Fanfiction
Title : Kehidupan Baru Boruto
Chapter : 52
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T+
Genre : Romance & Drama
Pairing : Uzumaki Boruto & Uchiha Sarada
Warning : OOC Yang Berlebihan, TYPO, EYD dan bahasa yang hancur, AU.
Author "Taufiq879"
::==::==::
:
:
:
(Kepulangan Yang Dinanti)
:
:
:
"Tuan... tuan. Jangan takut. Ini saya, pramugari pesawat ini!" ujar pramugari itu sambil merapikan rambutnya dan memperlihatkan muka manusianya. Perlahan, rasa takut, kaget, dan panik Boruto seketika hilang dan di gantikan rasa malu akibat salah paham dan kurang fokus.
"Maaf, saya tidak bermaksud menakuti anda. Saya datang hanya untuk menawarkan makan malam. Anda mau pesan apa?" tanya pramugari itu.
"Uhhh, terserah saja. Umm, mungkin lebih baik kau saja yang menentukan. Aku sih apa saja akan aku makan kalau lapar," ucap Boruto cengengesan. Pramugari itu pun langsung pergi meninggalkan Boruto untuk membuat makan malam.
:
:
:
Di Konoha, kabar kepulangan Boruto terdengar begitu menggembirakan terutama bagi Sarada. Naruto memang tidak membuang-buang waktu lagi. Jadi setelah ia berbicara dengan putranya lewat telepon, ia langsung menghubungi Sasuke untuk memperhitungkan waktu kedatangan Boruto. Usaha Sasuke pun tidak main-main, ia langsung melacak semua pesawat Garuda Airline terutama yang berada di sekitar pulau Papua. Setelah di temukan, mereka langsung terus mengikuti pergerakan pesawat itu dan memperhitungkan waktu kedatangan sesuai dengan kecepatan pesawat.
Namun pada akhirnya mereka harus menunggu lebih dari sejam di bandara karena ketidakpastian perhitungan akibat perubahan kecepatan dan juga pemberhentian pertama untuk mengantar Sarah.
Dan sinilah Sarada berada, duduk di salah satu bangku di VIP. Hal ini bukan karena Sasuke ingin bergaya melainkan memang karena kondisi pesawat yang hanya ada Boruto sekaligus saat itu sekitar jam 3 pagi sehingga mereka harus tunggu di ruang tunggu VIP. Para pengawal Techconnec di siagakan untuk menjaga parkiran tempat mobil mereka di parkir, ada juga yang bertugas menjaga di depan pintu ruang VIP, dan tak luput ada yang di tugaskan untuk berada di sekitar landasan pacu yang nantinya bertugas mengawal Boruto ke ruang VIP setelah turun dari pesawat.
Jam menunjukan pukul 4.05 pagi. Udara terasa cukup dingin bagi orang-orang yang berada di luar sementara bagi mereka yang berada di dalam ruangan tentu tak merasakan dingin. Saat itu keluarga besar Uzumaki dan Uchiha datang untuk menyambut kedatangan Boruto. tak luput teman-teman baik Boruto pun datang atas permintaan Sarada dan pastinya Chocho dan Anjelye pun turut datang.
Sasuke mendekati Sarada lalu berbisik padanya, "Dengar nak, ingat, Boruto pergi waktu itu dengan kedok melakukan observasi di Indonesia bukan untuk bekerja di Sakhuri."
"Tentu ayah," kata Sarada.
Seorang pengawal pun mengetuk pintu lalu masuk dan berkata, "tuan Sasuke, ada berita baik. Pesawat Boruto sudah di pastikan telah memasuki kota. Hanya beberapa menit lagi untuk pesawat itu akan mendarat."
"Baik, terima kasih," kata Sasuke.
"Ayah, aku mau menyambut Boruto ketika ia turun dari pesawat. Aku mau menunggunya di luar," kata Sarada pada ayahnya lalu berbalik ke arah pengawal tersebut dan berkata, "Ayo ikut aku ke sana." Tanpa persetujuan dari ayahnya, Sarada pun langsung pergi.
"Putrimu punya ide bagus. Aku juga akan keluar. Ayo Hinata, Himawari!" ajak Naruto lalu keluar menyusul Sarada.
"Sasuke, sebaiknya kita ikut mereka," ucap Sakura lalu pergi dan di susul oleh teman-teman Boruto dan teman-teman Sarada dan hanya menyisakan Sasuke seorang diri. "Mereka pergi keluar tanpa izinku," batin Sasuke.
"Di luar sana dingin. Kalian jangan menyesal pergi keluar tanpa membawa jaket kalian," ucap Sasuke dengan suara agak keras lalu mengambil jaketnya dan pergi menyusul yang lain.
Benar saja, Sarada yang sudah berada di luar pun hanya bisa menggigil sambil melihat ke arah utara yang akan menjadi arah munculnya pesawat Boruto. Naruto pun berdiri di samping kiri Sarada bersama dengan Hinata dan Himawari. Sakura tak lama kemudian datang dan berdiri di samping kanan Sarada yang tak lama kemudian di susul Sasuke. Sementara teman-temannya menunggu di belakang Sarada. Para pengawal pun turut berdiri di paling kiri dan paling kanan Barisan tersebut.
Tak lama kemudian, pesawat pun mulai terlihat dari kejauhan hendak mendarat. Hati Sarada pun semakin berdebar dengan kencang terutama saat ia mengingat perkataan-perkataan Boruto sebelum ia pergi. Hawa dingin tak ia pikirkan lagi. Yang ia pikirkan adalah wajah Boruto. Walau mereka baru saja berpisah kembali untuk beberapa hari, bagi Sarada itu serasa bagaikan berminggu-minggu. Dan inilah saat-saat yang paling ia tunggu-tunggu.
Sementara itu, Di dalam pesawat Boruto terus memandangi luar jendela. Matanya pun langsung mendapati Sarada ketika ia dan Sarada sejajar. Ia pun langsung tersenyum walau Sarada tak menatapnya dikarenakan ada banyak sekali jendela sehingga Sarada lebih memilih untuk melihat badan pesawat. Tak lama kemudian pesawat pun berhenti tak jauh dari posisi mereka yang hendak menjemput Boruto. Elevator pun datang dan di pasangkan ke pesawat agar Boruto dapat turun. Pintu pun terbuka dan menampakan seseorang yang sedang berdiri di belakang pintu. Sarada dan yang lainnya pun melambaikan tangan. Namun, tiba-tiba mereka kecewa dan menurunkan tangan kala melihat orang itu bukanlah Boruto. Ia adalah pilot pesawat itu.
Pilot itu langsung mendatangi Sasuke dan berkata "Selamat pagi, tuan Sasuke," kata pilot tersebut. "Pagi, kau siapa?" tanya Sasuke.
"Saya bukan pilot resmi Garuda Airline. Saya di utus oleh komandan untuk menyampaikan beberapa berita dan pesan untuk anda. Saat ini sistem komunikasi kami masihlah belum stabil jadi kami tidak bisa menghubungi anda," bisik pilot itu pada Sasuke.
"Pesan apa itu?" tanya Sasuke. "Pesan penting untuk anda dan tuan Naruto. Tapi kita tidak bisa bicara di sini. lebih baik kita ke suatu tempat yang aman dan jauh dari pantauan CCTV," bisik pilot tersebut di telinga Sasuke.
"Oke, kita bicarakan di kantorku, tapi kenapa bukan Hagoromo sendiri yang mendatangiku," kata Sasuke dengan nada kecil tapi tidak berbisik. Tiba-tiba saja Naruto menyela mereka berdua dengan bertanya, "di mana Boruto?"
"Dia masih di kamar kecil. Katanya mau cuci muka dulu," ucap pilot tersebut.
"Kau mau bicarakan kapan?" tanya Sasuke.
"Kalau bisa sekarang. Saya ada pertemuan di pangkalan Sakhuri di Konoha," kata pilot tersebut.
"Baiklah, Naruto ayo jalan!" ajak Sasuke.
"Tapi, aku mau bertemu dengan putraku," tolak Naruto.
"Nanti kau juga akan bertemu dengannya di rumah. Ini pembicaraan penting. Ayo jalan sekarang," ucap Sasuke.
"Hufft, kuharap ni pemberitahuan yang bagus karena berkat ini aku kehilangan kesempatan untuk melihat wajah putraku hari ini, ayo jalan," dengus Naruto.
"Kau baru saja bertemu Boruto beberapa hari yang lalu. Lagi pula nanti kau bisa melihatnya lagi di rumahmu," ujar Sasuke..
Sasuke dan Naruto pun berpamitan kepada keluarganya dan langsung pergi bersama pilot tersebut dan di kawal oleh 2 orang prajurit Sakhuri yang menyamar sebagai teknisi pesawat tersebut.
Mata semua orang pun tertuju kembali pada pintu pesawat yang kini telah menampakkan seorang pria yang sudah tak nampak asing lagi di mata Sarada walau sedikit terlihat asing bagi teman-temannya yang lain. Bagaimana tidak terlihat asing, saat ini Boruto terlihat sangatlah berbeda bagi Shikadai, Inojin serta Anjelye dan Chocho. Badannya lebih berotot dari sebelumnya dan terlihat kekar. Hal itu membuat Shikadai dan Inojin kebingungan dan tak percaya jika di depannya itu adalah Boruto yang selama ini pergi untuk melakukan observasi lapangan di suatu tempat di negara yang bernama Indonesia. Setidaknya itulah yang mereka tahu.
Sementara itu, Anjelye dan Chocho tidaklah terlihat bingung melihat kondisi Boruto sekarang karena mereka telah mengetahui semua kebenaran. Mereka hanya menatapnya dengan perasaan senang karena dapat bertemu langsung dengan mantan prajurit rahasia. Hinata dan Sakura hanya dapat merasa bangga dan menampilkan senyum ramah sosok ibu. Himawari pun hanya menatap senang ke arah Boruto, sosok kakak yang selama ini pergi dari kehidupannya dan cukup ia rindukan.
Perlahan elevator membuat Boruto semakin rendah hingga akhirnya tiba di permukaan beton dengan selamat sentosa. Tanpa ragu dan bimbang, Sarada pun berlari dan langsung memeluk Boruto penuh rindu hingga meneteskan air mata kebahagiaan. "Ehh, Sarada. Kau kenapa langsung memelukku. Ada ibu dan teman-teman kita di sana," ucap Boruto berusaha sedikit melonggarkan pelukan Sarada sambil memperhatikan orang-orang yang menjemputnya.
"Aku tidak peduli. Aku sangat rindu padamu Boruto. mendengar kabar kepulangganmu membuatku bahagia," kata Sarada sambil kembali mengeratkan pelukannya walau Boruto terus berusaha melonggarkan pelukan tersebut karena merasa tidak enak pada Sakura dan Sasuke walau sebenarnya dia tidak berada sana.
"Tetap saja Sarada. Aku merasa tidak enak pada ibumu apalagi ayahmu. Lagi pula kita kan sudah bertemu beberapa hari yang lalu," ucap Boruto.
"Bagiku serasa berminggu-minggu," kata Sarada lalu perlahan melonggarkan pelukannya karena pelukannya tersebut tidak di balas oleh Boruto. Di sisi lain Boruto jadi ragu, tangannya ragu untuk menyentuh Sarada dan memeluknya di hadapan keluarganya, keluarga Sarada, dan teman-temannya. Namun tiba-tiba Ibunya dan Ibu Sarada memberi kode untuk Boruto karena menyadari bahwa Boruto menjadi bimbang. Tentu naluri keibuan mereka berdua dapat tersalurkan hanya dengan melihat mata lelaki berambut kuning yang sedang di peluk tersebut.
Kode yang di berikan Hinata dan Sakura adalah kode untuk membalas pelukan Sarada tanpa ragu. Apalagi ketiadaan Sasuke harusnya membuat Boruto merasa lebih leluasa lagi. Dan luput teman-temannya pun hanya tersenyum dan berharap Boruto segera membalas pelukan Sarada.
Kali ini tanpa ragu, Boruto mengangkat tangannya dan segera memeluk Sarada. Namun ia terlambat. Sarada sudah menyelesaikan pelukan tersebut dan melepasnya ketika tangan Boruto hendak melingkari tubuh Sarada. Sarada pun melepaskan pelukannya dan berkata:
"Ya, mungkin bagimu tetap terasa seperti beberapa hari," ucap Sarada dengan nada sedikit kecewa.
"Tapi beberapa hari yang panjang dan melelahkan," ucap Boruto lalu menyadari kekecewaan Sarada akibat keterlambatannya untuk membalas pelukan Sarada. Boruto pun menjadi ragu untuk memeluk Sarada dan perlahan ia menurunkan tangannya yang sudah hendak memeluk Sarada lalu menggaruk kepalanya dan sedikit tertawa kecil.
"Kenapa Boruto tidak membalas pelukanku? Ia juga merasa tidak nyaman saat aku peluk. Apakah ia tidak suka aku peluk atau apakah luka tembakan waktu itu masih terasa sehingga sekarang sehingga ia tak ingin di peluk? Atau mungkin dia memang tidak suka aku peluk?" batin Sarada sambil memandangi Wajah dan perut Boruto dengan tatapan penuh kebingungan.
"Kenapa Sarada melihatiku begitu? Apa jangan-jangan dia kecewa karena aku tidak membalas pelukannya? Sial, dia bisa marah padaku dan bisa-bisa hubunganku dengan dia bisa hancur karena keterlambatanku ini. Aku harus bagaimana?" batin Boruto kebingungan.
Sarada memberi sebuah senyuman ketika Boruto sedang tertawa karena bingung. Boruto pun membalas senyum Sarada itu. Tak lama setelah senyuman itu di sadari Boruto, tawanya pun hilang dan ia pun langsung menatap Sarada dengan serius. Senyum Sarada pun hilang seketika dan di gantikan oleh tatapan penuh kebingungan. Tatapan Boruto pun semakin serius dan membuat Sarada ketakutan.
Namun tiba-tiba tanpa di sadari oleh Sarada yang bingung dan ketakutan, sebuah tangan kekar nan dingin telah melingkari tubuhnya. Jarak pemilik tangan itu pun sangat dekat dengan Sarada. Rasa bingung dan takut Sarada pun berganti dengan rasa kaget luar biasa. Pemilik tangan itu pun semakin mengeratkan pelukannya dan akhirnya secara sempurna Boruto telah memeluk Sarada.
"Bukan hanya kau yang ingin memeluk orang yang paling kau sayangi, Sarada. Tapi aku juga. dan sekarang sudah aku lakukan walau tadi sempat terlambat untuk memelukmu saat ada kesempatan," ucap Boruto sambil memandangi wajah Sarada. Sarada meneteskan air mata kebahagiaan karena ternyata Boruto mau memeluknya.
Tak lama kemudian Boruto pun mendaratkan sebuah kecupan di dahi Sarada seperti hari itu. Tindakan Boruto itu membuat Sarada terdiam seketika walau sebenarnya ia pernah mendapatkan tindakan seperti itu oleh Boruto.
"Sarada, hari ini aku berkata dengan seluruh jiwa ragaku. Aku bicara sesuai lubuk hati terdalam. Aku tidak ingin menunda pertanyaan ini. Aku ingin menepati janji yang pernah kuberikan padamu dulu," Sarada pun di buat bingung oleh perkataan Boruto seraya mengingat semua perkataan yang pernah di ucapkan Boruto dahulu.
"Maukah kau menjadi istriku, Uchiha Sarada?" suasana sunyi seketika. Para penonton pun hanya bisa tersenyum sambil menonton. Namun posisi Boruto masihlah posisi dalam posisi memeluk Sarada dan bukannya posisi yang sering di gunakan orang untuk melamar gadis pujaannya. Tanpa membawa sebuah cincin pernikahan ataupun berada di tempat yang romantis, Boruto melamar Sarada untuk menjadi istrinya. Namun Sarada belum menjawab pertanyaan Boruto. air matanya pun semakin deras karena bahagia. Tangis yang di sertai senyuman itu sudah menandakan jika Sarada memang setuju dengan perkataan Boruto.
Perlahan ia mengangguk dan senyuman lega pun di pancarkan oleh Boruto ketika melihat Sarada mengangguk. Kepala Boruto pun mendekat lagi kemudian ia mengecup dahi Sarada untuk kedua kali lalu berkata, "terima kasih Sarada, kau sudah mau menantiku selama ini," ucap Boruto.
Tak lama kemudian, pelukan itu di hentikan. Boruto berjalan menuju barisan orang yang sedang menunggunya. Sarada mengikuti Boruto dari belakang hingga Boruto bertemu dengan Ibunya.
Hinata pun langsung memberikan sebuah pelukan kasih sayang ibu pada Boruto lalu dahi Boruto di kecup oleh Hinata. "Ibu senang kau sudah kembali Boruto," kata Hinata. "Aku juga ibu," kata Boruto lalu memeluk Himawari.
"Selamat datang kembali kak, apa observasi itu berjalan lancar?" tanya Himawari. "Ya, sangat lancar dan karena itu kakak bisa pulang lebih awal. Lalu gimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja kak. Walau sekarang tugas-tugasku sangat banyak. Tapi aku senang karena sedikit lagi aku akan menjadi seorang dokter," ucap Himawari. "Kakak senang mendengarnya. Kakak jadi tidak sabar untuk sakit dan di periksa olehmu, Hehe," kata Boruto.
Boruto pun mendatangi teman-temannya lalu melakukan pelukan persahabatan dengan 3 orang temannya.
"Akhirnya kau pulang juga. aku kaget saat melihatmu tadi memeluk Sarada. Syukur tidak ada paman Sasuke," ucap Rama ketika ia bertemu Boruto. "Aku hanya melakukannya atas keinginan hati," kata Boruto lalu bertemu dengan Inojin.
"Selamat datang ke Konoha Boruto. kau pergi lama sekali. Kami sudah rindu padamu," kata Inojin saat bertemu Boruto.
"Hi Boruto. lama kita tidak bertemu dan kini penampilanmu benar-benar berubah. Apa kau sering melakukan aktivitas fisik di sana ya? Pasti observasi yang sangat menguras tenaga?" ucap Shikadai saat bertemu Boruto.
Boruto pun melanjutkan untuk menjabat tangan teman Sarada yaitu Chocho dan Anjelye. Dan kemudian berakhir dengan mendapat sebuah kecupan selamat datang dari calon ibu mertua—Uchiha Sakura.
"Andai suamiku ada di sini dan melihat kejadian tadi. Dia pasti akan senang," ucap Sakura.
"Kok kata 'senang' terdengar menakutkan bagiku ya, bibi?" ujar Boruto.
"Santai saja Boruto. Paman Sasuke tidak akan membunuhmu jika melihat kau memeluk Sarada di hadapannya. Bahkan diam-diam, ayahmu dan paman Sasuke melakukan taruhan," kata Sakura.
"Taruhan, taruhan apa?" tanya Boruto yang juga mengundang Sarada untuk mendekat dan mendengar jawaban ibunya. "Ya taruhan. Taruhan tentang apakah kau berani mencium Sarada di depan mereka berdua," kata Sakura.
"Apa! Kenapa ayah dan paman Naruto membuat taruhan seperti itu?" ujar Sarada dengan ekspresi terkejut dan wajah memerah. "Ibu juga tidak tahu. Tapi setahu ibu itu kebiasaan ayahmu dan ayah Boruto," ucap Sakura.
Hinata pun mendekat dan berkata "Ayo kita pulang. Kau pasti laparkan Boruto. Ibu dan bibi Sakura akan memasak makanan istimewa untuk kalian termasuk teman-teman kalian," ucap Hinata.
"Wih, asik. Pagi-pagi gini sudah di ajak makan," kata Chocho bersemangat. "Soal makanan saja, kau pasti yang paling bersemangat," ucap Inojin.
"Terserah aku dong. Jika kau tidak mau makan, silakan pulang," ucap Chocho.
"Kebiasaanmu belum hilang sampai sekarang ya, Chocho," ucap Anjelye. "Ya, apalagi sekarang ia memegang restoran milik keluarganya di luar kota," kata Sarada.
Di saat mereka sedang mengobrol, Sakura mendekati seorang pengawal dan berbisik, "kita pulang. Panggil kendaraan ke sini."
"Baik nyonya Sakura," ucap pengawal itu lalu bicara pada radio. 2 menit kemudian, sekitar 4 mobil milik Techconnec pun memasuki area bandara dan melaju menuju Sakura yang sudah berdiri layaknya seorang bos walau secara harfiah ia memang bos—Istri Bos.
Setelah mobil tiba, mereka pun memasuki setiap mobil untuk pulang ke kediaman Uchiha. Hinata dan Sakura semobil. Sementara Sarada, Chocho, dan Anjelye juga semobil. Dan 4 serangkai pun semobil. Mereka berada di dalam 3 mobil terpisah yang berjalan secara beriringan melintasi kota Konoha pagi yang masih cukup sepi.
Tak berapa lama kemudian, rombongan mobil itu pun telah tiba di kediaman Uchiha yang megah. Suasana di kediaman Uchiha juga telah berbeda dengan beberapa hari yang lalu tepatnya sebelum insiden tertangkapnya Hamura. Penjagaan di kediaman Uchiha di longarkan. Persenjataan para penjaga di ganti dengan tongkat dan sangkur. Dan juga lebih sedikit pengawal yang menjaga kediaman Uchiha.
Begitu mobil telah tiba di depan pintu utama rumah keluarga Uchiha itu, rombongan ART pun datang dan menyambut mereka terutama Boruto. Sakura memasuki rumah dahulu kemudian di susul Hinata lalu Sarada dan teman-temannya dan terakhir Boruto dan teman-temannya.
Sarada mengarahkan teman-temannya termasuk Inojin, Shikadai untuk menuju ruang keluarga untuk menikmati fasilitas yang tersedia di sana sambil menunggu makanan siap tersaji. Sementara Sarada mengikuti ibunya ke dapur. Namun Boruto dan Rama tidak berada di ruang itu. Mereka menuju balkon kediaman Uchiha untuk membicarakan beberapa hal penting.
"Apa Sarah memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan menjadi CEO perusahaannya untuk sementara waktu?" tanya Rama
"Ya... begitulah yang ia bilang padaku. Ia bilang ia akan bekerja dulu di perusahaan miliknya yang sekarang resmi menjadi milik BARI dan Negara," ucap Boruto.
"Dia memang pernah bilang padaku. Ia akan mengumpulkan uang cukup banyak dahulu sebelum datang kepadaku. Jika ia melepaskan jabatan CEO nya, sudah pasti perusahaan itu sepenuhnya telah jatuh ke tangan BARI," ucap Rama.
"Ya. Dan setelah kau dan Sarah menikah, ia akan resmi menjadi keluarga besar Techconnec," ucap Boruto.
"Yang artinya ia juga akan terancam jika ada sebuah kelompok yang mirip dengan Mafia yang berambisi untuk merebut Techconnec," kata Rama.
"Kau lupa ya. Sarah itu mantan prajurit. Punya pangkat kapten, walau bukan pemimpin tim. Tentu bagi dia kau belum ada apa-apanya," ucap Boruto.
"Cih, mentang-mentang sekarang kau punya pangkat jadi kau berani bilang begitu. Walau kau punya pangkat, tapi aku yang lebih dahulu memakai senjata bahkan sejak masih SMP," ucap Rama.
"Tapi sekarang pangkatku tidak berguna. Tidak ada yang tahu selain kalian yang memang mengetahuinya. Jasa besarku dan seluruh timku hanya akan di kenang oleh keluarga besar Sakhuri. Dan parahnya lagi, aku mungkin akan rindu memegang senjata," ucap Boruto.
"Kau harus merelakannya teman. Kau akan kembali memegang laptop dan bekerja di perusahaan ini lagi. Keadaan sudah damai. Jadi senjata sudah tidak di perlukan lagi. Paman Sasuke saja sudah menyuruh para pengawal untuk tidak memegang senjata lagi. Dan bahkan 80 persen senjata sudah di simpan dan di sembunyikan oleh paman Sasuke," ucap Rama.
Cukup lama mereka berbicara sampai tidak menyadari jika semua orang sudah mengarah ke dapur untuk menyantap sarapan yang telah di buat oleh pemilik rumah bersama Hinata dan seluruh ART kediaman Uchiha. Namun, Boruto dan Rama masih saja asik bercerita terutama mengenai pengalaman pertama mereka memegang senjata.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu yang mengarah ke balkon. Rama dan Boruto langsung memasang posisi siaga karena kaget. "Ternyata kalian di sini. aku sudah mencari kalian dari tadi," kata Inojin.
"Kukira siapa. Hampir saja kami menghajarmu," ucap Boruto.
"Heh, menghajarku. Kalo Rama mungkin aku bisa percaya, dia kan mantan pemegang sabuk hitam. Kalau kau, aku ragu bisa menghajarku walau mungkin badanmu terlihat lebih kekar. Tapi badan bengkel milikku lebih kekar dari badanmu," ucap Inojin.
"Sudahlah. Jangan banyak bicara lagi. Ada apa kau mencari kami?" tanya Rama.
"Sarapan sudah siap. Aku di suruh ibu Sarada untuk mencari kalian berdua yang lenyap layaknya di telan bumi. Ternyata kalian berduaan di sini," ucap Inojin.
"Ayo Boruto kita sarapan. Aku sudah lapar," ucap Rama.
::==::==::
Setelah selesai sarapan, semua orang pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Boruto, Hinata dan Himawari. Di kediaman Uzumaki, Naruto sudah menanti kedatangan Boruto walau dengan perut keroncongan. Hinata keluar dan menghampiri Naruto.
"Ehh, Naruto. Apa kau sudah pulang dari tadi?" tanya Hinata.
"Ya, aku menunggu kalian. Kok kalian lama sekali?" tanya Naruto.
"Tapi kami sarapan di kediaman Sasuke. Kukira kau dan Sasuke mau menyusul," ucap Sakura.
"Aku sama sekali tidak tahu. Kukira kalian mau langsung pulang. Kalo begitu tolong bikinkan aku makanan ya, Hinata," ucap Naruto.
Boruto pun keluar dari mobil sambil membawa barang-barangnya.
"Jagoan ayah sudah kembali. Bagaimana Boruto, kau rindu rumah?" tanya Naruto.
"Jagoan ayah, hah, aku bukan anak kecil ayah." ucap Boruto.
"Kalo begitu, pahlawan sudah kembali," ucap Naruto.
"Pahlawan. Berlebihan," ujar Boruto sambil menyeret barang bawaannya ke teras rumah.
"Itu panggilan yang tepat untukmu Boruto, apalagi saat misi di ame waktu itu," ucap Naruto. Namun tiba-tiba sebuah pukulan di arahkan ke perut Naruto.
"Agh, Hinata! Kenapa kau memukulku?" tanya Naruto sambil memegangi perutnya. "Ada Himawari. Harusnya kau jangan ceritakan apa-apa kan," kata Hinata.
"Maaf. Aku lupa. Kukira Himawari sudah mengetahui semuanya," ucap Naruto.
"Oh Boruto, nanti malam kalian jadi makan malam berdua?" tanya Hinata ketika melihat Himawari keluar dari mobil.
"Kenapa ibu membicarakan itu sih? Hufft. Tentu jadi, siang ini aku mau ke bank untuk mencairkan semua uangku," ucap Boruto.
"Untuk apa?" tanya Hinata. Namun saat Boruto akan menjawab, Naruto menyela dengan bertanya, "wah, apa kau dengan Sarada mau kencan?"
"Bukan kencan lagi. tadi di bandara saja kak Boruto sudah melamar kak Sarada untuk menjadi pasangan hidupnya di hadapan kami semua," ucap Himawari.
"Aduh... Sial, ayah dan paman Sasuke melewatkan hal penting," ucap Naruto kecewa.
"Boruto, kau bilang mau mencairkan semua uangmu. Untuk apa?" tanya Hinata lagi karena sebelumnya di potong oleh Naruto.
"Aku mau beli sesuatu untuk Sarada," ucap Boruto.
"Kalo kau mau pergi nanti siang, sebaiknya sekarang kau mandi dan segera istirahat," ucap Hinata.
"Baik, bu," ucap Boruto lalu memasuki rumah deluan.
:
:
:
Bersambung
:
:
:
Wah, wah, wah. Masih ada yang menanti ya. Makasih ya sudah mau menanti selama ini. Author juga lumayan sibuk dan sering kehabisan ide. Kuharap kalian semua menyukai chapter ini.
Author boleh minta pendapat mengenai adegan Boruto dan Sarada sewaktu di bandara (yang adegan peluk-memeluk itu loh) apa Bagian itu bagus, atau terlalu berlebihan. Salurkan ya pendapat kalian yang minat memberi pendapat. Oh dan maaf jika di chapter ini ada adegan tidak pentingnya.
Tinggal beberapa Chapter lagi menjelang tamat. Dan semoga saja kedepannya fanfiction tidak bertambah sepi karena author masih ingin terus berkarya di sini.
Author mau membalas Review yang masuk untuk Chapter 51 kemarin.
Ga27 : "Akhirnya update juga aku sudah menunggu ceritamu author-sama aku penasaran dengan chapter depan semoga updatenya di percepat dan author-sama sehat selalu."
Makasih atas doanya. Tapi maaf. Kayaknya sekarang author tidak bisa update cepat. Kalau dulu sih mungkin 3 hari sekali bisa update. Sekarang author semakin sibuk sehingga waktu menulis cerita pun sedikit berkurang. Makasih sudah memberi review.
NonameHelp me (Guest) : "Lampiran di sembunyikan. Lihat aja di kolom komentar)"
Wahai siapapun engkau yang di sana. Maaf. Author tidak bisa membaut cerita seperti itu. Author kurang suka pair begituan. Tapi beberapa hari yang lalu, auhtor ada menemukan cerita seperti yang anda mau. Tapi lupa judulnya apa. Cari aja ya. Makasih sudah... sudah apa ya...ummm... request.
D.A.F (Guest) : "lanjut terus kak... Ceritanya bagus banget".
Makasih sudah mereview. Author akan terus lanjut selama tidak ada halangan.
Karan (Guest) : "Maaf yah saya riview gk ada akunnya soalnya akun saya lupa sandinya...hem kak kenapa updednya lama...semoga cerita ini lebih baik dari cerita orang lain...itu saja yang saya ingin sampaikan...kak updatenya jangan lama-lama saya ngak sabar melihat lanjitannya (Lanjutan)...oke itu saja lanjut kan cerita anda..bye Bee"
Wah, gawat itu. Punya akun tapi lupa sandinya. Terpaksa buat akun baru tuh. Makasih ya sudah mereview walau lupa sandi akun.
Yoga07 : "..." (Bisa di cek sendiri)
Bingung mau jawab apa. Reviewmu panjang tapi sayang, sebenarnya pendek doang.
