Eksperimen Penjara Stanford, Bg. 4

Sebuah percikan hijau samar bergerak maju untuk menetapkan lajunya, dan di belakangnya suatu sosok perak cemerlang, semua entitas lain tak terlihat. Mereka sudah menjelajah lima kaki koridor, berbelok ke kanan lima kali dan menaiki lima tangga; dan ketika Bellatrix sudah selesai meminum botol susu cokelat keduanya, dia diberi cokelat batang solid untuk dimakan.

Dan setelah batang cokelat ketiganyalah suara-suara aneh itu mulai datang dari tenggorokan Bellatrix.

Memerlukan beberapa saat untuk Harry memahami, untuk memproses suara tadi, itu tak terdengar seperti suara apa pun yang dia pernah dengar sebelumnya; irama suara itu remuk, nyaris tak dikenali, memerlukan selama itu untuk menyadari kalau Bellatrix sedang menangis.

Bellatrix Black sedang menangis, senjata sang Pangeran Kegelapan yang paling mengerikan sedang menangis, dia tak terlihat tapi kamu bisa mendengarnya, suara-suara kecil menyedihkan yang sedang dia coba untuk tekan, bahkan saat ini.

"Ini nyata?" kata Bellatrix. Nada sudah kembali ke dalam suaranya, bukan lagi sebuah gumaman mati, itu naik di bagian akhir untuk membentuk sebuah pertanyaan. "Ini nyata?"

Ya, pikir bagian dari Harry yang melakukan simulasi dari Pangeran Kegelapan, sekarang diam—

Dia tak bisa membuat kata-kata itu melewati bibirnya, dia tidak bisa.

"Aku tahu—kamu akan—datang padaku—suatu hari," suara Bellatrix bergetar dan retak saat dia mengambil napas untuk isakan sunyi, "aku tahu—kamu masih hidup—bahwa kamu akan datang—padaku—my Lord …" ada suatu tarikan napas panjang seperti terkesiap keras, "dan bahkan—ketika kamu datang—kamu akan tetap tak mencintaiku—tak akan pernah—kamu tak akan pernah balas mencintaiku—itulah kenapa—mereka tak bisa mengambil—cintaku dariku—bahkan biarpun aku tak ingat—tak ingat sebegitu banyak hal-hal lain—walau aku tak tahu apa yang kulupakan—tapi aku ingat betapa banyak aku mencintaimu, Lord—"

Ada sebuah pisau yang menusuk-nusuk menembus jantung Harry, dia belum pernah mendengar satu pun yang semengerikan itu, dia ingin memburu si Pangeran Kegelapan dan membunuhnya hanya untuk ini … .

"Apakah kamu masih—ingin menggunakanku—my Lord?"

"Tidak," desis suara Harry, bahkan tanpa dia memikirkannya, itu seolah beroperasi secara otomatis, "aku memasuki Azkaban hanya iseng. Tentu saja aku akan menggunakanmu! Jangan menanyakan pertanyaan-pertanyaan bodoh."

"Tapi—aku lemah," kata suara Bellatrix, dan suatu isakan penuh lepas darinya, itu terdengar jauh terlalu keras di dalam koridor Azkaban, "aku tak bisa membunuh untukmu, my Lord, aku minta maaf, mereka memakan semuanya, memakanku sepenuhnya, aku terlalu lemah untuk bertarung, apa manfaatku untukmu sekarang—"

Otak hari mati-matian mencari-cari suatu cara untuk meyakinkannya, dari bibir seorang Pangeran Kegelapan yang tak pernah mengatakan satu pun kata kepedulian.

"Jelek," kata Bellatrix. Suaranya mengatakan kata itu seolah itu adalah paku terakhir di peti matinya, keputusasaan terakhir. "Aku jelek, mereka memakan itu juga, aku, aku sudah tak cantik lagi, kau bahkan tak, akan bisa, memakaiku, sebagai sebuah hadiah, untuk para pelayanmu—bahkan para Lestrange, tak akan ingin, melukaiku, lagi—"

Sosok perak cemerlang itu berhenti berjalan.

Karena Harry berhenti berjalan.

Si Pangeran Kegelapan, dia … . Bagian dari diri Harry yang lembut dan rentan menjerit dalam kengerian tak percaya, mencoba untuk menyangkal kenyataan, menolak pemahaman itu, bahkan saat bagian lebih dingin dan lebih keras melengkapi polanya: Dia melaksanakan perintahnya dalam arti dia melaksanakan perintahnya di dalam segala hal.

Percikan hijau itu bergerak dengan penuh kedaruratan, menyentak maju.

Humanoid perak itu tetap diam di tempat.

Bellatrix terisak lebih keras.

"Aku, aku tidak, aku tak bisa, berguna lagi, sedikit pun … ."

Tangan raksasa memeras dada Harry, memelintirnya seperti kain basah, mencoba menghancurkan jantungnya.

"Tolong," bisik Bellatrix, "bunuh saja aku … ." Suaranya terdengar tenang, begitu dia mengatakan itu. "Tolong Lord, bunuh aku, aku tak memiliki alasan apa pun untuk hidup jika aku tak berguna untukmu … aku hanya ingin ini berhenti … tolong lukai aku untuk yang terakhir kali, my Lord, lukai aku sampai aku berhenti … aku mencintaimu … ."

Itu adalah hal paling menyedihkan yang pernah Harry dengar.

Bentuk perak cerah dari Patronus Harry berkedip—

Goyah—

Bertambah terang—

Amarah naik di dalam Harry, kemurkaannya atas si Pangeran Kegelapan yang sudah melakukan ini, kemurkaan atas para Dementor, atas Azkaban, atas dunia yang mengizinkan kengerian semacam itu, itu semua seolah tercurah langsung melewati tangannya dan masuk ke dalam tongkat sihirnya tanpa ada cara untuk menghalanginya, dia mencoba membuatnya berhenti dan tak ada yang terjadi.

"My Lord!" bisik suara dari samaran Profesor Quirrell. "Mantraku kehilangan kendali! Tolong aku, my Lord!"

Lebih terang si Patronus, lebih terang dan lebih terang, itu berlangsung lebih cepat daripada hari ketika Harry menghancurkan Dementor.

"My Lord!" siluet itu berkata dalam suatu bisikan takut. "Tolong aku! Semua orang akan merasakannya, my Lord!"

Semua orang akan merasakannya, pikir Harry. Imajinasinya bisa menggambarkannya dengan jelas, para tahanan di dalam sel mereka berdebar saat kedinginan dan kegelapan runtuh, digantikan oleh cahaya menyembuhkan.

Tiap permukaan yang terbuka sekarang terbakar seperti sebuah matahari putih di dalam pantulan, siluet dari tulang Bellatrix dan si pria pucat itu sekarang terlihat jelas dalam kilauan itu, mantra-mantra Disillusionment tak mampu mengimbangi kecemerlangan dari luar dunia itu; hanya Jubah Gaib dari Relikui kematian yang bertahan di hadapannya.

"My Lord! Kau harus menghentikannya!"

Tapi Harry tak lagi bisa memerintahkannya berhenti, dia tak lagi ingin hal itu berhenti. Dia bisa merasakannya, lebih banyak dan lebih banyak percikan kehidupan di Azkaban yang dinaungi oleh Patronusnya, saat hal itu membuka seperti sayap matahari yang terbentang, udaranya berubah menjadi perak absolut saat dia memikirkannya, Harry tahu apa yang harus dia lakukan.

"Tolong, my Lord!"

Kata-kata itu berlalu tak terdengar.

Mereka jauh darinya, para Dementor di dalam lubang mereka, tapi Harry tahu bahwa mereka bisa dihancurkan bahkan pada jarak ini jika cahaya itu membara cukup terang, dia tahu kalau Kematian itu sendiri tidak bisa menghadapinya jika dia berhenti menahan diri, jadi dia membuka segel atas seluruh gerbang di dalam dirinya dan menenggelamkan sumur mantranya ke dalam seluruh bagian-bagian terdalam dari semangatnya, seluruh pikirannya dan seluruh kehendaknya, dan benar-benar menyerahkan segalanya kepada mantra itu—

Dan di bagian dalam dari Matahari, suatu bayangan yang hanya sedikit lebih redup bergerak maju, mengulurkan satu tangan memohon.

SALAH
JANGAN

Rasa kebinasaan seketika menghantam determinasi besi Harry, ketakutan dan ketidakyakinan berjuang melawan tujuan cerah itu, tak ada lagi yang mungkin mencapai Harry kecuali itu. Siluet tadi mengambil satu lagi langkah maju dan satu lagi, rasa kebinasaan itu naik sampai suatu titik bencana mengerikan; dan di dalam keadaan basah kuyup air dingin, Harry melihatnya, dia menyadari konsekuensi dari apa yang sedang dia lakukan, bahayanya dan jebakannya.

Jika kamu menyaksikan dari luar kamu akan melihat bagian dalam dari Matahari makin cerah dan makin redup … .

Makin cerah dan makin redup …

… dan akhirnya memudar, memudar, memudar menjadi cahaya bulan biasa yang terasa seperti kegelapan pekat dalam kontras.

Di dalam kegelapan cahaya bulan itu berdiri seorang pria pucat dengan tangannya yang terulur dalam permohonan, dan tulang dari seorang perempuan, terbaring di atas lantai, suatu pandangan bingung di wajahnya.

Dan Harry, masih tak terlihat, tersungkur bersandar di lututnya. Bahaya yang lebih besar sudah lewat, dan sekarang Harry hanya berusaha untuk tidak rubuh, untuk menjaga mantranya tetap berlangsung di tingkat yang lebih rendah. Dia sudah menguras sesuatu, semoga saja tidak kehilangan sesuatu—dia harusnya tahu, harusnya ingat, bahwa bukan sihir biasa yang mengobarkan Mantra Patronusnya—

"Terima kasih, my Lord," bisik si pria pucat.

"Bodoh," kata si suara keras dari seorang bocah yang berpura-pura menjadi seorang Pangeran Kegelapan. "Bukankah aku sudah memperingatkanmu bahwa mantra itu bisa terbukti mematikan jika kamu gagal mengendalikan emosimu?"

Mata Profesor Quirrell tidak melebar, tentu saja.

"Ya, my Lord, aku mengerti," kata si pelayan Pangeran Kegelapan dalam suara gagap, dan berbalik kepada Bellatrix—

Dia sudah mengangkat dirinya dari lantai, perlahan, seperti seorang wanita Muggle tua, renta. "Lucu sekali," bisik Bellatrix, "kau nyaris terbunuh oleh Mantra Patronus … ." Suatu tawa kecil yang terdengar seperti sedang meniup debu keluar dari pipa tawa kecilnya. "Aku bisa menghukummu, mungkin, jika my Lord membekukanmu di satu tempat dan aku memiliki pisau … mungkin aku bisa berguna juga? Oh, aku merasa sedikit lebih baik sekarang, aneh sekali … ."

"Diam, Bella sayang," kata Harry dalam suara dingin, "sampai aku memberimu izin untuk bicara."

Tak ada jawaban, yang adalah suatu kepatuhan.

Si pelayan menerbangkan si manusia tulang, dan membuatnya tak terlihat sekali lagi, diikuti tak lama oleh menghilangnya diri si pelayan itu sendiri dengan suara telur pecah lain.

Mereka berjalan melalui koridor Azkaban.

Dan Harry tahu bahwa saat mereka lewat, para tahanan berdebar di dalam sel mereka saat ketakutan terangkat dalam satu saat berharga, mungkin bahkan merasakan suatu sentuhan penyembuhan kecil saat sinarnya melalui mereka, dan kemudian rubuh lagi saat kedinginan dan kegelapan menekan kembali.

Harry mencoba sangat keras untuk tidak memikirkan tentangnya.

Kalau tidak Patronusnya akan membara sampai dia membakar habis tiap Dementor di Azkaban, menyala cukup terang untuk menghancurkan mereka bahkan pada jarak ini … .

Kalau tidak Patronusnya akan membara sampai dia membakar habis tiap Dementor di Azkaban, mengambil seluruh nyawa Harry sebagai bahan bakar.


Di dalam tempat tinggal Auror di puncak Azkaban, satu Auror trio sedang mendengkur di barak, satu Auror trio sedang beristirahat di ruang istirahat, dan satu Auror trio sedang bertugas dalam ruang komando, menjaga pengawasan mereka. Ruang komando itu sederhana tapi luas, dengan tiga kursi di belakang tempat tiga Auror duduk, tongkat sihir mereka selalu di tangan untuk mempertahankan tiga Patronus mereka, saat bentuk putih terang berlalu lalang di depan jendela yang terbuka, melindungi mereka dari ketakutan Dementor.

Mereka bertiga biasanya tinggal di belakang, dan bermain poker, dan tidak melihat ke luar jendela. Kamu bisa melihat sedikit langit di sana, tentu saja, dan bahkan ada satu atau dua jam tiap hari di mana kamu bisa melihat sedikit matahari, tapi jendela itu juga melihat ke bawah pada lubang tengah neraka.

Hanya untuk jaga-jaga semisal satu Dementor ingin melayang dan berbicara denganmu.

Tak mungkin Auror Li akan setuju menunaikan tugas di sini, tiga kali gaji atau tidak, jika dia tidak memiliki sebuah keluarga untuk disokong. (Nama aslinya adalah Xiaoguang, dan semua orang malah memanggilnya Mike; dia menamai anak-anaknya Su dan Kao, yang semoga akan membuat keadaan mereka lebih baik.) Satu-satunya penghiburannya, selain uang, adalah paling tidak rekan-rekannya memainkan permainan Dragon Poker dengan sempurna. Walau adalah sukar untuk tidak, pada titik ini.

Itu adalah permainan ke-5.366 mereka dan Li memiliki apa yang bisa jadi adalah kartu terbaik di sekitar permainan ke-5.300. Itu adalah hari Sabtu di bulan Februari dan ada tiga pemain, yang membiarkannya menggeser gambar dari kartu satu lubang mana pun kecuali kartu dua, tiga, atau tujuh; dan itu sudah cukup untuk memberinya kesempatan membangun suatu Corps-a-Corps dengan Unicorn, Naga, dan tujuh … .

Di seberang meja darinya, Gerard McCusker mengangkat wajah dari meja kartu menuju ke arah jendela, menatap tajam.

Perasaan tenggelam datang ke perut Li dengan kecepatan yang mengejutkan.

Jika kartu tujuh hatinya dihantam oleh Dementor Modifier dan berubah menjadi enam, dia akan langsung jatuh jadi dua pair dan McCusker mungkin mengalahkan itu—

"Mike," kata McCusker, "ada apa dengan Patronusmu?"

Li memutar kepalanya dan melihat.

Luak perak lembutnya sedang mengalihkan pandangan dari pengawasannya atas lubang dan sedang melihat ke bawah pada sesuatu yang hanya dia yang bisa lihat.

Sesaat kemudian, bebek cahaya bulan Bahry dan trenggiling cerah McCusker mengikuti, menatap ke arah bawah yang sama.

Mereka semua bertukar pandangan, dan akhirnya menghela napas.

"Aku akan memberi tahu mereka," kata Bahry. Protokol memerintahkan untuk mengirim ketiga Auror yang sedang tidak bekerja tapi tidak tidur untuk menyelidiki sesuatu yang menyimpang. "Mungkin membawa salah satu dari mereka dan menyusuri spiral C, jika kalian berdua tidak keberatan."

Li bertukar pandangan dengan McCusker, dan mereka berdua mengangguk. Tidak terlalu sukar untuk menyusup masuk ke dalam Azkaban, jika kamu cukup kaya untuk menyewa seorang penyihir kuat, dan cukup memiliki niat-baik untuk merekrut seseorang yang bisa melemparkan Mantra Patronus. Orang-orang dengan teman di Azkaban akan melakukan itu, menyusup hanya untuk memberikan seseorang setengah hari dari waktu Patronus, suatu kesempatan untuk suatu mimpi yang sebenarnya bukannya mimpi buruk. Memberi mereka suatu pasokan cokelat untuk disembunyikan di sel mereka, untuk memperbesar kesempatan mereka hidup melewati masa hukuman mereka. Dan para Auror yang berjaga … yah, bahkan biarpun kamu tertangkap, kau mungkin bisa meyakinkan para Auror untuk mengabaikannya, sebagai ganti sogokan yang tepat.

Untuk Li, sogokan yang tepat biasanya ada dalam kisaran dua Knut dan satu Sickle perak. Dia membenci tempat ini.

Tapi Satu-Tangan Bahry memiliki seorang istri dan sang istri memiliki tagihan penyembuh, dan jika kamu mampu menyewa seseorang yang bisa menyusup masuk ke dalam Azkaban, maka kamu mampu melicinkan sisa telapak tangan Bahry cukup keras, jika dia adalah orang yang menangkapmu.

Oleh kesepakatan tak tertulis, tak satu pun dari mereka membuka satu hal pun dengan menjadi yang pertama mengajukannya, mereka bertiga menyelesaikan kartu poker mereka dulu. Li menang, karena tak ada Dementor yang benar-benar muncul. Dan pada saat itu para Patronus sudah berhenti memandang dan kembali pada patroli normal mereka, jadi itu mungkin bukan apa-apa, tapi prosedur adalah prosedur.

Setelah Li mengumpulkan taruhannya, Bahry memberi mereka semua anggukan formal, dan bangkit dari meja. Gembok putih panjang pria tua itu bergesekan dengan jubah merah mewahnya, jubahnya bergesekan dengan lantai metal di ruang komando itu, saat Bahry melewati pintu pembatas yang menuju ke tempat para Auror yang tadinya bebas tugas.

Li dulu Diseleksi ke dalam Hufflepuff, dan dia sesekali merasa sedikit tak nyaman dengan urusan macam ini. Tapi Bahry sudah menunjukkan pada mereka seluruh gambar-gambar itu, dan kamu harus membiarkan seorang pria melakukan apa yang dia bisa untuk istri sakit malangnya, khususnya ketika dia hanya memiliki tujuh bulan lagi sebelum pensiunnya.


Percikan hijau samar itu melayang melewati koridor-koridor metal, dan humanoid perak itu, terlihat sedikit lebih redup sekarang, mengikutinya. Sesekali sosok terang itu akan membara, khususnya ketika mereka melewati salah satu dari pintu-pintu metal besar itu, tapi dia selalu kembali meredup lagi.

Mata biasa tidak akan bisa melihat lainnya yang tak terlihat: si Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup berumur-sebelas-tahun, dan si tulang hidup yang adalah Bellatrix Black, dan Profesor Pertahanan Hogwarts dengan Polyjuice, semua berjalan melalui Azkaban. Jika itu adalah suatu awal dari gurauan, Harry tak tahu bagian lucunya.

Mereka menaiki empat tangga lain sebelum suara kasar sang Profesor Pertahanan berkata, biasa dan tanpa penekanan, "Auror datang."

Membutuhkan terlalu lama, satu detik penuh mungkin, untuk Harry memahami, untuk kejutan adrenalin terpompa ke dalam darahnya dan untuknya mengingat apa yang Profesor Quirrell sudah diskusikan dengannya dan katakan padanya untuk lakukan dalam kasus ini, dan kemudian Harry berbalik dan berlari kembali ke arah mereka datang.

Harry sampai pada tangga, dan dengan panik membaringkan dirinya sendiri pada anak tangga ketiga dari yang teratas, metal dingin itu terasa keras bahkan menembus selubung dan jubahnya. Mencoba untuk menggerakkan kepalanya ke atas, untuk mengintip melewati bibir tangga, menunjukkan kalau dia tidak bisa melihat Profesor Quirrell; dan itu berarti bahwa Harry di luar jalur dari tembakan liar apa pun.

Patronus bersinarnya mengikuti di belakangnya, dan berbaring di sampingnya pada anak tangga tepat di bawahnya; karena dia juga tak boleh diketahui.

Ada suatu suara samar seperti angin atau hembusan, dan kemudian suara dari tubuh tak terlihat Bellatrix yang berhenti pada satu anak tangga yang lebih jauh di bawah, dia tak memiliki peran dalam ini kecuali—

"Jangan bergerak," kata si bisikan dingin tinggi, "jangan berbicara."

Ada keheningan, dan kesunyian.

Harry menekan tongkat sihirnya pada sisi anak tangga metal sedikit di atasnya. Jika dia adalah orang lain mana pun dia harus mengambil sekeping Knut dari kantongnya … atau merobek sedikit kain dari jubahnya … atau menggigit salah satu dari kukunya … atau mencari sebongkah batu yang cukup besar yang bisa dia lihat dan cukup solid untuk tetap diam di satu tempat dan satu orientasi selagi benda itu menyentuh tongkat sihirnya. Tapi dengan kekuatan kemahakuasaan Transfigurasi parsial milik Harry, ini tidak perlu; dia bisa melompati bagian tertentu itu dan menggunakan material apa pun yang dekat dengannya.

Tiga puluh detik kemudian Harry adalah pemilik baru dari cermin melengkung, dan …

"Wingardium Leviosa," bisik Harry sepelan yang dia bisa.

… melayang sedikit di atas anak tangga, dan melihat, dalam permukaan melengkung itu, nyaris seluruh koridor itu di mana Profesor Quirrell menunggu dengan tak terlihat.

Harry mendengarnya dari kejauhan, kemudian, suara langkah kaki.

Dan melihat suatu bentuk (sedikit sukar untuk melihat di cermin) dari seseorang dalam jubah merah, turun dari tangga, memasuki suatu tempat yang terlihat seperti koridor kosong; ditemani seekor Patronus binatang kecil yang Harry tak cukup mampu kenali.

Si Auror sudah dilindungi oleh suatu kilauan biru, sukar melihat detilnya tapi Harry bisa melihat sejauh itu, si Auror sudah menyiagakan perisainya dan menguatkannya.

Sial, pikir Harry. Menurut si Profesor Pertahanan, seni duel yang utama terdiri dari mencoba membangun pertahanan yang akan menghalangi apa pun yang seseorang mungkin akan lemparkan padamu, selagi mencoba pada gilirannya menyerang dalam cara-cara yang mungkin akan menembus kelompok pertahanan mereka saat itu. Dan cara yang jelas termudah untuk menang dalam pertarungan sebenarnya apa pun—Profesor Quirrell sudah mengatakan ini berulang kali—adalah untuk menembak si musuh sebelum mereka membuat perisai pada awalnya, entah dari belakang atau dari suatu jarak yang cukup dekat hingga mereka tidak bisa menghindar atau membalas pada waktunya.

Walau Profesor Quirrell mungkin masih bisa menembak dari belakang, jika—

Tapi si Auror berhenti setelah mengambil tiga langkah ke dalam koridor.

"Disillusionment yang bagus," kata suatu suara keras laki-laki yang Harry tidak kenali. "Sekarang tunjukkan dirimu, atau kamu akan mendapat suatu masalah besar."

Sosok pria pucat, berjenggot menjadi terlihat setelah itu.

"Dan kamu dengan Patronus," kata si suara keras. "Keluar juga. Sekarang."

"Itu bukan sesuatu yang cerdas," kata si suara serius pria pucat itu. Itu bukan lagi adalah suara ketakutan dari pelayan si Pangeran Kegelapan; itu seketika menjadi intimidasi profesional seorang kriminal yang kompeten. "Kamu tidak ingin melihat siapa yang ada di belakangku. Percaya padaku, kamu tidak ingin. Lima ratus Galleon, uang tunai sekarang juga, jika kamu berbalik dan pergi. Masalah besar pada karirmu jika kamu tidak melakukannya."

Ada suatu jeda panjang.

"Lihat, siapapun kamu," kata si suara keras. "Kamu sepertinya tidak paham bagaimana cara kerjanya. Aku tak peduli jika Lucius Malfoy di belakangmu atau Albus Dumbledore. Kalian semua keluar, aku memeriksa kalian sepenuhnya, dan kemudian kita berbicara tentang seberapa banyak semua ini akan merugikan kalian—"

"Dua ribu Galleon, tawaran terakhir," kata si suara suram, mengambil suatu nada peringatan. "Itu sepuluh kali harga rata-rata dan lebih daripada yang kamu hasilkan dalam setahun. Dan percaya padaku, jika kamu melihat sesuatu yang harusnya tak kamu lihat, kamu akan menyesal karena tidak mengambil tawaran—"

"Diam!" kata si suara keras. "Kau punya tepat lima detik untuk menjatuhkan tongkat sihir itu sebelum aku menjatuhkanmu. Lima, empat—"

Apa yang kau lakukan, Profesor Quirrell? pikir Harry dengan panik. Serang dulu! Buatlah perisai paling tidak!

"—tiga, dua, satu! Stupefy!"


Bahry menatap, dingin menjalari tulang punggungnya.

Tongkat sihir si pria bergerak sebegitu cepat hingga itu terasa seolah melakukan Apparation, dan mantra Bahry saat ini berpijar dengan jinak di ujungnya, tidak ditangkis, tidak dihalangi, tidak dipantulkan, ditangkap seperti seekor lalat dalam madu.

"Tawaranku turun lagi menjadi lima ratus Galleon," kata si pria dalam suatu suara lebih dingin, lebih formal. Dia tersenyum kering, dan senyuman itu terlihat salah di wajah berjenggot itu. "Dan kamu harus menerima Mantra Memori."

Bahry sudah mengganti harmonik dari perisainya supaya mantranya sendiri tidak bisa menembus kembali, sudah memiringkan tongkat sihirnya kembali ke dalam posisi bertahan, sudah mengangkat tangan palsu yang dikeraskannya ke dalam posisi menahan apa pun yang bisa ditahan, dan sudah memikirkan mantra-mantra tanpa kata untuk memberi lebih banyak lapisan pada perisai-perisainya—

Si pria tidak melihat ke arah Bahry. Malah dia sedang menusuk-nusuk ingin tahu pada mantra Bahry yang masih melayang di ujung tongkat sihirnya, menarik keluar percikan merah dan menjetikkan mereka dengan jari-jarinya, perlahan membongkar kutukan itu seperti teka-teki batang anak kecil.

Si pria tidak membangun perisai apa pun untuk dirinya sendiri.

"Beri tahu aku," kata si pria dalam suatu suara tak tertarik yang tidak terasa cukup cocok dengan tenggorokan kasar itu—Polyjuice, Bahry akan menyebutkannya, jika dia berpikir kalau siapapun bisa melakukan sihir serumit itu dari dalam tubuh orang lain—"apa yang kamu lakukan di perang terakhir? Menempatkan dirimu dalam bahaya, atau menyingkir dari masalah?"

"Bahaya," kata Bahry. Suaranya menjaga ketenangan besi seorang Auror dengan nyaris seratus tahun penuh di kemiliteran, tujuh bulan lagi dari wajib pensiun, Mad-Eye Moody tak bisa mengatakannya dengan kekerasan lebih jauh.

"Pernah bertarung dengan Pelahap Maut?"

Sekarang suatu senyuman suram tiba di wajah Bahry sendiri. "Dua sekaligus." Dua dari pejuang-pembunuh dari Kau-Tahu-Siapa sendiri, dilatih secara pribadi oleh master kegelapan mereka. Dua Pelahap Maut sekaligus melawan Bahry sendiri. Itu adalah pertarungan paling berat di dalam hidup Bahry, tapi dia tetap berdiri, dan bertahan dengan hanya kehilangan tangan kirinya.

"Apa kau membunuh mereka?" Si pria terdengar penasaran setengah malas, dan dia terus menarik benang-benang api keluar dari pijaran listrik yang jauh berkurang yang masih tertangkap di ujung tongkat sihirnya, jari-jarinya sekarang menenun pola-pola kecil dari sihir Bahry sendiri sebelum menyentak memudarkan mereka.

Keringat keluar di kulit Bahry di bawah jubahnya. Tangan metalnya menyambar ke bawah, mencabut kaca yang ada di ikat pinggangnya—"Bahry pada Mike, aku perlu bala bantuan!"

Ada suatu jeda, dan kesunyian.

"Bahry pada Mike!"

Kaca itu terbaring kosong dan tak bernyawa di tangannya. Perlahan, Bahry menempatkannya kembali ke ikat pinggangnya.

"Sudah cukup lama sejak aku menikmati pertarungan serius dengan seorang musuh serius," kata si pria, masih tidak melihat ke arah Bahry. "Coba untuk tak terlalu jauh mengecawakanku. Kamu bisa menyerangku kapanpun kamu siap. Atau kamu bisa pergi dengan lima ratus Galleon."

Ada kesunyian panjang.

Kemudian udara menjerit seperti metal memotong kaca saat Bahry menebaskan tongkat sihirnya ke bawah.


Harry nyaris bisa melihatnya, nyaris bisa membedakan apa pun di tengah-tengah sinar-sinar dan kilatan-kilatan, cermin lengkungnya sempurna (mereka sudah melatih taktik itu sebelumnya di Chaos Legion) tapi kejadian itu masih terlalu kecil, dan Harry memiliki perasaan kalau dia tak akan mampu memahami bahkan biarpun dia menyaksikannya dari jarak satu meter, itu semua terjadi terlalu cepat, ledakan merah dipantulkan dari perisai biru, batang cahaya hijau saling berhantaman, sosok-sosok berbayang muncul dan menghilang, dia bahkan tak bisa mengetahui siapa yang melemparkan apa, kecuali kalau si Auror meneriakkan pemantraan demi pemantraan dan dengan panik menghindar selagi sosok Polyjuice Profesor Quirrell berdiri di satu tempat dan menyentakkan tongkat sihirnya, sebagian besar dengan diam, tapi sesekali mengucapkan kata-kata di dalam suatu bahasa yang tak dikenali yang akan memutihkan seluruh cermin itu dan menunjukkan setengah dari perisai si Auror tercabik saat dia tertegun.

Harry sudah pernah melihat duel-duel peragaan antara para murid terkuat tahun ketujuh, dan ini jauh di atas semua itu hingga pikiran Harry menjadi mati rasa, melihat pada seberapa jauh yang dia harus jalani. Tak ada satu pun murid tahun ketujuh yang akan bertahan setengah menit melawan si Auror, ketiga bala tentara tahun ketujuh disatukan mungkin tak akan bisa menggores sang Profesor Pertahanan … .

Si Auror terjatuh ke tanah, satu lutut dan satu tangan menyangga dirinya saat tangannya yang lain bergerak dengan panik dan mulutnya meneriakkan kata-kata putus asa, beberapa pemantraan yang Harry kenali semua adalah mantra perisai, saat kawanan bayangan berputar di sekeliling si Auror seperti pusaran pisau.

Dan Harry melihat sosok Polyjuice Profesor Quirrell dengan sengaja mengarahkan tongkat sihirnya ke arah di mana si Auror berlutut dan memerangi saat terakhir dari pertarungannya.

"Menyerah," kata si suara suram.

Si Auror meludahkan sesuatu yang tak terkatakan.

"Kalau begitu," kata si suara, "Avada—"

Waktu terasa bergerak sangat lambat, seolah ada waktu untuk mendengar masing-masing suku kata, Ke, dan Da, dan Vra, waktu untuk melihat si Auror mulai melemparkan dirinya sendiri mati-matian menyingkir; dan bahkan biarpun itu semua terjadi sebegitu lambat, entah bagaimana tak ada waktu untuk melakukan apa pun, tak ada waktu untuk Harry membuka bibirnya dan berteriak TIDAK, tak ada waktu untuk bergerak, mungkin bahkan tak ada sedikit pun waktu untuk berpikir.

Hanya waktu untuk satu harapan putus asa bahwa seorang pria tak bersalah harusnya tidak mati—

Dan satu sosok perak membara berdiri di hadapan si Auror.

Berdiri di sana dalam waktu kurang dari satu detik sebelum cahaya hijau itu sampai pada tujuannya.


Bahry berputar minggir dengan panik, tak tahu apakah dia akan selamat—

Matanya terfokus pada lawannya dan kematiannya yang melesat, jadi Bahry hanya sesaat melihat garis luar dari siluet cemerlang itu, Patronus yang lebih terang dari yang pernah dia lihat, melihatnya hanya cukup lama untuk mengenali bentuknya yang mustahil, sebelum cahaya hijau dan perak bertabrakan dan kedua cahaya menghilang, kedua cahaya menghilang, Kutukan Pembunuh sudah ditahan, dan kemudian telinga Bahry tertusuk saat dia melihat lawan mengerikannya menjerit, menjerit, menjerit, mencengkeram kepalanya dan menjerit, mulai roboh saat Bahry sudah roboh—

Bahry menghantam tanah, terjatuh dari lompatan paniknya, dan tulang bahu kiri yang bergeser dan tulang rusuk yang patah menjerit memprotes. Bahry mengabaikan sakitnya, berhasil bergegas kembali ke atas lututnya, membawa tongkat sihirnya untuk mengutuk lawannya, dia tidak memahami apa yang terjadi tapi dia tahu kalau ini adalah satu-satunya kesempatannya.

"Stupefy!"

Kilatan merah melesat menuju ke arah tubuh terjatuh si pria, dan kemudian tercabik-cabik di udara dan menguap—bukan oleh perisai apa pun. Bahry bisa melihatnya, udara bergetar yang mengelilingi musuhnya yang roboh dan menjerit.

Bahry bisa merasakannya seperti tekanan mematikan pada kulitnya, aliran sihir yang terkumpul dan terkumpul dan terkumpul menjadi suatu titik kehancuran mengerikan. Nalurinya berteriak kepadanya untuk berlari sebelum ledakannya tiba, ini bukan Mantra, bukan Kutukan, ini adalah ilmu sihir yang jadi liar, tapi bahkan sebelum Bahry selesai berdiri—

Si pria melemparkan tongkat sihirnya menjauh dari dirinya sendiri (dia membuang tongkat sihirnya!) dan sedetik kemudian, bentuknya memburam dan menghilang sepenuhnya.

Seekor ular hijau terbaring tak bergerak di lantai, tak bergerak bahkan sebelum mantra bius Bahry, ditembakkan dalam gerak refleks murni, mengenainya tanpa perlawanan.

Saat getaran dan tekanan mengerikan mulai menguap, saat kesihiran liar kembali padam, pikiran bingung Bahry memperhatikan bahwa jeritan itu terus berlanjut. Hanya saja terdengar berbeda, seperti jeritan seorang bocah kecil, datang dari tangga yang menuju ke bawah ke tingkat yang lebih rendah.

Jeritan itu tercekat juga, dan kemudian muncul kesunyian kecuali untuk engahan panik Bahry.

Pikirannya lamban, bingung, kacau. Lawannya tadi luar biasa kuat, itu bukan sebuah duel, itu seperti tahun pertamanya sebagai Auror trainee mencoba melawan Madam Tarma. Para Pelahap Maut waktu itu tidak sampai sepersepuluh dari kelihaian orang ini, Mad-Eye Moody tidak selihai itu … dan siapa, apa, bagaimana demi nama Merlin ada orang yang bisa menahan suatu Kutukan Pembunuh?

Bahry berhasil memanggil energi untuk menekan tongkat sihirnya pada tulang rusuknya, menggumamkan mantra penyembuh, dan kemudian menekannya lagi ke bahunya. Itu menghabiskan darinya lebih dari yang seharusnya, mengambil jauh terlalu banyak darinya, sihirnya ada di dalam batas tipis kelelahan total; dia tidak memiliki apa pun tersisa untuk luka-luka minor dan memar-memar atau bahkan untuk memperkuat bagian yang tersisa dari perisainya. Itulah yang bisa dia lakukan untuk tak membiarkan Patronusnya padam.

Bahry bernapas dalam, keras, menenangkan napasnya sebaik yang dia bisa sebelum dia berbicara.

"Kau," kata Bahry. "Siapapun kamu. Keluar."

Ada kesunyian, dan terpikir oleh Bahry bahwa siapapun itu bisa jadi sedang pingsan. Dia tidak memahami apa yang baru saja terjadi, tapi tadi dia mendengar jeritannya … .

Yah, ada satu cara untuk menguji itu.

"Keluar," kata Bahry, membuat suaranya lebih keras, "atau aku akan mulai menggunakan kutukan-kutukan efek-area." Dia mungkin tak akan bisa melakukan satu pun bahkan biarpun dia mencoba.

"Tunggu," kata si suara bocah, suatu suara bocah kecil, tinggi dan tipis dan bergetar, seperti seseorang yang menahan kelelahan atau air mata. Suaranya sekarang terasa datang lebih dekat. "Tunggu dulu. Aku—keluar—"

"Singkirkan penghilangnya," Bahry menggerutu. Dia terlalu lelah untuk repot-repot menggunakan Mantra-Mantra anti-Disillusionment.

Sesaat kemudian, wajah seorang bocah kecil muncul dari dalam suatu jubah penghilang yang terbuka, dan Bahry melihat rambut hitam itu, mata hijau itu, kacamata itu, dan bekas luka halilintar merah marah itu.

Jika dia memiliki pengalaman dua puluh tahun lebih sedikit di bawah ikat pinggangnya dia mungkin akan berkedip. Tetapi dia hanya meludahkan sesuatu yang dia mungkin seharusnya tidak katakan di depan Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup.

"Dia, dia," suara bergetar si bocah berkata, wajah mudanya terlihat ketakutan dan kelelahan dan air mata mengalir di pipinya, "dia menculikku, untuk membuatku melemparkan Patronusku … dia berkata dia akan membunuhku kalau aku tidak … hanya saja aku tak bisa membiarkannya begitu saja membunuhmu … ."

Pikiran Bahry masih tertegun, tapi hal-hal perlahan mulai terpasang ke tempatnya.

Harry Potter, satu-satunya penyihir yang pernah selamat dari Kutukan Pembunuh. Bahry mungkin saja bisa menghindari kematian hijau itu, dia jelas mencoba, tapi jika masalah itu sampai di hadapan Wizengamot, mereka akan menetapkan kalau itu adalah hutang nyawa pada sebuah Keluarga Terhormat.

"Aku paham," kata Bahry dalam gerutu lebih lembut. Dia mulai berjalan ke arah si bocah. "Nak, aku menyesal atas apa yang baru saja kamu alami, tapi aku memintamu menjatuhkan jubahnya dan menjatuhkan tongkat sihirmu."

Sisa dari Harry Potter muncul dari ketidakterlihatan, menunjukkan jubah Hogwarts basah-keringat berpotongan-biru, dan tangan kanannya menggenggam sebuah tongkat sihir holly sebelas inci sebegitu keras hingga genggamannya memutih.

"Tongkat sihirmu," Bahry mengulangi.

"Maaf," bisik si bocah sebelas tahun, "ini," dan dia mengulurkan tongkat sihirnya ke arah Bahry.

Bahry nyaris menghentikan dirinya sendiri dari menyeringai ke arah si bocah yang mengalami trauma itu yang baru saja menyelamatkan nyawanya. Malahan dia mengabaikan dorongan itu dengan desahan, dan sekadar mengulurkan satu tangan untuk menerima tongkat sihir itu. "Lihat, nak, kau benar-benar tidak boleh mengarahkan tongkat sihir pada—"

Ujung tongkat sihir berputar ringan di bawah tangan Bahry tepat saat si bocah berbisik, "Somnium."


Harry menatap ke arah tubuh tergelung si Auror, tak ada rasa kemenangan, hanya suatu rasa keputusasaan meremukkan.

(Meski demikian mungkin saja itu belum terlambat.)

Harry berbalik untuk melihat ke arah si ular hijau terbaring tak bergerak.

"Guru?" desis Harry. "Teman? Tolong, apakah kau massih hidup?" Suatu ketakutan mengerikan mengambil alih jantung Harry; di saat itu dia sepenuhnya melupakan bahwa dia baru saja melihat sang Profesor Pertahanan mencoba membunuh seorang polisi.

Harry mengarahkan tongkat sihirnya pada si ular, dan bibirnya mulai membentuk kata Innervate, sebelum otaknya mencapainya dan berteriak ke arahnya.

Dia tidak berani menggunakan sihir pada Profesor Quirrell.

Harry merasakannya, bara itu, sakit menyayat di kepalanya, seolah otaknya nyaris terbelah dua. Dia merasakannya, sihirnya dan sihir Profesor Quirrell, berimbang dan anti-harmonis dalam suatu penggenapan kebinasaan. Itu adalah hal mengerikan misterius yang akan terjadi jika Harry dan Profesor Quirrell sampai berada terlalu dekat satu sama lain, atau jika mereka sampai saling melemparkan sihir pada yang lain, atau jika mantra-mantra mereka sampai bersentuhan, sihir mereka akan beresonansi tanpa kendali—

Harry memandang ke arah si ular, dia tak bisa memastikan apakah dia bernapas.

(Detik-detik terakhir berlalu.)

Dia berbalik untuk menatap si Auror, yang sudah melihat si Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup, yang mengetahui.

Seluruh besaran dari bencana itu runtuh ke atas Harry seperti ribuan ratusan-ton beban, dia berhasil membuat si Auror pingsan tapi sekarang tak ada satu hal pun yang tersisa untuk dilakukan, tak ada cara untuk memulihkan, misinya gagal, semuanya gagal, dia gagal.

Terkejut, kecewa, putus asa, dia tidak memikirkannya, tidak melihat hal yang kentara, tidak mengingat dari mana perasaan tanpa harapan itu datang, tidak sadar kalau dia masih perlu melempar ulang Mantra Patronus Sejati itu.

(Dan kemudian semuanya terlambat.)


Auror Li dan Auror McCusker sudah menata ulang kursi mereka di sekeliling meja, dan dengan demikian mereka berdua melihatnya di saat yang sama, kengerian telanjang, sekurus tulang naik untuk melayang di luar jendela, sakit kepala sudah menghantam mereka hanya dari melihatnya.

Mereka berdua mendengar suaranya, seperti sebuah mayat yang lama mati mengucapkan kata-kata dan kata-kata itu sendiri sudah menua dan mati.

Kata-kata si Dementor melukai telinga mereka saat dia mengatakan, "Bellatrix Black lari dari selnya."

Ada suatu saat singkat kesunyian mengerikan, dan kemudian Li bergegas keluar dari kursinya, menuju ke arah alat penghubung untuk memanggil bala bantuan dari Kementerian, bahkan saat McCusker meraih kacanya dan mulai dengan panik menyiagakan ketiga Auror yang sedang patroli.