapan jujur itu.

"Kau bukanlah orang pertama yang mengatakan tentang itu" responnya tersenyum, menyandarkan tubuhnya nyaman di sandaran sofa.

'Aku tidak menyangka di usianya yang masih seperti ini ia mampu membuat namanya begitu terkenal di dunia. Menguasai dua desa dan mengakui keduanya di bawah pengaruhnya bukanlah hal yang bisa di lakukan semua orang. Aku saja yang sudah satu tahun menjalankan pemerintahan Taki, tetap saja tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah desa semakin baik' pikir Shibuki minder.

"E-eto.. namaku Shibuki.. dan ini.. "-

"Fuu.. namaku adalah Fuu" Potong gadis pemilik rambut hijau itu menggerakkan tangannya ingin melakukan kenalan secara formal dengan king.

"Kau cukup agresif.." komen Naruto tersenyum tipis dan menyambut salaman Fuu. "Kalian sudah mengetahui namaku, tapi sebaiknya aku buat secara resmi saja. Namaku adalah King, pemimpin utama Kusagakure dan Otogakure" lanjutnya dengan sedikit serius.

"Senang bertemu denganmu.. apa kau mau menjadi temanku, kita bisa bermain ma"- belum selesai Fuu meneruskan kalimatnya, Shibuki sudah menyumbal mulutnya menggunakan telapak tangannya.

"Ak-aku benar-benar minta maaf akan hal itu, King… Sama.." ucap Shibuki masih sibuk menyumbal mulut Fuu yang masih meronta.

"Shibuki.. aku tidak bernapas., baka.." tegas Fuu akhirnya bebas dan menarik napas panjang. "Lagipula, bukankah kau bilang kalau aku nanti akan mendapatkan 100 teman?"

King mengangkat alisnya sedikit penasaran. "100 teman? "gumamnya penasaran.

"hai.. Shibuki mengatakan kalau, jika aku bersikap baik, maka aku akan mendapatkan 100 teman, bahkan lebih nantinya" tereang Fuu terlihat sedikit ceria.

"Eto… hum.. Fuu adalah.. eto,,," ucap Shibuki tidak jelas akan mengatakan apa. "Sedikit special, sehingga.. eto…" lanjutnya sambil menggaruk tengkuknya meski tidak gatal.

"Jinchuriki yah…" tebak King. Sebuah anggukan pelan Shibuki berikan, meski ia tidak begitu mengerti, kenapa King bisa dengan mudah mengetahuinya. Fuu terlihat menundukkan wajahnya, entah malu atau perasaan apa itu yang membiatnya sangat khawatir.

"Kenapa kau ingin memiliki 100 teman?" Tanya King datar, menatap sang Jinchuuriki.

"Aku tau kalau aku tidak akan mungkin mendapatkan teman dengan mudah karena siapa aku ini. Tapi jika shibuki mengatakan kalau aku bisa mendapatkan 100 teman, maka aku tidak akan menyerah" respon Fuu pelan sambil menatap apel di tangannya.

'Fuu..' pikir Shibuki iba, menatap sang jinchuriki, mengerti perasannya.

"Aku bertanya, kenapa kau ingin memiliki 100 teman, bukan kau bisa atau tidak memiliki 100 teman" jelas King. Fuu dan shibuki langsung menatapnya bingung meminta penjelasan. "Jika aku menjadi kau, aku tidak akan menghitung teman, tidak perduli sebanyak apapun atau sedikit apapun juga, aku tidak akan mempermasalahkan itu, yang penting mereka bisa menerimaku dengan apa adanya diriku.." jelasnya serius.

Fuu dan Shibuki terlihat tidak melepaskan tatapannya ke pemimpin muda itu, mencoba menyerap makna kalimat itu. mereka bisa dengan muda mengerti, namun mereka ingin memahami jauh lebih dalam lagi, sehingga mereka mungkin bisa menerapkannya.

"Anda benar, King-sama.." gumam Shibuki, yang kemudian menatap Fuu. "tidak perduli banyak atau tidak temanmu, yang penting mereka bisa kau percaya dan bisa mempercayaimu" lanjutnya menatap sang Jinchuuriki yang hanya mengangguk mengerti.

"Baik.. sebaiknya kita langsung saja ke inti kenapa diadakannya pertemuan ini" Ungkap King serius, mengubah arah pembicaraan. "jadi, Takigakure ingin menjadi bagian dari wilayah naungan King" itulah inti pembicaraan ini, berdasarkan gulungan yang sebelumnya diperdebatkan Naruto dan Guren.

.

T

B

C

AHHHHH.. FAST RESPON, FAST UP…

SEE YOU IN NEXT CHAP