The Worst One

Desclaimer : Jelas bukan punya saya!...,

Warning : Gaje!, Au!, imajinasi Author!, OOC!, Bahasa gak baku!, Absolute Typo!, bikin sakit mata!, GAK SUKA JANGAN BACA!..., dan yang terpenting, Isekai!...,

Pairing: Naruto X Shaga

Summary : Reinkarnasi, jika diartikan maka menjadi ' kelahiran kembali ' Namikaze Naruto seorang pria baik, pintar dan Ramah namun sayang bujangan..., tewas tertusuk oleh pencuri saat menemani temannya kencan..., dan saat ia membuka matanya ia berada didalam tubuh seseorang yang sangat mirip dengan dirinya, dan disaat itulah ia hidup didunia yang penuh dengan hal Fantasy dan Supranatural...,

-Opening theme: Day of Story by Sadohara Kaori-

Chapter 49

"Nee, Kaguya... Apa yang kita lakukan disini."

Senju Kyubi mengeluh pada Otsutsuki Kaguya yang tengah mengangkat cangkir teh didepannya dan meminum teh dengan tenang.

"Kagu-chan~..."

Tidak mendapatkan jawaban dari sahabatnya itu Kyubi merengek membuat Kaguya menghela nafas dan meletakan cangkir tehnya lalu mengalihkan pandangannya menatap Kyubi yang tengah berada dalam mode ngambek.

"Bukankah tadi kau yang meminta kita untuk menyaksikan pertarungan dari Namikaze-kun?."

"... Ya aku tahu, tapikan tidak harus disini juga dan terlebih..."

Kyubi melirik kearah seberang sofa dimana disana terlihat seorang perempuan cantik bersurai pirang pucat dikuncir rapi, perempuan itu tidak memperdulikan obrolan Kaguya dan Kyubi, ia lebih memilih menikmati kue teh yang disajikan oleh Kyubi...

Kyubi menatap perempuan yang dengan santainya menyesap teh herbal tanpa memperhatikan suasana yang ada diruangan itu, Kyubi mendekatkan wajahnya ketelinga Kaguya dan berbisik.

"Kenapa harus ditempat ketua kedisplinan, bahkan Arthuria-sama juga ada disini."

Bisik Kyubi pelan membuat Kaguya menatapnya dengan bingung sebelum ia menjadi santai dan mengambil kue teh didepannya seraya berkata.

"Aku diajak kesini."

"Itulah yang ingin aku tanyakan! Kenapa disini!?."

Tanpa sadar Kyubi menaikan nada bicaranya hingga membuat Kaguya sedikit meringis merasakan telingannya yang sedikit berdengung akibat teriakan nyaring Kyubi.

"Marquis selanjutnya dari Clan Senju, Senju Kyubi... maaf jika kehadiranku menganggumu"

"Eh!?... Ti-Tidak... aku tidak bermaksud seperti itu..."

Kyubi menundukan kepalanya menghindari tatapan dari Arthuria yang tidak berisikan emosi sama sekali, Arthuria menghela nafas dan bersedekap menatap Kaguya yang ada disebelah Kyubi.

"Jadi, Marquis selanjutnya dari Clan Otsutsuki, lebih baik kita cepat selesaikan urusan disini, hari ini aku harus pergi menjenguk seseorang yang tengah sakit..."

"Ufufufu, tidak perlu serius seperti itu, Pendragon-san..."

Kaguya tertawa halus sebelum ia menyentuh sebuah Orb Crystal Visual, Crystal Visual itu bersinar terang sebelum ia menampilkan gambar dari keadaan Turnamen diarena Byakko.

"Hooh, pertandingan Namikaze-kun baru saja dimulai, lihat."

Kyubi menunjuk kearah gambar yang muncul dimana diaana terlihat Naruto berdiri menatap datar kedepan dimana sang lawan menatap Naruto dengan seringai tipis...

"Uzumaki Menma... Lawan Naruto-kun adalah Menma..."

Kaguya mengerutkan dahinya melihat kedua orang itu, Uzumaki Menma... Dari apa yang Kaguya ketahui tentang Menma adalah dia merupakan Heir dari Clan Uzumaki, Wizard berbakat, ia adalah Uzumaki termuda dalam sejarah yang membangkitkan Ancient Magic, Rantai sihir kebanggaan dari Clan Uzumaki itu... Dia adalah pemuda yang banyak dikatakan akan menjadi kebanggaan dari Clannya, Uzumaki Menma adalah pribadi yang sempurna, bahkan adiknya Otsutsuki Toneri mengatakan jika Menma adalah pribadi yang sempurna dari luar... Ya hanya dari luar...

'Dia sempurna dari luar, Ane-ue. Tapi tidak dengan sifatnya, jujur saja aku akan memilih untuk tidak mencari masalah dengan dia... Kenapa? Ya karena sifatnya, Ane-ue... Dia Licik...'

Kaguya memejamkan matanya mengingat percakapan ia dengan adiknya beberapa waktu yang lalu, dan menurut Toneri, Uzumaki Menma adalah Pribadi yang akan mengandalkan segala cara untuk mengapai keinginannya...

Kaguya menatap kearah Orb Crystal Visual yang mengambang didepannya, pandangan terarah pada Menma yang terlihat memasang senyuman percaya diri... Tidak, itu bukan senyuman tapi sebuah seringai jahat, seketika firasat buruk memenuhi relung hari Kaguya...

Firasat buruknya semakin kuat ketika ia melihat Kakashi mengangkat tangannya dan memulai pertandingan, dan ketika pertandingan dimulai... Menma langsung mengeluarkan Rantai Sihir berwarna emas pucat dari belakang tubuhnya, ia menyerang Naruto dengan salah satu rantai dibelakang, dan...

Stab!

Kaguya, Arthuria bahkan Kyubi melebarkan matanya ketika Rantai sihir Menma menampar wajah Naruto dengan keras, mereka terkejut bukan karena itu tapi karena kenyataan jika Naruto tidak bergerak sedikitpun dan menerima serangan itu secara mentah...

Setelah serangan pertama, muncul serangan kedua yang menghantam sisi lain wajah Naruto dan sekali lagi Naruto tidak bergerak sama sekali, Menma nampak menyeringai melihat Naruto yang tidak mencoba bergerak untuk menghindar dan hanya menerima serangan dari Menma.

[Owh, ada apa denganmu, Sepupu... Apa kau sedang tidak enak badan? Ini gawat, kau sebaiknya menghentikan ini dan menyerah lalu beristirahat saja diruang pemulihan, bersama dengan sih kutu buku itu, aku dengar kalian cukup dekat...]

[...]

[Wow... Jangan menatapku seperti itu sepupu, kau mulai membuatku takut~...]

Menma menyeringai dan kembali menyerang Naruto dengan rantai dibelakangnya, rantai-rantai itu menghantam tubuh Naruto dengan telak, Naruto hanya menerima semua itu tanpa berniat menghindar sama sekali...

Kaguya, Kyubi dan Arthuria melihat penyiksaan itu dengan mata melebar, mereka bertiga tidak percaya jika Naruto menerima semua serangan dari Menma tanpa melakukan pergerakan sedikirpun...

"Kenapa... Kenapa ia tidak menghindar..."

"..."

"..."

"Hey... Kenapa kalian diam?... Jawab aku kenapa dia tidak menghindar? Kaguya... Pendragon-dono!."

Kyubi bertanya pada yang lain namun hanya kesunyian yang ia dapat, Kaguya dan Arthuria tidak dapat menjawabnya sebab mereka juga tidak tahu kenapa Naruto tidak menghindar serangan dari Menma, ini membingungkan, mereka bertiga tahu jika Naruto merupakan seorang Knight yang kuat yang bahkan mampu imbang melawan Arthur, Knight terkuat diangkatan Naruto.

Dengan kemampuan yang setara dengan Arthur seharusnya menghindari serangan dari Menma itu adalah hal yang mudah, tapi ini...

Stab!

Stab!

Stab!

Kyubi menutup mulutnya dengan ekspresi tak percaya bahkan Kaguya memejamkan matanya dengan pedih, melihat Naruto disabet tanpa ampun oleh rantai sihir Menma...

Sementara Arthuria, ia menyaksikan pertarungan itu dengan ekspresi diam, namun dihatinya ia merasakan jika hatinya ditusuk oleh pisau, itu sakit... Sangat menyakitkan, dan tanpa disadari siapapun Emerlad itu meneteskan air mata yang mengambarkan rasa sakit yang pemiliknya rasakan.

.

.

.

-The Worst One: Last Arc-

.

.

.

Semerbak aroma darah mengambang didalam benteng tua yang telah ditinggalkan, dilantai terlihat beberapa orang yang telah menjadi mayat tergeletak diatas genangan cairan berwarna merah yang memiliki aroma khas logam baja yang begitu menusuk hidung.

Jleb!

Jrash!?

Suara tubuh tertusuk dan tertebas benda tajam bergema didalam benteng, dua mayat lagi jatuh ketika seorang perempuan cantik bersurai sakura lembut pendek sebahu menusuk jantung dan merobek tubuh musuh dengan pedang katana yang kini telah sepenuhnya berwarna merah dibasahi oleh darah.

Souji Okita, menatap kearah Mayat didepannya dengan mata beku yang sama sekali tidak memancarkan ekspresi penyesalan karena telah membunuh banyak orang dengan pedang Katana-nya.

Okita tidak memperdulikan nyawa mereka yang telah mati ditangannya, karena bagi Okita mereka yang telah berani meletakan tangan mereka pada Ayame Shaga, sudah dianggap mati oleh Okita...

Okita menajamkan kewaspadannya ketika ia merasakan kehadiran seseorang dibelakangnnya, dengan cepat Okita berbalik dan menebaskan pedangnya secara horizontal...

Trank!

Suara dentingan logam bergema dibenteng itu, Okita menajamkan matanya ketika melihat serangannya berhasil ditahan, namun baru saja ia akan melakukan gerakan selanjutnya sebuah suara menghentikannya...

"Wow, Wow, tenang, Okita-chan... Ini aku, Lee dan Arthur."

Okita terdiam sebelum ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya yang agak buram karena darah yang memenuhi wajahnya bahkan ada darah yang masuk kedalam matanya, setelah beberapa saat akhirnya penglihatan Okita menjadi jelas dan ia melihat Arthur tengah menatapnya dengan pandangan datar selagi ia menahan Katana miliknya dengan pedang berbentuk unik yang ada ditangannya... Dibelakang Arthur, Rock Lee mengintip kearahnya.

"Jadi, Okita-san... Bisa turunkan Katanamu ini?."

Okita terdiam dan memiringkan kepalanya dengan bingung sebelum pandangannya bergulir kearah pedang Katana-nya yang tengah ditahan oleh Arthur!?...

"Ma-Maaf, Arthur-san, ak-aku tidak bermaksud..."

Okita menurunkan pedang Katananya dan segera menundukan kepalanya pada Arthur yang hanya bisa menghela nafas dan merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sapu tangan, dengan pelan ia mengusap lembut noda darah yang menempel diwajah Okita yang hanya menegang merasakan usapan kain sutra yang membersihkan wajahnya. Arthur memandang datar Okita yang memerah malu.

"Kau ini perempuan, jadi wajahmu adalah harta berhargamu, jangan buat itu rusak dengan noda darah."

Ucap Arthur dengan kalem, ia mengusap sisi kiri wajah Okita sebelum ia tersenyum tipis setelah berhasil membersihkan noda darah dari wajah Okita.

"Nah, jika begini kau terlihat manis, Okita-san."

Blush!

Okita meledak dalam rona merah hingga ia tidak ada bedanya dengan kepiting rebus yang baru saja diangkat dari panci rebusan, ilusi uap panas juga muncul dikepala Okita yang hanya bisa menundukan wajahnya dengan malu, Arthur hanya tersenyum menatap wajah memerah Okita yang menurutnya manis.

"Te-terimakasih..."

"Sama-sama, Okita-san."

"Err... Maaf menganggu drama romantis kalian, tapi kita sedang menjalankan misi disini?."

Sebuah suara membuat Okita dan Arthur menoleh kesamping dan kedua Knight itu melihat Lee tengah menatap kedepannya dengan satu tangan terangkat menginstruksikan keadaan mereka, Okita memerah malu dan langsung berbalik lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangannya sementara Arthur mengangguk pelan seolah tidak terpengaruh atas sindiran halus Lee.

"Ya aku tahu, kita tunggu perintah selanjutnya dari Tobio, ia ketua yang ditunjuk untuk memimpin kita oleh, Naruto-san."

Lee mengangguk pelan, benar apa yang dikatakan Arthua biarkan pemimpin tim penyelamat Shaga memberikan mereka arahan, tak lama ketiga orang yang baru saja dibicarakan muncul dan berjalan masuk kedalam dengan santainya. Okita, Lee dan Arthur menatap kearah tiga orang itu dengan dahi berkerut... Eerrr, tidak mereka bukan tengah menatap ketiga orang itu melainkan dua senjata yang dipegang oleh dua orang pemuda tampan didepan mereka...

Pemuda bersurai hitam dengan iris mata Pale Grey mengenggam Sebuah pedang besar berwarna hitam kelam dengan ukiran simbol aksara kutukan yang rumit mengeluarkan aura hitam yang mengintimidasi sekitar.

Sementara pemuda bersurai hitam dengan iris mata biru tengah mengenggam sebilah tombak berwarna putih tanpa noda, disekitar tombak itu terdapat aura yang begitu menenangkan namun kuat disaat yang bersamaan... Hanya dengan melihat Melihat dua senjata itu saja Arthur, Lee dan Okita paham jika kedua senjata itu bukanlah senjata sembarangan.

"Yo, kalian melakukan tugas kalian dengan baik."

Tobio berujar dengan nada santai selagi ia menatap kearah beberapa mayat yang tergeletak diatas genangan darah mereka sendiri, dibelakang ketua, Miya dan Cao Cao mengikuti dengan langkah pelan. Tobio mengalihkan pandangannya dan tersenyum pada Lee, Arthur dan Okita yang menatapnya dengan tatapan biasa.

"Baiklah, karena kita berhasil masuk kedalam tempat ini maka kita akan masuk ketahap selanjutnya..."

Tobio membuat wajah serius ketika mengatakan itu membuat yang lain menatapnya dengan serius, mereka membuka telinga mereka dengan lebar.

"Kita akan berpencar, kalian akan dipasangkan secara kelompok, aku dan Miya, Arthur dan Okita, lalu Lee dan-,"

"Tidak, aku pergi sendiri, Taichou."

Ucapan Tobio terpotong oleh Cao Cao yang mengangkat tangannya memberikan intruksi, membuat Tobio menatap Cao Cao sejenak.

"Apa kau yakin? Berdua lebih baik daripada kau sendiri."

"Ya, aku yakin, Taichou... Lagipula lebih baik aku mencari sendirian, maaf bukannya aku tidak ingin bersama dengan Lee-san hanya saja aku lebih nyaman bekerja sendiri daripada membawa orang lain bersamaku."

Ucap Cao Cao dengan serius membuat semua menjadi diam sebelum Tobio menghela nafas dan menatap kearah Cao Cao dengan raut muka serius.

"Baiklah, kau akan pergi sendirian tapi berhati-hatilah karena kita tidak tahu musuh seperti apa yang kita hadapi..."

Ucap Tobio membuat Cao Cao tersenyum tipis dan menepuk-nepuk bahunya dengan tombak ditangannya."Aku mengerti, Taichou." ucap Cao Cao dengan senyuman tipis.

Tobio menatap senyuman Cao Cao sebelum ia mengalihkan pandangan pada yang lain.

"Tugas utama kita adalah menemukan, Hime-sama. Jika ada yang menghalangi maka bunuh mereka karena bagaimanapun mereka telah melakukan kejahatan pada anggota keluarga kerajaan, dan hukumannya sudah jelas mati! Jadi kerahkan semua kekuatan kalian dan selamatkan tuan putri!."

"Ouuu!"

setelah mengatakan itu semuanya pun berpencar dengan tim mereka masing-masing, Miya dan Tobio berjalan menuju kearah barat Benteng, sementara Arthur, Lee dan Okita bergerak timur meninggalkan Cao Cao yang terdiam ditempat, ia menepuk bahunya dan mengarahkan pandangannya kedepan...

"Sekarang... Kemana aku harus mencari..."

.

.

.

Cao Cao berjalan dengan tenang disepanjang lorong benteng iris Blue miliknya memperhatikan interior benteng tua yang menurutnya cukup mewah, bagaimana tidak? Disepanjang jalan ia menemukan Full Armor lengkap yang sudah tua dan karatan berjejer didekat dinding.

Setiap Armor dilengkapi oleh senjata mulai dari pedang, kapak, tombak, cambuk, panah, dan Gada yang sudah mulai berkarat. Cao Cao menatap setiap armor itu dengan tajam, entah kenapa ia merasa jika ada yang aneh dengan Armor-Armor itu... Cao Cao mengalihkan pandangannya ia mengabaikan firasat yang ia rasakan.

Namun ketika Cao Cao baru saja mengambil langkah keempat tiba-tiba, salah satu Armor diselimuti aura kebiruan dan dengan ajaib Armor itu bergerak dan melompat dengan kapak tua yang siap membelah Cao Cao.

Merasakan bahaya dibelakangnya dengan cepat Cao Cao memiringkan tubuhnya dan membuat kapak tua itu membelah dan terbenam dilantai.

Blaaar!

Cao Cao menatap datar Armor yang telah diselimuti aura biru aneh didepannya, Armor tidak dapat bergerak sebab ia tengah berusaha menarik kapaknya yang tertancap ditanah, Cao Cao terdiam melihat Armor bergerak itu sebelum ia dengan santainya memukul Helm Armor itu dengan gagang Tombaknya.

Ting!

Bruuuk!

Cao Cao terdiam menatap armor yang berserakan didepannya, sebelum ia mengangkat bahunya dan segera meninggalkan armor rongsokan itu, namun baru saja Cao Cao akan berbalik tiba-tiba armor yang berserakan itu kembali mengeluarkan aura kebiruan dan dalam sekejap baju armor itu kembali berdiri tegak dan dengan kapak tua ditangannya dan menatap Cao Cao dengan mata biru bersinar, Cao Cao terdiam melihat armor itu sebelum ia melirik kesamping dan ia melihat armor yang lain mulai hidup dan berjalan kearahnya, Cao Cao menghela nafas melihat Gerombolan Zirah tua bergerak kearahnya dengan senjata teracung padanya.

"Ini akan merepotkan..."

Ucap Cao Cao selagi ia memutar tombaknya dan langsung melesat menyerang gerombolan para Rongsokan tua itu, Cao Cao menebas armor pertama membuat armor itu jatuh dan berserakan dilantai, Cao Cao memutar tombaknya dan menebas armor kedua dan ketiga yang menyerangnya dengan tombak dan pedang mereka, membuat kedua armor itu terpencar dan berserakan, Ia terus menyerang gerombolan armor itu dengan kecepatan tinggi hingga puluhan lempengan armor berterbangan diudara, dan dalam sekejap puluhan lempengan Armor menumpuk.

Cao Cao menatap tumpukan Armor itu dengan datar sebelum ia memutar tombaknya dan menghentakannya kelantai lalu dalam sekejap cahaya putih lembut menyeruak dari tombak Cao Cao, butiran-butiran cahaya berjatuhan tepat diatas tumpukan Armor itu, tak lama cahaya putih meredup dan menghilang, Cao Cao menghela nafas...

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya memang benar jika Shaga-hime berada disini..."

Meskipun ia berkata seperti itu tapi Cao Cao memiliki firasat jika menemukan Shaga-hime didalam benteng luas ini akan semakin sulit sebab menilik dari system yang pertahanan seperti ini maka siapapun yang menjaga Shaga-hime maka orang itu bukan orang sembarangan. Cao Cao meletakan tombak sucinya kebahunya dan menatap datar tumpukan Armor didepannya.

"Aku harap ini hanya sekedar firasatku saja..."

Cao Cao menghela nafas dan kembali melanjutkan pencariannya, setelah beberapa saat melangkah dilorong pandangan Cao Cao menangkap sebuah pintu besar yang tak jauh darinya, Cao Cao menatap pintu kayu besar didepannya dengan pandangan datar sebelum ia mengulurkan tangannya dan membuka pintu itu.

Didalam Cao Cao disambut oleh sebuah ruangan yang terlihat seperti tempat dimana Prajurit melakukan latihan, Cao Cao masuk kedalam ruangan itu dan menatap kesekeliling dimana ia melihat banyak sekali peralatan latihan yang sudah tak terurus.

Cao Cao mendekati peralatan yang terpajang disana dan mengambil sebuah tombak yang sudah berkarat pada bagian ujung mata tombaknya.

"Semoga kau beristirahat dengan tenang temanku."

Cao Cao berdoa untuk tombak yang telah kehilangan kehormatannya itu sebelum ia meletakannya ketempat peristirahatan terakhirnya, sikap Cao Cao yang menghormati senjata terinspirasi dari sikap Naruto yang selalu berdoa ketika pedang kayu yang ia bawa saat training Camp rusak akibat latihan keras yang ia lakukan, awalnya Cao Cao bingung dengan sikap Naruto yang memberikan kehormatan pada benda mati, tapi ketika Naruto menjelaskan alasan kenapa dia melakukan itu pandangan Cao Cao terhadap senjata berubah total...

[Senjata adalah seorang sahabat yang tidak akan pernah mengkhianatimu, ia tidak akan segan melindungimu disaat bahaya mengancam-mu dan ia akan menjadi pelindung bagi dirimu dan orang yang kau sayangi, dan karena itu... Apa salah memberikan penghormatan terakhir untuk jasa dari 'sahabat'mu?.]

Cao Cao tersenyum mengingat perkataan dari Naruto, Knight yang paling ia hormati itu tidak memandang senjata sebagai sebuah alat tapi ia memandang senjata yang ia punya sebagai sahabat, seorang sahabat yang tidak akan pernah mengkhianatimu, Cao Cao menatap Tombak dibahunya yang mengeluarkan Cahaya lembut, Cao Cao tersenyum pada tombak ditangannya.

"Ha'i, Ha'i, aku juga menyayangimu."

Cao Cao melebarkan senyuman ketika tombak ditangannya mengeluarkan cahaya yang terlihat cukup terang, seperti tombak itu dapat memahami perkataan Cao Cao terbukti dari cahaya yang merespon saat mendengar perkataan Cao Cao.

"Melakukan penghormatan pada sebuah senjata? Irreguler era ini sangat unik."

Cao Cao terdiam ketika ia mendengar sebuah suara dibelakangnya, dengan pelan Cao Cao menoleh kebelakang dan ia melihat seorang pemuda bersurai putih dengan pakaian yang terlihat unik tengah berdiri menyenderkan tubuhnya pada tembok dan menatapnya dengan wajah tanpa emosi.

"Siapa kau..."

Cao Cao berujar dengan nada dingin, selagi iris blue miliknya menatap tajam pemuda yang hanya diam menatap datar Cao Cao.

'Orang ini, sejak kapan dia berdiri disana... Aku sama sekali tidak merasakan hawa kehadirannya sampai tadi dia menegurku... Dia, bukan orang sembarangan...'

Pemuda itu menatap Cao Cao yang mengambil sikap waspada terhadapnya, ia mengambil tombak yang ada disebelahnya dan berjalan mendekati Cao Cao yang semakin mewaspadainya, setelah mengambil langkah keempat pemuda itu berhenti ditempat dan mengarahkan mata tombaknya dan menatap datar kearah Cao Cao.

"Namaku Karna..., kau, Salah satu Irreguler, Cao Cao. Aku menantanganmu dalam duel."

Ucap pemuda bernama Karna itu selagi ia merendahkan posture tubuhnya dan menatap datar Cao Cao yang terdiam menatapnya, Karna memiringkan kepalanya melihat Cao Cao yang hanya terdiam ditempat.

"Ada apa? Apa kau tidak ingin bertarung denganku?."

"Tidak, hanya saja aku tidak memiliki alasan untuk bertarung denganmu, Karna-san."

Ucap Cao Cao menatap datar Karna yang diam memandamg Cao Cao sesaat sebelum ia melunakan posture tubuhnya dan menghentakan tombak emas miliknya ketanah.

"Begitu, jadi apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu mau menerima tantangan dariku, Cao Cao-san."

"Entahlah? Berikan aku satu alasan yang cukup kuat untuk aku menerima tantangan darimu, Karna-san."

Cao Cao menatap Karna yang terdiam selagi ia memasamg pose berpikir yang sangat khas, ia menyentuh dagunya dan berpikir sejenak sebelum ia kembali menatap kearah Cao Cao yang menatapnya dalam diam.

"Bagaimana jika aku mengatakan padamu bahwa aku tahu tempat dimana temanmu itu ditahan, apa dengan alasan itu kau mau menerima tantanganku, Cao Cao-san?."

Ucap Karna membuat Cao Cao terdiam dan menatap Karna sebelum sebuah senyuman ramah terpatri diwajah Cao Cao, dan dalam sekejap Cao Cao Menghilang dari tempatnya dan dalam sekejap Cao Cao sudah berada didepan Karna dengan Tombak yang terhunus kedepan...

Trank!

Suara logam berbenturan bergema diruangan itu, Karna menahan serangan mendadak Cao Cao dengan timing yang tepat, Karna menatap kearah Cao Cao yang memberikan tekanan pada tombaknya.

"Alasan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku membunuhmu, Karna."

Cao Cao menatap dingin Karna yang menatap balik dirinya dengan datar, sepertinya Karna tidak terpengaruh oleh intimidasi yang dikeluarkan Cao Cao. Karna mementalkan serangan Cao Cao dan memberikan serangan cepat yang dengan mudah berhasil ditahan oleh Cao Cao.

Kedua pemuda itu melompat kebelakang menjaga jarak, Cao Cao merendahkan tubuhnya dan mengarahkan mata tombaknya pada Karna yang juga merendahkan tubuhnya. Cao Cao menatap tajam Karna.

"Jika aku bisa mengalahkanmu dalam duel ini, apa kau mau memberitahu dimana temanku ditahan?."

"Tentu saja, aku bersumpah dengan jalanku sebagai seorang Lancer..."

Ucap Karna membuat Cao Cao terdiam, ia tidak merasakan kebohongan dari nada bicara Karna, sepertinya Karna adalah seorang Knight yang menjunjung tinggi Martabat seorang Knight, dan itu menjadikannya sebagai Knight terhormat yang bertarung demi keyakinan yang ia pegang dan dimata Cao Cao, Karna adalah seorang Knight terhormat. Bahkan Tombak Cao Cao mengeluarkan aura lembut yang menyetujui firasat Cao Cao.

Cao Cao menegapkan tubuhnya dan dengan cepat ia menghentakan senjatanya kelantai membuat suara dentingan bergema diruangan itu, dengan suara lantang Cao Cao berucap.

"Atas Rahmat Dewi, Lalatina. Aku, Cao Cao menerima tantangan duel dari Knight terhormat Karna..."

Setelah mengucapkan kata-kata itu Cao Cao kembali merendahkan tubuhnya dan menyiapkan posture bertarung, Karna yang melihat tantangan diterima oleh Cao Cao tersenyum tipis sebelum senyuman itu lenyap dan digantikan gesture bertarung.

Kedua pemuda dengan senjata tombak ditangan mereka menatap tajam satu sama lain, sebelum keduanya dengan cepat melesat memotong jarak antara mereka.

Trank!

Kedua tombak berbenturan satu sama lain, Cao Cao mementalkan tombak Karna dan melakukan serangan cepat yang langsung ditahan dengan baik oleh Karna, keduanya melakukan jual beli serangan hingga membuat ruangan itu dipenuhi suara dentingan logam yang bergema disana.

Trank!

Cao Cao dan Karna saling menekan satu sama lain dengan tlmbk mereka, terlihat keduanya nampak menikmati pertarungan mereka, Karna memundurkan tubuhbya kebelakang sebelum ia dengan cepat menyerang Cao Cao dengan serangan beruntun, Cao Cao yang melihat tidak tinggal diam dan menahan semua serangan beruntun Karna. Keduanya melompat kebelakang dan menjaga jarak mereka selagi mata mereka menatap tajam lawan mereka, Karna menempatkan tombak kesamping tubuhnya.

"Kau Kuat..."

"Terimakasih..."

Cao Cao menerima pujian Karna dengan senang hati, baginya menerima pujian dari seorang Knight terhormat seperti Karna adalah sesuatu yang menyenangkan, Cao Cao menatap tajam Karna.

"Kau belum mengeluarkan semua kemampuanmu bukan, Knight Karna."

"Begitu juga denganmu, [Irreguler]. Cao Cao."

"Aku rasa saatnya meningkatkan level duel ini, Karna."

Cao Cao mengatakan itu selagi ia mengalirkan [Mana] kepada Tombaknya membuat tombak itu mengeluarkan cahaya yang tenang namun kuat.

"Itulah yang aku inginkan, Cao Cao."

Karna mengalirkan [Mana] miliknya dan membuat tombak ditangannya diselimuti oleh api yang menari dengan pelan, kedua Ahli tombak itu menatap satu sama lain sebelum melesat dan kembali berbenturan satu sama lain.

Cao Cao melakukan serangan cepat dan berhasil ditepis oleh Karna dengan tombak apinya, Karna membalas Cao Cao dengan mengayunkan Tombak apinya secara Horizontal bermaksud merobek dada Cao Cao namun itu berhasil dipatahkan dengan epic oleh Cao Cao.

Trank!

Bunga api memercik ketika Tombak putih Cao Cao berbenturan dengan tombak api Karna, keduanya menatap satu sama lain dengan hasrat menjatuhkan lawan kuat didepannya terpancar jelas dikedua mata mereka.

Cao Cao dan Karna saling menekan satu sama lain keduanya terlihat seimbang namun tidak seperti itu, Cao Cao mengeraskan wajahnya dan menatap Karna yang hanya memasang wajah datar.

'Orang ini, dia telah bertukar serangan denganku dalam waktu yang cukup lama tapi dia tidak terlihat kelelahan, bahkan dia tidak berkeringat sama sekali...'

Cao Cao dengan sekuat tenaga mementalkan Tombak api Karna dan segera melompat kebelakang menjaga jarak dari Karna yang hanya melihat Cao Cao dengan tanpa ekspresi, Karna melunakan posturenya, api yang menyelimuti tombaknya perlahan menghilang.

"Kau, memiliki Potensi yang luar biasa sebagai seorang Lancer Cao Cao... Dan kami menginginkan Potensi sepertimu, juga dengan [Longinus] High-tier milikmu itu kau bisa menjadi seorang penguasa."

Karna berujar dengan nada kosong mengabaikan Cao Cao yang melebarkan matanya, orang ini Karna... Mengetahui jika Tombak yang dipegang Cao Cao adalah salah satu dari [Longinus], firasat buruk langsung menghinggapi Cao Cao.

"Kau... Siapa kau sebenarnya, Karna-san."

Cao Cao menatap tajam Karna, kewaspadaan Cao Cao meningkat sampai kepuncaknya, orang ini mengetahui jika senjata ditangannya adalah Longinus dan orang ini dengan tanpa ragu melawannya meskipun dia tahu jika ditangannya ini adalah salah satu dari ketiga belas senjata yang dapat merusak sistem dunia. Karna menaruh tombaknya dibahu dan menatap kosong Cao Cao.

"Aku akan memperkenalkan namaku sekali lagi..."

Cao Cao waspada ketika ia melihat perlahan Karna diselimuti aura yang begitu besar, Cao Cao merasakan jika suhu diruangan ini mulai memanas dibarengi dengan aura Karna yang semakin melimpah, Karna menatap kosong Cao Cao yang mulai kesulitan bernafas.

"Namaku adalah Karna, Son The Gods of Sun... Salah satu petinggi dari serikat Balam."

Cao Cao melebarkan matanya mendengar jika orang didepannya berasal dari organisasi yang paling diwaspadai didunia ini, Serikat Balam, Organisasi berisikan orang dengan Kekuatan yang membuat semua Ras mewaspadai mereka, dan orang didepannya adalah salah satu petinggi dari Organisasi itu!? Itu menjelaskan bagaimana orang ini bisa mengetahui jika dia adalah salah satu pemilik dari [Longinus], sial... Organisasi yang diwaspadai keempat Ras memang luar biasa menakutkan.

"Bagaimana Cao Cao, apa kau berniat masuk kedalam serikat Balam?."

"Bagaimana jika aku menolaknya?."

Cao Cao bertanya selagi ia berhati-hati dengan Karna yang diam menatapnya, dilihat dari Aura menakutkan Karna maka sudah jelas kesempatan menang Cao Cao sangatlah tipis dan menyentuh kalimat mustahil!. Karna menghela nafas dan melenyapkan Aura superior yang menyelimutinya.

"Jika begitu maka aku akan membiarkanmu..."

"Heh?..."

Mendengar jawaban tak terduga dari Karna membuat Cao Cao bergumam bodoh, Karna menghela nafas dan menatap kosong Cao Cao.

"Kau tahu, aku tidak suka memaksakan sesuatu yang tidak disukai orang lain, dan lagipula akan menjadi membosankan jika bertarung denganmu dalam keadaan dimana kau belum bisa mengeluarkan potensi penuh dari [True Longinus] mu itu."

Karna menunjuk tombak Suci Cao Cao dengan enggan sebelum ia mengetuk tombak emas-nya dibahunya membiarkan Cao Cao yang terdiam ditempat dan menatapnya dalam diam. Karna melepaskan tombak emas ditangannya membuat Tombak itu berubah menjadi butiran cahaya yang menghilang dalam ruangan kosong.

"Kuasai tombakmu itu, karena bagaimanapun takdir telah mengikat kita berdua, kita berdua akan bertarung sampai mati untuk menentukan siapa pemilik Tombak yang mewakili tuhan sesungguhnya..."

Karna membalikan tubuhnya meninggalkan Cao Cao yang diam mencerna perkataan Karna, apa maksud dari perkataannya itu, menentukan siapa pemilik tombak yang mewakili tuhan sesungguhnya? Tunggu sebentar! Bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang! Cao Cao dengan cepat menatap kearah Karna.

"Hey! Bagaimana dengan janjimu!."

"Ah, temanmu ada dipuncak benteng ini, kau bisa menemuinya disana... sampai jumpa Cao Cao aku akan menantikan pertarungan kita setelah kau sudah menjadi lebih kuat."

Karna melebur menjadi cahaya setelah mengatakan itu meninggalkan Cao Cao yang terdiam ditempat menatap kepergian Karna...

"Salah satu petinggi serikat Balam, Karna."

Cao Cao mengumamkan nama Karna dan menyimpannya dalam ingatannya, hari ini ia telah mengalami kejadian tak terduga dimana ia bertemu dengan salah satu petinggi dari serikat balam, Karna... Orang itu dia kuat, sangat kuat... Hanya dengan bertukar serangan dengannya ia tahu jika Karna belum menganggap serius duel tadi, ia hanya seperti sedang mengetes kemampuan dari Cao Cao dan ia memutuskan jika Cao Cao belumlah layak untuk melawan dirinya. Juga... Aura menakutkan itu...

Cao Cao mengeratkan tangannya, ia tidak tahu sekuat apa Karna tapi sepertinya ia harus bersyukur jika Karna tidak membunuhnya dalam duel tadi, Cao Cao yakin jika Karna lebih dari mampu untuk membunuhnya dalam duel tadi, tapi karena dia adalah seorang Lancer yang bermartabat ia tidak membunuh orang tidak yang layak dia bunuh, Cao Cao mengertakan giginya.

"Sial..."

Cao Cao lebih dari tahu jika kemampuan yang dimilikinya sekarang belum cukup, ia harus lebih banyak berlatih lagi, Cao Cao menatap kearah [True Longinus] ditangannya.

"Aku harus lebih memahamimu lagi, [True Longinus]."

Cao Cao bergumam pelan dan seolah [True Longinus] memahami apa yang Cao Cao katakan Tombak itu mengeluarkan cahaya yang lembut membuat Cao Cao tersenyum tipis, menaruh dibahunya, Cao Cao langsung berjalan menuju tempat dimana Temannya, Shaga-hime berada.

Cao Cao keluar dari ruang latihan itu dengan wajah seolah apa yang terjadi didalam tidak hanyalah sebuah ilusi, Cao Cao menghela nafas lelah dan segera berjalan menuju tempat yang dikatakan oleh Karna tadi, namun baru saja ia akan berbalik telingannya menangkap suara langkah kaki cepat yang menuju kearahnya, dengan pelan Cao Cao mengalihkan pandangan kesamping dan ia melihat lima orang berlari kearahnya dengan kecepatan tinggi dimana Okita memimpin dengan kecepatan luar biasa miliknya disusul oleh Lee, Arthur, Miya dan Tobio dibelakangnya.

Cao Cao mengerutkan dahinya ketika melihat tubuh mereka dipenuhi oleh bercak darah bahkan Okita yang hampir tubuhnya dipenuhi darah mereka terlihat seperti seorang pembunuh berantai yang menemukan targetnya... Yang tak lain adalah dirinya.

"Cao Cao-san!? Apa kau baik-baik saja?."

Cao Cao menatap Okita yang berlumuran darah didepannya dengan pandangan yang seolah mengatakan.'bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja?.' Cao Cao merasakan seseorang menguncang bahunya dengan kuat, dan dia adalah Taichou diclub penelitian ilmu alam.

"Kawan! Apa kau baik-baik saja!? Jangan mati!."

Duakh!

Tobio yang heboh sendiri mengaduh kesakitan ketika dengan tidak berperikemanusiaan Miya menghantam kepala Tobio dengan sarung pedangnya menciptakan sebuah benjolan kepala disana.

"Miya itu kejam kau tahu..."

Ucap Tobio mengeluh dengan mata berkaca-kaca pada Miya yang hanya memutar matanya dengan bosan, ia meletakan pedang kesayangannya kepinggangnya.

"Diamlah, kau bodoh! apa kau sadar jika kau lah yang akan membunuh Cao Cao dengan kelakuan bodohmu itu, Huh!."

"Ugh... Tapi tidak seperti itu juga, kau harusnya menegurku dengan lembut..."

"... Tobio, itu tadi adalah cara paling lembut yang aku ketahui untuk orang sepertimu."

"... Miya, kau kejam..."

"Terimakasih."

"Itu bukan pujian!?..."

Miya mengabaikan teriakan Tobio dan menatap Cao Cao yang tengah mengambil nafas dengan rakus untuk mengisi paru paru-nya, guncangan Tobio tadi hampir membunuhnya!.

"Bagaimana keadaanmu, Cao Cao apa kau terluka? Kami tadi merasakan tekanan energi yang besar dari sini apa kau baik-baik saja?."

Cao Cao terdiam menatap Miya yang mengkhawatirkan dirinya, tidak hanya Miya tapi semua juga mengkhawatirkannya... Pasti ini diakibatkan lonjakan kekuatan dari Karna tadi, menyebarkan Aura sampai dapat dirasakan oleh semua orang dibenteng ini membuat Cao Cao semakin yakin jika ia baru saja selamat dari depan pintu kematian, Cao Cao menghela nafas ia harus lebih banyak berlatih nanti.

"Aku akan mengatakan apa yang terjadi, namun sekarang kita harus pergi ketempat dimana Shaga-hime ditahan."

Ucap Cao Cao membuat setiap pasang mata menatapnya dengan pupil melebar.

"Kau tahu dimana, Shaga-sama berada?."

"Ya, aku mengetahuinya, ikuti aku..."

Cao Cao menjawab Arthur sebelum ia berbalik dan berjalan, yang lain menatap satu sama lain sebelum mereka berjalan menyusul Cao Cao...

"Ngomong-Ngomong, kenapa kalian bisa seperti ini?."

Tanya Cao Cao tanpa mengalihkan pandangannya, Miya dan yang lain terdiam sebelum mereka dengan kompak mengatakan.

[Banyak hal yang terjadi]

Membuat Cao Cao langsung menutup mulutnya, dan menatap kedepan dengan datar... Sepertinya mereka terutama Okita telah membantai seluruh orang dibenteng ini itu adalah alasan yang bisa dipikirkan Cao Cao setelah melihat bagaimana kondisi mereka terutama Okita yang dilumuri darah.

Mereka berenam menaiki tangga yang mengarah kelantai paling atas benteng, ditemani obor yang menerangi jalan, mereka semua sampai ditempat paling ditinggi dibenteng, disana Cao Cao melihat dua penjaga yang mengenakan pakaian dengan jubah yang menutupi hampir seluruh tubuh mereka, melihat itu Tobio melirik Okita dan Lee yang juga menatap Tobio, keduanya mengangguk pelan dan dalam sekejap mereka berlari menuju dua orang itu.

"H-Hey... Mu-Musuh!."

"Se-Serangan mereka!..."

Melihat musuh muncul secara mengejutkan, dua orang itu berusaha menyerang Okita dan Lee namun karena kecepatan Okita dan Lee juga kesigapan musuh yang tak bagus membuat kedua orang berjubah itu meregang nyawa dimana Okita menusuk jantung orang berjubah itu sementara Lee mengurus yang tersisa dengan Axe kick kuat yang langsung membuat orang berjubah itu membentur tanah dengan keras, darah membasahi tudung kepala menandakan orang itu telah mati.

Lee menatap keduanya sebelum ia menoleh kebelakang dan mengangkat jempolnya memberikan tanda pada mereka, Tobio mengangguk dan bergerak menuju Lee dan Okita.

"Kerja bagus."

Memuji mereka berdua, Tobio langsung mengintip celah pada pintu itu dan didalam ia melihat seorang perempuan cantik bersurai pirang panjang tengah tertidur diatas ranjang dengan mata terpejam, ciri-ciri itu sudah jelas jika orang itu adalah Shaga-hime

"Miya... Lakukan."

Ucap Tobio selagi ia mundur kebelakang memberikan jalan untuk Miya yang langsung membuat Fighting Stance dan meletakan tangannya diatas gagang pedangnya, dan dalam satu tarikan nafas tiba-tiba pintu didepan mereka terpotong menjadi dua dan ambruk kesamping, itu tadi gerakan menebas yang begitu cepat hingga semua hanya melihat sekilas Miya menarik keluar pedangnya.

Arthur yang merupakan anggota keluarga kerajaan dan bangsawan terpenting dikerajaan Alvarez masuk kedalam dan langsung menuju kearah Shaga, Arthur mengcheck keadaan Shaga dan ia menghela nafas lega melihat keadaan Shaga yang baik-baik saja.

"Misi berhasil, kita harus segera membawa Shaga kembali secepat atau sesuatu yang buruk akan terjadi pada Naruto-san."

Ucap Arthur berusaha menjulurkan tangannya untuk mengendong Shaga namun ketika tangannya sedikit lagi akan menyentuh Shaga tiba-tiba sebuah tangan mencegahnya, Arthur menatap kebelakang dan ia melihat Tobio menatapnya dengan datar.

"Tobio-san, kenapa kau menghentikanku?."

Arthur bertanya pada Tobio yang hanya diam sebelum ia melirik kearah Cao Cao dan menyuruhnya mendekat, Cao Cao mengangguk pelan lalu dengan cepat ia mengarahkan tombaknya pada kening Shaga dan dengan kecepatan tinggi Cao Cao menusuk kening Shaga, Arthur melebarkan matanya melihat hal itu! ia berusaha bangkit untuk menghentikan Cao Cao namun suara benturan langsung bergema disana membuat Arthur terdiam...

Krak!

Krak!

Krak!

Arthur terdiam ketika ia melihat dikening Shaga sesuatu seperti lingkaran Magic muncul disana, lingkaran Magic itu perlahan retak dan dalam sekejap retakan menyebar dan hancur berkeping-keping, Cao Cao yang melihatnya menaruh tombak suci kebahunya. Tobio menatap hal itu sebelum ia melirik kearah Arthur yang ada disebelahnya.

"Shaga-hime terkena Magic yang membuatnya tidak bisa terbangun dari tidurnya, Magic ini mirip dengan [Illusion Magic] yang memberikan ilusi pada target hingga target tak sadarkan diri, Aku mengetahui hal ini dan meminta Cao Cao menghancurkan Magic itu dengan tombaknya."

Tobio berujar datar sebelum ia mengalihkan pandangannya dari Arthur dan menatap Shaga, Arthur awalnya diam mencerna perkataan Tobio namun ia akhirnya paham jika Tobio sudah memprediksi hal ini dan dengan cepat ia menemukan solusinya, dia memang orang yang tepat untuk menjadi seorang pemimpin, rasa hormat Arthur pada Tobio naik sedikit...

Perlahan Shaga menunjukan tanda-tanda akan sadar dan tak lama sepasang Violet indah terbuka, Shaga mengerutkan dahinya ketika ia melihat atap yang berbeda dengan atap ruang pemulihan Academy, Shaga bangkit dan bersadar pada ranjang, ia mengerutkan dahinya ketika merasakan kepalanya terserang rasa nyeri dan mulai meringis.

"Shaga-sama!..."

Shaga yang tengah terserang sakit kepala mengalihkan pandangannya dan ia melihat Arthur tengah menatapnya dengan wajah khawatir, Shaga menaikan satu alisnya melihat adik dari Arthuria.

"Arthur-kun? Apa yang kau lakukan disini dan..."

Shaga mengalihkan pandangannya dan seketika ia mengerutkan dahinya ketika ia melihat wajah yang ia kenali, bukankah mereka adalah teman-teman dari Tunangannya, Naruto-kun.

"Kalian? Apa yang kalian lakukan disini?..."

Shaga bertanya dengan bingung, Tobio yang ditunjuk sebagai ketua oleh Naruto melangkah kedepan dan dengan gaya layaknya seorang Knight kerajaan, Tobio menundukan tubuhnya dan memberikan hormat pada Shaga.

"Kami disini untuk menyelamatkan anda, Shaga-hime."

Dalam misi khusus seperti ini Tobio akan menjadi seseorang yang sangat formal dan membuat Miya yang ada dibelakangnya mendesah panjang sambil memijat pelipisnya melihat tingkat ketua Club mereka itu.

Shaga menatap bingung Tobio, Menyelamatkan dirinya dia bilang? Memang apa yang terjadi pada dirinya? Hmm? Tunggu sebentar... Shaga mengalihkan pandangannya dan melihat kesekeliling dan ia mendapati sebuah ruangan sempit dengan cahaya minim yang jelas bukan ruang pemulihan...

Shaga kembali meringis ketika sebuah ingatan masuk kedalam ingatannya, ah benar juga, pagi tadi seseorang yang menggunakan jubah menerobos masuk kedalam ruangan dan membuat kekacauan diruangan lemulihan, orang itu berjumlah lebih dari lima, Shaga melihat empat orang tengah bertarung dalam ruangan sempit melawan mata-mata yang ditugaskan menjaga dirinya, dan ingatan terakhir Shaga adalah ia dibekap oleh seseorang sebelum pandangannya mengabur dengan cepat...

"Shaga-sama!..."

Shaga mengangkat tangannya sebagai isyarat jika ia baik-baik saja, mendapatkan ingatan itu Shaga dapat mengasumsikan jika dirinya sudah menjadi korban penculikan... Shaga memijat kepalanya sebelum ia mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Tobio dan yang lain, Shaga dapat melihat ekspresi cemas dan khawatir yang tercampur dimata para Sahabat tunangannya.

"Maaf, membuat kalian khawatir, aku baik-baik saja."

Semua menghela nafas lega melihat senyuman menyilaukan ala Tuan Putri diwajah Shaga, hanya Tobio yang masih mempertahankan wajah datarnya.

"Shaga-hime, mungkin ini sedikit lancang tapi kita harus segera meninggalkan tempat ini dan kembali ke Academy secepat mungkin."

"Hm? Memang ada hal gawat apa yang terjadi sampai kuta harus terburu-buru?."

Shaga bertanya dan itu membuat semua orang disana selain Tobio memasang wajah kesulitan, Shaga menatap Miya yang perlahan maju kedepan, dengan wajah kesulitan Miya membuka mulutnya...

"Shaga-hime... Se-sebenarnya..."

Miya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Shaga mendengarkan dengan bingung sebelum wajah bingung itu secara bertahap mulai digantikan oleh wajah terkejut dan shock... Shaga menutup mulutnya dengan tangannya menyiratkan seberapa shock dirinya...

"Tidak mungkin... Naruto-kun."

-Arena Byakko-

Suara hening menyelimuti Stadion Byakko, suasana yang sangat hening sampai-sampai suara angin berhembus dapat terdengar oleh telinga, semua pasang mata menatap pedih kearah Arena yang telah hancur lebur, mereka semua menatap sebuah Objek yang terduduk bersender pada dinding yang telah retak sampai amblas kedalam, kondisi Objek itu terlihat sangat buruk, luka yang dia derita sangatlah parah dan bisa dikategorikan tidak manusiawi.

Darah menetes ketanah dari kepala yang tertunduk itu, luka disekujur tubuhnya terus mengeluarkan darah, para penonton membisu, beberapa saat yang lalu mereka baru saja menyaksikan penyiksaan terkejam tepat didepan mata mereka, Kakashi menatap pedih pemuda yang terduduk bersandar pada dinding retak dan tak bergerak sedikitpun pandangannya terarah pada pemuda bersurai merah jabrik yang terlihat menyeringai puas melihat orang yang tersangkut pada dinding itu...

Kakashi mengepalkan tangannya dengan erat, Diturnamen Byakko, Namikaze Naruto, Knight luar biasa yang mampu memenangkan babak penyisihan tanpa kesulitan sedikitpun kini terduduk dengan keadaan yang mengenaskan... Dan semua itu diakibat oleh Heir selanjutnya dari Clan Uzumaki... Uzumaki Menma.

And Cut~

Karna, Anime Fate Apocrypha adalah musuh dari Cao Cao, ia adalah salah satu petinggi dari serikat balam, kekuatannya Overpowered karena dia pemilik dari tombak yang menjadi Nobles Phantasm Anti-Divine, Vasavi Shakti...

Vasavi Shakti adalah tombak Anti-Divine dengan kata lain senjata pembunuh Dewa dengan kata lain ia adalah lawan yang pas untuk True Longinus yang dikatakan didalamnya bersemayam [Kehendak Tuhan]...

Dari sini perlahan-lahan Serikat Balam akan muncul dan aku akan menggunakan Kode Name untuk mereka, dan Karna memiliki kode Name [K] sesuai namanya.

Chapter depan adalah pertarungan Naruto yang sekarat melawan Menma yang segar bugar, aku rasa disini aku akan melepaskan sedikit kekuatan Naruto...

Maa aku rasa sudah so, aku harus kembali membaca LN Hataraku Maou-sama yang kemarin baru saja masuk Daftar List baca, so sampai ketemu dichapter depan ajalah... Jaa ne!? Eettt!? Ada Omake dibawah!

Next Chapter; [Spirit Realization]

Phantom Out!

.

.

.

-Omake-

"Ah, kau sudah kembali, Karna."

"Owh, ku kira siapa rupanya kau, Mask."

"Bagaimana? Apa kau sudah menemui Rivalmu itu?."

"Ya aku sudah menemuinya, dan seperti katamu, dia memiliki potensi untuk menghiburku dimasa depan."

"Aku senang kau terhibur dengan Rivalmu yang belum matang itu..."

"Mask... Apa kau ingin kesana? Lagi..."

"Hahaha, ya aku harus kesana atau jika tidak Hexa-chan akan menghajarku jika aku terlambat kesana..."

"Aku masih tidak habis pikir jika perempuan menakutkan itu bisa begitu posesif padamu..."

"Maa, lupakan itu, apa kau akan ikut dalam rencana [H] nanti?."

"Aku rasa tidak. kau tahu, aku membenci dia, dan caranya berpikir yang mengerikan."

"Ya, mau bagaimana sebagai [The Lord of Death] dia berteman dengan kematian itu sendiri, jadi tidak aneh jika ia sedikit mengerikan..."

"Lupakan [H], bagaimana denganmu, Mask. Apa kau akan datang dipertemuan para petinggi nanti?."

"Hmm? Aku rasa aku akan datang, tapi sebelum itu aku harus ketempat Hexa-chan sekarang, atau dia tidak akan menjadi penyabar lebih dari ini..."

"Ya, aku juga harus pergi menemui [Assassin] dan membahas beberapa hal dengannya..."

"Ah kalau begitu sampai jumpa lagi, Karna."

"Ya, sampai jumpa, Mask."