Riku : Panggil gue Riku aja. Iya Yuki belum begitu sehat, meskipun kondisinya udah mendingan tapi dia disuruh istirahat dulu, gak boleh ngapa-ngapain dan gak boleh capek dulu. Gue ucapin makasih buat yang selalu ngikutin perkembangan cerita ini. Ok, selamat membaca dan sorry sama bad typos gue.


Warning : T rate semi M (complex themes), chara death, OC (clik back button if you dislike it).

Pairing : Hint.

Genres : Action/Adventure/Fantasy/Friendship/Mystery/Tragedy/Humor/Angst/Crime.

Disclaimer : Naruto dkk belong to Masashi Kishimoto (kecuali OC).

This story belong to me and Yuki.

.

Neverland

Chapter 42

(Fake Sasuke!)

.

Ice cavern…

.

.

Terlihat Shiryu tengah berkonsentrasi dengan gulungannya sementara sang guardian, Grim reaper sedang menahan para monster-monster es tersebut. Disisi lain Ino, Chouji dan Asakura tengah menapaki dataran es sambil mencari-cari lokasi yang seperti digambarkan oleh Shiryu.

WUUUUSH!

Angin dingin berhembus kencang menerpa Asakura, Ino dan Chouji. Pandangan ketiganya tampak samar di tengah sekelebatan salju yang tiba-tiba turun dengan deras.

"Sekarang dimana kita harus mencari tempat yang dimaksud Shiryu?" tanya Asakura sambil memandang sekeliling mencari-cari lokasi tersebut, tapi sejauh mata memandang dia hanya menemukan dataran es dan beberapa gunung yang menjulang saja. Dia sama sekali tidak menemukan bangunan yang dikelilingi oleh pegunungan.

"Ditambah lagi kondisi cuaca buruk seperti ini, membuat pandangan semakin sulit saja untuk mencari." Timpal ino yang berusaha untuk melindungi pandangannya dan berusaha melihat ke sekeliling.

WUUUUSH!

Sekali lagi angin dingin yang kencang kembali menerpa dataran.

"Huh… Angin disini sangat kencang sekali!" kata Ino sambil memejamkan matanya, tampak rambutnya berkibar ke samping akibat hempasan angin tersebut (disini Ino rambutnya dikuncir satu kayak di Naruto yang pertama, dan rambutnya pendek).

"A-a-achooo!" Asakura kembali bersin sambil menggosok-gosokkan hidungnya. Sedangkan Chouji sudah menggigil kedinginan sejak tadi.

"Sepertinya tempat ini akan kedatangan badai salju… " Ino mencoba merasakan hembusan angin dingin yang semakin lama semakin menguat.

"Lihat! Disana ada goa! Bagaimana kalau kita masuk kesana untuk menghangatkan badan kita." Chouji memberi usul untuk beristirahat sejenak sambil menunggu kondisi cuaca yang sedikit membaik dari terjangan badai salju.

"I-i-ide bagus! A-ayo kesana-a-a-achooo!" sambar Asakura menyetujuinya, jujur saja dia sudah tidak tahan dengan udara dingin seperti ini. Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju goa tersebut.

.

.

"Kurasa kita bisa istirahat sebentar disini sambil menghangatkan tubuh kita." Kata Ino yang kemudian dia mengeluarkan korek api. "Aku butuh lilin, apa ada yang punya?" tanya Ino sambil menatap kedua temannya.

"Kurasa aku punya satu… " jawab Chouji sambil ngubek-ngubek isi tasnya dan gak lama dia mendapatkan lilin yang berhasil dia dapatkan dari Snow city sebelumnya.

"Terima kasih." Balas Ino. Kemudian gadis itu menyalakan api di atas sumbu lilin tersebut.

"Hangatnyaaaa!" Asakura berseru riang sambil mendekatkan tangannya ke arah api yang menyala di lilin tersebut.

"Kira-kira… Bagaimana keadaan Shiryu, ya?" gumam Ino menanyakan keadaan Shiryu yang masih berada di Ice cavern bersama monster-monster itu. Tatapannya tertuju pada luar goa.

"Berharap saja dia tidak apa-apa dan segera menyusul kemari." Kata Asakura sambil menatap api yang bergoyang semakin kencang karena hembusan angin yang kencang, dan nyala api tersebut akhirnya padam.

"Ah, apinya mati!" Ino yang melihat api lilin tersebut mati berusaha menyalakannya kembali.


Ice cavern…

.

.

Sedangkan di dalam Ice cavern terlihat seorang pemuda berambut hitam sedang berkonsentrasi memusatkan kekuatannya. Kertas-kertas gulungan tampak berterbangan mengitari pemuda itu. Dan di depannya tampak Grim reaper, guardian miliknya sibuk menahan para Ice titan yang berusaha untuk menyerang Shiryu.

"Mundurlah Grim reaper!" kata Shiryu memerintahkan Grim reaper untuk mundur ke belakang, dan perintahnya dituruti oleh sang guardian.

"SHIKIFUJIN NO SHINIGAMI!" tampak kertas-kertas tersebut terbuka lebar dan mengeluarkan cahaya ketika Shiryu merapal mantra. Pemuda itu menarik sebuah gulungan dan di ikuti dengan gulungan-gulungan lainnya. Dia melempar gulungan-gulungan itu tepat di atas monster-monster es itu. Tak lama monster-monster tersebut terhisap ke dalam gulungan-gulungan kertas tadi. Monster-monster itu lenyap semuanya, kemudian Grim reaper otomatis menghilang kembali.

"Ugh… Ternyata jurus ini gak semudah kayak di dalam game… " Shiryu menggumam pelan sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Tampak pemuda itu kelelahan setelah memakai jurus tersebut. 'Tapi aku harus segera menyusul Asakura dan juga yang lain' batin pemuda itu yang pantang menyerah, dia kemudian berjalan keluar untuk mencari teman-temannya.

-ooo-

"Shun!" Naruto yang baru tiba bersama yang lainnya langsung menghampiri Shun dan Arkhan yang sedang menjaga Shouta.

"Apa yang terjadi pada Shouta?" tanya Sakura mencemaskan keadaan Shouta. Wajah anak itu terlihat begitu pucat.

"Apa kalian diserang musuh?" tanya Reika yang langsung melihat ke sekeliling untuk memastikan apakah ada musuh disekitar mereka.

"Aku tak bisa menceritakannya sekarang… Apa kalian bisa menjaga Shouta?" tanya Shun yang kemudian berdiri dan meminta Sakura serta yang lain menjaga Shouta.

"Sh-Shun? Ka-kau mau kemana?" tanya Hinata sambil menatap Shun yang hendak pergi meninggalkan mereka.

"Ada suatu hal yang ingin kuselidiki… Aku akan kembali nanti. Dan keadaan Shouta dia baik-baik saja, dia hanya tertidur, tolong nanti setelah dia bangun dia di heal." Kata Shun menjelaskan keadaan Shouta saat ini, dan tanpa banyak bicara lagi pemuda itu bergegas pergi.

"Hey, Shun tunggu!" Kiba yang memanggil Shun tidak digubrisnya, dia tetap saja berlalu dari teman-temannya. Kiba hanya menggaruk bingung sambil berpikir ada apa dengan Shun sebenarnya? Kenapa sikapnya sangat terburu-buru dan aneh? Kiba lalu menatap Shouta yang kemudian membuka matanya.

.

"Shouta? Kau tidak apa-apa? Apa yang kau rasakan?" Sakura menanyakan keadaan Shouta.

"A-aku tidak apa-apa… Dimana kakakku?" Shouta segera mencari-cari sosok Rei yang tak ada ditempatnya.

"Maksudmu Rei? Kami sama sekali tidak bertemu dengannya… Hanya ada Shun dan Arkhan, tapi mereka berdua juga pergi lagi." Nyx menjawab pertanyaan Shouta sekaligus menjelaskan kemana perginya Shun serta Arkhan. Tampak Shouta terdiam, kelihatannya anak itu kecewa.

"Tidak apa-apa Shouta… Sekarang diam dan jangan bergerak, aku akan mengobati lukamu." Taka segera maju ke depan Shouta dan mulai merapal mantra untuk menyembuhkan luka Shouta.

'Seharusnya aku sudah mati… Tapi… Life point-ku tetap bertahan diangka satu… Apa yang terjadi?' pikir Shouta dalam hati sambil melihat sisa life point-nya yang berada diangka satu.

-ooo-

"Shun, apa kita benar-benar harus mengejar Rei?" tanya Arkhan yang mengikuti Shun dari belakang.

"Ada sesuatu yang harus dipastikan, menurutku terlalu aneh kalau Rei memiliki obat yang sama dengan milik Jiraiya, sekalipun dia itu hacker tapi tetap saja terlalu aneh." Kata Shun yang tampaknya mulai merasa curiga pada Rei, menurutnya sikap Rei terlalu aneh untuk seorang hacker sekalipun, dia terlalu banyak menyimpan rahasia.

"Shun, bukankah itu Shin yang sedang menuju kemari?" Arkhan menghentikan langkahnya sambil menunjuk sosok pemuda berambut jabrik dengan warna navy blue dan disisinya tampak seorang NPC berkulit pucat dengan rambut biru pucat sebahu mendampingi pemuda disebelahnya.

"Ayo kita hampiri mereka," ucap Shun yang memutuskan untuk menghampiri pemuda itu.

.

"Apa yang kau lakukan ditempat ini, Shin?" tanya Shun kepada Shin. Pemuda bernama Shin itu langsung menoleh ke samping dan tampak terkejut melihat sosok Shun berada disana.

"Aku sedang mencari Rei, apa dia bersamamu?" jawab dan tanya Shin kepada Shun.

"Untuk apa kau mencarinya? Kupikir saat ini kau sedang membuat rencana bersama Sasuke untuk menghalangi kami." Balas Shun setengah meledek Shin, membuat pemuda yang berwajah hampir serupa dengannya itu jadi berdecak kesal kepadanya.

"Aku ada urusan dengannya!" jawab Shin setengah berteriak kesal pada Shun.

"Kalau begitu tujuan kita sama, jujur saja aku juga sedang mengejar anak itu. Ada sesuatu yang tidak beres dengannya." Kata Shun yang mengatakan kalau dia juga memiliki tujuan yang sama dengan Shin. "Bagaimana kalau kita mencarinya bersama-sama supaya lebih cepat?" Shun menawarkan Shin untuk pergi mencari Rei bersamanya.

"Baiklah, apa boleh buat." Jawab Shin sedikit mendengus terhadap Shun tapi dia menyetujui untuk bersama-sama mencari Rei.

"Kurasa dia belum pergi jauh dari tempat ini, ayo kita kesana." Shun menunjuk sebuah jalan persimpangan yang lain, mungkin saja anak itu melewati jalan tersebut.

-ooo-

"Lihat siapa yang kita temukan disini, tak kusangka bisa bertemu denganmu Rei." Sasuke tampak menyeringai begitu melihat Rei kini berada dihadapannya.

'Ergh… Sial, gue salah jalan! Bisa-bisanya gue ketemu mereka disaat kayak gini!' rutuk Rei kesal dalam hati.

"Jangan pasang wajah terkejut seperti itu, Rei. Bagaimana kalau kau ikut denganku dan bersama-sama kita menguak misteri Pandora box?" Sasuke sepertinya menawarkan Rei untuk kerjasama dengannya.

"In your dream!" balas Rei yang lalu menyerang Sasuke dengan panahnya.

Greb…

"Kau pikir bisa melukaiku dengan serangan seperti itu?" Sasuke menghentikan anak panah yang dilepaskan Rei ke arahnya barusan dengan satu tangkapan.

"Menyebalkan… " gumam Rei dengan kesal serangannya tidak mampu mengenai Sasuke.

"Aku tidak akan melukaimu asal kau katakan semua yang kau ketahui." Sasuke masih berusaha untuk membujuk Rei agar dia mau bicara.

"Aku tidak akan memberitahu informasi apa-apa! Dan, siapa kau? Kau bukan Game master! Kau juga bahkan bukanlah Sasuke!" Rei menghardik sosok Sasuke di depannya dengan sengit.

"Apa yang kau katakan barusan Rei? Dia bukan Sasuke?" tanya Shin yang saat itu muncul disana bersama dengan Shun. Sekarang dia menatap tajam pada Rei dan meminta jawaban dari pemuda itu.

"Bicara apa kau Rei? Aku adalah Sasuke, teman kalian. Kenapa kalian masih tidak percaya padaku? Aku benar-benar kecewa kalian lebih memilih Joker daripada aku, bukankah kalian sedang mencariku? Sekarang aku ada dihadapan kalian tapi kalian meragukanku!" kata Sasuke yang menyatakan kekecewaannya dan berusaha bersikap seperti Sasuke, tapi tetap saja dimata Rei dia bukanlah Sasuke.

"Apa kau mengenal kami semua, hah?" tanya Rei yang sepertinya ingin menjebak Sasuke di dalam pertanyaannya itu.

"Tentu, aku mengingat semua teman-temanku. Apa ada yang salah dengan itu?" jawab Sasuke sambil mendengus kesal karena telah diragukan.

"Sudah kuduga, kau memang bukan Sasuke! Karena, kalau Sasuke asli pasti dia tak akan mengingat apapun! Kepingan ingatan Sasuke terpencar jadi dia tak akan mungkin bisa mengingat!" balas Rei yang meyakini Sasuke yang asli pasti saat ini sedang kehilangan ingatannya dan berusaha untuk mendapatkan ingatannya kembali.

'Benar juga… Kenapa gue gak sampe kepikiran sama hal itu… ' batin Shin yang baru menyadarinya.

"Tsk… " Sasuke berjalan mundur sambil menggigit bibirnya dengan kesal.

"Sasuke!" Shimizu akhirnya tiba disana bersama dengan Kimimaru. Keduanya berlari menghampiri Sasuke yang tengah terlihat kesal.

"Cih! Shimizu, Kimimaru cepat bunuh kedua orang itu! Sedangkan dia menjadi lawanku!" tanpa basa-basi lagi Sasuke langsung memerintahkan Shimizu dan juga Kimimaru untuk menghabisi Shun dan Shin, sedangkan dia berniat untuk membunuh Rei.

"Baik!" jawab keduanya dengan patuh dan segera melesat menerjang Shun dan Shin.


"Terima kasih Taka-senpai, aku sudah merasa lebih baik!" kata Shouta yang merasa tubuhnya sudah merasa lebih baikan dari sebelumnya.

"Sama-sama! Gue seneng bisa ngebantuin kok." Balas taka sambil nyengir.

"Kalau begitu ayo masuk semuanya!" kata Naruto sambil menatap semua kawan-kawannya. Dia kemudian membuka pintu menuju Blazing temple bersamaan dengan Sakura.

-ooo-

"Ino, Chouji, Asakura!" tampak Shiryu berhasil menyusul ketiga temannya yang sedang berada di dalam goa.

"Shiryu!" teriak ketiganya dengan senang dan segera berlari kecil menghampiri pemuda itu.

"Syukurlah kau selamat!" kata Chouji sambil tersenyum senang melihat Shiryu baik-baik saja.

"Ku-kuilnya besar sekali!" Naruto berdecak kagum melihat kuil yang begitu besar dan luas.

"Tapi kenapa kuil ini sunyi sekali?" celetuk Shikamaru merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres.

"Kau benar, tempat ini terlalu sepi untuk ukuran sebuah kuil yang besar seperti ini." Timpal Neji sambil memperhatikan keadaan sekeliling dan tatapannya berhenti pada seorang pemuda yang tengah berdiri mematung, tampak tubuh pemuda itu bergetar dengan tangan terkepal. "Ada seseorang disana." Neji secara reflek menghampiri pemuda yang sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka.

.

"Maaf, apa kau salah satu penghuni dari kuil ini?" tanya Neji dengan hati-hati kepada pemuda itu.

"Dia ada di dalam… Dia membunuh semuanya… Para biksu dan anak-anak menjadi korban… " tampak pemuda itu bergumam sendiri seolah tak menyadari keberadaan Neji dan juga yang lainnya.

"Dia? Bisa jelaskan siapa yang kau maksud? Apa yang terjadi?" tanya Neji yang kemudian berdiri di depan anak tersebut.

"Hidan… Dia merupakan salah satu murid dari kuil ini, tapi kemudian dia mendalami aliran sesat. Dia mulai melakukan ritual aneh hingga akhirnya banyak korban yang berjatuhan. Dia membunuh para biksu di kuil ini! Kumohon tolonglah aku, selamatkan anak-anak yang ada di dalam!" jawab anak itu menjelaskan kejadian buruk yang terjadi di kuil tersebut, dan orang yang dia sebut-sebut sebagai Hidan pasti merupakan salah satu lost child yang mereka cari.

"Tenang saja! Kami pasti akan menolong mereka! Kau tunggulah disini, kami akan mencarinya di dalam!" sambar Naruto sambil menepuk dadanya dan berjanji untuk menyelesaikan masalah ini. "Ayo teman-teman kita masuk!" sambungnya lagi dengan bersemangat. Dengan langkah mantap mereka semua memasuki kuil besar tersebut.

-ooo-

"Ka-kalian berdua bodoh! Mau saja diperalat oleh orang yang bahkan bukan Sasuke ataupun Game master sekalipun!" kata Shin yang sedang berhadapan dengan Kimimaru.

"Banyak bicara!" balas Kimimaru yang kemudian mendorong Shin ke belakang dan menyerang pemuda itu dengan beberapa tombak es yang muncul dari tangannya. Shin dengan gerak cepat menghindari es-es tersebut. Dari sisi yang lain muncul Shimizu yang berlari sambil mengayunkan tombak besarnya yang ujungnya berbentuk X.

"Bicara apa kau? Apa maksudnya dia bukan Sasuke?" tampak Shimizu tidak terima dengan perkataan Shin, dia datang menyerang pemuda itu dari arah samping tapi Aoki segera menahan serangan gadis itu.

"Minggir kau!" Shimizu berteriak pada Aoki, menyuruhnya untuk tidak menghalangi. Dalam soal kekuatan jelas Shimizu kalah dari Aoki. Aoki menahan serangan Shimizu hanya dengan menggunakan satu tangan, sedangkan tangan yang lainnya sudah terkepal, bersiap untuk menghantam Shimizu. Tangan NPC itu sudah melesat menuju Shimizu, namun serangannya terhenti karena muncul Kuro disebelah Shimizu yang menahan serangan Aoki.

"Tak akan kubiarkan kau melukai Shimizu," ucap NPC itu sambil menahan tangan Aoki. Kini tangan Aoki tertahan oleh tangan Kuro dan tak bisa dia lepaskan dari cengkraman tangan Kuro. Satu hantaman keras dari tangan Kuro didaratkan pada Aoki, membuat NPC itu terpental cukup jauh. Kuro kembali melesat bersiap untuk menghajar Aoki kembali.

DUAGH!

Tapi dengan cepat Arkhan memotong gerakan Kuro dengan sebuah pukulan telak diperutnya. Kuro terdorong mundur.

.

.

"Berhenti Rei! Kau tak akan bisa lari lagi, kali ini aku akan menghabisimu!" Sasuke terlihat sedang mengejar Rei yang berlari cepat darinya.

"Ah… " tapi akhirnya Rei berhenti berlari. Dia melihat sebuah jembatan dari pohon yang tumbang di depannya. Tampak pemuda itu ragu untuk melewati jembatan tersebut.

"Permainan selesai Rei, rasakan ini!" Sasuke menyerang Rei dengan katana yang dia keluarkan dari balik jubahnya.

TRANGG!

"Kau salah! Yang harus menghentikan permainan ini adalah kau!" balas Rei yang menahan serangan Sasuke dengan sebuah pedang.

.

.

"Shi no bara!" Shimizu mengeluarkan sebuah jurus kepada Shun. Shun terperangkap di dalam lingkaran kelopak bunga yang mengelilinginya, dan ketika gadis itu menggenggamkan erat tangannya, kelopak bunga tersebut menyatu dan menempel ke tubuh Shun.

DUARR!

Kelopak bunga yang menempel di tubuh Shun akhirnya meledak.

"SHUUNN!" Shin berteriak cemas melihat ledakan yang mengenai Shun. Dia bergegas lari untuk memastikan keadaan Shun, namun dia dicegah oleh Kuro yang muncul secara tiba-tiba di depannya.

Zraaaat…

Satu tebasan dilayangkan ke arah tubuh Shin. Pemuda itu mengelak mundur ke belakang dari serangan tiba-tiba tadi.

Blugh!

Terlihat jelas Shun terjatuh pingsan dari serangan ledakan yang mengenainya barusan. Tubuhnya mengeluarkan asap dan tampak ada sisa-sisa kelopak bunga yang sudah koyakditubuhnya.

"Recover!" Aoki melindungi Shun di dalam sebuah perlindungan dari cahaya putih yang berbentuk seperti ketupat, dan di dalamnya Shun disembuhkan dari luka-lukanya.


"Tiba-tiba aja gue jadi merinding… " kata Naruto sambil bergidik ngeri dan memegangi dirinya sendiri. Dia menoleh kiri-kanan mencari-cari seseorang di dalam kuil tersebut, siapa tau mereka menemukan orang yang bernama Hidan tersebut.

"Jangan berhenti di tengah jalan Naruto! Ayo cepat jalan!" Temari yang merasa jalannya terhalangi segera mendorong Naruto supaya dia beranjak maju ke depan.

"Wah, sepertinya disini terbagi menjadi beberapa ruangan. Kita berpencar saja," ucap Jiraiya begitu dia melihat sebuah lorong yang terpencar menjadi beberapa cabang.

"Baiklah, ayo jalan!" balas Hery yang segera menarik Reika ke sisi kiri dan di ikuti oleh beberapa teman lainnya. Sedangkan Jiraiya memilih jalan lurus ke depan bersama dengan Naruto, Neji, Shikamaru, Temari, Cho dan Magica. Sakura dan Joker memilih lorong kanan dan di belakangnya ada Taka, Yumiko, Queen Marie serta Lee yang mengikutinya.

-ooo-

"Semuanya, coba kemari sebentar!" Shiryu memanggil Ino dan yang lainnya untuk mendekatinya.

"Ada apa Shiryu?" tanya Asakura menanyakan apa yang membuat pemuda itu memanggil mereka semua, apa dia menemukan sesuatu.

"Coba perhatikan dinding goa ini, sepertinya tidak begitu keras dan bisa dihancurkan!" seru pemuda itu sambil memukul-mukul dinding belakang goa itu.

"Masa sih?" tanya Asakura tak percaya, dia ikut memeriksa dinding goa tersebut untuk memastikan apa benar yang dikatakan oleh Shiryu.

"Kau benar! Sepertinya dinding ini bisa dihancurkan!" Asakura akhirnya ikut mengiyakan perkataan Shiryu.

"Minggir semua, biar aku yang mencoba menghancurkannya!" Chouji menyuruh Ino, Asakura dan Shiryu untuk menyingkir dari dinding tersebut. "Big hand!" Chouji dalam sekejap membuat tangannya membesar dan dalam satu kali pukulan dinding itu berhasil dia hancurkan. Dan dari sanalah terlihat seperti ada sebuah tempat lagi. Ino, Shiryu, Asakura dan Chouji bergegas keluar dari sana.

.

.

"Rupanya dinding itu tembus kemari, tapi ngomong-ngomong tempat apa ini? Cuacanya berbeda dari tempat sebelumnya… " kata Ino yang merasa aneh dengan kondisi cuaca yang berbeda drastis dari tempat sebelumnya. Di tempat ini hanya turun salju kecil-kecil dan udaranya juga tidak sedingin tempat sebelumnya.

"Lihat disana!" Asakura berlari sambil menunjuk sesuatu. Yang lainnya segera menyusul Asakura.

"Ini… Apa ini tempat yang lo maksud?" tanya Asakura kepada Shiryu sambil memandang bangunan yang berdiri kokoh di depannya.

"Benar juga, coba lihat ke sekeliling!" kata Ino lagi yang baru menyadari kalau sekarang mereka berada tepat di tengah-tengah dimana disekitar mereka terdapat pegunungan yang mengelilingi posisi mereka.

"Tak salah lagi, ini dia tempatnya!" balas Shiryu yang merasa yakin kalau bangunan di depan mereka merupakan tempat yang dia maksud. Dia segera berlari ke depan tower itu dan memencet sebuah tombol.

"Elo ngapain?" tanya Asakura sambil melotot melihat aksi tidak sopannya Shiryu.

"Masuk tentu saja!" jawab Shiryu dengan enteng dan langsung masuk ke dalam bangunan tersebut yang ternyata pintunya bisa terbuka. Meski ragu Asakura, Ino dan Chouji akhirnya ikut mengekor langkah pemuda tersebut.

-ooo-

"Ada apa Joker?" tanya Sakura kepada NPC itu saat dia melihat Joker menghentikan langkahnya.

"Lihat di depan." Joker menyuruh Sakura dan yang lainnya menatap ke arah depan, dan disana terdapat sekumpulan anak-anak yang tengah berkumpul saling berpelukan dalam keadaan yang mengenaskan, dimana tubuh mereka terdapat banyak luka dan ada beberapa mayat dari anak-anak itu.

"Ini mengerikan... " desis Sakura yang merasa kasihan pada anak-anak itu. Bahkan Yumiko tak sanggup untuk melihat kondisi dari anak-anak itu.

"Siapapun yang melakukan ini tak bisa diampuni!" Lee ikut menimpali sambil menepuk sebelah tangannya dengan keras.

"Ugh... " Joker tampak pucat, dia memegangi kepalanya sambil menggeleng-geleng pelan.

"Joker, kau kenapa?" tanya Sakura yang menyadari keanehan sikap aneh dari Joker.

"Aku belum mati... Ini tidak mungkin... Aku belum mati... " balas Joker dengan tak begitu jelas apa maksud dari ucapannya.

'Lagi-lagi dia mengatakan hal yang aneh' batin Sakura yang merasa ada suatu kesalahan yang tak sepatutnya dialami oleh NPC sepertinya.

"Hey, Joker! Sadarlah!" Lee mengguncangkan pundak Joker supaya NPC itu tersadar. Tapi bukannya sadar, Joker malah perlahan berjalan mundur. Kemudian dia menghilang dari sana.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Joker? Apakah pencarian Ino dan cs akan membawa mereka kepada Gaara? Lalu siapa sebenarnya Game master di dalam game tersebut? Dan dimanakah Sasuke yang asli?.

TBC...


Riku : Mungkin yang game over sekitar 1 atau 3 tokoh, dan bisa siapa saja. Atau bisa saja yang sedang bertarung saat ini yang game over. Sasori bakalan muncul, tapi nanti, sekarang Hidan dulu yang nongol. Saran, ide, kritik atau sekedar bertanya soal cerita ini lewat review or you can PM me, jangan merasa sungkan. Dan flame? Silahkan asal ikutin ketentuan yang udah sering gue tulis.

.

.

"Welcome to Neverland, my eternity land."