One Piece © Eiichiro Oda

Two Schools, Two Worlds

Chapter VII

Goodbye Days

Epilogue – Catch 'Ya Later


Robin bukanlah seorang yang banyak bicara, tapi kalau dia sudah mulai pastilah itu adalah hal yang sangat penting. Semua anggota SH tahu itu, jadi kalau itu terjadi mereka takkan memalingkan wajah, mereka akan serius mendengarkan.

"... aku ingin mengatakan sesuatu."

Seperti saat itu.

Robin mendahului teman-temannya, lalu membalikkan badan menghadap mereka semua. Wajahnya tampak tenang tanpa ada keraguan sedikitpun. Luffy dan yang lain segera menghentikan obrolan (dan pertengkaran) mereka, menatap cewek berambut hitam itu.

Para cowok dengan kompak menelan ludah mereka, antisipasi.

Robin menghela napas, dan memulai, "Mungkin banyak... bukan, semua sudah tahu. Bahwa aku akan berkuliah di Universitas Ohara dan besok aku akan langsung berangkat."

Dia menatap wajah teman-temannya satu persatu, dan sesuai perkiraannya, ekspresi mereka tidak berubah walaupun mendengar berita seperti itu.

Tidak ada ekspresi kaget, tidak menyangka, atau shock mendengar pernyataan tiba-tiba itu... karena, seperti katanya tadi, semua memang sudah tahu. Tahu dari orang lain, bukan Robin sendiri. Cewek itu, entah untuk apa, merahasiakan soal ini ke teman-teman satu kelompoknya.

Mereka diam saja, memberikan kesempatan Robin untuk berbicara sepuasnya.

Tanpa sadar, Robin menelan ludahnya, sebuah tindakan yang... tidak feminim.

Dia yang sudah biasa berbicara di depan umum, bahkan tampil di TV nasional dalam beberapa olimpiade ilmiah yang diikutinya... tidak tahan menghadapi pandangan serius teman-temannya.

Karena SH yang tenang berarti mereka benar-benar punya masalah. Masalah dengan dia, lebih tepatnya.

Saat menyadari itu, hanya ada satu kata yang muncul dalam pikiran Robin.

"... maaf."

Ia membungkukkan badannya, persis 90° layaknya orang Jepang yang terlalu nasionalis. Rambut hitam panjangnya tergerai bagaikan korden di sisi kanan-kiri wajahnya, menutupi ekspresinya saat itu.

Anak-anak SH tetap tidak mengatakan apapun.

Cukup lama dia ada dalam posisi itu, tidak berani mengangkat wajahnya sebelum seseorang mengatakan sesuatu. Dia pun mulai bingung, memangnya mereka mau dengar apa lagi darinya? Dia sudah memberitahu rencananya, dan meminta maaf!

"... uh..."

Hanya sepotong suara penuh keraguan memecah kesunyian. Margaret, Robin tahu itu suaranya. Cewek berambut pirang itu memain-mainkan ujung kausnya, sepertinya ingin mengatakan sesuatu.

Tapi baru saja dia hendak membuka mulutnya, tangan Luffy terjulur ke depan wajahnya.

"Jangan dulu," Luffy berkata dengan tegas, dan Margaret pun langsung menutup mulutnya. Itu sebenarnya perintah cukup kasar yang biasanya akan langsung membuat Sanji bertransformasi marah, tapi cowok pirang itu tidak bereaksi apapun.

Luffy menoleh pada anggota lain yang berdiri di belakangnya, mereka menganggukkan kepala kompak. Dia lalu melangkah mantap ke depan Robin. Sang ketua, dengan aura Haoshoku yang memancar deras, melipat lengannya dan bertanya, "Sekarang jelaskan alasannya."

Alasan...? Robin bertanya dalam hati, ia mengangkat wajahnya... untuk melihat Luffy yang memasang wajah serius seperti hendak maju berperang.

"Benar, alasan kenapa kau merahasiakan ini," Zoro angkat bicara. Hanya dia yang berani menyela saat sang ketua, Luffy, berbicara... itulah wewenangnya sebagai wakil ketua.

Kedua anak itu... sikap mereka amat berbeda dari saat mereka mendampingi Robin dalam misi King's Game tadi. Sungguh kompak, sikap kedua sahabat sejak SD itu.

Karena itulah, Robin menyadari... bahwa sekarang pikirannya kosong.

Dia baru ingat kalau dia tidak mempersiapkan alasan atau cerita apapun untuk dikatakan pada mereka, dia hanya siap minta maaf.

"Sesama teman nggak boleh ada rahasia."

Tiba-tiba perkataan Zoro, saat ia menceritakan ini padanya di atap sekolah pada suatu hari di musim gugur, terbayang di benak Robin. Itu menyadarkannya sekali lagi... bahwa semua masalah SH malam ini, bermula dari dia yang terlalu menyimpan rahasia.

Robin menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya malam ini, lalu berkata, "... aku sudah menceritakan ini ke Luffy dan Zoro, tapi akan kukatakan lagi."

Dia memandang teman-temannya satu persatu. Luffy yang menyilangkan lengan penuh wibawa, Zoro yang tidak sabar ingin mengakhiri ini semua, Sanji yang menggigiti filter rokoknya pertanda dia sedang gugup, Nami yang jelas-jelas mengerutkan alisnya. Usopp dan Chopper yang berwajah serius, sangat jarang mereka begini. Franky, Brook, dan Bon-chan dengan tatapan bijak mereka yang lebih jarang lagi. Margaret yang kebingungan.

Setelah itu, Robin menutup matanya dan menjawab, "Aku... tidak mau membuat kalian khawatir."

Para cowok yang sudah tahu ini dari Zoro, diam saja dan mengamati cewek berambut hitam dengan seksama. Sementara ekspresi Nami dan Margaret, kedua cewek itu tampak kesal. Robin bisa mengetahui ini semua dengan Kenbunshoku haki-nya, tidak perlu membuka mata.

Atau... dia takut membuka matanya, sekarang.

Apapun itu, dia meneruskan penjelasannya, "Kalian... terlalu baik, terlalu peduli pada orang lain. Kalian akan melakukan apapun untuk orang lain yang memerlukan, apalagi padaku yang anggota SH. Aku berpikir, kalau aku menceritakan tujuanku, kalian pasti akan kepikiran dan bertindak macam-macam yang tidak perlu. Tidak, aku salah. Aku diam pun kalian tetap bertindak berlebihan. Pesta barusan contohnya."

Mendengar itu, para cowok merasa urat di dahi mereka menonjol keluar. Tapi, mereka tidak bisa membandingkan amarah mereka dengan Nami, yang –jelas membara. Cewek berambut oranye itu hendak bicara, tapi... Sanji menghalanginya.

"Minggir, Sanji-kun. Aku ingin bicara dengan Robin."

Robin tersentak mendengar itu, Nami yang menanggalkan panggilan sayangnya.

"Tunggu Nami-san. Biarkan dia menyelesaikan penjelasannya dulu," Sanji berusaha menenangkan, walaupun tampak jelas alis spiralnya berkedut-kedut kesal.

"Minggir, kubilang!" Nami membentak Sanji. Nadanya beda dari saat dia membentak para cowok karena tingkah bodoh mereka atau Sanji kalau dia terlalu genit. "Kamu masih mau melindunginya?!"

"Nami-san, aku hanya-"

"Zoro, tahan dia. Aku ingin bicara tanpa ada halangan," perintah Nami, dingin.

Tanpa banyak bicara, Zoro maju dan mencengkeram pundak sang rival, menghentikannya. Sanji itu memelototinya, tapi Zoro hanya menggelengkan kepalanya.

"... bisa-bisanya kau berkata begitu?!" Nami memulai dengan nada tinggi. "Pesta yang kami siapkan sejak jauh-jauh hari... itu berlebihan dan tidak perlu, menurutmu?!"

Robin tidak mengangkat wajahnya, dan itu diartikan sebagai 'ya'.

Nami benar-benar marah sekarang, "Aku... bukan, kami melakukan ini demi kamu!"

"Benar," Margaret ikut berbicara. "Meskipun akhirnya kacau seperti tadi, tapi tujuan kami jelas... untuk menciptakan kenangan terakhir yang menyenangkan untukmu, Nico-san."

Kedua cewek itu benar-benar marah. Sementara, para cowok tidak berkomentar apapun, sepertinya apa yang ingin mereka katakan sudah terwakilkan.

Robin diam saja.

"Perkataanmu seperti meremehkan upaya kami! Lalu soal merahasiakan tujuan itu... kamu menganggap kami apa?!" Nami berteriak. Belum selesai, dia menolehi para cowok, "Dan kalian! Kalian tahu ini tapi tidak mengatakan apapun pada kami. Apa alasan kalian hah?!"

Dia mengutarakan semua isi hatinya, semua kekesalannya selama pesta tadi, dengan pertanyaan tajam itu. Setelah itu dia terengah-engah.

"... apa kita ini teman?" suaranya mulai bergetar sekarang.

Biasanya mendengar Nami berteriak seperti itu, para cowok akan mengkerut ketakutan, tapi kali ini mereka menghadapinya dengan tenang.

Di luar dugaan, Usopp yang memulai membela para cowok, "Alasan kami sama seperti Robin."

"Kau-"

Nami siap meledak lagi, tapi si hidung panjang dengan gagahnya menaikkan tangan, menghentikannya. Walaupun kalau kau mengamatinya dengan seksama, keringat dingin membasahi punggungnya.

Nami menutup mulutnya, tapi dia terus memelototi para cowok.

"Lihat, Nami-san. Ini yang terjadi kalau Robin-chan terang-terangan bercerita tentang keberangkatannya. Itu akan membuat kita semua khawatir dan memperburuk mood. Seperti sekarang," Sanji berkata kemudian. "Karena itulah, kami diam saja."

"Kami para cowok sudah bertengkar hebat kapan hari, setelah Zoro menceritakan ini. Alasannya sama seperti sekarang," kata Franky.

"Bahkan Franky, Brook-sensei, dan Bon-chan, trio orang tua," Chopper menambahkan.

"Itu benar-benar buruk. Aku berpikir bahwa kelompok kecil kita bisa tamat saat itu juga," Bon-chan menambahkan, kegenitannya yang biasa hilang.

"Nggak seburuk itu ah," kata Luffy, merendah.

"Untunglah Luffy-kun dan Zoro-kun bisa menenangkan keadaan," sambung Brook.

"Tapi, Nami-san, sekarang kamu sudah mewakili kita semua," Sanji melanjutkan. "Berkatmu juga, kami menyadari apa sebenarnya yang dikhawatirkan Robin-chan."

Mata Nami dan Margaret melebar. Lagi. Terjadi suatu kejadian penting dan mereka tidak diberitahu?!

"Sebelum kau tanya, kami merahasiakan pertengkaran itu karena nggak mau kalian khawatir," Zoro mengusap lehernya. Dia lalu memandang Robin, yang saat itu sudah mengangkat wajahnya, dan memasang wajah tidak percaya seperti kedua teman ceweknya, "Dengan kata lain, inilah yang paling dikhawatirkan Robin. Perpecahan karena masalah yang ditimbulkan seorang anggota. Benar 'kan, oi?"

Robin hanya bisa membuka mulutnya, tanpa ada suara yang keluar. Para cowok melindunginya. Mereka yang dikacaukan karena dia, melindunginya.

Ia sangat berterimakasih karena itu, tapi...

"Tidak. Aku tidak sesuci itu," Robin berkata, membuat Luffy dan yang lain memusatkan perhatian padanya. Para cowok melebarkan mata, mereka tidak menyangka Robin mengabaikan pembelaan mereka! "Aku... berpikir tidak ingin membuat kalian khawatir, tapi itu sebenarnya hanya keegoisanku saja. Aku tidak ingin memikirkan kalian yang khawatir. Jadi..."

Robin tiba-tiba kehilangan suaranya... entah kenapa, matanya juga terasa panas.

"Sekali lagi aku minta maaf, karena telah membuat kalian semua begini gara-gara sifatku ini."

Cewek berambut hitam itu menundukkan kepalanya lagi.

Dengan itu, semua amarah yang dipendam Luffy dan yang lain seolah menguap. Alis-alis kehilangan kerutan, bahu-bahu yang tegang menjadi lemas, guratan otot menghilang. Sekarang setelah semua mengatakan apa yang sebenarnya terjadi... masalah pun berakhir.

Tidak ada perasaan marah yang tersisa.

Clap!

Brook menepukkan tangannya. "Oke, setelah semuanya beres... mari kita minta maaf satu kepada yang lain! Jangan ada amarah lagi di antara kita. Karena, sesuai yang dikatakan Luffy-kun, biarlah Robin-kun berpisah dengan senyuman."

-xXxXx-

Keesokan harinya, bandara internasional 'Last Tale', kota Raftel.

Sebuah rekor untuk anak-anak SH, karena mereka sudah siap saat Franky menjemput berkeliling dengan mobil van besarnya. Robin adalah yang terakhir dijemput karena dia akan membawa banyak barang. Sepanjang perjalanan menuju bandara, suasana mobil sepi... mungkin canggung karena pertengkaran malam tadi, dan juga, Robin akhirnya berpisah dengan mereka.

"Hooaaaahhhmmmm," Zoro menguap lagi untuk yang kesekian kalinya. Padahal liburan musim semi dan dia masih harus bangun pagi. "Ini terlalu pagi buatku."

"Oi marimo, jangan mengeluh! Ini demi Robin-chan."

Zoro hanya menggosok lehernya, dan berkata lagi, kali ini lebih sinis, "Dan pada akhirnya kita harus mengikuti adegan klise 'mengantar perpisahan di bandara, huh?"

"Apa masalahmu, marimo?!"

"... hanya komentar."

"Psst, Zoro itu sebenarnya nggak mau melepas kepergian Robin," kata Usopp terang-terangan.

"Cieeehhh..." Chopper, Franky, dan Bon-chan memekik bersamaan.

Nami, yang berjalan di depan para cowok bersama Robin, menoleh dan menyeringai, "Zoro tsundere,"

"Kau juga!" Zoro menuding Nami.

Muncul percikan kilat di antara mereka, pemandangan yang jarang karena biasanya Zoro mengalah. Anak-anak lain tertawa melihat itu. Ya, mood buruk mereka yang semalam hilang dan keramaian mereka pun kembali. Mungkin terpengaruh kesibukan di bandara?

Sekarang, mereka berada di ruang tunggu yang langsung menghadap ke lapangan terbang. Para cowok membawakan barang-barang Robin sementara para cewek menemaninya ngobrol.

"Aku nggak yakin apa gelondongan besi seperti itu bisa terbang di langit..." komentar Usopp, iseng.

"Kau orang gua dari mana?!" teriak Franky.

"Yohohoho! Usopp-kun berkomentar begitu karena SH belum pernah bepergian menggunakan pesawat. Paling jauh dengan Shinkansen atau kapal laut."

"Yosssh! Kalau begitu, agenda tahun depan jelas, kita pergi dengan pesawat!" teriak Luffy sambil menghembuskan napasnya.

"Ouuuu!"

"Oi, jangan bilang begitu!" Nami beranjak.

"Kenapa, Nami? Jangan merusak kesenangan!"

"H-habis, tahun depan 'kan..." Margaret melirik Robin.

Kalau tahun depan rencana mereka sukses, jelas Robin tidak bisa ikut karena dia ada di luar negeri. Mungkin kedua cewek itu khawatir mengganggu perasaan sang senpai?

"Fufufu, aku tidak keberatan kok," tapi yang bersangkutan menanggapinya dengan ringan. Robin menaikkan kacamata hitam besarnya dan berkomentar, "Berbicaralah terus, mungkin itu bisa mengurangi rasa grogiku."

"Kamu takut terbang dengan pesawat, Robin?" tanya Chopper.

"Psst, itu hanya ungkapan, Chopper!" kata Usopp.

"Oh, kamu nggak mau meninggalkan Robin dalam rencana rekreasi kelompok?" tanya Luffy, mengatakan jelas apa yang barusan dibisikkan Nami padanya, membuatnya dapat pukulan di kepala. Tapi, dia tidak peduli. "Kalau begitu, kita ke Ohara saja menjenguk Robin!"

"Ide bagussss!" teriak para cowok lain.

Nami melongo, itu benar-benar ide bagus, yang keluar dari kepala karet itu.

"Fufufu. Mendapatkan paspor untuk berwisata di Ohara susah lho," kata Robin.

"Aiya, nggak usah khawatir! Soal birokrasi SUPER serahkan padaku!" Franky mengacungkan jempolnya.

"Oi, kau nggak berpikir untuk membuat paspor palsu dan semacamnya 'kan?!" tanya Sanji.

"Nggak, itu opsi kedua."

"Kau benar-benar memikirkan itu!"

Perbincangan santai dan candaan itu terus terjadi, sampai tiba-tiba...

Ting tong ting tong.

"Pukul 07.30, sejam jam lagi pesawat menuju Ohara akan segera take-off, para calon penumpang harap segera menuju boarding room. Saya ulangi-"

"Oh, itu panggilan buatku," Robin menutup novel paperback yang dia baca dan bangkit, lalu merapikan pakaiannya. Di saat yang sama Luffy dan anggota SH lainnya menganggukkan kepala mereka. Robin tersenyum, dan bertanya, "Ada apa lagi, ketua?"

"Jangan pergi dulu karena kami punya kenang-kenangan untukmu!" kata Luffy. Anggota lain dengan kompak merogoh tas yang mereka bawa.

Oh, Robin menaikkan alisnya. Pantas mereka semua memakai ransel walaupun tidak dalam perjalanan jauh. Rupanya itu mereka membawa kenang-kenangan? Tentu saja dia akan menerimanya dengan senang hati.

Yang pertama adalah Margaret. Dia didorong Nami, dan dengan gugup memberikan benda yang ada dalam tas panggul panjangnya. Sebuah anak panah dengan hiasan bulu yang indah.

"Ini... panah klub kyudo pertamaku yang tepat kena tengah sasaran waktu kejuaraan tingkat SMP."

"Oh, ini... indah sekali. Apa benar ini untukku?"

"Tentu saja. Karena ini sudah menjadi semacam jimat keberuntungan buatku. Sejak memiliki ini aku merasa kehidupan sekolahku jadi makin ceria," kata Margaret.

"Anu, apa dalam pesawat boleh bawa senjata seperti ini?" tanya Chopper.

"Aish, bilang saja perlengkapan olahraga," kata Usopp. "Kau pikir kenapa aku bisa bebas bawa-bawa ketapel pachinko-ku tiap kali kita bepergian?"

"Lagian, itu nggak ada mata panahnya dari logam," komentar Franky.

Robin memasukkan anak panah itu ke dalam tas besarnya dengan dibantu Nami. Setelah itu, Usopp yang maju. Di tangannya ada sebuah buku cukup tebal dan sebuah kotak hitam.

"Hehehe. Mungkin ini bukan kejutan buatmu. Dariku, yearbook pesananmu dulu, lalu," Usopp membuka kotak itu, yang ternyata berisi kepingan DVD. "Taraa! Satu set, 4 DVD berisi rekaman kegiatan SH selama 3 tahun sejak kamu bergabung!"

"Oh!" Robin memang pernah memesan yearbook khusus buat anggota SH, tapi DVD itu... dia samasekali tidak tahu! Empat DVD yang masing-masing berisikan 4,7 GB video dan foto anak-anak SH?! "I-ini... luar biasa," katanya kemudian.

File sebanyak itu tidak mungkin bisa dia habiskan selama berbulan-bulan! Jelas ini akan mengobatinya kalau dia lagi kangen anak-anak.

"Aaaah?! Usopp, aku juga mau lihat itu!" kata Nami. Anggota lain di belakangnya angguk-angguk setuju.

"Sori, file jadinya semua aku cut ke DVD itu," jawab Usopp.

"Kapan kau mengerjakan ini semua...?" tanya Sanji.

"Semalaman," jawab Usopp sambil mengacungkan jempolnya.

"Pantas aku mencium bau hangus waktu menjemputmu tadi, sepertinya laptopmu SUPER gosong karena kau paksa me-render semua itu dalam semalam..." komentar Franky.

Usopp tertawa cukup kencang walaupun dia sepertinya akan tumbang kecapekan.

Setelah itu, Bon-chan maju. Dia juga membawa sebuah kotak, tapi dengan cover pink yang manis. Juga ada sebuah buku cukup tebal di sana...

"Eike ikutan kalau, begityu. Satu set DVD motivasi hidup dan bukunya dari Iva-sama, yang rencananya baru rilis akhir tahun nanti. Isinya tentang masa depan dan keajaiban."

"Gweeeeeeh~" Sanji langsung merasa mual.

"Oh, terimakasih," kata Robin, tulus. Emporio Ivankov, selain 'raja; okama, adalah seorang motivator ulung, DVD motivasi darinya sangat berharga. Apalagi yang belum dirilis resmi seperti itu!

"Asal jangan meniru jejaknya, Robin-chwaaan!" pinta Sanji.

Setelah itu, Chopper maju. Di tangan kecilnya tergenggam sebuah buku tebal. Mata Robin sudah berkilat-kilat melihat dia akan dapat hadiah buku dari teman jeniusnya itu.

"Aku juga punya buku! Ini set buku sejarah pengobatan alternatif dr seluruh dunia, gabungan hobiku dan hobimu!" kata Chopper.

"Wah, ini bagus sekali, Chopper. Aku akan sering membacanya, terimakasih," kata Robin dengan senyuman manis.

"J-jangan dikira dengan berterimakasih seperti itu kamu akan dapat bonus hadiah!" Chopper tampak kesenangan. "Ng-ngomong-ngomong, di dalamnya ada voucher diskon seumur hiduo di seluruh cabang toko 'Torino' yang menjual berbagai suplemen vitamin dan alat-alat kesehatan!"

Bahkan ketua seksi kesehatan SH itu akan terus mengawasi kesehatannya walaupun dia pergi, senyuman Robin melebar.

Sanji kemudian maju, dia juga membawa buku.

"Ini buku resep masakan khas mahasiswa, kompilasi resep dariku dan pak tua Zeff," kata Sanji dengan senyuman mantap. "Sesibuk apapun kamu sebagai mahasiswa, Robin-chan, usahakan sekali-kali masak sendiri. Jangan mengandalkan makanan jadi dari supermarket aja."

"Wah, terimakasih banyak..."

"Plus puisi cinta dariku sepanjang 3 folio bergaris di dalam-"

Pada saat itu Robin sudah tidak memperhatikannya, karena Nami sudah ada di depannya. Dia membawa sebuah kantong kertas... yang beraroma jeruk?

"Dariku," kata Nami. Dia memberikannya ke Robin yang langsung membukanya.

Sebotol parfum berwarna oranye, lalu beberapa kotak yang dari gambar di atasnya berisikan makanan.

"Wah, harumnya."

"Produk terbaru dari Kebun Jeruk Bell-mere. Parfum, lalu selai, manisan, dan sirup. Rencananya mulai tahun depan kami mulai produksi massal."

"Fufufu. Kamu menjadikan aku kelinci percobaan, Nami-chan?"

"Nggak lah! Korbannya sudah kok. Luffy, Usopp, dan Sanji-kun."

"Oi, kau terang-terangan bilang korban!" teriak Luffy dan Usopp. Mereka ingat pengalaman buruk mencoba produk ujicoba dari Nami dulu...

Setelah itu, Franky. Dia juga bawa sebuah kotak, ukurannya cukup besar. "Awww! Laptop modifikasi khusus... dengan translator bahasa kuno!"

Robin terbelalak. Laptop modifikasi dari Franky?! Pasti harganya sangat mahal! Apalagi, disesuaikan dengan jurusannya... om-om itu memang tahu saja.

"Kuereeeennnn!" kata Luffy, Usopp, dan Chopper dengan mata berkilauan.

Setelah itu, Brook. Dia membawa kotak kayu kecil dengan tuas di sampingnya. Robin membuka mulutnya, mengetahui apa yang ia dapat, lalu menekan tuas itu. Kotak itu terbuka dan mengeluarkan musik yang lembut.

"Music box dariku, berisikan lagu-lagu bersifat terapis yang akan mengurangi stress dari belajar. Yohoho, perdengarkan musik ini sebelum tidur dan kamu akan bisa lelap, secapek apapun."

"... indah sekali. Terimakasih, sensei."

Setelah itu, Luffy. Dia juga membawa kantong kertas, dan langsung memberikannya ke Robin. "Dariku!"

Robin membukanya, dan melihat... cardigan merah favorit sang ketua?

"Oi, jangan bilang kalau ini kaos bekasmu?!" teriak Sanji.

"Nggak 'lah! Ini hadiah dari pak tua waktu aku ultah kemarin, karena aku sudah punya banyak jadi kuberikan padamu!"

"... 'Baltigo'. Ini merek premium," pikir Robin. Mengabaikan modelnya yang sama dengan pakaian favorit Luffy, harganya pasti selangit. Sesuai yang diharapkan dari pemimpin partai sayap kiri, Dragon...

"Dengan ini kamu bisa cosplay jadi aku, shishishishi!" Luffy menggosok hidungnya.

"Fufufu, ide yang menarik, Luffy. Terimakasih."

Yang terakhir, Zoro. Anggota lain seolah memberinya jalan, membuat cowok berambut hijau itu memandang mereka dengan kesal. Dia berjalan malas ke depan Robin dan memberikan sebuah kantong kertas (lagi).

"... dariku," kata Zoro, dingin.

"Hei, nada bicaramu yang halus sedikit dong," komentar Sanji.

"Berisik!"

Kantong itu cukup berat, jadi isinya tidak mungkin pakaian. Robin menaikkan alisnya, apakah gerangan ini? Dia merasakan suatu permukaan yang halus dan licin. Kaca, dengan bentuk kubus. Kotak kaca?

Robin mengambilnya, dan melihat... benar, kotak kaca berisikan air jernih, dan... sebuah bola berwarna hijau. Anak-anak memiringkan kepala mereka, mencoba menebak benda apakah itu. Robin menolehi Zoro, meminta jawaban, tapi cowok itu malah memalingkan wajahnya.

"... itu... tanaman marimo 'kan?" tiba-tiba Margaret menyeletuk.

Semua mata pun tertuju padanya, termasuk Zoro yang membelalakkan keduanya lebar-lebar. Sementara Sanji menutupi mulutnya.

"Benar, itu tanaman marimo! Memang biasanya dipelihara dalam akuarium kecil!" Margaret memandang kotak kaca itu dari dekat. "Lucunyaaa!"

"D-d-dari mana, pfft, kamu tahu ini, M-ha! Margaret-cwhan?" tanya Sanji, mencoba menahan tawanya.

"Di kolam asrama ada, marimo liar sih. Waktu mengantar Hancock-sama kapan hari, Robin-senpai menanyakan ini padaku-"

Belum selesai Margaret menjelaskan, para cowok tertawa ngakak bersamaan.

"Buahahahaha!"

"Marimo, katanya!"

"Wakakakakak, benar-benar hadiah yang bagus, Zoro!"

"Dibandingkan dengan yang memberikan, nyaris nggaka ada bedanya! Ngahahaha!"

"Yoho-yohoohohohoho!" Brook terjatuh dan memukul-mukul lantai.

"Sensei, akan kupotong afromu nanti!" teriak Zoro dengan gigi setajam hiu.

"I-i-ide siapa, hahaha, ini?!" tanya Nami di tengah tawanya. Sangat tidak mungkin Zoro memberikan hadiah yang menyindir dirinya sendiri seperti itu. Tentu saja cowok yang bersangkutan itu tidak menjawabnya, tapi Nami melihat Sanji mengedipkan mata padanya di tengah tawanya yang menggelegar. Oh, idenya Sanji? Pantas. Nami pun tertawa lagi.

"Berisik, aku menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan ini, tahu!"

"Fufufufu..."

"A-apa, Robin?! Kau juga berpikir ini konyol?" tanya Zoro, dengan wajah memerah.

"Tidak, tentu saja tidak. Hadiah ini imut sekali, tidak seperti kamu, Zoro," Robin kemudian tertawa. Sungguh jarang dia tertawa, jadi anak-anak lain menghentikan tawa mereka sejenak untuk menikmati wajah tertawa puas Robin. "Terimakasih banyak, teman-teman."

-xXxXx-

Nguuuuuungggg...

Bunyi pesawat lepas landas bergaung di bandara Last Tale. Pesawat 'AirPierre' yang membawa Robin ke Ohara sudah take-off, meninggalkan SH yang memandanginya dengan senyuman lebar. Tidak ada perasaan sedih apalagi khawatir juga air mata pada perpisahan pagi itu... karena mereka mengantar seorang teman menuju masa depannya.

Sekarang mereka tengah berjalan kembali ke tempat parkir mobil. Tentu saja karena beban mereka sudah lepas, mereka bisa ngobrol santai seperti biasa.

"Selamat, Luffy," kata Nami.

"Hmm?" Luffy menolehinya.

"Kata-katamu kemarin, kalau kamu ingin berpisah dengan senyuman benar-benar terjadi."

"Shishishi. Tentu saja!" Luffy menyeringai. Dia meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. "Ngomong-ngomong... tahun depan, Zoro, Sanji, dan Margaret yang akan meninggalkan kita."

Anggota lain langsung terdiam. Dasar Luffy, dia bisa membuat suasana meriah dengan satu kalimat... dan menghancurkan mood dengan kalimat selanjutnya. Nami langsung menjitak si ketua.

"Ow! Apa salahku, Nami?!"

"Jangan rusak suasana ini, baka!"

"Aku cuma bilang-"

Kali ini Usopp dan Chopper mengeroyoknya.

"Pemberontakan! Gyaaa!"

Anak-anak yang lain hanya bisa tertawa... tertawa kering. Memang si idiot itu merusak suasana, tapi dia benar. Setelah liburan musim semi berakhir, Zoro, Sanji, dan Margaret sudah kelas 3. Dengan kata lain tahun depan mereka akan lulus dan meninggalkan SH. Dan juga, dua tahun lagi Luffy, Nami, Usopp, dan Chopper akan lulus... setelah itu, apa yang akan terjadi dengan SH?

"Hhh, Luffy benar," kata Nami, mengkonfirmasi apa yang sdengan dipikirkan anggota lain. Usopp dan Chopper menghentikan penyerangan mereka... yang sebenarnya tidak berefek karena Luffy mengaktifkan Busoshoku Koka seluruh badan. "Melepas 1 anggota saja sekacau ini, apalagi 3. Apa akan terjadi hal seperti ini lagi?"

"Jelas nggak!" Luffy melepaskan diri dari kepungan kedua temannya. "Beda dengan Robin, mereka nggak pernah sungkan membicarakan rencana mereka pada kita."

Ketiga orang yang bersangkutan tertawa kering.

"Benar juga, eike sekalian belum pernah membicarakan ini... apa rencana kalian setelah lulus?" tanya Bon-chan.

"Oh iya, kami para guru juga ingin dengar itu," sambung Brook.

Zoro, Sanji, dan Margaret saling memandang, lalu menurunkan bahu mereka.

"Aaah," Zoro menggaruk kepalanya. mending bicara sekarang daripada bermasalah nantinya, dia berpikir demikian. Rencana ke depannya sudah jelas, "Aku akan tinggal di kota untuk sementara waktu, mungkin jadi pengajar di dojo-nya Koshiro-shishou. Tapi kemudian, entahlah. Aku ingin mempelajari kendo secara lebih mendalam, mungkin aku harus pergi ke ibukota."

"Aku... entahlah, masih belum jelas. Mungkin kuliah, tapi di daerah sini saja," jawab Margaret. "Walaupun aku belum tahu jurusan apa..."

"Kalau aku... akan ke Perancis. Mempelajari teknik cuisine di negara asal fine dining. Itu adalah cita-citaku," kata Sanji dengan mantap.

Mereka bertiga telah menentukan masa depan mereka. Bukannya khawatir, anggota lain justru merasa lega. Paling tidak karena tujuan mereka sudah diketahui, mereka bisa mempersiapkan perpisahan dengan lebih baik. Cukup Robin yang bermasalah, walaupun berakhir baik.

"Oke, kalau begitu di MOS tahun ini ayo cari anggota baru!" kata Luffy kemudian, menghentikan mood mereka yang sedang turun.
"Oh, benar. Aku dan Luffy 'kan anggota OSIS, akan lebih mudah scouting," sambung Nami.

"Setuju! Cari cewek yang imut!" kata Sanji.

"Apapun yang penting anaknya menarik. Maksud saya, sifatnya, yoho," kata Brook.

"Tetap saja, yang beri penilaian terakhir itu Zoro," sambung Chopper.

"Kenapa aku?!"

"Kau 'kan wakilnya Luffy," komentar Franky.

"Ngomong-ngomong setelah Zoro lulus, siapa yang akan jadi wakil mugi-chan?" tanya Bon-chan.

"Tentu saja aku dong! Kapten Usopp-"

Brook mengabaikannya. "Nami-chan saja."

"Eeeeh?!" Nami menunjuk dirinya sendiri.

"Soalnya setelah Zoro, kamulah yang paling bisa mengontrol Luffy!" jawab Chopper.

Anak-anak lain mengangguk kompak. Termasuk Luffy.

"Benarkah? Aku butuh waktu untuk memikirkan ini~"

-xXxXx-

Robin merasa sangat bersyukur bisa mendapat teman-teman sebaik Luffy dan yang lain selama dia bersekolah di SMU Seifu. Dia mengucapkan itu berulang-ulang dalam hati sepanjang perjalanannya, selama dia menikmati kenang-kenangan dari mereka.

Dia tengah membaca yearbook dari Usopp, buku dari Chopper sudah terbaca sepertiga, dia mengenakan cardigan merah dari Luffy di atas kausnya untuk mengurangi dinginnya AC pesawat, sambil mengudap snack jeruk dari Nami. Kenang-kenangan lain tersimpan rapi di dalam tas besarnya di bagasi pesawat.

Dia berjanji dalam hati untuk segera membukanya begitu dia sampai di apartemennya di Ohara nanti.

"... puh," Robin mendengus kesekian kalinya saat melihat koleksi foto SH di yearbook.

Sekarang dia ada di bagian dua tahun lalu, saat SH mengadakan wisata ski di gunung Drum, di mana banyak kejadian konyol dan khayal terjadi. Bermula dari mengejar yeti (di Jepang ada yeti, Luffy memang jenius), mereka tersesat ke pertambangan tua di tengah badai salju. Mereka terjebak di sana karena pintu masuk tambang tertimbun longsoran salju. Wajah ketakutan kocak Nami, Usopp, dan Chopper tidak bisa dia lupakan sampai saat ini. Bahkan Zoro dan Sanji benar-benar sempat dibuat khawatir saat itu. Hanya Luffy yang santai-santai saja menghadapi semua itu. Robin juga... sempat dibuat takut.

Tapi pada akhirnya semua berakhir baik karena tambang itu tembus ke puncak gunung, di mana mereka bisa menyaksikan pemandangan matahari terbit yang luar biasa. Belakangan diketahui kalau ini ide dari Luffy bersama Franky, Brook, dan Bon-chan. Dasar gila.

"Ups, sepertinya aku terlalu banyak tertawa, pasti penumpang lain memandangiku," pikir Robin. Menghela napas panjang, dia menutup yearbook itu untuk mengistirahatkan mulutnya yang pegal karena menahan tawa.

Di saat yang bersamaan, dia melihat kotak kaca berisi marimo dari Zoro yang dia letakkan di meja tempat duduknya. Bola hijau itu melayang-layang dalam air yang jernih, lucu sekali. Robin tersenyum, pilihan hadiah itu benar-benar di luar karakter Zoro, dia tidak yakin cowok berambut hijau itu yang memilihnya sendiri. Mungkin ada campur tangan pihak luar, pikirnya.

Robin mengambil kotak kaca itu dan mengamatinya... saat itulah dia melihat sesuatu di alas kotak. Sepertinya... sebuah tulisan. Sulit dibaca karena terhalang bola marimo, tapi dia tidak kehabisan akal. Ia mengangkat kotak itu sehingga bisa membaca tulisannya dari bawah kotak. Hurufnya terbalik tapi masih terbaca dengan cukup jelas.

"Sampai jumpa, Robin.

P.S: Aku suka kamu."

"Ah..."

Robin hanya bisa menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Kemudian khawatir tulisannya akan berubah saat dia mengalihkan pandangannya. Jadi, dia membaca lagi kata-kata itu, tulisannya tetap sama. Sekali lagi... tulisannya tidak berubah.

Robin meletakkan kotak kaca itu dan mengedipkan matanya berulangkali, mencoba menghilangkan air mata yang sudah menumpuk di sana.

"Dia tahu... dia peduli... dan..." Robin menelan ludahnya. "Dia juga menyukaiku."

Ini... hadiah terindah buatnya, tanpa mengesampingkan hadiah anggota lain. Tanpa sadar, pipinya terasa basah. Dia mengusapnya, tapi tidak bisa. Air matanya... terus mengalir.

"Aku... ingin berpisah dengan senyuman, tahu," Robin tertawa. "Tapi kenapa sampai akhir pun, kamu masih bisa membuatku menangis?"

Tapi, ini beda. Ini... air mata kebahagiaan.

...

Robin mengangkat wajahnya, menatap langit-langit kabin pesawat dan bergumam mengulangi apa yang dia katakan pada Luffy dan yang lain sebelum dia berangkat.

"Perpisahan adalah bagian hidup saat kamu bertambah tua. Tapi sangat sulit bagiku untuk mengucapkan 'selamat tinggal', aku berharap bisa terus mengatakan 'halo' pada kalian. Jadi... 'halo'!"

- Chapter VII End -


A/N

Scene terakhir Robin itu salah satu scene yang paling ingin kutulis. And I think it turned out nicely :)

Jadi... dengan ini, chapter drama anak SMU-nya sudah selesai, dan kita akan kembali ke chapter penuh aksi! Humor! Anggota harem baru! Fanboys! Haters! Chapter VIII, chapter final.


Next in Two Schools, Two Worlds

Chapter VIII "Defense of the High School"

"Luffy-senpaaaaiiiiiiiiii!"