FINAL FANTASY VERSUS
054
LUNAFREYA
07.09.756 M.E. | 10.10 AM
Naiklah untuk kepentingan rakyatmu.
Kalimat yang diucapkan Cor mengingatkan sesuatu baginya. Untuk mendengarnya diucapkan kepada Noctis menekankan fakta bahwa sang Pangeran adalah Raja Sejati. Raja Cahaya Sejati yang diurapi oleh Kristal Agung. Semuanya terasa sangat nyata sekarang. Legenda yang dia remehkan ketika kecil, sekarang terasa lebih besar dari kehidupan yang tiba-tiba menjadi nyata dan berada dalam jangkauannya.
Tangan besar menggenggam tangannya sampai terasa sakit. Lunafreya tidak menjauhkan diri dari Noctis. Lelaki itu lebih terluka daripada dia. Lelaki itu membutuhkan dirinya. Dia tidak tahu apakah dirinya sebagai Oracle atau Lunafreya yang dibutuhkan Noctis. Peran apapun yang harus dia jalankan, dia akan melakukannya untuk kepentingan mereka berdua. Mata birunya terpaku ke balik altar batu di mana terbaring patung untuk menghormati salah seorang Raja dari Yore.
Generasi-generasi Raja Lucis yang melindungi Kristal Agung telah mencapai titik ini, dia berpikir, mengingat kisah-kisah yang diceritakan kepadanya oleh Gentiana ketika kecil. Sebelas Raja dan Ratu…Tidak, ditambah Raja Regis sekarang, dua belas Raja dan Ratu menjalani kehidupannya sambil memikul beban Ring of Lucii untuk kepentingan lelaki yang menggenggam tangan Lunafreya. Dalam saku celana jeans yang dipinjamkan Cindy untuknya, cincin itu membebani pikirannya. Tujuan dia sederhana: memberikan cincin itu kepada Noctis. Raja Regis memohon kepadanya ketika dia menyerahkan cincin dengan pecahan Kristal Agung sebelum momen akhir hidupnya.
"…ada di dekat sini. Aku menyarankan kau pergi ke sana selanjutnya. Ada makam-makam tersebar di Eos. Semuanya berada di lahan yang berbahaya. Aku akan ikut denganmu, untuk sementara waktu," Cor berkata, membawa perhatian Lunafreya kembali ke masa kini. Dia mendorong masalah cincin kembali ke benaknya. Sekarang, dia perlu fokus.
"Seberapa dekat?" tanya Noctis, suaranya masih terasa ganjil bagi Lunafreya. Sulit baginya untuk menyetarakan anak laki-laki yang periang dengan lelaki yang berada di sampingnya sekarang.
"Keycatrich Trench. Tidak begitu jauh dari sini."
Noctis lebih tinggi dari dia sekarang, wajahnya lebih dewasa, tetapi tetap mempertahankan karakteristik lelaki yang dia ingat. Rambutnya yang berantakan terjebak di berbagai sudut dari balik kepalanya. Dan walaupun dia sudah pernah melihat Ignis mencoba untuk merapikan rambut Noctis, rambut itu tidak pernah turun ke bawah. Setiap tatapan sejenak ke rambut Noctis membuat dia merasakan hasrat aneh berupa keinginan menyisiri jemarinya melalui rambut itu untuk merasakan kelembutannya. Satu-satunya yang tidak berubah dari Noctis adalah matanya yang berwarna biru, warna yang mengingatkan dia akan lautan. Jernih dan ada sentuhan naif di sana. Mirip seperti ketika lelaki itu masih kecil.
Ditarik oleh Noctis, yang masih menolak untuk melepaskan tangannya, Lunafreya mengikuti yang lainnya dari belakang ketika mereka meninggalkan Royal Tomb itu. Dia baru saja mengambil langkah kecil di luar ruangan gelap ketika telinganya menangkap suara batu yang bergeser, pintu makam yang berat menutup di belakangnya.
"Baguslah Cor ikut bersama kami. Tempat itu terbengkalai untuk bertahun-tahun. Barangkali sudah dipenuhi oleh daemon," kata Gladiolus, pria yang tinggi dan berotot itu senang dengan berita itu.
Gladio, kependekan dari Gladiolus, adalah putra sulung dari keluarga Amicitia, keluarga yang dikenal generasi ke generasi Kerajaan Lucis. Dia mendengar dari Noctis mengenai Iris, adik perempuan Gladiolus, melalui buku agenda mereka sekali saja. Sesuatu mengenai perempuan itu tersesat di dalam taman Kerajaan.
"Aku tidak hanya berada di sini untuk membantu, tetapi untuk mengukur kemampuanmu," Cor menjelaskan lebih jauh, rerumputan bergemerisik di bawah kaki mereka ketika mereka berjalan ke arah timur tidak dalam kecepatan santai, tapi juga tidak terburu-buru.
Dan Komandan Clarus, Lunafreya mengigit bibir bawahnya, matanya melihat bahu belakang Gladiolus yang lebar ketika dia dan Noctis berjalan di belakang, tangan mereka masih bertautan. Tergantung di dinding, tertusuk oleh pedangnya sendiri…pemandangan mengerikan di dalam aula penandatanganan pakta mengejutkannya di momen dia melihat adegan itu. Rasanya seperti dia mengunjungi masa lalu, melihat ibunya dibunuh oleh pedang Jenderal Glauca dan tentara Tenebraen dibunuh satu per satu. Penyesalan melandanya. Dia memutuskan untuk menahan detail pasti akan kematian Clarus dari Gladiolus untuk melindungi lelaki itu dari penderitaan lebih lanjut daripada yang sudah ditahannya. Mungkin ketika waktunya tiba, dia akan mengatakannya jika Gladiolus masih menginginkannya.
Ada sentakan lembut di tangannya. Tidak disadarinya, dia telah berhenti berjalan. Merasakan tatapan kepedulian dari Noctis, dia menjawab dengan yakin. Untung saja, Noctis tidak menanyakan alasan dia berhenti karena mengembalikan perhatiannya kepada Cor.
"Ada berapa 'kekuatan' ini di luar sana?" Noctis bertanya, mengangkat suaranya agar dapat didengar Cor yang berjalan beberapa meter di depan, kecepatannya nyaris dua kali lebih cepat dari Noctis dan Lunafreya.
"Ada tiga belas Royal Arms yang diketahui, semuanya diabadikan di dalam Royal Tomb, walaupun kita hanya mengetahui lokasi beberapa saja. Aku sudah meminta bantuan para Hunter. Mereka menjelajahi Eos untuk menemukan makam yang hilang."
Tidak begitu tepat. Cor benar dengan berkata ada tiga belas Royal Arm. Tetapi, sejauh pengetahuannya, ketika keluarga Caelum memiliki dua belas, keluarga Fleuret memiliki satu senjata─trisulanya. Ketika Starscourge melanda Eos, legenda mengatakan bahwa Bahamut, Astral terkuat dari Hexatheon, turun dari langit untuk memberkahi seorang wanita saleh dengan kekuatan Oracle, menghadiahi keturunannya dengan trisula Dia. Trisula yang sama yang dianugerahi kepada Lunafreya ketika dia ditahbiskan sebagai Oracle setelah kematian ibunya. Tetapi Noctis tidak perlu mengetahui hal ini. Belum saatnya. Dia tetap membutuhkan trisulanya untuk berkomunikasi dengan para dewa dan memadu Perjanjian.
Tiba-tiba saja, tangannya dilepaskan. Noctis dengan cepat memanggil pedangnya, lutut menekuk dengan kuda-kuda tempur yang telah terlatih. Teriakan Prompto di depan mewaspadai mereka akan kehadiran lawan.
"Ada Sabertusk datang!" sang penembak segera melanjutkan peringatannya dengan tembakan, menarget hewan yang mendekati mereka dengan gesit.
Tubuh Lunafreya menegang. Di sampingnya, Noctis melemparkan pedangnya ke depan, menghilang dalam cahaya kebiruan dan muncul kembali di medan perang. Lunafreya tidak memiliki senjatanya untuk membantu mereka. Dia bukanlah seorang petarung─sesuatu yang disadarinya ketika dia dilindungi oleh Nyx selama pelariannya dari Insomnia. Glaive itu menunjukkan kemampuan dan kelincahan setara Noctis.
Dia merenungkan Nyx yang masih terkapar lemas di Hammerhead. Seberapa besarnya jasa Glaive itu yang telah menyelamatkannya dari medang perang di ibu kota. Dia tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikan Nyx. Selain itu, dia tidak dapat menentukan apakah perhatiannya yang diberikan kepada Nyx adalah sebuah ungkapan untuk melunasi hutang budinya atau lebih dari itu. Apakah dia mulai menyimpan perasaan lebih dari sekedar Putri dan Glaive kepada Nyx?
Sekarang dia telah berkumpul kembali bersama Noctis. Sang Pangeran tampak jelas sekali bersyukur atas pertemuan mereka setelah dua belas tahun berpisah. Dia sendiri mensyukuri itu lebih dari apapun di dunia ini. Melihat wajah Noctis dan menyentuh kulitnya secara langsung, siapa yang bisa menebak kesempatan itu dapat diperolehnya setelah kegilaan yang melanda Insomnia?
Dia mengira reuni mereka setelah begitu lama berujar sapa melalui buku agenda akan terasa janggal dan canggung. Tapi Noctis memberikan dia kehangatan yang menenteramkan jiwanya. Sang Pangeran jelas ingin membuatnya merasa nyaman berada di lingkaran teman-temannya. Dia telah merawat lukanya, memberikannya masakan spesial, dan tidak pernah melepaskan pandangan darinya. Rasa cinta Noctis kepadanya, walaupun malu-malu, terasa nyata.
Seberapa canggungnya dia berada di dekat Noctis hanya dalam kurun waktu kurang dari satu hari, dia telah berusaha mematuhi pesan ibu yang pernah dia dengar ketika masih kecil.
"Bagaimana kalau aku tidak mencintai Pangeran Noctis?"
"Maka belajarlah untuk mencintainya, Luna,"
"Lalu bagaimana jika aku tetap gagal mencintainya?"
"Maka berpura-puralah mencintainya. Jangan sampai Pangeran mengetahui perasaanmu yang sebenarnya.""
Lunafreya sedang berada di fase pertama, yakni fase untuk belajar mencintai, atau tepatnya, membalas cinta Noctis yang dicurahkan kepadanya. Beginikah rasanya cinta? tanya Lunafreya kepada dirinya sendiri ketika dia menyaksikan Noctis sedang menebaskan pedangnya ke seekor Sabertusk. Seindah ini? Perutnya berdeguk gugup. Perasaan hangat ini?
Bertahun-tahun, Lunafreya merasa sangat kesepian. Kakaknya telah menutup diri darinya setelah bergabung dengan Niflheim. Orangtuanya meninggal. Teman-temannya hanya Gentiana, Umbra, Pryna, dan para pegawai kastel. Lalu, tiba-tiba, Noctis muncul di hadapannya dan menjungkirbalikkan hidupnya.
Tapi di samping itu, ada lelaki lain yang memikat perhatiannya: Nyx Ulric. Dia merasa mampu melakukan hal gila yang berada di luar nalarnya jika berada di sisi Glaive itu. Dia telah mencoba menyetir mobil melalui jalan tol Insomnia ketika dikejar trio Glaive pengkhianat. Selain itu, dia tak pikir panjang ketika Luche berusaha membunuh Nyx dengan pistolnya sampai membuat bahunya tertembak karena melindungi lelaki itu. Ketika Nyx membuatnya menjadi sosok perempuan kuat yang dia dambakan, Noctis adalah sebaliknya. Sang Pangeran menganggapnya sebagai sosok perempuan yang harus selalu dilindungi dari marabahaya, dan itu membuatnya merasa kecil dan tak berguna. Namun kehangatan yang diberikan Noctis menutupi semua kekurangan itu. Sekarang, dia merasa dilema, terjepit antara dua lelaki yang memperlakukannya secara berbeda.
Sebelum dia bisa berpikir lebih banyak, pertarungan telah usai dan dimenangkan kelompok lelaki itu.
"Itu bukan usaha yang buruk, Prompto," kata Cor ketika kelima lelaki itu menyimpan senjatanya dengan santai.
"Whoa! Aku baru saja dipuji oleh sang Immortal!"
"Bagaimana jalanmu, Nona Lunafreya?" Ignis berhenti di depannya, mendorong kacamatanya ke puncak batang hidungnya, lensanya merosot karena pertarungan tadi. "Barangkali kau lebih baik menunggu di perhentian ketika kami mengambil Royal Arm lainnya."
"Yeah, ini bukanlah tempat untuk seorang Nona sepertimu," Prompto, setelah dia merayakan pujian dari Cor, mendekatinya. "Kita bisa meminta Monica menjagamu dan akan ada banyak Hunter di sekitarmu jadi monster tidak akan mampu melukaimu."
Aku lemah sekali…batinya. Sampai kapan aku harus membebani banyak orang dengan kelemahanku? Rasa ketidakberdayaan mencengkeramnya untuk sejenak.
"Apa ada sesuatu yang salah, Nona Lunafreya?"
"Kau terlihat agak pucat. Kurasa sebaiknya kita kembali ke perhentian."
"Hei, berhenti berkerumun di dekatnya."
"Ouch! Gladio, berhenti menarik kerahku!"
Suara itu semakin nyaring di dalamnya. Aku harus menjadi kuat, sebuah mantera yang dikatakannya kepada dirinya sendiri sejak kehancuran negaranya di tangan Niflheim bergema di dalam benaknya. Lalu satu suara lain, lebih jelas dari yang lain, memanggil namanya halus dan cemas.
"Luna."
Entah bagaimana, Noctis berdiri di sampingnya, menatap dia dengan mata yang khawatir. Noctis, yang sudah berurusan dengan hal-hal terkait takdirnya di dalam makam leluhurnya, lebih menunjukkan kepedulian terhadap keadaan Lunafreya daripada dirinya sendiri. Aku tidak boleh bimbang. Tidak ketika kamu telah memilih untuk terus maju.
Noctis mengabaikan teman-temannya, tetap memerhatikan dia. "Apa yang ingin kamu lakukan?"
Sudah berapa lama sejak dia mendengar kalimat itu? Jawabannya jelas dan tanpa keraguan. "Aku ingin senantiasa berada di sampingmu."
Senyuman balasannya, walaupun sekilas, cukup untuk mendorong pikiran negatif yang menghantuinya ke sudut otaknya. Tanpa kata-kata lain, Noctis meraih tangannya sekali lagi, berjalan melewati teman-temannya yang terlihat lebih cenderung bertikai di antara mereka daripada menyadari kenyataan bahwa mereka lambat laun tertinggal di belakang.
Lunafreya mencoba untuk tidak goncang di bawah tatapan serius Cor ketika mereka mendekati pria itu. Sang Marshal tampak seolah dia bisa melihat menembus dirinya. Tatapan itu akhirnya meninggalkan dia dan beralih ke trio yang sedang ribut-ribut. "Ke sini!" seru Cor, suaranya tidak memberikan ruang untuk berdebat. "Kita tidak boleh membuang-buang waktu!"
"Sial! Maaf! Padahal aku baru saja dipuji!" Prompto berlari untuk mengikuti. Menggelengkan kepalanya, Ignis mengejar di belakangnya dengan Gladiolus berada di paling belakang dari ketiga orang itu.
Menelusuri jalan tanpa ada sesuatu yang terjadi, mereka berhenti ketika sudah tiba di pintu masuk Keycatrich Trench, yang dijaga oleh tentara Kekaisaran. Mereka berjongkok di belakang batu besar, dengan aman berada di luar jarak pandang tentara Niflheim itu. Di langit, lebih banyak kapal udara tiba dan berhenti. Dia tidak bisa mengetahui tujuan mereka.
"Bagaimana kita melalui mereka semua?" Prompto melongo, berhati-hati mengintip dari tepi. Sekelompok tentara diletakkan di area terbuka, mengawal pintu masuk Keycatrich Trench. Kenapa? Apakah Kekaisaran tahu mengenai Royal Arms? Lalu kalau begitu…siapa? Dia meragukan siapapun di Niflheim mengetahui rahasia keturunan Lucis Caelum. Bahkan Noctis terkejut oleh kekuatan leluhurnya. Apakah Ravus yang memberitahu mereka?
Dia tidak bisa merenungkan pemikiran itu lebih lama ketika kelima lelaki itu bersiap untuk menyerang. Cor menarik keluar sebuah katana, tangannya berkelit di pegangan. "Serang mereka dari depan atau dari belakang. Pilihannya berada di tangan kalian."
"Menyerang mereka dari depan bisa membunuh kita. Seorang tentara ada di balik kubah beberapa meter di depan, mengendalikan senapan mesin. Satu langkah saja salah, kita akan menjadi sasaran empuk mereka," bisik Ignis. Dia mengintip melalui celah sejenak sebelum kembali ke belakang batu besar. "Rencana terbaik bagi kita adalah dengan membiarkan Noctis berteleportasi ke tentara di kubah dan menonaktifkan senapan mesin. Ketika dia bertarung, kita berempat akan mengurusi tentara lainnya."
Noctis berdiri tanpa ragu-ragu. "Baiklah, kita akan menjalankan rencana itu."
"Berhati-hatilah, Noctis. Nyawa kami ada di tanganmu," Ignis berkata, matanya fokus.
"Kalau kau ingin menikahi Nona Lunafreya, sebaiknya kau memastikan kita bisa keluar dari sini dengan utuh," komentar Gladiolus,membuat pipi Noctis memerah. Sang Pangeran menghilang, berteleportasi ke target dalam jangkauan.
"Masih banyak yang perlu dia pelajari kalau dia mudah dipermalukan dengan perihal cinta," kata Cor, yang selalu serius, mendadak menggoda dua teman masa kecil itu, mengejutkan Lunafreya. Lalu sang Marshal pergi, melempar dirinya ke dalam keributan, katananya berkilau diterpa sinar matahari.
"Menunduk, Nona Lunafreya!"
"Ayo kita cepat-cepat menyelesaikan pertempuran ini!"
Prompto dan Ignis terburu-buru mengikuti sang Marshal, meneriakkan kalimat itu kepadanya. Gladiolus tidak berkata apa-apa, hanya melenguh ketika maju dengan greatsword-nya. Tertinggal sendirian di balik pengamanan, Lunafreya tersentak ketika rentetan peluru mengenai batu besar, beberapa mengenai permukaan, lainnya tidak terkena sasaran dan melesat begitu saja.
Aku tak takut kematian.
Dia menenangkan tangannya, meregangkan jemarinya. Dalam benaknya, dia memanggil kekuatan yang diwarisinya melalui darahnya. Kekuatan seorang Oracle─sesuatu yang hanya digunakan untuk melindungi. Dia tidak memiliki sebuah senjata. Trisulanya masih tertinggal di Ulwaat Forest, sebuah hutan tropis di Tenebrae. Kalau saja ada seseorang yang bisa membawakan senjata itu untuknya, maka dia bisa ikut bertempur bersama kelima lelaki di sana. Lalu dia menutup kedua matanya. Aku memanggilmu, wahai Trident of Oracle. Dia membayangkan trisula itu dalam benaknya, seolah ada sebuah tali yang terbentang antara tangannya yang terbuka dan senjata khasnya. Lalu tali itu mengencang, dan dia menarik trisula itu ke dalam tangannya. Ketika dia membuka mata, tiba-tiba tangannya yang kosong sudah menggenggam trisula bermata ganda, logam yang dingin terasa akrab di sentuhannya. Apakah itu trisula yang sama dengan legenda? Dia tidak dapat memastikannya. Semua yang dia tahu adalah Noctis dan lainnya sedang bertarung, meletakkan nyawa mereka di depan. Dan sekarang dia memiliki sebuah senjata. Walau begitu, dia tidak dapat menggunakannya sebagai senjata yang layak.
Mengumpulkan kekuatannya, Lunafreya memaksakan diri berdiri dan berjalan meninggalkan batu besar yang melindunginya, langsung ke dalam pertempuran. Untuk sesaat, tampaknya mata semua orang menyadari kehadirannya yang langsung ke area bebas peluru tanpa ada perlindungan sama sekali.
"Nona Lunafreya!" Suara Ignis yang panik bisa terdengar di antara suara senapan pesin yang berbunyi rat-tat-tat.
"Sial─Hati-hati!" Gladiolus menghancurkan dua MT ke tanah, membelah kaki robot mereka. Dia berlari menghampiri Lunafreya, tapi kecepatan dia tidak sebanding dengan peluru yang melesat kepadanya.
Lalu, sebelum dia terkena peluru, dinding cahaya kebiruan timbul di hadapannya, membentuk setengah lingkaran protektif untuk menghentikan peluru yang melesat kepadanya, semua tembakan berbahaya itu gagal mengenainya, terjatuh di sekitar kakinya. Walaupun berbeda dari sihir pelindung yang digunakan Raja Regis dan Nyx, tujuan akhirnya sama saja. Sebelum dinding itu menghilang, dia melihat dua MT berlari mendekatinya dengan gesit, sepasang pedang berputar di tangan mereka. Dia siap untuk meledakkan mereka ketika mereka menyentuh dinding pelindungnya. Pinggang MT itu berputar 180 derajat, sama sekali tidak tampak seperti manusia, asap keluar dari tubuh logam mereka.
Lalu mereka meledak dalam cahaya kemerahan yang menyilaukan.
Apa yang terjadi? Dia menggunakan sihir untuk menyembuhkan. Sihir itu tadinya berguna untuk mendukung dan melindungi. Satu-satunya entitas yang memiliki efek kebalikan dari sihir dia adalah…daemon. Realisasi tampak memperlambat waktu di sekitarnya. Tentara Kekaisaran terdiri dari manusia dan MT, dan MT nyaris mengganti keseluruhan sumber daya manusia. Kalau mereka menggunakan daemon…
"Noctis!"
Matanya menjelajahi area mencari sang Pangeran dan menemukannya sedang menggantung di dinding, mencengkeram tangan robotik dari sesosok MT. Dari raut wajahnya yang linglung, apapun yang terjadi padanya tidaklah baik.
Yang kutakutkan adalah menjadi tidak berdaya dan kehilangan segalanya.
Mengangkat trisulanya ke atas langit, alis Lunafreya mengencang ketika dia berkonsentrasi. Warna keemasan menyelimuti keseluruhan radius area itu diikuti oleh kilauan cahaya yang membutakan. Ketika cahaya itu hilang, semua MT sudah berserakan di tanah. Kelelahan menguasainya, memaksa dia untuk bersandar ke trisulanya. Memanggil sihir seperti yang dilakukannya tadi bukanlah sesuatu yang biasa untuknya. Terutama ketika skala sihir itu sebesar Holy.
Seberapa letihnya dia, dia tidak bisa mengumpulkan kekuatan untuk memanggil pelindung lainnya ketika sebuah garis merah dari laser tampak di atas pakaian gelapnya. Tapi tembakan itu tidak terlepas. Berdiri di depannya adalah Gladiolus, greastword-nya disilangkan di tubuhnya, memantulkan tembakan itu.
"Prompto! Sniper di arah jam sepuluh!" dia berteriak.
"Aku mengerti!"
Sebelum dia menyadarinya, Ignis melindungi dia di sebelah kiri, mengempaskan belatinya dengan ketepatan yang tajam. "Kurasa kita kalah telak," kata Ignis dari balik punggungnya, belatinya dilemparkan seperti bumerang ke arah tentara yang mendekat. "Nona lebih efisien daripada kombinasi kita berlima."
"Heh, siapa yang berpikir aku bisa melihat Nona Lunafreya menjatuhkan MT lebih cepat dari kedipanku," Gladiolus menebaskan greatsword-nya. Lunafreya mendengar dentuman logam dan suara jeritan kesakitan. Ini adalah perang, dia berkata kepada dirinya sendiri, mencoba untuk tidak bergerak ketika melihat cipratan darah mengenai rerumputan.
"Akan memalukan kalau kita membiarkan mempelai wanita Pangeran melakukan pekerjaan keras. Ayo kita gerak, Gladio!"
"Laksanakan, Iggy."
Seperti air yang mengalir bersamaan, dua lelaki itu berderap maju, dengan lihai mengelilingi MT dan menghabisi tentara terakhir. Pada satu momen, Gladiolus mengibaskan greatsword-nya ke bawah, dan momen berikutnya Ignis membalik, belatinya terbang dari tangannya. Meskipun berada di tengah perang, dia tidak dapat menahan diri memuji cara tempur mereka yang andal dan mengagumkan.
"Kerja bagus, semuanya!" Cor memuji ketika lawan terakhir telah ditumbangkan. Dia mengangkat kepalanya kepada Lunafreya, "Dan kau juga, Nona!"
Prompto memberi hormat. "Terima kasih, Sir!"
"Pujian dari Marshal memang sebuah pujian yang patut dibanggakan," Ignis menegaskan. Dia berdiri beberapa meter menilai bongkahan metal dari zirah MT yang sudah tidak berfungsi. "Walaupun masih banyak yang perlu kita pelajari kalau jika ingin disamakan sebagai satu dari tiga orang terkuat di Kerajaan Lucis."
Menyimpan trisulanya lagi, Luna berdiri, masih merasa kebingungan setelah bertempur. Noctis secara instan berdiri di sampingnya, rambutnya tampak kusut. "Apa kau baik-baik saja, Luna?" tanyanya, mengulurkan tangan, mencoba untuk melihat apa yang bisa dia bantu. Itu membuat Lunafreya senang mengetahui dia peduli akan kondisinya.
"Ya, hanya sedikit pusing. Bagaimana denganmu?" Kalimat itu membuatnya sesak napas. Melihat itu, Noctis melilitkan tangannya kepada dia untuk membantunya berdiri.
"Aku tidak terluka sama sekali. Aku tidak tahu apa yang tadi digunakan MT. Semua yang bisa kuingat adalah aku merasa kelelahan dan tidak bisa menggunakan sihir untuk kabur."
"Senjata anti-sihir? Bagaimana bisa Kekaisaran mengetahui cara membuat teknologi semacam itu? Ignis bertanya-tanya ketika semua orang sudah berkumpul. "Lucis adalah satu-satunya Kerajaan dengan sihir."
"Walau begitu, kita sudah mencapai pintu masuk Keycatrich Trench. Kita bisa mendiskusikan Kekaisaran setelah mengambil Royal Arm. Kemungkinan besar Kekaisaran akan mengirimkan lebih banyak tentara untuk berjaga di area ini," kata Cor, memberikan isyarat kepada mereka untuk melanjutkan perjalanan.
Meremas bahu Lunafreya dengan lembut, Noctis menarik tangannya, tetapi tetap berjaga di dekatnya ketika mereka berjalan ke depan. Pintu masuk Keycatrich Trench adalah sebuah terowongan. Lunafreya tidak tahu seberapa panjang terowongan itu. Dia hanya bisa mengintip ke dalam kegelapan.
"Ruang bawah tanah seharusnya melalui sini," kata Cor, menyalakan senter di saku dadanya. Lalu dia melempar kunci silver kepada Noctis. "Ini, sebagai Raja, sebaiknya kau yang memegang kunci itu. Dia membuka pintu-pintu ke makam lainnya. Ayahmu menugaskanku untuk mengamankannya sampai tiba waktunya aku memberikannya kepadamu."
Sekali lagi, Ring of Lucii membebani benaknya.
"Jadi apa yang akan kaulakukan sekarang, Cor?" tanya Noctis ketika mereka memasuki terowongan, cahaya dari lima buah senter cukup untuk menerangi kegelapan. Karena Lunafreya tidak memiliki senter sendiri, dia tetap berada dekat Noctis.
"Kemungkinan besar mengamati Niff, melihat apa yang mereka rencanakan. Kita hanya kehilangan Insomnia, kalau kita bisa menahan mereka menjajah wilayah Duscae, Cleigne, Leide dan Galahd, kita akan memiliki kesempatan bertempur," sang Marshal menjawab, menuntun mereka lebih dalam ke dalam terowongan. "Misi utamaku sekarang adalah untuk mencoba dan menahan pertumbuhan pengaruh Kekaisaran sampai tiba waktunya kau siap melakukannya."
"Siap melakukannya?" ulang Noctis ketika mereka tiba di ruangan terbuka di mana gerbang berkarat tadinya memblokir jalan mereka, tapi gerbang itu tidak memiliki pintu.
"Untuk merebut kembali Insomnia," kata Cor seolah itu hal paling jelas di seantero Eos. "Ada rumor bahwa pemerintahan provinsi akan didirikan untuk mengakhiri pemberontakan anarkis…Mereka juga berkata dengan matinya Glauca, Ravus Nox Fleuret ditetapkan menjadi Komandan Pertama dari tentara Kekaisaran."
"Nox Fleuret? Maksudmu kakak laki-laki Nona Lunafreya?" tanya Prompto, nyaris menabrak tembok ketika dia memutar kepalanya untuk menatap Lunafreya.
"Itu hanyalah rumor. Tidak perlu dihiraukan." Lunafreya dengan sunyi berterima kasih kepada Ignis untuk mengatasi sisa masalah. Dia pasti menyadari ketidaknyamanannya, sehingga mengarahkan percakapan ke topik yang berbeda. "Rasanya aneh, ini tampak seperti sebuah tempat perlindungan. Itu akan menjelaskan kebutuhan sebuah gerbang."
Prompto menatap mereka dengan gelisah, malaupun kecemasannya tidak menghentikan dia dari mengambil satu atau dua foto. "Orang-orang tinggal di sini?" tanyanya, tidak percaya.
"Mereka yang mencari perlindungan dari perang, kemungkinan besar," sang pria berkacamata menjawab. "Ayo kita terus maju untuk mencapai Royal Tomb."
Dengan ajakan itu, mereka berjalan lebih dalam ke terowongan itu, mengikuti kabel yang memanjang di jalanan. Menelusuri tempat perlindungan bawah tanah dengan minimnya cahaya, kecuali dari generator yang menyalakan senter setiap sepuluh meter─dia hanya bisa bertanya-tanya apa yang terjadi kepada para pengungsi.
Daemon biasa berkeliaran di dalam tempat-tempat yang gelap. Ruang gelap bawah tanah seperti Keycatrich Trench adalah tempat yang cocok bagi para daemon. Apabila para daemon menyerang para pengungsi, maka kemungkinan besar tidak ada seorang pun yang masih hidup di sana.
Melihat Noctis yang berjalan di sampingnya, dia bertekad. Tidak, aku tidak perlu takut lagi. Aku takkan membiarkan Niflheim menang lebih dari ini. Aku takkan berdiam diri mendapatiku selalu dilindungi oleh orang lain. Raja Regis dan Nyx telah menolongku dengan nyawa mereka sebagai bayarannya. Niflheim tak pantas mendapat kemenangan itu. Mereka tak pantas memanfaatkanku sebagai pion dalam permainan catur kotor mereka untuk menguasai dunia ini. Aku lebih kuat dari itu. Aku berhasil meloloskan diri dari perang di Insomnia. Aku punya kekuatan seorang Oracle yang diturunkan kepadaku untuk melindungi orang lain. Aku punya kewajiban kepada Noctis, yang perlu kupandu sampai dia memenuhi panggilannya sebagai Raja Sejati. Aku tahu aku pribadi yang lebih baik dari seorang Putri yang hanya bisa berdiam diri dan menyusahkan orang-orang yang menyayangiku. Aku takkan pernah membiarkan Niflheim melukai Noctis. Takkan pernah.
Author's Notes:
Sesuai janji saya untuk menjawab pertanyaan kalian mengenai perasaan Luna ke Nyx, di sini sudah terjawab. Luna memang sedang terjepit di antara Nyx dan Noctis. Konfirmasi yang diperlukan adalah bagaimana perasaan Nyx ke Luna karena Noctis sudah jelas mencintai Luna. Chapter ini juga berfungsi untuk perkembangan karakter Luna menjadi seorang perempuan yang lebih kuat karena bisa aktif ikut bertarung. Saya mengombinasikan karakter Luna dari Kingsglaive dan game.
Terima kasih untuk review dari Mikamik4, Ageha Keira, dannymoore221b, Jacob Hendricks, dan Latifun Kanurilkomari.
Ageha: Salam kenal juga ya, akhirnya kamu keluar dari status silent reader haha...Mengenai Stella, dia masih lama munculnya, jadi harap bersabar ya.
Latifun: Royal Arms tidak mungkin selesai dalam 2 chapter karena jumlahnya 13 dan tersebar di mana-mana. Maksud pertanyaan saya adalah apakah lebih baik kelompok yang membantu Noctis mengumpulkan Royal Arms ada 2 biar lebih cepat selesai atau tidak. Mengenai hubungan Noctis dan Luna, timeline in-universe baru saja berjalan 1 hari, jadi saya rasa tidak aneh kalau mereka berdua masih lebih banyak mengenang masa lalu. Ke depannya mereka akan mulai memikirkan masa depan bersama kok. Mengenai Nyx, jangan berharap banyak tentang sumpah itu.
Seperti biasa, saya tunggu review kalian. Sampai jumpa lagi di chapter berikutnya.
