FINAL FANTASY VERSUS


053

NOCTIS


06.09.756 M.E. | 10.08 PM

Berada di dalam karavan sekarang, Noctis diam sejenak untuk mengobservasi interior kecil itu. Dia sudah tinggal sekali di sana sebelumnya bersama teman-temannya jadi dia mengenal tata ruang dengan cukup baik. Di ujung karavan ada dua ranjang tingkat, jadi jumlahnya cukup untuk empat orang. Noctis selalu mengambil ranjang bawah bersama Ignis, sedangkan Prompto dan Gladiolus di ranjang atas.

Noctis melepas sepatu ketsnya, lalu duduk di ranjang bawah ketika Lunafreya masuk ke dalam dan menutup pintu dengan lembut di belakangnya dan menguncinya. Ketika mata mereka bertemu, di dalam karavan tiba-tiba terasa jauh lebih hangat daripada sebelumnya.

Mencoba untuk terlihat kalem dan dapat menguasai diri, Noctis merasa tenggorokannya tersedak ketika Lunafreya melepas sepatunya dan dengan senyap berjalan ke ujung karavan. Rasanya hampir seperti dia menyambut kepulangan wanita itu. Seperti jika mereka telah menikah. Telingaku terbakar, pikir Noctis, mencoba untuk tidak membuat wajahnya merona. Lunafreya, yang selalu memancarkan aura ketenteraman, tampak bingung seperti dia.

"Yah," kata Lunafreya, matanya menjelajahi karavan, lalu berhenti sejenak kepada Noctis, sebelum lanjut memutari ruang yang sempit, "kita sebaiknya beristirahat sekarang, seperti yang dikatakan Ignis."

"Yeah, um, aku akan mengambil ranjang bawah. Kau bisa tidur di atas," kata Noctis sambil memberi isyarat ke ranjang di atasnya, tepatnya ke sudut area yang nyaman tempat Lunafreya bisa beristirahat. Jika dia tidak salah ingat, ada jendela kecil bagi wanita itu untuk memandangi bintang-bintang di langit.

Ketika dia mendaki tangga pendek ke atas, satu tangan Noctis memegang tangan Lunafreya, tangan lainnya bersandar di ranjang, berjaga-jaga apabila wanita itu tak sengaja terjatuh. Lunafreya berhenti sejenak ketika sudah memanjat setengah jalan, mata birunya berkilat, petunjuk senyuman terlukiskan di bibirnya.

"Terima kasih, Noctis," katanya, memanjat sisa tangga ke atas dan menghilang dari pandangan. Setelah wanita itu sudah sampai di puncak, Noctis berdiri dan melangkah ke sakelar di tengah karavan. Dia menekannya dan ruangan sempit itu menjadi gelap. Cahaya rembulan menembus jendela, memampukan Noctis untuk berjalan pelan ke ranjangnya.

Bersandar di ranjang yang keras, dia menatap langit-langit kayu di mana Lunafreya beristirahat di atasnya. Meskipun jantungnya berdetak kencang, dia merasa kalem mengetahui bahwa wanita itu ada di atasnya, begitu dekat sampai yang perlu dia lakukan untuk melihatnya hanyalah memanjat sebuah tangga. Untuk dua belas tahun, wanita itu berada di luar jangkauannya, buku agenda menjadi satu-satunya cara untuk berkomunikasi dengannya.

Untuk waktu yang amat panjang, dia tidak mampu tidur. Dia mengubah posisi, menutupi wajah dengan selimut, lalu melemparnya, dan bahkan sampai menghitung Chocobo dalam benaknya. Tapi tidak ada yang berhasil. Berbaring ke samping, dengan kepalanya bersandar di tangan, Noctis menatap ke dalam kegelapan, akhirnya menyerah untuk memaksa dirinya tidur. Normalnya, dia tidak punya masalah dengan tidur. Sekali dia jatuh tidur, dia punya kebiasaan tidak bisa bangun. Di ranjang bawah di samping dia, Nyx masih tertidur lelap, sama sekali tidak terganggu oleh kehadiran dia dan Lunafreya. Dia bertanya-tanya apakah Glaive itu baik-baik saja dan kapan akan siuman. Cindy bahkan menyiapkan cairan elektrolit yang disambungkan melalui selang dan ditusukkan ke nadi Nyx untuk memberinya nutrisi. Rasanya aneh mengetahui dirinya terjebak dengan Glaive yang tidak begitu dikenalinya dan wanita teman masa kecilnya dari dua belas tahun silam. Di atasnya, dia mendengar suara gemerisik selimut. Apakah Lunafreya masih bangun?

Dia memutuskan untuk memanggil di dalam kegelapan. "Luna?"

Wanita itu merespon dengan cepat. "Ya?"

Noctis tidak dapat menahan diri untuk terkekeh seketika. Wanita itu bergerak di atasnya sekali lagi.

"Ada apa?" Lunafreya terdengar seolah dia juga mencoba untuk menahan tawa kecil.

"Tidak, aku hanya berpikir bagaimana ini mengingatkan aku pada saat kita kecil. Kita selalu mengobrol sampai larut malam," dia mengenang hari-hari mereka berbaring di ranjang, saling menyamping jadi mereka bisa bertatapan di dalam kegelapan yang bersinarkan cahaya bulan. Mereka mengobrol selama berjam-jam sampai rasa lelah memaksa mereka untuk tidur ketika mereka tidak dapat lanjut bercakap-cakap lagi.

"Dan pelayanku, Maria, selalu menjadi frustasi setiap kali mereka mendengar suara kita melalui pintu," Lunafreya menambahkan, kali ini tertawa kecil. "Tapi ketika dia pergi, kita mulai berbicara sekali lagi."

"Dia pasti berpikir aku memberi pengaruh buruk untukmu."

"Malah kebalikannya. Dia berkata sangat melegakan melihatku bertingkah seperti anak kecil yang normal."

"Kamu memang anak kecil yang normal." Noctis mengangkat kepalanya, tangannya disematkan di belakang kepala. "Tidak ada apapun yang berbeda mengenaimu. Tidak bagiku."

Memang tidak ada. Dulu Lunafreya terlalu sopan, tetapi dia memaklumnya karena status wanita itu sebagai Putri dan Oracle dan juga fakta bahwa dia empat tahun lebih tua dari dia. Sebaliknya, dia tidak berpikir Lunafreya berbeda dari anak-anak seumurannya. Orang-oranglah yang membuat wanita itu berbeda. Seperti cara mereka bersikap kepadanya─membungkukkan badan ketika dia lewat, menyapa dia dengan formal, memprioritaskan perawatannya di atas orang lainnya. Itu adalah hal-hal yang harus mereka hadapi sejak mereka lahir.

Untuk detik yang lama, Lunafreya tidak berkata apa-apa. Satu-satunya hal yang dia dengar di dalam kegelapan adalah suara gemerisik selimut di atas, lalu wanita itu berkata sekali lagi, "Bolehkah aku…" Suara Lunafreya bergetar. "Bolehkah aku memegang tanganmu, Noct?"

Itu adalah kali pertama Lunafreya memanggil Noctis dengan nama panggilannya. Bergeser ke ujung ranjang, Noctis harus memosisikan dirinya jadi dia bisa mencapai lengan kurus Lunafreya yang menggantung ke bawah, jemari wanita itu mencari jemari dia. Merasakan sentuhan kulit dinginnya, dia menjalin jemari mereka, mengagumi seberapa kecil dan lembutnya tangan wanita itu.

Tangan Lunafreya bergetar sesaat. Dia mengencangkan tangan wanita itu. "Pastinya sulit bagimu," dia berkata senyap, mengingat bagaimana Lunafreya telah mengucapkan kata-kata itu kepadanya beberapa tahun lalu. "Untuk melalui semuanya sendirian."

Lunafreya menggenggam tangan Noctis lebih erat. Noctis mengerjap, sensasi menusuk kembali ke matanya.

"Kau melakukannya dengan baik, Luna."

Ada suara gemerisik selimut sekali lagi dan dia pikir dia mendengar isakan kecil. Dia bertanya-tanya seberapa besar seseorang bisa mengandalkan diri sendiri sebelum mereka hancur. Dan dalam kasus Lunafreya, wanita itu kemungkinan besar menjadi satu-satunya manusia di seantero Eos, yang membebani dirinya sendiri dengan rasa sakit dan penderitaan orang lain.

"Noct?" Dia akhirnya berbisik, suaranya kasar seolah dia sedang menangis.

"Luna?"

"Tidak ada yang penting. Hanya saja…sudah lama sekali sejak seseorang memanggilku Luna."

"Luna."

"Ya?"

"Ada apa?"

Noctis bisa mendengar daripada melihatnya, senyuman cerah di wajah wanita itu. "Luna."

Kali ini Lunafreya tertawa ringan, mengayunkan tangan mereka seolah ingin memberi tahu mereka untuk segera mengatakannya. "Aku mendengarkanmu, Noct."

Jempolnya mengelus-elus punggung tangan Lunafreya. Noctis membuat janji lainnya kepada wanita itu di sini dan sana. "Aku akan terus memanggil namamu sampai kau menyuruhku diam. Jadi bersiaplah."

"Aku ragu hari itu akan datang, tapi aku akan mengingatnya."

Dan tensi itu menghilang. Jarak apapun yang berupa dinding tak kasat mata di antara mereka berkurang sampai menjadi bukan apa-apa. Berbaring di sana, berbicara dengan Lunafreya hampir membuat dia lupa bahwa pagi tadi dia baru saja mengetahui kematian ayah dan kehancuran Insomnia. Itu hampir membuat dia melupakan bahwa dia adalah Raja Sejati yang dipilih ramalan dan Lunafreya adalah Oracle. Dan untuk sejenak, mereka berdua mengalihkan perhatian masing-masing dengan menikmati kisah-kisah dari dua belas tahun silam untuk mereka dengarkan. Dan seperti ketika mereka kecil, mereka mengobrol sampai tidak mampu lagi.

Segera saja, apa yang terasa seperti jam-jam berikutnya, benak Noctis berhenti dan tangannya mulai terasa kebas. Tetapi, dia tidak ingin melepaskan tangan mereka sampai Lunafreya yang melakukannya. "Selamat malam, Luna."

Suara lembut wanita itu menemani dia ke dalam alam mimpi seperti jimat untuk melindunginya terhadap mimpi buruk yang dia yakini akan melandanya malam ini. "Selamat mimpi indah, Noct."

Dan mimpinya memang indah. Tidak ada mimpi buruk mengenai kematian ayah di tangan Jenderal Glauca. Tidak ada mimpi buruk tentang pengkhianatan Kingsglaive. Tidak ada mimpi buruk tentang kehancuran Insomnia. Semua yang dia mimpikan adalah lembah terbuka dan luas yang ditumbuhi bunga biru, petal-petalnya tertiup terbawa angin, dan dua anak kecil berlari di sana, tertawa tanpa memedulikan isi dunia.


07.09.756 M.E.| 08.20 AM

Mimpi buruk dimulai ketika Ignis memanggil dia beberapa jam kemudian, membangunkan mereka─Noctis seperti Lunafreya telah bangun─sampai pagi tiba.

"Aku sudah bilang kepadamu untuk tidur lebih awal," Ignis memarahi Pangeran yang kelelahan, memelototinya melalui cermin di atas dasbor ketika dia mengendarai Regalia melalui jalanan yang nyaris sepi karena hari masih pagi. "Kita akan berada di jalanan untuk waktu yang panjang hari ini."

Noctis bersendawa. Dia telah mengganti pakaian santainya menjadi seragam Pangeran. Seragamnya telah dibersihkan dan disetrika. Barangkali Ignis yang melakukannya. Dia menyandarkan kepalanya ke jendela yang dingin. "Kalau begitu biarkan aku tidur. Kamu tidak membutuhkan aku untuk apa-apa."

Prompto berkelit ke kursi belakang. Ketika Noctis tampak siap untuk pingsan, Lunafreya segar dan waspada total, tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan selain bayangan keunguan di bawah matanya dan warna kulit yang sangat pucat.

"Apa yang kalian lakukan sepanjang malam?" tanya Prompto. Lalu dia merona merah seperti tomat. "Tunggu, rasanya salah aku menanyakan itu. Maksudku hanya…Er, apa maksudku?"

Gladiolus mendesah. "Lupakan saja, Prompto."

Aku selamat, pikir Noctis, akhirnya pergi ke alam mimpi. Hal terakhir yang dia lihat adalah Lunafreya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan Prompto dengan sopan tanpa membicarakan obrolan rahasia mereka tadi malam. Sisa perjalanan ke barat laut tidak ada sesuatu yang istimewa. Terlalu biasa karena Noctis tertidur selama perjalanan dan harus dibangunkan dengan lembut oleh Lunafreya di momen Regalia sudah sampai. Lunafreya telah keluar dari mobil dari sisi Gladiolus sebelum membuka pintu di sisi Noctis untuk membangunkannya.

"Di mana kita?" Noctis bersendawa lagi.

Dengan tatapan penuh perhatian, Lunafreya meraih tangan Noctis ke tangannya, membantu dia keluar dari mobil. "Prairie Outpost."

Merasakan benaknya jernih secara signifikan ketika matahari bersinar di atas mereka, Noctis menyipitkan mata. Perhentian itu tandus sekali. Dia bisa melihat bangunan kayu beberapa meter di depan. Bangunan itu tidak memiliki pintu dan jendela, terlihat seperti tempat perlindungan yang didirikan terburu-buru daripada bangunan sungguhan.

"Ini pasti perhentian yang dikatakan Cid," Ignis mengobservasi bangunan kayu itu. Gladiolus berdiri di dekatnya.

"Terlihat seperti titik pertemuan untuk para Hunter," sang Tameng bergumam. Di sisi lain, Prompto sudah mengeluarkan kameranya dan mengambil beberapa foto.

Berjalan berdampingan dengan Luna, Noctis mengekori teman-temannya menuju gubuk, hampir melewati ambang pintu sebelum dia disambut oleh beberapa orang, mereka berlutut dengan tangan disilangkan di dada mereka. Di paling depan ada seorang wanita yang lebih tua yang dia kenal. Dia adalah Monica Elshett, seorang anggota Crownsguard yang berambut karamel dipotong pendek dan mengenakan pakaian hitam sebagai simbol utama anggota Kerajaan Lucian.

"Pangeran, aku lega kau baik-baik saja," kata wanita itu dengan penuh hormat, suaranya bergema kepada beberapa anggota Crownsguard yang bersamanya. Secara insting Noctis menjauhkan diri dari situasi itu, memiliki keengganan untuk disapa dengan rasa hormat. Lalu menyadari kehadiran Lunafreya, Monica menukikkan kepalanya. "Dan kau juga, Nona Lunafreya."

"Monica!" Gladiolus berseru dengan kasar dan terkejut. "Di mana yang lainnya?"

Monica perlahan berdiri, penyesalan melintas di wajah dan posturnya, dia menggelengkan kepala. "Kebanyakan Crownsguard tidak selamat. Kami sudah membawa Nona Iris keluar kota, bersama penduduk lainnya ke Lestallum."

Rasanya lega. Kelompok itu menghembuskan napas bersamaan. Gladiolus, yang tadinya terlihat tegang dan frustasi berangsur tenang. Ini adalah satu potong berita baik di antara berita-berita buruk yang mereka dengar kemarin.

Gladiolus menyisiri tangannya melalui rambutnya. "Aku berhutang budi kepada kalian."

"Di mana Cor?" tanya Noctis, tidak melihat Kapten Crownsguard di mana-mana.

Monica memberi isyarat ke belakangnya. "Ada jalan di belakang kita yang akan membawa kalian ke Royal Tomb. Pergilah ke sana. Marshal menunggu kedatangan kalian."

"Terima kasih, Monica," kata Noctis, memimpin perjalanan dengan Lunafreya di belakangnya dan teman-temannya melangkah hati-hati, menjaga Oracle di tengah formasi itu. Monica membungkukkan kepalanya ketika sang Pangeran dan rombongan itu keluar melalui pintu yang terbuka di belakang, menyusuri jalan.

"…Di sepanjang lahan, sylleblossom dari Tenebrae bisa terlihat dipasang sebagai bunga duka. Dengan tak adanya jasad untuk diratapi, kerumunan orang sudah berkumpul di Altissia untuk menunjukkan rasa hormat mereka."

Radio di dekat mereka menyala, sang penyiar berita melaporkan pergerakan massal orang-orang yang menuju Altissia untuk menunjukkan kepedulian mereka kepada Lunafreya. Noctis ingin menjulurkan kepalanya ke belakang untuk melihat ekspresi Lunafreya, tetapi memutuskan untuk memberikan privasi bagi wanita itu. Pastinya aneh mendengar orang-orang berduka atas kematiannya yang disangka benar. Dia terus maju.

Jalanan relatif lurus dan perlahan semakin lama semakin menanjak, tapi tidak sampai dianggap curam. Noctis mengkhawatirkan Lunafreya, yang menyamai derapnya dengan kelompok itu dalam keheningan, hanyut dalam pikirannya sendiri. Suara napas Lunafreya yang kukuh, walaupun tidak rata semakin lama mereka berlari pelan-pelan adalah semua yang dia butuhkan untuk memastikan wanita itu tetap berada di belakangnya.

"Kita tidak bisa mengikuti lelaki ini," kata Gladiolus langsung dari belakang Noctis.

"Pertama ibu kota, lalu Hammerhead, lalu Royal Tomb?" tambah Prompto.

Ignis bersenandung setuju. "Sebutan nama baginya seharusnya 'Cor yang Tak Kenal Lelah'."

"Entah mengapa tidak semenarik 'Cor Sang Abadi'," Gladiolus menunjuk.

"Berhasil keluar hidup-hidup dari Insomnia menambah jejeran legenda dia," Prompto berkomentar, "kita sebaiknya memikirkan sebutan untuk Nona Lunafreya, juga. Dia berhasil keluar dari Insomnia tanpa bantuan sama sekali."

"Aku tidak akan berkata tanpa bantuan sama sekali," tukas Lunafreya, "aku mendapatkan bantuan dari Nyx Ulric, seorang Glaive yang tetap berpihak pada Insomnia ketika yang lainnya membelot sampai aku ditemukan oleh Noctis."

"Dia sudah punya sebutan," kata Noctis ketika mereka berbelok ke kiri dari jalan, sekarang dikelilingi tembok-tembok batu. "Sebutannya adalah Luna."

"Ohhh, Noct, tiba-tiba menjadi perhatian di sini," goda Prompto.

"Diamlah," kata sang Pangeran ketika dia tiba-tiba berhenti karena mendengar pekikan hewan dari atas.

"Daggerquills di atas kita!" seru Ignis, mengeluarkan sepasang Plunderers dari sarung belati. Noctis menatap Lunafreya sekilas, yang tetap terlindungi di dalam lingkaran mereka. Aku akan melindungimu. Sebelum pemikiran itu secara utuh terbentuk dalam benaknya, Noctis cepat-cepat mengeluarkan Engine Blade, melakukan warp-strike ke langit, pedangnya membelah sayap Daggerquills dengan cukup kekuatan untuk membuat burung itu berciut, mengepakkan sayapnya untuk mencoba mencabut senjata tajam itu. Tetapi Noctis lebih cepat. Sekali lagi melakukan warp-strike tertuju langsung ke atas Daggerquill, dia menyentakkan pedang ke dada burung itu, pekikan kencang berdentum di telinganya ketika predator itu terbunuh secara instan.

Melepaskan pedangnya, dia bertelepotasi ke permukaan di samping Lunafreya. Prompto dan Ignis menghabisi dua target yang tersisa, sedangkan Gladiolus nyaris tidak bisa melakukan apa-apa karena greatsword-nya tidak bisa mencapai ketinggian. Dengan pedang menghilang ke dunia jiwa di mana senjata itu tersimpan, Noctis berdiri, membersihkan debu dari pakaiannya. Tadi berlangsung lebih baik dari perkiraannya. Seringkali, ketika mereka bertarung di ruang yang sempit, selalu ada risiko terpukul oleh serangan dari temannya─tembakan massal Prompto menjadi satu hal yang selalu mereka waspadai.

Luna menyaksikan Noctis dengan ekspresi campuran mengagumi dan emosi lainnya yang tidak bisa dimengerti sang Pangeran. "Kamu sudah bertambah kuat selama beberapa tahun terakhir, bukankah begitu?"

Dia mengangkat alisnya, membuka mulut untuk merespon.

"Ayo bergerak! Burung-burung itu tidak akan mengepakkan sayap mereka lagi!" Teriakan Prompto mencegah Noctis menjawab pertanyaan itu. "Aku bisa melihat makam dekat di depan!"

Memberikan Lunafreya satu tatapan terakhir, Noctis terburu-buru berlari dengan wanita itu di belakangnya dan Gladiolus sekali lagi mengekori di belakang. Secepatnya formasi itu kembali menjadi Lunafreya berada di tengah, mereka berlima sampai di bukit yang ramping, melalui dua gerbang batu yang mengarahkan mereka ke bangunan seperti kubah yang didirikan lebih rendah dari permukaan, jalanan yang menuju ke pintu masuk yang diasumsikan Noctis sebagai Royal Tomb. Untuk berada di daerah terpencil, eksterior putih dari makam itu masih terjaga dengan baik. Tidak ada lumut atau semak belukar tumbuh di sana. Dan kelihatannya relatif tidak pernah tersentuh.

"Tomb of the Wise," Lunafreya membaca, matanya melebar ketika dia mempelajari huruf kuno di dekat pintu batu. Dia menelusuri jemarinya di atas batu. "Tidak ada tulisan makam ini milik siapa. Hanya sebutannya saja."

"Kita mungkin tidak akan pernah tahu karena sekarang Niflheim mengendalikan catatan Kerajaan," kata Ignis, memandangi prasasti dengan tajam. "Walaupun aku penasaran bahwa kamu bisa membaca inskripsi ini. Aku bahkan tidak mengerti huruf-huruf ini. Apa itu juga salah satu berkah sebagai Oracle?"

Lunafreya mengangguk. Dia menurunkan tangannya ke sampingnya ketika Noctis meletakkan tangannya ke pintu batu. "Sebagian kecil."

Noctis mengambil napas dalam, lalu melepaskannya. Merasakan Lunafreya dan teman-temannya berkumpul di belakangnya, dia menekankan tangannya ke batu. Ada getaran rendah, permukaan di bawah mereka bergetar sekilas ketika pintu meluncur terbuka, tenggelam ke dalam dinding ketika mereka ditarik terbuka untuk menampilkan ruangan gelap di dalam. Di sana ada seorang lelaki berdiri, senter di saku dadanya menjadi satu-satunya sumber cahaya dalam kegelapan.

Cor Leonis berpaling untuk memandang Noctis, ekspresi datar di wajahnya, suaranya yang dalam bergema di dalam ruangan. "Akhirnya, Pangeran," kemudian dia menangkap Lunafreya yang berdiri di kiri Noctis, "Nona Lunafreya, kau berhasil keluar dengan selamat dari ibu kota."

"Tidak sebaik yang seharusnya dia dapatkan," kata Noctis, matanya mengitari makam. Di dalam ruangan bundar, patung-patung ditatahkan ke sela-sela dinding. Dia tidak tahu patung itu menggambarkan siapa. Dan di tengah ruangan terbaring sebuah patung, kemungkinan besar mewakili Raja yang didedikasikan oleh makam itu. Di dalam tangan yang terlipat ada sebuah tombak, tidak terbuat dari batu tapi dari logam sungguhan. Mencapai saku dadanya, Noctis menyalakan senter untuk menyinari kegelapan. "Kamu mau memberitahu aku untuk apa aku di sini?"

Bualan kecil yang dibuat dia dan Lunafreya tadi malam telah sirna ketika mereka bercakap-cakap selama beberapa jam. Kehangatan yang diberikan keberadaannya juga telah sirna. Sebagai gantinya ada sensasi tenggelam di kolong perutnya. Cor tidak membuang banyak waktu. Dia berdiri di belakang altar di tengah, tangannya terbuka selebar tombak yang digenggam dalam tangan patung itu.

"Kekuatan para Raja, diturunkan dari leluhur ke keturunan baru melalui ikatan jiwa. Ikatan jiwa yang terbentang di depanmu. Untuk mengklaim kekuatan nenek moyang adalah hakmu sejak lahir dan tugas sebagai Raja," Cor menjelaskan, memberikan isyarat pada tombak itu.

Tugas? Sebagai Raja? Dia telah memberitahu Ignis bahwa dia ingin merebut kembali Kerajaan Lucis dari Niflheim tadi malam. Tetapi berdiri di sana, di hadapan sisa-sisa leluhurnya membuat dia merasa kecil. Dari perkataan Monica, Crownsguard hanya memiliki sedikit sisa anggota yang selamat. Mereka yang melarikan diri dari Insomnia tidak akan mau dilempar kembali ke pertempuran. Dan Lucis sendiri sudah berperang beratus-ratus tahun.

"Kau sudah mengenal Dad untuk waktu yang lama. Jadi, katakan padaku, Cor, kenapa dia mengirimkan aku ke Altissia kalau dia tahu semua ini akan terjadi? Kenapa dia tidak mengizinkanku ikut bertarung?" Cor pasti tahu. Dia dan ayahnya adalah teman karena mereka adalah Raja dan pelindung.

Cor menurunkan tangannya, alisnya mengerut. "Alasan yang sama mengapa dia memutuskan untuk memindahkan Crownsguard jauh dari Citadel selama hari penandatanganan pakta perdamaian," kata sang Marshal, tidak mampu membalas tatapan Noctis. "Raja ingin melindungi rakyatnya lebih dari apapun. Jika ibu kota hancur, kita bisa bertindak cepat dan memindahkan warga Lucian ke lokasi yang aman."

"Tetapi dia tetap mengirimkan aku keluar kota!" Noctis memprotes. "Aku bisa saja bertarung untuknya!"

"Seberapa lama lagi kau pikir Lucis akan bertahan melawan kekuatan Kekaisaran yang sudah memerintah hampir seluruh dunia?"

Cor menatap dia dengan tajam, frustasi bersinar melalui matanya, mengagetkan Pangeran muda. Marshal mulai berjalan-jalan di dalam ruangan. "Kita kalah perang sejak lama sekali. Satu-satunya alasan kita tidak dijajah karena adanya Dinding Baru. Raja hanya bisa mempertahankan Dinding Baru sementara waktu sampai dia harus membayar harga final. Dan lalu apa? Memaksa putranya untuk menanggung beban? Terus memakan energi kehidupan dari keturunan Kerajaan untuk selamanya terperangkap di dalam kota di balik Tembok? Kalau kamu tinggal dan bertempur, bisa dipastikan kau tewas."

Hatinya menciut. Ini mirip seperti dua belas tahun lalu, ketika dia terus-menerus memanggil Lunafreya ketika wanita itu memilih tinggal, meninggalkan dia dan ayahnya melarikan diri. Sepanjang tahun berlatih dengan Gladiolus, mencoba menjadi lebih kuat ternyata berakhir sia-sia. Pada akhrinya, dia melarikan diri sekali lagi. "Tapi aku…" Noctis mencoba mencari argumen kontra, tapi benaknya kosong.

"Kamu harus menyadari fakta bahwa kamu tidak seperti orang normal. Kamu adalah Raja Sejati dengan sumpah setia untuk melindungi rakyatmu. Seperti Nona Lunafreya sebagai Oracle, yang ditakdirkan untuk melindungi tanah kita dari Starscourge. Yang Mulia telah memberikanmu kebebasan untuk hidup seperti rakyat jelata sepanjang yang dia mampu. Sekarang waktumu telah tiba, kamu harus menerima garis silsilahmu, Pangeran," kata Cor, suaranya teguh.

Lagi-lagi dengan omong kosong Raja Sejati, pikir Noctis dengan mata yang mulai berlinang air mata. Meremas tepi altar, dia menundukkan kepala ketika satu per satu bulir air matanya turun. "Aku berharap Dad memberitahuku," Noctis menggeretakkan giginya, berjuang untuk menjaga suaranya tetap jelas. "Aku berharap Dad memberitahuku daripada berdiri di sana…tersenyum ketika aku pergi…mengetahui bahwa─bahwa─"

Dia tidak mampu meneruskan kata-katanya. Sebuah tangan, milik Luna, memeluk pundaknya, mencoba memberikan dia kekuatan. Aku berharap aku sekuat dirimu, Luna.

"Pada hari itu, dia tidak ingin mengingatmu sebagai seorang Raja. Pada sisa waktu yang kamu punya, dia ingin menjadi ayahmu," suara Cor terisi oleh lebih banyak emosi daripada yang pernah Noctis dengar sepanjang waktu dia mengenal sang Marshal. "Dia selalu percaya padamu, bahwa ketika waktunya tiba, kamu akan bangkit untuk kepentingan rakyatmu. Rakyat yang sama, yang tersebar di Eos, tanpa rumah dan tanah air."

Dalam benaknya, dia melihat ayah. Dia melihat ayahnya muda dan sehat, mampu melawan daemon yang melukai Noctis ketika kecil tanpa perlu banyak-banyak mengangkat jarinya. Dia melihat ayahnya kelelahan dan tak bertenaga, rambut gelapnya berubah menjadi putih. Dan lalu dia melihat ayahnya sekali lagi, berdiri di puncak tangga Citadel, tersenyum ketika mengharapkan perjalanan yang aman bagi Noctis, rambutnya putih total, tubuhnya bergetar untuk berusaha berdiri sendiri. Ayahnya yang sudah mengorbankan banyak hal demi rakyatnya─demi Noctis. Ayahnya yang sudah kehilangan segalanya.

Api yang membara bangkit dalam jiwanya. Untuk menjadi seorang Raja seperti Dad. Meluruskan badannya yang menekuk, Noctis menatap mata Cor dengan tekad baja. Tangannya menggenggam tangan Lunafreya seolah hidupnya bergantung padanya, Noctis menatap kembali tombak di altar di hadapannya.

"Sepertinya dia tidak memberikanku banyak pilihan," kata Noctis, suaranya bergetar. Dan walaupun kata-kata itu dimaksudkan menjadi kasual, janji yang dipegangnya adalah murni.

Mengumpulkan keberaniannya, Noctis mengangkat tangannya, memanggil kekuatan dalam dirinya yang diturunkan ke garis keturunan Lucis Caelum. Datanglah kepadaku. Komando sunyi berbunyi dalam benaknya. Dia mendengar suara kaca yang pecah dan cahaya terang yang menyinari ruangan, membutakan semua orang sementara waktu. Tombak, yang disandarkan di patung batu, bersinar terik, senjatanya menjadi transparan berupa hologram kebiruan. Senjata itu melayang di udara di atas mereka, lalu berputar ke arah Noctis. Walaupun tubuhnya menegang dan jemarinya bergetar, Noctis tetap berdiri tegap, menyaksikan tombak itu terbang kepadanya seolah ingin menusuk dia langsung di dada. Ketika tombak itu menembus jantungnya, ada rasa sakit intens sejenak, seolah badannya tiba-tiba tenggelam dalam lava yang panas sebelum menghilang. Cahaya dari tombak meredup untuk mengembalikan ruangan ke kondisi setengah gelap sekali lagi.

Bernapas dengan berat, tubuhnya terbungkus oleh peluh dingin. Noctis mengambil sesaat untuk menenangkan diri. Dia merasa kehilangan arah. Selama itu, dia tidak pernah melepaskan tangan Lunafreya, mencari penghiburan dalam keberadaannya yang menenteramkan. Suara Cor bergema di dalam ruangan sekali lagi, tegas seperti biasanya.

"Kekuatan Raja-Raja ikut bersamamu, Yang Mulia."


Author's Notes:

Perburuan Royal Arms sudah dimulai. Di sini saya mengubah Sword of the Wise menjadi Lance of the Wise supaya ada variasi senjata Royal Arms yang kebanyakan adalah pedang. Untuk sekarang, cerita sebenarnya mengikuti game, cuma bedanya ada Lunafreya di sini. Ketika Nyx siuman nanti, cerita akan semakin berbeda.

Terima kasih atas review dari Jacob Hendricks, Vryheid dan dannymoore221b.

Saya tunggu review dari kalian. Sampai jumpa lagi di chapter 054!