Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ A DREAM ~

[ Chapter 48 ]

.

.

.

16 tahun kemudian.

"Hari ini jadwal operasi jam 2 siang." Ucap seorang perawat padaku.

"Baiklah, tolong sterilkan alat sebelumnya dan simpan data pasiennya pada mejaku."

Masih di kota Oto dan masih bergelut dengan profesiku sebagai seorang dokter, 16 tahun terlewatkan dengan sia-sia, aku sudah berusaha mencari area itu dan sangat sulit menemukannya, bahkan dengan bantuan kakak-kakakku pun, mereka kesulitan mencarinya, kemungkinan area itu sudah menjadi area yang hilang.

Ino calling.

selama ini aku tetap menyimpan nomernya, di masih sering mencariku.

"Ada apa, Ino?"

"Setidaknya datanglah saat pesta ulang tahun anakku, aku ingin dia melihat seluruh keluarganya."

"Kau masih menghitungku sebagai keluarga?"

"Hey, mau bagaimana pun juga kau sudah termasuk pamannya."

"Baiklah, kapan?"

"Seminggu lagi akan di adakan."

"Hn, akan aku kosongkan jadwal hari itu."

"Dasar, aku juga seorang dokter, tapi sepertinya kau jauh lebih gila kerja, apa sampai detik ini kau tidak move on? Aku sedang mengembalikan ucapanmu yang dulu kau katakan padaku."

"Ya-ya aku tahu kau akan tetap jahat hingga sekarang."

"A-apa! A-aku hanya menasehatimu, bagaimana pun juga kita ini keluarga, carilah wanita yang bisa mendampingimu, kau mau menjomblo seumur hidup?"

"Jomblo seumur hidup? Itu saran yang bagus, terima kasih."

"Benar-benar tidak berubah."

Ino masih sering menghubungiku, selain menanyakan kasus yang rumit saat dia tidak bisa mendapat ide untuk melakukan pengobatan pada pasiennya, dia masih menganggapku keluarga, bibi Mebuki juga masih sering menanyakan kabarku, walaupun dia mungkin tidak sadar jika seharusnya dia menghubungi Kiba, aku rasa Kiba jauh lebih berhak mendapat perhatian darinya.

Mendatangi bagian ruangan perawat, menanyakan pasien yang perlu cek up hari ini, aku tidak gila kerja, hanya saja ku tidak bisa tinggal diam, bayangan masa lalu akan sulit hilang dan lagi lucid dreamku akan sering muncul, namun akhir-akhir hampir seluruhnya terlihat buram olehku, aku merasa ini efek dari Sakura yang telah pergi, lucid dreamnya menjadi mimpi yang tak jelas dan tidak lagi terasa nyata.

Kamar pasien.

"Selamat pagi, nyonya, hari ini jadwal pemeriksaan, bagaimana dengan sakit kepalanya? Apa masih terasa nyeri?" Tanyaku.

"Aku sudah sembuh jika dokter yang memeriksaku." Ucap seorang wanita lansia padaku, mereka akan heboh jika aku yang datang memeriksa di ruangan ini.

"Dokter, apa kau sudah menikah? Jika belum, maukah kau bersama cucuku? Dia anak yang baik dan cantik." Ucap wanita lansia lainnya, mereka akan selalu menjodohkanku dengan cucu atau anak mereka.

"Terima kasih nyonya, tapi aku sudah menikah." Ucapku.

"Begitu yaa. Sayang sekali."

Aku harus rajin berbohong pada semua pasienku kecuali para perawat dan para dokter lainnya akan sangat tahu statusku seperti apa.

.

.

.

.

[Kediaman Orochimaru]

Dokter Orochimaru lagi-lagi pergi dalam waktu cukup lama di kota Kiri untuk menjadi dosen, di rumah besar ini hanya tinggal aku, Mitsuki dan pelayan rumah ini, Mitsuki sudah jauh lebih dewasa dan dia menganggapku sebagai pamannya.

"Paman sudah pulang? Hari ini pak pelayan sedang tidak enak badan, makanya tidak menyiapkan makanan." Ucap Mitsuki.

"Dimana dia?"

"Ada di kamarnya, apa karena sudah pengaruh usia?"

"Itu bisa jadi, apa dokter Orochimaru tidak punya pelayan pribadi yang lain?"

"Ayah sulit untuk memasukan orang lain untuk menjadi pelayan di rumah ini."

"Tanggung jawab dan kepercayaan adalah hal yang kadang sulit di lakukan beberapa orang, apalagi harus mengurus rumah besar ini dan dua pria yang kesulitan mengurus diri."

"Hahahaha, paman ada-ada saja, tapi paman lebih pandai memasak dari pada aku."

"Aku sudah kesulitan memasak. Bagaimana jika setelah ini kita makan di luar?"

"Baiklah, paman, aku senang seperti itu dari pada kita berdua menghancurkan dapur."

Mendatangi sebuah kamar dan mengetuknya beberapa kali sebelum masuk, seorang pria tua yang berusaha bangun, namun menahannya untuk tidak perlu memaksakan diri.

"Maaf tuan, hari ini saya kesulitan untuk menjamu anda." Ucapnya.

"Tidak perlu, istirahatlah, katakan padaku keluhannya, aku akan membeli obat saat keluar bersama Mitsuki."

"Tidak apa-apa tuan, hanya nyeri sendi, hehehe, biasalah jika sudah umur seperti ini."

Pelayan ini adalah satu-satunya pelayan milik dokter Orochimaru, aku tidak tahu apapun sebelum pelayan ini datang, dokter Orochimaru tidak menceritakan tentang keluarganya, bahkan jati diri Mitsuki pun tak pernah di singgungnya, Mitsuki juga merasa jika dia adalah anak yang cukup beruntung hidup bersama dokter Orochimaru dan di jadikan anak baginya.

"Katakan padaku jika anda merasa kesakitan, di saat dokter Orochimaru tidak ada, aku pun harus menjaga anda." Ucapku.

"Seharusnya aku yang menjaga tuan."

"Aku senang mendengar hal itu, selama ini terima kasih banyak telah memperlakukan seperti tuan rumah bagimu."

"Sama-sama tuan Sasuke, aku juga senang melayani anda selama ini."

Sebelumnya mencari obat di ruangan dokter Orochimaru, mungkin ada beberapa obat yang bisa di konsumsinya sebelum aku pergi membeli obat untuknya. Jika dia tidak ada, aku tidak tahu harus bagaimana bisa mengurus rumah sebesar ini dan lagi Mitsuki sedang sibuk untuk mengurus kuliahnya, aku pikir dia akan mengikuti jejak dokter Orochimaru, Mitsuki mengambil jurusan arkeologi, dia senang akan hal itu, dokter Orochimaru pun tak pernah memaksakan kehendaknya, jika Mitsuki memilih jurusan itu, dia harus bertanggung jawab dengan pilihannya

.

.

.

.

Aku sudah berusaha menolong pelayan itu, namun, dia sudah sampai pada batasnya, dokter Orochimaru kembali ke Oto untuk mengurus pemakaman pelayan pribadinya itu, Mitsuki cukup merasa kehilangan, sejak dia kecil di saat dokter Orochimaru sibuk bekerja, dialah yang menjaganya, dokter Orochimaru sudah tahu jika pelayannya itu mulai tak bisa bertahan, lalu siapa akan membersihkan rumah sebesar ini?

"Karena aku belum menemukan orang yang sangat di percaya dan bertanggung jawab, mohon bantuannya." Ucap dokter Orochimaru.

Dia bahkan tertawa dengan girang, tapi tidak dengan tatapanku dan Mitsuki, kami kewalahan untuk masalah ini, aku jadi memikirkan bagaimana cara pelayan itu membersihkan rumah ini seorang diri?

Rumah sebesar ini di bersihkan oleh dua orang pria tua dan seorang pemuda, menatap dokter Orochimaru, bahkan wajahnya itu meragukan, seharusnya dia jauh lebih tua dariku, tapi wajahnya masih tetap sama hingga sekarang.

"Ayah, setidaknya pekerjaan seseorang saja." Ucap Mitsuki, dia mulai mengeluh untuk masalah rumah besar ini, rasanya aku juga ingin mengeluh dan bisa saja pindah dari rumah ini dan membeli apartemen, tapi aku sudah terlanjur untuk tinggal dan menetap di rumah ini.

"Di rumah ini ada begitu banyak barang, siapa sangka ada yang mempunyai keinginan untuk memilikinya." Alasan dokter Orochimaru saat menjawab ucapan mengeluh Mitsuki.

"Kalau begitu simpan saja di dalam satu ruangan dan di kunci." Ucap Mitsuki, itu ide yang bagus.

"Tidak-tidak, itu akan repot dan akan tidak ada yang bisa membersihkannya jika hanya di tinggalkan dalam ruangan terkunci." Ucap Dokter Orochimaru, haa..~ dia ingin semuanya di bersihkan, tapi tak ingin ada yang hilang.

Semuanya jadi rumit ketika kau berbicara tentang rumah ini pada dokter Orochimaru, rumah ini hanya memiliki dua lantai namun setiap areanya sangat luas dan banyak barang antik yang di pajang dokter Orochimaru, banyak kamar dan pilar-pilar besar menghiasi area ruang tamu, terlalu besar dan terlalu luas untuk di tinggal beberapa orang saja, kenapa dokter Orochimaru tidak menyewa kamar-kamar itu saja? Haa..~ sudahlah.

"Ehe-hem, bukannya aku mau lari dari tanggung jawab tugas, tapi minggu ini aku harus kembali ke Konoha, ada sebuah pesta dan aku harus datang." Ucapku.

"Pergilah dokter Sasuke, tidak apa-apa, masih ada Mitsuki yang akan mengurus rumah, lagi pula aku juga harus kembali ke kota Kiri, aku tidak bisa membuat mahasiswaku liburan terus." Ucap dokter Orochimaru.

"Apa! Ayah! Sungguh! Kau akan meninggalkanku dengan kastil kuno ini!" Ucap Mitsuki, dia sampai mencap rumah ini sebagai bangunan kastil kuno.

"Aku percaya padamu." Ucap dokter Orochimaru dan mengusap puncuk kepala anaknya, dia cukup menyayangi Mitsuki.

"Baik! Tapi jika ayah dan paman kembali, aku ingin liburan mengurus rumah."

"Itu bisa di atur." Ucap dokter Orochimaru.

Kenapa di iya-kan saja? Aku juga akan kesulitan mengurus rumah ini jika dokter Orochimaru tak kembali dari pekerjaannya sebagai dosen.

.

.

.

.

[Konoha]

Setelah beberapa tahun berlalu, akhirnya aku kembali lagi, ini hanya karena undangan Ino dan dia cukup keras kepala untuk mengundangku.

"Jadi kau sengaja mengajakku karena belum membeli hadiah, aku hanya mengundangmu, kau datang pun sudah termasuk hadiah." Ucap Ino, setibanya di Konoha, aku harus meminjamnya dari Kabuto, hubungan mereka cukup harmonis sebagai pasangan suami-istri.

"Aku tidak tahu apa yang di sukai anak perempuan." Ucapku.

"Dulunya kau punya anak perempuan, kenapa kau tidak bisa menebak apa yang sukainya?" Ceplosnya, dasar Ino, tetap saja tidak mengubah sikapnya itu.

"Aku tidak pernah memberikannya hadiah, aku sudah katakan pada Sakura, saat hari dimana kita bersama, itu adalah hari terakhir kami saling mengontak, setelahnya dia harus hidup tanpa merasa aku ada atau pernah menjadi bagian darinya."

"Aku sudah tahu itu, kalian berdua selalu membuat semuanya menjadi rumit. Aku kasihan pada Sakura, dia harus berat melepaskanmu."

Aku sudah tidak ingin mengingat masa itu lagi, semuanya menjadi sia-sia ketika aku sudah mengetahui hal yang sebenarnya.

"Bagaimana kabar Kiba?" Tanyaku.

"Dia keluar kota, sulit baginya hidup di kediamannya dan di sana penuh dengan kenangan Sakura dan Sarada, rumahnya pun di jualnya."

"Apa karena itu bibi Mebuki sulit menghubunginya dan menjadikanku sebagai tempat lain untuk menanyakan kabar?"

"Tidak juga, ibu hanya masih sering memikirkanmu dan semua yang kau lakukan pada Sakura dan Haruki dulu, dia jadi terus mengingatmu dan sudah mencapmu sebagai menantunya, jangan salahkan ibu, sedangkan Kiba, dia sudah pamit pada ibu sebelumnya dan mengatakan jika dia tidak begitu pantas menjadi menantunya dan tak becus menjaga Sakura."

"Dia memang orang yang terlalu berlebihan."

"Kalian sama saja."

"Bagaimana dengan gaun itu? Apa dia akan suka?" Ucapku dan menunjuk sebuah gaun yang indah, anak Ino sudah berumur 15 tahun, dia mungkin akan senang jika mendapat gaun indahnya.

"Anak itu beri apapun dia akan suka, aku jadi menyesal saat seumurannya dulu, kau tahu bagaimana sikap nona kaya saat masih remaja? Semuanya harus bagus dan mahal."

"Jadi kau harus belajar banyak dari anakmu sendiri." Sindirku.

"Iya-iya, berhenti menyindirku, aku rasa sifat ayahnya turun padanya."

Akhirnya gaun berwarna ungu menjadi pilihan untuk hadiah anak Ino, katanya dia suka warna ungu. Pestanya akan di mulai besok dan aku pulang lebih awal untuk mengunjungi rumahku, ibu selalu saja khawatir, aku sudah bukan anak kecil lagi, aku pria tua yang sudah berkepala empat dan sudah mampu mengurus diri sendiri.

.

.

.

.

[Kediaman Yamanaka]

Pestanya di adakan di halaman dengan tema garden party, kebanyakan tamunya adalah teman sekolah anak Ino dan dia mengundang hampir seluruh sekolah termasuk gurunya, aku jadi bertemu kembali dengan bibi Mebuki dan paman Inoichi, mereka sudah semakin tua.

"Sering-seringlah berkunjung disini." Ucap bibi Mebuki padaku.

"Terima kasih bibi, jika aku ada waktu luang, aku akan mampir disini." Ucapku.

Seperti yang di katakan Ino padaku, bibi Mebuki benar-benar masih peduli padaku, pesta ini cukup ramai, hanya sekumpulan anak remaja yang membuat pesta ini meriah, anak gadis itu cukup mirip Ino, untung saja sikap ibunya tak turun padanya. Beberapa pasang mata tengah sibuk menatapku dan suara bisik-bisik anak-anak gadis itu terlalu keras untuk sebuah bisikan, aku hanya bisa pura-pura tak mendengar ucapan mereka.

"Apa benar dia pamanmu?"

"A-aku tidak begitu yakin, tapi kata ibu dia adalah pamanku, jadi ya aku harus percaya."

"Pamanmu tampan sekali."

"Hey, sadarlah, pamanku itu sudah kepala empat, kalian hanya di anggap anak kecil."

"Aku rela nikah dengannya."

"Sudah-sudah, jangan membahas pamanku lagi."

Aku sedikit mendapat pembelaan dari anak itu, menatap sekitar, tatapanku terfokus pada seorang anak gadis.

"Bibi, aku permisi dulu." Ucapku, bergegas berjalan dan menghampiri seorang anak gadis yang membuatku merasa tidak asing padanya.

"Kau, siapa namamu?" Ucapku.

Dia menatapku, tatapan yang sama, mata yang sama, bagaimana Ino tidak menyadarinya? Dari semua tamu anaknya, dia muncul, gadis ini muncul di hadapanku.

"Yu-Yuuki." Ucapnya gugup, nama yang berbeda rupanya.

"Kau tinggal dekat sini?"

"Uhm, cukup jauh, aku harus naik bus." Ucapnya, bahkan tetap saja dengan sikap polosnya itu.

"Ada apa paman?" Ucap Haruki, Ino menggunakan nama Haruki pada anaknya.

"Tidak ada apa-apa, apa kalian satu kelas?" Tanyaku.

"Kami beda kelas, tapi aku cukup mengenalnya." Jelas Haruki.

Waktu sudah berubah, sang permaisuri sudah hadir kembali di kehidupan berikutnya, aku benar-benar merasa bahagia saat melihatnya, sangat mudah menemukannya kembali.

"Apa yang kau lakukan tadi? Aku melihatmu membuat anak gadis itu ketakutan." Tegur Ino padaku.

"Maaf, aku hanya sedikit merasa familiar dengannya."

"Bagaimana mungkin? Kau baru saja kembali dari kota Oto, jangan katakan kau malah tertarik pada gadis kecil itu, dia masih 15 tahun dan seumuran dengan anakku, kau bisa di penjara nanti."

"Aku bisa menunggunya menjadi lebih dewasa."

"Kau gila, saat dia dewasa, kau sudah menjadi kakek-kakek, aku tidak mengerti akan jalan pikiranmu ini."

"Aku sungguh berterima kasih padamu, karena kau sudah mengajakku kembali."

"Aku tetap tidak bisa mendukungmu dengan seorang anak kecil!"

Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, permaisuriku telah lahir kembali, aku tetap bisa merasakannya, sekarang aku harus kembali ke Oto untuk pekerjaanku, aku harus bisa mengundurkan diri dari rumah sakit dan kembali ke Konoha, aku rasa tidak perlu kembali bekerja menjadi seorang dokter, kak Itachi punya perusahaan yang bisa aku kelolah.

.

.

TBC

.

.


Update..!

nah kisah kali ini akan terus berlanjut, ini adalah alasan lain kenapa author harus mematikan Sakura dan memunculkannya kembali dalam penampilan dan nama yang berbeda, dan juga kehidupan yang berbeda, di mata Sasuke dia terlihat sama namun dalam pandangan orang lain dia berbeda dengan Sakura, ini adalah kehidupan baru Sakura, so bagaimana Sasuke akan memulai kisahnya kembali dan membuat cara agar sang permaisuri bertahan di kehidupan barunya, mari kita simak, teori kemungkinan Sasuke akan berjalan disini, dan akan di lihat apa akan berhasil, lalu dimana Kiba? XD ini sepertinya akan semakin panjang. jadi tak tega untuk di tamatkan secepatkan =_= *menyesal*

karakter baru akan bermunculan tapi tak banyak, ini akan mulai bergeser dari chara di dalam anime Naruto, hanya ada nama yang berbeda, seperti Sakura yang sekarang akan menjadi Yuuki, dan karekter OC itu Haruki (anak Ino) pengen munculin Inojin sih, tapi udah malas, karena pasangan Ino disini Kabuto, so jadi sorry banget buat fans saiXino, kali ini author pasangkan ino dengan Kabuto.

meskipun nanti akan lambat update, tak apa yaa, yang penting nggak bikin gantung, fic lain akan di usahkan deh XD, author masih punya banyak ide dan semangat untuk membuat banyak fic, cuma waktu yang mulai berkurang lagi XD *semangat*

untuk Sina, kamu betul deh, kehidupan baru Sakura udah muncul, dan dia bertemu Sasuke yang cukup tua, wkwkwkwk, ini seruh sih, author cukup suka di chapter ini, dan chapter berikutnya akan semakin seru, udah ngetik dikit sih, heheheh, kok jadi semakin menyenangkan yaa, haa...~ tak tahulah kapan ini akan tamat, nikmatin aja alurnya. *menyesal lagi*.

terima kasih atas review yang lainnya dan terima kasih atas doanya agar laptop author tetap hidup T-T , hanya kau (laptop) yng paling berarti sekarang di hidup author *lebay*

.

.

See you next Chap!