YUKIKO'S POV

Dua hari berlangsung tanpa ada yang special. Selama dua hari itu, aku menghabiskannya bersama Chie. Di hari pertama, kami menjelajahi tempat ini lewat jalur jogging pada pagi hari, lalu berenang di sungai, main tenis, juga berkeliaran di lapangan golf sambil melihat-lihat para cowok yang sedang bermain golf. Di lapangan golf bagian utara, aku tidak sengaja bertemu mata dengan Souji, setelah menghilangkan kegugupanku, aku tersenyum padanya. Untunglah dia membalas senyumku. Dan Chie yang berada di sisiku mengetahui hal tersebut. Namun tentu saja aku sudah memberitahu Chie segalanya. Dia kan sahabatku, jika kalian lupa.

Lalu di hari ke dua, aku dan Chie memutuskan untuk berkeliling kota bersama dua lusin anak perempuan yang lain. Segera saja setelah kami sampai di sana oleh bus, dompetku yang tadinya masih tebal sekarang hanya tinggal separuhnya. Tapi tentu saja uangku sepadan dengan barang-barang belanjaanku. Yah, sesekali shop a holic boleh ya. Lagipula separuh dari apa yang kubeli akan kuhadiahkan pada orang tua juga tetanggaku di Inaba.

Dan sekarang, tibalah hari ke empat.

~OoOoO~

Aku menguap lebar-lebar di depan kaca. Rambutku jabrik ke mana-mana. Tubuhku pasti bau karena belum mandi. Dan diriku hancur berantakan. Kemarin, hampir saja kami tidak di bolehkan masuk. Kami baru sampai di gerbang penginapan-alias pesantren-ini pada pukul delapan lewat dua puluh. Kami musti menyogok sang satpam dengan barang atau uang kami, hingga akhirnya ia mau membukakan. Waktu yang kami habiskan kemarin menyenangkan, dan melelahkan. Kami berkeliling kota sejak pukul sepuluh pagi, dan kami akhirnya menginjakkan kaki di kamar masing-masing pada pukul sembilan kurang dua puluh karena usaha penyogokan tidak semudah kelihatannya.

Sebelum tidur kemarin, kami juga harus beres-beres belanjaan kami terlebih dahulu. Terlalu berantakan untuk di geletakkan begitu saja di pojokan kamar. Karena warnanya begitu mencolok di bandingkan warna classic brown kamar kami. Mulai dari karpet hingga selimut saja coklat, kan menyebalkan bila melihat warna norak tas berbelanja kami yang menyender di pojokan sebegitu rupanya.

Dan ya, pagi ini aku baru bangun. Err, pagi agak siang ini aku baru bangun. Sekarang sih pukul setengah sebelas, dan aku tidak bisa mengasumsikan saat ini adalah pagi atau siang. Sambil mengucek-ngucek mata, aku beranjak mandi. Sebelum berpaling dari kaca, aku melihat Chie yang masih terlelap dalam tidurnya.

~OoOoO~

Aku mengendap-endap menuju pintu. Aku sudah rapi dan wangi. Benar-benar kebalikan dari beberapa menit yang lalu. Chie masih juga belum bangun, jadi aku tidak ingin menggangu mimpinya, dan berusaha keluar kamar tanpa menimbulkan suara berisik. Untunglah Chie tidur layaknya kerbau, bahkan saat aku menjatuhkan hair drayer setelah mandi tadi sambil menjerit tertahan karena melihat semut merah kecil merayap di tanganku, Chie hanya bergeming.

Sebentar kemudian, aku sudah menutup pintu kamar kami di belakangku. Aku menarik nafas panjang, dan merasakan perutku berbunyi. Duh sial, makan pagi sudah tidak tersedia lagi. Apakah aku harus pergi ke kota sekarang? Tapi kasihan Chie, masa aku meninggalkan dia. Sambil memutuskan apa yang hendak kulakukan, aku jalan-jalan bersama teman sekelasku yang lain. Kami berjalan ke arah aula sambil mengobrol. Hingga sebuah suara menyapaku.

"Hey, mau ke mana?" Tanya Yosuke yang tiba-tiba muncul di sampingku. Aku dan temanku menoleh menatapnya. Di samping Yosuke, ada Souji yang sedang memainkan handphone miliknya. Sekejab kemudian, teman di sampingku berseri-seri. Aku kembali menatap Yosuke, "Mencari makan, kurasa?" Jawabku. Lalu Souji berhenti memainkan handphone, "Di mana kau mau mencari makan? Bukankah sekarang sudah jam sebelas lewat?" Tanya Souji. Aku hanya menaikkan bahu, "Apakah benar-benar tidak ada cara lain? Aku kelaparan.". Dan temanku ikut nimbrung, "Kau bangun kesiangan sih. Masa jam segini baru mau makan?" Tanyanya sambil menyikutku bercanda. Aku tersenyum dan membalas, "Setidaknya Chie lebih parah dari diriku. Dia bahkan masih tergeletak di kasur saat aku keluar dari kamar.".

Yosuke tertawa. Aku menangkap kejanggalan di tawanya. Tawa itu seakan.. "Yeah, begitulah Chie kita, bukan?" Sahut Yosuke. Aku pun berhenti berjalan. Ketiga anak yang mengapitku menatapku bingung. Aku mengerutkan alis dan menatap Yosuke dalam-dalam, lalu bertanya, "Apakah kau dan Chie berpacaran?". Yosuke membelalak, Yosuke mencoba untuk mengeluarkan suaranya tapi ia terlalu terkejut hinga hanya mampu mencicit. Yosuke berdeham, dan melangkah maju mendekatiku. Tapi ya apa boleh buat, Yosuke teralu salting hingga tersandung kakinya sendiri. Ia pun terpeleset dan jatuh ke terasering di samping jalan setapak yang kami lalui ini. Temanku menjerit, aku terkesiap, dan Souji ngakak melihat Yosuke menggelundung sekitar lima meter ke bawah.

Temanku segera saja turun dan menolong Yosuke. Dari jauh, aku dan Souji bisa melihat Yosuke memaki dan melayangkan tatapan maut pada Souji yang sekarang nyaris menangis menahan geli. Yosuke baik-baik saja, karena ia segera berdiri dengan bantuan temanku di bawah sana, dan berlari untuk menghajar Souji.

Souji sadar dirinya dalam bahaya, namun ia masih sempat tersenyum padaku.

"Ikut aku yuk!" Ajaknya sembari menarik jemariku. Aku merasakan tangan hangat Souji menarikku berlari bersamanya. Beberapa jauhnya di belakang kami, Yosuke berteriak-teriak marah pada Souji. Souji justru tersenyum jahil dan terus menarikku berlari. "Ke mana?" Aku bertanya di sela nafas yang memburu. Souji hanya tersenyum dan terus menarikku bersamanya.

Nyaris satu kilo kami berlari. Yosuke tertinggal jauh di belakang. Aku merunduk dan membiarkan paru-paruku beristirahat. Kami sampai di depan rest area. Kemarin aku belum ke sini. Ternyata di sini lebih seperti kios dan cafe. Di sini adalah tempat berjualan. Mulai dari perlengkapan untuk berenang sampai kait untuk memancing, juga dari camilan kecil hingga makanan berat. Aku mendesah lega karena ada makanan. Sebelum aku bahkan memutuskan akan membeli apa, Souji menghampiriku dengan tangan penuh snack dan minuman.

"Ini." Souji menyodorkan sebotol air mineral dan beberapa camilan padaku. Aku melenguh dan menggeleng, "Aku bisa bayar sendiri." Tolakku halus. Souji ikutan menggeleng, "Aku memaksa untuk mentraktirmu. Lagipula aku yang membuatmu berlari-lari. Ambil saja." Paksanya. Dengan tidak enak hati, aku mengambilnya, "Terima kasih.". Akupun duduk-duduk dan beristirahat sejenak. Sementara aku ngemil, Souji berjalan ke kios tutup di belakang kami. Aku mendengar kunci di putar, pintu terbuka, dan suara benda-benda berat berdenting.

Aku meneruskan makan tanpa tertarik akan apa yang sedang Souji lakukan. Kemudian saat selesai ngemil, barulah aku masuk ke kios yang tadinya tertutup itu. "Apa yang kau lakukan?" Tanyaku pada Souji yang sedang mengelap sebuah motor Harley Davidson warna hitam. Motornya terlalu bersih sehingga cahaya mataharipun terpantul dengan sempurna.

Souji tersenyum sambil menjawab, "Mengantarmu untuk makan.". Aku terenyak mendengar jawabannya. Sementara aku hanya terbengong-bengong bingung, Souji membuka pintu kios itu lebih lebar dan menuntun motornya keluar. Aku baru sadar aku bengong saat Souji memanggilku dari atas motornya yang sekarang menggeram ganas, "Ayo, naik." Panggilnya. Aku mencoba mencari-cari kata untuk mengelak, "Lebih baik aku menunggu, Chie." Jawabku akhirnya. Dari balik helm Souji, cengiran menghiasi bibirnya, "Yosuke akan menjaganya. Jangan khawatir. Lekaslah naik." Aku hendak mengelak lagi sebelum Souji meneruskan kalimatnya, "Please. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini." Pinta Souji. Akupun luluh dan menggunakan helmku.

Aku menjejakkan kakiku untuk naik ke belakang Souji, "Pegangan padaku." Ujar Souji. Aku sedikit gelagapan sebelum akhirnya memeluk tubuh Souji. Saat tanganku menyentuh tubuhnya, dadaku bergetar. Perasaan nyaman merayapi seluruh tubuhku dan berlabuh di hatiku. Memang seharusnya tidak begini perasaanku, aku tahu. Tapi apa dayaku melawan kehendak alam. Motor pun melaju dengan kecepatan yang membuat diriku harus memeluk Souji erat-erat. Aku mendekapnya begitu kencang karena aku takut sewaktu-waktu aku akan jatuh.

YOSUKE'S POV

Argh! Souji sialan! , umpatku dalam hati sambil menendang kerikil di dekat kakiku.

Nafasku masih terengah-engah, keringat membasahi keningku. "Miki-chan, terima kasih sudah menolongku tadi." Ucapku penuh syukur pada anak cewek di sebelahku yang tadinya sedang jalan-jalan bersama Yukiko sebelum aku dan Souji datang. Yang ku panggil Miki itu mengangguk lemah. Miki adalah anak sekelas kami dan cukup dekat dengan Yukiko juga Chie. Memang gila kecepatan lari Souji dan Yukiko. Aku saja di kalahkan Yukiko, dan Yukiko adalah seorang perempuan! Bukannya aku merendahkan perempuan atau apa, tapi yah kan Yukiko itu seanggun angsa! Miki terlalu lelah untuk bangun, tapi aku melihat matanya bersinar penuh rasa puas.

Aku mendekati Miki, "Apa-apaan tampangmu?" Tanyaku. Miki tersenyum lebar, "Kira-kira, apa yang hendak mereka lakukan berdua?" Miki balas bertanya. Aku mengerutkan kening, bingung. Senyum cewek di dekatku itu makin menjadi-jadi, "Mereka berduaan, kau sadar itu kan?" Tanya Miki padaku. "Yeah, tapi itu bukan hal biasa. Kan kemarin Souji sudah baikan dengannya. Souji memberitahuku." Jawabku pada Miki.

Miki menggeleng, "Apakah kau tidak melihatnya?" Tanya Miki dengan antusias. Aku makin bingung. Melihatnya? Melihat apa? Miki berdiri dan memukul lenganku dengan bercanda, "Kau harusnya memerhatikan postur tubuh mereka berdua saat berlari bersama tadi!" Tegurnya dengan senyum. "What? Memangnya kenapa dengan mereka?" Tanyaku penasaran. Tapi bersamaan dengan terlontarkannya jawaban itu, muncul jawabannya di benakku.

"Mereka bahagia." Gumamku dan Miki barengan.

"Tapi itu kan bisa berarti luas. Toh mereka baru balik jadi sahabat lagi." Elakku. Aku masih tidak percaya. Apa-apaan ini? Aku sama sekali belum mengenal sisi Souji dan Yukiko yang sebegini membingungkan. Miki mulai berjalan ke arah kami berlari, aku berjalan di sisinya. "Tapi tidakkah kau bertanya-tanya. Kenapa mereka bisa sedekat itu, sesenang itu, ketika bersama? Tidak bisakah kau melihat, secuil perasaan lain pada senyum mereka? Ketika mereka bertukar pandang satu sama lain?" Perkataan Miki membuatku tertegun. Benar, selalu tersirat perasaan sendu yang sama di mata Souji dan Yukiko.

Aku kadang melihatnya. Ada sesuatu yang lain selepas hubungan mereka berakhir. Aku tidak ingat kapan saja aku melihatnya, tapi yang pasti aku ingat sesekali pernah melihatnya. Biasanya, itu di saat hujan lebat. Karena posisi kursiku berada di belakang Souji, aku selalu mendapati Souji tidak memerhatikan guru kalau hujan. Dan aku bisa dengan mudah mengawasi Yukiko juga. Sama. Yukiko malah menatap jendela yang di tampar air hujan.

Apakah... Mereka masih saling menyukai?

Aku menggelengkan kepalaku keras-keras. "Kalau Souji masih menyukai Yukiko, kenapa ia memutuskannya? Itu tidak masuk akal." Kataku menyampaikan pikiranku pada Miki. Sebelum menjawab, Miki memasukkan tangan ke kantung jaketnya. Mirip Chie. "Selalu ada rahasia. Jadi kenapa kita tidak bisa berandai-andai, bahwa Souji memiliki sesuatu yang patut ia rahasiakan. Dan rahasia itulah yang mungkin bisa menjawab pertanyaanmu.". Kami pun berjalan dalam diam.

Beberapa saat kemudian, kami sampai di depan asrama-asrama cewek. "Miki, panggilkan Chie ya?" Pintaku dengan puppy eyes. Miki mengernyit, "Kenapa tidak kau saja?" Tanyanya sebal. Aku mendecak, "Nanti dia memukuliku dan mengataiku mesum! Lagian itu kamar cewek! Bagemana si kau!" Jawabku gusar. Miki mendesah, "Iya, iya. Tapi kalau mau kencan ke kota, beliin kaos ya! Awas kalo lupa, kudoakan kau cepat putus!" Jawabnya sambil berlari kabur dari pelototan mautku.

Wajahku terasa panas. Memangnya salah kalau mau kencan? Kenapa aku malu begini..

YUKIKO'S POV

Kami akhirnya sampai. Dengan terburu-buru, aku melepas tanganku dari tubuh Souji dan segera turun dari motor. Souji dan aku sama-sama melepas helm dan menaruhnya di dalam bagasi motor. "Kau mau makan apa?" Tanya Souji. "Apa saja." Jawabku cepat.

~OoOoO~

Selesai makan, aku dan Souji berjalan-jalan. Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul setengah lima.

Aku dan Souji berjalan menuju motornya. "Kita pulang?" Tanyaku sambil menyeruput orange juice di tanganku. "Kau masih ingin jalan-jalan?" Balas Souji sambil menggigit donat di tangannya. Aku menggeleng, "Enggak, aku capai.". Souji pun melahap habis donatnya, menandaskan ice coffe nya, mengambil minuman kosong di tanganku, dan bilang akan mencari tong sampah. Aku menunggu Souji sambil bersender di motornya. Hari ini cukup menyenangkan bagiku. Tidak ada hal buruk hari ini, selain saat aku meninggalkan Chie. Mataku melebar. Cepat-cepat aku menelpon Chie.

"Chie, kau di mana?" Tanyaku.

"Aku yang seharusnya bertanya! Aku di asrama, kau dimana?" Tanya Chie sedikit emosi. Sedikit.

"Tumben kau tidak khawatir sekali. Apa Yosuke sudah memberitahumu?"

"Yeah. Kau pergi dengan Souji?"

"Uh-huh."

"Baguslah. Aku sudah rindu untuk di jajani olehnya. Seharusnya kalian akur begitu dong."

Aku tersenyum kecil, "Ya, maaf maaf."

"Oke kalau begitu, sudah dulu ya. Aku.. Err.. Sedikit sibuk."

"Sibuk? Maksudmu?"

Latar tempat Chie menjadi bising, samar-samar aku mendengar suara laki-laki di dekat Chie, "Kau menelpon siapa? Huh? Yuki-? Sia-?" Itu suara Yosuke. Lalu suara Chie mengecil dan membentak Yosuke dari kejauhan, "Tutup mulut besarmu, bodoh! Nanti dia tahu!". Aku pun tertawa. "Tahu apa? Kenapa kau marah-marah sih? Siapa Yuki-? Oh shit! Yukiko-san!" Yosuke terdengar panik di ujung sana. Tawaku makin lebar."Y-yukiko? Kau mendengarnya?" Tanya Chie takut-takut padaku. "Tentu saja! Suara kalian kan gede sekali!" Kataku di sela tawa. Chie mengutuk dirinya sendiri, "Yah, kalau begitu sampai nanti. Dah!" Chie menutup teleponnya segera.

Senyum masih menghiasi wajahku saat aku mengantongi handphone. Chie dan Yosuke berkencan. Chie dan Yosuke berkencan. Chie dan Yosuke berkencan. Kalimat itu membuat perutku geli bukan main. Belum lagi kalimat itu terus berputar-putar di otakku. Tak bisa aku berhenti cengar cengir.

Senyumku langsung tertepis begitu beberapa sosok orang berjalan mendekatiku. Tubuhku menegang melihat kelompok orang yang datang. Aku tidak ingin tampak pengecut ataupun bodoh, jadi aku memaksakan kakiku tetap berada di tempatnya. Daisuke tersenyum mengejek padaku, "Sendirian, nona?" Tanyanya. Aku tidak menjawab. Daisuke dan preman yang ada di belakangnya berjalan makin dekat, "Butuh di temani pulang?" Pertanyaan Daisuke memicu gelak tawa preman-preman di belakangnya. Mata Daisuke terangkat sedikit, "Atau mau kami temani main?" Tanyanya dengan nada suara menjijikkan.

Punggungku serasa di aliri listrik. Instingku mengatakan bahwa hal buruk akan terjadi tidak lama dari sekarang, aku sudah bisa mengetahuinya. Aku hanya mampu menahan perasaan takutku dan berharap Souji segera datang. Arena parkir motor Souji cukup jauh dari kota. Souji mungkin malas untuk parkir di dekat kota karena harus belok sana belok sini dan menata rapih motornya, sedangkan di sini ia bisa parkir sesembarangan yang ia inginkan.

Daisuke menyuruh para preman mengelilingiku, lalu Daisuke sendiri jalan mendekatiku. Tangan Daisuke terangkat untuk menyentuh daguku, tapi segera kutepis keras-keras. "Mau apa?" Tanyaku kasar. Kenapa Daisuke hari ini sangat berbeda dengan Daisuke yang sebelumnya kukenal. Mata Daisuke tampak liar. Wajahnya penuh emosi yang meledak-ledak. Dan raut wajahnya benar-benar menggangguku. Daisuke tersenyum miring, "Aku mau ketemu denganmu. Apakah itu salah?" Tanya Daisuke sambil menyelipkan tangannya ke rambutku dengan kasar.

Aku segera mendorong tubuh Daisuke sekeras yang kubisa. Daisuke melangkah mundur. Preman-preman yang mengelilingiku menggeram. "Tenang kawan-kawan. Domba lezat ini tidak akan bisa kabur dari kita." Ucap Daisuke pada teman-temannya. Seketika, aku ingin muntah mendengar kata 'domba lezat'. Betapa rendah Daisuke yang sedang kutatap penuh murka saat ini. Daisuke sekarang mengunci kedua tanganku dengan kedua tangannya. Aku yang panik, meronta dari cengkraman tangannya. Sementara itu Daisuke tertawa, "Kita lihat kau bisa apa sekarang." Wajah Daisuke mendekati leherku, refleks, kakiku bergerak menendang bagian vitalnya. "Ough!" Daisuke terjatuh dengan memalukan.

Aku sudah tahu posisiku terlalu mengenaskan, jadi aku berusaha kabur sementara Daisuke terkapar di tanah sambil merintih kesakitan. Baru satu langkah aku berjalan, preman yang tindikannya paling banyak menghadangku dengan air liur membasahi kausnya. Aku mengernyit jijik saat ia mendekat. Dua preman lainnya juga mendekatiku. Aku terpaksa mundur kembali ke posisiku semula di motor Souji. Oh Souji, kau dimana? Perasaan takut membanjiriku tanpa ampun saat Daisuke berdiri. Matanya menyala merah, aku tahu dia marah. Daisuke menyuruh preman-preman itu menahan diri dan Daisuke mendecak tidak sabar. "Aku capai berbasa-basi. Bawa dia." Perintah Daisuke.

Dua preman mengapitku. Tadinya aku takut, sekarang aku nyaris ingin menangis. Campuran perasaan takut, putus asa, dan jijik bergumul jadi satu dalam diriku. Aku tidak mampu memutuskan perasaan mana yang paling besar. Saat preman di sebelah kiriku menjambak rambutku agar aku ikut dengannya, preman di kananku memasangkan borgol di lenganku. Aku berontak saat besi borgol menyentuh kulitku, aku tidak rela di borgol oleh preman. Namun tindakanku jelas salah karena preman itu menggeram dan memuntir tanganku yang bergerak liar hingga pada posisi yang membuat tulangku berderak. Aku merintih, dan jambakan di rambutku makin kencang.

Tepat pada saat borgol itu terpasang, preman yang memasangkannya jatuh roboh. Mataku yang berair akibat sakit di tulangku yang berderak tadi, menatap penuh kelegaan pada wajah Souji yang sama merahnya dengan wajah Daisuke. Kemarahan jelas tampak di wajah Souji. Dan kali ini, perasaanku makin campur aduk. Rasa takutku bertambah dua kali lipat melihat mata Souji. Tiga preman lainnya yang di bawa Daisuke langsung mencoba untuk menghajar Souji. Aku tidak sempat melihat adu pukulan karena preman di sampingku menarik rambutku agar aku berjalan. Daisuke di depan sana, hanya memandang Souji dingin.

Kakiku terseret, tanganku di belakang punggung, hanya mulutku yang tersisa. Aku menggigit lengan preman itu keras-keras hingga darah mengalir dari tangannya, "Agh! Shit! Apa yang kau lakukan!" Ia melemparku ke tanah. Tubrukan antara tulang punggung dengan tanah yang keras membuatku menjerit. Rasa cenat-cenut menjalar di tubuhku. Beberapa memar mulai kurasakan di tulang keringku yang sempat menahan jatuhku.

Daisuke mendekatiku dan bersama preman yang kugigit, menarik kedua lenganku tanpa ampun. Aku berteriak memanggil Souji saat Daisuke menyumpal mulutku dengan sapu tangannya. Aku tersedak dan air mata membasahi pipiku. Bersamaan dengan mengucurnya air mata putus asa, kepala Daisuke terantuk pukulan maut yang menyebabkan Daisuke jatuh tersungkur di kakiku. Daisuke menjerit kesakitan. Preman di sampingku menoleh ke belakang, hanya untuk mendapati pukulan yang sama di hidungnya. Preman itu tumbang pingsan.

Aku tahu Souji di belakangku, tapi yang kulakukan hanyalah terjatuh ke tanah. Dan air mata terus mengalir karena kelegaan. Daisuke bangun, berteriak, dan kembali jatuh. Aku tidak mampu menggunakan telingaku dengan maksimal karena aku mencoba berhenti menangis. Borgol di tangaku perlahan mengendur dan lepas. Aku meludahkan sapu tangan Daisuke. Dan Souji menarikku bangun.

"Maaf. Maaf. Maaf." Itulah satu-satunya suara yang kudengar dengan jelas. Souji.

Aku menarik nafas dan mengangguk. Souji memelukku sesaat, lalu melepaskannya. "Mari kita segera pergi." Souji menarikku menuju motornya. Souji tidak mengizinkanku memakai helm, karena takut aku sesak nafas akibat tangisanku yang belum kunjung mereda. Aku naik ke belakang Souji, dan motor menderu meninggalkan tubuh preman yang bergelimpangan pingsan di jalanan.

~OoOoO~

Aku tidak mampu bersuara sama sekali. Walaupun saat itu Souji membawaku ke dekat jurang. Walaupun saat itu kami duduk berdua di samping motor. Walau saat itu Souji memelukku. Walaupun aku merasakan hangat tubuh Souji. Walaupun langit senja tampak indah di kaki lautan. Aku tidak mampu bersuara, di karenakan air mata ini.

Jika kau bertanya kenapa aku menangis, aku tidak mampu menjawab dengan pasti. Hanya saja, perasaan yang berkecamuk di dadaku terlalu menyesakkan. Sekali lagi, aku merasa nyaris terlecehkan. Lalu perasaan kecewa, takut, cemas, lelah, dan bingung menambahkan beban di benakku. Aku kecewa pada Daisuke, kukira ia tidak akan bisa serendah itu, ternyata aku salah. Aku takut pada hidup ini, yang selalu memberikan perasaan cemas di dekat mata laki-laki yang haus. Aku lelah karena lebam-lebam kecil di tubuhku. Dan yang paling parah, aku sedang bingung. Kenapa Souji memelukku. Kenapa Souji terus mengecup kepalaku. Kenapa Souji menatapku seakan ia merasakan segala penderitaanku. Termasuk penderitaan di mana aku kehilangan Souji sebagai kekasihku.

Tak butuh waktu lama, hingga aku menangis terisak-isak dalam pelukan Souji. Kemudian aku tertidur. Dengan sangat lelap di pelukannya.

SOUJI'S POV

Aku memeluk Yukiko seerat mungkin. Hampir setiap kali aku tidak ada di sisinya, dia terluka. Kupejamkan mataku erat-erat.

Maafkan aku... Maafkan aku... Maafkan aku...

Bibirku bergetar hebat, sebelum aku mengeluarkan isakanku, kuhentikan dengan menggigit bibir sekeras mungkin. Aku merasa tidak berguna. Aku merasa sangat payah dan bodoh. Andai saja aku tidak meninggalkan sisi Yukiko, ia pasti tak akan menangis seperti ini. Sekali lagi aku membuatnya menangis. Kenapa aku selalu membawa kesedihan padanya! Demi tuhan, aku sayang pada Yukiko. Kukecup puncak kepala Yukiko untuk yang kesekian kalinya. Tanganku bergetar, aku hanya berharap Yukiko tidak terbangun saat emosiku sedang kacau begini. Tangan Yukiko mencengkram bagian depan bajuku erat. Walaupun Yukiko tidur, aku masih bisa merasakan ketakutannya. Tanganku bergerak meremas jemari kecil Yukiko.

Kukecup tangan Yukiko, "Aku mencintaimu." Bisikku. Aku yakin sepenuhnya Yukiko tidak bangun, karena itu aku berani mengatakannya.

Ingin ku ambil penderitaan Yukiko. Ingin kupeluk Yukiko selamanya. Ingin kulindungi Yukiko dari apapun yang melukainya. Ingin aku mengaku cinta dengan menatap matanya saat ia sadar. Keinginanku... Itulah keinginanku... Yang bisa kulakukan hanyalah memeluk Yukiko. Mungkin aku tidak seharusnya menerima Yukiko sebagai sahabat lagi. Dengan begini, belum tentu perasaan Yukiko padaku akan berubah menjadi kasih sayang. Aku takut Yukiko masih menyukaiku. Dan aku lebih takut lagi bila Yukiko mengetahui aku mencintainya.

Aku mengusap sisa air mata Yukiko dengan lengan bajuku. "Kumohon... Jika nanti aku sudah pergi.. Jangan menangis seperti ini lagi.." Pintaku setulus mungkin. Aku menempelkan bibirku ke mulut daun telinganya, "Bila kau menangis nanti, aku takut aku tidak ada di sisimu untuk memelukmu seperti ini.. Jadi jangan menangis lagi.." Desahku pada telinganya. Yukiko sedikit bergerak. Aku mengira ia terbangun, tapi ternyata aku salah.

Yukiko hanya bergeser makin dalam ke pelukanku, mencari kehangatan dari diriku. Tangannya mengapit kedua kakinya, dan kepalanya ia senderkan di samping leherku. Aku tersenyum pilu, melingkarkan tangan dan kakiku padanya. Aku mampu memelukmu sekarang. Dan aku berdoa, agar bisa terus memelukmu.


A/N; Kali ini, Author ingin mengumumkan pengunduran dirinya beberapa waktu yang akan datang.

Terdapat sebuah... err... masalah pada... uuuhhh... kehidupan Author. Jadi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya pada pembaca karena harus menunggu agak lama untuk membaca chap selanjutnya. Saya benar-benar minta maaf. Bila saya paksakan untuk menulis, padahal mood sedang jelek, hasilnya pasti tidak memuaskan. SEPERTI CHAP INI! Banyak kesalahan sana-sini, dan saya kembali memohon maaf.

Kpd acchan lawliet dan heylalaa; maaf aku belum bisa benerin chap ini. Soalnya waktu baca review kalian, aku keburu nyelesein chap ini. Maaf ya! Tapi janji deh, chap selanjutnya akan ku perbaiki.

Sekiranya sudah cukup, saya di sini sebagai Author amatir, mohon diri...